• Tidak ada hasil yang ditemukan

BANK ACEH SYARIAH

A. Pembentukan Unit Usaha Syariah dan Perencaan spin off pada PT Bank Aceh

1. Unit Usaha Syariah sebelum terjadi Konversi Pada PT Bank Aceh.

PT Bank Aceh adalah suatu badan usaha berbadan hukum yang berbentuk Perseroan Terbatas yang pemilikan saham dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Aceh sebasar 34,27 % (tiga puluh empat koma dua puluh tujuh persen), dan sisanya 65,73% (enam puluh lima koma tujuh puluh tiga persen) dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten dan Kota di Aceh.

Dalam menentukan arah kebijakan Perseroan, PT Bank Aceh akan melakukan Konversi dari Bank Konvesional menjadi Bank Syariah.

Sebelumnya PT Bank Aceh telah melakukan kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah dengan membuka Unit Usaha Syariah, pembentukan Unit Usaha Syariah memiliki tahap tahap terentu yang pertama izin dari instansi yang berwenang, Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/10/PBI/2009 Pasal 3 ayat 1 yakni bahwa pembukaan Unit usaha Syariah dilakukan dengan izin Bank Indonesia kemudian adapun permohonan izin usaha Unit Usaha Syariah yang diajukan oleh Bank Umum Konvensional antara lain terdiri dari :

a. Rancangan perubahan Anggaran Dasar yang paling kurang memuat kegiatan usaha Unit Usaha Syariah,

b. Identitas dan dokumen pendukung Direktur yang bertanggung jawab penuh terhadap Unit Usaha Syariah, anggota Dewan Pengawas Syariah.

c. Studi kelayakan mengenai peluang pasar dan potensi Ekonomi

d. Rencana bisnis Unit Usaha Syariah tahun pertama dan jangka menengah.

Kemudian Pasal 6 ayat 2 dijelaskan Bank Umum Konvensional yang telah mendapat izin usaha UUS wajib melakukan kegiatan usaha paling lambat 60 (enam puluh) hari terhitung tanggal izin usaha diberikan. Pasal 7 dijelaskan Bank Umum Konvensional yang telah mendapatkan izin usaha UUS wajib mencantunkan frase “Unit Usaha Syariah” setelah nama Bank Umum Konvensional dan logo ib (Islamic Banking) pada kantor UUS yang bersangkutan.

Unit Usaha Syariah (UUS) sebagaimana dijelaskan pada pasal 1 ayat 10 Undang-undang Nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah adalah unit kerja dari kantor Pusat Bank Umum Konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor atau unit yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah. Unit Usaha Syariah hanyalah bagian dari Bank Umum Konvensional yang mana didalam perseroan Unit Usaha Syariah masih berada di bawah Bank Konvensional, pembukaan Unit Usaha Syariah (UUS) merupakan unit kerja dari Bank Umum

Konvensional, dimana struktur organisasi pada Unit Usaha Syariah berada di bawah PT Bank Aceh pada saat masih menggunakan sistem Konversional. Adapun tahap tahap UUS pada PT Bank Aceh sebagai Berikut:

Bagan 7: Struktur Organisasi PT Bank Aceh sebelum konversi

Sumber: PT Bank Aceh

Pada Bagan struktur organisasi di atas PT Bank Aceh pada saat ada Unit Usaha Syariah, kedudukan Unit Usaha Syariah hanya suatu unit yang di bawah direktur kepatuhan,akan tetapi sudah ada Dewan Pengawas Syariah yang mengawasi Unit Usaha Syariah pada PT Bank Aceh. Dewan

Direktur Umum Direktur

Pengawas Syariah yang melakukan pengawas terhapat Unit Usaha Syariah PT Bank Aceh hanya mengawasi produk dan jasa yang berada pada Unit Usaha Syariah, sedangkan untuk pengawasan secara umum pada PT Bank Aceh dilakukan oleh Dewan Komisaris.92

Dalam Peraturan Bank Indonesia nomor 11/10/PBI/2009 Pasal 10 ayat Dewan Pengawas Syariah bertugas dan bertanggung jawab memberikan nasihat dan saran kepada Direktur Unit Usaha Syarih serta mengawasi kegiatan Unit Usaha Syariah agar sesuai dengan Prinsip Syariah. Direktur Unit Usaha Syariah yang dimaksud Pasal 10 ayat 1 sama dengan Divi Syariah pada PT Bank Aceh.

2. Perencaan spin off pada PT Bank Aceh

Unit Usaha Syariah pada PT Bank Aceh ini bersifat sementara sebagai langkah awal untuk mewujudkan PT Bank Aceh Syariah yang mandiri melalui mekanisme pemisahan (spin- off). Dalam hal ini Bank Indonesia menetapkan paling lambat tahun 2023, Bank Umum Konvesional harus memisahkan diri dari Unit Usaha Syariah yang dimiliki Pasal 68 ayat 1 Undang-Undang Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah juncto Pasal 40 Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/10/2009 tentang Unit Usaha Syariah yakni Bank Umum Konvensional yang memiliki Unit Usaha Syariah wajib memisahkan Unit Usaha Syariah menjadi Bank Umum Konvensional apabila nilai aset Unit Usaha Syariah telah mencapai 50% (lima Puluh Persen) dari total aset Bank Umum

92 Wawancara, Saffaisal, Divisi Perencanaan PT Bank Aceh Syariah, tanggal 28 Januari 2019

Konvensional induknya dan atau paling lambat 15 (lima belas) Tahun sejak berlakunya Undang-Undang nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.

Apabila Bank Umum Konvensional tidak melakukan pemisahan atau spin off sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Perbankan Syariah dan Peraturan Bank Indonesia tentang Unit Usah Syariah, maka PT Bank Aceh dapat dikenai pencabutan izin usaha Unit Usaha Syariahnya. spin-off Unit Usaha Syariah pada PT Bank Aceh, pada dasarnya sudah menjadi corporate planing Bank Aceh Syariah yang diagendakan terwujud pada tahun 2016, hal ini sebagaimana telah ditetapkan oleh Pemerintah Aceh selaku Pemegang Saham PT Bank Aceh Syariah, mengeluarkan Qanun tahun 2014 tentang pembentukan Bank Aceh Syariah pasal 3 ayat 1 dijelaskan bahwa Qanun ini Unit Usaha Syariah PT Bank Aceh yang dibentuk berdasarkan SK Direksi Nomor 047/DIR?SDM/XII/2001, Pasal 1, ayat 2 dijelaskan bahwa dengan pemisahan Unit Usaha Syariah PT Bank Aceh sebagaimana dimaksud pada ayat 1, maka seluruh Aktiva dan Pasiva Unit Usaha Syariah PT Bank Aceh beralih karena hukum kepada PT Bank Aceh Syariah.

Pelaksanan pemisahan spin off Pada Unit Usaha Syariah pada PT Bank Aceh mengakibatkan akan adanya Dua Perseroan yakni PT Bank Aceh dan PT Bank Aceh Syariah, karena ada dua Perseroan Terbatas sebagaimana yang ditentukan pada pasal 1 ayat 2 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 yang menjelaskan bahwa pemisahan Perseroan

mengakibatkan seluruh Aktiva dan Pasiva Perseroan beralih karena hukum kepada dua Perseroan atau lebih atau sebagian Aktiva dan Pasiva akan beralih karena hukum kepada satu atau lebih perseroan

Organ Perseroan Terbatas pun menjadi terpisah karena terjadinya pemisahan (spin off), yakni PT Bank Aceh memiliki organ Perseroan RUPS, Dewan Direksi, Dewan Komisaris. Kemudian PT Bank Aceh Syariah memiliki organ Perseroan tersendiri yakni RUPS, Dewan Direksi, Dewan Komisaris, dan tambahan adanya Dewan Pengawas Syariah untuk mengawasi PT Bank Aceh Syariah. Pemisahanan Perseroan harus berdasarkan RUPS.Saat pembahasan pemisahan dalam RUPS yang harus diperhatikan adalah quorum, RUPS ini harus dihadiri sedikitnya ¾ dari seluruh saham dan hak suara yang sah, dan dari ¾ dari seluruh saham yang hadir dalam RUPS harus menyetujui pemisahan Perseroan. Pemegang saham minoritas yang tidak menyetujui keputusan RUPS hanya dapat mempergunakan haknya untuk menjual sahamnya kepada Perseroan dengan harga yang wajar sesuai pasal 62 UUPT. Kemudian melaporkan atau memberitahukan kepada Menteri Hukum dan Ham. Dan Pengumuman pemisahan perseroan sekurang-kurangnya dalam satu surat kabar harian nasional, dalam waktu 30 (tiga puluh hari) hari sejak tanggal pemisahan.

Status Badan Hukum berbentuk Perseroan Terbatas hasil dari pemisahan (spin off) apabila telah memenuhi tahap tahap sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas mengenai spin off

perseroan, adapu tahap-tahap spin off sebagai berikut:

Bagan 8 : Proses Pemisahan Perseroan

Sumber UU No. 40/2007 tentang Perseroan Terbatas

Dari Bagan di atas dijelaskan bahwa pemisahan atau spin off terjadi apabila tahap tahap diatas telah terpenuhi yakni antara lain adalah sebagai berikut:

a. Menyusun Pemisahan

Ketentuan Pasal 68 Undang-Undang Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah dijelaskan bahwa pemisahan Unit Usaha Syariah apabila aset Unit Usaha Syariah telah mencapai 50% (lima puluh Persen) dari total

Rencana Pemisahan

Pengumuman.

Rencangan Pemisahan

Proses Pemisahan Pengumumam

Penyelesaian Klaim Kreditur RUPS

Pemberitahuan Menteri

aset Bank Umum Konvensional atau 15 (lima belas) Tahun setelah berlaku Undang-Undang ini.

Berdasarkan ketentuan Pasal 68 Undang-Undang Perbankan Syariah, di rancang penyusunan pemisahan oleh Pemerintah Aceh dan beseta Pemerintah Kabupaten dan Kota melalui Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2014 tentang pembentukan Bank Syariah, sebagaimana maksud Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2014 Pasal 3 dijelaskan bahwa pembentukan Bank Aceh secara Pemisahan Unit Usaha Syarih dengan PT Bank Aceh.

b. Pengumaman Pemisahan.

Pengumuman pemisahan atau spin off pada sudah dilakukan melaui media cetak dan media elektronik, pemunguman pemisahan spin off mengacu pada Pasal 127 Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 yang menyatakan bahwa penggabungan, peleburan, pengambilalihan, atau pemisahan harus mengumumkan dalam jangka waktru 30 puluh hari sebelum dilakukankannya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

c. Pelaksanaan RUPS

Pemisahan atau spin off dilakukan melaui RUPS dengan ketentuan bahwa pemisahanan harus terpenuhi atau dihadiri oleh ¾ (tiga per empat) total jumlah RUPS dan disetujui oleh ¾ (tiga perempat) jumlah RUPS yang hadir.

Akan tetapi RUPS tahun 2014 pada PT Bank Aceh. Selaku pemegang saham PT Bank Aceh yakni Pemerintah Aceh beserta Pemerintah

Kabupaten Kota, membatalkan rencana spin off pada PT Bank Aceh dan berencana mengubah PT Bank Aceh Syariah tidak melalui pemisahan spin Off Unit Usaha Syariah akan tetapi melakukan Konversi pada PT Bank Aceh dari sistem Konvensional kesistem Syariah.