• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerjasama Energi Jepang- Rusia Pada Tahun 2009- 2013

BAB III. DINAMIKA HUBUNGAN JEPANG- RUSIA

C. Kerjasama Energi Jepang- Rusia Pada Tahun 2009- 2013

1. Kerjasama East Siberia-Pacific Ocean Oil Pipeline

2. Kerjasama Liquified Natural Gas (LNG) Shakalin-II

BAB IV. ANALISIS PENINGKATAN KERJASAMA ENERGI JEPANG DALAM SENGKETA KEPULAUAN KURIL

A. Kepentingan Jepang-Rusia dalam Sengketa Kepulauan

Kuril.

1. Klaim Jepang Terhadap Kepulauan Kuril

2. Klaim Rusia Terhadap Kepulauan Kuril.

B. Faktor Pendorong adanya Peningatan Kerjasama Energi

Jepang-Rusia.

1. Keamanan Energi Jepang

a. Faktor Internal

b. Faktor Eksternal

C. Kebijakan Luar Negeri Jepang dalam Peningkatan Kerjasama Energi dengan Rusia.

BAB II. SUMBER DAYA ENERGI JEPANG DAN RUSIA

Pada bab ini penulis menguraikan keadaan sumber daya energi Jepang dan Rusia yang terbagi ke dalam dua sub-bab. Pertama, menerangkan tentang pengertian sumber daya energi, menjelaskan mengenai tingginya kebutuhan energi Jepang yang diakibatkan kelangkaan sumber daya energi domestik. Kedua, menguraikan tentang sumber daya energi Rusia, dan kebijakan ekspor energi Rusia terhadap negara-negara destinasi, khususnya ke Jepang.

A. Pengertian Sumber Daya Energi

Energi berasal dari bahasa Yunani energia yang berarti daya, kerja atau

tenaga. Energi dalam disiplin ilmu alam dapat didefinisikan sebagai tenaga mekanik yang terakumulasi. Sebagian dari tenaga tersebut dapat digunakan untuk

menghasilkan suatu akibat baik itu dalam pengertian gerak atau kerja.45 Oleh

karena itu, secara umum energi dapat didefinisikan sebagai kapasitas untuk

melakukan pekerjaan atau menghasilkan akibat atau dampak.46

Tabel di bawah ini menguraikan bahwa energi pada dasarnya mengandung empat dimensi. Empat dimensi tersebut antara lain:

1. Berdasarkan siklus penggunaannya energi dapat di bagi menjadi dua,

yakni energi yang tidak dapat di perbaharui (non-renewable energy) dan

45

Makmur Keliat, Kebijakan Keamanan Energi. (Global-Jurnal Politik Internasional, 2006 Vol. 8 No. 2), 34.

46

Definisi yang di jelaskan oleh Salisburry yang menyatakan “Energy is the caacity for producing an effect”. Lihat J Kenneth Salisburry (ed) Mechanical Engineers’ Handbook (Tokyo: Tappan Cmpany LTD, 1980 hlm 3-50) dikutip dari Makmur Keliat, Kebijakan Keamanan Energi. (Global-Jurnal Poliik Internasional Vol. 8 No. 2, 2006), 34.

energi yang dapat di perbaharui (renewable energy).47 Energi yang tidak dapat di perbaharui seperti bahan bakar minyak, gas dan batu bara. Bahan

bakar tersebut sering juga disebut sebagai fossil fuels. Sedangkan contoh

energi yang dapat diperbaharui misalnya, energi yang berasal dari sinar

matahari (solar energy) dan nuklir (nuclear energy), dan panas bumi

(Geothermal).48

Tabel 2.1. Dimensi dan Kategori Energi.

Dimensi Kategori Implikasi

Siklus Penggunaan Energi yang dapat

diperbaharui

Adanya kebutuhan

untuk melakukan

efisiensi , konservasi energi dan energy mix Energi yang tidak

dapat diperbaharui Tingkat Penggunaan

Tteknologi

Energi Tradisional Adanya kebutuhan

untuk melakukan

transisi energi dari energi tradisional ke energi modern untuk

tujuan peningkatan

kulitas pembangunan. Energi modern

Mata Rantai Energi Primer Adanya kebutuhan dana

yang sangat besar untuk melakukan investasi energy

Energi Sekunder Eergi akhir

Dampak Lingkungan Kurang ramah dengan lingkungan

Adanya pergeseran pola konsumsi energi dan adanya kebutuhan untuk

menyesuaikan diri

dengan regulasi-regulasi lingkungan hidup Relatif lebih ramah

lingkungan

Sumber: Makmur Keliat, Kebijakan Keamanan Energi. Global-Jurnal Poliik Internasional Vol. 8 No. 2 h. 35. 2006

47

Purnomo Yusgiantoro. Ekonomi Energi Teori dan Praktik. (Pustaka LP3ES Indonesia, 2000),5.

48

Makmur Keliat. Kebijakan Keamanan Energi, (Global-Jurnal Poliik Internasional Vol. 8 No. 2, 2006), 34.

Perbedaan ini menjadi penting karena terdapat dua pertimbangan. Pertama, mengandung pengertian bahwa terdapat batas, antara ketersediaan dan waktu. Berdasarkan energi yang tidak dapat diperbaharui tersebut, maka melahirkan kebutuhan efisiensi dalam penggunaan energi dan sekaligus konserfasinya. Kedua, terkait dengan kebutuhan untuk

melakukan diversifikasi penggunaan energy.49 Dikenal dengan istilah

enegry mix, yakni suatu negara sebaiknya tidak hanya mengandalkan satu sumber energi yang tersedia, namun harus menganekararagamkan sumber- sumber energi yang dibutuhkan.

2. Terkait dengan dimensi penggunaan teknologi pengolahannya.

Berdasarkan sudut pandang ini, energi dapat dibagi menjadi dua kategori

yaitu energi tradisional (traditional energy) dan energi modern (modern

energy, contoh untuk energi modern adalah listrik, fossil fuels (bahan bakar) dan seluruh energi yang dapat di perbaharui. Sedangkan contoh

energi tradisional adalah penggunaan kayu bakar dan biomass.

3. Bila dilihat dari sudut pandang dimensi mata rantai, energi dapat

dikategorikan sebagai energi primer (primary energy), energi sekunder

(secondary energy), dan energi akhir (final energy).50 Keterkaitan antara energi primer, sekunder dan akhir dikenal dengan istilah mata rantai energi (energy chain). Rantai ini berawal aktivitas eksplorasi hingga ekstraksi yang disebut sebagai energi primer. Kemudian aktivitas pemrosesan

49

Makmur Keliat. Kebijakan Keamanan Energi, 35.

50

Ronald A. Morse Energy and Japan’s National Security Strategy, dalam Ronald A. Morse (ed), The Politics of Japan’s Energy Security. Berkeley: Institute of East Asian StudiesUniversity of California, 1981, 38. Dikutip dari Makmur Keliat, Kebijakan Keamanan Energi, 36.

hingga transportasi disebut dengan energi sekunder, selanjutnya konservasi hingga distribusi disebut sebagai energi akhir.

4. Dampak lingkungan yang diakibatkan oleh energi. Berdasarkan sudut

pandang ini dapat dilihat dari dua kategori, yaitu energi bersih (clean

energy) dan energi kotor (dirty energy) atau energi yang tidak ramah lingkungan. Dalam kategori tersebut dapat dibagi lagi menjadi beberapa sektor; sektor rumah tangga, sektor industrial, sektor komersial, dan sektor

transportasi.51 Pembagian sektor ini menentukan penggunaan energi.

Misalnya, gas alam yang dipandang lebih bersih dibandingkan dengan

batu bara dan bahan bakar minyak karena beresiko menghasilkan carbon

dioxide (CO2). Resiko ini lebih kecil jika dibandingkan dengan penggunaan batu bara.

B. Sumber Daya Energi Jepang

1. Kebutuhan Sumber Daya Energi Jepang.

Sejarah agresi Jepang ke negara-negara Asia Tenggara selama Perang Dunia II tidak lepas dari motivasi Jepang dalam mencari sumber mineral strategis yang ada di sepanjang kawasan ini, mulai dari minyak bumi, timah, batu bara, alumunium hingga besi. Keseluruhan sumber mineral tersebut merupakan bahan baku utama pembangkit energi bagi proses industrialisasi di negeri mata hari

terbit tersebut.52 Pasca mengalami kekalahan dalam Perang Dunia II pada tahun

51

Makmur Keliat. Kebijakan Keamanan Energi, 37.

52

Daniel Yergin, The Prize: The Epic Quest for Oil, Money and Power, NewYork: Simon &Schuster Publishing, 1992. Dikutip dari Nurul Isnaeni Jepang dan Isu Keamanan Energi : Dari Krisis Minyak Dunia Hinga Politik Perubahan Iklim, Jurnal Politik Internasional; Krisis Energi. Departmen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia V. 8, n. 2, 2006. 56.

1950-1970-an, Jepang bangkit dari kehancuran dan memacu pertumbuhan perekonomiannya. Sementara itu, proses pertumbuhan ekonomi Jepang berkorelasi positif dengan tingkat konsumsi energi yang tinggi. Pemakaian bahan

bakar fosil (fossil- fuels), khususnya minyak bumi telah mendominasi konsumsi

energi komersial Jepang selama masa pertumbuhan ekonominya. Pada saat itu minyak bumi memang merupakan sumber energi yang paling murah dan efisien, sehigga menjadi basis dari industrialisasi dan modernisasi di banyak negara,

termasuk Jepang. 53

Sejalan dengan industrialisasinya, intensitas konsumsi Jepang terhadap minyak bumi pun terus berlangsung hingga mencapai 77,4 % pada tahun 1973. ekonomi Jepang mencapai pertumbuhan yang signifikan pada tahun 1973-1974

(krisis minyak dunia), yakni mencapai 10,9 % per tahun.54 Prestasi ini menyaingi

kemajuan negara-negara Organization for Economic Cooperation and

Development (OECD) lainnya, pada saat yang sama Jepang menduduki peringkat kedua sebagai negara konsumen minyak bumi terbesar di dunia.

Seiring dengan semakin meningkatnya perekonomian Jepang, jumlah permintaan energi domestik Jepang pun terus meningkat. Peningkatan jumlah konsumsi Jepang digambarkan sebagaimana diagram di bawah ini.

53

Nurul Isnaeni. Jepang dan Isu Keamanan Energi : Dari Krisis Minyak Dunia Hinga Politik Perubahan Iklim, 57.

54

Damian Grammaticas, Japan Earthquake: Explosion at Fukushima Nuclear Plan Tokyo, BBC News Asia- Pasific, Maret 201. Tersedia di http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-pacific-12720219 diakses pada 28 April 2013.

Gambar 2.2. Grafik Produksi dan Konsumsi Jepang pada tahun 2000-2015

Sumber: U. S Energi Information Administration (EIA)

Grafik di atas menunjukkan bahwa konsumsi Jepang mengalami peningkatan di tiap tahunnya. Hal ini berseberangan dengan tingkat produksi Jepang yang statis dan tidak mampu memenuhi kebutuhan energi domestik. Jumlah konsumsi semakin meningkat pada tahun 2009. Sedangkan, pada tahun

2014 Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa Jepang

hanya memiliki 10% dari total kebutuhan energi primer sebagai sumber daya

domestik.55

Data tersebut menunjukkan kecilnya jumlah sumber daya energi yang dimiliki Jepang. Jumlah populasi yang relatif kecil yakni sekitar 126.757.591

pada tahun 2014, tidak menurunkan tingkat kebutuhan energi Jepang.56

55Report; Japan is The World’s Largest liquefied Natural Gas Importer, Second Largest Coal Importer,and Third Largest Net Oil Importer, United State Energy Information Administration (EIA), 2013. http://www.eia.gov/countries/analysisbriefs/Japan/japan.pdf dan http://www.eia.gov/countries/analysisbriefs/Japan/japan.pdf diakses pada 15 April 2013.

56

World Population Review. Tersedia di

http://worldpopulationreview.com/countries/japan-population/ dan Japan’s 2010 Census: Moving

To Tokyo. Tersedia di http://www.newgeography.com/content/002227-japan%E2%80%99s-2010-census-moving-tokyo diakses pada 01 Juni 2014.

Sebaliknya, kebutuhan energi negara tersebut setiap tahunnya semakin bertambah, seiring dengan semakin meningkatnya industrialisasi di Jepang.

2. Kelangkaan Sumber Daya Energi Jepang

Ketimpangan antara jumlah produksi dan konsumsi energi Jepang membuat negara tersebut mengalami kelangkaan energi. Perhatian khusus pemerintah Jepang terhadap pasokan energi menjadi penting. Tingginya tingkat konsumsi energi domestik mengharuskan Jepang bersaing dengan negara-negara tetangga untuk memenuhi pasokan energinya. Di kawasan regional Asia, Jepang harus bersaing dengan negara-negara kawasan dalam melakukan suplai energi.

Terlebih Jepang merupakan negara OECD dengan kemampuan sumber daya Energi

paling rendah jika dibandingkan dengan kapasitas negara anggota OECD

lainnya.57

Uraian tersebut di atas membuat Jepang membutuhkan lebih banyak energi jika dibandingkan dengan negara anggota lainnya. Munculnya kompetitor baru di kawasan Asia Timur seperti Cina dan Korea Selatan yang juga merupakan negara industri menyebabkan Jepang semakin meningkatkan kualitas daya

saingnya untuk mendapatkan energi.58 Jepang harus memastikan keamanan suplai

energi yang berasal dari negara-negara penghasil minyak dan energi. Pasca terjadinya bencana gempa bumi pada tahun 2011, Jepang kembali dihadapkan

57

Michael May, Energy and Security in East Asia. Americas’s Alliances with Japan and

Korea in a Changing Notheast Asia AsiaPacific Research Center 1998, 11. tersedia http://iis-db.stanford.edu/pubs/10043/Mayfront.PM.pdf

58

Michael May, Energy and Security in East Asia. Americas’s Alliances with Japan and

Korea in a Changing Notheast Asia Asia/ Pacific Research Center 1998, 11. tersedia http://iis-db.stanford.edu/pubs/10043/Mayfront.PM.pdf

dengan isu keamanan suplai energi. Dalam hal ini diperlukan peran serta pemerintah untuk menentukan kebijakan terkait suplai energi Jepang.

Isu energi bukan menjadi masalah baru bagi Jepang, sejak tahun 1980 sektor energi Jepang telah mengalami regulasi. Pemerintah secara langsung mengambil alih masalah ini. Penetapan kebijakan diambil alih oleh pemerintah pusat dengan cara melakukan bimbingan administrasi dan menjalankan konsultasi dengan industri pengembagan energi dalam melakukan negosiasi ketika memasok energi asing. Kementerian Perdagangan Internasional dan Industri (METI) telah mengawasi kebijakan energi nasional dan mengawasi upaya pemerintah secara

luas untuk melakukan efisiensi energi domestik.59

Hal ini dilakukan untuk mencapai keseimbangan pasokan energi dan mengurangi ketergantungan Jepang terhadap minyak. Oleh sebab itu pada awal tahun 2000 pemerintah Jepang menginvestasikan dana sebesar 4 milyar dolar AS sebagai upaya peningkatan tteknologi dan keterampilan dengan cara pemberian

subsidi untuk program konservasi dan produksi energi.60 Rancangan stategi energi

Jepang sejak tahun 2002 terpusat pada tiga strategi utama yakni, keamanan energi,

perlindungan lingkungan dan efisiensi pasokan energi.61 Tiga strategi tersebut

menjadi dasar keputusan pemerintah terkait energi.

59

Michael May, Energy and Security in East Asia. Americas’s Alliances with Japan and

Korea in a Changing Notheast Asia Asia. (Pacific Research Center 1998),11 tersedia http://iis-db.stanford.edu/pubs/10043/Mayfront.PM.pdf diakses pada 06 oktober 2013.

60

ibid, 11.

61Japan’s Energy Policy. Agency for Natural Resources and Energy (ANRE). (Menistry

economic, trade and Industry of Japan, 2010), 7. Tersedia di

https://www.jetro.go.jp/mexico/topics/20100708514-topics/01_ANRE_METI.pdf diakses pada 13 Oktober 2013.

Dewasa ini peran serta pemerintah dalam pengambialan kebijakan energi semakin besar. Kompleksitas kebutuhan Jepang terhadap energi semakin meningkat pasca terjadinya bencana alam gempa dan tsunami yang menyebabkan kerusakan pabrik listrik bertenaga nuklir Daichi di Fukushima. Untuk menangani kelangkaan tersebut, perusahaan dalam negeri Jepang aktif berpartisipasi dalam berbagai proyek energi, baik dalam maupun luar negeri. Partisipasi perusahaan energi yaitu dengan memberikan modal rekayasa mesin, kostruksi, bantuan keuangan dan jasa menejemen proyek untuk proyek-proyek energi di seluruh

dunia.62

Selain melakukan kebijakan untuk keamanan pasokan minyak dari luar, Jepang juga membangun kerjasama dengan negara-negara penhasil minyak, Jepang juga menerapkan kebijakan pengamanan energi dari dalam. Pada tahun 2005, METI mengeluarkan kebijakan “New National Energy Strategy” yang intinya adalah berisi tentang meningkatnya intervensi pemerintah di pasar energi dalam hal kontrol pemakaian energi untuk memastikan tidak terjadi kelangkaan energi. Strategi Jepang ini sekaligus menunjukkan bahwa Jepang memadukan strategi energi dan penekanan akan kemandirian melalui kebijakan efisiensi

ekonomi untuk menciptakan keamanan dalam memasok energi.63

Kalangkaan energi Jepang semakin meningkat disebabkan oleh gempa berkekuatan 8,9 skala richter yang terjadi di lepas pantai Coustof Sendai-bagian

62

Japan, Overview. United State Energy Information Administration (EIA), 31 Juli 2014, 1. Tersedia di http://www.eia.gov/countries/analysisbriefs/Japan/japan.pdf diakses pada 7 Oktober 2014.

63

utara Jepang.64 Gempa disertai tsunami tersebut mengakibatkan lelehnya tiga reaktor inti pada tiga hari pertama. Unit- unit operasi yang secara otomatis tutup adalah Tokyo Electric power Company (Tepco) milik Fukushima Daiichi menutup 3 reaktornya, dan Fukushima Daini menutup empat reaktor aktifnya. Pabrik Tohoku di Onigawa menutup tiga reaktornya, dan satu reaktor milik Japko

di Tokai juga ditutup. Jumlah daya yang diamankan sebesar 9377 Mwe.65

Jepang merupakan salah satu negara yang bergantung pada energi nuklir, oleh sebab itu bencana berupa gempa tersebut menambah deretan panjang masalah keamanan energi Jepang. Sebelum terjadinya insiden Fukushima pada tahun 2011 lalu, Jepang menduduki peringkat ketiga terbesar sebagai negara

pembangkit listrik tenaga nuklir setelah AS dan Perancis.66 Berikut adalah gambar

zona gempa dan Tsunami yang melanda Jepang pada tahun 2011.

Gambar 2.3. Peta Zona Gempa dan Tsunami Jepang pada Tahun 2011

Sumber: British Broadcasting Corporation News Asia- Pasific

64

Jonathan Amos, Quake was Big Event in Japan, BBC News, Maret 2011. Tersedia di http://www.bbc.co.uk/news/science-environment-12710999 diakses pada 21 Februari 2014

65

Fukushima Accident, World Nuclear Asssociation tersedia di http://www.world-nuclear.org/info/safety-and-security/safety-of-plants/fukushima-accident/ diakses pada 16 Agustus 2014.

66

Pada tahun 2011, Jepang memiliki 50 reaktor nuklir yang 17 diantaranya merupakan pembangkit listrik, dengan total kapasitas yang terpasang sebesar 46 gigawatts. Pasca insiden tersebut, Jepang telah kehilangan seluruh kapasitas pembangkit tenaga nuklir. Lebih dari 10 gigawatts kapasitas nuklir di Fukushima, Onagawa, dan Tokai menghentikan operasinya setelah gempa bumi dan tsunami

melanda Jepang.67

Hingga tahun 2012, Jepang kehilangan seluruh kapasitas nuklirnya,

namun dapat kembali beroperasi pada bulan Juli di tahun yang sama.68 Pada tahun

2011 Jepang telah dihadapkan dengan krisis energi, akibatnya kebutuhan struktur

tenaga listrik milik Jepang meningkat dari 60 % menjadi sekitar 90 %.69 Selain itu

pada tahun 2010, volume impor LNG sebesar 70 juta ton, kemudian volume impor LNG mengalami peningkatan mencapai 90 juta ton pada tahun-tahun selanjutnya. Hal ini menunjukkan bahwa volume impor Jepang semakin meningkat pasca gempa bumi. Permintaan volume LNG ini akan semakin

meningkat hingga mencapai 10 juta ton per tahunnya.70

Gempa bumi yang menghancurkan reaktor nuklir di Fukushima pada tahun 2011 lalu, menyebabkan Jepang menggeser penggunaan bahan bakar energi dan beralih menggunakan gas alam, minyak bumi, dan energi terbarukan sebagai

67

Japan- U.S. Energy Information Administration (EIA), 2013, 4.

68

Japan, Overview. (United State Energy Information Administration -EIA, 2014), 4. Tersedia di http://www.eia.gov/countries/analysisbriefs/Japan/japan.pdf diakses pada 7 oktober 2014.

69

Yasuhiro Matsuyama, Challenge in Japan and Japan- Russia Energy Cooperation. (ERINA Report. No.110, 2013), 40.

70

Hirohide Hirai. LNG Supply and Demand after the Great East Japan Earthquake and Japan- Russia Cooperation. (ERINA Report no. 104. 2012), 17

sumber daya energinya. Bahan bakar tersebut mampu memberikan keuntungan dan menggantikan beberapa reaktor nuklir Jepang yang rusak. Minyak dan gas bumi kembali menjadi sumber terbesar bagi energi utama Jepang. Meskipun demikian total konsumsi Jepang menurun dari sekitar 80% pada tahun 1970

menjadi 43% pada tahun 2011.71 Penurunan jumlah konsumsi tersebut diakibatkan

oleh turunnya angka populasi Jepang.

Jepang merupakan negara pengimpor minyak ketiga terbesar setelah AS dan Cina pada tahun 2012. Negara tersebut sangat bergantung pada pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah. Setelah insiden Fukushima, Jepang telah meningkatkan impor minyak mentah. Pada tahun 1980 jumlah impornya mencapai 70% dan terus meningkat. Hingga tahun 2012 Jepang berhasil mengimpor minyak mentah sebesar 83% dari Timur Tengah. Selain itu juga

pasokan minyak Jepang diimpor dari Saudi Arabia dan Iran.72

Impor minyak Jepang yang berasal dari Iran pada enam bulan pertama pada tahun 2012 mencapai 113,535 barel per hari (bbl/d). Namun pada enam bulan berikutnya mengalami penurunan menjadi 78,121 bbl/d atau 30 %. Hal ini dipengaruhi oleh sanksi AS dan Eropa terhadap Iran pada tahun 2012, sehingga Jepang mengganti pasokan minyak Iran dengan pasokan minyak dari Timur Tengah dan negara lainnya.

Berdasarkan ketersediaan sumber daya gas alam yang terbatas, menyebabkan Jepang harus bergantung terhadap impor untuk memenuhi kebutuhannya. Selain sebagai negara pengimpor minyak dengan jumlah besar,

71

Japan, Overview ( U.S. Energy Information Administration- EIA, 2013), 5.

72

Jepang juga merupakan negara pengimpor gas alam cair/ liquefied natural gas (LNG) terbesar. Tercatat negara tersebut telah menyumbang hampir 37% dari permintaan pangsa pasar global pada tahun 2012. Oleh karena itulah masalah lingkungan menjadi faktor utama pemerintah Jepang mendorong konsumsi LNG dalam negeri.

LNG menjadi bahan bakar pengganti yang digunakan untuk pembangkit tenaga listrik sebagai pengganti reaktor nuklir. Pada tahun 2012, Jepang mengkonsumsi LNG hampir 4,4 triliun kaki kubik (Tcf). Sektor Listrik merupakan konsumen terbesar dari impor LNG di Jepang. Dari keseluruhan pasokan LNG di Jepang, sebanyak 64% di konsumsi oleh sektor listrik. Pada tingkat kedua konsumsi LNG di sektor industri sebesar 21 %, kemudian 9 % di

area rumah tangga, 4 % di sektor komersial, dan 2 % di sektor lainnya.73

Salah satu tantangan terbesar Jepang dalam mengamankan pasokan energinya, yakni dengan mengimpor energi dari luar negeri. Sebagaimana diketahui sebelumnya, sebagian besar pasokan energi Jepang berasal dari timur tengah. Total impor minyak Jepang pada tahun 2012 mencapai 83 %. Dua negara pengekspor terbesar dari Timur Tengah adalah Arab Saudi dan Qatar. Pada tahun yang sama, Arab Saudi mengespor minyak sebesar 33 %. Qatar mengekspor

minyak sebesar 11 % dan gas alam cair sebesar 18 %.74

Pasokan energi Jepang bergantung terhadap ekspor energi Timur Tengah. Jepang memasok energi melalui jalur laut, yakni Laut Cina Selatan dan selat

73

Electricity Review Japan. The federation of Electric Power Companies of Japan 2012 tersedia di

http://www.fepc.or.jp/english/library/electricity_eview_japan/__icsFiles/afieldfile/2012/10/03/201 2ERJ_2r.pdf diakses pada 23 April 2014

74

Malaka. Kedua jalur tersebut digunakan sebagai jalur pengiriman minyak dan gas alam cair ke Jepang. Hal ini juga menjadi resiko besar bagi ketahanan energi

Jepang karena ketidakstabilan Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir. 75

Namun demikian, Jepang mencoba untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak dengan terus mencari energi alternatif lain seperti batu bara, gas alam, tenaga nuklir dan sumber energi terbarukan termasuk solar, tteknologi gelombang

biomas dan angin. 76

C. Sumber Daya Energi Rusia

Rusia merupakan negara produsen dan pengekspor minyak serta gas alam dengan jumlah besar di dunia. Ekonomi Russia sangat bergantung pada ekspor energi tersebut. Pada tahun 2011 misalnya, pendapatan gas dan minyak nasional terhitung hampir 52% dari total pendapatan anggaran belanja pusat, dan

meningkat hingga 70% pada tahun 2012.77 Pada tahun yang sama (2012) Rusia

menjadi produsen minyak kedua setelah AS. Selain sebagai produsen minyak dan gas, Rusia merupakan produsen bahan bakar cair terbesar ke tiga setelah Saudi Arabia dan AS. Sementara itu pada awal tahun 2013, Rusia menduduki peringkat ke tiga sebagai produsen minyak dunia. Kedudukan tersebut di bawah hasil produksi Saudi Arabia dan AS. Rata- rata produksi Rusia hingga September 2013

mencapai 10, 5 juta barel per hari (bbl/d).78

75

Ned Pagliarulo, Energy Shortfall Reshapes Japan’s Foreign Policy . (Global Risk insights. 2014). Tersedia di http://globalriskinsights.com/2014/07/04/energy-shortfall-reshapes-japans-foreign-policy/ diakses pada 04 juli 2014.

76

Ned Pagliarulo, Energy Shortfall Reshapes Japan’s Foreign Policy .

77

Russian Federation, International Atomic Energy Agency edisi 2013. Tersedia di

http://www-pub.iaea.org/MTCD/publications/PDF/CNPP2013_CD/countryprofiles/Russia/Russia.htm diakses pada 05 Juni 2014

78

1. Potensi Sumber Daya Energi Rusia.

Rusia merupakan negara dengan sumber daya melimpah. Selain memiliki

wilayah yang luas, yakni 17.098,2 ribu kilometer persegi,79 negara tersebut juga

menyimpan cadangan sumber daya energi terbarukan yang cukup besar.80

Dokumen terkait