LINGKAR OTOT LENGAN ATAS PADA PESERTA FITNESS CENTER MEDAN SEHAT TAHUN 2016
SKRIPSI
Oleh :
FESTIANA EFENDI NIM. 121000509
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2017
MEDAN SEHAT TAHUN 2016
Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat
Oleh :
FESTIANA EFENDI NIM. 121000509
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2017
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul
“Gambaran Konsumsi Suplemen Ergogenik dan Ukuran Lingkar Otot Lengan Atas pada Peserta Fitness Center Medan Sehat Tahun 2016” ini beserta seluruh isinya adalah benar karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini saya siap apabila kemungkinan ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini atau klaim dari pihak lain terhadap karya saya ini.
Medan, Desember 2016
Festiana Efendi
Suplemen ergogenik biasanya hanya dikonsumsi oleh atlet dan penggunaannya pun terbatas. Namun, saat ini tidak hanya dikonsumsi oleh atlet, tetapi juga mulai dikonsumsi peserta fitness karena ingin meningkatkan massa otot mereka dengan cepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran konsumsi suplemen ergogenik dan ukuran Lingkar Otot Lengan Atas (LOLA) pada peserta fitness center Medan Sehat.
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain cross sectional. Metode yang digunakan yaitu metode survei dengan mewawancarai responden secara langsung menggunakan kuesioner dan melakukan pengukuran LOLA dengan mengukur tebal lemak trisep dan LiLA responden. Total responden 100 peserta dari 130 peserta fitness center Medan Sehat yang dipilih dengan purposive sampling dengan kriteria berusia dewasa 18 sampai 60 tahun, telah mengikuti fitness minimal selama 1 bulan, bersedia menjadi responden dan dapat berkomunikasi dengan baik, dan tidak dalam keadaan sakit.
Hasil penelitian menunjukkan dari 100 peserta fitness yang menjadi responden pada penelitian ini, lebih banyak yang tidak mengonsumsi suplemen ergogenik yaitu 65 orang (65%) sedangkan yang mengonsumsi suplemen ergogenik hanya 35 orang (35%). Responden yang mengonsumsi suplemen ergogenik, paling banyak mereka mengonsumsinya setiap hari yaitu sebanyak 24 orang (68,6%). Terdapat 23 orang (35,4%) responden yang tidak mengonsumsi suplemen ergogenik memiliki LOLA dibawah normal.
Penggunaan suplemen ergogenik pada peserta fitness tidak diperlukan karena frekuensi dan lama latihan mereka belum terlalu berat sehingga pemenuhan zat gizi masih bisa dipenuhi dari asupan makanan sehari-hari. Peserta fitness sebaiknya mempertimbangkan penting tidaknya mengonsumsi suplemen ergogenik.
Kata kunci: Suplemen Ergogenik, LOLA, Peserta Fitness
Ergogenic supplements are usually only consumed by athletes and its use is limited. However, this time not only consumed by athletes, but also began to be consumed by fitness participants because they want to increase their muscle mass quickly. The purpose of this study is to describe the consumption of ergogenic supplements and Mid Upper Arm Muscle Circumference (MUAMC) of Medan Sehat fitness center’s participants.
This research was a descriptive with cross sectional design. The method was used is the survey method by interviewing respondents directly using a questionnaire and MUAMC measurements by measuring the triceps thickness and MUAC respondents. Total respondents are 100 participants from 130 Medan Sehat fitness center’s participants which is selected by purposive sampling with criteria such as adults aged 18 until 60 years, have followed fitness for a minimum of 1 month, willing to become respondents and can communicate well, and not ill.
The results showed 100 fitness participants who are respondents in this study, more respondents who did not take ergogenic supplements that 65 people (65%) compared to respondents who take ergogenic supplements only 35 people (35%). Respondents who take ergogenic supplements, most of them take ergogenic supplements every day as many as 24 people (68.6%). There are 23 people (35.4%) of respondents who did not take ergogenic supplements has below normal MUAMC.
The use of ergogenic supplements of the fitness of participants is not required because their frequency and duration of exercise are not too heavy so that the fulfillment of nutrients can still be met from daily food intake. Fitness participants should consider whether taking ergogenic supplements important.
Keywords: Ergogenic Supplements, MUAMC, Fitness Participant
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT karena berkah dan rahmadNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul
“Gambaran Konsumsi Suplemen Ergogenik dan Ukuran Lingkar Otot Lengan Atas pada Peserta Fitness Center Medan Sehat Tahun 2016”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat yang ditetapkan untuk dapat meraih gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Universitas Sumatera Utara.
Selama masa perkuliahan hingga selesainya Skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Dengan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara.
3. Prof. Dr. Ir. Albiner Siagian, M.Si selaku ketua Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat FKM USU.
4. Arfah Mardiana Lubis, S.Psi, M.Psi selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan masukan, saran selama bimbingan akademik.
5. Prof. Dr. Ir. Evawany Y Aritonang,M.S selaku Dosen Pembimbing I yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya dalam memberi petunjuk, saran, dan bimbingan kepada penulis sehingga skripsi ini
telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya dalam memberi petunjuk, saran, dan bimbingan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
7. Dra. Jumirah, Apt, M.Kes selaku Dosen Penguji I yang telah memberi saran dan masukan dalam penyelesaikan skripsi ini.
8. Ir. Etti Sudaryati, M.K.M, Ph.D selaku Dosen Penguji II yang telah memberi saran dan masukan dalam penyelesaikan skripsi ini.
9. Seluruh dosen yang telah memberikan pengajaran selama masa perkuliahan di FKM USU
10. Staff administrasi dan staff departemen Kesehatan Lingkungan FKM USU.
11. Pengasuh Fitness Center Medan Sehat, dr. Muhammad Agus Wibowo yang telah memberikan izin serta banyak memberikan bantuan dalam penelitian ini dan Dewi Sari Lubis yang juga banyak membantu proses penelitian ini.
12. Orang tua penulis, Ayahanda Joni Efendi dan Ibunda Afneli Harun, adik-adik tersayang Ega Lutfi Efendi dan Hamdi Nugraha Efendi yang telah memberikan dukungan baik moril ataupun materil sekaligus inspirasi kepada penulis.
13. Sahabat terbaik, Tryani Walnizam, SKM., Bledina Gentini, SKM., Arrahim Ali Purnama, SKM., Qonita Lutfia, SKM., Robekka Simamora, SKM., Mustika Wulandari, SKM., Sri Bintang Sinaga,
SE., Asnah, SKM., Destriana Annisa, SKM., Debora Pakpahan, SKM., Nisa Abdina Siregar, SKM., Indah Ari Thrisni, SKM., dan Siti Aisyah Rahmi, SKM yang telah memberikan inspirasi dan motivasi kepada penulis.
14. Teman-teman dari Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat 2012 untuk kebersamaan selama perkuliahan dan proses skripsi ini.
15. Teman-teman dari kelompok Praktik Belajar Lapangan Desa Mulawari (Faris, Amriza,,Vicky, Mirna, Egi, dan Sheyla) dan teman-teman Latihan Kerja Peminatan Dinas Kesehatan Kota Medan (Widya, Vicky, dan Nia)
Penulis menyadari bahwa Skripsi ini jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang bertujuan untuk menyempurnakan dan memperkaya kajian skripsi ini. Akhir kata penulis berharap Skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Medan, Desember 2016
Festiana Efendi
Halaman
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
ABSTRAK ... iii
ABSTRACT ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 7
1.3 Tujuan Kegiatan ... 7
1.4 Manfaat Kegiatan ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1 Bantuan Ergogenik ... 9
2.2 Suplemen Ergogenik ... 9
2.2.1 Zat-Zat Gizi dalam Suplemen Ergogenik ... 11
2.2.2 Dampak Konsumsi Suplemen Ergogenik ... 18
2.3 Fitness ... 20
2.3.1 Olahraga Teratur ... 21
2.3.2 Nutrisi Teratur ... 22
2.3.3 Istirahat Teratur ... 23
2.4 Kebutuhan Zat Gizi ... 23
2.5 Konsumsi Suplemen Ergogenik ... 25
2.5.1 Frekuensi Konsumsi Suplemen Ergogenik ... 25
2.5.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Suplemen Ergogenik ... 26
2.6 Otot Rangka ... 28
2.7 Ukuran Lingkar Otot Lengan Atas (LOLA) ... 30
2.8 Kerangka Konsep ... 32
BAB III METODE PENELITIAN ... 34
3.1 Jenis Penelitian ... 34
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 34
3.3 Populasi dan Sample ... 34
3.4 Metode Pengumpulan Data ... 35
3.5 Definisi Operasional ... 36
3.6 Metode Pengukuran ... 36
3.7 Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 40
4.2 Gambaran Karakteristik Responden ... 43
4.3 Konsumsi Suplemen Ergogenik ... 44
4.4 Pengetahuan Gizi tentang Suplemen Ergogenik ... 48
4.5 Keterpaparan Promosi Suplemen Ergogenik ... 49
4.6 Ukuran Lingkar Otot Lengan Atas ... 51
BAB V PEMBAHASAN ... 54
5.1 Konsumsi Suplemen Ergogenik ... 54
5.2 Ukuran Lingkar Otot Lengan Atas (LOLA)... 60
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 63
6.1 Kesimpulan ... 63
6.2 Saran ... 63 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1 Lembar Kuesioner
LAMPIRAN 2 Surat Permohonan Izin Penelitian LAMPIRAN 3 Surat Balasan Izin Penelitian LAMPIRAN 4 Master Data
LAMPIRAN 5 Output Data
LAMPIRAN 6 Dokumentasi Penelitian
Halaman Tabel 2.1 Persentil Lingkat Otot Lengan Atas untuk Laki-Laki dan
Perempuan (18 sampai 74 tahun) ... 32 Tabel 4.1 Data Karakteristik Responden ... 43 Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Konsumsi Suplemen
Ergogenik ... 44 Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Alasan Mengonsumsi
Suplemen Ergogenik ... 45 Tabel 4.4 Karakteristik Responden yang Mengonsumsi Suplemen
Ergogenik ... 46 Tabel 4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Frekuensi Konsumsi
Suplemen Ergogenik ... 47 Tabel 4.6 Distribusi Responden Berdasarkan Banyak Jenis Produk
Suplemen Ergogenik yang Dikonsumsi ... 47 Tabel 4.7 Distribusi Tingkat Pengetahuan Responden tentang Suplemen
Ergogenik ... 48 Tabel 4.8 Distribusi Tingkat Pengetahuan Gizi Responden tentang
Suplemen Ergogenik dan Konsumsi Suplemen Ergogenik ... 48 Tabel 4.9 Distribusi Responden Berdasarkan Keterpaparan Promosi
Suplemen Ergogenik ... 49 Tabel 4.10 Distribusi Keterpaparan Promosi Suplemen Ergogenik
Responden terhadap Konsumsi Suplemen Ergogenik ... 50 Tabel 4.11 Distribusi Responden berdasarkan Sumber Keterpaparan
Promosi Suplemen Ergogenik ... 50 Tabel 4.12 Distribusi Responden berdasarkan Sumber Memperoleh
Suplemen Ergogenik ... 50
Mempengaruhinya dalam Memilih Suplemen Ergogenik 51 Tabel 4.14 Distribusi Responden berdasarkan Kategori Ukuran Lingkar
Otot Lengan Atasnya 51 Tabel 4.15 Distribusi LOLA Responden berdasarkan Konsumsi Suplemen
Ergogenik 52 Tabel 4.16 Distribusi LOLA Responden berdasarkan Frekuensi Konsumsi
Suplemen Ergogenik 52
Halaman
Gambar 2.1 Salah Satu Contoh Suplemen Ergogenik ... 10
Gambar 2.2 Contoh Suplemen Ergogenik beserta Kandungan Gizinya ... 16
Gambar 2.3 Contoh Suplemen Ergogenik yang Mengandung Kafein ... 17
Gambar 2.4 Gambaran Umum mengenai Fitness ... 21
Gambar 2.5 Kerangka Konsep Penelitian ... 33
Nama : Festiana Efendi
Tempat Lahir : Padang
Tanggal Lahir : 09 November 1993
Suku Bangsa : Minang
Agama : Islam
Nama Ayah : Joni Efendi
Suku Bangsa : Minang
Nama Ibu : Afneli Harun
Suku Bangsa : Minang
Pendidikan Formal
1. TK/Tamatan Tahun : TK Aisyiyah Bustanul Athfal Kurai Taji/2001 2. SD/ Tamatan Tahun : SDN 01 Kurai Taji/ 2006
3. SMP/ Tamatan Tahun : MTsN Model Padusunan Pariaman/ 2009 4. SMA/ Tamatan Tahun : SMA N 1 Pariaman/ 2012
5. Lama studi di FKM USU : 2012 – 2016
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Kebugaran merupakan hal yang semakin digemari oleh setiap orang.
Untuk memperoleh kebugaran mereka mengikuti fitness di berbagai fitness center yang ada di kota-kota mereka. Tujuan mereka mengikuti fitness tidak hanya untuk mendapatkan kebugaran, tetapi juga untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal bagi pria dan wanita. Tubuh kekar dan berotot merupakan tubuh yang ideal bagi pria dan tubuh langsing merupakan tubuh yang ideal bagi wanita. Selain mengikuti fitness, untuk memperoleh kebugaran serta membantu pembentukan tubuh ideal ini, mereka rela mengkonsumsi suplemen makanan yang bersifat ergogenik atau juga disebut suplemen ergogenik.
Suplemen ergogenik biasanya dikonsumsi oleh atlet yang penggunaannya pun terbatas. Namun, saat ini tidak hanya dikonsumsi oleh atlet, tetapi juga mulai dikonsumsi peserta fitness. Pada atlet sendiri penggunaan suplemen ini biasanya tidak didukung oleh para pakar gizi, pakar olahraga dan tim kesehatan lainnya kecuali telah dilakukan percobaan ilmiah yang terdokumentasi memberikan efek ergogenik yang signifikan (Kementrian Kesehatan RI, 2014).
Menurut Kementrian Kesehatan RI (2014), suplemen ergogenik merupakan suplemen makanan yang berisi zat- zat gizi atau komponen makanan lain dalam jumlah lebih besar dibandingkan dengan tingkat kebutuhan gizi per hari yang dapat meningkatkan kapasitas fisik untuk memberikan keunggulan yang
kompetitif pada atlet. Suplemen ini ditujukan untuk memberikan pengaruh langsung ergogenik pada prestasi olahraga.
Contoh suplemen ergogenik yaitu: vitamin, asam amino, bubuk protein, kafein, karnitin, gamma-oryzanol (ester ferulate yang ditemukan dari minyak beras merah), dan ginseng, bee follen ( serbuk sari bunga yang bercampur dengan madu), karbohidrat (maltosa, sukrosa, glukosa polimer, fruktosa), creatine monohydrate, Medium Chain Triglyseride (MCT), Omega bikarbonat, gliserol, ginseng, kafein dan lain-lain (Kementrian Kesehatan RI, 2014). Dengan demikian, semua suplemen makanan merupakan suplemen ergogenik. Hingga saat ini klaim ergogenik dari suplemen makanan masih perlu dibuktikan kebenarannya.
Bukti klaim ergogenik dari setiap suplemen ergogenik masih terus diteliti.
Efek ergogenik untuk vitamin dan mineral bergantung pada kondisi tubuh seseorang. Berdasarkan penelitian Kreider et al (2010), disimpulkan bahwa suplementasi seng selama latihan mempengaruhi fungsi imun atlet sehingga meningkatkan kebugaran. Suplementasi vitamin C dan E selama latihan terbukti meningkatkan sistem imun sehingga mempengaruhi performa. Dengan demikian, jika dikonsumsi pada saat kondisi tubuh tidak kekurangan vitamin dan mineral hanya akan membuat kelebihan asupan vitamin dan mineral sehingga memperberat kerja ginjal dan hati (Yuliarti, 2009).
Berdasarkan pendapat Helms, Alan, dan Peter (2014), disimpulkan bahwa dari beberapa suplemen ergogenik, seperti Creatine monohidrat, kafein dan beta- alanin, terbukti memberikan efek yang relevan dalam pembentukan otot namun tetap diperlukan penelitian lebih lanjut tentang efek penggunaannya dalam jangka
panjang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Luiking et.al (2014), dinyatakan bahwa suplemen protein whey memiliki efek jangka panjang yang bagus untuk fungsi dan massa otot pada orang usia lanjut, namun diperlukan penelitian lebih lanjut.
Pada penelitian yang dilakukan Setiawan dan Hardian (2010), tentang pengaruh pemberian tablet asam amino terhadap kelelahan otot, didapatkan hasil bahwa kelompok perlakuan yang diberikan latihan berat dan asam amino memiliki nilai rerata VO2Max lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol yang hanya diberi latihan berat tanpa tambahan asam amino. VO2Max merupakan parameter untuk kelehan otot secara aerobik. Hal ini terjadi karena dalam suplemen asam amino terkandung leusin, isoleusin, dan valin yang berperan penting dalam kontraksi otot dan membantu mencegah katabolime protein akibat menurunnya kadar glikogen di otot.
Efek suplemen terlihat berdasarkan jenis, frekuensi, dan lama penggunaannya. Frekuensi konsumsi suplemen berkaitan dengan jumlah dosis dan waktu mengonsumsi suplemen seperti sebelum latihan, setelah latihan, dan saat latihan. Dalam program pembentukan otot, leusin merupakan asam amino yang menstimulasi sintetis protein. Namun, leusin harus bersama valin dan isoleusin agar tidak terjadi penipisan plasma sehingga otot terbentuk (Helms et al, 2014).
Penggunaan ketiga asam amino ini sebelum dan setelah latihan dapat meningkatkan massa otot dan mencegah kelelahan otot. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Stoppani et al (2009), didapatkan hasil bahwa atlet yang diberi 14 gram BCAA selama delapan minggu latihan kekuatan rutin mengalami
peningkatan massa otot 4 kg, penurunan lemak tubuh sebanyak 2%. Penelitian ini memerlukan penelitian lebih lanjut tentang dampaknya di jangka panjang.
Penggunaan suplemen protein dalam jumlah yang tidak sesuai anjuran atau berlebih mengakibatkan kelebihan asupan protein sehingga memperberat kerja ginjal. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Nabella (2011) terhadap bodybuilder yang telah mengkonsumsi makanan tinggi protein minimal selama 5 tahun, terdapat hubungan antara konsumsi protein dengan kadar kreatinin dalam darah, dimana kadar kreatinin dalam darah mengindikasikan kegagalan kerja ginjal. Namun penelitian itu terbatas pada sulitnya diketahui apakah subjek penelitian memiliki riwayat penyakit ginjal atau tidak.
Antonie et.al (2014) didapatkan hasil bahwa mengonsumsi makanan tinggi protein tidak memiliki efek terhadap peningkatan lemak tubuh, tetapi meningkatkan massa otot dalam jangka pendek, namun penelitian tersebut tidak meneliti apakah ada efek samping terhadap tekanan darah serta gangguan fungsi hati sehingga perlu penelitian lebih lanjut. Berdasarkan penelitian terbaru Antoni et.al (2016), didapatkan hasil bahwa tidak terdapat efek buruk pada konsumsi protein tinggi (>3 g/kg/hari) selama empat bulan terhadap tekanan darah maupun fungsi ginjal. Namun penelitian ini masih terbatas hanya pada efek penggunaan jangka pendek sehingga perlu diteliti lebih lanjut dampak penggunaan jangka panjang.
Berdasarkan pendapat para ahli (Kreider et al, 2010; dan Potgieter, 2013), diungkapkan bahwa seseorang individu bukan atlet yang melakukan fitness 3-4 kali seminggu dengan durasi 30 sampai 60 menit setiap latihan sebenarnya
memiliki kebutuhan gizi yang sama seperti kebutuhan gizi orang-orang pada umumnya. Pemenuhan kebutuhan gizi terbaik tetaplah dari sumber makanan alami (Rai, 2009). Dengan demikian, pemenuhan zat gizi individu bukan atlet yang melakukan fitness masih bisa dipenuhi dari bahan makanan tanpa harus mengonsumsi suplemen ergogenik.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sari (2013) pada anggota fitness centre Syahida Inn UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ditemukan bahwa 48,7% anggota fitness mengkonsumsi suplemen asam amino. Penelitian yang dilakukan oleh Hidayah dan Sugiarto (2013) tentang studi kasus konsumsi suplemen pada member fitness center di kota Yogyakarta ditemukan bahwa 66,6% member fitness mengonsumsi suplemen amino, susu high protein dan keratin yang mana suplemen-suplemen ini termasuk jenis suplemen ergogenik.
Alasan mereka mengonsumsi suplemen adalah untuk meningkatkan massa otot (59,9%), menjaga kesehatan (26,7%), meningkatkan kebugaran (6,7%), dan mendukung program diet (6,7%).
Peningkatan massa otot mengakibatkan ukuran otot menjadi lebih besar.
Pengukuran otot ini dapat diamati dari ukuran Lingkar Otot Lengan Atas (Frisancho dalam Ferdian, 2010). Pengukuran Lingkar Otot Lengan Atas dilakukan untuk menghitung massa otot total dalam tubuh (Gibson, 2005).
Perubahan gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat di Indonesia juga menyebabkan peningkatan peredaran dan penggunaan suplemen makanan.
Namun, pemerintah masih kesulitan dalam mengawasi peredaran suplemen karena perkembangan teknologi yang cepat sehingga untuk memperoleh suplemen ini
semakin mudah dan sulit untuk dikendalikan. Masyarakat harus dilindungi dari suplemen makanan yang tidak memenuhi persyaratan mutu, keamanan, dan kemanfaatan serta dari risiko penggunaan yang tidak aman, tidak tepat, dan tidak rasional (BPOM RI 2004).
Penggunaan suplemen ergogenik yang tidak tepat dan tidak rasional dapat menyebabkan berbagai keluhan. Berdasarkan Kementrian Kesehatan RI (2014), penggunaan asam amino, bubuk protein dan karnitin dalam dosis tinggi dapat menyebabkan efek samping mual hingga kerusakan ginjal. Selain itu, minuman energi yang mengandung natrium dan kalium yang berlebihan akan mengganggu kontraksi otot seperti kejang otot atau cramp otot hingga berisiko tinggi mengalami hipertensi. Penggunaan suplemen ergogenik yang mengandung tinggi protein dapat menyebabkan reaksi alergi terhadap seseorang yang memiliki alergi terhadap bahan makanan tertentu (Yuliarti, 2009).
Penggunaan suplemen ergogenik yang dianjurkan oleh International Society Of Sport Nutrition (ISSN) adalah mengikuti dosis pada kemasan dan disesuaikan dengan waktu latihan, yaitu sebelum latihan, saat sedang latihan, dan setelah latihan. Jika mengonsumsi suplemen ergogenik melebihi aturan harus dikonsultasikan pada dokter atau ahli gizi olahraga. Dengan demikian, seseorang bukan atlet yang mengikuti fitness yang hanya mengikuti latihan 3-4 kali per minggu tidak perlu mengonsumsi suplemen ergogenik setiap hari.
Berdasarkan survei awal terhadap 30 orang peserta fitness center Medan Sehat yang terdiri dari 21 orang laki-laki dan 9 orang perempuan, ada 29 orang yang mengonsumsi suplemen ergogenik minimal 1 jenis dalam satu bulan
terakhir. Dari yang mengonsumsi suplemen ergogenik tersebut, terdapat 23 peserta yang mengonsumsi suplemen ergogenik setiap hari, dan dari 23 peserta tersebut terdapat 9 peserta yang mengonsumsi suplemen ergogenik lebih dari 1 jenis setiap hari. Selain itu, 20 orang peserta yang terdiri dari laki-laki maupun perempuan mengaku merasakan manfaat suplemen ergogenik ini terhadap peningkatan massa otot mereka. Dari hasil ini terlihat bahwa, peningkatan massa otot tidak hanya diharapkan oleh laki-laki, namun juga diharapkan oleh perempuan. Pemilik fitness center ini merupakan seorang dokter umum yang sekaligus sebagai pelatih serta diet konsultan di fitness ini. Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik meneliti tentang gambaran konsumsi suplemen ergogenik dan ukuran lingkar otot lengan atas pada peserta fitness center Medan Sehat.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi rumusan masalah adalah bagaimana gambaran konsumsi suplemen ergogenik dan ukuran lingkar otot lengan atas pada peserta fitness center Medan Sehat tahun 2016.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran konsumsi suplemen ergogenik dan ukuran lingkar otot lengan atas pada peserta fitness center Medan Sehat tahun 2016.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi peserta fitness dalam mempertimbangkan penting tidaknya menggunakan suplemen ergogenik serta menginformasikan cara sederhana mengukur otot dengan ukuran
lingkar lengan atas dan tricep skin fold. Selain itu bagi pengelola fitness dapat bermanfaat sebagai informasi dan pedoman tentang perekomendasian suplemen ergogenik pada pesertanya.
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bantuan Ergogenik
Bantuan Ergogenik merupakan sesuatu substansi, alat, peosedur yang dapat meningkatkan kapasitas kerja otot dan meningkatkan performa atlet.
Ergogenik nutrisi merupakan bahan atau zat yang dapat meningkatkan kapasitas performa olahraga. Ergogenik nutrisi berupa nutrisi utama tubuh seperti cairan, karbohidrat, protein dan dapat juga berupa ekstrak bahan pangan seperti keratin yang biasanya terdapat pada ikan dan daging, atau kafein yang biasanya terdapat pada kopi, teh, dan coklat (Fatmah dan Yati,2011).
Hidayati (2015) mengungkapkan bahwa, zat ergogenik adalah zat atau nutrisi tertentu yang sebagian juga terdapat dalam makanan serta dapat mempengaruhi metabolisme yang pada akhirnya meningkatkan performa atlet dalam pertandingan. Beberapa terbukti baik, namun ada juga yang masih belum cukup bukti bahkan tidak terbukti sama sekali bisa membantu atlet.
Ergogenik nutrisi berbentuk suplemen makanan atau disebut juga suplemen ergogenik. Dari banyaknya jenis zat ergogenik yang dapat dipilih oleh seorang atlet, tidak semua zat yang ada secara ilmiah terbukti dapat meningkatkan performa olahraga sesuai dengan klaimnya (Fatmah dan Yati,2011).
2.2 Suplemen Ergogenik
Berdasarkan Kementrian Kesehatan RI (2014), disimpulkan bahwa suplemen ergogenik merupakan suplemen makanan yang berisi zat- zat gizi atau komponen makanan lain dalam jumlah lebih besar dibandingkan dengan tingkat
kebutuhan gizi per hari yang dapat meningkatkan kapasitas fisik untuk memberikan keunggulan yang kompetitif pada atlet. Suplemen ini ditujukan untuk memberikan pengaruh langsung pada prestasi olahraga. Penggunaan suplemen ini biasanya tidak didukung oleh para pakar gizi, pakar olahraga dan tim kesehatan lainnya kecuali telah dilakukan percobaan ilmiah yang terdokumentasi memberikan efek ergogenik yang signifikan.
Berdasarkan pendapat Mann dan A Stewart (2012), dikatakan bahwa suplemen ergogenik atau disebut juga bantuan ergogenik gizi yaitu produk yang menjanjikan manfaat langsung dan suprafisiologis terhadap kinerja olahraga.
Namun pada kenyataannya hingga saat ini belum semua suplemen ergogenik yang terbukti kebenaran klaimnya. Hingga saat ini masih terus diteliti tentang kebenaran klaim ergogenik suplemen tersebut.
Gambar 2.1 Salah satu contoh Suplemen Ergogenik
2.2.1 Zat –Zat Gizi dalam Suplemen Ergogenik
Berdasarkan Kementrian Kesehatan RI (2014), diungkapkan bahwa terdapat berbagai macam contoh suplemen ergogenik yaitu vitamin, asam amino, bubuk protein, kafein, karnitin, gamma-oryzanol (ester ferulate yang ditemukan dari minyak beras merah), dan ginseng, bee follen ( serbuk sari bunga yang bercampur dengan madu), inosine, karbohidrat (maltosa, sukrosa, glukosa polimer, fruktosa), creatine monohydrate, Medium Chain Triglyseride (MCT), Omega bikarbonat, gliserol, ginseng, kafein dan lain-lain. Namun, secara umum zat-zat gizi dalam suplemen ergogenik terdiri dari karbohidrat, vitamin, mineral, protein, dan zat-zat lain.
2.2.1.1 Karbohidrat
Pendapat Kobryner (2009) yang mengutip pendapat Chryssanthopoulos (2000), diungkapkan bahwa karbohidrat terbukti memiliki nilai ergogenik dalam meningkatkan ketahanan dan memperlambat kelelahan otot. Selain itu, Hidayati (2015) mengungkapkan bahwa karbohidrat selama olahraga berfungsi sebagai penghemat protein agar tidak diubah menjadi energi. Jika energi dari karbohidrat telah tepenuhi, maka protein akan digunakan untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan yang rusak.
Suplemen karbohidrat meliputi minuman olahraga, liquid meal, dan sport bars. Minuman olahraga cairan dan karbohidrat selama latihan dan setelah latihan membantu proses rehidrasi dan menurunkan kelelahan (Kreider et al, 1995 dalam Kobryner, 2009). Liquid meal ditambah dengan diet tinggi energi (selama latihan dan proses pembesaran tubuh) membantu proses pemulihan. Sport bars
merupakan karbohidrat terbaik selama latihan, membantu proses pemulihan setelah latihan. Semua faktor ini memiliki dampak positif bagi atlet dan efektif meningkatkan performa mereka (Kobryner, 2009).
2.2.1.2 Vitamin
Vitamin merupakan senyawa organik esensial yang berperan dalam proses metabolisme, sintesis energi, dan mencegah kerusakan sel. Secara umum, vitamin memiliki dampak bagi kesehatan, namun hanya sedikit vitamin yang benar-benar memilliki nilai ergogenik bagi atlet. Vitamin E dan C membantu proses oksidasi pada saat latihan dan meningkatkan kesehatan sistem imun selama latihan.
Vitamin memiliki sedikit nilai ergogenik bagi atlet yang memiliki aktivitas yang berat, namun konsumsi makanannya kurang.
Kreider et.al (2010) mengungkapkan bahwa, klaim-klaim nilai ergogenik pada masing-masing vitamin diuraikan sebagai berikut: (a) Vitamin A diklaim bermanfaat untuk kesehatan mata dan mencegah rabun senja; (b) Vitamin D diklaim membatu pertumbuhan tulang dan penyerapan mineral serta mencegah osteoporosis; (c) Vitamin E diklaim sebagai antioksidan, melindungi dari radikal bebas selama intensitas latihan, mencegah kerusakan sel darah merah, meningkatkan melacarkan oksigen ke otot selama latihan dan mencegah penyakit jantung; (d) Vitamin K diklaim penting dalam proses pembekuan darah dan mencegah kepadatan tulang pada wanita menopause; (e) Vitamin B1 diklaim berfungsi sebagai koenzim dalam metabolisme energi; (f) Vitamin B2 diklaim sebagai komponen utama dalam metabolisme energi dan mengikat energi selama metabolisme oksidatif; (g) Vitamin B3 diklaim sebagai komponen utama dalam
metabolisme energi, menekan peningkatan asam lemak selama latihan, menguraikan kolesterol, dan menigkatkan energi selama metabolisme oksidatif;
(h) Vitamin B6 diklaim untuk meningkatkan massa otot, kekuatan, dan kekuatan aerobik dalam asam laktat dan sistem oksigen dan juga diklaim memiliki efek untuk kekuatan mental; (i) Vitamin B12 diklaim sebagai koenzim yang berperan dalam produksi DNA dan serotonin untuk sintetis protein dan sel darah merah, meningkatkan massa otot, pembawa oksigen dalam darah, dan mengurangi kecemasan; (j) Asam folat diklaim berfungsi sebagai koenzim dalam penyusunan DNA dan sel darah merah, meningkatkan kadar sel darah merah sehingga penyauran oksigen ke otot selama latihan; (k) Asam pantotenik diklaim bekerja sebagai koenzim untuk asetil CoA yang bermanfaat pada sistem energi aerobik; (l) Betakaroten diklaim sebagai antioksidan dan membantu mengurangi kerusakan otot; (m) Vitamin C diklaim meningkatkan daya tahan tubuh, penyerapan zat besi, dan sebagai antioksidan serta metabolisme selama latihan.
Berdasarkan uraian tersebut, tidak semua suplemen vitamin terbukti nilai ergogeniknya. Suplemen vitamin terbukti memiliki nilai ergogenik hanya pada saat tubuh kekurangan vitamin tersebut. Sehingga, jika tubuh tidak dalam kondisi kekurangan vitamin, maka nilai ergogeniknya tidak akan terbukti. Selain itu, keamanan mengonsumsi suplemen vitamin dalam jangka panjang juga masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
2.2.1.3 Mineral
Mineral merupakan elemen anorganik esensial untuk proses-proses matabolik. Mineral berfungsi dalam struktur pembentukan jaringan, komponen
penting pada enzim dan hormon, regulator metabolik dan kontrol saraf. Nilai ergogenik mineral bagi atlet tergantung pada kondisi tubuhnya. Suplemen kalsium pada atlet yang mengalami osteoporosis dini membantu membentuk massa tulang.
Suplementasi zat besi bagi atlet yang mengalami anemia dapat meningkatkan kemampuan dan performa mereka.
Kreider et.al (2010) mengungkapkan bahwa, klaim-klaim nilai ergogenik pada masing-masing mineral diuraikan sebagai berikut: (a) Boron diklaim meningkatkan pertumbuhan otot selama latihan; (b) Kalsium diklaim membantu pertumbuhan tulang dan gigi, pembekuan darah, dan transmisi saraf serta merangsang metabolisme lemak; (c) Kromiun diklaim menurunkan kadar lemak tubuh; (d) Suplementasi zat besi diklaim meningkatkan penampilan aerobik pada olahraga yang membutuhkan sistem oksigen; (e) Magnesium diklaim mampu mengaktifkan enzim yang terlibat dalam sintesis protein dan diklaim meningkatkan metabolisme energi; (f) Fosfor diklaim mampu meningkatkan sistem energi, terutama sistem oksigen atau kapasitas aerobik; (g)Potassium diklaim sebagai elektrolit yang membantu menjaga keseimbangan cairan, transmisi saraf, dan keseimbangan asam-basa; (h) Selenium diklaim bekerja sama dengan vitamin E dan glutation peroxide, selenium menghancurkan pembentukan radikal bebas di lipid selama latihan aerobik; (i) Sodium diklaim sebagai elektrolit yang membantu menjaga keseimbangan cairan, transmisi saraf, dan keseimbangan asam-basa; (j) Vanadium diklaim terlibat dalam reaksi pembentukan insulin yang berefek terhadap metabolisme protein dan glukosa sehingga memperngaruhi
peningkatan massa otot dan meningkatkan daya tahan dan tenaga; (k) Seng diklaim berkaitan dengan imunitas dan enzim dalam pencernaan.
Berdasarkan uraian tersebut, tidak semua suplemen mineral terbukti nilai ergogeniknya. Hal ini memerlukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan kebenaran klaim tersebut. Selain itu, keamanan mengonsumsi suplemen mineral dalam jangka panjang juga masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
2.2.1.4 Protein
Fatmah dan Yati (2011) mengungkapkan bahwa, penggunaan suplemen ergogenik protein diklaim dapat mempercepat pembentukan dan pemulihan otot.
Pembuktian efek ergogenik pada suplemen ini menunjukkan hasil positif dalam pembentukan dan pemulihan otot. Namun, menurut pada ahli, Helms, Alan, dan Peter (2014) dan Luiking et.al (2014) dinyatakan bahwa keamanan mengonsumsi suplemen protein dalam jangka panjang masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Berdasarkan pendapat Fatmah dan Yati (2011) suplemen ergogenik protein yang sering digunakan terdiri dari beberapa jenis seperti Creatin; BCAA (Branched Chain AA) yang terdiri dari leusin, isoleusin, dan valin; L karnitin; L Glutamin; Asam amino dan Whey Protein. Creatin merupakan senyawa yang terbentuk dari asam amino glisin, arginin, dan methionin (Tokish et.al, 2007).
Creatine secara alami terdapat dalam ikan segar dan daging (Tokis et.al, 2007;
Fatmah dan Yati, 2011). L karnitin merupakan salah satu asam amino nonesensial yang mirip dengan vitamin dengan melindungi hati dari toksin. Sumber utama L karnitin adalah daging (Yuliarti, 2009). L glutamin merupakan asam amino nonesensial yang banyak beredar di dalam darah. Glutamin berfungsi mencegah
kerusakan mukosa dan memperbaiki kebocoran usus (Yuliarti, 2009). Whey protein merupakan protein susu yang telah terpisah dari kaseinnya (Williams dalam Ferdian, 2010).
Fatmah dan Yati (2011) mengungkapkan bahwa, klaim-klaim masing- masing protein tersebut sebagai berikut: (a) Creatin diklaim meningkatkan energi, meningkatkan kekuatan dan meningkatkan jumlah sel pada otot; (c) BCAA (Branched Chain Amino Acid) diklaim meningkatkan absorbsi asam amino 3 jam setelah makan diet tinggi protein; (d) L karnitin diklaim sebagai pembakar lemak dan meningkatkan konsentrasi oksigen; (e) L Glutamin diklaim sebagai anti katabolik dan meningkatkan konsentrasi hormon pertumbuhan; (f) Asam Amino diklaim meningkatkan pemulihan; dan (g) Whey Protein diklaim membentuk otot, meningkatkan sel satelit, dan membakar lemak.
Gambar 2.2 Contoh Suplemen ergogenik berserta kandungan gizinya 2.2.1.5 Zat-Zat Lainnya
Zat-zat yang diklaim sebagai zat ergogenik adalah Cafein,
Dari beberapa zat-zat tersebut, terdapat beberapa zat yang termasuk illegal penggunaannya bagi atlet, seperti Androstendione, DHEA, diuretic, dan HGH (Human Growth Hormone) (Munoz, 2008).
Cafein secara alami terdapat dalam kopi dan teh. Cafein diklaim memiliki efek meningkatkan metabolisme untuk jangka pendek (Fatmah dan Yati, 2011).
Androstendione diklaim memiliki efek ergogenik dalam pembentuk hormon testosterone, meningkatkan sintesis protein dalam otot (Munoz, 2008). DHEA (Dehydroepiandrosterone) diklaim sebagai perangsang pembentukan testosteron (Munoz, 2008). HGH (Human Growth Hormone) atau hormon pertumbuhan diklaim memiliki efek terhadap peningkatan massa otot (Tokish et al, 2007). Dari beberapa zat tersebut, kebenaran klaim masing-masing zat tersebut masih perlu penelitian lebih lanjut. Penggunaan hormon pertumbuhan sebaiknya dilakukan dengan pengawasan dokter (Yuliarti, 2009).
Gambar 2.3 Contoh Suplemen Ergogenik yang mengandung kafein
2.2.2 Dampak Konsumsi Suplemen Ergogenik
Suplemen makanan yang diklaim memiliki manfaat ergogenik perlu dievaluasi lebih lanjut baik mengenai keamanannya dikonsumsi dalam jangka panjang serta kebenaran dari klaim tersebut (Kreider, 2010). Para ahli, Tokish et al (2004), Helms et al (2014), Bianco et al (2014), Gabriels et al (2015) menyatakan bahwa hingga saat ini, keamanan suplemen ergogenik jika dikonsumsi untuk jangka panjang masih diperdebatkan dan membutuhkan penelitian lebih lanjut. Penggunaan suplemen yang tidak rasional memberi efek buruk bagi tubuh. Yuliarti (2009) mengungkapkan bahwa beberapa dampak negatif penggunaan suplemen makanan sebagai berikut:
a. Vitamin tertentu seperti terlalu banyak mengonsumsi vitamin C akan mengganggu penyerapan tembaga, yang meskipun dibutuhkan dalam jumlah sangat kecil, tetapi penting untuk mengatur susunan kimia dan kinerja tubuh. Kelebihan vitamin C akan dibuang melalui urin, namun tetap memperberat kerja organ yang menyaring dan menyerap serta membuangnya, seperti ginjal dan hati. Begitu juga dengan vitamin jenis lain, seperti vitamin A, D, E, dan K yang umumnya mengendap dalam tubuh dan dikhawatirkan mengganggu fungsi organ terutama hati dan ginjal. Kelebihan vitamin A, D, K, dan zat besi yang tidak dapat dibuang tubuh berbalik menjadi racun bagi tubuh.
b. Protein yang terdapat pada suplemen makanan bisa menimbulkan efek alergi bila dikonsumsi orang tertentu. Oleh karena itu, orang yang memiliki alergi bahan makanan tertentu hendaknya lebih berhati-hati
dalam mengonsumsi suplemen. Selain itu, kelebihan protein memperberat kerja hati dan ginjal untuk membuang nitrogen pada metabolisme asam amino. Selain itu, protein bukan energi yang siap pakai sehingga energi yang digunakan dalam proses metabolisme cukup besar dan membutuhkan waktu yang lama (Fatmah dan Yati,2011 dan Hidayati,2015).
c. Zat besi yang dikonsumsi berlebihan tidak baik untuk para penderita kelainan darah, seperti thalasemia. Oleh karena itu, penderita thalasemia hendaknya jangan mengonsumsi suplemen yang mengandung zat besi.
d. Konsumsi suplemen vitamin K pada orang yang tengah minum obat tertentu justru memperburuk keadaan.
e. Suplemen yang mengandung hormon tambahan dikhawatirkan malah bisa memicu gigantisme (tubuh menjadi sangat besar) dan gangguan seksual.
Jadi, berkonsultasi dahulu dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen yang mengandung hormon tambahan.
f. Suplemen antioksidan jika dikonsumsi berlebihan seperti vitamin A, E, dan beta karoten justru meningkatkan resiko kematian.
g. Suplemen vitamin D dikonsumsi secara berlebihan berbahaya bagi hati dan ginjal.
h. Suplemen berupa minuman berenergi dapat meningkatkan tekanan darah.
i. Suplemen yang mengandung fosfor jika dikonsumsi terlalu banyak akan menghambat penyerapan kalsium.
2.3 Fitness
Fitness adalah kata dari bahasa inggris yang artinya “kebugaran”, yaitu suatu kondisi tubuh yang sehat dan kuat. Aktivitas fitness terdiri dari 3 (tiga) elemen dasar, yaitu olahraga teratur, nutrisi teratur dan istirahat teratur (Rai (2009). Fitness merupakan kegiatan olahraga pembentukan otot-otot tubuh/fisik yang dilakukan secara rutin dan berkala, yang bertujuan untuk menjaga vitalitas tubuh dan berlatih disiplin. pendapat Liany yang dikutip Sari (2013), menyatakan bahwa fitness merupakan gaya hidup dengan tujuan sehat yang menggabungkan latihan (beban dan aerobik), pengaturan pola makan yang teratur dan istirahat.
Gaya hidup ini adalah landasan bagi tubuh yang sehat, kuat dan prima yang mampu melaksanakan tugasnya secara baik dan optimal. Bukan hanya itu, dalam wujud yang lebih disiplin dan terstruktur, fitness adalah metode dasar dan wajib yang telah dipakai oleh atlit seluruh cabang olahraga di dunia untuk menjadi lebih besar, lebih tinggi, dan lebih kuat. Gambaran umum mengenai Fitness menurut Rai, 2009 dapat dilihat seperti gambar 2.4 berikut:
Fitness
Olahraga Teratur Nutrisi Teratur Istirahat Teratur
Latihan Pengencangan
Sumber Kualitas
Otot
- Dengan Alat Cara penyajian Kuantitas
Bantu Jumlah Jenis
- Dengan tubuh Jadwal/Timing
sendiri
Latihan kardiovaskular
- Indoor
- Outdoor
- Terorganisasi
Manfaat:
Perbaikan komposisi tubuh, penampilan, dan kepercayaan diri
Peningkatan kekuatan dan stamina untuk berbagai tanggungjawab
dalam hidup
Pencegahan penuaan dini dan berbagai penyakit degenerative
Peningkatan daya tahan tubuh, kualitas dan usia harapan hidup
Penurunan kadar stress
Gambar 2.4 Gambaran Umum mengenai Fitness 2.3.1 Olahraga Teratur
Tubuh memiliki tiga jenis otot, dua diantaranya bisa dilatih dan diperkuat melalui olahraga teratur. Dua otot tersebut adalah otot rangka dan otot jantung.
Sementara otot yang tidak dilatih adalah otot halus seperti otot mata, gendang telinga, dan otot lambung (Rai, 2009).
a. Latihan Pengencangan Otot
Latihan pengencangan otot adalah latihan yang melatih otot rangka dengan memberikan beban secara berulang kali dan sistematis. Otot rangka adalah otot yang menempel pada rangka tubuh. Untuk melakukan latihan pengencangan ini, dapat menggunakan tubuh sendiri sebagai beban, maupun menggunakan alat bantu lainnya seperti dumbeell, barbell, maupun mesin.
b. Latihan Kardiovaskular
Latihan kardiovaskular adalah latihan yang melatih otot jantung (cardiac) dan paru-paru yang sering juga disebut sebagai aktivitas aerobik.
Jenis olahraga kardiovaskular bisa dilakukan secara outdoor dan indoor.
Outdoor meliputi jalan, jogging, berenang, bersepeda, dan beberapa olahraga permainan lainnya. Sedangkan Indoor meiliputi beberapa olahraga permainan, berenang, atau dengan alat bantu seperti treadmill, sepeda statis, dan lain-lain.
2.3.2 Nutrisi Teratur
Menurut Rai (2009) nutrisi teratur adalah komponen dimana terjadinya pengaruh pola makan sehari-hari. Nutrisi berperan sebagai bahan bakar untuk aktivitas juga sebagai bahan dasar untuk membangun kembali apa yang telah dirusak saat berolahraga. Beberapa hal yang diatur dalam makanan agar tubuh menjadi lebih sehat adalah sebagai berikut:
a. Sumber
Sumber makanan dalam bentuk mentahnya. Pemilihan ini mempertimbangkan kandungan gizi makanan. semakin tinggi kandungan gizi makanan dan manfaatnya untuk kesehatan, semakin baik dipakai dalam pola nutrisi teratur. Misalnya, dada ayam lebih baik daripada paha atau sayap, putih telur lebih baik daripada kuning telur, dan lain-lain.
b. Cara Penyajian
Cara memasak atau mengelola sumber makanan sebelum dimakan.
Semakin kecil terjadinya penambahan kalori pada saat pengolahan, semakin baik dalam pola nutrisi yang teratur. Direbus, dipanggang,
dikukus, dibakar/griller tanpa tambahan akan mendapatkan makanan lebih rendah kalori daripada digoreng dengan menggunakan alat bantu seperti minyak goreng, mentega, margarine, atau tepung-tepung.
c. Jumlah
Jumlah mengacu pada besaran porsi yang dikonsumsi dari setiap sumber makanan.
d. Jadwal/Timing
Jadwal/Timing mengacu pada berapa sering dan kapan waktu untuk mengkonsumsi makanan. Terutama adalah untuk mengatur dan mematuhi jadwal makanan atau dengan kata lain makan tepat waktu.
2.3.3 Istirahat Teratur
Istilah teratur merupakan komponen waktu yang diperlukan untuk proses pengolahan bahan bakar dan pembangunan kembali. Agar istirahat bisa teratur, prasyaratnya adalah:
a. Jenis, meliputi tidur malam, tidur siang, peregangan (stretching), mediasi, pijat (massage), dan lain-lain.
b. Kualitas, meliputi tingkat nyenyaknya tidur, faktor penunjang nyenyaknya tidur, seperti kebersihan tubuh dan alat tidur, kenyamanan, tingkat suara, cahaya, dan sirkulasi udara.
c. Kuantitas, meliputi jatah waktu atau porsi untuk masing-masing jenis.
2.4 Kebutuhan Zat Gizi
Berdasarkan pendapat Kreider et al (2010) dan Potgieter (2013), dijelaskan bahwa seseorang individu bukan atlet yang melakukan aktifitas fitness atau gym
yang melakukan latihan 3-4 kali seminggu dengan durasi 30 sampai 60 menit untuk setiap kali latihan biasanya memiliki beban kerja kurang dari atlet, sehingga kebutuhan gizi sehari-hari mereka sama seperti diet pada normalnya seperti untuk karbohidrat berkisar antara 3-5 g/kg BB/hari, protein berkisar antara 0,8-1 g/kg BB/hari, lemak berkisar antara 0,5-1,5 g/kg BB/hari, begitu juga dengan kebutuhan gizi lainnya. Namun, berdasarkan pendapat Fatmah dan Yati, 2009, dikatakan bahwa pada seseorang yang sedang dalam program pembentukan otot memiliki kebutuhan zat gizi yang lebih tinggi terutama yaitu protein berkisar antara 1,2-1,7 g/kg BB/hari dan tidak boleh lebih dari 2 g/kg BB/hari. Namun kebutuhan protein setiap orang berbeda-beda tergantung kepada intensitas latihan dan lama latihan.
Pada seseorang yang sedang dalam program pembentukan otot, tidak hanya protein yang menjadi kebutuhan gizinya, tetapi karbohidrat tetap menjadi sumber utama. Karbohidrat berfungsi untuk memperbesar cadangan glikogen karena otot harus didorong untuk melakukan latihan (Hidayati, 2015). Ketika energi dari karbohidrat terpenuhi, maka protein akan dihemat sehingga protein menjalani fungsi utamanya untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan yang rusak (Hidayati, 2015). Selain karbohidrat dan protein, lemak, vitamin, mineral dan air juga dibutuhkan untuk pembangunan tubuh.
Semua kebutuhan zat gizi seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air terdapat pada bahan makanan. Sumber makanan yang mengandung karbohidrat sederhana seperti gula, sirup, selai, permen, madu.
Sedangkan bahan makanan yang mengandung karbohidrat kompleks seperti beras,
umbi, jagung, sagu, tepung terigu, roti, pasta, buah (Fatmah dan Yati, 2011).
Bahan makanan yang menjadi sumber makanan yang mengandung protein yang baik yaitu dada ayam, ikan, putih telur, produk susu tanpa lemak (susu, keju, youghurt), kacang-kacangan (kedelai, kacang tanah, almond), tergantung cara penyajian (Rai dan Halim, 2009). Sumber lemak yang baik yaitu kacang- kacangan, minyak kacang tanah, ikan, minyak ikan, minyak zaitun, minyak kedelai, alpukat, minyak kelapa, minyak biji bunga matahari, minyak kanola, dan minyak biji anggur (Rai dan Halim, 2009). Bahan makanan yang mengandung vitamin dan mineral yaitu buah-buahan dan sayur-sayuran (Fatmah dan Yati, 2011).
2.5 Konsumsi Suplemen Ergogenik
2.5.1 Frekuensi Konsumsi Suplemen Ergogenik
Frekuensi konsumsi suplemen ergogenik berkaitan dengan dosis dan waktu yang tepat untuk mengonsumsinya. Berdasarkan International Society of Sport Nutrition (ISSN) (2008), dijelaskan bahwa mengonsumsi suplemen ergogenik harus disesuaikan dengan dosis yang tepat dan waktu yang tepat sehingga tujuan mengonsumsinya tercapai tanpa mengganggu kesehatan. Dosis yang tepat yaitu dengan mengamati takaran per sajian pada kemasan. Sedangkan waktu mengonsumsi suplemen ergogenik yang direkomendasikan oleh ISSN meliputi sebelum latihan, saat sedang latihan dan sebelum latihan.
Konsumsi suplemen ergogenik yang melebihi aturan harus dikonsultasikan pada dokter atau ahli gizi olahraga. Selain itu, dalam mengonsumsi suplemen
ergogenik harus ditetapkan tujuan yang rasional. Dengan demikian, suplemen ergogenik yang dikonsumsi tidak membahayakan kesehatan tubuh.
2.5.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Suplemen Ergogenik Lyle et.al (1998) dan Greger (2001) menyatakan bahwa perilaku konsumsi suplemen makanan dipengaruhi oleh 2 faktor utama, yaitu
1. Faktor Internal yang terdiri dari umur, jenis kelamin, pendidikan, dan pendapatan.
2. Faktor eksternal yang terdiri dari asupan makan, aktivitas fisik, dan status merokok.
Selain faktor-faktor tersebut, faktor lain yang diduga mempengaruhi konsumsi suplemen makanan yaitu:
1. Umur
Pendapat Messerer et.al (2001) yang dikutip oleh Sari (2013), dikatakan bahwa umur merupakan prediktor yang terbaik dalam penelitian mengenai penggunaan suplemen makanan. Greger (2001), menyatakan bahwa umur yang lebih tua merupakan karakteristik demografi yang berhubungan dengan konsumsi suplemen makanan.
2. Jenis Kelamin
Berdasarkan pendapat Worthingto (2000) yang dikutip oleh Sari (2013), dinyatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan individu sangat berbeda antara laki-laki dan perempuan. Bianco et al (2014) mennyatakan bahwa, salah satu karakteristik demografi yang berhubungan dengan tingginya penggunaan suplemen protein adalah laki-laki.
3. Tingkat Pendidikan
Greger (2001) mengungkapkan bahwa, tingkat pendidikan berhubungan dengan tingkat konsumsi suplemen makanan. Lyle et al (1998) menyatakan bahwa, semakin tinggi pendidikan maka penggunaan suplemen makanan semakin meningkat.
4. Pendapatan
Tingginya penggunaan suplemen makanan berada pada responden yang memiliki pendapatan tinggi (Greger, 2001).
5. Riwayat Penyakit
Keinginan untuk mencapai status fisik yang lebih baik, dan perawatan sendiri terhadap penyakit merupakan alasan untuk mengkonsumsi suplemen makanan (Franklin et al, 2009) dalam Sari (2013).
6. Keterpaparan Media Promosi
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Sari (2013), menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara keterpaparan media dengan konsumsi suplemen protein. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan Putri (2004) dikutip oleh Nadia (2011) juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara keterpaparan media dengan konsumsi suplemen.
7. Pengetahuan Gizi tentang Suplemen
Berdasarkan penelitian Massed et al (1995) yang dikutip oleh Sari (2013), dikatakan bahwa pengetahuan gizi tentang suplemen berhubungan dengan
konsumsi suplemen makanan, semakin tinggi pengetahuan seseorang tentang suplemen maka semakin kecil kemungkinan untuk mengkonsumsi suplemen.
8. Asupan Makanan
Berdasarkan pendapat Harrison et al (2003) yang dikutip oleh Sari (2013), dinyatakan bahwa orang yang mengonsumsi buah dan sayuran atau minyak ikan, lebih banyak menonsumsi suplemen vitamin dan mineral daripada orang yang tidak mengonsumsi jenis makanan tersebut. Seseorang yang mengkonsumsi suplemen yang tinggi protein biasanya juga mengkonsumsi makanan yang tinggi protein (Bianco et al. 2014).
9. Aktivitas Fisik
Pendapat Foote et al (2003) yang dikutip oleh Sari (2013), diungkapkan bahwa mereka yang melakukan olahraga dan menghasilkan keringat setidaknya 3 kali/minggu memiliki kecenderungan untuk mengonsumsi suplemen lebih besar dibandingkan mereka yang tidak teratur untuk berolahraga.
10. Status Merokok
Berdasarkan pendapat Rock (2007) yang dikutip oleh Sari (2013), dikatakan bahwa individu yang merokok lebih sedikit mengonsumsi suplemen makanan dibandingkan individu yang tidak merokok.
2.6 Otot Rangka
Otot Rangka adalah otot lurik yang terikat pada tulang atau fasia yang membentuk daging dari anggota badan dan dinding tubuh. Otot merupakan sekelompok serabut-serabut otot yang tersusun rapih. Setiap serabut otot terdiri
atas dua jenis miofilamen, yaitu Miofilamen tebal yang dibentuk dari protein myosin, dan Myofilamin tipis yang dibentuk oleh protein aktin. Berdasarkan jumlah kepalanya, otot terbagi menjadi otot biseps (otot berkepala dua) , otot triseps (otot berkepala tiga), dan otot quadriceps (otot berkepala empat).
Berdasarkan Setiadi (2007) dan Syaifuddin (2009), satu berkas otot terdiri dari beberapa bagian, antara lain: Kaput muskuli, yaitu kepala otot (bagian atas agak besar); Venter muskuli, yaitu badan otot yang merupakan bagian yang aktif berkontraksi; Kauda muskuli, yaitu ekor otot yang terletak dibagian bawah dan agak kecil; Origo, yaitu tempat lekat otot pada tulang yang relative diam sewaktu kontraksi otot; Insersi, yaitu tempat melekatknya kepala otot pada pangkal tulang;
Tendon, yaitu jaringan ikat yang kuat dan melekat pada tulang berfungsi sebagia tali penarik pada pergerakan; Fasia, yaitu selaput pembungkus otot; Bursa mukosa, yaitu kandungan lender untuk melicinkan urat saat pergesekan;
Ligamentum, yaitu jaringan ikat penghubung tulang maupun sendi-sendi; dan Kartilago, yaitu tulang rawan.
Otot yang tidak bergerak akan menyebabkan terjadinya hipotropi (ukuran mengecil), atau bahkan atropi jika tidak sering digunakan untuk bergerak. Otot yang digunakan untuk tetap berlatih bergerak akan memiliki kekenyalan yang baik dan ukuran yang normal (eutropi), bahkan jika banyak digunakan atau dilatih dapat menjadi hipertropi (ukurannya lebih besar).
Pada kebanyakan aktivitas sehari-hari seperti berjalan, lari bernafas, mengangkat benda merupakan aktivitas otot yang menghasilkan pergerakan. Pada pergerakan ini akan mengasilkan ukuran otot lebih pendek dan dengan adanya
persendian, titik insert mendekat kearah origo. Kontraksi otot seperti ini disebut kontraksi isotonik.
Pada aktivitas mendorong tembok, mencoba mengangkat beban yang sangat berat, maka terjadi kontraksi otot tidak menghsilkan gerakan dan tonus otot meningkat namun ukuran otot tidak memendek. Gerakan ini disebut kontraksi isometrik. Latihan isometrik ini digunakan untuk memperbesar dan memperkuat otot (Setiadi, 2007). Kekuatan otot tidak bergantung pada panjang serat otot, tetapi bergantung pada jumlah serat-serta yang ada di dalamnya. Otot rangk lebih cepat berkontraksi daripada otot polos (Syaifuddin, 2009).
2.7 Ukuran Lingkar Otot Lengan Atas (LOLA)
Berdasarkan pendapat ahli, Gibson (2005), diungkapkan bahwa ukuran Lingkar Otot Lengan Atas digunakan untuk melihat peningkatan massa otot dan melihat status protein otot. Semakin berat massa otot, maka Lingkar Otot Lengan Atas semakin besar. Dengan demikian, ukuran massa otot dapat dilihat dari ukuran Lingkar Otot Lengan Atas (LOLA) (Frisancho dalam Ferdian, 2010).
Untuk mengetahuinya adalah dengan menggunakan hasil pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA) dalam ukuran centimeter dan tebal lipatan triseps (tricep skin fold).
Pengukuran Lingkar Otot Lengan Atas (LOLA) pertama-tama mengukur Lingkar Lengan Atas (LiLA) dan tebal lipatan trisep (triceps skin fold).
Pengukuran LiLA digunakan alat pita pengukur (meteran). Pengukuran dilakukan pada lengan kiri atas. Pada orang yang kidal, pengukuran dilakukan pada lengan kanan atas. Siku dalam keadaan bengkok 900. Ambil titik tengah antara titik
tulang bahu dan titik tulang siku dari lengan tersebut dan beri tanda. Kemudian luruskan tanga di samping tubuh. Saat pengukuran lengan dalam keadaan bebas.
Kemudian lakukan pengukuran pada titik yang sudah ditandai. Pita pengukur harus menempel erat pada kulit, tetapi tidak ada tekanan. Kemudian catat hasil pengukuran LiLA dalam satuan centimeter (cm).
Berdasarkan Gibson (2005), pengukuran tebal lipatan trisep (triceps skin fold) pertama-tama menandai posisi trisep yaitu terdapat pada titik tengah lingkar lengan atas sisi belakang, kemudian menandai titik tengah trisep dengan pena.
Gunakan jempol dan telunjuk jari untuk menentukan lipatan trisep dengan kondisi lengan dalam keadaan rileks. Selanjutnya dilakukan penjepitan dengan caliper skinfold selama 2-3 detik. Ulangi penjepitan tersebut beberapa kali hingga menghasilkan ukuran yang sama atau mendekati. Hasil pengukuran yang diambil adalah hasil pengukuran rata-rata dalam skala millimeter (mm) yang kemudian dikonversikan menjadi centimeter (cm). Kemudian catat hasil pengukuran. Hasil pengukuran LiLA dan tebal lipatan trisep disubstitusikan ke rumus LOLA sebagai berikut.
LOLA = LiLA – (3,14 × tebal lipatan triseps)
Hasil konversi rumus tersebut disesuaikan dengan tabel pesentil LOLA sebagai berikut:
Tabel 2.1 Persentil Lingkat Otot Lengan Atas untuk Laki-Laki dan Perempuan (18 sampai 74 tahun)
Age Sample Estimated Mean Pescentile
Group Size Population (cm) 5th 10th 25th 50th 75th 90th 95th
(y) (Milione)
Men
18-74 5261 61,18 28,0 23,8 24,8 26,3 27,9 29,6 31,4 32,5
18-24 773 11,78 27,4 23,5 24,4 25,8 27,2 28,9 30,8 32,3
25-34 804 13,00 28,3 24,2 25,3 26,5 28,0 30,0 31,7 32,9
35-44 664 10,68 28,8 25,0 25,6 27,1 28,7 30,3 32,1 33,0
45-54 765 11,15 28,2 24,0 24,9 26,5 28,1 29,8 31,5 32,6
55-64 598 9,07 27,8 22,8 24,4 26,2 27,9 29,6 31,0 31,8
65-74 1657 5,50 26,8 22,5 23,7 25,3 26,9 28,5 29,9 30,7
Women
18-74 8410 67,84 22,2 18,4 19,0 20,2 21,8 23,6 25,8 27,4
18-24 1523 12,89 20,9 17,7 18,5 19,4 20,6 22,1 23,6 24,9
25-34 1896 13,93 21,7 18,3 18,9 20,0 21,4 22,9 24,9 26,6
35-44 1664 11,59 22,5 18,5 19,2 20,6 22,0 24,0 26,1 27,4
45-54 836 12,16 22,7 18,8 19,5 20,7 22,2 24,3 26,6 27,8
55-64 589 9,96 22,8 18,6 19,5 20,8 22,6 24,4 26,3 28,1
65-74 1822 7,28 22,8 18,6 19,5 20,8 22,5 24,4 26,5 28,1
Sumber: NHANES I (Gandy,2014)
kemudian persentil tersebut dikategorikan menurut Frisancho (1990) dalam lima kategori, yaitu
a. Kecil, jika persentil LOLA 0,0 sampai 5,0
b. Dibawah normal, jika persentil LOLA 5,1 sampai 15,0 c. Normal, jika persentil LOLA 15,1 sampai 85,0
d. Diatas normal, jika persentil LOLA 85,1 sampai 95,0 e. Besar, jika persentil LOLA 95,1 sampai 100,0
2.8 Kerangka Konsep
Ukuran Lingkar Otot Lengan Atas (LOLA) dipengaruhi oleh konsumsi suplemen ergogenik. Sedangkan seseorang yang mengonsumsi suplemen ergogenik, didukung oleh pengetahuan gizi, dan keterpaparan media promosi.
Untuk itu, kerangka konsep dalam penelitian ini sebagai berikut:
Variabel pendahulu Variabel terikat - Pengetahuan gizi
- Keterpaparan media promosi
Variabel bebas
Konsumsi suplemen Ukuran Lingkar
ergogenik Otot Lengan Atas
(LOLA)
Gambar 2.5 Kerangka Konsep Gambaran Konsumsi Suplemen Ergogenik dan Ukuran Lingkar Otot Lengan Atas pada Peserta Fitness
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain cross sectional . Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survei.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian dilaksanakan di fitness Medan Sehat, kota Medan.
Alasan memilih lokasi ini karena berdasarkan survei awal, dari 30 peserta terdapat 29 peserta fitness mengonsumsi suplemen ergogenik, dan 20 peserta mengaku merasakan manfaat suplemen ergogenik terhadap peningkatan massa ototnya.
Pemilik bersedia menjadikan tempat fitness ini menjadi lokasi penelitian sehingga membantu dalam proses akademik sebagai bahan masukan tentang konsumsi suplemen ergogenik.
Penelitian dilakasanakan dari bulan November 2015 sampai bulan November 2016.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta Fitness Medan Sehat. Jumlah peserta fitness medan sehat sebanyak 130 orang.
3.3.2 Sampel
Menurut Azwar (1987), penelitian survei yang bersifat deskriptif tanpa kelompok pembanding, perhitungan jumlah sampel digunakan rumus berikut:
n =
4
kemudian n1 =
Keterangan:
n = Jumlah sampel awal
p = Sifat suatu keadaan dalam persen, jika tidak dketahui dianggap 50%
q = 100% - p
L = Derajat ketepatan yang dipergunakan, lazimnya 5%
n1 = Jumlah Sampel sebenarnya N = Jumlah populasi
Sehingga,
n =
4 (0.5) (0.5)
= 400 kemudian n1 =
400
= 98
(0,05)2 1+ 130400
Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 98 orang dan dibulatkan menjadi 100 orang dipilih dengan metode purposive sampling dengan kriteria sebagai berikut:
1. Usia dewasa 18 sampai 60 tahun.
2. Telah mengikuti fitness minimal selama 1 bulan.
3. Bersedia menjadi responden dan dapat berkomunikasi dengan baik.
4. Tidak dalam keadaan sakit.
3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer
Data primer dikumpulkan dengan wawancara dan observasi langsung kepada peserta fitness Medan Sehat dengan instrumen kuesioner, penjepit caliper skinfold, dan pita pengukur. Data Primer tersebut meliputi pengetahuan gizi peserta fitness, keterpaparan media promosi, dan konsumsi suplemen ergogenik
serta ukuran Lingkar Otot Lengan Atas (LOLA) peserta fitness yang diukur langsung oleh dokter fitness ini. Selain itu, profil fitness Medan Sehat diperoleh dengan wawancara kepada pengelola. Profil ini yang digunakan sebagai gambaran umum fitness Medan Sehat pada penelitian ini.
3.5 Definisi Operasional
1. Konsumsi suplemen ergogenik adalah kebiasaan, frekuensi, jenis, lama responden mengonsumsi suplemen ergogenik dalam sebulan terakhir.
2. Pengetahuan gizi adalah segala sesuatu yang diketahui responden tentang suplemen ergogenik.
3. Keterpaparan media promosi adalah pernyataan responden mengenai promosi suplemen ergogenik, pernah atau tidak pernah menerima informasi tentang suplemen ergogenik.
4. Ukuran Lingkar Otot Lengan Atas (LOLA) adalah konversi nilai Lingkar Lengan Atas dalam centimeter dan ketebalan lipatan tricep (tricep skinfold) dalam millimeter yang dikonversikan menjadi centimeter.
3.6 Metode Pengukuran
Pada penelitian ini hal-hal yang akan diukur yaitu konsumsi suplemen ergogenik, pengetahuan gizi tentang suplemen, keterpaparan promosi suplemen ergogenik, dan lingkar otot lengan atas. Pengukuran variabel tersebut diuraikan sebagai berikut.
1. Konsumsi Suplemen Ergogenik
Pada penelitian ini, untuk mengetahui perilaku konsumsi suplemen ergogenik responden, penulis menggunakan pertanyaan tentang perilaku konsumsi