Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atas butir butir pendapat teori, tesis mengenai suatu kasus atau permasalahan yang menjadi dasar perbandingan, pegangan teoritis.16 Dalam setiap penelitian harus disertai dengan pemikiran-pemikiran teoritis, teori adalah untuk menerangkan dan menjelaskaan gejala spesifik untuk proses tertentu yang terjadi.17 Teori berguna untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi dan satu teori harus diuji dengan menghadapakannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukan ketidakbenarannya.
Fungsi teori dalam tesis ini adalah untuk memberikan arahan atau petunjuk dan meramalkan serta menjelaskan gejala diamati, teori dalam penulisan tesis ini menggunakan:
a. Teori Sinkronisasi Hukum
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sinkron berarti pada waktu yang sama, serentak, sejalan, sejajar, sesuai, selaras. Sinkronisasi yaitu perihal menyinkronkan penyerentakan, dan sama juga dengan kata
16 M. Solly Lubis, Filsafatilmu dan penelitian, mandar Maju, Bandung, 1994, hal 80.
17 Soerjono Soekanto, Penghantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Press, Jakarta, 1986, hal 122.
harmonisasi adalah upaya mencari keselarasan.18Sinkronisasi hukum adalah penyelarasan dan penyerasian berbagai Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan Peraturan perundang-perundang-undangan yang telah ada dan yang sedang disusun yang mengatur suatu bidang tertentu, maksud dari sinkronisasi adalah agar subtansi yang diatur dalam produk Perundang-undangan tidak tumpang tindih, saling melengkapi (suplementer), saling terkait, dan semakin rendah jenis pengaturannya maka semakin detail dan operasional materi muatannya.
Adapun tujuan dari kegiatan sinkronisasi adalah untuk mewujudkan landasan pengaturan suatu bidang tertentu yang dapat memberikan kepastian hukum yang memadai bagi penyelenggaraan bidang tertentu secara efisien dan efektif. Sinkronisasi terhadap peraturan perundang-undangan dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu:
1) Sinkronisasi Horizontal
Sinkronisasi Horizontal menurut Prof Soerjono Soekanto bertujuan untuk menggungkap kenyataan sampai sejauh mana Peraturan perundang-undangan yang sederajat mengenai bidang yang sama.19 Di dalam penelitian mengenai taraf sinkronisasi secara horizontal ini, pertama-tama harus terlebih dahulu dipilih bidang yang akan diteliti, kemudian carilah Peraturan perundang-undangan yang sederajat yang
18 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ketiga, Catakan Ketiga, Jakarta Departemen Pendidikan Nasional balai pustaka, 2005.
19 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat, Rajawali Press, Jakarta, 2003, Hal 74.
mengatur segala aspek yang akan diteliti.20Dari hasil analisa akan dapat terungkap, sampai sejauh mana taraf sinkronisasi secara horizontal dari pelbagai macam Peraturan perundang-undangan, selain mendapatkan data tentang Peraturan perundang-undangan untuk bidang tertentu secara menyeluruh dan lengkap, maka penelitian dengan pendekatan ini juga dapat menentukan kelemahan-kelemahan yang ada pada Peraturan perundang-undangan yang mengatur bidang bidang tertentu. Dengan demikian peneliti dapat membuat rekomendasi untuk melengkapi kekurangan-kekurangan, menghapus kelebihan-kelebihan yang saling tumpang tindih, memperbaiki penyimpangan-penyimpangan yang ada, dan seterusnya, hasil-hasil penelitian ini tidak hanya berguna bagi penegak hukum, akan tetapi juga bagi ilmuwan dan pendidikan hukum.21
2) Sinkronisasi Vertikal
Sinkronisasi Vertikal yaitu sinkronisasi Peraturan perundang-undangan dengan Peraturan perundang-perundang-undangan lain dalam hierarki yang berbeda. Sinkronisasi Vertikal dilakukan dengan melihat apakah suatu Peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam suatu bidang tertentu tidak saling bertentangan antara satu dengan yang lain.22Menurut pasal 7 Undang-undang 12 Tahun 2011 tentang
20 Soerjono Soekanto, penghantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Press, Jakarta, 1986, hal 257.
21 Ibid, hal 275.
22 Ibid, hal 277.
Pembentukan Peraturan perundang-undangan menetapkan bahwa jenis dan hierarki Peraturan perundang-undangan terdiri atas:
a) Undang-undang dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 b) Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat
c) Undang/ Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang.
d) Peraturan Pemerintah e) Peraturan Presiden
f) Peraturan Daerah Provinsi
g) Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
Dalam penelitian ini maka yang ditelaah adalah Peraturan perundang-undangan suatu bidang tertentu, didalam perspektif hierarki, sudah tentu bahwa telaah ini juga harus didasarkan pada fungsi masing masing Perundang-undangan tersebut, sehingga taraf keserasiannya akan tampak dengan jelas, misalnya suatu Peraturan Pemerintah yang setingkat lebih rendah dri Undang-Undang merupakan peraturan yang diciptakan untuk menjalankan atau menyelenggarakan Undang-Undang. dengan demikian dapat pula ditinjau sebab-sebab terjadinya kasus yang dihadapi sepanjang mengenai hierarki Peraturan Perundangan-undangan tersebut, dari tingkat tertinggi sampai tingkat terendah.23
23 Ibid.
b. Teori Kepastian Hukum.
Kepastian Hukum merupakan salah satu tujuan hukum seperti apa yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch dalam teori etis dan utility yang konsep hukumnya adalah hukum bertujuan untuk keadilan, kegunaan dan kepastian.24 Dengan adanya suatu kepastian hukum, maka tujuan dari hukum yaitu keadilan yang akan dapat dicapai. yang utama dari nilai kepastian hukum adalah adanya peraturan itu sendiri.
Tentang apakah peraturan itu harus adil dan mempunyai kegunaan bagi masyarakat adalah di luar pengutamaan nilai kepastian hukum.
Menurut Peter Mahmud marzuki, dalam teori kepastian hukum mengandung 2 (dua) pengertian:
1) Adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan.
2) Berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena adanya aturan hukum yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh negara terhadap individu.25
Menurut pendapat Radbruch:
“ pengertian hukum dapat dibedakan dalam tiga aspek yang ketiga-tiganya diperlukan untuk sampai pada pengertian hukum yang memadai. Aspek yang pertama ialah keadilan dalam arti sempit.
Keadlian ini berarti kesamaan hak untuk semua orang di depan peradilan. Aspek yang kedua ialah keadilan dan finalitas. Aspek ini menetukan isi hukum, sebab isi hukum memang sesuai dengan tujuan
24 H. Chaerudin , Filsafat Suatu Ikhtisar, FH UNSUR, Cianjur, hal 19
25 Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, Kencana Pranada Media group, Jakarta, 2008, hal 158
yang hendak dicapai. Aspek yang ketiga ialah kepastian hukum atau legalitas, aspek ini menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan” 26
Kepastian hukum dapat dicapai apabila dalam situasi tertentu:
1) Tersedia aturan aturan hukum yang jelas (jernih), konsisten dan mudah diperoleh (accesible).
2) Instansi-Instansi penguasa (pemerintah) menerapkan aturan-aturan hukum tersebut secara konsisten dan juga tunduk dan taat
3) Warga secara prinsipil menyesuaikan perilaku mereka terhadap peraturan peraturan tersebut
4) Hakim-hakim (peradilan) yang mandiri dan tidak berpihak menerapkan aturan-aturan hukum tersebut secara konsisten sewaktu mereka menyelesaikan sengketa hukum.
5) Keputusan Pengadilan secara kongkrit dilaksanakan.27
Hukum dapat diartikan sebagai pemberian kepastian hukum (rechtszekerheid) atau legalitas. Berdasarkan teori hukum yang telah dikemukakan di atas, bahwa tujuan hukum yang utama adalah untuk menciptakan keadilan, kemanfaatan, kepastian hukum, ketertiban dan perdamaian.28 Dipilihnya teori kepastian hukum ini, karena dengan menggunakan teori dapat menilai sejauh mana kepastian hukum pada
26 Theo Huijbers, filsafat Hukum dalam lintas sejarah, Kanisius, Yogyakarta, 1982, hal 163
27 Jan Michiel Otto, Kepastian hukum di negara berkembang, terjemahan tristan Moeliono, Komisi Hukum Nasional, Jakarta, 2003, hal 5
28 Ridwan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, Citra Aditya bakti, Bandung, 1999, hal 22
Peraturan Perundang-undangan di Indonesia mengenai konversi Bank Konvensional menjadi Bank Syariah.
2. Konsepsi
Konsep berasal dari bahasa latin, Conceptus yang memilik arti sebagai suatu kegiatan atau proses berfikir, daya berfikir khususnya penalaran dan pertimbangan.29 Konsep adalah salah satu hal yang terpenting dari teori, peranan konsep dalam penelitian adalah unutuk menghubungkan dunia teori dan observasi , antara abstraksi dan realitas.30
Suatu konsep atau kerangka konsepsional pada hakikatnya merupakan suatu pengarah, atau pedoman yang lebih konkrit dari pada kerangka teoritis yang sering kali masih bersifat abstrak, sehingga diperlukan definisi-definisi operasional yang akan dapat menjadi pegangan konkrit di dalam proses penelitian.31Agar tidak terjadi perbedaan pengertian tentang konsep-konsep yang digunakan dalam penelitian ini, maka perlu diuraikan pengertian-pengertian konsep yang dipakai, yaitu anatara lain:
a. Analisis yuridis adalah mengumpulkan hukum dan dasar lainnya yang relevan untuk kemudian mengambil kesimpulan sebagai jalan keluar atau jawaban permasalahan.32
29 Komaruddin dan Yooke Tjuparmah Komaruddin, Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah, LP3ES, 1989,Jakarta, hal 122
30 Masri Singarimbun dan Sifian Effendi, Metode Penelitian Survei, LP3ES, Jakarta, 1989, hal 34
31 Soejono Soekanto, Op.Cit, hal 133.
32 Bahder Johan Nasution, Metode Penelitian Ilmu Hukum, Manjar Maju, Mandar Maju, Jakarta, 2008, hal 83.
b. Konversi adalah proses perubahan dari sistem atau jenis instrumen tertentu menjadi sistem atau instrumen lain.33
c. Bank Konvensional adalah Bank yang menjalankan operasionalnya secara konvensional dan menerapkan sistem bunga yang mana sudah diatur berdasarkan prosedur dan ketentuan yang sudah ditetapkan.34 d. Bank Syariah adalah Bank yang beroperasi sesuai dengan
prinsip-prinsip Islam, yakni Bank dengan cara dan operasinya mengikuti ketentuan-ketentuan syariah Islam.35
e. Bank Aceh Syariah adalah Bank umum Syariah yang dimiliki oleh pemerintah aceh, yang sistem operasional berbasis syariah36