Pendahuluan
Internet masuk ke Indonesia pada pertenganan tahun 1995 (Hill & Sen, 2000; Lim, 2012). Keberadaan internet memiliki dampak yang signifikan terhadap proses demokratisasi politik di Indonesia. Salah satu peristiwa penting dalam perjuangan demokrasi di Indonesia yang melibatkan teknologi internet yakni reformasi 1998. Pada saat itu fitur internet bernama milling list dianggap berperan sebagai alat perjuangan para aktivis 98 dalam menggulingkan rezim otoriter Soeharto
Kini, setelah hampir dua dasawarsa berkembang di Indonesia, internet masih berperan signifikan dalam dunia politik. Setidaknya ada tiga aspek penting yang dapat menjelaskannya. Pertama, jumlah pengguna internet di Indonesia masuk dalam lima besar jumlah pengguna internet terbesar di dunia setelah Tiongkok, Amerika Serikat, India, Brasil, dan Jepang. Berdasarkan survey Asosiasi Penyelengaara Jasa Internet Indonesia (APJII) jumlah pengguna internet di Indonesia terus mengalami peningkatan signifikan. Pada tahun 2012 pengguna internet di Indonesia sebanyak 63 juta, tahun 2013 sebanyak 82 juta, tahun 2014 sebanyak 107 juta pengguna dan di tahun 2015 diperkirakan mencapai 139 juta pengguna. Sebesar 95 % dari total pengguna internet aktif menggunakan media sosial. Fakta ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah pengguna twitter terbesar nomor 5 di dunia (60 juta) dan jumlah pengguna media facebook terbesar nomer 4 di dunia (65 juta).
Kedua, melemahnya peran media tradisional (surat kabar, majalah, radio, televisi) sebagai pilar keempat demokrasi. Maka dari itu, internet dianggap sebagai ruang alternatif baru yang dapat menggantikan peran
media tradisional. Setidaknya ada dua penyebab utama media massa tradisional kehilangan fungsi kritisnya yakni; a) monopoli media oleh 12 kelompok besar media (Nugroho, 2012; Lim, 2012; Patria, 2013) dan b) keterlibatan para pemilik media dalam politik praktis (Nugroho, 2012; Patria, 2013).
Pemilihan presiden RI tahun 2014 merupakan salah satu momentum politik yang melibatkan twitter secara masif dalam proses komunikasi politik. Twitter menjadi ruang diskusi berbagai komponen demokrasi seperti elite, parpol, warga sipil, pasar, negara dan media massa yang aktif memproduksi wacana mengenai pilpres. Inilah untuk pertama-kalinya dalam sejarah pemilu di Indonesia, sosial media (Twitter, Facebook) berperan masif dalam mewadahi dikusi politik mulai dari pembentukan opini publik, saluran komunikasi politik hingga kampanye politik.
Namun dalam prosesnya, twitter ternyata tidak hanya menjadi ruang partisipasi politik warga. Twitter menjadi juga menjadi ruang berkembangnya isu-isu sensitif yang membahayakan integritas bangsa Indonesia yang plural ini. Berdasarkan data kuantitatif yang dihimpun PoliticaWave, sebuah platform yang menganalisa dan memonitoring internet, terdapat 458.678 isi percakapan tentang kampanye fitnah (kampanye hitam), dimana sebagian besar berupa isu sensitif. Data ini diambil dari media sosial, blog, forum, online media dan youtube dan tidak menyertakan akun dan platform tanpa identitas (anonim) dilakukan selama bulan 3 bulan yakni Mei – Juni 2014. Kampanye hitam itu terutama menyerang capres Jokowi dengan presentase 74,5%, berupa kampanye hitam (tanpa bukti) dan 25.5% berupa kampannye negatif (dengan bukti). Selain kampanye hitam dan kampanye negatif, perbincangan di media sosial twitter juga mengandung berbagai bentuk propaganda. Propaganda merupakan teknik mempengaruhi dan mengendalikan kepribadian serta perilaku orang lain ke arah tujuan-tujuan yang tidak ilmiah dan masih diragukan kebenarannya dalam masyarakat tertentu. Penelitian ini memfokuskan diri pada berbagai jenis propaganda yang muncul di selama masa kampanye presiden 2014 yang dilihat dari 8 akun twitter terpilih.
Tinjauan Pustaka
Selama satu dasawarsa terakhir, internet mengalami perkembangan yang luar biasa yaitu dengan kemunculan sosial media facebook tahun
2006 dan twitter tahun 2009. Tema utama yang diangkat diantaranya sosial media dan kampanye politik (Penney, 2014; Larsson, 2014; Standberg, 2013; Vesnic, 2011; Ruiz, 2011), sosial media sebagai alat
empowering warga dan pendorong demokrasi (Ifukor, 2010; Chiluwa, 2012; Sreekumar & Shobha, 2013; Groshek & Ahmed, 2013; Tang, 2013), media sosial sebagai alat dominasi negara (Mohd, 2013). Penelitian ini selanjutnya ingin melihat sudut pandang lain dari penggunaan media sosial dalam sebagai sarana melakukan propaganda politik. Untuk melihat perbedaan dengan penelitian mengenari media sosial dan politik yang telah dilakukan sebelumnya, berikut akan dijabarkan satu-persatu penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.
Penney (2014) meneliti respon pengguna internet terhadap political marketing dalam pilpres 2012 di US. Ia fokus pada sirkulasi video kampanye politik di internet dan bagimana diskusi berlangsung disana. Hasilnya dialog deliberatif dan partisipasi warga telah mengaburkan model marketing. Penelitian Larsson (2014) melacak kampanye permanen (permanen campaign) di dua negara yang memiliki kesamaan yaitu Norwegia dan Swedia. Secara umum, penelitian ini menyediakan ulasan tentang penggunaan Facebook Page oleh para politisi yang meliputi
timeline, jumlah post per harinya, jumlah share dan like per day, dll. Strandberg (2013) meneliti respon warga dalam kampanye pemilihan anggota parlemen melalui sosial media di Finlandia. Hasil memperlihatkan bahwa walaupun kandidat menggunakan sosial media secara luas dan komprehensif, namun respon pemilih online cenderung normal. Sementara Vesnic (2011) melihat fenomena penggunaan kampanye politik dan komunikasi politik di media online. Dengam metode CDA ia menganalisa text di blog anggota parlemen incumbent dalam pemilihan anggota parlemen tahun 2009 di Eropa untuk mengungkap strategi kampanye dan wacana dominan yang dimunculkan.
Sementara itu studi media sosial sebagai sarana empowering warga dan pendorong demokrasi diantaranya dilakukan Ifukor (2010) yang menganalisa konstruksi bahasa di blog dan twitter selama pilpres Nigerita tahun 2007 dan 2009. Dengan metode CDA ia mengidentifikasi komunitas virtual, identitas, variasi bahasa dan interaksi sosial yang sebagai alat perjuangan ideologi kelompok minoritas. Sementara Sreekumar & Shobha (2013) menggunakan Science Technology Society (STS) Theory
dimonitor ribuan followernya – dalam pemilu di Singapura tahun 2011. Meski tidak mengakui pengaruh sosial media terhadap reformasi radikal demokrasi namun penelitian ini menemukan twitter telah memunculkan narasi tandingan.
Sementara Groshek & Ahmed (2013) meneliti 1.4 juta pesan media sosial dalam pilpres di US tahun 2012. Ia menganalisis representasi capres Obama dan Romney di twitter. Tang (2011) meneliti gerakan sosial politik di internet. Ia menemukan bahwa gerakan akan sukse jika melibatkan simbol-simbol kuat yang mengakar secara kultural di masyarakat. Ia melakukan analisis wacana pada teks di media sosial dalam kampanye ‘Grass Mud Horse’ yang efektif memprotes kontrol internet di Cina. Sementara itu, Mohn (2013) yang menguji saling pengaruh mempengaruhi antara politik, agama dan wacana dalam merepresentasikan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Hasil penelitian memperlihatkan Khamenei direpresentasikan seperti ciri-ciri yang dimiliki Nabi Muhammad dan 12 imam sempurna dalam tradisi Syiah, yang kemudian dipakai untuk mempertahankan dominasi negara.
Selanjutnya akan dijabarkan tentang bahan pustaka yang diambil dari para peneliti di Indonesia. Hill & Sen (2000) adalah peneliti pertama yang komprehensif membahas mengenai praktek politik dan budaya konsumsi internet di Indonesia. Tiga topik besar yang dibahas yakni; a) proses masuknya internet di Indonesia pada pertenganan tahun 1995; b) peran internet dalam krisis ekonomi dan politi tahun 1997-98; c) peran internet pada masa transisi demokrasi di masa awal reformasi hingga akhir reformasi.
Memasuki pertengahan tahun 2000 penelitian mengenai internet dan demokrasi di Indonesia bergeser ke blog dan media sosial. Disertasi Lim (2005) membahas peran internet di Indonesia dalam aktivitas politik di masa transisi Orde Baru ke era Reformasi. Penelitiannya mengidentifikasi hubungan internet-masyarakat dalam konteks negara non-Barat. Lim menyimpulkan bahwa; a) adanya keterkaitan antara gerakan sosial politik di internet (online) dengan gerakan nyata (offline); b) fungsi internet seperti pedang bermata dua yakni sebagai pendorong demokrasi yang tercermin dalam peristiwa reformasi 98) dan melemahkan demokrasi, yang tercermin dari penggunaan internet oleh Laskar Jihad.
Selanjutnya, Lim (2012) melakukan penelitian dengan basis data statistik 80 blog-blog di Indonesia yang fokus membicarakan isu sosial
dan politik dari tahun 2009 hingga tahun 2011. Lim berkesimpulan isu yang terkait dengan kalangan menengan-keatas mendapat perhatian lebih yakni kasus Prita Mulyasari, Ariel/ Luna dan Sri Mulyani/Century. Sementara itu isu Ahmadiyah dan Lapindo sangat minim perhatian, padahal dua peristiwa itu merupakan isu sosial-politik yang penting dalam konteks sosial politik di Indonesia. Lim (2013) meneliti peran media sosial dalam proses perubahan politik dan sosial di Indonesia. Menurutnya gerakan sosial media akan sukses manakala; a) memiliki narasi sederhana; b) terkait dengan tindakan beresiko kecil; dan searah dengan meta-narasi (misal: isu nasionalisme dan keagamaan). Sementara itu Gazali (2014), merespon temuan penelitian Lim (2013) mengenai pesimismenya terhadap gerakan sosial media di Indonesia. Gazali menyimpulkan, media sosial merupakan media baru yang dapat berkolaborasi dengan semua komponen demokrasi (pemerintah, rakyat, pasar dan media massa) untuk membangun demokrasi yang lebih kuat.