ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI, KERANGKA REGULASI DAN KERANGKA KELEMBAGAAN
7. Peningkatan pelayanan lelang
3.3 KERANGKA REGULASI
Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran strategis Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, diusulkan Rancangan Undang-Undang yang menjadi bidang tugas Direktorat Jenderal Kekayaan Negara maupun yang terkait dengan bidang tugas Direktorat Jenderal Kekayaan Negara untuk ditetapkan dalam Program Legislasi Nasional Jangka Menengah Tahun 2015-2019.
Rincian Rancangan Undang-Undang bidang tugas Direktorat Jenderal Kekayaan Negara adalah sebagai berikut.
1. RUU tentang Lelang.
2. RUU tentang Pengurusan Piutang Negara dan Piutang Daerah.
3. RUU tentang Lembaga Pembiayaan Pembangunan Indonesia (LPPI).
4. RUU tentang Penilai.
5. RUU tentang Pengelolaan Kekayaan Negara.
Urgensi pembentukan masing-masing Rancangan Undang-Undang sebagai Kerangka Regulasi Direktorat Jenderal Kekayaan Negara tahun 2015-2019 adalah sebagai berikut.
-44- 1. RUU tentang Lelang.
Urgensi Pembentukan.
a. Vendu Reglement merupakan produk hukum pemerintah kolonial Belanda tanggal 28 Februari 1908 yang dibuat khusus untuk Negara Kolonial.
Secara filosofis, sosiologis, yuridis, ketentuan lelang harus segera diganti dengan Undang-Undang Lelang yang baru karena tidak sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Selain itu, sebagian besar dari pasal-pasal Vendu Reglement sudah tidak lagi mengakomodasi perkembangan hukum, kebutuhan dan tuntutan masyarakat akan keadilan, dan kepastian hukum.
b. Lelang berkaitan dengan masyarakat luas sehingga diperlukan adanya ketentuan yang mengikat untuk menjamin kepastian hukum seperti ketentuan mengenai hak dan kewajiban bagi penjual dan pembeli, ketentuan mengenai pengumuman lelang, dan sanksi administratif.
c. Lelang memiliki fungsi publik antara lain mendukung penegakan hukum di bidang hukum pidana.
d. Lelang digunakan untuk mendukung perekonomian melalui transaksi jual beli yang sehat, transparan, kompetitif, efektif dan efisien, maka perlu diberikan landasan hukum yang kuat dengan undang-undang, sehingga menumbuhkan kepercayaan publik terhadap lelang.
e. Dalam Vendu Reglement belum mengakomodasi peran swasta dalam lelang, seperti ketentuan yang mengatur mengenai Balai Lelang. Sementara itu, potensi lelang masih sangat besar yang memerlukan peran swasta dalam mengembangkan lelang sukarela.
f. Perlunya penegasan wewenang Pejabat Lelang sebagai Pejabat Umum, sehingga produk hukum yang dihasilkan lebih kuat termasuk ketentuan tentang Pejabat Lelang Negara dan Swasta sebagai penyelenggara lelang yang memberikan kontribusi untuk Negara.
g. Untuk menuju lelang yang modern, ketentuan lelang dengan teknologi informasi dan komunikasi perlu diatur dengan Undang-Undang, karena Vendu Reglement tidak mengatur ketentuan lelang dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi; dan.
h. Lelang merupakan sarana penjualan barang yang diamanatkan oleh berbagai undang-undang seperti Herzien Inlandsch Reglement (HIR), Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata (KUHAP), Undang-Undang Hak Tanggungan, Undang-Undang Fidusia, Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi, dan lain-lain. Dengan demikian, lelang akan selalu eksis dan dibutuhkan masyarakat. Untuk itu, diperlukan adanya kejelasan terhadap
-45-
hak dan kewajiban para pihak, khususnya perlindungan hukum bagi pembeli yang beritikad baik.
2. RUU tentang Pengurusan Piutang Negara dan Piutang Daerah.
Urgensi Pembentukan.
a. Kebutuhan masyarakat akan ketentuan mengenai pengelolaan dan pengurusan piutang negara dan piutang daerah yang lebih jelas dan tegas.
b. Perlunya pengamanan kekayaan negara berupa piutang negara dan piutang daerah.
c. Perlunya kepastian hukum dalam rangka pengurusan piutang negara dan piutang daerah.
d. Perlunya langkah penyelesaian piutang negara dan piutang daerah yang efektif dan efisien. dan
e. Ketentuan mengenai pengurusan piutang negara dan piutang daerah bersifat khusus.
3. RUU tentang Lembaga Pembiayaan Pembangunan Indonesia (LPPI).
Urgensi Pembentukan.
a. Kemandirian operator investasi, agar dapat melaksanakan tugasnya secara efektif dan efisien.
b. Terintegrasinya pengelolaan dana investasi.
c. Tidak terjadinya overlapping tugas dan fungsi antar operator investasi.
d. Terbentuknya operator investasi yang memiliki kejelasan dari sisi permodalan, segmentasi investasi, governance, dan pertanggung-jawaban.
4. RUU tentang Penilai.
Urgensi Pembentukan.
a. Kebutuhan kegiatan ekonomi masyarakat terhadap ketentuan mengenai profesi Penilai.
b. Adanya ketentuan/peraturan di bidang lain yang semakin memerlukan peran Penilai.
c. Belum lengkapnya fungsi kelembagaan terkait dengan pembinaan dan pengawasan Penilai; dan.
d. Belum setaranya pengaturan hukum profesi Penilai.
5. RUU tentang Pengelolaan Kekayaan Negara.
Urgensi Pembentukan.
a. Pada saat ini, pengaturan mengenai pengelolaan kekayaan negara dikuasai masih terpisah-pisah karena disesuaikan dengan kepentingan sektoral dan belum diatur secara komprehensif dalam suatu undang-undang
-46-
sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 ayat (3) dan ayat (5) Undang-Undang Dasar 1945.
b. Belum adanya satu neraca kekayaan negara mengakibatkan belum terdapat basis data yang menyajikan nilai kekayaan negara dikuasai secara terkonsolidasi, sehingga tidak ada acuan yang jelas dan pasti bagi Pemerintah dalam penentuan kebijakan fiskal, akibatnya penerimaan negara dari pengelolaan kekayaan negara dikuasai belum dapat berjalan secara optimal dibandingkan dengan kekayaan negara yang diusahakan.
c. Terdapat Barang Milik Negara/Daerah berupa tanah dan/atau bangunan yang diduduki dan/atau dalam sengketa dengan masyarakat atau pihak lain yang dapat berpotensi lepasnya Barang Milik Negara/Daerah dari negara. Selain itu, kondisi saat ini atas rumah negara menunjukkan bahwa jumlah rumah negara yang dimiliki oleh negara tidak lagi sesuai dan mampu memenuhi jumlah aparatur negara yang ada, serta timbulnya permasalahan-permasalahan berkaitan dengan rumah negara akibat keinginan penghuni untuk memiliki rumah negara yang berdasarkan peraturan tidak dapat dialihkan kepada penghuni, serta adanya kebijakan yang tidak seragam dalam pelepasan rumah negara pada kementerian/lembaga.
d. Pengaturan atas pengelolaan kekayaan negara dipisahkan saat ini masih terbatas pada penyertaan modal negara pada Badan Usaha Milik Negara/Daerah; dan.
e. Penyusunan Undang-Undang Pengelolaan Kekayaan Negara yang lingkupnya meliputi kekayaan negara dikuasai, kekayaan negara dimiliki dan kekayaan negara yang dipisahkan dalam satu undang-undang yang terpadu, akan menyempurnakan sistem pengelolaan kekayaan negara sehingga dihasilkan sistem pengelolaan yang integratif, komprehensif, transparan, dan akuntabel. Undang-undang semacam ini diharapkan mampu memberikan kepastian hukum dan jaminan pengelolaan kekayaan negara untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.
Berdasarkan Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor: 06A/DPR RI/II/2014-2015 tentang Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Tahun 2015-2019 dan Prolegnas RUU Prioritas Tahun 2015, kelima RUU di atas telah ditetapkan dalam Program Legislasi Nasional Jangka Menengah Tahun 2015-2019.
-47-
Selain Rancangan Undang-Undang, Rancangan Peraturan Pemerintah yang diusulkan dalam periode tahun 2015-2019 adalah.
1. RPP tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Negara/Daerah.
2. RPP tentang Pengelolaan Piutang Negara/Piutang Daerah.
3. RPP tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara pada BUMN.
Regulasi pada tingkat Rancangan Peraturan Menteri Keuangan/Keputusan Menteri Keuangan yang diusulkan dalam periode tahun 2015-2019 adalah.
1. 19 PMK/KMK terkait Barang Milik Negara.
2. 21 PMK/KMK terkait Kekayaan Negara Dipisahkan.
3. 8 PMK/KMK terkait Piutang Negara dan Kekayaan Negara Lain-lain.
4. 8 PMK/KMK terkait Penilaian.
5. 7 PMK/KMK terkait Lelang.