Ruang Publik Virtual dan Kekuasaan
Ruang publik merupakan ruang dimana masyarakat sipil (civil society) bebas memproduksi opini publik (public opinion) tanpa ada tekanan dari pihak manapun. Di ruang inilah warga dapat berpartisipasi dalam proses demokrasi politik salah satunya pemilu (Hardiman, 2010). Dalam prosesnya ruang publik harus memenuhi norma-norma yang harus ditaati bersama yakni inklusif (melibatkan semua), egaliter (persamaan kedudukan) dan bebas dominasi. Artinya dalam berpendapat warga harus memposisikan diri sebagai sebagai komponen bangsa, bukan golongan.
Ruang publik yang pada kehidupan nyata didefinisikan sebagai tempat berkumpul warga secara fisik seperti lapangan, gedung pertemuan, hall, dll kini dengan internet akhirnya memunculkan ruang baru yang disebut ruang publik virtual. Beberapa ilmuwan lain menyebut, secara khusus internet dan teknologi dapat meningkatkan peran warga dalam berekspresi (Bell, 1981; Kling, 1996; Negroponte, 1998; Rheingold, 1993 dalam Papacharissi; 2002). Teknologi baru ini juga menyediakan alat yang memperluas peran warga dalam kehidupan sosial dan politik. Menjamurnya kelompok-kelompok virtual berbasis politik dan cyberactivism jelas merefleksikan penggunaan internet secara politis.
Disinilah ruang publik virtual diperkirakan memang ada (Bowen, 1996; Browning, 1996 dalam Papacharissi; 2002).
Namun, diantara optimisme para ilmuwan tentang keberadaan internet, muncul pula pesimisme terhadap ruang publik virtual ini, karena ruang baru ini tidak sesederhana ruang publik dalam pengertian Habermas. Internet merupakan sebuah gambaran ruang publik yang kompleks meski disisi lain membuka ruang diskusi yang tak terbatas ruang dan waktu. Ruang publik virtual juga bukan ruang netral karena didalamnya ada kekuasaan-kekuasaan yang masing-masing membawa kepentingan. Kondisi ini menggambarkan Priyono (2010: 279) yang menyebut ruang publik sebagai ruang terbuka yang sedang diperebutkan untuk dibentuk menjadi apa saja, tergantung pada kekuatan mana yang punya sumber daya paling kuat untuk menguasainya. Dalam konteks inilah propaganda memainkan perannya yakni untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan suatu kelompok. Permasalahannya, propaganda yang berkeliaran diantara diskusi-diskusi politik warga dipastikan menggeser ruang-ruang milik warga.
Propaganda
Pada dasarnya propaganda hanya sebuah teknik saja, tidak selalu negatif dan tidak selalu posittf, meski kebanyakan memberikan asosiasi negatif pada aktifitas ini. kata kunci dari propaganda yakni ‘mempengaruhi. Menurut Historical Dictionary of American Propaganda
(2004) istilah ‘propaganda’ pertama kali muncul tahun 1622 untuk menyebut aktifitas penyebaran keyakinan Gereja Katolik. Pada waktu itu, propaganda diartikan sebagai strategi menyebarkan ide untuk tujuan tertentu. Dalam perkembangannya istilah propaganda terus berkembang dan lebih bernilai negatif yang juga menjadi sudut pandang dari artikel ini. Jowett (2012) mendefinisikan propaganda dengan menunjukkan kata sinominnya yakni kebohongan, distorsi, penipuan, manipulasi, kontrol pikiran, perang psikologis dan pencucian otak. Jika ditekankan pada apa tujuan propaganda, maka definisi propaganda adalah semua tindakan yang terkait dengan kontrol yang disengaja dengan tujuan untuk mengubah dan mempertahankan keseimbangan kekuasaan yang menguntungkan bagi propagandis.
Propaganda juga terkait dengan usaha untuk menyebarkan ideologi tertentu untuk tujuan akhir tertentu. Pratkanis and Turner (1996)
mendefinisikan propaganda sebagai usaha untuk menggeser sudut pandang yang telah mapan dengan menggunakan gambar dan slogan melalui permainan ide yang mengandung unsur prejudis dan emosi. Dalam ilmu komunikasi, Lasswell, Harold Dwight dikenal sebagai pioner analisis propaganda. Lasswell sering kali disebut sebagai bapak propaganda yang memberikan banyak kontribusi mengenai berbagai teori yang menganalisis propaganda. Ia mendefinisikan propaganda sebagai usaha memproduksi pernyataan satu arah (one-sided) kepada massa. Menurutnya para pempropaganda bekerja dalam sebuah budaya tertentu, membutuhkan adanya media yang memadai, mencakup nilai-nilai norma dari target propaganda. Di tahun 1927 ia mendesain model komunikasi
‘who says what to whom with what effect?’. Meski saat ini pemikiran tersebut sudah mulai ditinggalkan, namun pada masa itu memberikan dampak besar dalam pengembangan teori propaganda.
Pembahasan
Dalam pilpres 2014, disadari atau tidak oleh masyarakat kita ditemukan berbagai teknik-teknik propaganda klasik yang diantaranya diterapkan selama Perang Dingin. Setidaknya ada empat jenis teknik propaganda yang dominan muncul dalam diskusi yang berlangsung di Twitter selama masa kampanye presiden 2014 yang terlihat di 8 akun twitter terpilih yakni @PDI_Perkiangan, @gerindra, @TrioMacan2000, @JKW4P, @Jokowi4ME, @FCPrabowoSulsel, @pkspiyungan, @ partaisocmed selama masa kampanye 2014.
a. Ketakutan tersembunyi (hidden fear)
Teknik propaganda ini memiliki tujuan untuk menimbulkan rasa takut pada target. Dalam pilres 2014 teknik ini ternyata cukup dominan dilakukan. Isu-isu terkait fear yang menyerang Jokowi diantaranya Jokowi PKI, Jokowi Non-Muslim dan Jokowi Tionghoa. Sementara, yang menyerang prabowo yakni kembalinya rezim otoriter orba, Prabowo NAZI, prabowo menindas minoritas (non-muslim, Syiah, Ahmadiyah).
Isu Jokowi PKI muncul di di 2 minggu terakhir sebelum pemilu. Diantara ke 8 akun yang dilihat, hanya gerindra yang sama sekali tidak menyinggung propaganda ini. akun-akun relawan Prabowo menyebarkan isu ini, sementara akun-akun relawan Jokowi melakukan counter isu Jokowi PKI. Akun-akun yang aktif dan terbuka memproduksi wacana ini yakni akun anonim @pkspiyungan. Isu-isu PKI ini mendukung propaganda
yang telah berlangsung sebelumnya yakni ‘Jokowi non-muslim’ dan Jokowi didukung non muslim, kemudian dibumbui dengan isu-isu anarkisme seperti perusakan kantor TV One di yogyakarta yang disebut sebagai perbuatan yang mirip komunis. Isu komunis juga memanfaatkan pernyataan-pernyataan pendukung Jokowi seperti Musdah Mulia yang diwacanakan akan melegalkan faham Komunis. Namun dalam dalam konfirmasi yang dilakukan penulis, Musdah Mulia mengatakan bahwa itu kampaye hitam semata. Isu ‘Jokowi tionghoa’ merupakan propaganda yang dihembuskan bahkan sejak pilpres belum dilakukan terutama oleh akun anonim @TrioMacan2000. Propaganda yang muncul bersamaan yakni ‘Jokowi antek asing’. Propaganda ‘Jokowi tionghoa’ yang paling menonjol yakni penyebaran iklan kematian Jokowi yang tersebar di media sosial seperti yang terlihat di gambar 1.
Gambar 1 Iklan kematian capres Jokowi
Isu Jokowi tionghoa ini sesuai dengan konteks sosial masyarakat tionghoa di Indonesia yang memang memiliki tradisi membuat iklan kematian keluarga di surat kabar. Ketakutan dimunculkan manalaka kedua isu ini akan membawa dampak pada warga pribumi yang merasa akan tersisih, terutama dalam konteks perekonomian. Secara umum disini sedang terjadi pertarungan antara non-pribumi vs pribumi.
Propaganda fear juga menyerang Prabowo diantaranya kembalinya rezim Orba, Prabowo NAZI, prabowo menindas minoritas (non-muslim, Syiah, Ahmadiah). Kembalinya rezim orba merupakan propaganda karena pada dasarnya tidak pernah ada yang bisa membuktikan apakah jika Prabowo terpilih menjadi presiden maka Indonesia akan kembali menjadi negara otoriter seperti era Soeharto. Isu-isu ini berjalan seiring dengan ‘kampanye hitam’ mengenai masa lalu Prabowo tentang isu
penculikan aktivis 98. Ketakutan-ketakutan mengenai faham Nazi justru datang dari pendukung Prabowo yakni saat musisi Ahmad Dani menggenakan kemeja miripKomandan Satuan Elite Nazi, Schutzstaffel SS, Heinrich Himmler yang bertanggungjwab atas kejahatan Nazi selama Perang Dunia II. Wacana ini merugikan pihak Prabowo karena teks ini semakin memojokkan Prabowo karena memunculkan asosiasi pembawa ideologi militeristik yang menindas warga sipil.
Propaganda terhadap Prabowo juga dilakukan oleh Wimar Witular, salah satu public figure yang mendukung Jokowi, dengan memposting foto dan gambar 2 berjudul ‘Gallery of Rogues, Kebangkitan Bad Guys’ di akun facebooknya. Gambar ini kemudian menyebar di dunia maya termasuk internet dan menuai banyak kecaman. Gallery of Rogues sendiri memiliki arti eksplisit ‘koleksi foto para kriminal yang disimpan polisi untuk tujuan identifikasi’.
Gambar 2 Gallery of Rogues oleh Wimar Witular
Foto hasil editan yang diunggah prabowo ini nampak Prabowo-Hatta bersama para elit Koalisi Merah Putih (KMP) diantaranya Anis Matta, Aburizal Bakrie, Suryadharma Ali, Tiffatul Sembiring, Ketua FPI Habib Rizieq Shihab dan Abubakar Ba’asyir. Latar belakang foto yakni para tokoh terorisme yakni terpidana mati kasus bom Bali Imam Samudera dan Amrozi, serta pimpinan Alqaidah Osama bin Laden yang ketiganya mengapit mantan presiden Soeharto, bekas mertua Prabowo. Foto ini sempat memunculkan perang twitter (twitwar) antara wacana Islam dan
non-Islam. Dan memunculkan isu marginalisasi terhadap kelompok-kelompok minoritas seperti Ahmadiyah dan Syiah.
b. Plain Folks Appeal
Propaganda ini dilakukan untuk memperlihatkan bahwa suatu obyek adalah seperti sesuatu pada umumnya yang akan memahami obyek. Dalam konteks pilpres bisa diartikan bahwa capres yang baik adalah orang biasa seperti ‘rakyat sipil’ yang bisa memahami masyarakat kecil. Biasanya dilakukan dengan memperlihatkan capres sedang melakukan aktivitas sehari-hari misalnya berpakaian kasual, menjalankan hobinya, bermain musik, dll. Dalam pilpres 2014, teknik ini lebih banyak dipakai oleh Jokowi dalam menonjolkan sosok yang sederhana dan dekat dengan rakyat.
Yang menarik, Jokowi sangat diuntungkan dengan teknik ini karena latar belakang sipil yang telah ia miliki serta citra kesederhanaan. Karena faktanya Jokowi bukanlah kalangan menengah kebawah seperti yang melekat kuat pada pribadi Jokowi hingga saat ini. Teknik ini mungkin lebih ke persuasi karena diantaranya memang kegiatan yang tidak semata-mata manipulasi karena berlangsung secara natural karena konon Jokowi berasal dari keluarga miskin sehingga terbuasan hidup sederhana. Aplikasi teknik ini misalnya Jokowi mengenakan sepatu lokal, Jokowi naik pesawat komersial ekonomi, Jokowi makan dengan menggunakan tangan, Jokowi menghadiri konser musik Metalika, Jokowi mengenakan sepatu sendiri. Strategi Plain Folks Appeal yang dilakukan Jokowi dengan natural dan terbukti efektif yakni blusukan yang semakin menegaskan dia merupakan capres yang merakyat. Permasalahan yang muncul dalam konteks ruang publik adalah manakala proses ini tidak memunculkan diskusi kritis dan rasional.
Sementara disisi lain, teknik ini justru merugikan Prabowo karena berbagai kegiatan sehari-hari Prabowo yang disorot adalah hobi berkuda dan memelihara kuda yang identik dengan kalangan konglomerat. Asosiasi negatif dari kalangan konglomerat saat ini masih negatif yakni korupsi. Hal ini semakin menjauhkan masyarakat dengan Prabowo. Di sisi lain, para pendukung Prabowo mencoba meng-counter teknik ini dengan mencoba membangun wacana bahwa capres harusnya berasal dari kalangan bangsawan. Permasalahannya, pilpres 2014 ini merupakan titik kejenuhan masyarakat terhadap pimpinan dari kalangan bangsawan.
c. Testimoni (kesaksian)
Propaganda ini menggunakan public figure untuk bersaksi mendukung atau tidak mendukung suatu ide. Terkadang menggunakan lembaga yang dapat dipercaya untuk melakukan hal tersebut. Jenis propaganda ini mencoba mengkaitkan sesuatu dengan ‘kekuasaan’ agar sasaran mempercayai ide yang disebarkan. Dalam pilpres 2014 metode ini terlihat dominan dan dilakukan baik oleh pihak Jokowi maupun Prabowo. Propaganda teknik ini merupakan propaganda yang paling banyak dipakai oleh oleh kedua belah pihak, dan disebarkan lewat akun masing-masing dan berlangsung sejak sebelum kampanye pilpres.
Jokowi banyak menggunakan testimoni yang selama ini tidak dilakukan dalam pilpres misalnya testimoni selebriti baik dalam dan luar negeri. Selebriti dalam negeri yang memberikan testimoni tak terhitung jumlahnya dengan testimoni yang disampaikan di akun twitter masing-masing. Sementara artis yang berasal dari luar negeri yang memberikan testimoni diantaranya Stings, Jason Mraz, Arkhana, Bumblefoot dan Metal Hammer. Arkhana misalnya mentwit kalimat berikut ini.