• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : KEDUDUKAN PEMEGANG SAHAM PENGENDALI

1. Pendirian

A. Bentuk Badan Hukum Perusahaan Perasuransian

Menurut R. Subekti pengertian badan hukum adalah suatu badan atau perkumpulan yang dapat memiliki hak-hak dan melakukan perbuatan seperti seorang manusia, serta memiliki kekayaan sendiri, dapat digugat, atau menggugat di depan hakim. Sedangkan menurut Rochmat Soemitro badan hukum ialah suatu badan yang dapat mempunyai harta, hak serta kewajiban seperti orang pribadi.79

Badan hukum memiliki beberapa bentuk, di antaranya adalah perseroan terbatas, koperasi, dan yayasan. Bentuk perusahaan perasuransian di Indonesia saat ini termuat dalam Pasal 6 ayat 1 UUP berbunyi “Bentuk badan hukum penyelenggara usaha perasuransian adalah : perseroan terbatas, koperasi, atau usaha bersama yang telah ada pada saat undang-undang ini diundangkan” dan usaha bersama tersebut dinyatakan sebagai badan hukum berdasarkan undang-undang dan ketentuan lebih lanjut mengenai badan hukum usaha bersama diatur dalam peraturan pemerintah.

Perusahaan perasuransian paling banyak ditemukan di Indonesia adalah berbentuk perseroan terbatas, seperti PT. Asuransi Jiwasraya, PT. Asuransi ABRI (ASABRI), PT. Asuransi Ekspor Indonesia (ASEI), PT. Asuransi Jasa Indonesia (JASINDO), PT.

Asuransi Jasa Raharja, PT. Askrindo, PT. Reasuransi Umum Indonesia (RUI), PT.

Taspen (Persero).

Pihak yang bermaksud menyelenggarakan usaha asuransi berbentuk badan hukum usaha bersama baru didorong untuk menjadi berbentuk koperasi dengan

79 www.jurnalhukum.com/pengertian-badan-hukum/diakses pada tanggal 21 Agustus 2017 pukul 10:17 WIB

pertimbangan kejelasan tata kelola dan prinsip usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan dan wajib menyesuaikan dengan ketentuan dalam undang-undang paling lama tiga tahun. 80 Permasalahan yang terjadi kepada perusahaan asuransi yang berbentuk badan hukum usaha bersama pernah terjadi terhadap Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912. Hal ini dikarenakan adanya putusan Mahkamah Konstitusi Nomor : 32/PUU-XI/2013, tanggal 03 April 2014 terhadap bentuk badan hukum usaha bersama di bidang perasuransian yang bertentangan dengan Pasal 28D (1) UUD 1945 yang menimbulkan perlakuan yang tidak sama di hadapan hukum karena perusahaan asuransi yang berbadan hukum perseroan dan koperasi telah memperoleh kepastian hukum dengan adanya undang-undang yang mengatur khusus untuk itu. 81

B. Perizinan usaha

Izin usaha merupakan suatu bentuk persetujuan atau pemberian izin dari pihak berwenang atas penyelenggaraan suatu kegiatan usaha oleh seorang pengusaha atau suatu perusahaan. Agar kegiatan usaha berjalan dengan lancar, maka setiap perusahaan wajib mengurus dan memiliki izin usaha dari instansi pemerintah yang sesuai dengan jenis bidang usahanya.

Perizinan usaha dalam mendirikan suatu perusahaan sangatlah penting sebab izin usaha yang diperoleh merupakan langkah awal dalam mendirikan suatu perusahaan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti cacat administrasi.

80 www.ojk.go.id siaran pers undang-undang perasuransian baru akan percepat perkembangan industry asuransi diakses pada tanggal 21 Agustus 2017 pukul 11:10 WIB

81 www.kompasiana.com/post/read/646109/1/badan-hukum-usaha-bersama-mutual-pasca-putusan-mahkamah-konstitusi.html diakses pada 21 Agustus 2017 pukul 11:20 WIB

Begitu juga dalam hal pendirian usaha perasuransian dimana proses untuk mendirikan usaha peransuransian tersebut memerlukan izin yang didapatkan dari OJK.

Persyaratan mengenai izin usaha perasuransian diatur dalam Peraturan Otoritan Jasa Keuangan (POJK) Nomor : 67/POJK.05/2016 tentang Perizinan Usaha dan kelembagaan perusahaan asuransi, perusahaan asuransi syariah, perusahaan re asuransi, dan perusahaan reasuransi syariah

Untuk memperoleh izin usaha Direksi harus mengajukan permohonan izin usaha kepada OJK.Pengajuan izin usaha harus dilampiri dokumen :82

a. Fotocopy akta pendirian badan hukum yang telah disahakan oleh instansi yang berwenang yang paling sedikit harus memuat:

1) Nama dan tempat kedudukan;

2) Maksud dan tujuan serta kegiatan usaha:

3) Permodakan;

4) Kepemilikan;dan

5) Wewenang dan tanggung jawab, dan masa jabatan anggota direksi dan anggota Dewan Komisaris,dan fotocopy akta perubahan anggaran dasar (jika ada)disertai dengan fotocopy bukti persetujuan dan / atau bukti surat penerimaan pemberitahuan dari instansi berwenang;

b. Susunan organisasi yang dilengkapi denagan uraian tugas, wewenang,tanggung jawab, dan prosedur kerja

82 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 67/2016 tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Perusahaan Asuransi, Perusahaan Asuransi Syariah, Perusahaan Reasuransi, dan Perusahaan Reasuransi Syariah, pasal 10

c. Fotocopy bukti pelunasan modal disetor dalam bentuk setoran tunai dan fotocopy bukti penempatan modal disetor minimum dalam bentuk deposito berjangka dan/atau rekening giro pada salah satu bank umum, bank umum syariah, atau unit usaha syariah dari bank umum di Indonesia dan dilegalisasi oleh bank penerima setoran yang masih berlaku selam dalam proses pengajuan izin usaha;

d. Laporan awal Dana Jaminan beserta bukti penempatan dana jaminan;

e. Daftar kepemilikan, berupa ;

1) Daftar pemegang saham berikut rincian besarnya masing-masing kepemilikan saham dan seluruh struktur kelompok usaha yang terkait perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi dan badan hukum pemilik perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi sampai dengan pemilik terakhir, bagi perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi berbentuk badan hukum perseroan terbatas;atau

2) Daftar anggota berikut jumlah simpanan pokok san simpanan wajib, bagi perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi berbentuk badan hukum koperasi;

f. Data pemegang saham atau anggota selain PSP:

1. Orang perseorangan,dilampiri dengan :

a) Fotocopy tanda pengenal berupa kartu tanda penduduk (KTP) atau paspor yang masih berlaku;

b) Fotocopy nomor pokok wajib pajak (NPWP);

c) Fotocopy surat pemberitahuan (SPT) pajak 2 (dua) tahun terakhir dan dokumen lain yang menunjukkan kemampuan keuangan serta sumber dana calon pemegang saham orang perseorangan;

d) Daftar riwayat hidup dengan dilengkapi pas foto berwarna yang terbaru berukuran 4x6 cm; dan

e) Surat pernyataan dari yang bersangkutan;

1) Setoran modal tidak berasal dari pinjaman;

2) Setoran modal tidak berasal dari kegiatan pencucian uang (money laundering) dan kejahatan keuangan;

3) Tidak memiliki kredit dan/atau pembiayaan macet;

4) Tidak termasuk sebagai pihak yang dilarang untuk menjadi pemegang saham atau pihak yang mengelola, mengawasi,dan/atau mempunyai pengaruh yang signifikan pada lembaga jasa keuangan;

5) Tidak pernah dihukum kearena melakukan tindak pidana dibidang jasa keuangan dan/atau perekonomian berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dalam 5 (lima) tahun terakhir;

6) Tidak pernah dihukum karena melakukan tindak pidana kejahatan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetapdalam 5 (lima) tahun terakhir;

7) Tidak pernah dinyatakan pailit atau bersalah yang menyebabkan suatu perusahaan dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan

yang telah mempunyai kekuatan hukum tetapdalam 5 (lima) tahun terakhir;dan

8) Tidak pernah menjadi PSP, anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, pengendali,atau anggota DPS pada perusahaan jasa keuangan yang dicabut ijin usahanya karena melakukan pelanggran dalam 5 (lima) tahun terakhir;

c) Permodalan 83

1. Perusahaan Asuransi harus memiliki Modal Disetor pada saat pendirian paling sedikit sebesar Rp150.000.000.000,00 (seratus lima puluh miliar rupiah).

2. Perusahaan Reasuransi harus memiliki Modal Disetor pada saat pendirian paling sedikit sebesar Rp300.000.000.000,00 (tiga ratus miliar rupiah).

3. Perusahaan Asuransi Syariah harus memiliki Modal Disetor pada saat pendirian paling sedikit sebesar Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah).

4. Perusahaan Reasuransi Syariah harus memiliki Modal Disetor pada saat pendirian paling sedikit sebesar Rp175.000.000.000,00 (seratus tujuh puluh limamiliar rupiah).

5. Modal disetor sebagaimana dimaksud pada ayat (1 dan ayat (2) wajib disetor secara tunai dan penuh dalam bentuk deposito berjangka dan/atau rekenin giro

83Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 67/2016 tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Perusahaan Asuransi, Perusahaan Asuransi Syariah, Perusahaan Reasuransi, dan Perusahaan Reasuransi Syariah, pasal 6

atas nama Perusahaan Asuransi Atau Perusahaan Reasuransi pada salah satu bank umum, bank umum syariah , atau unit usaha syariah dari bank umum di Indonesia

6. Modal Disetor sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) wajib disetor secara tunai dan penuh dalam bentuk deposito berjangka dan /atau rekenin giro atas nama Perusahaan Asuransi Syariah atau Perusahaan Reasuransi Syariah pada salah satu bank umum syariah atau unit usaha syariah dari bank umum di Indonesia

Pada saat pengajuan izin usaha, Perusahaan harus memiliki Dana Jaminan paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari Modal Disetor minimum yang dipersyaratkan.

Bagi Perusahaa Asuransi atau Perusahaan Reasuransi, Dana Jaminan hanya dapat ditempatkan dalam bentuk deposito berjangka dengan perpanjangan otomatis pada bank umum, bank umum syariah atau unit usaha syariah dari bank umum di Indonesia yang bukan afiliasi dari Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Reasuransi yang bersangkutan. Bagi Perusahaan Asuransi Syariah atau Perusahaan Reasuransi Syariah, Dana Jaminan hanya dapat ditempatkan dalam bentuk deposito berjangka dengan perpanjangan otomatis pada bank umum syariah atau unit usaha syariah dari bank umum di Indonesia yang bukan afiliasi dari Perusahaan Asuransi Syariah atau Perusahaan Reasuransi Syariah yang bersangkutan.

.d) Kepemilikan 84

Perusahaan hanya dapat dimiliki oleh:

a. warga negara Indonesia dan/atau badan hukum Indonesia yang secara langsung atau tidak langsung sepenuhnya dimiliki oleh warga negara Indonesia; atau

b. warga negara Indonesia dan/atau badan hukum Indonesia sebagaimana dimaksud dalam huruf a,bersama-sama dengan warga negara asing atau badan hukum asing yang harus merupakan Perusahaan yang memiliki usaha sejenis atau perusahaan induk yang salah satu anak perusahaannya bergerak di bidang Usaha perasuransian yang sejenis.

c. Warga negara asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dapat menjadi pemilik Perusahaan hanya melalui transaksi di bursa efek. Kriteria badan hukum asing dan kepemilikan badan hukum asing serta kepemilikan warga negara asing dalam Perusahaan berpedoman kepada peraturan pemerintah mengenai kepemilikan asing pada perusahaan perasuransian.

Pemberian persetujuan atau penolakan izin usaha dan/atau izin pembentukan Unit Syariah dilakukan paling lama 20 (duapuluh) hari kerja setelah dokumen pelaporan diterima secara lengkap .Dalam hal OJK menolak untuk menetapkan izin usaha,

84 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 67/2016 tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Perusahaan Asuransi, Perusahaan Asuransi Syariah, Perusahaan Reasuransi, dan Perusahaan Reasuransi Syariah, pasal 3

penolakan tersebut disertai dengan penjelasan secara tertulis. Sebelum persetujuan izin usaha Perusahaan dilarang menjalankan kegiatan Usaha Perasuransian.85

2. Kegiatan Usaha Perusahaan Asuransi

Kegiatan usaha perasuransian, khususnya usaha asuransi, merupakan jenis yang termasuk dalam kategori kegiatan usaha yang sangat diatur oleh pemerintah.

Hal ini dilakukan karena usaha asuransi sangat berkaitan dengan pengumpulan dana masyarakat. Usaha perasuransian ini telah diatur sejak tanggal 11 Februari 1992, yaitu melalui Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian, yang kemudian diganti dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tersebut pada dasarnya merupakan hukum publik yang mengatur kegiatan usaha perasuransian, sedangkan perjanjian yang timbul sehubungan dengan kontrak asuransi diatur tersendiri dalam kitab undang-undang hukum dagang (selanjutnya disebut KUHD) yang merupakan hukum privat.86

Asuransi membawa misi ekonomi sekaligus sosial dengan adanya premi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi dengan jaminan adanya transfer of risk, yaitu pengalihan (transfer) risiko dari tertanggung kepada penanggung. Asuransi sebagai mekanisme pemindahan risiko dimana individu atau bisnis memindahkan sebagian ketidakpastian sebagai imbalan pembayaran premi.

Pengertian risiko secara umum adalah kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan yang menimbulkan kerugian. Risiko dalam industri perasuransian

85 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 67/2016 tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Perusahaan Asuransi, Perusahaan Asuransi Syariah, Perusahaan Reasuransi, dan Perusahaan Reasuransi Syariah, pasal 68

86Julius Latumerisa, Op.cit.,hal.453

diartikan sebagai ketidakpastian dari kerugiaan keuangan atau kemungkinan terjadinya kerugian. Ketidakpastian dan peluang kerugian ini dapat disebabkan oleh berbagai macam hal seperti ketidakpastian ekonomis,ketidakpastian yang berkaitan dengan alam, ketidakpastian terjadinya perang, pembunuhan, pencurian, dan sebagainya.87 Dalam praktiknya risiko-risiko yang timbul dari setiap pemberian usaha pertanggungan adalah sebagai berikut. :

1. Risiko spekulatif

Risiko spekulatif adalah suatu keadaan yang dihadapi perusahaan yang dapat memberikan keuntungan dan juga dapat memberikan kerugiaan. Risiko spekulatif ini dikenal juga dengan risikobisnis (business risk). Seseorang yang menginvestasikan dananya di suatu tempat menghadapi dua kemungkinan, investasinya menguntungkan atau justru merugikan.88

2. Risiko murni

Risiko murni (pure risk) adalah sesuatu yang dapat berakibat merugikan atau tidak terjadi apa-apa dan tidak mungkin menguntungkan. Salah satu cara menghindari risiko murni adalah asuransi. Dengan demikian, besarnya kerugian dapat diminimalisasi karena dapat diasuransikan (insurable risk).89

3. Risiko individu

87 Sigit Triandaru dan Totok Budisantoso, , Bank Dan Lembaga Keuangan Lain (Jakarta:

Salemba Empat,Edisi Kedua,2006), hal. 183

88 Suswinarno, Mengantisipasi Risiko Dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah,(Jakarta:

Visimedia, 2013), hal.7.

89 Ibid, hlm. 8.

Risiko individu adalah risiko dalam kehidupan sehari-hari. Risiko individu ini dibagi dalam tiga macam yaitu :90

a. Risiko pribadi, yaitu risiko kemampuan seseorang untuk memperoleh keuntungan, akibat sesuatu hal seperti sakit, kehilangan pekerjaan atau mati.

b. Risiko harta, adalah risiko kehilangan harta apakah dicuri, hilang, rusak yang menyebabkan kerugian keuangan.

c. Risiko tanggung-gugat, yaitu risiko yang disebabkan apabila kita menanggung kerugian seseorang dan kita harus membayarnya. Contohnya kelalaian di jalan yang menyebabkan orang lain tertabrak dan harus mengganti kerugian tersebut.

Asuransi digolongkan dalam bentuk sebagai berikut : 1. Menurut sifat pelaksanaannya91

a. Asuransi sukarela

Pada prinsipnya pertanggungan dilakukan dengan cara sukarela, dan semata-mata dilakukan atas kesadaran seseorang akan kemungkinan terjadinya risiko kerugian atas sesuatu yang dipertanggungkan tersebut, misalnya : asuransi kebakaran, asuransi kecelakaan, asuransi kendaraan bermotor, dan sebagainya.

b. Asuransi wajib

Merupakan asuransi yang sifatnya wajib dilakukan oleh pihak-pihak terkait yang pelaksanaanya dilakukan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang ditetapkan oleh pemerintah, misalnya : asurasni tenaga kerja.

2. Menurut jenis usaha perasuransian

90 Kasmir, Op.cit.,hlm.266.

91 Sigit Triandaru dan Totok Budisantoso, Op.Cit.,hlm.179.

MenurutPasal 2 sampai Pasal 5 Undang-UndangNomor 40 Tahun 2014 Tentang Perasuransian, jenis usaha perasuransian dibagi menjadi beberapa jenis yaitu : a. Usaha asuransi

1) Usaha Asuransi Umum

Usaha Asuransi Umum adalah usaha jasa pertanggungan risiko yang memberikan penggantian kepada tertanggung atau pemegang polis karena kerugian, kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin diderita tertanggung atau pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti.

Perusahaan asuransi umum hanya dapat menyelenggarakan:92

a. Usaha Asuransi Umum, termasuk lini usaha asuransi kesehatan dan lini usaha asuransi kecelakaan diri; dan

b. Usaha Reasuransi untuk risiko Perusahaan Asuransi Umum lain.

2) Asuransi umum syariah

Menurut pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 disebutkan bahwa Asuransi Syariah adalah kumpulan perjanjian, yang terdiri atas perjanjian antara perusahaan asuransi syariah dan pemegang polis dan perjanjian di antara para pemegang polis, dalam rangka pengelolaan

92 Pasal 2 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 Tentang Perasuransian

kontribusi berdasarkan prinsip syariah93 guna saling menolong dan melindungi dengan cara:

a. Memberikan penggantian kepada peserta atau pemegang polis karena kerugian, kerusakan, biayayang timbul, kehilangan keuntungan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yangmungkin diderita peserta atau pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti;atau

b. Memberikan pembayaran yang didasarkan pada meninggalnya peserta atau pembayaran yangdidasarkan pada hidupnya peserta dengan manfaat yang besarnya telah ditetapkan dan/ataudidasarkan pada hasil pengelolaan dana.

Usaha Asuransi Umum Syariah adalah usaha pengelolaan risiko berdasarkan Prinsip Syariah guna saling menolong dan melindungi dengan memberikan penggantian kepada peserta atau pemegang pas karena kerugian, kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan, atau tanggung jawab hukum kepadapihak ketiga yang mungkin diderita peserta atau pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti. Perusahaan asuransi umum syariah hanya dapat menyelenggarakan:

a. Usaha Asuransi Umum Syariah, termasuk lini usaha asuransi kesehatan berdasarkan Prinsip Syariah dan lini usaha asuransi kecelakaan diri berdasarkan Prinsip Syariah; dan

93 Prinsip Syariah adalah prinsip hukum islam dalam kegiatan perasuransian berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah.

b. Usaha Reasuransi Syariah untuk risiko Perusahaan Asuransi Umum Syariah lain.94

3) Asuransi Jiwa95

Asuransi jiwa adalah suatu jasa yang diberikan oleh perusahaan asuransi dalam penanggulangan risiko yang dikaitkan dengan jiwa atau meninggalnya seorang yang dipertanggungkan. Pada prinsipnya manusia menghadapi risiko berkurang atau hilangnya produktivitas ekonomi yang diakibatkan oleh : kematian, mengalami cacat, pemutusan hubungan kerja, dan pengangguran. Asuransi jiwa memberikan :

a) Dukungan bagi pihak yang selamat dari suatu kecelakaan, b) Santunan bagi tertanggung yang meninggal,

c) Bantuan untuk menghindari kerugian yang disebabkan oleh meninggalnya orang kunci,

d) Penghimpunan dan untuk persiapan pensiun.

Ruang lingkup usaha asuransi jiwa dapat digolongkan menjadi tiga.

a) Asuransi jiwa biasa (ordinary life insurance),biasanya polis asuransi jiwa ini diterbitkan dalam suatu nilai tertentu dengan premi yang dibayar secara periodik (bulanan, triwulan, semesteran, dan tahunan).

94 Pasal 3 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014, Tentang Perasuransian

95 Ibid.

b) Asuransi jiwa kelompok (group life insurance), asuransi jiwa yang biasanya dikeluarkan tanpa ada pemeriksaan medis atas suatu kelompok orang di bawah satu polis induk dimana masing-masing anggota kelompok menerima sertifikat partisipasi.

c) Asuransi jiwa industrial (industrial life insurance), dalam jenis asuransi ini dibuat dengan jumlah nominal tertentu. Premi pada umumnya dibayar mingguan yang dibayarkan di rumah pemilik polis kepada agen yang disebut debit agent.

4) Asuransi jiwa syariah

Usaha Asuransi Jiwa Syariah adalah usaha pengelolaan risiko berdasarkan Prinsip Syariah guna saling menolong dan melindungi dengan memberikan pembayaran yang didasarkan pada meninggal atau hidupnya peserta, atau pembayaran lain kepada peserta atau pihak lain yang berhak pada waktu tertentu yang diatur dalam perjanjian, yang besarnya telah ditetapkan dan/atau didasarkan pada hasil pengelolaan dana. Perusahaan asuransi jiwa syariah hanya dapat menyelenggarakan Usaha Asuransi Jiwa Syariah termasuk lini usaha anuitas berdasarkan Prinsip Syariah, lini usaha asuransi kesehatan berdasarkanPrinsip Syariah, dan lini usaha asuransi kecelakaan diri berdasarkan Prinsip Syariah.

5) Reasuransi96

96 Ibid., hlm.185.

Reasuransi adalah pertanggungan ulang atau pertanggungan yang dipertanggungkan atau asuransi dari asuransi. Reasuransi adalah suatu sistem penyebaran risiko dimana penanggung meyebarkan seluruh atau sebagian dari pertanggungan yang ditutupnya kepada penanggung lain.

Pihak tertanggung biasa disebut ceding company dan yang menjadi penanggung adalah reasuradur. Dalam menjalankan usahanya ada kemuungkinan perusahaan asuransi menanggung risiko yang lebih besar dari kemampuan finansialnya. Untuk mengatasi kemungkinan kegagalan menanggung klaim dari tertanggung, perusahaan dapat membagi risiko dengan perusahaan lain. Penyebaran risiko tersebut dapat dilaksanakan dengan dua mekanisme, koasuransi dan reasuransi.

Koasuransi adalah pertanggungan yang dilakukan secara bersama atas suatu objek asuransi. Biasanya nilai pertanggungannya berjumlah besar sehingga perusahaan asuransi tersebut perlu menawarkan kepada beberapa perusahaan asuransi yang lain. Dalam kerja sama tersebut diperlukan perusahaan asuransi yang berperan sebagai pemimpin.

Setelah melakukan koasuransi, gabungan beberapa perusahaan asuransi tersebut dapat mempertimbangkan untuk melakukan reasuransi. Reasuransi adalah proses untuk mengasuransikan kembali pertanggungjawaban pada pihak tertanggung.

Fungsi reasuransi adalah :

a) Meningkatkan kapasitas akseptasi. Dengan melakukan reasuransi, penanggung akan dapat meningkatkan akseptasi sehingga

pemasukan asuransi tersebut dapat memperbesar jumlah nilai pertanggungan.

b) Alat penyebaran risiko. Penyebaran asuransi pada dasarnya tidak menghendaki pemusatan atau terkonsentrasinya pada suatu jenis risiko atau asuransi. Dengan adanya mekanisme penyebaran risiko ini maka akan tertanggulangi adanya kemungkinan kerugian dalam jumlah yang sangat besar yang tidak mungkin ditanggung sendiri.

c) Meningkatkan stabilitas usaha. Jumlah kerugian yang mungkin timbul karena adanya klaim dari tertanggung sangat sulit untuk diprediksikan secara tepat. Dengan penyebaran risiko ke perusahaan asuransi lain maka kekhawatiran akan adanya kegagalan usaha akan semakin kecil.

d) Meningkatkan kepercayaan. Reasuransi akan menambah kepercayaan bagi tertanggung karena kemungkinan risiko yang akan dialami mendapat jaminan dari perusahaan asuransi. Dengan melakukan pertanggungan ulang atas risiko yang ditutupnya akan memberi peluang perusahaan asuransi melakukan pengembangan bidang usahanya.

Usaha Reasuransi ini juga berlaku untuk usaha reasuransi syariah yang usaha pengelolaan risiko berdasarkan prinsip syariah atas risiko yang dihadapi oleh perusahaan asuransi syariah, perusahaan penjaminan syariah, atau perusahaan

reasuransi syariah lainnya danperusahaan reasuransi syariah hanya dapat menyelenggarakan usaha reasuransi syariah.

Reasuransi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Mekanisme untuk reasuransi antara lain :

a) Treaty dan facultative reinsurance

Mekanisme ini disebut juga automatic reinsurance. Dalam model ini, reasuradur memberikan sejumlah pertanggungan yang diinginkan dengan perjanjian kontrak dan reasuradur harus menerima jumlah yang ditawarkan.

b) Reasuransi proporsional

Pembagian risiko antara ceding company dengan reasuradur dilakukan secara proporsional berdasarkan jaminan retensi yang telah ditetapkan. Retensi adalah jumlah maksimum risiko yang ditahan atau ditanggung oleh ceding company.

c) Reasuransi Nonproporsional

Bentuk ini memberikan kemungkinan bagi reasuradur untuk tidak membayar klaim atau membayar klaim terbatas jumlah yang ada dalam treaty.

Treaty dalam mekanisme reasuransi adalah pertanggungan yang dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang dituangkan dalam suatu perjanjian antara ceding company dan reasuradur yang mana reasuradur mengikatkan diri untuk menerima setiap penutupan yang diberikan oleh ceding company.

b. Usaha Penunjang97

1) Pialang asuransi

Adalah usaha yang memberikan jasa keperantaraan dalam penutupan asuransi dan penanganan penyelesaian ganti rugi asuransi dengan bertindak untuk kepentingan tertanggung.

2) Pialang reasuransi

Adalah usaha yang memberikan jasa keperantaraan dalam penempatan reasuransi dan penanganan penyelesaian ganti rugi reasuransi dengan bertindak untuk kepentingan perusahaan asuransi.

3) Penilai kerugian asuransi

Adalah usaha yang memberikan jasa penilaian terhadap kerugian pada objek asuransi yang dipertanggungkan.

4) Konsultan aktuaria

4) Konsultan aktuaria

Dokumen terkait