e Penyusunan Program Bimbingan dan Konseling
3) Kerja Sama
Pelayanan bimbingan dan konseling akan efektif apabila ada kerjasama diantara semua fihak yang berkepentingan dalam kesuksesan pelayanan bimbingan dan konseling. Personil yang berbekerjasama dengan Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor tersebut antara lain kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru mata pelajaran, wali kelas, tata usaha, dan lain-lain. Kerjasama antara personil sekolah dengan Guru BK/Konselor tersebut terjalin sesuai dengan tugas dan peranan masing-masing dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Tanpa kerjasama antarpersonil itu, kegiatan bimbingan dan konseling akan banyak mengalami hambatan.
Bimbingan dan Konseling SMA/SMK 59
c.
Penilaian
Penilaian merupakan langkah penting dalam pengelolaan bimbingan dan konseling. Tanpa penilaian tidak mungkin kita dapat mengetahui dan mengidentifikasi keberhasilan kegiatan layanan bimbingan dan konseling yang telah dilaksanakan. Penilaian keberhasilan layanan bimbingan dan konseling merupakan usaha untuk menilai sejauh mana kegiatan layanan itu mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.
Penilaian kegiatan layanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah segala upaya, tindakan atau proses untuk menentukan derajat kualitas kemajuan kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan layanan bimbingan dan konseling di sekolah dengan mengacu pada kriteria atau patokan- patokan tertentu sesuai dengan program yang disusun.
Penilaian bertujuan untuk mengetahui keberhasilan layanan yang dilakukan. Dengan
penilaian ini dapat diketahui apakah layanan tersebut efektif dan membawa dampak positif terhadap
siswa yang mendapatkan layanan. Penilaian ditujukan kepada perolehan peserta didik yang
menjalani layanan. Perolehan ini diorientasikan pada :
1) Pengentasan masalah siswa : sejauh manakah perolehan siswa menunjang bagi pengentasan masalahnya? Perolehan itu diharapkan dapat lebih menunjang terbinanya tingkah laku positif, khususnya berkenaan dengan permasalahan dan perkembangan diri siswa.
2) Perkembangan aspek-aspek kepribadian siswa, seperti sikap, motivasi, kebiasaan, keterampilan dan keberhasilan belajar, konsep diri, kemam-puan berkomunikasi, kreatifitas, apresiasi terhadap nilai dan moral.
Secara khusus fokus penilaian diarahkan kepada berkembangnya:
1) Pemahaman baru yang diperoleh melalui layanan, dalam kaitannya dengan masalah yang dibahas.
2) Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan. 3) Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa sesudah pelaksanaan layanan dalam
rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya.
Semua fokus penilaian itu, khususnya rencana kegiatan secara jelas mengacu kepada kompetensi yang harus dimiliki peserta didik untuk pengentasan permasalahan yang dihadapinya dalam rangka kehidupan sehari-hari yang lebih efektif.
Dilihat dari rentang waktu pelaksanaan, penilaian hasil dibagi dalam :
1) Penilaian segera (laiseg), merupakan penilaian tahap awal, yang dilakukan segera setelah atau menjelang diakhirinya layanan yang dimaksud.
2) Penilaian jangka pendek (laijapen), merupakan penilaian lanjutan yang dilakukan setelah satu (atau lebih) jenis layanan dilaksanakan selang beberapa hari sampai paling lama satu bulan.
Bimbingan dan Konseling SMA/SMK 60 3) Penilaian jangka panjang (laijapang), merupakan penilaian lebih menyeluruh setelah
dilaksanakannya layanan dengan selang satu unit waktu tertentu, seperti satu semester.
Hasil penilaian proses digunakan untuk meningkatkan kualitas kegiatan bimbingan dan
konseling secara menyeluruh. Laporan hasil penilaian dalam bentuk ‘portofolio’ dituangkan
berbentuk profil laporan yang berisi prestasi kegiatan akademik, non akademik, perkembangan psikologis dan fisiologis, kemampuan umum, bakat dan minat peserta didik yang ditandatangani Guru BK/Konselor, Koordinator BK dan kepala sekolah, serta diketahui orang tua.
Penilaian di tingkat sekolah merupakan tanggung jawab kepala sekolah yang dibantu oleh pembimbing khusus dan personel sekolah lainnya. Di samping itu penilaian kegiatan bimbingan dilakukan juga oleh pejabat yang berwenang (pengawas bimbingan dan konseling) dari instansi yang lebih tinggi (Departemen Pendidikan Nasional Kota atau kabupaten).
Sumber informasi untuk keperluan penilaian ini antara lain peserta didik, kepala sekolah, para wali kelas, guru mata pelajaran, orang tua, tokoh masyarakat, para pejabat Depdiknas, organisasi profesi bimbingan, sekolah lanjutan, dan sebagainya. Penilaian dilakukan dengan menggunakan berbagai cara dan alat seperti wawancara, observasi, studi dokumentasi, angket, tes, analisis hasil kerja peserta didik, dan sebagainya.
Penilaian perlu diprogramkan secara sistematis dan terpadu. Kegiatan penilaian baik mengenai proses maupun hasil perlu dianalisis untuk kemudian dijadikan dasar dalam tindak lanjut untuk perbaikan dan pengembangan program bimbingan dan konseling. Dengan dilakukan penilaian secara komprehensif, jelas dan cermat maka diperoleh data atau informasi tentang proses dan hasil pelayanan bimbingan dan konseling yang kemudian dianalisis guna menentukan tindak lanjut. Data
dan informasi ini dapat dijadikan bahan untuk pertanggungjawaban/ akuntabiltas pelaksanaan
program bimbingan dan konseling di sekolah.
d. Evaluasi Pelaporan dan Tindak Lanjut
Salah satu alasan mengapa bimbingan dan konseling (BK) tidak termasuk kedalam struktur kurikulum 2013 adalah karena bimbingan konseling bukanlah mata pelajaran yang harus dikuasai
oleh peserta didik, akan tetapi lebih kepada tindakan manajemen atau pengelolaan “masalah”
peserta didik agar mampu tumbuh dan berkembang sesuai dengan tugas perkembangnnya. Dalam struktur kurikulum 2013 khususnya pada jenjang pendidikan SMA/SMK kecuali mata pelajaran wajib yang harus ditempuh oleh peserta didik, juga terdapat kelompok mata pelajaran dan mata pelajaran yang harus dipilih sesuai dengan peminatannya. Pemilihan dan menetapan peminatan peserta didik menempatkan guru BK/Konselor sebagai fasilitator yang dapat membantu peserta didik memilih dan menetapkan peminatannya sesuai dengan kemampuan dasar, bakat, minat dan kecenderungan pilihannya.
Sebagai konsekuensi dari semangat kurikulum 2013 yang lebih memberikan porsi pelayanan bimbingan konseling pada pelayanan peminatan peserta didik, maka program pelayanan bimbingan dan konseling harus memuat pelayanan peminatan peserta didik, sehingga pelayanan peminatan
Bimbingan dan Konseling SMA/SMK 61
peserta didik dilakukan melalui pelayanan bimbingan dan konseling. Untuk mendapatkan gambaran tentang keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling, maka diperlukan penilaian proses dan hasil pelayanan bimbingan dan konseling. Untuk selanjutnya hasil penilaian tersebut dianalisis untuk mengevaluasi apa pelayanan tersebut berjalan dengan baik. Sebagai ujud pertanggungjawaban dari tugas yang diberikan, guru BK/Konselor juga diwajibkan menyusun laporan pelaksanaan program (lapelprog).
Evaluasi, pelaporan dan tindak lanjut pelayanan bimbingan dan konseling merupakan rangkaian kegiatan yang saling berkaitan satu sama lain. Dengan dilakukan evaluasi secara komprehensif, jelas dan cermat maka diperoleh data atau informasi tentang proses dan hasil seluruh kegiatan konseling. Data dan informasi ini dapat dijadikan bahan untuk pertanggung jawaban/ akuntabiltas pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan konseling dan kegiatan tindak lanjut pelayanan layanan bimbingan dan konseling sesuai dengan kebutuhan, yang dalam hal ini evaluasi, pelaporan dan tindak lanjut pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling, khususnya pelayanan peminatan peserta didik.