BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.8 Kerangka Konsep
Ukuran Lingkar Otot Lengan Atas (LOLA) dipengaruhi oleh konsumsi suplemen ergogenik. Sedangkan seseorang yang mengonsumsi suplemen ergogenik, didukung oleh pengetahuan gizi, dan keterpaparan media promosi.
Untuk itu, kerangka konsep dalam penelitian ini sebagai berikut:
Variabel pendahulu Variabel terikat - Pengetahuan gizi
- Keterpaparan media promosi
Variabel bebas
Konsumsi suplemen Ukuran Lingkar
ergogenik Otot Lengan Atas
(LOLA)
Gambar 2.5 Kerangka Konsep Gambaran Konsumsi Suplemen Ergogenik dan Ukuran Lingkar Otot Lengan Atas pada Peserta Fitness
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain cross sectional . Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survei.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian dilaksanakan di fitness Medan Sehat, kota Medan.
Alasan memilih lokasi ini karena berdasarkan survei awal, dari 30 peserta terdapat 29 peserta fitness mengonsumsi suplemen ergogenik, dan 20 peserta mengaku merasakan manfaat suplemen ergogenik terhadap peningkatan massa ototnya.
Pemilik bersedia menjadikan tempat fitness ini menjadi lokasi penelitian sehingga membantu dalam proses akademik sebagai bahan masukan tentang konsumsi suplemen ergogenik.
Penelitian dilakasanakan dari bulan November 2015 sampai bulan November 2016.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta Fitness Medan Sehat. Jumlah peserta fitness medan sehat sebanyak 130 orang.
3.3.2 Sampel
Menurut Azwar (1987), penelitian survei yang bersifat deskriptif tanpa kelompok pembanding, perhitungan jumlah sampel digunakan rumus berikut:
n =
4
kemudian n1 =
Keterangan:
n = Jumlah sampel awal
p = Sifat suatu keadaan dalam persen, jika tidak dketahui dianggap 50%
q = 100% - p
L = Derajat ketepatan yang dipergunakan, lazimnya 5%
n1 = Jumlah Sampel sebenarnya N = Jumlah populasi
Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 98 orang dan dibulatkan menjadi 100 orang dipilih dengan metode purposive sampling dengan kriteria sebagai berikut:
1. Usia dewasa 18 sampai 60 tahun.
2. Telah mengikuti fitness minimal selama 1 bulan.
3. Bersedia menjadi responden dan dapat berkomunikasi dengan baik.
4. Tidak dalam keadaan sakit.
3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer
Data primer dikumpulkan dengan wawancara dan observasi langsung kepada peserta fitness Medan Sehat dengan instrumen kuesioner, penjepit caliper skinfold, dan pita pengukur. Data Primer tersebut meliputi pengetahuan gizi peserta fitness, keterpaparan media promosi, dan konsumsi suplemen ergogenik
serta ukuran Lingkar Otot Lengan Atas (LOLA) peserta fitness yang diukur langsung oleh dokter fitness ini. Selain itu, profil fitness Medan Sehat diperoleh dengan wawancara kepada pengelola. Profil ini yang digunakan sebagai gambaran umum fitness Medan Sehat pada penelitian ini.
3.5 Definisi Operasional
1. Konsumsi suplemen ergogenik adalah kebiasaan, frekuensi, jenis, lama responden mengonsumsi suplemen ergogenik dalam sebulan terakhir.
2. Pengetahuan gizi adalah segala sesuatu yang diketahui responden tentang suplemen ergogenik.
3. Keterpaparan media promosi adalah pernyataan responden mengenai promosi suplemen ergogenik, pernah atau tidak pernah menerima informasi tentang suplemen ergogenik.
4. Ukuran Lingkar Otot Lengan Atas (LOLA) adalah konversi nilai Lingkar Lengan Atas dalam centimeter dan ketebalan lipatan tricep (tricep skinfold) dalam millimeter yang dikonversikan menjadi centimeter.
3.6 Metode Pengukuran
Pada penelitian ini hal-hal yang akan diukur yaitu konsumsi suplemen ergogenik, pengetahuan gizi tentang suplemen, keterpaparan promosi suplemen ergogenik, dan lingkar otot lengan atas. Pengukuran variabel tersebut diuraikan sebagai berikut.
1. Konsumsi Suplemen Ergogenik
Pada penelitian ini, untuk mengetahui perilaku konsumsi suplemen ergogenik responden, penulis menggunakan pertanyaan tentang perilaku konsumsi
suplemen ergogenik dalam satu bulan terakhir yang dikategorikan menjadi dua, yaitu,
a. Ya : jika responden mengonsumsi suplemen ergogenik dan mengisi tabel frekuensi mengonsumsi suplemen ergogenik, jenis suplemen ergogenik yang dikonsumsi, dan lama responden dalam mengonsumsi suplemen ergogenik.
b. Tidak : jika responden tidak mengkonsumsi suplemen ergogenik Pengukuran frekuensi konsumsi suplemen responden dikategorikan menurut International Society of Sport Nutrition (ISSN) (2008), sebagai berikut,
a. 1 dosis sebelum latihan b. 1 dosis saat sedang latihan c. 1 dosis setelah latihan
d. 1 dosis sebelum dan setelah latihan
Pengukuran lama konsumsi suplemen responden dikategorikan dalam Minggu, Bulan, dan Tahun.
2. Pengetahuan Gizi tentang Suplemen Ergogenik
Pada penelitian ini, terdapat 10 pertanyaan yang bersifat tertutup berkaitan dengan pengetahuan responden mengenai gizi dan suplemen ergogenik. Setiap poin pertanyaan diberi nilai 1 jika jawaban benar. Untuk setiap pertanyaan diberikan bobot nilai yang sama, dengan asumsi setiap pertanyaan sama penting.
Selanjutnya, semua nilai dijumlahkan kemudian dikategorikan menurut Arikunto (2006) yaitu,
a. Baik : bila skor = 76 – 100%
b. Cukup : bila skor = 60 – 75%
c. Kurang: bila skor = < 60%
3. Keterpaparan Promosi Suplemen Ergogenik
Hasil ukur tentang keterpaparan promosi suplemen diukur dari jawaban responden dengan pilihan jawaban yang tersedia meliputi pelatih, teman, televisi (TV), poster/pamphlet, majalah, internet, dan lain-lain. Variabel ini dikategorikan dalam 2 kategori yaitu,
a. Terpapar : jika responden menjawab “pernah” pada item pertanyaan keterpaparan dan minimal memilih satu item jawaban yang tersedia.
b. Tidak terpapar : jika responden menjawab “tidak pernah” pada item pertanyaan keterpaparan media/informasi.
4. Ukuran Lingkar Otot Lengan Atas
Pengukuran Lingkar Otot Lengan Atas (LOLA) pertama-tama mengukur Lingkar Lengan Atas (LiLA) dan tebal lipatan trisep (triceps skin fold).
Pengukuran LiLA digunakan alat pita pengukur (meteran). Pengukuran dilakukan pada lengan kiri atas. Pada orang yang kidal, pengukuran dilakukan pada lengan kanan atas. Siku dalam keadaan bengkok 900. Ambil titik tengah antara titik tulang bahu dan titik tulang siku dari lengan tersebut dan beri tanda. Kemudian luruskan tanga di samping tubuh. Saat pengukuran lengan dalam keadaan bebas.
Kemudian lakukan pengukuran pada titik yang sudah ditandai. Pita pengukur
harus menempel erat pada kulit, tetapi tidak ada tekanan. Kemudian catat hasil pengukuran LiLA dalam satuan centimeter (cm).
Pengukuran tebal lipatan trisep (triceps skin fold) pertama-tama menandai posisi trisep yaitu terdapat pada titik tengah lingkar lengan atas sisi belakang, kemudian menandai titik tengah trisep dengan pena. Gunakan jempol dan telunjuk jari untuk menentukan lipatan trisep dengan kondisi lengan dalam keadaan rileks.
Selanjutnya dilakukan penjepitan dengan caliper skinfold selama 2-3 detik. Ulangi penjepitan tersebut beberapa kali hingga menghasilkan ukuran yang sama atau mendekati. Hasil pengukuran yang diambil adalah hasil pengukuran rata-rata dalam skala millimeter (mm) yang kemudian dikonversikan menjadi centimeter (cm). Kemudian catat hasil pengukuran. Hasil pengukuran LiLA dan tebal lipatan trisep disubstitusikan ke rumus LOLA sebagai berikut.
LOLA = LiLA – (3,14 × tebal lipatan triseps)
Hasil konversi rumus tersebut disesuaikan dengan tabel pesentil LOLA (halaman 33) kemudian persentil tersebut dikategorikan menurut Frisancho (1990) dalam lima kategori, yaitu
a. Kecil, jika persentil LOLA 0,0 sampai 5,0
b. Dibawah normal, jika persentil LOLA 5,1 sampai 15,0 c. Normal, jika persentil LOLA 15,1 sampai 85,0
d. Diatas normal, jika persentil LOLA 85,1 sampai 95,0 e. Besar, jika persentil LOLA 95,1 sampai 100,0
3.7 Metode Pengolahan dan Analisis Data 3.7.1 Pengolahan Data
Pengolahan data yang sudah terkumpul akan diolah melalui langkah- langkah berikut:
a. Editing
Pada langkah ini penulis akan melakukan kegiatan pengecekan atau melihat masing-masing jawaban kuesioner untuk memastikan isi kuesioner yang ada sudah lengkap jawabannya (diisi semua), jelas terbaca, relevan, konsisten dan dapat dibaca dengan baik.
b. Coding
Coding merupakan kegiatan mengubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka atau bilangan agar lebih mudah dalam mengentry dan menganalisis data.
c. Entry
Setelah semua isian kuesioner terisi penuh dan benar, dan juga sudah melewati proses coding, maka selanjutnya data akan dientry ke computer dengan menggunakan software statistics berupa SPSS agar dapat dilakukan analisis data.
d. Cleaning
Cleaning atau pembersihan data merupakan kegiatan pengecekan kembali untuk memastikan bahwa tidak ada kesalahan pada data yang sudah dimasukkan/entry, baik dalam pengkodean maupun kesalahan dalam membaca kode, kemudian mencari apakan ada entry yang salah, melihat respoden serta mengcroscheck ulang di kuesioner.
3.7.2 Analisis Data
Semua data yang telah terkumpul kemudian dilakukan analisis data deskriptif dengan mendeskripsikan besarnya persentase pada seluruh variabel penelitian dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi dari data karakteristik responden, pengetahuan gizi peserta fitness, keterpaparan media promosi, konsumsi suplemen ergogenik, dan ukuran Lingkar Otot Lengan Atas (LOLA) peserta fitness. Tahap selanjutnya melakukan tabulasi data dan analisis data yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase. Analisis data yang digunakan adalah analisis secara deskriptif dengan program SPSS 16.
HASIL PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Fitness Center Medan Sehat
Pusat-pusat kebugaran atau fitness center semakin banyak bermunculan di Indonesia. Hal ini dikarenakan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan potensi fitness center yang dapat dijadikan sebagai lahan profesi. Persaingan antar perusahaan fitness center di kota Medan juga dirasakan semakin ketat dengan peningkatan kualitas pelayanan serta penyediaan peralatan yang lengkap dan modern.
Fitness center Medan Sehat berdiri sejak 14 Juli 2014. Medan Sehat merupakan tempat pusat kebugaran yang telah memiliki ribuan peserta. Fitness center ini berlokasi di Marendal, kecamatan Medan Amplas, kota Medan. Fitness Medan sehat didirikan oleh seorang dokter yang memiliki hobi di bidang olahraga. Tujuan didirikannya fitness center ini untuk memperkenalkan olahraga kepada masyarakat. Pada awalnya cabang kebugaran yang diperkenalkan adalah fitness (latihan beban) dan senam aerobik.
Pada saat ini, seiring berkembangnya minat masyarakat, fitness ini mengembangkan cabang kebugaran yang lain, seperti zumba, body language, yoga dan beberapa cabang bela diri seperti taekwondo, jiu-jitsu, dan karate. Selain cabang kebugaran, di fitness center ini juga membuka jasa konsultasi diet oleh dokter.
4.2 Gambaran Karakteristik Responden Tabel 4.1 Data Karakteristik Responden
No. Karakteristik Responden Jumlah Persentase
(%) Tabel 4.1 menjelaskan bahwa pada penelitian ini terdapat jumlah peserta fitness yang menjadi responden sebanyak 100 peserta. Dari keseluruhan
responden, yang terbanyak adalah dari rentang usia 25 sampai 34 tahun sebanyak 36 orang (36%). Berdasarkan jenis kelamin, jumlah responden hampir merata anatar laki-laki dan perempuan, namun yang terbanyak yaitu laki-laki sebanyak 56 orang (56%) dibanding perempuan sebanyak 44 orang (44%). Dilihat dari segi pendapatan, seluruh responden memiliki pendapatan diatas Upah Minimum Kota (UMK) Medan yaitu > Rp 2.271.255. Berdasarkan pekerjaan, responden terbanyak bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga yaitu 31 orang (31%). Kategori
pendidikan responden paling banyak yaitu kategori pendidikan tinggi (diploma, S1, S2, dan S3) sebanyak 84 orang (84%).
4.3 Konsumsi Suplemen Ergogenik
Pada konsumsi suplemen ergogenik akan dilihat distribusi responden berdasarkan konsumsi suplemen ergogenik, alasan bagi responden yang tidak mengonsumsi suplemen ergogenik, alasan bagi responden yang mengonsumsi suplemen ergogenik, karakteristik responden yang mengonsumsi suplemen ergogenik, distribusi responden frekuensi konsumsi suplemen ergogenik, lama mengonsumsi suplemen ergogenik, dan banyak produk suplemen ergogenik yang dikonsumsi.
Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Konsumsi Suplemen Ergogenik
No. Konsumsi Suplemen Ergogenik Jumlah (%)
1. Ya 35 35
2. Tidak 65 65
Total 100 100
Pada tabel 4.2 didapatkan bahwa dari 100 peserta fitness yang menjadi responden pada penelitian ini, lebih banyak yang tidak mengonsumsi suplemen ergogenik yaitu 65 orang (65%) dibandingkan responden yang mengonsumsi suplemen ergogenik hanya 35 orang (35%).
Hasil penelitian menunjukkan alasan terbanyak responden tidak mengonsumsi suplemen ergogenik karena takut efek sampingnya yaitu sebanyak 53 orang (65,4%) responden. Selain itu, alasan terbanyak selanjutnya tidak mengonsumsi suplemen ergogenik karena harganya terlalu mahal yaitu sebanyak 27 orang (33,3%) responden. Alasan tidak mengonsumsi suplemen ergogenik ini hanya 1 orang (1,3%) karena telah sembuh dari cidera atau sakit, dan tidak ada
responden yang menyatakan tidak mengonsumsi suplemen ergogenik karena peraturan pelatih, mengurangi performa olahraga dan lain-lain.
Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Alasan Mengonsumsi Suplemen Ergogenik
No. Alasan Jumlah (%)
1. Memenuhi kebutuhan gizi 20 25,6
2. Meningkatkan kekuatan 7 9,0
3. Meningkatkan massa dan estetika otot 24 30,8
4. Mempercepat penyembuhan 2 2,6
5. Menurunkan berat badan 10 12,8
6. Untuk kesehatan 11 14,0
7. Membuat merasa lebih baik 2 2,6
8. Lainnya (lebih simple disbanding 2 2,6
makanan)
Total 78* 100,0
* = responden boleh memilih lebih dari satu jawaban
Tabel 4.3 mengungkapkan bahwa alasan terbanyak responden mengonsumsi suplemen ergogenik adalah untuk meningkatkan massa dan estetika otot yaitu sebanyak 24 orang (30,8%) responden. Selain alasan tersebut, alasan terbanyak selanjutnya adalah untuk memenuhi kebutuhan gizi yaitu sebanyak 20 orang (25,6%) responden. Alasan paling sedikit yaitu mempercepat penyembuhan, membuat merasa lebih baik, lainnya (lebih simpel disbanding makanan) yaitu masing-masing sebanyak 2 orang (2,6%) responden.
Tabel 4.4 Karakteristik Responden yang Mengonsumsi Suplemen Ergogenik
No. Konsumsi Suplemen Ergogenik Jumlah Persentase
(%)
Pada tabel 4.4 ditemukan bahwa responden yang mengonsumsi suplemen ergogenik terbanyak berada pada rentang usia 18 sampai 34 tahun sebanyak 28 orang (80%). Berdasarkan jenis kelamin, responden yang mengonsumsi suplemen ergogenik hampir merata baik pada laki-laki maupun perempuan, namun pada perempuan lebih banyak yaitu 18 orang (51,4%). Dilihat dari pendapatan, responden yang mengonsumsi suplemen ergogenik seluruhnya memiliki pendapatan diatas Upah Minimum Kota (UMK) Medan yaitu > Rp 2.271.255.
Dari segi pekerjaan, responden yang mengonsumsi suplemen ergogenik terbanyak yaitu ibu rumah tangga sebanyak 11 orang (31,4%). Berdasarkan
pendidikan, responden yang mengonsumsi suplemen ergogenik terbanyak adalah yang berpendidikan tinggi (diploma, SI, S2, dan S3) sebanyak 29 orang (82,9%).
Tabel 4.5 Distribusi Responden berdasarkan Frekuensi Konsumsi Suplemen Ergogenik
Berdasarkan tabel 4.5 ditemukan bahwa responden yang mengonsumsi suplemen ergogenik terbanyak mengonsumsi suplemen ergogenik setiap hari yaitu sebanyak 24 orang (68,6%), namun tidak ada responden yang mengonsumsi suplemen ergogenik saat sedang latihan. Hasil penelitian juga menemukan bahwa responden terbanyak telah mengonsumsi suplemen ergogenik selama hitungan bulan yaitu sebanyak 24 orang (68,6%), kemudian tidak ada responden yang mengonsumsi suplemen ergogenik selama hitungan minggu.
Jenis produk suplemen ergogenik yang dikonsumsi oleh responden yaitu Mass Phase, Mass Muscle Gainer, Mutant whey, Ultra ripped, Gainer mutant, Creatine Ast, Hidroxycut, Pharmaton, Amino Mutant, Nitro Amino Whey, Mutant Mass, Xtend BCAA, Bpi 1 MR, Creatin Mono, Test freak, dan Putih telur.
Tabel 4.6 Distribusi Responden Berdasarkan Banyak Jenis Produk Suplemen Ergogenik yang Dikonsumsi
Tabel 4.6 menunjukkan bahwa paling banyak responden mengonsumsi 1 jenis produk suplemen ergogenik yaitu sebanyak 24 orang (68,6%). Paling banyak jenis suplemen ergogenik dikonsumsi responden berjumlah 5 jenis produk, namun hanya 2 orang (5,7%) responden yang mengonsumsi sebanyak itu.
4.4. Pengetahuan Gizi tentang Suplemen Ergogenik
Tabel 4.7 Distribusi Tingkat Pengetahuan Responden tentang Suplemen Ergogenik
Hasil penelitian pada tabel 4.7 menunjukkan bahwa tidak ada responden yang tingkat pengetahuannya tentang suplemen yang kurang. Tingkat pengetahuan responden hampir merata pada tingkat pengetahuan cukup dan baik, namun paling banyak responden memiliki tingkat pengetahuan yang cukup tentang suplemen yaitu sebanyak 57 orang (57%) dibanding responden yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang suplemen sebanyak 43 orang (43%).
Tabel 4.8 Distribusi Tingkat Pengetahuan Gizi Responden tentang Suplemen Ergogenik dan Konsumsi Suplemen Ergogenik
No. Tingkat Pengetahuan Konsumsi Total memiliki pengetahuan yang kurang tentang suplemen ergogenik. Sebagian besar
responden memiliki tingkat pengetahuan tentang suplemen ergogenik yang cukup dan tidak mengonsumsi suplemen ergogenik yaitu 30 orang (52,6%) responden.
Pada tingkat pengetahuan responden tentang suplemen ergogenik terhadap frekuensi konsumsi suplemen ergogenik didapatkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan cukup mengonsumsi suplemen ergogenik setiap hari yaitu 18 orang (66,7%). Kemudian hasil penelitian juga menemukan bahwa paling banyak responden memiliki tingkat pengetahuan cukup mengonsumsi suplemen ergogenik selama hitungan bulan yaitu 21 orang (77,8%) responden. Sedangkan untuk tingkat pengetahuan gizi tentang suplemen ergogenik terhadap banyak jenis produk suplemen ergogenik yang dikonsumsi menunjukkan bahwa ada 19 orang (70,4%) responden yang memiliki tingkat pengetahuan yang cukup tentang suplemen ergogenik mengonsumsi 1 jenis produk suplemen ergogenik.
4.5 Keterpaparan Promosi Suplemen Ergogenik
Tabel 4.9 Distribusi Responden berdasarkan Keterpaparan Pomosi
Suplemen Ergogenik
No. Keterpaparan Promosi Jumlah (%)
1. Pernah 78 78
2. Tidak Pernah 22 22
Total 100 100
Tabel 4.9 di atas menjelaskan bahwa 78 orang (78%) responden menyatakan pernah terpapar promosi suplemen ergogenik. Sumber keterpaparan promosi suplemen ergogenik bermacam-macam, seperti pelatih, teman, televisi, dokter spesialis olahraga, poster/pamphlet, majalah, internet, dan lain-lain.
Tabel 4.10 Distribusi Keterpaparan Promosi Suplemen Ergogenik Responden terhadap Konsumsi Suplemen Ergogenik
No. Keterpaparan Promosi Konsumsi Total pernah terpapar promosi suplemen ergogenik dan tidak mengonsumsi suplemen ergogenik yaitu sebanyak 44 orang (56,4%) responden.
Tabel 4.11 Distribusi Responden berdasarkan Sumber Keterpaparan Promosi Suplemen Ergogenik
No. Sumber Keterpaparan Promosi Jumlah (%)
1. Pelatih 15 6,7
* = responden boleh memilih lebih dari satu jawaban
Tabel 4.11 reponden paling banyak terpapar promosi suplemen ergogenik dari internet yaitu sebanyak 65 orang (29,1%), kemudian disusul dari televisi yaitu sebanyak 53 orang (23,8%). Sumber keterpaparan promosi paling sedikit yaitu lain-lain seperti jurnal yaitu 3 orang (1,3%).
Tabel 4.12 Distribusi Responden berdasarkan Sumber Memperoleh Suplemen Ergogenik
Hasil penelitian yang disajikan pada tabel 4.12 di atas menunjukkan bahwa paling banyak responden membeli suplemen ergogenik di Fitness Center yaitu sebanyak 29 orang (63,0%), kemudian 10 orang (21,8%) responden yang membeli di Supermarket. Tidak ada responden yang membeli suplemen ergogenik di Apotek.
Tabel 4.13 Distribusi Responden berdasarkan Faktor yang Mempengaruhinya dalam Memilih Suplemen Ergogenik
No. Faktor Jumlah (%)
* = responden boleh memilih lebih dari satu jawaban
Berdasarkan tabel 4.13 didapatkan bahwa faktor terbanyak yang mempengaruhi responden dalam memilih suplemen ergogenik adalah
rekomendasi yaitu sebanyak 26 orang (60,5%). Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, mereka mengakui rekomendasi dari teman mempengaruhi mereka dalam memilih suplemen.
4.6 Ukuran Lingkar Otot Lengan Atas (LOLA)
Tabel 4.14 Distribusi Responden berdasarkan Kategori Ukuran Lingkar Otot Lengan Atasnya
Hasil penelitian yang ditampilkan pada tabel 4.14 tersebut menunjukkan bahwa ukuran Lingkar Otot Lengan Atas (LOLA) terbanyak berada pada kategori normal yaitu sebanyak 40 orang (40%).
Tabel 4.15 Distribusi LOLA Responden berdasarkan Konsumsi Suplemen Ergogenik
Pada tabel 4.15 didapatkan bahwa ada 23 orang (35,4%) responden yang tidak mengonsumsi suplemen ergogenik memiliki LOLA dibawah normal.
Tabel 4.16 Distribusi LOLA Responden berdasarkan Frekuensi Konsumsi Suplemen Ergogenik
Hasil penelitian yang ditunjukkan pada tabel 4.16 ditemukan bahwa ada 13 orang (54,2%) responden mengonsumsi suplemen ergogenik setiap hari memiliki LOLA normal. Berdasarkan lama konsumsi suplemen ergogenik didapatkan hasil bahwa paling banyak responden mengonsumsi suplemen ergogenik selama hitungan bulan memiliki LOLA normal, yaitu sebanyak 14 orang (58,3%) responden. Sedangkan berdasarkan banyak jenis produk suplemen yang
dikonsumsi ditemukan bahwa sebagian besar responden mengonsumsi satu jenis produk suplemen dan memiliki LOLA normal, yaitu sebanyak 12 orang (50,0%) responden.
PEMBAHASAN 5. 1 Konsumsi Suplemen Ergogenik
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa lebih banyak peserta fitness yang tidak mengonsumsi suplemen ergogenik yaitu 65 orang (65%). Mereka tidak mengonsumsi suplemen ergogenik sebagian besar karena mereka takut efek sampingnya yaitu sebanyak 53 orang (65,4%). Sebagian besar peserta fitness yang mengonsumsi suplemen ergogenik mengonsumsi satu jenis produk suplemen ergogenik setiap hari yaitu 24 orang (68,6%). Padahal mereka hanya melakukan latihan selama 3 sampai 4 kali seminggu dengan durasi latihan 30 menit hingga 60 menit setiap latihan.
Jenis produk suplemen ergogenik yang paling banyak dikonsumsi peserta fitness adalah Mutant Whey dan Ultra Ripped. Mutant Whey setiap sajiannya memiliki kandungan kalori 140, protein sebanyak 22 gram, lemak 3 gram, kolesterol 30 mg, sodium 70 mg, potassium 110 mg, karbohidrat 5 gram, kalsium, zat besi, Alanin, arginin, asam aspartik, sistin, asam glutamate dan glutamin, glisin, histidin, isoleusin, leusin, lisin, methionin, L-fenilalanin, L-prolin, L-serin, L-treonin, L-triptofan, L-tirosin, dan L-valin.
Sedangkan Ultra Ripped setiap sajiannya memiliki kandungan Yerba Mate (daun Liex paraguarian), Guarana (ekstrak biji yang mengandung caffeine 20%), Cayenne Papper (Capsium Annum), Bitter Orange, ekstrak buah Citrus aurantium, ekstrak daun teh hijau, White willow, Gelatin, selulosa, dicalsium phosphate, dan magnesium stearate.
Pada suplemen ergogenik yang dikonsumsi peserta fitness terdapat kandungan protein sebesar 22 gram. Hal ini berarti peserta fitness yang mengonsumsi suplemen ergogenik memperoleh sumbangan protein 22 gram dari suplemen atau 44% kebutuhan protein harian peserta fitness sudah terpenuhi dari suplemen ergogenik tersebut. Namun berdasarkan hasil penelitian ini, mereka yang mengonsumsi suplemen ergogenik juga memiliki pola makan yang baik, sehingga pemenuhan zat gizi harian mereka terpenuhi dari makanan mereka sehari-hari tanpa harus mengonsumsi suplemen ergogenik. Makanan yang paling sering dikonsumsi peserta fitness yaitu dada ayam. Peserta fitness mengonsumsi dada ayam minimal 3 kali sehari. Dada ayam merupakan daging ayam yang paling rendah kadar lemaknya dibandingkan bagian daging ayam yang lain. Dengan demikian, mereka yang mengonsumsi suplemen ergogenik dikhawatirkan telah mengonsumsi protein dalam jumlah yang berlebih. Namun keterbatasan dalam penelitian ini tidak melihat konsumsi makanan peserta fitness secara kuantitas hanya melihat frekuensi makanan yang mereka makan, sehingga banyak protein yang dikonsumsi peserta fitness belum tergambar dengan tepat.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sari (2013) menunjukkan bahwa lebih banyak peserta fitness yang tidak mengonsumsi suplemen ergogenik dan alasan terbesar peserta fitness mengonsumsi suplemen protein adalah untuk meningkatkan massa otot. Penelitian yang dilakukan Bianco et al (2014) juga menunjukkan hasil yang serupa, bahwa lebih banyak peserta fitness yang tidak mengonsumsi suplemen ergogenik dibandingkan dengan yang mengonsumsi suplemen ergogenik.. Suplemen ergogenik yang sebagian besar mengandung
protein asam amino. Protein asam amino terbukti dalam membentuk dan memperbesar massa otot. Namun, sumber protein yang terbaik tetaplah dari bahan makanan yang beragam dan seimbang. Selain mengonsumsi makanan seimbang, untuk meningkatkan massa otot juga dibutuhkan latihan beban yang rutin dan teratur.
Protein terbukti mampu meningkatkan massa otot. Namun, mengonsumsi protein dalam jumlah berlebih tetap tidak memberi manfaat bagi tubuh.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nabella (2011) terhadap bodybuilder yang telah mengkonsumsi makanan tinggi protein minimal selama 5 tahun, terdapat hubungan antara konsumsi protein dengan kadar kreatinin dalam darah, dimana mereka yang memiliki kadar kreatinin yang tinggi merupakan mereka yang mengonsumsi protein tinggi lebih dari 5 tahun. Kadar kreatinin dalam darah mengindikasikan kegagalan kerja ginjal.
Suplemen ergogenik yang dikonsumsi peserta fitness tidak hanya yang mengandung protein tinggi tetapi mereka juga mengonsumsi suplemen ergogenik
Suplemen ergogenik yang dikonsumsi peserta fitness tidak hanya yang mengandung protein tinggi tetapi mereka juga mengonsumsi suplemen ergogenik