• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.5KERANGKA TEORI

Jamu Tradisional Antiobesitas

Peraturan Kepala Badan POM RI Nomor:

HK.00.05.41.1384 tahun 2005 tentang Kriteria dan Tata Laksana Pendaftaran Obat Tradisional, bahwa obat tradisional tidak boleh mengandung bahan kimia sintetik atau hasil isolasi yang berkhasiat obat.

Mekanisme, dosis, dan efek samping Sibutramin HCl

.

DOSIS : 10 mg - 15 mg per hari MEKANISME : secara

selektif menghambat re-uptake (penyerapan) noradrenalin, serotonin dan dopamine.

Serotonin adalah suatu neurotrasmitter di otak yang memberikan sinyal kenyang pada otak.

EFEK SAMPING : peningkatan denyut jantung, palpitasi (jantung berdebar), peningkatan tekanan darah, sakit kepala, kegelisahan, kehilangan nafsu makan,

konstipasi, mulut kering, gangguan pada alat perasa, vasodilatasi, insomnia, pusing, paraaesthesia, berkeringat dan lain-lain Metode KCKT Sistematika random sampling Standar sibutramin Validasi Preparasi sampel Penetapan kadar kesimpulan Presisi akurasi

26

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan mulai bulan November 2011 sampai bulan Februari 2012 di Laboratorium Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3.2. Bahan dan Alat

3.2.1. Bahan

a. Bahan uji

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah jamu tradisional antiobesitas yang diperoleh dari 3toko jamu terbesar yang berada diwilayah pasar Ciputat-Tangerang Selatan sehingga diperoleh 6 sampel jamu.

b. Bahan kimia

Bahan-bahan kimia yang digunakan terdiri dari: metanol grade HPLC (Merck), ammonium hidroksida (Merck), asam format (Sigma), aquadestilasi dan bahan baku pembanding Sibutramin HCl yang di dapat dari BPOM RI.

3.2.2. Alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: KCKT (Ultimate 3000 @ Dionex), kolom Acclaim C-18; (3 µm 4.6

27

x 150 mm), syiringe 5 mL, filter fase gerak 0.5µm (whatmann) dan filter sampel 0.45 µm (nylon), Neraca anaitik (AND) ( max 220 g; min 1 mg; e=1 mg d =0,01/0,1 mg), strirer (Nouva,thermolyne), pH meter (Horiba) , alat sentrifugasi(Eppendrorf), dan alat-alat gelas.

3.3. Metode Penelitian

3.3.1. Pemilihan Sampel

Pengambilan Sampel ini adalah jamu tradisional antiobesitas yang diperoleh dari 3toko jamu terbesar yang berada diwilayah Pasar Ciputat-Tangerang Selatan. Teknik pengambilan sample yang dilakukan adalah dengan menggunakan metode sampling investigasi, didasarkan pada peminatan masyarakat yang cukup tinggi terhadap produk tersebut.

3.3.2. Preparasi Sampel

a. Pembuatan larutan standar sibutramin HCl

Sebanyak 50,0 mg standar sibutramin HCl ditimbang, dan dimasukan kedalam labu ukur 100,0 mL, dilarutkan dengan fase gerak yang digunakan sampai tanda batas, di kocok hingga homogen (500 µg/mL). Setelah itu dibuat larutan sibutramin HCl dengan konsentrasi 50,60,70,80, dan 90 µg/mL.

b. Pembuatan fase gerak

Sebanyak 700 mL metanol dan 300 mL buffer (asam format 0.05%, pH adj 3.5 dengan ammonia), dimasukkan kedalam labu ukur 1000 mL. Dikocok hingga homogen dengan menggunakan incubator shaker selama 30 menit, lalu disaring fase gerak dengan filter eluen.

28

3.3.3. Validasi Metode

a. Pembuatan kondisi analisis optimum

Kondisi analisis yang digunakan pada saat percobaan, yaitu fase gerak (metanol:buffer) dengan perbandingan (70:30); (60:40); (50:50); (45:65), Volume injeksi 10 µL;20 µL; 40 µL dan 50 µL, panjang gelombang 225 nm dan 254 nm.

b. Uji Kesesuaian Sistem

Larutan standar sibutramin HCl dengan konsentrasi 40 µg/mL disuntikkan ke dalam KCKT, lalu di hitung jumlah teoritical plate dan efesiensi kolom.

c. Pembutan kurva kalibrasi

Larutan standar 50;60;70;80;dan90 µg/mL masing-masing diinjekkan sebanyak 10 µL kedalam KCKT pada kondisi terpilih. Luas puncak yang diperoleh dicatat, dan dibuat kurva antara luas puncak dengan konsentrasi larutan.

d. Pengujian batas deteksi dan batas kuantitasi

Batas deteksi dan batas kuantitasi dihitung secara statistik melalui garis regresi linier dari kurva kalibrasi.

e. Uji keterulangan (presisi)

Larutan standar 50; dan 70 µg/mL disuntikkan sebanyak 10 µL kedalam KCKT pada kondisi terpilih, diulang sebanyak 5 kali, kemudian dicatat luas puncaknya dan dihitung koefisien variasinya.

29 f. Uji perolehan kembali (akurasi)

Sebanyak 5 mg standar sibutramin HCl ditimbang, dan ditambahkan sampel jamu antiobesitas dari tanaman jati belanda (Guazumae Folium) sebanyak 1 gram. Kemudian dilarutkan dalam 100 mL metanol,dikocok dengan stirrerselama 30 menit kemudian saring dengan penyaring whatmann, ambil filtrat kemudian di oven pada suhu 400C hingga metanol menguap kemudian di larutkan dengan fase gerak sebanyak 2 mL dan di sentifugasi pada kecepatan 5000 RPM selama 15 menit, saring dengan penyaring nylon 0,45 µm, dimasukkan kedalam vial2 mL. Sampel disuntikkan sebanyak 10 µL kedalam KCKT. Perlakuan yang sama dilakukan terhadap sampel tanpa standar sibutramin HCl. Kemudian di catat luas puncaknya. Dari data tersebut yaitu sampel dengan sibutramin HCl dan sampel tanpa sibutramin HCl ditentukan persen perolehan kembali(% UPK).

3.3.4. Penetapan kadar sibutramin HCl dalam Sampel

Sampel jamu antiobesitas ditimbang sebanyak 1 gram, kemudian dilarutkan dalam 100 mL metanol, dikocok dengan stirer selama 30 menit kemudian saring dengan penyaring whatmann, ambil filtrat kemudian di oven pada suhu 400C hingga metanol menguap kemudian di larutkan dengan fase gerak sebanyak 2 mL dan di sentifugasi pada kecepatan 5000 RPM selama 15 menit, saring dengan penyaring nylon 0,45 µm, dimasukkan kedalam vial 2 mL. Sampel

30

disuntikkan sebanyak 10 µL kedalam KCKT. Percobaan di ulang sebanyak 3 kali. Kadar sibutramin HCl di hitung dengan menggunakan persamaan regresi yang diperoleh dari kurva kalibrasi.

31

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL

4.1.1 Hasil Uji Efisiensi Kolom

Jumlah teoritical plate yang diperoleh 2798, efesiensi kolom yang diperoleh 0,0053 cm dan persen area yang diperoleh 100%.

Tabel 3. Uji efisiensi kolom pada sibutramin HCl

No Rt Peak name Height Area Rel.Area Amount Plates HETP

% Ppm (USP)

1. 4.47 sibutramin 39,644 10,179 100 40 2798 0,0053

Spesifikasi Kolom : Acclaim ® C-18; 3 µm; 4.6 x 150 mm Detektor : UV-VIS, λ = 225 nm

Fase gerak : Metanol-Buffer (asam format 0.05%, pH adj 3.5 dengan ammonia) (70:30)

Laju alir : 1,0 mL/menit Volume injeksi : 10 µL

32

4.1.2 Hasil Uji Perolehan Kembali (UPK) / Recovery Kadar Sibutramin

HCl dengan Alat KCKT

Tabel 4. Uji UPK / Recovery Sibutramin HCl dengan alat KCKT

No Kadar Sibutramin HCl 40 50 70 1 10,3047 9,6093 14,0015 2 10,1778 9,5556 14,2255 3 10,1777 9,6093 14,3416 4 10,3048 9,5699 14,0096 5 10,1778 9,5618 14,3681 rata-rata 10,2286 9,57956 14,1893 SD 0,38% 0,27% 1,24% UPK 101,57% 99,42% 100,75%

4.1.3 Hasil Penetapan Kurva Kalibrasi

Hasil linieritas diperoleh dengan membuat kurva kalibrasi. Kurva kalibrasi dibuat dari larutan standar konsentrasi 50; 60; 70; 80; dan 90 µg/mL.

Tabel. 5 Hasil kurva kalibrasi Sibutramin HCl

Konsentrasi (µg/mL) Luas Area

50 9.609

60 11.9606

70 13.9939

80 16.2735

33

Persamaan garis : Y = - 1.42039 + 0.221305X Koefisien korelasi : R = 0.9998

Gambar. 3 Kurva kalibrasi larutan standar sibutramin HCl

y = -1,42039 + 0,2213050 R² = 0,9998 9.0000 11.0000 13.0000 15.0000 17.0000 19.0000 50 70 90 110

Dokumen terkait