BAB I : PENDAHULUAN
F. Kerangka Teori dan Konsep
1. Kerangka Teori
Kerangka teoritis diperlukan dalam penelitian ini sebagaimana dikemukaan oleh Ronny H. Soemitro bahwa :
Untuk memberikan landasan yang mantap pada umumnya setiap penelitian haruslah disertai dengan pemikiran-pemikiran teoritis. Teori memberi penempatan kedudukan yang penting untuk merangkum dan memahami masalah secara baik-baik. Hal-hal yang semula tampak tersebar dan berdiri sendiri bisa disatukan dan ditunjuk kaitanya satu sama lain secara bermakna.
Teori ini memberikan penjelasan melalui cara mengorganisasikan dan mensistemasikan masalah yang dibicarakan.14
Kerangka teori merupakan landasan teori atau dukungan teori dalam membangun atau memperkuat kebenaran dari permasalahan yang dianalisis. Uraian teori yang dimaksud adalah uraian pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, skripsi sebagai pegangan baik disetujui atau tidak disetujui.15
14Ronny H. Soemitro, Metode Penelitian Hukum,(Jakarta: Penerbit Ghalia,1982), hal 37
15M.Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Bandung, Mandar Maju, 1994, hal 80
Teori berguna untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi dan satu teori harus diuji dengan menghadapkan fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidak benaran. Kontiunitas dan imajinitas sosial sangat ditentukan oleh teori.16 Teori sebagai perangkat proposisi yang terintregrasi secara sintaksis yaitu mengikuti aturan tertentu yang dapat dihubungkan secara logis satu dengan lainnya dengan tata dasar yang dapat diamati dan berfungsi sebagai wahana untuk meramalkan dan menjelaskan fenomena yang diamati.17
Fungsi teori dalam penelitian ini adalah untuk memberikan arahan atau petunjuk dan meramalkan serta menjelaskan gejala yang diamati dan dikarenakan penelitian ini merupakan penelitian normatif, maka uraian teori diarahkan secara khas ilmu Hukum. Untuk mengkaji penelitian ini maka peneliti mengunakan beberapa teori dalam penelitian ini yaitu
A.Teori Organ
Teori organ mengakui dalam badan hukum terdapat orang di samping anggotanya, orang tersebut mempunyai kecakapan untuk bertindak dan juga memiliki kehendaknya sendiri. Kehendak tersebut dibentuk dalam otak para anggota, akan tetapi karena para anggota tersebut pada waktu membentuk dan mengutarakan kehendaknya bertindak selaku organ, yakni sebagai bagian dari organisme yang
16Soerjono Sukanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI, 1986), hal 6
17Snelbecker, dalam Lexy J. Moleong, Metodologi penelitian Kuantitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hal 34 sampai 35
berwujud orang, maka kehendak tersebut juga merupakan kehendak dari badan hukum.18
Hoge Raad menganut teori organ dan menjadikan teori ini sebagai yurisprudensi tetap karena menurut teori ini badan hukum dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan pasal 1365 KUH Perdata, yakni bilamana organnya melakukan perbuatan melawan hukum. Bilamana suatu badan hukum dianggap sebagai benar-benar orang yang mempunyai wewenang untuk bertindak, dengan memiliki kehendaknya sendiri, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa badan hukum tersebut harus pula dapat dianggap memenuhi unsur kesalahan dalam melakukan perbuatan melawan hukum. Tidak semua perbuatan organ dapat dipertanggung jawabkan kepada badan hukum, harus ada hubungan antara perbuatan dengan lingkungan kerja dari organ. Organ tersebut telah melakukan perbuatannya dalam lingkungan formil dari wewenangnya. Jika organ badan hukum bertindak untuk memenuhi tugas yang dibebankan kepadanya dan tindakan tersebut melawan hukum maka perbuatan melawan hukum oleh organ tersebut dianggap sebagai perbuatan melawan hukum dari badan hukum.19
Dalam membicarakan persoalan tentang organ perlu kiranya dikemukakan perihal wakil. Vollmar mengadakan perbedaan antara organ dan wakil. Organ menurut Vollmar adalah merupakan wakil yang bertindak untuk badan hukumnya. Di samping wakil sebagai organ tersebut menurut Vollmar adapula wakil yang bertindak
18 M.A. Moegni Djojodirdjo, Perbuatan Melawan Hukum, cet.2,(Jakarta: Pradnya Paramita : 1982), hal 175.
19 Ibid,hal.176
tidak sebagai organ. Adapun mengenai organ tersebutdapat dibedakan antara organ bukan sebagai bawahan dan organ sebagai bawahan. 20
Vollmar memberikan perumusan tentang organ sebagai berikut: “organ adalah wakil yang fungsinya mempunyai sifat yang berdiri sendiri,yakni dalam arti bahwa cara mereka harus menjalankan tugasnya dan cara mereka harus mewakili badan hukum sepenuhnya adalah diserahkan pada mereka sendiri,sekalipun pelaksanaannya harus dilakukannya dalam batas-batas yang ditentukan oleh undang-undang, atau peraturan dan sebagainya”.21
Dengan demikian dalam kebanyakan hal badan hukum sendiri telah melakukan perbuatan melawan hukum dan pertanggungjawabannya secara langsung adalah berdasarkan pasal 1365 KUH Perdata dan bukannya berdasarkan pasal 1367 KUH Perdata. Jika perbuatan melawan hukumnya dilakukan oleh seseorang bawahan maka badan hukum harus bertanggung jawab berdasarkan pasal 1367 KUH Perdata.
Sebagai pedoman, diberikan oleh pasal 1865 KUH Perdata bahwa: “Setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai sesuatu hak, atau, guna meneguhkan haknya sendiri maupun membantah suatu hak orang lain, menunjuk pada suatu peristiwa, diwajibkan membuktikan adanya hak atau peristiwa tersebut”.
Teori organ dipandang tepat digunakan dalam penelitian ini dengan pertimbangan sebagai berikut:
a. Untuk melihat dan menganalisa fungsi organ dalam perseroan terbatas, dikaitkan dengan peran pemegang saham pengendali dalam perusahaan perasuransian;
20 Ibid,hal.176
21 Ibid, hal. 177-178.
b. Untuk melihat apakah peranan pemegang saham pengendali dimungkinkan diluar organ perseroan terbatas yang sudah ditentukan oleh undang-undang;
c. Untuk melihat apakah pertanggung jawaban badan hukum atas kerugian perseroan dalam perusahaan perasuransian, serta merta dapat dilimpahkan kepada pemegang saham pengendali.
B. Teori Pertanggung Jawaban
Teori pertanggungjawaban terhadap subjek hukum dalam hal ini dibedakan antara tanggung jawab badan hukum dan tanggung jawab individu. Menggunakan kedua teori pertanggungjawaban ini dimaksudkan bilamana kesalahan pengelolaan perseroan yang mengakibatkan perseroan menjadi pailit dan terutang pajak berkaitan dengan pengurusan badan hukum, atau kesalahan itu mungkin disebabkan karena faktor individu dari para pengurus / organ maupun pemegang saham.
Dengan prinsip tanggung jawab terbatas, maka perseroan sebagai badan hukum merupakan unit hukum (legal unit) dengan kewenangan dan kapasitas terpisah dari pemegang saham untuk mengusai kekayaan (property), membuat kontrak, menggugat dan digugat, melanjutkan eksistensi meskipun pemegang saham berubah dan direksi berhenti atau diganti. Oleh karena itu, harta kekayaan, hak kepentingan, serta tanggung jawab perseroan terpisah dari pemegang saham dan selanjutnya pemegang saham menurut hukum mempunyai imunitas (immunity) dari kewajiban dan tanggung jawab perseroan, karena antara pemegang saham dengan perseroan terdapat
perbedaan (dinstinction) dan pemisahan (separation) personalitas hukum (legal personality).22
Namun keterbatasan tanggung jawab dalam perseroan terbatas tidak berlaku mutlak, dalam hal-hal tertentu tanggung jawab terbatas ini dapat diterobos.
Penerobosan atau penyingkapan tanggung jawab terbatas dalam perseroan terbatas dikenal dengan istilah Piercing The Corporate Veil. Dengan demikian maka dapat diartikan bahwa piercing the corporate veil atau menyingkap tabir perseroan terbatas adalah suatu proses hukum yang mengenakan tanggung jawab pribadi kepada pegawai perusahaan, direksi atau pemegang saham perseroan dalam hal terjadinya pelanggaran oleh perseroan.
Menurut Walter Woon, ada 2 hal penting dalam sistem hukum common law yang menjadi dasar penyingkapan cadar tanggung jawab terbatas perseroan terbatas (lifting the veil of incorporatioan), penerobosan cadar pertanggung jawaban terbatas perseroan terbatas dalam sistem Common Law adalah pertama, jika perseroan pada kenyataannya bukan entitas yang terpisah dari pemiliknya, hal ini membutuhkan pembuktian lebih lanjut, jika bukti yang ada tidak dapat membuktikan bahwa perseroan dijalankan untuk kepentingan pemilik perseroan maka tanggung jawab terbatas perseroan terbatas tetap berlaku, akan tetapi sebaliknya jika dapat dibuktikan bahwa perseroan pada kenyataannya tidak dapat dipisahkan dari pemilik perseroan, maka pengadilan dalam hal tertentu dapat menerobos cadar pertanggungjawaban
22 Daniswara K.Harjono, Tanggung Jawab Pemegang Saham,Direksi,& Komisaris Perseroan Terbatas,(Depok,PT.Raja Grafindo Persada,2010),hal 222
terbatas dalam perseroan terbatas, yang kedua adalah jika perseroan telah disalahgunakan tidak lagi sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan.23
Menurut David L. Cohen, ada beberapa keadaan yang dapat digunakan oleh Pengadilan untuk menerapkan doktrin piercing the corporate veil. Keadaan itu tersebut antara lain 24:
1. apakah pemegang saham perseroan gagal dalam memenuhi formalitas pendirian perseroan yang diatur oleh Undang-Undang;
2. apakah salah satu anggota pemegang saham mengelola perseroan tanpa berkonsultasi dengan pemegang saham yang lain;
3. apakah pemegang saham atau direksi gagal dalam menjaga dana dan rekening perseroan agar terpisah dari dana rekening para pemegang saham;
4. apakah para pemegang saham gagal dalam memisahkan pembukuan dan laporan keuangan pribadi dengan pembukuan dan laporan keuangan perseroan;
5. apakah perseroan benar-benar tidak memiliki modal yang memadai pada saat pendirian sesuai dengan persyaratan permodalan yang diwajibkan bagi suatu perseroan;
6. apakah pemegang saham gagal dalam menjalankan bisnis perseroan sebagai badan hukum yang terpisah;
23 Walter Woon,Company Law, Singapore:Sweet & Mawel,2009,hal 62
24 Ridwan Khairandy, Perseroan Terbatas,Doktrin,Peraturan Perundang-Undangan,dan Yurisprudensi,(Yokyakarta:Total Media,2009), hal 4
7. apakah pemegang saham dalam membuat keputusan perseroan merebut kewenangan direksi, jika anggaran dasar menentukan keputusan perseroan hanya dapat dibuat oleh direksi;
8. apakah manajer perseroan terdiri atas direksi, pejabat, atau manajer dari badan hukum yang lain, jika perseroan dimiliki oleh badan hukum yang lain; dan
9. apakah pemegang saham gagal menghormati prinsip keterpisahan`badan hukum perseroan. Misalnya menggunakan utang yang diperoleh perseroan untuk melunasi utang anggota perseroannya, membagikan penerimaan perseroan kepada anggota melalui sarana yang tidak sah,
atau anggota perseroan menggunakan kekayaan perseroan untuk kepentingan pribadinya.
Menurut Ridwan Khairandy, di dalam sistem common law, ada 4 (empat) teori dasar untuk menentukan piercing the corporate veil, yaitu :25
1. penipuan (fraud);
2. alter ego atau mere instrumentally;
3. entitas perusahaan;
4. agensi.
25 Ibid,hal 269
Dalam teori alter ego atau mere intrumentally mengajarkan bahwa pemegang saham akan dikenakan tanggung jawab tidak terbatas jika ada penyatuan keuntungan pemegang saham dan perusahaan atau tidak ada pemisahan kekayaan antara pemegang saham dan entitas perusahaan. Pengadilan berpendapat bahwa ketika pemegang saham gagal untuk menjaga atau menunjukkan ketidakhormatan pada kekhususan badan hukum, maka pemegang saham tidak akan mendapat keuntungan yang dapat diperolehnya dari pemisahan hukum entitas yaitu adanya tanggung jawab terbatas.26
Dalam Blacks’s Law Dictionary, Alter Ego diartikan sebagai “a corporation used by individual in conducting personal business, the result being that a court may impose liability on the individual by piercing the corporate veil when fraud has been perpetrated on someone dealing with the corporation”.27
Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa alter ego merupakan suatu doktrin yang menyatakan bahwa dalam hal perseroan digunakan untuk kepentingan pribadi,
26Ibid,hal 270
27 Bandingkan dengan pendapat Walkovsky, sebagai dikutip Gunawan Wijaya, yang menyatakan teori walkkovsky tentang alter ego memperlakukan konsep tanggung jawab terbatas sebagai pelaksanaan dari prinsip atau teori agency . Dalam pandangan Walkovsky hubungan hukum yang ada antara anggota direksi yang melakukan pengurusan terhadap perseroan dengan perseroan itu sendiri adalah hubungan pemberian kuasa
Lebih lanjut Wolkovsky, perseroan terbatas sebagai badan hukum memiliki alter ego tersendiri, dan karenanya setiap tindakan perseroan terbatas adalah tindakan alter ego dari perseroan itu sendiri.Dalam hal pemegang saham ikut campur, baik langsung maupun tidak langasung sedemikian rupa sehingga tindakan perseroan merupaka tindakan yang merupakan alter ego pemegang saham , maka perseroan selanjutnya menjadi agen atau pemegang kuasa dari pemegang saham. Dalam konteks yang demikian berarti yang bertanggung jawab atas tindakan perseroan yang merupakan alter ego pemegang saham adalah pemegang saham. Dengan Demikian berarti sifat pertanggung jawaban terbatas pemegang saham menjadi hapus dan menjadi tidak berlaku.Gunawan Wijaya, Resiko Hukum Pemilik, Direksi Dan Komisaris PT,(Jakarta : Forum Sahabat, 2008), hal .23
maka pengadilan dapat memberlakukan tanggung jawab pribadi dengan mengabaikan sifat tanggung jawab terbatas dari perseroan terbatas Perseroan.
Pertanggungjawaban badan hukum
Berbicara mengenai pertanggungjawaban badan bukum berarti membicarakan soal pertanggungjawaban organ-organ dalam badan hukum. Ada beberapa teori tentang badan hukum yaitu teori fiksi, teori organ, teori kekayaan bersama, teori kekayaan bertujuan, teori realitas, dan teori kenyataan yuridis, dan sebagainya.28
Teori tertua tentang tanggung jawab badan hukum adalah teori fiksi yang diajarkan oleh Friedrich Carl von Savigny (1779-1861). Menurut teori fiksi badan hukum dianggap sebagai manusia fiktif. Sekiranya suatu badan diakui dapat melakukan perbuatan hukum, maka tidak lain disebabkan karena badan itu dipandang sebagai manusia buatan, atau manusia fiktif29, tetapi yang dapat melakukan perbuatan hukum hanyalah manusia.30
Teori fiksi untuk perseroan menurut M. Yahya Harahap sebagai teori entitas (entity theory) atau teori agregat (aggregate theory), atau teori simbol (symbol theory), teori fiat (fiat theory), atau teori konsensus (consensus theory), atau teori pengesahan Pemerintah (government paternity theory). Dari banyak sinonim teori ini menunjukkan pandangan M. Yahya Harahap sepertinya telah melakukan kombinasi dari berbagai teori.31
28 Chidir Ali,Badan Hukum, (Bandung : Alumni,1991),hal.29.
29Abdul Muis,Hukum Persekutuan dan Perseroan, (Medan: Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara),2006,hal.12.
30C.S.T. Kansil, dan Cristine S.T. Kansil, Modul Hukum Dagang,(Jakarta;
Jambatan,2001),hal.11.
31 M. Yahya Harahap, Hukum Perseroan Terbatas, (Jakarta; Sinar Grafika,2009),hal.54.
Makna badan hukum menurut M. Yahya Harahap merupakan organisme atau kumpulan orang-orang (teori agregat), yang memiliki identitas hukum yang terpisah dari anggotanya atau pemiliknya, badan hukum bersifat fiktif buatan manusia (teori fiksi dan teori simbol), kelahirannya semata-mata melalui persetujuan Pemerintah (teori konsensus, teori fiat, dan teori pengesahan).32
Teori teori realitas atau teori organ mendasarkan diri pada kehidupan realitas masyarakat, di samping manusia perorangan, kadang-kadang terbentuk persekutuan (organ) yang pada suatu taraf membentuk kolektivitasnya dengan kuat sehingga menjadi lebih mandiri dan mempunyai kehendak sendiri. Ini dikemukakan oleh Otto van Gierke (1841-1921) dan menentang teori fiksi. Teori organ dari Otto van Gierke membantah teori fiksi, menurutnya badan hukum itu suatu kenyataan yang ada di dalam masyarakat.33 Badan hukum bukanlah sesuatu yang fiksi tetapi merupakan makhluk yang sungguh-sungguh ada secara abstrak dari konstruksi yuridis.34
Teori realitas menurut M. Yahya Harahap disebutnya sebagai teori inheren (inherence theory). Perseroan sebagai grup melakukan aktifitas dengan “hukum terpisah” dari kegiatan dan aktifitas individu kelompok yang terlibat dalam perseroan, jumlah orang terpisah. Orang pribadi terikat bersama-sama dalam kegiatan perseroan saling inheren, memiliki personalitas hukum yang berbeda dan terpisah dari kepribadian personnya, membolehkan tanggung jawab terbatas hanya sebatas harta kekayaan, menggungat dan digugat atas nama perseroan yang diwakili oleh direksi.35
32Ibid.,hal.55.
33Abdul Muis,Op. cit.,hal.13.
34C.S.T. Kansil, dan Cristine S.T. Kansil,Op.cit.,hal.12.
35 M. Yahya Harahap,Op.cit.,hal.55.
Teori harta kekayaan bersama dikemukan oleh Rudolf von Jehring (1818-1892) menganggap badan hukum sebagai kumpulan manusia, kepentingan badan hukum adalah kepentingan seluruh anggotanya. Hakikat hak dan kewajiban badan hukum adalah hak dan kewajiban anggota bersama-sama. Hak kekayaan badan hukum milik bersama seluruh anggota,36 untuk melayani kepentingan bersama.37
Teori tujuan harta kekayaan pada suatu ketika menurut kenyataan di dalam masyarakat akan ditemukan adanya kumpulan dari suatu harta kekayaan untuk suatu tujuan tertentu, dan harta kekayaan terpisah dari kepemilikan manusia yang ada didalamnya,38 dan tidak dapat dibagi-bagi bersama-sama oleh para anggotanya.39
Teori teori badan hukum dalam makna yuridis dikemukan oleh Molengraaff yang dikuatkan pula oleh Tirtodiningrat mendasarkan pada teori fiksi karena badan hukum menurutnya bersifat kiasan dan dari suatu alat bantu terminologi dapat menunjukkan suatu perbuatan tertentu, suatu akibat tertentu, sehingga tindakannya diakui dalam lalu lintas hukum. Kontruksi ini mengandung kontruksi yuridis, sebab badan hukum itu baru dapat diakui secara sah bilamana telah disahkan atau diberi izin oleh Pemerintah.40 M. Yahya Harahap menambahkan teori kontrak (contract theory) menganggap badan hukum merupakan kontrak antara anggota-anggotanya pada satu segi, dan antara pemegang saham dengan Pemerintah di segi lain.41
Karakter yang menjadi syarat badan hukum adalah: adanya harta kekayaan yang terpisah dari para pendirinya, mempunyai tujuan tertentu, mempunyai
36 Chidir Ali, Op.cit.,hal.34.
37 C.S.T. Kansil, dan Cristine S.T. Kansil,Loc.cit.,
38 Abdul Muis,Op. cit.,hal.14.
39 C.S.T. Kansil, dan Cristine S.T. Kansil,Loc.cit.,
40 Abdul Muis,Op. cit.,hal.15.
41 M. Yahya Harahap,Op.cit.,hal.56.
kepentingan tersendiri, dan adanya organisasi yang teratur.42 Pemisahan harta kekayaan perseroan dari para pemegang sahamnya menunjukkan perseroan sebagai entitas yang mandiri, artinya dengan adanya direksi menjadi wakil yang bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan, dan pemegang saham (pendiri atau pemilik) dilarang mengintervensi kebijakan direksi tanpa melalui RUPS.43 Sesuai ketentuan Pasal 3 ayat (1) UUPT yang mempertegas ciri perseroan sebagai badan hukum adalah bagi pemegang saham hanya bertanggung jawab sebesar setoran atas seluruh saham yang dimilikinya dan tidak meliputi harta kekayaan para pribadinya.
Pertanggungjawaban pribadi
Pertanggungjawaban pribadi menyangkut pertanggungjawaban subjek hukum pribadi sebagai manusia (persoon), dan bila dikaitkan dengan pertanggungjawaban badan hukum berarti secara pribadi-pribadi, subjek hukum manusia di dalam badan hukum tersebut harus bertanggung jawab di luar tanggung jawab badan hukum.
Teori tanggung jawab individu dan kolektif menurut Hans Kelsen mengatakan seseorang individu bertanggung jawab atas pelanggarannya sendiri bilamana individu yang diwajibkan bertanggung jawab melakukan pelanggaran secara langsung (tanggung jawab individu) dan kolektif44, baik secara perdata (Pasal 1365 KUH Perdata)45 maupun secara pidana yang dikenal dengan pertanggungjawaban pidana.46
42 Chidir Ali, Op.cit.,hal.97.
43Erman Rajagukguk, Butir-Butir Hukum Ekonomi, (Jakarta:Lembaga Studi Hukum dan Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Indonesia,2011),hal.116.
44Hans Kelsen, Pure Theory of Law, (USA;Berkely University of California Press,1978, diterjemahkan oleh Raisul Muttaqien, Teori Hukum murni Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif, (Bandung: Nusa Media,2008),hal.136.
45 M. Yahya Harahap,Op.cit.,hal.122.
Selain itu seorang individu juga bertanggung jawab atas pelanggaran yang dilakukan orang lain secara kolektif.
Tanggung jawab individu dan kolektif menurut Hans Kelsen tersebut juga dikenal dalam sistim hukum positif di Indonesia. Pertanggungjawaban individual maupun kolektif bukan saja berlaku dalam aspek hukum pidana, namun juga berlaku dalam lapangan hukum perdata atas suatu pelanggaran orang lain bilamana sanksinya memiliki karakter eksekusi perdata.
Jika pertanggungjawaban atas tidak dipenuhinya kewajiban hukum ditetapkan dengan ekesekusi perdata atas suatu kekayaan maka ada dua kemungkinan yang mesti dibedakan: pertama kekayaan yang menjadi target eksekusi perdata merupakan kekayaan dari individu yang menjadi sasaran tindakan paksa, kedua kekayaan itu merupakan kekayaan orang lain yang mana individu itu sanggup menyerahkannya.47
Berdasarkan teori tanggung jawab individu dan kolektif ini dapat diambil suatu pemahaman terkait dengan tanggung jawab pemegang saham dalam kaitannya dengan pelanggaran terhadap Pasal 3 ayat (2) UUPT. Pemegang saham secara individu dapat dipertanggungjawabkan di luar tanggung jawab perseroan sebagai badan hukum bilamana beritikad buruk memanfaatkan perseroan untuk kepentingan pribadinya sendiri, atau pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam PMH yang dilakukan oleh perseroan, atau pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung secara melawan hukum menggunakan kekayaan
46 EY.Kanter, dan SR.Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, (Jakarta;StoriaGrafika,2002),hal.250.
47 Ibid., hal.336. Pertanggungjawaban kolektif dalam hukum pidana Indonesia dikenal dengan istilah delik penyertaan (deelneming, vide: Pasal 55 s/d 60 KUHP). Dalam hukum pertanggungjawaban pidana perseroan dikenal dengan vicarious liability yang didasarkan pada pasal 1367 KUHPerdata dalam bentuk tanggung jawab atas perbuatan kesalahan orang lain.
perseroan, yang mengakibatkan kekayaan perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi utang perseroan.
Teori pertanggungjawaban dipandang tepat digunakan dalam penelitian ini dengan pertimbangan sebagai berikut:
a. Sebagai dasar untuk menganalisa batasan- batasan pertanggungjawaban pemegang saham pengendali atas kerugian perseroan yang berada dalam pengendaliannya;
b. Untuk melihat apakah setiap perbuatan organ perseroan yang menimbulkan kerugian, serta merta menjadi tanggungjawab pemegang saham pengendali dalam perusahaan perasuransian.
2. Kerangka Konsep
Kerangka konsep merupakan alat yang dipakai oleh hukum disamping yang lain –lain , seperti asas dan standart. Oleh karena itu kebutuhan untuk membentuk konsep merupakan salah satu dari hal –hal yang dirasakan pentingnya dalam hukum.
Konsep adalah suatu kontruksi mental, yaitu sesuatu yang dihasilkan oleh suatu proses yang berjalan dalam suatu proses yang berjalan dalam pikiran penelitian untuk keperluan analitis.48 kerangka konsepsional mengungkapkan beberapa konsepsi atau pengertian yang akan dipergunakan sebagai dasar penelitian hukum.49
Konsep merupakan salah satu bagian penting dari sebuah teori dalam suatu penelitian. Konsepsi dapat sebagai usaha membawa sesuatu dari abstrak menjadi
48 Satjipto Raharjo, Konsep Ilmu Hukum, (Bandung; Citra Adithya Bakti, 1996), hal. 397.
49 Soerjono Soekanto dan Sri mamuji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta; Raja Grafindo Persada, 1995), hal. 7
sesuatu yang konkret, yang disebut sebagai defenisi operasional. Defenisi operasional adalah untuk menghindarkan perbedaan pengertian atau penafsiran mendua (dubius) dari suatu istilah yang dipakai. Bertitik tolak dari kerangka teori sebagaimana disebut diatas, berikut disusun kerangka konsep yang dapat dijadikan sebagai defenisi operasional, yaitu antara lain:
a. Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut Perseroan, adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta peraturan pelaksananya.50
b. Organ Perseroan adalah Rapat Umum Pemegang, Direksi, dan Dewan Komisaris.51
c. Tanggung jawab hukum adalah sesuatu akibat lebih lanjut dari pelaksanaan peranan, baik peranan itu merupakan hak dan kewajiban ataupun kekuasaan.
Secara umum tanggungjawab hukum diartikan sebagai kewajiban untuk
Secara umum tanggungjawab hukum diartikan sebagai kewajiban untuk