• Tidak ada hasil yang ditemukan

hukum internasional, perjanjian sebagai instrumen hubungan kerjasama internasional, kewajiban dan tanggung jawab negara dalam pelaksanaan kerjasama luar negeri oleh daerah.

Bab IV : Kedudukan perjanjian ekonomi antara pemerintah daerah dengan lembaga internasional ditinjau dari hukum nasional & hukum internasional. Kebijakan desentralisasi kerjasama ekonomi luar negeri oleh daerah dalam rangka otonomi daerah, hambatan yang

dihadapi dalam kerjasama antara pemerintah daerah dengan lembaga internasional

Bab V : Kesimpulan dan Saran, dalam bab terakhir tulisan ini akan dirangkum dalam sebuah kesimpulan dan juga saran yang berkaitan dengan kedudukan perjanjian ekonomi antara pemerintah daerah dengan lembaga internasional ditinjau dari hukum nasional & hukum internasional.

BAB II

LANDASAN KONSEPTUAL KERJASAMA EKONOMI LUAR NEGERI MENGHADAPI GLOBALISASI

A. Teori Landasan Komseptual Hukum Pembangunan.

Pembukaan undang-undang dasar 1945, alinea 4, menetapkan tujuan bernegara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, antara lain :

“… ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…”

Ikut melaksanakan ketertiban dunia, merupakan ciri dari Indonesia yang telah merdeka, untuk dapat memelihara hubungan-hubungan internasional dengan negara-negara lain secara baik dalam suasana keerdekaan, persamaan derajat dengan keadilan. Secara teoritis, konsep untuk memelihara eksistensi sebagai negara yang merdeka dan berdaulat, tiap negara termasuk Indonesia mempunyai cita-cita yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera. Upaya mewujudkan keadilan dan kesejahteraan ini ditempuh melalui pembangunan yang merata di segala bidang.

Karena ini menurut Mochtar Kusumaatmadja, tujuan kehidupan bernegara itu dapat dicapai melalui pembangunan nasional menuntut pembaharuan dan pembinaan di segala bidang. Dalam keadaan demikian, hukum harus disesuaikan atau menyesuaikan diri dengan keadaan yang telah berubah.14

14

Mochtar Kusumaatmaadja, Hukum Masyarakat dan Pembangunan Hukum Nasional, Bandung, 1976, hlm. 6.

Hukum pada hakekatnya merupakan sarana penunjang perkembangan masyarakat dan pembangunan. Hukum sebagai sarana penunjang pembangunan berarti hukum diperlukan sebagai pemberi patokan serta pengarahan hukum haruslah dapat memberikan kebutuhan hukum masyarakat. Tujuan pembangunan hukum ini dimaksudkan untuk mencapai tujuan hukum itu sendiri yaitu ketertiban. Kebutuhan akan ketertiban ini adalah syarat fundamental bagi adanya suatu masyarakat manusia yang teratur.

Agar pelaksanaan perundang-undangan yang bertujuan untuk pembangunan itu berjalan sebagaimana mestinya, hendaknya aturan perundang-undangan yang dibentuk itu sesuai dengan apa yang menjadi inti pemikiran aliran

sociological jurisprudence, yaitu hukum yang baik hendaknya sesuai dengan hukum yang hidup didalam masyarakat, jadi mencerminkan nilai-nilai yang hidup di masyarakat. Sebab jika ternyata tidak, akibatnya ketentuan tersebut akan tidak dapat dilaksanakan (bekerja) dan mendapat tantangan-tantangan. Hal ini cukup beralasan, karena di satu sisi Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberikan peluang bagi daerah untuk mengatur rumah tangganya sendiri, namun di sisi lain ketentuan-ketentuan dari beberapa Pasal tersebut belum sepenuhnya mendukung bagi terlaksananya otonomi daerah yang luas dan bertanggungjawab.

Selain itu, dapat dipelihara pula dari ketentuan Pasal-Pasal yang berkaitan dengan pelaksanaan investigasi di daerah, dimana dalam hal ini daerah “masih dikekang” dan kurang diberikan keterluasan dalam mengeluarkan kebijaksanaan untuk mengeluarkan izin-izin yang berkaitan dengan investigasi. Dengan kata lain

Undang-undang tersebut tidak aspiratif dan tidak mencerminkan terhadap nilai-nilai yang tumbuh di tengah masyarakat dan terkesan cenderung bersifat sentralistik. Begitu pula halnya dengan UU No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional dan Undang-Undang No. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri dimana mungkin terdapat ketentuan-ketentuan yang belum mengakomodir kepentingan masyarakat atau daerah dalam melaksanakan kerjasama ekonomi dengan luar negeri secara efektif dan efisien.

Perubahan yang teratur melalui prosedur hukum, baik ia berwujud perundang-undangan atau keputusan badan-badan peradilan lebih baik dari pada perubahan yang tidak teratur dengan menggunakan kekerasan semata-mata. Karena baik “perubahan” maupun “ketertiban” (keteraturan) merupakan tujuan kembar dari masyarakat yang sedang membangun, hukum menjadi suatu alat yang tidak dapat diabaikan dalam proses pembangunan. Dalam hal adanya suatu masyarakat internasional, saling membutuhkan antara bangsa-bangsa di berbagai lapangan kehidupan yang mengakibatkan timbulnya hubungan yang tetap dan terus menerus antara bangsa-bangsa, mengakibatkan pula timbulnya kepentingan untuk memelihara dan mengatur hubungan yang demikian. Karena kebutuhan antara bangsa-bangsa timbal balik sifatnya, kepentingan memelihara dan mengatur hubungan yang bermanfaat demikian merupakan suatu kepentingan bersama.

Untuk menertibkan, mengatur dan memelihara hubungan internasional ini dibutuhkan hukum guna menjamin unsure kepastian yang diperlukan dalam setiap hubungan yang teratur. Hubungan antara orang atau kelompok orang yang

bergabung dalam ikatan kebangsaan atau kenegaraan yang berlainan itu dapat merupakan hubungan tak langsung atau resmi yang dilakukan oleh para pejabat negara yang mengadakan berbagai perundingan atas nama negara dan meresmikan persetujuan yang dicapai dalam perjanjian antar negara.

Disamping hubungan antar negara yang resmi demikian, orang dapat juga mengadakan hubungan langsung secara perseorangan atau gabungan di lapangan perniagaan, keagamaan, ilmu pengetahuan, keagamaan, ilmu pengetahuan, olah raga atau perburuhan yang melintasi batas negara. Jika direduksi maka tujuan utama hukum adalah untuk mewujudkan ketertiban (order). Tujuan ini sejalan dengan fungsi utama hukum, yaitu mengatur. Ketertiban merupakan syarat dasar bagi adanya suatu masyarakat. Kebutuhan akan ketertiban merupakan fakta dan kebutuhan objektif bagi setiap manusia.

Masyarakat internasional yang anggotanya terdiri dari negara-negara merdeka dan berdaulat, juga membutuhkan hukum untuk mengatur hubungan-hubungan di antara mereka. Hukum yang mengatur hubungan-hubungan-hubungan-hubungan di antara anggota-anggota masyarakat internasional adalah hukum internasional. Hukum internasional secara langsung mengatur keseluruhan kegiatan hubungan internasional di antara negara-negara sebagai subjek hukum internasional. Hukum internasional secara tidak langsung mempengaruhi jalannya hubungan internasional.

Kebutuhan untuk memelihara ketertiban di dalam masyarakat internasional telah melahirkan hukum internasinal, yang secara terus menerus dikembangkan dan disesuaikan dengan perkembangan, serta ditaati oleh anggota-anggota

masyarakat internasional berupa negara-negara merdeka dan berdaulat. Atas dasar hidup berdampingan secara damai di antara negara-negara serta berlandaskan pada Pembukaan Undang-undang Dasar 1945, yang mewajiibkan Indonesia untuk “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”, maka terbentuklah hubungan-hubungan antara Indonesia dengan negara-negara lain di dunia ini. Hubungan-hubungan internasional ini tidak saja dilakukan dalam bentuk hubungan antar negara, tetapi juga telah berkembang dengan pesat hubungan kerjasama antar kota maupun hubungan antar daerah dengan luar negeri. Adanya hukum suatu masyarakat internasional, yang meliiputi seluruh bangsa-bangsa yang ada didunia ini, benar-benar merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah lagi. Adanya hukum alami yang mengharuskan bangsa-bangsa di dunia hidup berdampingan secara damai, dapat dikembalikan kepada akal sehat manusia (rasio) dan naluri untuk mempertahankan diri dan jenisnya.

Kerjasama internasional sebagai akibat adanya saling ketergantungan, diupayakan dengan menghormati keadilan dan kewajiban-kewajiban internasional. Penghormatan terhadap keadilan dan kewajiban-kewajiban internasional diupayakan terutama untuk :

a) Memelihara perdamaian dan keamanan internasional;

b) Mengembangkan hubungan persahabatan antar bangsa-bangsa berdasarkan prinsip persamaan hak; serta

c) Mencapai kerjasama internasional dalam memecahkan persoalan-persoalan internasional di lapangan ekonomi, sosial, kebudayaan atau bersifat kemanusian.15

Bagi Indonesia, kerjasama antar kota (Sister City) maupun Kerjasama Ekonomi Sub-Regional yang merupakan salah satu contoh kerjasama ekonomi daerah dengan luar negeri selain bertujuan untuk mempererat persahabatan antara kedua negara, juga dapat memanfaatkan kemajuan dan kemampuan kota di negara yang menjadi pihak dalam kerjasama untuk kepentingan pengembangan dan pembangunan daerah yang berada di Indonesia. Pelaksanaan kerjasama ekonomi luar negeri oleh daerah ini dilakukan sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan-kepentingan sebagai berikut :

a) Ketertiban, ketentraman dan kepentingan umum; b) Stabilitas politik dalam negeri;

c) Terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa serta kepribandian nasional.

Dalam kaitan ini maka kerjasama antar kota/daerah harus bermanfaat untuk :

a) Menunjang pelaksanaan program pembangunan nasional di daerah;

b) Membantu meningkatkan taraf hidup, kesejahteraan dan kecerdasan masyarakat;

15

c) Membantu meningkatkan kemampuan pemerintah dan pembangunan, dan lain sebagainya.

Begitu pula halnya dengan Kerjasama Ekonomi Sub-Regional yang melibatkan beberapa provinsi di Indonesia dalam meghadapi perkembangan ekonomi dunia yang semakin pesat akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong pihak pemerintah untuk mencari “model” pengembangan ekonominya dalam upaya untuk tetap dapat bersaing dan memanfaatkan peluang-peluang yang ada di daerah dalam rangka mengintensifkan kerjasama antar negara yang telah terjalin.

Sementara itu pembentukan kawasan-kawasan pertumbuhan ekonomi tersebut dapat dilakukan dalam kekosongan hukum, artinya pembentukan dan mekanisme hubungan antar negara yang merupakan anggota dari kawasan tersebut membutuhkan kehadiran perangkat hukum untuk mengesahkan dan mengaturnya. Dengan kata lain, kerjasama ekonomi internasional antar negara selalu memerlukan pengaturan hukum (perjanjian internasional). Di sinilah kemudian kita akan menemukan peran dan fungsi dari hukum ekonomi nasional dan internasional.

Masyarakat, khususnya dunia bisnis sekarang ini sudah merasa yakin bahwa pembangunan ekonomi sangat memerlukan sarana hukum. Supaya pembangunan ekonomi itu benar-benar mencapai tujuan sesuai dengan rencana. Sunaryati Hartono menyatakan : Dalam mencari penyelesaiaan bagi masalah-masalah nasional kita, perlu lebih dikembangkan pendekatan transnasional, yaitu pendekatan yang mengusahakan penyelesaian masalah dengan hanya tidak

melihatnya dalam konteks nasional saja, akan tetapi juga dengan menempatkannya ke dalam kehidupan masyarakat dunia. Disinilah diperlukan peraturan-peraturan hukum ekonomi Indonesia yang cukup jeli, untuk disatu pihak mengembangkan kerjasama internasional di bidang ekonomi, tetapi dilain pihak memasang rambu-rambu yang cukup ampuh untuk melindungi hajat hidup maupun kepribadian dan jati diri bangsa di dalam badai globalisasi itu. Di sini pula tampak betapa hukum nasional ikut menentukan ketahanan sosial.16

B. Pembangunan Hukum dan Pembangunan Ekonomi sebagai isu Global

Memahami dinamika globalisasi dengan segala dimensinya, maka globalisasi juga akan memberi pengaruh terhadap hukum. Globalisasi hukum akan menyebabkan peraturan-peraturan negara-negara berkembang mengenai investasi, perdagangan, jasa-jasa dan bidang-bidang ekonomi lainnya mendekati negara-negara maju (Convergency). tetapi apapun istilah yang dilekatkan pada globalisasi hukum itu, pada intinya hendak menegaskan bahwa disamping hukum nasional suatu negara bangsa berkembang suatu hukum-hukum yang melampaui batas-batas kedaulatan negara bangsa.

Meskipun saat ini pembicaraan terhadap globalisasi hukum lebih cenderung dalam konteksnya dengan globalisasi dibidang lain. Globalisasi hukum kadang kala dipahami pula sebagai penyesuaian hukum-hukum nasional suatu negara bangsa sebagai dampak dari perkembangan perekonomian global misalnya. Penyesuaian hukum nasional bisa juga dilakukan atas adanya tekanan

16

Sunaryati Hartono, Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional, Bandung, 1991, hlm. 71.

organisasi internasional atau badan-badan dunia seperti WTO, IMF, World Bank dan lain sebagainya. Meskipun pengaruh sistem hukum yang datang dari dari luar itu bukan barang baru bagi Indonesia, tetapi yang membedakannya dari suatu waktu adalah kondisi dan situasi serta atas kepentingan apa hukum-hukum nasional Indonesia menyesuaikan diri atau memerlukan penyesuaian.

Dalam perspektif perbandingan sistem hukum benar adanya Hari Purwadi,17

Dari sudut perkembangan globalisasi hukum yang demikian tentu bisa dipahami apabila pada abad mendatang akan berkembang apa yang disebut dengan “the era of comparative law”, meskipun saat ini geraknya belum tampak terlalu kuat. Namun demikian, yang terpenting sebenarnya dalam kaitan ini memaksa kita untuk mendalami globalisasi hukum pada satu pihak dan sistem hukum global dipihak lain. Apakah kemudian sistem hukum global menjadi

bahwa Indonesia merupakan laboratorium hukum yang paling execelen

di dunia. Karena memang tidak bisa diingkari, bahwa sebagian besar sistem hukum di Indonesia adalah sistem hukum import sejak dari zaman penjajahan sampai saat ini. Oleh karena itu, globalisasi hukum di Indonesia sudah berlansung sejak lama, akan tetapi globalisasi hukum yang terjadi masa lalu itu hanya menjadi sistem hukum yang hidup dan berkembang dalam suatu negara bangsa yang berdaulat. Globalisasi hukum dalam perkembangannya justeru tumbuh dan berkembang melampau batas-batas kedaulatan negara dan kalau pun ia hidup dalam suatu negara nasional, tetapi perubahan dan penyesuaian sistem hukum itu lahir dari suatu kesepakatan internasional.

17

Hari Purwadi, Pendekatan Baru Dalam Studi Perbandingan Hukum : “Critical Comparative Law” Dan Transplantasi Hukum Di Indonesia, dalam Wajah Hukum di Era Reformasi,Penerbit PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000, hal 225.

bagian dari globalisasi hukum atau globalisasi hukum melahirkan sistem hukum global, merupakan tema-tema yang menjadi fokus pada bagian ini. Kalau secara nasional sudah jelas bagaimana pengaruh globalisasi itu menjalar dalam kehidupan sistem hukum nasional. Di Indonesia saja saat ini berkembang beberapa sistem hukum:

1. Civil Law System

2. Common Law Sistem

3. Islamic Law

4. Socialisme Law

5. Customary Law atau Sistem Hukum Adat.18

Oleh karenanya, jika globalisasi hukum bergulir ke ranah publik bersaman dengan pengejewantahan globalisasi, bagi Indonesia tidak sepenuhnya benar, karena jauh sebelum Indonesia merdeka sudah terjadi impor sistem hukum ke Indonesia. Dengan demikian, pembicaraan terhadap globalisasi hukum di Indonesia beberapa waktu belakangan, tampaknya lebih merupakan suatu pembicaraan berkaitan dengan pergerakkan globalisasi di bidang lain. Dalam banyak pembicaraan dan bahasan sering diutarakan, bahwa globaliasi hukum diberbagai bidang, semisal globalisasi di bidang ekonomi, teknologi harus di ikuti dengan globalisasi hukum. Artinya globalisasi hukum berada dibelakang globalisasi bidang lain. Jika disetujui, bahwa globalisasi ekonomi merupakan manifesitasi baru dari perkembangan kapitalisme sebagai sistem ekonomi sosial, dimana transaksi dan lalu lintas ekonomi dan perdagangan tidak lagi terikat pada asal negara dari berbagai sistem hukum dan tradisi, maka globalisasi ekonomi harus diikuti globalisasi hukum. Meskipun demikian, tetap saja ada keraguan, dimana globaliasi hukum itu tetap diharapkan berlangsung pada sistem hukum

18

yang berbeda. Artinya, model ini tidak menjelaskan apakah globalisasi hukum memiliki sistem sendiri atau sistem hukum yang berbeda menjadi kekayaan dari globalisasi hukum.

Terkait dengan globalisasi itu, Soetandyo Wigjosoebroto mengemukakan,

bahwa proses nasionalisasi saat ini belum selesai, namun proses baru yang dikenali sebagai proses globalisasi sudah memasuki ambang pintu. Ini suatu proses yang lebih berhakikat sebagaiproses ekonomi dan sosial kultural daripada sebatas proses politik, nota bene proses politik yang diilhami oleh semangat dan paham nasionalisme, dengan cita-citanya yang tak mau ditawar untuk mewujudkan kesatuan bangsa di bawah kontrol kepemimpinan yang berlegalitas kuat. Akan tetapi, kini kenyataan telah kian menjadikan cita-cita seperti itu bagaikan ilusi belaka. Kini, perkembangan kehidupan tidak lagi berhenti pada jalannya proses integrasi komunitas-komunitas lokal ke satuan-satuan nasional, melainkan bersiterus ke prosesnya yang kian berlanjut.19

19

Soetandyo Wigjosoebroto, Pluralisme Hukum Dalam Kehidupan Global, Hukum Dalam Masyarakat:Perkembangan dan Masalah (Malang: Bayumedia, 2008), hlm. 237-252

Hal ini memperkuat globalisasi hukum menjadi suatu yang tidak terhindarkan dan akhirnya meminta kita untuk mengamini, bahwa kehidupan nasional di manapun, baik yang menyatukan manusia-manusia yang terbilang ‘bangsa tua’ yang muncul dalam sejarah sebagai bangsa penjajah maupun yang terbilang ‘bangsa muda’ yang terjajah, kini ini telah terkocok ulang dalam suatu kekisruhan yang namun begitu bolehlah tetap direspons secara optimistik sebagai suatu proses yang secara progresif menuju ke bentuk-bentuknya yang baru.

Dalam perpesktif seperti dikemukakan di atas, bagaimana sistem hukum global memainkan peran dan eksistensinya tidaklah mudah, sementara dilain pihak diyakini global society bukanlah suatu global state. Adanya juga yang menyebut Global state lebih tepat kalau dikatakan sebagai “masyarakat pasar” yang boleh juga disebut a global economy. Hal ini tentu menjadi integral dengan

global society, dimana masyarakat negara bangsa terbebas dari ikatan-ikatan hukum nasional mereka. Dalam perkembangan saat ini, globalisasi berkembang lebih jauh dari pada global state (masyarakat pasar) atau global state dalam pemahaman yang lebih luas sebagai “negara dunia” yang hadir dalam bentuknya yang nyata, tetapi berkembang dalam apa yang disebut dengan “tanggung jawab global”.

Keadaan itu tampak rumit dibanding memahami globalisasi hukum dalam perspektif tuntutan dari globalisasi ekonomi-perdagangan atau bidang lainnya. Jika, global economy bekerja melampui batas-batas nation state yang selama ini dirasakan sebagai hambatan, sekarang Jika terjadi silang sengketa dalam hubungan kontratual yang tidak bersanksi negara itu, maka penyelesaiannya akan dilakukan lewat apa yang disebut ADR (alternative dispute resolution), mulai dari yang bermodel renegosiasi atau mediasi sampai ke yang disebut arbitrasi. Alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan seperti ini mulai banyak dipilih daripada penyelesaian-penyelesaian adjudikatif lewat litigasi-litigasi di badan-badan peradilan nasional. Pada tataran ini tampak globalisasi hukum sebagai dampak dari globalisasi ekonomi melahirkan suatu sistem hukum. Pilihan penyelesaian sengketa dari hubungan perdanganan dalam ranah globalisasi seperti

yang terjadi pada bidang ekonomi/perdagangan itu, tentu akan tampak berbeda dalam konteks “global state” yang berwujud dalam tanggung jawab global.

Bagi Indonesia sendiri pengaruh globalisasi itu, selain menuntut penyesuaian sistem hukum nasional, globalisasi hukum sekaligus menghadapkan Indonesia pada berbagai penuntasan persoalan hukum yang harus dilesaikan. Tidak saja menyangkut grand desain hukum nasonal yang belum ada, ada sejumlah keadaan hukum Indonesia atau apa yang dinamakan dengan (the existing legal system)20

1. Dilihat dari substansi hukum, asas dan kaedah, hingga saat ini terdapat berbagai sistem hukum yang berlaku – sistem hukum adat, sistem hukum agama, sistem hukum barat, dan sistem hukum nasional. Tiga sistem hukum yang pertama merupakan akibat politik hukum masa penjajahan. Secara negatif, politik hukum tersebut dimaksudkan untuk membiarkan rakyat tetap hidup dalam lingkungan hukum tradisional dan sangat dibatasi untuk memasuki sistem hukum yang diperlukan bagi suatu pergaulan yang modern.

yang menunjukkan hal-hal sebagai berikut :

2. Ditinjau dari segi bentuk, sistem hukum yang berlaku lebih mengandalkan pada bentuk-bentuk hukum tertulis. Para pelaksana dan penegak hukum senantiasa mengarahkan pikiran hukum pada peraturan-peraturan tertulis. Pemakaian kaidah hukum adat atau hukum Islam hanya dipergunakan dalam hal-hal yang secara hukum ditentukan harus diperiksa dan diputus menurut kedua hukum tersebut. Penggunaan jurisprudensi dalam

20

Bagir Manan, Pembinaan Hukum Nasional , Penerbit Alumni, Bandung, 1999, hal 238 – 245

mempertimbangkan suatu putusan hanya sekedar untuk mendukung peraturan hukum tertulis yang menjadi tumpuan utama.

3. Hingga saat ini masih cukup banyak hukum tertulis yang dibentuk pada masa Pemerintahan Hindia Belanda. Hukum-hukum ini bukan saja dalam banyak hal tidak sesuai dengan alam kemerdekaan, tetapi telah pula ketinggalan orientasi dan mengandung kekosongan-kekososngan baik ditinjau dari sudut kebutuhan dan fungsi hukum maupun perkembangan masyarakat.

4. Keadaan hukum kita dewasa ini menunjukkan pula banyak aturan kebijakan (beleidsregel). Peraturan-peraturan kebijakan ini tidak saja berasal dari administrasi negara, bahkan ada pula dari badan justisial. 5. Keadaan hukum kita dewasa ini adalah sifat departemental centris.

Hukum- khususnya peraturan perundang-undangan- sering dipandang sebagai urusan departemen yang bersangkutan.

6. Tidak pula jarang dijumpai inkonsistensi dalam penggunaan asas-asas hukum atau landasan teoretik yang dipergunakan.

Keadaan hukum Indonesia sebagaimana digambarkan Bagir Manan di atas, penyesuaian sistem hukum nasional sebagai tuntutan globalisasi, jelaslah merupakan bukan pekerjaan ringan. Disisi lain, arus globalisasi terus mengalir dengan deras. Artinya, beberapa penyesuaian sistem hukum nasional Indonesia saat ini berkenaan dengan tuntutan globalisasi masih menyisakan banyak pekerjaan rumah.

Bagaimana globalisasi hukum dan perkembangannya merasuki sisten hukum nasional, maka dipihak lain globalisasi hukum pun menampakkan wujudnya sendiri yang tidak sekedar berupa adaptasi yang dilakukan dalam sistem hukum nasional. Bahwa keberadaan ADR sebagai sistem hukum global tentulah tidak akan sama keberadaanya dengan keberadaan Mahkamah Internasional yang mengurusi peradilan atas pelanggaran hak azasi manusia. Globalisasi hukum kemudian memperlihatkan wujudnya yang lain, dimana Mahkamah Internasiona; sebagai sistem hukum global sebagai suatu intrumen negara dunia (global state). Meskipun tidak terang-terangan dimaksudkan demikian, namun pengadilan-pengadilan nasional bukan satu-satunya tempat berproses bagi suatu kejahatan yang meskipin masih dibatasai objek dan subjeknya, tetapi ada lagi Mahkamah Internasional sebagai alternative. Mahkamah Internasionan akan bekerja atas suatu pengaduan/tuntutan, sekalipun yang teradukan adalah suatu tindakan dari pejabat pemerintah negara nasional yang sah.

Berdasarkan dinamika globalisasi yang mempengaruhi bidang hukum, maka globalisasi hukum sepertinya berakar pada dua hal, Pertama globalisasi hukum yang berakar pada globalsiasi ekonomi dan bidang lainnya yang menempatkan global state sebagai “masyarakat pasar. Kedua globalisasi hukum yang berakar pada global state yang menampakkan wujudnya dalam apa yang

Dokumen terkait