Dala e ga alisis Pe ga uh Ik a te hadap Akhlak “iswa
membutuhkan sebuah metode analisis yang cocok dengan pokok masalah penelitian tersebut. Untuk konteks penelitian penulis,
perspektif yang digunakan untuk menganalisis rumusan masalah tersebut adalah menggunakan pandangan sosiologi.
Teori makro (the grand theory) yang digunakannya yaitu teori structural fungsional, sebagaimana dikembangkan Talcott Parsons. Teori strukturak fungsional adalah kaidah atau teori yang menjelaskan tentang gejala-gejala sosial dan institusi sosial (lembaga sosial) dengan memfokuskan fungsi yang dibentuk dan disusun oleh gejala dan institusi sosial tersebut (Garna, 1996:54). Dalam mencari kaidah-kaidah dalam masyarakat terdapat tiga masalah sebagai asas penting menurut pendekatan structural fungsional (Garna, 1996:55),yaitu (1) adakah sesuatu itu berfungsi, (2) bagaimana sesuatu hal itu berfungsi, dan (3) mengapakah sesuatu hal itu berfungsi ?. Kaidah-kaidah atau aturan dalam masyarakat adalah berkaitan tentang hubungan antar individu, individu dengan insitusi sosial maupun antar institusi sosial itu sendiri.
Berdasarkan pemikiran seperti itu, maka relevan untuk mempertanyakan, apakah ikrar di TPA/TKA itu berfungsi ? bagaimana ikrar itu berfungsi, dan jika tidak berfungsi, mengapa tidak berfungsi ? inilah yang kemudian akan menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini, dan akan digali informasi-informasi yang relevan untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Pengembangan teori structural fungsional ini, kemudian dipadukan dengan pandangan Talcott Parson, terntang sistem sosial itu sendiri. Dalam pandangan Parsons, terdapat 4 (empat) subsistem yang membentuk sebuah sistem sosial (Veegerr, 1986:208, lihat pula (http://ssr1.uchicago.edu/PRELIMS/Theory/ parsons.html). Keempat subsistem tersebut, popular disingkat dengan konsep AGIL
(adaptation, gola attainment, integration dan laten maintenance). Keempat prasyarat itu adalah :
a. Adaptasi (adaptation, A), yaitu terdapatnya sarana-sarana yang dibutuhkan individu dalam mencapai sebuah tujuan. Adaptasi merupakan sebuah konsekuensi dari tujuan kemajukan. Sebuah siste, tidak hanya memiliki satu set kenyataan, melainkan adanya keanekaragaman sumber daya yang bisa digunakan untuk mencapai sebuah tujuan. Berdasarkan subsistem ini, maka dalam penelitian ini akan dikemukakan mengenai cara-cara siswa dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan pendidikannya, yang memiliki nilai dan norma sesuai dengan ikrar yang dikemukakannya. b. Tujuan dan kemungkinan mencapainya (goal
attainment, G). Sebuah sistem sosial harus memiliki tujuan, dan kemungkinan untuk mencapainya. Dalam menjelaskan goal attainment ini, Veeger (1986:207) mengatakan ada tiga hal yang perlu diingat, yaitu (1) harus ada tujuan yang jelas, (2) ada orang atau tenaga yang akan mencapainya, dan (3) kewaspadaan, kepekaan terhadap kebutuhan sistem itu sendiri. Berdasarkan teori ini, maka penelitian ini, berupaya untuk menggali informasi mengenai tujuan, dan kemungkinan ketercepaiannya tujuan yang dirumuskan dalam ikrar.
c. Integrasi (integration, I), yaitu adanya relasi-relasi intern sistem sosial, antara satu dengan yang lainnya. Satuan-satuan itu harus berintegrasi, dalam arti bahwa mereka itu dilibatkan dan dikoordinir dalam keseluruhan sistem sesuai dengan posisi dan peranannya. Dalam
mekanisme kontrol, integrasi adalah sebuah kontrol hierarki (bertingkat). Integrasi berdiri diantara fungsi pemeliharaan dengan tujuan. Berdasarkan subsistem I, maka penelitian ini berupaya untuk menggali informasi mengenai tata tertib atau aturan yang konkrit di sekolah, yang mengatur perilaku siswa sebagaimana dituntut oleh ikrar.
d. Mempertahankan identitas (laten maintenance, L), yaitu nilai-nilai budaya yang sifat mendasar. Fungsi pemeliharaan, merujuk pada tujuan sarana supaya terjadinya stablitas pola budaya yang terlembagakan dalam sebuah sistem (the function of pattern maintenance refers to the imperative of maintaining the stability of patterns of institutionalized culture defining the structure of the system). Ada dua hal yang penting untuk diperhatikan dalam masalah ini, yaitu (1) karakter pola normative, dan (2) lembaga yang memiliki komitmen untuk mengembangkan sistem nilai. Berdasarkan subsistem L, maka penelitian ini berupaya untuk menggali informasi mengenai upaya sekolah atau guru dalam memelihara, membina dan melestarikan nilai-nilai yang sesuai dengan ikrar.
Ian Craib (1986:69) mengatakan bahwa teori Parsons mengenai tindakan tersebut, merupakan suatu pengantar mengenai makna-makan, norma-norma, nilai-nilai, symbol-simbol dan komunikasi. Bagi Parsons, sistem-sistem yang beraneka ragam itu berkomunikasi melalui pertukaran informasi.
Selain menggunakan pendekatan teoritik dari Parson, juga dipadukan dengan pendekatan yang dikemukakan oleh Peter L. Berger serta Koentowidjojo.
Peter L. Berger (1991:4) mengatakan ada tiga unsure sistematik yang berkembang dalam masyarakat, yaitu internalisasi, eksternalisasi dan objektifikasi.
Internalisasi dalam pandangan Berger (1991:5) yaitu peresapan kembali realitas dan mentransformasikannya sekali lagi dari struktur-struktur dunia objektif ke dalam struktur-struktur kesadaran subjektif. Berger selanjutnya mengatakan (1991:21) sosialisasi tidak pernah berakhir. Sosialisasi merupakan sebuah proses berkelanjutan yang panjang dan tidak berujung.
Sejalan dengan pemikiran Berger, Anthony Giddens (2002) mengatakan bahwa hubungan manusia dengan realitas itu adalah produks-produk dan reproduksi. Pada mula pertama, manusia menginternalisasi nilai-nilai agama mengenai pentingnya pakaian yang menutup aurat. Tahap awal pemahaman ini, pakaian Islami adalah mirip dengan pakaian Arab (internalisasi pertama). Setelah memahami pentingnya memakai pakaian yang Islami, seorang muslim tersebut membuat pakaian dan mengenakan pakaian muslim atau gamis gaya Timur Tengah (eksternalisasi). Ketika realitas sosial di Indonesia, menunjukkan adanya perbedaan mode dan style tentang pakaian muslim, kemudian dia mengembangkan makna pakaian aurat itu menjadi lebih berkembang lagi, bukan hanya gaya Timur Tengah. Kesadaran yang terakhir inilah yang disebut dengan faktisitas objektif menjadi faktisitas subjektif (Berger, 1991:21). Dalam konteks inilah, manusia menjadi produk masyarakat.
Eksternalisasi yaitu suatu pencurahan kedirian manusia secara terus menerus ke dalam dunia, baik dalam aktiitas fisis maupun mental. Eksternalisasi adalah suatu keharusan antropologis. Manusia, menurut pengetahuan empiris kita, tidak bisa dibayangkan terpisah dari pencurahan dirinya terus menerus ke dalam dunia yang ditempatinya. Kedirian manusia bagaimanapun tidak bisa dibayangkan tetap tinggal diam di dalamd irintya, dalam suatu lingkup tertutup, dan kemudian bergerak keluar untukmengekspresoikan diri dalam dudnia sekelilingnya. Kedirian manusia itu esensinya melakukan eksternalisasi dan inis udah sejak permulaann. Fakta antropologis yang mendsar ini sangat mungkin berakar dalam lembaga biologis manusia (Berger, 1991:5). Dengan kata lain, melalui proses eksternalisasi ini, manusia senantiasa berproses untuk terus menerus memperbaiki diri. Whitehide
e ye ut a usia se agai e p oses . Dala ko teks ekste alisasi
ini, maka masyarakat merupakan produk manusia.
Objektivasi adalah disandangnya produk-produk aktivitas itu (baik fisi maupun mental), suatu realitas yang berhadapand engan produsennya semula, dalam bentuk suatu kefaktaan (faktisitas) yang eksternal terhadap, dan klain dari, para produsernya itu sendiri. melalui objektivasi ini, maka masyarakat manusia menjadi
sui generis, unik.
Koentowidjojo (2002:213) mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan objektifikasi bukan bersikap objektif. Bersikap objektif, yaitu memandang sesuatu hal sebagai objektif. Sedangkan objektifikasi dalam pandangan Koentiwidjojo adalah memandang sesuatu secara
objektif. Ada dua hal yang relevan untuk diangkat dalam konteks penelitian ini. Pertama, objektifikasi dimaknai sebagai sesuatu hal yang menuntut bahwa artikulasi sesuatu hal hendaknya
diartikulasikan dalam ukuran-ukuran yang objektif. Kedua, adanya pengakuan penuh terhadap keberadaan sesuatu hal yang ada secara objektif.
Objektifikasi ini, dalam pandangan Koentowidjojo dapat dikatakan sebagai sebuah metode (2002:214). Substansinya bisa Pancasila, Dasa Dharma Pramuka, Trisatya Pramuka dan Ikrar Santri. Berdasarkan pandangan ini, maka pengakuan penuh, pengakuan secara sadar terhadap keberlakuannya variasi janji, variasi sumpah atau variasi teks ikrar organisasi itu merupakan sebuah proses objektifikasi. Oleh karena itu, berbagai pengetahuan, berbagai hasil budaya, berbagai metode pembelajaran yang berkembang saat ini, secara objektif harus diakui sebagai sebuah karya manusia. Pengakuan terhadap karya-karya nyata manusia itulah, yang disebut dengan objektifikasi.
Berdasarkan analisis tersebut, dapat dirumuskan bahwa kajian teori dalam penelitian ini, akan mencakup pada lima hal yang terkait dengan rumusan penelitian, pengaruh ikrar terhadap perilaku siswa. Kelima hal tersebut itu adalah :
a. Tujuan atau target dari sebuah ikrar. Dalam teori Parsons disebutnya dengan goal attainment. Sehubungan dengan penelitian ini, maka sekolah perlu merumuskan nilai dan norma yang diajarkan, dilatihkan
da di i i gka kepada a ak didik. Melalui u usa Ik a “iswa , sekolah pe lu e uat u usa -rumusan yang jelas, tegas dan rinci dari ikrar siswa tersebut, sehingga dapat dijadikan patokan bagi siswa atau pengelola sekolah.
b. Usaha yang dilakukan individu untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan atau tujuan tersebut. Parson
menyebutnya dengan istilah adaptation, sedangkan Berger menggunakan istilah internalisasi. Pada tahap ini, penelitian akan memfokuskan pada upaya atau usaha siswa dalam memahami makna atau isi yang terkandung dalam ikrar siswa.
c. Tata tertib atau aturan formal yang disusun oleh sekolah. Istilah lain yaitu integrasi. Tata tertib ini, sudah barang tentu merupakan sebuah kontrol sekaligus alat perekat untuk mewujudkan tujuan pembinaan anak didik. Sebagai bagian dari sistem pendidikan, maka tata tertib yang berlaku di sekolah pun, seharusnya memuat aturan-aturan yang menjadi kontrol bagi keterlaksanaannya ikrar siswa. Dengan kata lain, ikrar siswa, perlu dijadikan landasan bagi perumusan tata tertib siswa.
d. Model-model upaya pembinaan, baik yang dilakukan oleh guru maupun sekolah dalam rangka menumbuhkembangkann sikap anak didik yang sesuai dengan ikrar.
e. Model perilaku yang ditampilkan anak didik. Berger menyebutnya dengan istilah eksternalisasi. Dalam bagian ini, yang paling penting adalah mengobservasi, mendata, mengelompokkan dan menganalisis tindakan-tindakan nyata (the real action) yang merupakan bagian dari proses usaha siswa dalam menjalankan ikrar. f. Reaksi dan sikap anak terhadap keanekaragaman sikap
atau perilaku orang lain, baik yang merupakan ekternalisasi nilai maupun penyimpangan nilai. Penggalian informasi ini, berkaitan erat dengan mengetahui sikap objektivikasi siswa terhadap lingkungan nyata.