BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.10 Hasil Pengujian Efektivitas Anti-Aging
4.10.5 Keriput (wrinkle)
Keriput atau kerutan pada kulit mata bagian lateral sukarelawan diukur dengan menggunakan perangkat skin analyzer lensa perbesaran 10x sensor biru.
Hasil pengukuran keriput (wrinkle) pada kulit wajah sukarelawan dapat dilihat pada Tabel 4.15 dan Gambar 4.17
Tabel 4.15 Data hasil pengukuran jumlah keriput pada kulit wajah sukarelawan yang menggunakan serum ekstrak etanol kulit kayu manis selama 4 minggu
- Tidak berkeriput 0-19; Berkeriput 20-52; Berkeriput parah 53-100 (Aramo, 2012).
- Konsentrasi ekstrak yang digunakan dalam sediaan serum
F0 : Formula serum blanko (tanpa ekstrak etanol kulit kayu manis) F1 : Formula serum ekstrak etanol kulit kayu manis konsentrasi 0,3%
F2 : Formula serum ekstrak etanol kulit kayu manis konsentrasi 0,5%
F3 : Formula serum ekstrak etanol kulit kayu manis konsentrasi 0,7%
Dari hasil data yang diperoleh kondisi awal jumlah keriput kulit wajah sukarelawan berkisar pada rentang berkeriput. Setelah penggunaan sediaan serum ekstrak etanol kulit kayu manis, semua kelompok formula menunjukkan
pengurangan jumlah keriput kulit wajah dengan persentase pemulihan rata-rata F0 (blanko) sebesar 3,71%; F1 sebesar 10,34%; F2 sebesar 22,69%; dan F3 menunjukkan rata-rata pengurangan jumlah keriput kulit wajah paling besar yaitu 34,11%.
Gambar 4.17 Grafik hasil pengukuran jumlah keriput (wrinkle) pada kulit sukarelawan selama 1 bulan perawatan
Gambar 4.18 Grafik persen peningkatan pemulihan jumlah keriput (wrinkle) pada kulit wajah sukarelawan
Data kemudian dianalisis dengan menggunakan uji parametik One Way ANOVA untuk mengetahui efektivitas formula serum terhadap jumlah keriput kulit wajah sukarelawan dan diperoleh nilai Asymp. Sig.(p) ˂ 0,05. Hasil analisis pengukuran jumlah keriput menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar formula setelah pemakaian serum selama 4 minggu.
Tidak BerkeriputBerkeriput
α = 0,05
Waktu (Minggu) Jumlah Keriput
Dilakukan uji lanjutan menggunakan uji post-hoc Duncan test untuk mengetahui perbedaan signifikan antara tiap formula. Dari hasil uji post-hoc Duncan mulai terdapat perbedaan signifikan antara F0 dengan F3. Pada minggu 3 hingga minggu 4 mulai terdapat perbedaan signifikan F1 dengan F3. Serta tidak terdapat perbedaan signifikan antara F2 dengan F3 dari minggu awal hingga minggu 4.
Radikal bebas merupakan molekul yang sifat kimianya tidak stabil dan cenderung menyerang molekul lain untuk mendapatkan elektron. Serangan ini dapat merusak asam lemak dan menghilangkan elastisitas sehingga membuat kulit menjadi kering dan keriput (Muliyawan dan Suriana, 2013).
Flavonoid sebagai antioksidan dapat menghambat peningkatan enzim MMP-1 (Matrix Metalloproteinase-1). MMP-1 adalah mediator utama yang menurunkan produksi kolagen pada kulit. Penghambatan terhadap enzim MMP-1 adalah salah satu cara untuk mencegah kerusakan kulit akibat paparan sinar UV.
Dengan penghambatan ini, sintesis MMP-1 akan berkurang dan proses degradasi kolagen terhambat sehingga kulit terlindungi dari proses penuaan (Tapas dkk., 2008). Kandungan senyawa bioaktif ekstrak etanol kulit kayu manis seperti sinamaldehid dan senyawa turunannya secara signifikan dapat mempotensiasi biosintesis kolagen tipe I di dalam fibroblas dermal. Hal ini menjadikan ekstrak etanol kulit kayu manis dapat memperbaiki tanda-tanda penuaan yang diakibatkan oleh photo aging (Takasao, dkk., 2012).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
Ekstrak etanol kulit kayu manis memiliki aktivitas antioksidan dalam kategori sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 6,28 ppm.
Serum wajah ekstrak etanol kulit kayu manis yang diformulasi merupakan
sediaan yang stabil dengan memenuhi persyaratan homogenitas (homogen), pH (5,6-6,1), viskositas (488,5-499,5 mPa.s) selama 12 minggu penyimpanan dan tidak mengiritasi kulit pada uji iritasi sukarelawan.
Serum wajah ekstrak etanol kulit kayu manis menunjukkan efektivitas
sebagai sediaan anti-aging, di mana konsentrasi terbaik yaitu pada konsentrasi 0,7%. Penggunaan serum ekstrak etanol kulit kayu manis menunjukkan peningkatan kondisi kulit yaitu semakin meningkatnya kelembapan kulit (43,20%), pori kulit mengecil (37,87%), kulit semakin halus (37,81%), noda kulit berkurang (39,33%) serta kerutan yang semakin berkurang (34,11%).
5.2 Saran
Penulis menyarankan peneliti selanjutnya untuk melakukan uji aktivitas antioksidan serum ekstrak etanol kulit kayu manis (Cinnamomum burmanni) untuk mendapatkan nilai IC50.
DAFTAR PUSTAKA
Alimah, D. 2015. Studi Pengusahaan Kayu Manis Di Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Galam. Vol 1(1). Halaman 2
Al Ridho, E., Sari, R., dan Wahdaningsih, S. 2013. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Metanol Buah Lakum (Cayratia trifolia) Dengan Metode DPPH (2,2-Difenil-1-Pikrihidrazil). Skripsi. Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran. Universitas Tanjungpura. Halaman 5, 7
Anderson, P.D. 1996. Anatomi dan Fisiologi Tubuh Manusia. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Halaman 473
Anggowarsito, J. L. 2014. Aspek Fisiologi Penuaan Kulit. Jurnal Widya Medika Surabaya. Vol 2(1). Halaman 57
Aramo. 2012. Skin and Hair Diagnosis System. Sungnam: Aram Huvis Korea Ltd.
Halaman 1-10
Astuti, K.W., Wijayanti,N. P. A. D., Lestari,A. A. D., Artha, IG. A. P. Y., Pradnyani,IA. G., Ratnayanti, IG. A. D. 2018. Uji Pendahuluan Nilai Kelembaban Kulit Manusia Pada Pemakaian Sediaan Masker Gel Peel Off Kulit Buah Manggis. Jurnal Kimia. 12 (1). Halaman 50-53
Aulton, M. E., dan Taylor, K. M. G. 2007. Aulton’s Pharmaceutics, The Design and Manufactures of Medicines. Inggris : Churchill Livingstone Elsevier.
Halaman 399
Barel, A.O., Paye, M., dan Maibach, H.I. 2009. Handbook of Cosmetic Science and Technology Edisi Ketiga. United State of America: Informa Healthcare USA, Inc. Halaman 83
Belcher, L. A., Muska, C. F., dan DeSalvo, J. W. 2010. Evaluating 1,3-Propanediol for Potential Skin Effects. Cosmetics and Toiletries Formulating Results in Cosmetics R&D. Vol 125(5). Halaman 4
Bhagavan, N. V. 1992. Medical Biochemistry. Burlington: Jones and Barlett Publisher. Halaman 179
Bogadenta, A. 2012. Antisipasi Gejala Penuaan Dini dengan Kesaktian Ramuan Herbal. Jogjakarta: Buku Biru. Halaman 43
Britannica.com. 2021. Cinnamon Plant and Spice. Diakses pada tanggal 3 Juni 2021 melalui https://www.britannica.com/plant/cinnamon/
Damayanti. 2017. Penuaan Kulit dan Perawatan Kulit Dasar pada Usia Lanjut.
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin – Periodical of Dermatology and Venereology. Vol 29(1). Halaman 74
Depkes RI. 1995. Materia Medika Indonesia. Jilid Keenam. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawas Obat dan Makanan. Halaman 300, 302-304, 306, 334, 540, 536
Depkes RI. 2017. Farmakope Herbal Indonesia Edisi II. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 181-184
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 96, 612, 792
Ditjen POM. 1985. Formularium Kosmetika Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 22, 356
Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 1168, 117
Ditjen POM. 2020. Farmakope Indonesia Edisi VI. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 680, 1233
Draelos, Z.D. (2010). Cosmetic Dermatology Products and Procedures. West Sussex: Wiley-Blackwell. Halaman 253
Fansworth, N.R. 1966. Biologycal and Phytochemical Screening of Plants.
Journal of Pharmaceutical Science. Vol 55(3). Halaman 262-264
Gandjar, L. G., dan Abdul, R. 2007. Kimia Analisis Farmasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Halaman 36-39
Garg A, Aggarwal D, Garg S, Singla A. 2002. Spreading of semisolid formulations an update. Pharmaceutical Technology. Vol 26(9). Halaman 105
Guertin, P.A. 2018. Is Propanediol a Safer Molecule Than Some Other Glycols In Personal Care And Anti-Aging Biocosmeceutical Products? Review Article. International Journal of Aging Research. Vol 1(23). Halaman 1-2 Guntarti, A., Sholehah, K., Irna, N., Fistianingrum, W. 2015. Penentuan
Parameter Non Spesifik Ekstrak Etanol Kulit Buah Manggis (Garciniamangostana) Pada Variasi Asal Daerah. Farmasains. Vol 2(5).
Halaman 203-204
Halliwell, B. 2007. Oxidative stress and cancer: have we moved forward?.
Biochemistry Journal. Vol 1(11). Halaman 5
Harborne, J. B. 1987. Metode Fitokimia. Bandung: Penerbit ITB. Halaman 49, 147
Idris, H dan Mayura, E. 2019. Sirkuler Informasi Teknologi Tanaman Rempah dan Obat. Bogor: Badan Penelitian Tanaman Obat. Halaman 3
Jaelani. 2009. Ensiklopedi Kosmetika Nabati. Jakarta: Pustaka Populer Obor.
Halaman 153-155
Kalangi, S. 2013. Histofisiologi Kulit. Jurnal Biomedik. Vol 5(3). Halaman 12-15.
Lee, C.K. 2013. Assesments of the Facial Mask Materials in Skin Care. Thesis.
Department of Cosmetics Science. Chia-Nan University of Pharmacy and Science. Halaman 14-19
Lumenta, N. A. 2006. Manajemen Hidup Sehat. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. Halaman 132
Mardhiani, Y. D., Yulianti, H., Azhary D. P., dan Rusdiana, T. 2018. Formulasi dan Stabilitas Sediaan Serum dari Ekstrak Kopi Hijau (Coffea cenaphora var. Robusta) Sebagai Antioksidan. Indonesia Natural Research Pharmaceutical Journal. Vol 2(2). Halaman 21-22
Marinova, G., dan Batchvarov, V. 2011. Evaluation of The Methods for Determination of The Free Radical Scavening Activity by DPPH.
Bulgarian Journal of Agricultural Science. Vol 17(1). Halaman 20
Martin, A., Swarbick, J., & Cammarata, A. (1983). Farmasi Fisik Jilid II edisi ketiga. Jakarta: UI Press. Halaman 378
Maslarova, N.V.Y. 2001. Inhibiting Oxidation Cited in Pokornya J, Yanishlieva N and Gordon M. Antioxidant in Food. Practical Applications. New York : CRC Press. Halaman 42-48
Mitsui, T. 1997. New Cosmetics Science Edisi Pertama. Amsterdam: Elsevier Science. Halaman 354-355
Molyneux, P. 2004. The Use of The Stable Free Radical Diphenylpicryl-hydrazyl (DPPH) for Estimating Antioxidant Activity. Songklanakarin Journal Science Technology. Vol 26(2). Halaman 211-219
Muliyawan, D., dan Suriana, N. 2013. A-Z Tentang Kosmetik. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. Halaman 17, 267-269
National Health Surveillance Agency. 2005. Cosmetics Products Stability Guide.
Brazil: ANVISA. Halaman: 19
Niki, E., dan Noguchi, N., 2000, Evaluation of Antioxidant Capacity ; What Capacity is Being Measured by Which Method?, IUBMB Life. 323- 329 Nurmalasari, D. L., Damiyanti, M., Eriwati, Y. K. 2018. Effect of cinnamon
extract solution on human tooth enamel surface roughness. Journal of Physics Conference. Series 1073. Halaman 2
Paramawidhita, R. Y., Chasanah, U., Ermawati, D. 2019. Formulasi dan Evaluasi Fisik Sediaan Emulgel Tabir Surya Ekstrak Kulit Batang Kayu Manis (Cinnamomum burmannii). Jurnal Surya Medika. Vol 5(1). Halaman 91 Priani, S. E., Mutiara, R., Mulyanti, D. 2020. The Development of Antioxidant
Peel-Off Facial Masks From Cinnamon Bark Extract (Cinnamomum burmannii). Pharmaciana Vol 10(1). Halaman 70-72
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Perkebunan. 2016. Perkembangan Produksi dan Ekspor Kayu Manis Indonesia. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. Vol 22(2). Halaman 10-13
Rafita, I.D. 2015. Pengaruh Ekstrak Kayu Manis (Cinnamomum burmanni) Terhadap Gambaran Histopatologi Dan Kadar Sgot Sgpt Hepar Tikus Yang Diinduksi Parasetamol. Skripsi. Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang. Halaman 9
Rismunandar. 1995. Kayu Manis. Jakarta: Penebar Swadaya. Halaman 23-30 Rowe, R.C., Paul, J.S dan Marian, E.Q. 2009. Handbook of Pharmaceutical
Excipients, 6th Ed. Pharmaceutical Press. USA. Halaman 110-112, 283, 441, 654
Sadeli, R.A. 2016. Uji Aktivitas Ntioksidan dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) Ekstrak Bromelian Buah Nanas (Ananas comosus (L.) Merr.). Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Halaman 13-15
Sapri, Pebrianti, R., dan Faizal, M. 2013. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Metanol Tumbuhan Singgah Perempuan (Loranthus sp.) Dengan Metode DPPH (2,2-Difenil-1-Pikrilhidrazil). Prosiding Seminar Nasional Kimia.
Halaman 203-210
Sari, R. K., Utami, R., Batubar, I., Carolina, A., Febriany, S. 2015. Aktivitas Antioksidan dan Inhibitor Tirosinase Ekstrak Metanol Mangium (Acacia mangium) (Antioxidant and Tyrosinase Inhibitor Activities of Methanol Extracts of Acacia mangium). J. Ilmu Teknol. Kayu Tropis. 13 (1): 88-97 Sari, W. Y., Yuliastuti, D., Afiaturrahma, A. 2020. Aktivitas Antioksidan Krim
Dari Fraksi Etanol 70% Buah Stroberi Dengan Metode DPPH. Jurnal Farmasetis. Vol 9(2). Halaman 111
Septiyanti, M., Liana, L., Sutriningsih, Kumayanjati, B., dan Meliana, Y. 2019.
Formulation and Evaluation of Serum From Red, Brown and Green Algae Extract For Anti-Aging Base Material. Proceedings of the 5th
Sherwood, L. 2012. Fisiologi Manusia Dari Sel Ke Sistem. Jakarta: Penebit Buku Kedokteran EGC. Halaman 479-480
SNI 01-3714-1995. Kayu Manis Bubuk. Jakarta: Badan Standarisasi Nasional.
Halaman 1
Sullivan, C.J., Kuenz, A., dan Vorlop, K. 2018. Ullmann’s Encyclopedia of Industrial Chemistry. 7th Ed. Weinheim Wiley-VCH-Verl. Weinheim.
Halaman 7, 9
Syaiful, S. D. 2016. Formulasi Dan Uji Stabilitas Fisik Gel Ekstrak Etanol Daun Kemangi (Ocimum Sanctum L.) Sebagai Sediaan Hand Sanitizer. Skripsi.
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Halaman 39
Tabor, A., dan Blair, R. 2009.Nutritional Cosmetics Beauty from Within. USA:
William Andrew. Hal.14-15
Takasao, N., Tsuji-Naito, K., Ishikura, S., Tamura, A., Akagawa, M. 2012.
Cinnamon Extract Promotes Type I Collagen Biosynthesis via Activation of IGF-I Signaling in Human Dermal Fibroblasts. Journal of Agricultural and Food Chemistry. Vol 60(1). Halaman 1198
Tapas, A.R., Sakarkar, D.M., Kakde, R.B. 2008. Flavonoid as Nutraceuticals: A Review. Tropical Journal of Pharmaceutical Research.7(3): 1089-1099 Thedermreview.com. 2021. Ethoxydiglycol-The Dermatology Review. Diakses
pada tanggal 13 Februari 2021 melalui
https://thedermreview.com/ethoxydiglycol/
Tranggono, R. I., dan Latifah, F. 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Halaman 11, 32, 167 Tristantini, D., Ismawati, A., Pradana, B. T., Jonathan, J. G. 2016. Pengujian
Aktivitas Antioksidan Menggunakan Metode DPPH pada Daun Tanjung (Mimusops elengi L). Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia
“Kejuangan”. Halaman 1-2
Troy, D. B. dan Beringer, P. 2006. Remington’s Pharmaceutical Sciences 21st Ed.
Massachusetts : Academic Press. Halaman 724
Utami, Y. P., Umar, A. H., Syahruni, R., Kadullah, I. 2017. Standardisasi Simplisia dan Ekstrak Etanol Daun Leilem (Clerodendrum minahassae Teisjm. & Binn.). Journal of Pharmaceutical and Medicinal Sciences. Vol 2(1). Halaman 37-38
Wardhani, R.A.P., dan Supartono. 2015. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kulit Buah Rambutan (Nephelium lappacheum L.) Pada Bakteri. Indonesian Journal of Chemical Science. Vol 4(1). Halaman 48
Wasitaatmadja, S. M. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: UI Press.
Halaman 4-5
Widiyanto, I., Anandito. 2013. Ekstraksi Oleoresin Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) : Optimasi Rendemen Dan Pengujian Karakteristik Mutu.
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian. Vol 6(1). Halaman 12
Winarti, C., Hernani, Budiarti, R. 2007. Formulasi dan Karakterisasi Shampo Anti Jamur Dengan Penambahan Ekstrak Lengkuas Merah. Jurnal Pascapanen.
Vol 4 (2). Halaman 102
Wyatt, E. L., Sutter, S. H., Drake, L. A. 2008. Goodman & Gilman’s the Pharmacological Basis of Therapeutics 10th edition. New York :
Lampiran 1. Surat Hasil Identifikasi Tumbuhan
Lampiran 2. Gambar Mikroskopis dan Makroskopis Simplisia Kulit Kayu Manis
Keterangan:
A. Mikroskopis 1. Sel Minyak 2. Sklerenkim 3. Sel Batu B. Makroskopis
1. Simplisia Kulit Kayu Manis
2. Serbuk Simplisia Kulit Kayu Manis
3 2
1
A. Mikroskopis
B. Makroskopis
1 2
Dimaserasi
Dibuat variasi konsentrasi Lampiran 3. Bagan Penelitian
Dikeringkan dan dihaluskan Kulit Kayu Manis Basah (1,15 kg)
Karakterisasi Simplisia Kulit Kayu Manis (1,056kg)
Pengujian Aktivitas
ekstrak etanol kulit kayu manis
Lampiran 4. Perhitungan Uji Karakterisasi Simplisia Kulit Kayu Manis 1. Penetapan Kadar Air
1. Kadar air =
2. Penetapan Kadar Sari Larut Air
No. Berat Sampel
Lampiran 4. (Lanjutan)
3. Penetapan Kadar Sari Larut Etanol
No. Berat Sampel
4. Penetapan Kadar Abu Total
No. Berat Sampel
Kadar Sari Larut Etanol = Berat sari air (g) Berat Sampel (g) x
x 100%
Kadar Abu Total = Berat abu (g)
Berat Sampel (g) x 100%
Lampiran 4. (Lanjutan)
5. Penetapan Kadar Abu Tak Larut Asam
No. Berat Sampel
Lampiran 5. Gambar Hasil Karakterisasi Simplisia Kulit Kayu Manis
Keterangan:
A : Penetapan Kadar Air
B : Penetapan Kadar Sari Larut Etanol dan Kadar Sari Larut Air C : Penetapan Kadar Abu Total
D : Penetapan Kadar Abu Tak Larut Asam
(A) (B)
(C) (D)
Lampiran 6. Gambar Hasil Skrining Fitokimia Simplisia Kulit Kayu Manis
Keterangan:
A : Hasil Skrining Alkaloid B : Hasil Skrining Flavonoid C : Hasil Skrining Saponin D : Hasil Skrining Glikosida E : Hasil Skrining Tanin
F : Hasil Skrining Triterpenoid/Steroid
(A) (B) (C)
(D) (E) (F)
Diserkai/disaring
Dimasukkan ke dalam botol maserasi
Dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil diaduk sesekali Dimasukkan etanol 96% rotary sebanyak ¾ bagian total etanol (7,5L)
Diremaserasi dengan sisa ¼ bagian total etanol 96% rotary (2,5L)
Disaring
Digabung
Dibiarkan selama 2 hari di tempat yang terlindung dari cahaya
Dienap tuangkan
Dipekatkan dengan rotary evaporator pada suhu 50oC
Dilanjutkan diuapkan dengan penangas air
Lampiran 7. Bagan Pembuatan Ekstrak Etanol Kulit Kayu Manis Simplisia Kulit Kayu Manis (1056g)
Ampas Maserat I
Maserat II
Maserat
Ekstrak Kental Kulit Kayu Manis (Berat = 355,03g)
(Rendemen = 33,62%)
Lampiran 8. Ekstrak Etanol Kulit Kayu Manis (Cinnamomum burmanni)
Lampiran 9. Perhitungan Uji Karakterisasi Ekstrak Etanol Kulit Kayu Manis 1. Penetapan Kadar Air
1. Kadar air =
2. Penetapan Kadar Abu Total
No. Berat Sampel
Lampiran 9. (Lanjutan)
Kadar abu total rata-rata =
= = 0,23%
3. Penetapan Kadar Abu Tak Larut Asam
No. Berat Sampel (gram)
Berat Kurs Kosong
(gram)
Berat Kurs + Abu (gram)
Berat Abu (gram)
1. 2,01 g 57,5754 57,5772 0,0018
2. 2,00 g 58,1235 58,1249 0,0014
3. 2,01 g 62,8259 62,8279 0,0020
1. Kadar abu tak larut asam =
x 100% = 0,08%
2. Kadar abu tak larut asam =
x 100% = 0,07%
3. Kadar abu tak larut asam =
x 100% = 0,09%
Kadar abu tak larut asam rata-rata =
= = 0,08%
Kadar Abu Tak Larut Asam = Berat abu (g)
Berat Sampel (g) x 100%
Lampiran 10. Gambar Hasil Karakterisasi Ekstrak Etanol Kulit Kayu Manis
Keterangan:
A : Penetapan Kadar Air B : Penetapan Kadar Abu Total
C : Penetapan Kadar Abu Tak Larut Asam (A)
(B)
(C)
Lampiran 11. Gambar Hasil Skrining Ekstrak Etanol Kulit Kayu Manis
Keterangan:
A : Hasil Skrining Alkaloid B : Hasil Skrining Flavonoid C : Hasil Skrining Saponin D : Hasil Skrining Glikosida E : Hasil Skrining Tanin
F : Hasil Skrining Triterpenoid/Steroid
(A) (B) (C)
(D) (E) (F)
Dilarutkan dengan metanol
Dimasukkan ke dalam labu tentukur 25 ml
Dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda
Dimasukkan ke dalam labu tentukur 5 ml
Dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda (C = 40 ppm)
Dipipet 1 ml
Diukur pada serapan panjang gelombang 400-800 nm
Diukur serapan pada panjang gelombang 515,4 nm sampai menit ke-60
Lampiran 12. Bagan Penentuan Panjang Gelombang Maksimum dan Waktu Kerja (Operating Time) DPPH
12.1 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
12.2 Penentuan Waktu Kerja (Operating Time) 5 mg serbuk DPPH
Larutan Blanko DPPH 0,5 mM (C = 200 ppm)
Hasil Serapan Maksimum (515,4 nm)
Larutan DPPH (C = 40 ppm)
Hasil Waktu Kerja (15 menit)
Lampiran 13. Kurva Panjang Gelombang DPPH
Lampiran 14. Hasil Waktu Kerja (Operating Time)
Dilarutkan dengan metanol dan dicukupkan sampai garis tanda (C = 100 ppm)
Dimasukkan ke dalam labu tentukur 25 ml
Lampiran 15. Bagan Pengujian Aktivitas Antioksidan Vitamin C dan Ekstrak Kulit Kayu Manis (Cinnamomum burmanni)
15.1 Pembuatan Larutan Induk Baku Vitamin C
15.2 Pembuatan Larutan Induk Baku Ekstrak Etanol Kulit Kayu Manis 2,5 mg Vitamin C
Larutan Induk Baku Vitamin C
5 mg Ekstrak Etanol Kulit Kayu Manis
Dimasukkan ke dalam labu tentukur 25 ml
Dilarutkan dengan metanol dan dicukupkan sampai garis tanda (C = 200 ppm)
Larutan Induk Baku Ekstrak Etanol Kulit Kayu Manis
Dipipet masing-masing 0,05 ml, 0,1 ml, 0,15 ml, 0,2 ml, 0,25 ml
Dimasukkan ke dalam labu tentukur 5 ml
Ditambahkan 1 ml LIB DPPH 200 ppm
Dicukupkan dengan metanol hingga batas tanda
Diinkubasi selama 15 menit
Diukur absorbansi pada panjang gelombang 515,4 nm
Dihitung % pemerangkapan DPPH Lampiran 15. (Lanjutan)
15.3 Pembuatan Larutan Uji Vitamin C
Larutan Induk Baku Vitamin C (100 ppm)
Larutan Uji 1 ppm
Larutan Uji 2 ppm
Larutan Uji 3 ppm
Larutan Uji 4 ppm
Larutan Uji 5 ppm
IC50 = 4,7447 ppm
Dimasukkan ke dalam labu tentukur 5 ml
Ditambahkan 1 ml LIB DPPH 200 ppm
Dicukupkan dengan metanol hingga batas tanda
Diinkubasi selama 15 menit
Diukur absorbansi pada panjang gelombang 515,4 nm
Dihitung % pemerangkapan DPPH Dipipet masing-masing 0,025 ml, 0,075 ml, 0,125 ml, 0,175 ml, 0,225 ml
Lampiran 15. (Lanjutan)
15.4 Pembuatan Larutan Uji Ekstrak Etanol Kulit Kayu Manis
Larutan Induk Baku Ekstrak Etanol Kulit Kayu Manis (200 ppm)
Larutan Uji 1 ppm
Larutan Uji 3 ppm
Larutan Uji 5 ppm
Larutan Uji 7 ppm
Larutan Uji 9 ppm
IC50 = 6,2812 ppm
Lampiran 16. Hasil Uji Aktivitas Antioksidan 1. Tabel Hasil Uji Aktivitas Antioksidan Vitamin C Larutan
2. Tabel Hasil Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit Kayu Manis Larutan
Lampiran 17. Gambar Pengujian Antioksidan Sampel 1. Gambar Pengujian Antioksidan Vitamin C
2. Gambar Pengujian Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit Kayu Manis (Cinnamomum burmanni)
Lampiran 18. Perhitungan Persen Peredaman dan Nilai IC50 Vitamin C a. Perhitungan Persen Peredaman Vitamin C
A. Tabel Data Absorbansi DPPH Pengukuran I
Keterangan : Akontrol = Absorbansi tidak mengandung sampel Asampel = Absorbansi Sampel
Perhitungan % Peredaman Vitamin C (Pengukuran I)
Konsentrasi 1 ppm
No. Konsentrasi (ppm) Absorbansi
1. 0 0,9694
Lampiran 18. (Lanjutan)
B. Tabel Data Absorbansi DPPH Pengukuran II
Keterangan : Akontrol = Absorbansi tidak mengandung sampel Asampel = Absorbansi Sampel
No. Konsentrasi (ppm) Absorbansi
1. 0 0,9689
Lampiran 18. (Lanjutan)
Perhitungan % Peredaman Vitamin C (Pengukuran II)
Konsentrasi 1 ppm
Lampiran 18. (Lanjutan)
% Peredaman =
x 100%
= 55,43%
C. Tabel Data Absorbansi DPPH Pengukuran III
Keterangan : Akontrol = Absorbansi tidak mengandung sampel Asampel = Absorbansi Sampel
Perhitungan % Peredaman Vitamin C (Pengukuran III)
Konsentrasi 1 ppm
No. Konsentrasi (ppm) Absorbansi
1. 0 0,9689
Lampiran 18. (Lanjutan)
b. Perhitungan Nilai IC50
NO X Y XY X2 Y2
Lampiran 18. (Lanjutan)
Persamaan garis untuk mendapatkan nilai IC50 adalah Y = 11,0177X - 2,2757 Nilai IC50 Y = 11,0177X – 2,2757
50 = 11,0177X – 2,2757 X = 4,7447
Lampiran 19. Perhitungan Persen Peredaman dan Nilai IC50 Ekstrak Etanol Kulit Kayu Manis
a. Perhitungan Persen Peredaman Ekstrak Etanol Kulit Kayu Manis 1. Tabel Data Absorbansi DPPH Pengukuran I
Keterangan : Akontrol = Absorbansi tidak mengandung sampel Asampel = Absorbansi Sampel
Perhitungan % Peredaman Ekstrak Etanol Kulit Kayu Manis (Pengukuran I)
Konsentrasi 1 ppm
No. Konsentrasi (ppm) Absorbansi
1. 0 0,9694
Lampiran 19. (Lanjutan)
2. Tabel Data Absorbansi DPPH Pengukuran II
Keterangan : Akontrol = Absorbansi tidak mengandung sampel Asampel = Absorbansi Sampel
No. Konsentrasi (ppm) Absorbansi
1. 0 0,9689
Lampiran 19. (Lanjutan)
Perhitungan % Peredaman Ekstrak Etanol Kulit Kayu Manis (Pengukuran II)
Konsentrasi 1 ppm
Lampiran 19. (Lanjutan)
3. Tabel Data Absorbansi DPPH Pengukuran III
Keterangan : Akontrol = Absorbansi tidak mengandung sampel Asampel = Absorbansi Sampel
Perhitungan % Peredaman Ekstrak Etanol Kulit Kayu Manis (Pengukuran III)
Konsentrasi 1 ppm
No. Konsentrasi (ppm) Absorbansi
1. 0 0,9689
Lampiran 19. (Lanjutan)
b. Perhitungan Nilai IC50
No. X Y XY X2 Y2
Lampiran 19. (Lanjutan)
Jadi, persamaan garis untuk mendapatkan nilai IC50 adalah Nilai IC50
50 = ax + b
X = 6,281103548 ppm
Jadi, persamaan garis untuk mendapatkan nilai IC50 adalah Y = 6,7438X +7,6406 Nilai IC50 Y = 6,7438X +7,6406
50 = 6,7438X + 7,6406 X = 6,2812 ppm
Lampiran 20. Surat Persetujuan Komisi Etik Peneliti Kesehatan
Dimasukkan ke dalam lumpang Massa III ke dalam Massa I sambil diaduk homogen Ditambahkan
ethoxydiglycol, gliserin, dan propanediol sedikit demi sedikit sambil digerus homogen
Ditambahkan Massa V ke dalam Massa IV sedikit demi sedikit Dihomogenkan
Lampiran 21. Bagan Pembuatan Serum Anti-Aging Ekstrak Etanol Kulit Kayu Manis
Lampiran 22. Gambar Sediaan Serum Ekstrak Etanol Kulit Kayu Manis Dalam Kemasan
Lampiran 23. Gambar Sukarelawan
Lampiran 24. Gambar Uji Iritasi Serum Ekstrak Etanol Kulit Kayu Manis Kon- sentrasi 0,7% (F3)
Lampiran 25. Data Sukarelawan
No. Nama Usia
(Tahun)
Jenis
Kelamin Alamat Riwayat Alergi 1. Lailathul
Ramadhani 21 Perempuan Jl Susuk II no.
18 -
2. Indi Kristi Claudia
S.P. 21 Perempuan Jl Helvetia No.
Nasution 21 Perempuan Jl Deposito
No. 12 -
6. Nurulita Shauma
Bismaranti 21 Perempuan
Jl. Setiabudi
Tarigan 20 Perempuan Jl Harmonika
Baru No. 44 - 9. Anjeli Rosevtica
Tampubolon 21 Perempuan Jl. Marelan
Raya No. 16 -
Lampiran 26. Surat Pernyataan Persetujuan
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI SUKARELAWAN PENELITIAN (Informed Consent)
Saya yang bertandatangan di bawah ini,
Nama :
Umur :
Jenis Kelamin : Alamat : No.Telp/HP :
Telah mendapat penjelasan dari peneliti (Firdha Sekar Rahayu) secara jelas tentang penelitian “Formulasi dan Uji Efektivitas Sediaan Serum Ekstrak Etanol Kulit Kayu Manis (Cinnamomum burmanni) Sebagai Anti-Aging”, maka dengan ini saya secara sukarela dan tanpa paksaan menyatakan bersedia untuk diikutsertakan dalam penelitian tersebut.
Demikian surat pernyataan ini untuk dapat dipergunakan seperlunya.
Medan, Maret 2021 Sukarelawan
( )
Lampiran 27. Gambar Alat-Alat yang Digunakan
A. Rotary Evaporator B. Spektrofotometer UV-Visibel
C. Viskometer D. Spindle E. Skin Analyzer dan Moistiure Checker
F. pH Meter
G. Neraca Analitik
H. Alat-Alat Gelas
Lampiran 28. Hasil Pengujian Skin Analyzer dan Moisture Checker pada Sediaan Serum Dengan Konsentrasi Ekstrak Etanol Kulit Kayu Manis 0,7%
A. Kelembapan (Moisture) Kondisi Awal
Minggu 1
Minggu 2
Minggu 3
Minggu 4
B. Kehalusan (Evenness)
Kondisi Awal Minggu 1
Minggu 2 Minggu 3
Minggu 4
22
25
C. Noda (Spot)
Kondisi Awal Minggu 1
Minggu 2 Minggu 3
Minggu 4
29
D. Pori (Pore)
Kondisi Awal Minggu 1
Minggu 2 Minggu 3
Minggu 4
E. Keriput (Wrinkle) Kondisi Awal
Minggu 1
Minggu 2
26
24
Minggu 3
Minggu 4
22
19
Lampiran 29. Data Hasil Uji Statistik A. Kelembapan (Moisture)
Uji Homogenitas
Uji One Way ANOVA
Lampiran 29. (Lanjutan) Uji Post-Hoc Duncan Test
Lampiran 29. (Lanjutan) B. Pori (Pore) Uji Homogenitas
Uji One Way ANOVA
Lampiran 29. (Lanjutan) Uji Post-Hoc Duncan Test
Lampiran 29. (Lanjutan)
C. Kehalusan (Evenness) Uji Homogenitas
Uji One Way ANOVA
Lampiran 29. (Lanjutan) Uji Post-Hoc Duncan Test
Lampiran 29. (Lanjutan) D. Noda (Spot) Uji Homogenitas
Uji One Way ANOVA
Lampiran 29. (Lanjutan) Uji Post-Hoc Duncan Test
Lampiran 29. (Lanjutan) E. Keriput (Wrinkle) Uji Homogenitas
Uji One Way ANOVA
Lampiran 29. (Lanjutan) Uji Post-Hoc Duncan Test