Mengartikan Bai’at, Sumpah Dan Janji
Dalam Praktek Islam
Momon Sudarma
▸ Baca selengkapnya: ikrar pengukuhan paskibra
(2)Wacana kali ini,1 akan melakukan tinjauan pustaka terkait konsep dasar ai at, janji dan ikrar, dan implikasi dari aktivitas tersebut. Untuk menggenapkan kajian ini, selanjutnya diungkap pula mengenai perspektif sosiologi dalam membangun nilai-nilai kehidupan. Pandangan yang dijadikan kerangka teori dalam penelitian ini, yaitu pandangan structural fungsional dari Talcott Parson, kemudian dipadukan dengan pandangan Peter L. Berger dan Koentowidjoyo.
Konsep Dasar yang Sejenis
Sebagaimana diketahui, terdapat sejumlah konsep yang digunakan oleh masyarakat Indonesia dalam menandai pengucapan seseorang sebelum melakukan sebuah tugas. Setidak-tidaknya ada tiga istilah yang popular di masyarakat Islam Indonesia, yaitu konsep ai at, sumpah-janji, dan ikrar. Ketiga istilah tersebut, kadangkala dicampuradukkan, dan kadang pula disalahartikan. Oleh karena itu, untuk kepentingan penelitian ini, penulis akan mencoba memberikan penjelasan singkat mengenai konsep-konsep yang digunakan tersebut, sehingga tidak terjadi adanya kesalahpahaman atau bias dalam proses analisis penelitian nanti.
Pengertian Konsep Baiat
Dalam Ensiklopedia Islam (1999:219) ditemukan bahwa konsep a iat e asal da i kata a a-ya i u artinya menjual. Dari akar kata tersebut, diketahui bahwa kata ai at pada mulanya dimaksudkan sebagai pertanda kesepakatan atau suatu transaksi jual beli antara
1
dua pihak, yaitu penjual dan pembeli. Konsep ini, merupakan sebuah bentuk transaksi material atau jual-beli dalam pengertian ekonomi, seperti yang digunakan dalam surat al-Baqoroh : 275
ya g e u yi wa ahalallahu ai a wa harrom riba da Allah
menghalalkan jual beli dan mengharamkan praktek riba) atau dalam
ayat idza udiyatisholat i yau il ju ati, fas au ila dzik illah wa
dzarul ai a jika e de ga se ua sholat, diha i ju at, aka
bersegeralah untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah perniagaan, Qs. 62:9).
Berdasarkan analisis ini, maka dapat dikemukakan bahwa konsep dasar ai at itu adalah sebuah transaksi antara dua pihak, yaitu penjual dan pembeli. Pada konteks ajaran agama, al-Qu a pu memberikan isyarat bahwa transaksi atau jual beli ini, bukan hanya dalam konteks ekonomi, tetapi dalam konteks keagamaan. Allah Swt (Qs. 61:10-12) berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih ? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik didala syu ga Adn. Itulah keberuntungan yang besar.
(Qs.61:10-12) memiliki maksud ya g sa a, yaitu se uah t a saksi
keaga aa . “eo a g ha a e jual kehidupa de ga
bersumpah setia) dengan cara mengabdikan diri kepada Allah, dan Allah Swt membayar (membeli) dengan kehidupan syurga yang merupakan keberuntungan yang sangat besar.
Model transaksi sosial tersebut, sejalan dengan pemikiran teori interaksi-simbolik (Veeger, 1986:221-230), yang menyatakan bahwa perilaku sosial itu dibentuk karena adanya aksi dan reaksi. Setiap individu akan bertindak sesuai dengan stimulus yang didapatka ya. Pola jual- eli adalah odel i te aksi sosial ya g umum terjadi dalam kehidupan manusia. Pada konteks inilah, maka makna ai at, da tijaroh-keaga aa ” (Qs. 61:10-12), dengan model kontrak sosial memiliki kemiripan prinsip, yakni sebagai sebuah transaksi sosial antara pihak pertama dengan pihak kedua.
Dalam pandangan ahli tasawwuf -thoriqoh Shiddiqiyah- baiat dimaknai sebagai bentuk proses ijab kobul pelajaran. Untuk memperoleh pelajaran shiddiqiyyah harus melalui proses pengajaran dan pengesahan ijab-kobul antara seorang guru (mursyid atau wakil yang ditunjuk) dengan murid, yang disebut baiat. Dengan kata lain, bagi kalangan thoriqoh Shiddiqiyah, baiat bukan sumpah setia kepada guru atau lembaga thoriqoh/organisasi, melainkan ijab qobul dalam bidang pelajaran untuk mencapai barokah. Pelajaran Thoriqoh tanpa di baiat itu tidak mengalir
ber ai at kepada Rasulullah Muhammad SAW dan ajarannya (Islam).
Ahmad Hidayat Abdussalam, dari Pesantren Sumpil–Blimbing Malang Jawa Timur (8/03/04, http://www.sufinews.com/index) mengatakan bahwa baiat billah, dalam tradisi dan istilah thariqat, tidak ada. Maksudnya, baiat itu pasti dengan seorang mursyid. Seorang mursyid ketika membaiat muridnya haruslah billah, artinya, bersama Allah, bukan binafsihi (bersama dirinya)
Pendapat yang lain mengatakan bahwa ai at merupakan sebuah janji yang diucapkan oleh seorang muslim untuk mengerjakan sesuatu. Rachmat Taufiq Hidayat (1993:35) memaknai ai at sebagai bentuk kesetiaan, sumpah janji setia, kepatuhan atau
pe gakua . Pada Ka us Besa Bahasa I do esia KBBI , dite aka
bahwa ai at adalah pelantikan secara resmi, pengangkatan atau pengukuhan. Pada penjelasan berikutnya, KBBI ini menyebutkan bahwa ai at merupakan pengucapan sumpah setia kepada imam (pemimpin).
Dalam diktum khilafah menurut mazhab Sunni (Ensiklopedia Islam, 1999:221) ai at merupakan syarat syahnya jabatan khilafah seseorang. Pendapat ini, senada dengan Ummu Solehah (http://members.lycos.co.uk/) yang mengatakan bahwa dalam sistem Islam, sahnya pengangkatan seorang ketua negara adalah dengan adanya baiat. Baiat merupakan pernyataan kerelaan mengangkat dan taat dari kaum muslimin kepada seseorang untuk memimpin dan memberlakukan hukum-hukum Islam atas mereka.
belas sesudah kenabian, datanglah ke Mekkah di musim haji, 12 orang laki-laki dan 1 orang wanita penduduk Yatsrib. Mereka
e e ui ‘asulullah se a a ahasia di aqobah, kemudian melakukan ai at. Peritiswa ini, disebut dengan ai atu l a o atil ula (perjanjian aqobah yang pertama) atau ai atu isa (perjanjian
wa ita ka e a ada seo a g wa ita ya g e a a Af a i ti A id i Tsa ala ah ya g e jadi salah satu a ggota ai atula o atil ula.
Isi ai atu l a o atil ula adalah untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak mengumpat dan memfitnah, baik didepannya atau dibelakang. Tidak menolak untuk berbuat kebaikan. Barangsiapa mematuhi semua itu ia mendapat pahala syurga, dan kalau ada yang mengecoh, maka soalnya kembali kepada Tuhan. Tuhan berkuasa menyiksa juga bekuasa untuk mengampuni segala dosa (Haikal, 1999:168). Karen Armstrong menyebut ai atu l a o atil ula ini sebagai ai at tentang keagamaan dibandingkan dengan aspek politik (Armstrong, 2002:200).
Bunyi ikrar ai atul aqobah tsaniyyah (al-Mubarakfury, 2000:207) yaitu:
a. Untuk mendengar dan taat tatkala bersemangat dan malas
b. Untuk menafkahkan harta tatkala sulit dan mudah c. U tuk e yu uh kepada ya g a uf da e egah
dari yang munkar
d. Untuk tegak berdiri karena Allah dan tidak merisaukan celaan orang yang suka mencela karena Allah
e. Hendaklah kalian menolongku, jika aku datang kepada kalian, melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri, istri dan anak-anak kalian, dan bagi kalian adalah syurga.
Sejalan dengan pemikiran Karen Armastrong (2002:205), maka isi ai atul a o ah tsa iyyah ini, lebih bersifat politik dibandingkan masalah agama, dan menjadi prasyarat untuk membangun tatanan masyarakat Islam pada tahap berikutnya. Bai atul aqobah tsaniyyah, memiliki fungsi sebagai persiapan soliditas masyarakat Islam dalam menghadapi berbagai tantangan eksternal umat Islam, baik yang bersifat ekonomi, politik maupun sosial-budaya. Dalam konteks sejarag Nabi, pada waktu itu, umat Islam menghadapi tantang dan gangguan dari kaum Kafir Qureisy.
Jika dilihat dari periodisasinya, Rachmat Taufik Hidayat (1993:35), membagi ai at ke dalam 3 bagian, yaitu ai at zaman Rasulullah,
ai at zaman Shahabat, dan ai at zaman modern Islam.
Pada masa Rasulullah SAW itu, ai at dilakukan manakala memang ada peristiwa yang penting, yang beresiko besar. Misalnya ai at para sahabat dari Madinah yang datang ke Mekkah (tepatnya lembah Aqabah). Bai at itu dilakukan karena Rasulullah SAW sedang menyiapkan mereka untuk menjadi soko guru masyarakat baru di kota Madinah. Bahkan Rasululah akan memindahkan pusat dakwahnya dari Mekkah ke Madinah. Beliau membutuhkan dukungan yang kuat dari para tokoh di Madinah yang sudah masuk Islam. Lalu di ai atlah mereka sebagai janji untuk membela agama Allah dengan nyawa, harta dan seluruh potensi yang mereka miliki.
Sebagaimana diketahui, selain ada ai atul ula, ai atul tsaniyyah, juga ada ai at hudaibiyyah. Persitiwa ini, terjadi pada tahun keenam Hijriah. Pada waktu itu, Nabi saw. bersama sahabat-sahabat berangkat meninggalkan Madinah menuju Mekah guna melaksanakan umrah dan tawaf di Baitullah. Sesampainya berita ini kepada kaum Quraisy mereka berusaha keras menghalanginya. Untuk itu Rasulullah saw. mengutus Usman bin Affan untuk memberitahukan kepada mereka bahwa rombongan Rasulullah datang hanya dengan tujuan melaksanakan umrah, bukan niat perang. Usman bin Affan tertahan di Mekah agak lama, melebihi dari waktu yang diperhitungkan, kemudian muncul pula isu bahwa Usman bin Affan telah terbunuh. Pada waktu, kaum muslimin tidak bersenjata. Peristiwa ini demikian mencekam sehingga sangat terasa kegentingannya dan resiko terbunuh menjadi sangat besar.
Na i saw. duduk di awah se uah poho da e i ta ai at da i
berperang sampai akhir hayat Akhirnya Rasulullah pun mengambil ai at kesediaan untuk membela Islam dan kaum Muslim dari para shahabatnya di bawah sebuah pohon tersebut. Peristiwa ini lalu diabadikan al-Quran dalam ayatnya :
"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang
u' i ketika e eka e ja ji setia e ai at kepada u di
bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat." (QS. Al-Fath: 18)
Merujuk pada peristiswa ai atul Hudaibiyyah dan firman Allah dalam Qs. 48:8-28, Esposito (2001:243) mengartikan ai at sebagai sebuah permohonan para wakil rakyat agar Allah melimpahkan berkah dan ridho (ridhwan)-Nya kepada penguasa mereka. Rasulullah Muhammad SAW, kemudian menerima perjanjian tersebut tahun 628 di Hudaibiyyah (Qs. Fath:27), maka disebut pula ai atu -ridhwan. Di lihat dari tempat dilaksanakannya perjanjian tersebut, peristiwa ini dikenal pula dengan sebutan Bai atul Taht
Syajarah -perjanjian di bawah pohon- (Hidayat, 1993: 36).
Pada masa berikutnya, ai at sering dilakukan oleh rakyat kepada sultan yang akan memerintah. Misalnya mengangkatan Abu Bakar sepeninggal Rasululah SAW dengan cara para shahabat ber ai at kepada beliau. Demikian juga yang terjadi pada Umar, Ustman, Ali semua kalifah berikutnya. Jadi ai at itu menjadi semacam ritual mengangkatan seorang imam atau penguasa yang dilakukan oleh rakyatnya.
patuh kepada pemimpin (imam) organisasi atau pemimpin uma, yang diperlukan untuk memperkukuh tekad atau keyakinan akan kebenaran perjuangan Islam, menegakkan Islam dan kaum Muslim (izz al-Islam wa al-muslimin), mengukuhkan persatuan (ukhuwwah Islamiyyah), serta memperkecil resiko terjadinya pengkhianatan. Sebab, ai at itu pada hakikatnya merupakan janji setia seorang hamba kepada Allah Swt.
Perkembangan sejarah dan peradaban Islam kemudian, memberikan pengaruh terhadap posisi dan penggunaan ai at. Praktek ai at, ternyata dilakukan pula untuk menjadikan seseorang sebagai anggota dari sebuah kelompok, jamaah, tarikat dan sejenisnya. Yang terkenal melakukan ai at ini adalah para aktifis di dunia tarikat, di mana anggota tarikat itu ber ai at kepada pemimpin tarikat untuk melakukan sekian jenis zikir, bacaan atau wazhifah (kewajiban) yang dibebankan pemimpinnya kepadanya.
Be eda de ga pa da ga ‘a h at Taufik Hidayat, A Complete Islamic Encyclopedia Web Site Copyrigth@1998-2004) mencatat ada dua tipe ai at, yaitu ai atul barokah dan ai atul i adah. Jika Rachmat Taufik Hidayah melihat pengelompokkan ai at dari sisi sejarah, sedangkan A Complete Islamic Encyclopedia Web Site, melihat dari sisi substansi atau sisi ai at itu sendiri. Merujuk pada penjelasan di A Complete Islamic Encyclopedia Web Site , dapat dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan ai atul a okah yaitu
e oho e dapatka e kah . Sedangkan ai tul i adah, adalah penyerahan diri kepada seorang guru untuk membimbing atau menuntun ke jalan kebenaran, seperti yang terjadi di lingkungan pendidikan atau tarikat.
muslim. Namun kepada pihak siapakah kewajiban ai at harus diberikan, di sinilah banyak terjadi penafsiran. Namun demikian
----di lua ada ya pe edaa defi isi ja a ah usli i -- secara umum dapat disepakati bahwa ai at dilakukan kepada jamaah muslimin.
Dalam pandangan Ahmad Sarwat (http://www.eramoslem.com/, 2004) selanjutnya, ribuan atau jutaan jamaah-jamaah yang ada saat ini adalah sebuah jamaah dari jamaah-jamaah milik umat Islam, tetapi bukan jamaah muslimin yang dimaksud dalam banyak hadits tentang kewajiban ber ai at. Hal ini senada dengan Ummu Solehah (http://members.lycos. co.uk/ ya g e gataka ahwa ya g ada hanyalah sebuah jamaah dari sekian banyak jamaah. Namun yang pasti jamaah itu tidak bisa mengklaim dirinya sebagai ja a atul
muslimin. Maka tidak punya hak untuk membunuh anggota yang
kelua .
Ummu Solehah Abdullah (http://pilihanraya11.s5.com/News/) mengatakan bahwa dalam rangka menegakkan syariat Islam, Rasulullah saw telah menetapkan wajibnya mengangkat ketua negara (khalifah) sebagai pemimpin. Di antara nash yang menegaskan hal ini adalah:
Siapa saja yang melepas tangannya dari ketaatan kepada Allah, nescaya ia akan berjumpa dengan Allah pada Hari Kiamat tanpa memiliki hujjah. Siapa saja yang mati, sedangkan dipundaknya tidak ada baiat (kepada khalifah), maka matinya adalah mati jahiliah. (HR Muslim).
wajibnya baiat tersebut. Hanya saja, baiat itu hanya diberikan kepada khalifah/imam sebagai ketua negara dan pemerintahan, sebagaimana juga sa da agi da ya g e e ti siapa saja ya g telah membaiat seorang imam sekaligus memberikan kedua tangannya
da uah hati ya, aka taatilah i a itu se a pu ya . H‘
Muslim).
Dalam hadis di atas, yang dimaksud dengan imam adalah Khalifah (ketua pemerintahan Islam atau Khilafah Islamiah). Allah SWT juga telah mewajibkan kepada kaum Muslim untuk menaati ulil amri, yang tidak lain adalah Imam/Khalifah/Amirul Mukminin. Merekalah penguasa Muslim sesungguhnya, yang harus diwujudkan di tengah-tengah kaum Muslim dan ditaati oleh semua. Allah SWT berfirman
ya g e a ti: Hai o a g-orang yang beriman, taatilah Allah dan
‘asulNya se ta ulil a i di a ta a kalia . Q“ a -Nisa : 9 .
Berdasarkan kajian ini, dapat disimpulkan bahwa ai at adalah sebuah ikatan antara rakyat dengan pemimpinnnya. Atau antara orang yang diangkat menjadi pemimpin dengan ahlul halli wal aqdi. Dalam pandangan sejarah, khususnya yang terjadi jaman Rasulullah
ai at ditemukan ada tiga peristiwa, yaitu ai atul ula, ai atul
tsaniyyah, dan baiat hudai iyyah. Jika dilihat dari substansinya, dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu ai atul a okah, dan ai atul
irodah. Kemudian, bila dilihat dari sisi tujuannya, ai at dapat dibagi menjadi tiga, yaitu ai at untuk taat dan patuh pada ajaran Islam, ai at untuk menjaga dan membela Islam dari ancaman sosial-politik-budaya asing, serta ai at untuk taat pada pemimpin Islam (baik dalam kontek organisasi politik maupun organisasi sosial lainnya). Sementara, jika dilihat dari praktek atau prosesnya, aiat
Swt, sedangkan ai at formal, yaitu dilaksanakan dihadapan sesama manusia.
Berdasarkan simpulan tersebut, dapat disederhanakan bahwa yang dimaksud ai at adalah sebuah kontrak sosial antara anggota dengan pemimpin, atau antara siswa dengan sekolah (guru), atau antara rakyat dan wakil rakyat, atau antara murid dengan mursyid, atau antara santri dengan kyai, atau antara makhluq dengan al-khaliq.
Literature Islam memberikan penjelasan, bahwa ai at ini harus dilaksanakan oleh si pelakunya. Bila terdapat pelanggaran terhadap isi ai at, maka selain sanksi yang bisa diberikan kepada pihak pelanggar, ai at itu sendiri dapat dibatalkan.
Pengertian Konsep Sumpah
Sherif Abdel Azeem (http://www.geocities.com/hwpienesha/) mengatakan bahwa di dalam Islam sumpah setiap Muslim, lelaki atau perempuan, mengikat masing-masing. Tidak ada seorangpun memiliki kekuasaan untuk menolak ikrar seorang lainnya. Kegagalan untuk menjaga sumpah yang sungguh-sungguh yang dibuat oleh lelaki atau perempuan, harus ditebus sebagaimana ditunjukkan
dala Al Qu a :
yang demikian itu, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu." (5: 89)
Saefuddin (Bulletin 03, 1997). mengatakan bahwa kesengajaan melanggar sumpah, merupakan pelanggaran yang sangat berat tanggung jawabnya di akhirat. Janji yang disertai sumpah merupakan tekad yang bukan hanya harus dilakukan tapi juga dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Allah berfirman:
"Dan tepatilah perjanjian (ahada)dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpahmu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas apa yang kamu perbuat." (QS. An-Nahl 91)
menerima akibat bila melanggarnya. Jika sumpah itu dilakukan di hadapan manusia, maka bukan hanya Allah sebagai saksinya, tetapi juga manusia yang menyaksikannya. Oleh karena tanggung jawabnya pun dua jalur; tanggung jawab kepada manusia dan tanggung jawab di hadapan Allah SWT. Dengan mengucapkan 'Demi Allah', berarti langsung ingin disaksikan oleh Allah SWT dan siap dituntut oleh-Nya. Apakah betul dengan dalil tidak sengaja (pura-pura) menjadi bebas dari tuntutan? Bukankah atasan yang menyumpahnya itu sungguh-sungguh meyakini kebenaran sumpahnya? Ketentuan penting tentang sumpah yang harus dijaga antara lain sabda Rasulallah SAW sebagai berikut "Sumpah itu atas dasar orang yang menuntutnya." (HR. Muslim dari Abi Hurairah).
Maksudnya apabila seseorang diminta untuk bersumpah dalam menjanjikan sesuatu, kemudian ia mengucapkannya, maka sumpahnya adalah dianggap sah. Dengan demikian tidak ada alasan bagi calon pejabat yang mengucapkan sumpah jabatan untuk melanggarnya, walau tatkala mengucapkan sumpah itu tidak sungguh-sungguh. Dalam riwayat lain diterangkan bahwa Rasulallah SAW bersabda "Sumpahmu menurut apa yang diminta temanmu." (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi).
Berdasarkan hadits ini, apabila seseorang bersumpah atas permintaan orang lain, dan yang memintanya itu menganggap sah, maka sumpahnya jadi sah secara hukum, dan harus dipertanggung jawabkan. Jika melanggar harus membayar kifarat. Dengan kata lain jika pejabat tersebut melanggar, sumpah maka setiap melanggar harus membayar kifarat sumpah.
hal yang perlu diperhatikan. Pertama, sumpah jabatan merupakan janji kepada Allah, pada diri sendiri, dan pada masyarakat yang mengangkatnya. Oleh karena itu harus dipelihara dan dijaga jangan sampai dilanggar. Kedua, setiap melanggar sumpah, maka wajib membayar kifarat. Ketiga, sumpah yang diucapkan tetap dianggap sah, walau diucapkan secara pura-pura, sepanjang orang lain membenarkannya. Keempat, para pejabat yang telah melakukan sumpah jabatan hendaklah berhati-hati jangan melanggar, sebab walau bebas di dunia, di akhirat tidak akan bisa berlepas diri.
Pengertian Konsep Ikrar
Dalam kamus al-Munawir (1997:1105) dapat ditemukan bahwa kata
i a e iliki aka kata da i qorro. “eju lah pe ge tia da i kata
ini, yaitu (a) menuangkan, (b) bersuara atau mendesis, (c) mengambil keputusan, (d) menetapkan atau (e) menempatkan. Salah satu contoh penggunaan kata tersebut, misalnya adalah
aqorro fulanan fil makan e e patka si fulan dalam tempatnya).
Al-Qu a , se i g e ggu aka kata o o dala ko teks menancapkan atau menetapkan. Misalnya saja, surat ke14 ayat 26, atau surat ke- 23 ayat 13, menyebutkan bahwa Allah Swt menancapkan akar-akar tanaman secara kuat. Dengan merujuk pada hasil kumpulan Ali Audah (1997:836) ditemukan informasi bahwa al-Qu a tidak pe ah e ggu aka ko sep o o ik a sebagai konsep dalam konteks janji. .
Hasan Hanafi (jilid 5:58) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan
iqrar adalah attalafadzu bikalimati syahadat e yataka
kesaksian melalui kalimat). Pelaksanaan iqrar, dalam konteks
ketiga, setelah a ifat (mengetahui) dan tashidiq (membenarkan), dan dilakukan sebelum a al (tindakan). Hal ini sejalan dengan pernyataan para ulama salaf dan ucapan para shahabat bahwa
o a g ya g e syahadat itu adalah ashdiqu bi jinan, wa iqraru bil
lisa , wa a alu il a ka Hasa Ha afi, jilid : 1 . Pelaksa aa
iqrar, dalam konteks hokum agama, dapat membedakan antara orang yang beriman secara kaffah (utuh, menyeluruh), kufur (mengingkari), dan munafik (adanya ketidakkonsistenan antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan).
Berdasarkan pemikiran seperti ini, atau merujuk pada makna dasar leksikon dan gramatikal, dapat dikemukakan bahwa konsep ikrar adalah :
a. Ikrar dimaknai secara prosedural, yaitu bentuk pengungkapan, pembacaan atau pernyataan lisan setelah mengakui dan memahami sesuatu hal. Dalam pengertian ini, orang yang membacakan janji dapat disebut sebagai orang yang sedang ikrar.
b. Ikrar dapat dimaknai sebagai sebuah sikap untuk mengakui, meneguhkan keyakinan. Bersyahadat, merupakan sebuah ikrar seorang muslim yang meyakini bahwa Allah itu Esa dan Muhammad adalah Rasulullah. c. Kaitannya dengan hokum, maka seseorang yang sudah berikar, adalah orang yang sudah mengambil keputusan ( o ayahu ala kadza) tentang sesuatu. Ikrar sebagai siswa, ikrar sebagai anggota organisasi, ikrar sebagai suami-istri. Pernyataan ikrar ini, bermakna bahwa orang tersebut sudah mengambil keputusan untuk menetapkan sebuah pilihan sikap.
Unsur-Unsur Pembangun
Bai’at
Merujuk pada analisa yang dikembangkan sebelumnya, khususnya mengenai konsep ai at, dapat dirumuskan ada tiga makna dasar yang tercakup dalam ai at.
a. Bai at secara hakikiah, yaitu perjanjian antara hamba dengan al-Khaliq, sebagaimana yang dinyatakan dalam Qs. 61:10-12).
b. Bai at politik, yaitu antara ummat dengan imam, atau rakyat dengan pemimpin. Misalnya, seperti yang dialami oleh Abu Bakar setelah ia disetujui di Saqifah Bani
“a idah u tuk e jadi khalifah se agai ga ti Na i
Muhammad dalam mengepalai negara Islam yang masih muda (Nasution, 1995:249). Bai at ini dilaksanakan di Masjid Madinah sebagai pusat kegiatan pemerintahan. c. Bai at kelembagaan/organisasi, yaitu antara murid
dengan mursyid, antara anggota dengan pemimpin organisasi. Dalam konteks penelitian ini, maka ai at yang dimaksud adalah antara siswa dengan guru/sekolah.
Dalam melaksanakan baiat, janji atau sumpah dibutuhkan ada sejumlah syarat tertentu. Terdapatnya kelengkapan unsur-unsur pembangun ai at tersebut, menjadi sangat penting untuk wujudkan sehingga baiat itu syah. Berdasarkan telaahan terhadap yang dikemukakan sebelumnya, dapat dikemukakan sejumlah persyaratan formal dalam ai at itu.
Malik dan Jumhur ulama berpendapat bahwa orang yang dipaksa untuk bersumpah, karena diancam akan dibunuh, maka sumpah yang dinyatakan tidak dianggap atau tidak mempunyai dampak hukum (al-Mubarak.
Nailul Authar. 1993:3128).
b. Ada pilihan. Sejalan dengan syarat pertama, berbaiat itu sendiri merupakan sebuah pilihan. Pilihan-pilihan yang paling minimal itu adalah menerima atau menolak terhadap isi janji/sumpah atau ai at itu sendiri.
Qu aish “hiha 199 : 1 e gataka , pa a pakar agama menjadikan baiat para perempuan sebagau bukti kebebasan untuk menentukan pandangannya berkaiatan dengan kehidupan serta hak untuk mempunyai pilihan yang berbeda dengan pandangan kelompok-kelompok lain dalam masyarakat, bahkan terkadang berbeda dengan pandangan suami dan ayah
e eka se di i .
c. Minimalnya ada dua pihak yang melakukan baiat, misalnya yaitu penjual dan pembeli, guru-murid, rakyat dan pemimpin, makhluk dengan Khaliq, dan lain sebagainya. Secara hakikiah, seorang muslim yang ber ai at, disaksikan oleh pihak ketiga, yaitu Allah Swt. d. Ada tujuan, niat atau masalah yang dijadikan sebagai isi
dari janji/sumpah atau ikrar tersebut. Misalnya akan melakasanakan tugas sesuai dengan isi janji/sumpah/ikrar.
Ada satu prinsip yang penting untuk dikemukakan dalam konteks analisis ini. Esposito (2001:243) mengatakan bahwa baiat merupakan sebuah perjanjian, kontrak sosial tak tertulis, dan
memiliki dua makna. Pertama, teks ai at tidak disusun secara resmi. Kedua, hasil ai at tidak terdokumentasikan. Artinya, di masa Rasulullah dan para shahabat perjanjian ( ai at) tidak dituangkan dalam bentuk akta perjanjian. Pelaksanaan langsung diucapkan (iqrar) dihadapan Rasullullah Saw atau Imam. Peristiwa tersebut, mirip bentuk kebulatan tekad untuk mendukung seseorang dalam posisi politik tertentu. Dengan demikian, masuk akal jika, Esposito mengatakan bahwa ai at merupakan sebuah perjanjian tidak tertulis. Tetapi, dalam konteks perkembangan jaman, penulis memandang bahwa kebutuhan untuk mendokumentasikan teks ai at dan akta ai at merupakan satu kebutuhan strategis bagi umat Islam.
Dalam konteks penelitian penulis, teks ai at sudah disusun secara resmi dan terdokumentasikan sebagai bagian dari dokumen pendidikan. Sebagai contoh ai at antara siswa dengan guru (sekolah). Pada lembaga sekolah ini, teks ai at sudah dibuat, kemudian siswa mengikrarkannya (mengucapkan) dihadapan guru/pihak sekolah.
Sehubungan dengan ini, yaitu terdapatnya dokumen ai at, baik teks maupun akta perjanjian ( ai at) itu sendiri, merupakan unsur administrasi ai at yang harus ada dalam sebuah kegiatan ai at. Unsur administrasi dari ai at tersebut, memiliki fungsi untuk menjadi pedoman, bukti, patokan dan landasan hokum dalam mengontrol keberlanjutannya nilai-nilai yang terkandung dalam
ai at itu sendiri.
Kewajiban ber ai at, jika dilihat kembali pendapat Quraish Shihab dapat dikatakan bukan sebuah perintah top-down dari pemimpin yang harus dilaksanakan oleh rakyat. Sebab, dalam melaksanakan ai at, masih terbuka ruang untuk memilih atau menentukan sikap sendiri. Dengan kata lain, kebebasan untuk memilih atau menentukan sikap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari
ai at.
Pendapat yang senada dikemukakan Harun Nasution (1995:170). Dalam konteks perbandingan antara sistem politik Islam dengan sistem poilitik, Harun Nasution menegaskan bahwa bai at
mengandung arti kedaulatan rakyat yang terdapat dalam demokrasi Barat.
Berdasarkan pemikiran tersebut, seorang siswa yang ber ai at pada dasarnya memiliki kedaulatan penuh untuk menolak atau menerima terhadap substansi dari isi ai at itu sendiri. Jika menolak, siswa tersebut tidak akan menjadi siswa di sekolah yang tersebut di atas. Sedangkan jika rela mem ai atnya sebagai tempat belajar, maka siswa tersebut akan terkena kewajiban untuk menjalankan isi ai at. Karena sebuah ai at, mengandung makna pengakuan, atau sumpah setia. Rasulullah Muhammad Saw bersabda bahwa ya i uka ala a yushodi uka ihi shohi uka su pah u itu,
ialah apa yang membuat temanmu percaya kepadamu atas apa
ya g ka u sa paika . H . Ah ad, Musli , I u Majah da
Tirmidzi, dalam Nailul Authar, 1993:3127).
Da i Ba a i Azi , ia berkata : Kami diperintahkan Rasulullah (untuk menunaikan) tujuh perkara; yaitu Beliau memerintahkan Kami (1) untuk menjenguk orang sakit, (2)
e ga ta je azah, e do aka o a g e si ,
menunaikan sumpah atau apa yang disumpahkan itu, (5) membela orang teraniaya, (6) mendatangi undangan, dan (7) menyebarluaskan salam (Hr. Ahmad, Bukhari dan Muslim, Nailul Authar, 1993:3144).
Kemampuan untuk menjalankan sumpah atau nadzar merupakan salah satu sifat manusia yang dianjurkan dan mendapat pahala yang besar dari Allah Swt. Dalam al-Qu a , Allah “wt e fi a , "mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang adzabnya merata di mana-mana." (Al Insan:7) Dalam riwayat yang lain, diungkapkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda :
Ada empat sifat yang jika melekat pada seseorang maka orang itu benar-benar munafik, jika ada satu sifat yang melekat (dari empat itu) maka dalam dirinya ada karakter munafik sampai ia meninggalkan sifat itu semua, (empat sifat itu adalah); jika dipercaya berkhianat, jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari, dan jika berdebat berkata keji. (HR.Bukhari Muslim ).
demikian tidak dilakukan, maka termasuk kedalam satu amalan dosa yang akan mendapat balasan.
Sehubungan dengan ai at, Ahmad Sarwat (http://www.eramoslem.com/, 2004) mengatakan bahwa ai at itu memang melahirkan konsekuensi keta'atan. Sebab hakikat ai at itu adalah pengakuan atau pengangkatan seorang pemimpin. Posisi seorang pemimpin, memang harus ditaati. Pemimpin yang tidak ditaati, maka secara tidak langsung sudah tidak menjadi pemimpin lagi bagi masyarakatnya. Sebuah peraturan organisasi atau tata tertib sekolah yang tidak ditaati oleh siswa, maka secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa sekolah tersebut sudah tidak layaknya sebagai sebuah tempat pembelajaran atau tempat pendidikan bagi anak seorang Muslim. Hanya karena adanya sebuah tata tertib atau aturan, maka mekanisme pendidikan dapat berjalan dengan baik. Hanya dengan adanya aturan yang ditaati oleh anggota masyarakatlah maka tujuan bersama akan dapat dicapai.
Saefuddin (Bulletin 03, 1997) janji yang mengandung tanggung jawab materi, seperti janji membeli suatu produk atau menjualnya, atau janji memberi sejumlah uang yang akan digunakan untuk kebutuhan tertentu, bila diingkari selain dosa, oleh pendapat mazhab Maliki, juga boleh dituntut di pengadilan untuk dimintai ganti rugi. Ini terutama bila ingkar janji tersebut menimbulkan kerugian yang sifatnya materi.
"Apa saja yang kamu nafkahkan dan apa saja yang kamu nadzarkan sesungguhnya Allah mengetahuinya." (al-Baqarah : 270).
Rasulullah saw. bersabda, "Siapa yang bernadzar (berjanji) akan melakukan amal taat kepada Allah maka taatilah dan siapa yang bernadzar akan berbuat maksiat kepada Allah maka jangan bermaksiat kepadaNya." Hadits iwayat Ja a ah, ke uali Musli . Nailul Authar. 1993:3154).
Jelaslah bahwa semua janji manusia kepada Allah selama janji itu baik dan mampu ditunaikan wajib ditunaikan. Jika janji itu bernilai maksiat, maka tidak wajib ditunaikan karena tidak sah. Begitu juga jika tidak mampu untuk menunaikannya maka tidak harus ditunaikan. Dan jika tidak bisa menunaikan janji kepada Allah itu maka harus ditebus dengan kafarat. Dan kafaratnya sama dengan kafarat sumpah (yamin). Dalilnya adalah hadits riwayat Abu Daud, Baginda Nabi bersabda, "Barang siapa bernadzar untuk berbuat durhaka, maka kafaratnya adalah seperti kafarat sumpah." (Nailul Authar, 1993 : 3158).
Kafarat sumpah adalah sebagaimana dijelaskan dalam surat Al Maidah ayat 89 : "Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa tiga hari."
a. Isi ai at harus dijalankan, sepanjang pemimpin itu berkuasa. Setiap anggota harus taat, dan patuh kepada pemimpin, sepanjang mereka berkuasa dan ada di jalan Allah Swt (Esposito, 2001:243).
b. Kafarat sumpah, menurut Al-Qu a yaitu e e i makan kepada 10 orang miskin, memberi makan biasa kepada anggota keluarga, memberi pakaian budak, memerdekakan budah atau berpuasa tiga hari.
c. Merujuk pada Qs. Al-Maidah : 89, diketahui bahwa kafarat Sumpah itu disesuaikan dengan kemampuan si pelanggar. Dengan kata lain, untuk konteks kafarat di tingkat pendidikan sekolah, maka kafarat pelanggaran terhadap ai at dapat dilaksanakan sesuai tujuan pendidikan, tujuan pembinaan moral dan sesuai dengan kondisi anak itu sendiri.
d. Dengan adanya sumpah, janji atau ikrar, dapat dikemukakan ada 4 kelompok manusia, yaitu orang yang beriman (yaitu adanya keselarasan antara apa yang diyakini, dipikirkan, diucapkan dan dilakukan), kafir
(orang yang menolak perneyataan), orang munafik
(orang yang tidak konsisten antara apa yang diyakini dengan apa yang diucapkan), serta khianat (yaitu tidak menjalankan apa yang diucapkan, dijanjikan).
Kerangka Teori Analisis Terhadap Praktek
Bai’at
Dala e ga alisis Pe ga uh Ik a te hadap Akhlak “iswa
perspektif yang digunakan untuk menganalisis rumusan masalah tersebut adalah menggunakan pandangan sosiologi.
Teori makro (the grand theory) yang digunakannya yaitu teori structural fungsional, sebagaimana dikembangkan Talcott Parsons. Teori strukturak fungsional adalah kaidah atau teori yang menjelaskan tentang gejala-gejala sosial dan institusi sosial (lembaga sosial) dengan memfokuskan fungsi yang dibentuk dan disusun oleh gejala dan institusi sosial tersebut (Garna, 1996:54).
Dalam mencari kaidah-kaidah dalam masyarakat terdapat tiga masalah sebagai asas penting menurut pendekatan structural fungsional (Garna, 1996:55),yaitu (1) adakah sesuatu itu berfungsi, (2) bagaimana sesuatu hal itu berfungsi, dan (3) mengapakah sesuatu hal itu berfungsi ?. Kaidah-kaidah atau aturan dalam masyarakat adalah berkaitan tentang hubungan antar individu, individu dengan insitusi sosial maupun antar institusi sosial itu sendiri.
Berdasarkan pemikiran seperti itu, maka relevan untuk mempertanyakan, apakah ikrar di TPA/TKA itu berfungsi ? bagaimana ikrar itu berfungsi, dan jika tidak berfungsi, mengapa tidak berfungsi ? inilah yang kemudian akan menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini, dan akan digali informasi-informasi yang relevan untuk menjawab pertanyaan tersebut.
(adaptation, gola attainment, integration dan laten maintenance). Keempat prasyarat itu adalah :
a. Adaptasi (adaptation, A), yaitu terdapatnya sarana-sarana yang dibutuhkan individu dalam mencapai sebuah tujuan. Adaptasi merupakan sebuah konsekuensi dari tujuan kemajukan. Sebuah siste, tidak hanya memiliki satu set kenyataan, melainkan adanya keanekaragaman sumber daya yang bisa digunakan untuk mencapai sebuah tujuan. Berdasarkan subsistem ini, maka dalam penelitian ini akan dikemukakan mengenai cara-cara siswa dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan pendidikannya, yang memiliki nilai dan norma sesuai dengan ikrar yang dikemukakannya. b. Tujuan dan kemungkinan mencapainya (goal
attainment, G). Sebuah sistem sosial harus memiliki tujuan, dan kemungkinan untuk mencapainya. Dalam menjelaskan goal attainment ini, Veeger (1986:207) mengatakan ada tiga hal yang perlu diingat, yaitu (1) harus ada tujuan yang jelas, (2) ada orang atau tenaga yang akan mencapainya, dan (3) kewaspadaan, kepekaan terhadap kebutuhan sistem itu sendiri. Berdasarkan teori ini, maka penelitian ini, berupaya untuk menggali informasi mengenai tujuan, dan kemungkinan ketercepaiannya tujuan yang dirumuskan dalam ikrar.
mekanisme kontrol, integrasi adalah sebuah kontrol hierarki (bertingkat). Integrasi berdiri diantara fungsi pemeliharaan dengan tujuan. Berdasarkan subsistem I, maka penelitian ini berupaya untuk menggali informasi mengenai tata tertib atau aturan yang konkrit di sekolah, yang mengatur perilaku siswa sebagaimana dituntut oleh ikrar.
d. Mempertahankan identitas (laten maintenance, L), yaitu nilai-nilai budaya yang sifat mendasar. Fungsi pemeliharaan, merujuk pada tujuan sarana supaya terjadinya stablitas pola budaya yang terlembagakan dalam sebuah sistem (the function of pattern maintenance refers to the imperative of maintaining the stability of patterns of institutionalized culture defining the structure of the system). Ada dua hal yang penting untuk diperhatikan dalam masalah ini, yaitu (1) karakter pola normative, dan (2) lembaga yang memiliki komitmen untuk mengembangkan sistem nilai. Berdasarkan subsistem L, maka penelitian ini berupaya untuk menggali informasi mengenai upaya sekolah atau guru dalam memelihara, membina dan melestarikan nilai-nilai yang sesuai dengan ikrar.
Selain menggunakan pendekatan teoritik dari Parson, juga dipadukan dengan pendekatan yang dikemukakan oleh Peter L. Berger serta Koentowidjojo.
Peter L. Berger (1991:4) mengatakan ada tiga unsure sistematik yang berkembang dalam masyarakat, yaitu internalisasi, eksternalisasi dan objektifikasi.
Internalisasi dalam pandangan Berger (1991:5) yaitu peresapan kembali realitas dan mentransformasikannya sekali lagi dari struktur-struktur dunia objektif ke dalam struktur-struktur kesadaran subjektif. Berger selanjutnya mengatakan (1991:21) sosialisasi tidak pernah berakhir. Sosialisasi merupakan sebuah proses berkelanjutan yang panjang dan tidak berujung.
Eksternalisasi yaitu suatu pencurahan kedirian manusia secara terus menerus ke dalam dunia, baik dalam aktiitas fisis maupun mental. Eksternalisasi adalah suatu keharusan antropologis. Manusia, menurut pengetahuan empiris kita, tidak bisa dibayangkan terpisah dari pencurahan dirinya terus menerus ke dalam dunia yang ditempatinya. Kedirian manusia bagaimanapun tidak bisa dibayangkan tetap tinggal diam di dalamd irintya, dalam suatu lingkup tertutup, dan kemudian bergerak keluar untukmengekspresoikan diri dalam dudnia sekelilingnya. Kedirian manusia itu esensinya melakukan eksternalisasi dan inis udah sejak permulaann. Fakta antropologis yang mendsar ini sangat mungkin berakar dalam lembaga biologis manusia (Berger, 1991:5). Dengan kata lain, melalui proses eksternalisasi ini, manusia senantiasa berproses untuk terus menerus memperbaiki diri. Whitehide
e ye ut a usia se agai e p oses . Dala ko teks ekste alisasi
ini, maka masyarakat merupakan produk manusia.
Objektivasi adalah disandangnya produk-produk aktivitas itu (baik fisi maupun mental), suatu realitas yang berhadapand engan produsennya semula, dalam bentuk suatu kefaktaan (faktisitas) yang eksternal terhadap, dan klain dari, para produsernya itu sendiri. melalui objektivasi ini, maka masyarakat manusia menjadi
sui generis, unik.
Koentowidjojo (2002:213) mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan objektifikasi bukan bersikap objektif. Bersikap objektif, yaitu memandang sesuatu hal sebagai objektif. Sedangkan objektifikasi dalam pandangan Koentiwidjojo adalah memandang sesuatu secara
diartikulasikan dalam ukuran-ukuran yang objektif. Kedua, adanya pengakuan penuh terhadap keberadaan sesuatu hal yang ada secara objektif.
Objektifikasi ini, dalam pandangan Koentowidjojo dapat dikatakan sebagai sebuah metode (2002:214). Substansinya bisa Pancasila, Dasa Dharma Pramuka, Trisatya Pramuka dan Ikrar Santri. Berdasarkan pandangan ini, maka pengakuan penuh, pengakuan secara sadar terhadap keberlakuannya variasi janji, variasi sumpah atau variasi teks ikrar organisasi itu merupakan sebuah proses objektifikasi. Oleh karena itu, berbagai pengetahuan, berbagai hasil budaya, berbagai metode pembelajaran yang berkembang saat ini, secara objektif harus diakui sebagai sebuah karya manusia. Pengakuan terhadap karya-karya nyata manusia itulah, yang disebut dengan objektifikasi.
Berdasarkan analisis tersebut, dapat dirumuskan bahwa kajian teori dalam penelitian ini, akan mencakup pada lima hal yang terkait dengan rumusan penelitian, pengaruh ikrar terhadap perilaku siswa. Kelima hal tersebut itu adalah :
a. Tujuan atau target dari sebuah ikrar. Dalam teori Parsons disebutnya dengan goal attainment. Sehubungan dengan penelitian ini, maka sekolah perlu merumuskan nilai dan norma yang diajarkan, dilatihkan
da di i i gka kepada a ak didik. Melalui u usa Ik a “iswa , sekolah pe lu e uat u usa -rumusan yang jelas, tegas dan rinci dari ikrar siswa tersebut, sehingga dapat dijadikan patokan bagi siswa atau pengelola sekolah.
menyebutnya dengan istilah adaptation, sedangkan Berger menggunakan istilah internalisasi. Pada tahap ini, penelitian akan memfokuskan pada upaya atau usaha siswa dalam memahami makna atau isi yang terkandung dalam ikrar siswa.
c. Tata tertib atau aturan formal yang disusun oleh sekolah. Istilah lain yaitu integrasi. Tata tertib ini, sudah barang tentu merupakan sebuah kontrol sekaligus alat perekat untuk mewujudkan tujuan pembinaan anak didik. Sebagai bagian dari sistem pendidikan, maka tata tertib yang berlaku di sekolah pun, seharusnya memuat aturan-aturan yang menjadi kontrol bagi keterlaksanaannya ikrar siswa. Dengan kata lain, ikrar siswa, perlu dijadikan landasan bagi perumusan tata tertib siswa.
d. Model-model upaya pembinaan, baik yang dilakukan oleh guru maupun sekolah dalam rangka menumbuhkembangkann sikap anak didik yang sesuai dengan ikrar.
e. Model perilaku yang ditampilkan anak didik. Berger menyebutnya dengan istilah eksternalisasi. Dalam bagian ini, yang paling penting adalah mengobservasi, mendata, mengelompokkan dan menganalisis tindakan-tindakan nyata (the real action) yang merupakan bagian dari proses usaha siswa dalam menjalankan ikrar. f. Reaksi dan sikap anak terhadap keanekaragaman sikap
DAFTAR PUSTAKA
A dullah, U u “olehah. Pe i pi Ideal .
http://pilihanraya11.s5.com/ News/7-6/Pemimpin%20Ideal.htm.
A dussala , Ah ad Hidayat. “oal Wali “o go di Ja a I i .
Dipublikasi 8 Maret 2004. http://www.sufinews.com/index.php?
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian. Jakarta : PT Rineka
Cipta.
Armstrong, Karen. 2001. Muhammad Sang Nabi. Penerjemah Sirikit Syah. Surabaya : Risalah Gusti.
Audah, Ali. 1997. Ko ko da si Qu a : Pa dua Kata Dala Me a i Ayat Qu a . Jakarta - Bogor : Mizan – Litera AntarNusa
Azeem, Sherif A del. Wa ita Dala Isla Di a di gka De ga Wanita Dalam Tradisi Yahudi Kristen”. Alih Bahasa. W.
Pienandoro http://
www.geocities.com/hwpienesha/wanita/wanisl9.html
Campbell, Tom. 1994. Tujuh Teori Sosial : Sketsa, Penilaian, Perbandingan. Yogyakarta : Kanisius. Penerjemah F. Budi Hardiman.
Craib, Ian. 1986. Teori-Teori Sosial Modern : Dari Parsons sampai Habermas. Jakarta : Rajawali Press. Penerjemah Paul S. Baut dan T Effendi.
Esposito, John L (ed. Kepala). 2001. Ensiklopedia Oxford : Dunia Islam Modern. Jilid 1 dan 4. Bandung : Mizan. Penerjemah Eva Y.N., dkk.
Garna, Judistira K. 1996. Ilmu-Ilmu Sosial : Dasar-Konsep-Posisi. Bandung : PPs UNPAD.
Giddens, Anthony. 2003. The Constitution of Society : Teori Strukturasi Untuk Analisis Sosial. Penerjemah Adi Loka Sujono. Yogyakarta : Pedati.
Haekal, Muhammad Husain. 1999. Sejarah Hidup Muhammad. Penerjemah Ali Audah. Bogor : Litera AntarNusa. Cetakan keduapuluhtiga.
Hanafi, Hasan. Mi al A idah ila Tau ah. Jilid , te ta g Al-Iman, wa
A al –I a ah . Makta ah al-Madbula.
Hidayat, Rachmat Taufik. 1993. Khazanah Istilah Al-Qu a . Bandung : Mizan.
Koentowidjojo. 2002. Selamat Tinggal Mitos Selamat Datang Realitas. Bandung : Mizan
Koentowidjojo. 1997. Identitas Politik Umat Islam. Bandung : Mizan.
Mubarak, Syaikh Faishal bin Abdul Aziz Al-.1993. Nailul Authar. Jilid
. Te je aha Mu a al Ha idy, I a , U a Fa a i. “u a aya :
Bina Ilmu.
Mubarakfury, Syaikh Shafiyyur Rahman al-. 2000. Sirah Nabawiyah. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar. Penerjemah Kathur Suhardi.
Nasution, Harun. 1995. Islam Rasional : Gagasan dan Pemikiran. Bandung : Mizan.
Ridho, Akrim. 2002. Menjadi Pribadi Sukses. Bandung : Syammil. Penerjemah, Tarmana Abdul Qosim.
“ae ozi, Ha i u ah a . Me gi gka i Ja ji .
http://www.pesantrenvirtual. com/tanya/279.shtml. Seri ke-279, Senin, 27 Mei 2002
“aifuddi , U. Pu a-Pu a Ketika “u pah Ja ata . Buleti Bula a Mudzakarah Seri: 03. Desember 1997. http://www.geocities.com/mudzakarah/
artikelain/001/PuraKetikaSumpah.htm
“a wat, Ah ad. Adakah Baiat di Ja a “eka a g . Dipu likasika
21/04/2004
http://www.eramoslem.com/ks/us/44/9956,2,v.html
“a wat, Ah ad. “e a-Serbi Tentang Baiat . Dipu likasika 19/05/2004
http://www.eramoslem.com/ks/us/44/9956,2,v.html.
Shihab, Quraish. 1996. Wawasa Qu a : Tafsi Mau dhui Atas
Pelbagai Persoalan Ummat. Bandung : Mizan.
Solehah, U u. Kepe ti ga Wa ita Dala Be politik . http://members.lycos.
co.uk/minda2rakyat/artikel/040421_artikel_1.htm
Sugiyono. 1999. Metode Penelitian Bisnis. Bandung : Alfabeta.
Veeger, KJ. 1986. Realitas Sosial. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Courtesy. Spiritualfoundation.org. The Meaning of Initiation and Discipleship in Islam.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2002. Edisi Ketiga. Jakarta : Depdiknas – Balai Pustaka.
Noore Madinah Network. Copyright © 1998-2004. A Complete Islamic Encyclopedia Web Site. The Meaning of Baiat. http://www.
haqqaninaqshbandiuk.com/themeaningofbaiat.html
Pelajaran Thoriqoh Shidiqiyah.