ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI, KERANGKA REGULASI DAN KERANGKA KELEMBAGAAN
7. Peningkatan pelayanan lelang
3.4 KERANGKA KELEMBAGAAN
3.4.1. PENATAAN KELEMBAGAAN
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 206/PMK.01/2014, DJKN menyelenggarakan fungsi.
1. Perumusan kebijakan di bidang kekayaan negara, piutang negara, dan lelang.
2. Pelaksanaan kebijakan di bidang kekayaan negara, piutang negara, dan lelang.
3. Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang kekayaan negara, piutang negara, dan lelang.
4. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang kekayaan negara, piutang negara, dan lelang; dan.
5. Pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Kekayaan Negara.
Memperhatikan fungsi-fungsi di atas, dapat disimpulkan bahwa core bussiness DJKN terdiri dari pengelolaan kekayaan negara, pengurusan piutang negara, dan pelayanan lelang. Khusus terkait dengan pengelolaan kekayaan negara, dapat dijelaskan bahwa dalam konteks negara sebagai badan hukum publik, kedudukan hukum dari kekayaan negara meliputi dua cakupan, yaitu: domain publik dan domain privat.
Kekayaan negara dalam arti domain publik meliputi kekayaan negara potensial yang ”dikuasai” negara sesuai amanat Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang
-51-
berbunyi: ”Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.
Sedangkan kekayaan negara dalam arti domain privat merupakan kekayaan yang dimiliki oleh negara, terdiri dari kekayaan negara yang dipisahkan dan kekayaan negara yang tidak dipisahkan, bersumber pada pasal 23 UUD 1945. Kekayaan negara yang dipisahkan dapat berupa investasi pemerintah pada BUMN dan investasi pemerintah lainnya. Sedangkan kekayaan negara yang tidak dipisahkan, berupa BMN/D, merupakan keseluruhan barang yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah atau perolehan lainnya yang sah.
Selain domain privat dan domain publik untuk menjelaskan mengenai cakupan kekayaan negara, dalam Pasal 2 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, terdapat dimensi lain yang perlu mendapat perhatian. Dalam pasal tersebut, yang dimaksud Keuangan Negara salah satunya sebagaimana tersebut di huruf g meliputi “kekayaan negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negara/perusahaan daerah”. Kata-kata “…dapat dinilai dengan uang …” dalam ketentuan tersebut mengandung pengertian bahwa tiap kekayaan negara menghendaki nilai, sebagai dasar penetapan efisiensi, ekonomis, efektivitas, dan transparansi dalam pengelolaan kekayaan negara atau pengelolaan keuangan negara secara umum. Dengan demikian, proses penilaian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pengelolaan kekayaan negara.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirinci core business terkait pengelolaan kekayaan negara meliputi.
1. Pengelolaan Barang Milik Negara.
2. Pengelolaan Kekayaan Negara Dipisahkan.
3. Pengelolaan Kekayaan Negara Lain-lain; dan.
4. Penilaian Kekayaan Negara.
Luasnya cakupan kekayan negara tersebut tentunya berimplikasi pada kapasitas organisasi pengelola kekayaan negara. Untuk mendukung pengelolaan kekayaan negara yang memenuhi asas fungsional, kepastian hukum, transparansi, efisiensi, akuntabilitas, dan kepastian nilai, sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, maka dibutuhkan kapasitas/struktur organisasi yang efektif guna mendukung amanat dimaksud.
-52-
Selain keluasan cakupan kekayaan negara, DJKN masih diberikan mandat untuk melaksanakan amanat dari 2 (dua) rezim hukum yang berbeda, yaitu di bidang pengurusan piutang negara (Undang-undang Nomor 49 Prp. 1960 tentang Panitia Urusan Piutang Negara) dan pelayanan lelang (Vendu Reglement Nomor Stb.
1908 Nomor 189 jo. Stb. 1940 Nomor 56). Kedua rezim hukum tersebut memiliki filosofi dan terminologi yang berbeda sehingga membutuhkan kompetensi dan cara penyelesaian yang berbeda-beda pula.
Secara umum pembagian fungsi dalam organisasi meliputi 3 pembagian utama yang terdiri dari.
1. Fungsi Kebijakan.
Fungsi ini meliputi kegiatan perumusan, standardisasi, penyusunan pedoman berkaitan dengan pelaksanaan tugas baik di tingkat kantor pusat maupun pada instansi vertikal.
2. Fungsi Pembinaan.
Fungsi ini meliputi kegiatan bimbingan teknis, supervisi, implementasi punishment and reward pada pelaksanaan tugas pelayanan terhadap pengguna jasa.
3. Fungsi Operasional.
Fungsi operasional adalah buah kebijakan dan hasil pembinaan yang dipadukan dalam bentuk pelayanan kepada pengguna jasa.
Penerapan fungsi-fungsi tersebut pada DJKN, idealnya dibagi secara hierarki meliputi unit-unit sebagai berikut.
1. Kantor pusat memiliki fungsi perumusan dan standardisasi kebijakan, serta pelaksanaan pembinaan terhadap Kanwil.
2. Kantor Wilayah memiliki fungsi pelaksanaan pembinaan terhadap KPKNL.
3. KPKNL memiliki fungsi pelaksanaan pelayanan terhadap pengguna jasa.
Sesuai PMK Nomor 206/PMK.01/2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara terdiri dari 8 unit eselon II dengan susunan organisasi sebagai berikut.
1. Sekretariat Direktorat Jenderal.
2. Direktorat Barang Milik Negara.
3. Direktorat Kekayaan Negara Dipisahkan.
4. Direktorat Piutang Negara dan Kekayaan Negara Lain-lain.
5. Direktorat Pengelolaan Kekayaan Negara dan Sistem Informasi.
6. Direktorat Penilaian.
7. Direktorat Lelang.
8. Direktorat Hukum dan Hubungan Masyarakat.
-53-
Struktur sebagaimana tersebut di atas, khususnya terkait dengan fungsi di bidang pengelolaan kekayaan negara, pengurusan piutang negara, dan pelayanan lelang ditambah dengan fungsi pendukung (supporting unit), direpresentasikan juga dalam struktur organisasi di level kantor wilayah dan kantor pelayanan (KPKNL). Di samping itu, Kantor Pusat juga diperkuat dengan keberadaan 3 tenaga pengkaji, yaitu Tenaga Pengkaji Harmonisasi Kebijakan (TPHK), Tenaga Pengkaji Optimalisasi Kekayaan Negara (TPOKN), dan Tenaga Pengkaji Restrukturisasi, Privatisasi, dan Efektivitas Kekayaan Negara Dipisahkan (TPRPEKND).
Arah kebijakan DJKN dalam konteks kelembagaan berada dalam kerangka yang lebih luas yaitu Transformasi Kelembagaan Kementerian Keuangan sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Namun, langkah-langkah penguatan kelembagaan dan penajaman fungsi terus dilakukan secara internal, antara lain di bidang kekayaan negara dipisahkan untuk mengakomodasi kebutuhan baru dalam menjalankan fungsi perencanaan investasi pemerintah dan untuk memperkuat perangkat special mission, yang didefinisikan sebagai misi-misi pembangunan yang cakupannya di luar pelaksanaan urusan keuangan secara rutin seperti investasi, penjaminan, dan pembiayaan.