Pelaksanaan Tugas Pokok dan Wewenang Bank Indonesia
5. Financial Identity Number (FIN) Survey
3.4. Kerjasama Internasional
Dalam upaya mendukung pelaksanaan tugasnya, Bank Indonesia berpartisipasi aktif melakukan kerjasama internasional di berbagai fora baik pada tataran regional maupun multilateral.
3.4.1. Kerjasama ASEAN
Dalam upaya mencapai integrasi sektor keuangan menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, fokus kerjasama keuangan Indonesia masih meneruskan perkembangan pada triwulan sebelumnya. Dalam forum ASEAN, pembahasan masih berkisar tentang upaya mencapai integrasi dalam kerangka MEA. Bank Indonesia bersama-sama dengan Kementerian Keuangan telah berupaya untuk mengawal berbagai agenda integrasi sektor keuangan ASEAN. Puncaknya dalam pertemuan ASEAN Central Bank Governors Meeting (ACGM) dan ASEAN Finance Minister Meeting (AFMM) yang dihadiri oleh Gubernur Bank Sentral dan Menteri Keuangan ASEAN di Brunei awal April 2013, telah dicapai
Kemajuan di sektor perbankan diikuti pula oleh sektor jasa keuangan lainnya yang dibahas dalam Working Committee on Financial Services Liberalisation (WC-FSL). Agenda yang diemban dalam WC-FSL lebih difokuskan pada integrasi sektor asuransi, khususnya terkait kerangka integrasi sektor asuransi kawasan. Lebih lanjut, pelaksanaan negosiasi putaran perundingan ke-6 untuk integrasi sektor jasa keuangan yang ditargetkan selesai pada April 2014 juga menjadi salah satu fokus kegiatan WC-FSL.
Sebagai alat bantu proses integrasi negara menuju free flow of capital sesuai tujuan MEA 2015, Working Committee on Capital Account Liberalization (WC-CAL), telah selesai menyusun CAL Heatmap. Berdasarkan heatmap tersebut terlihat bahwa rezim aliran modal Indonesia relatif lebih liberal dibandingkan dengan ASEAN lainnya kecuali Singapura. Dengan kondisi tersebut, Indonesia tidak memberikan komitmen relaksasi lebih lanjut atas rezim aliran modal yang dianut.
Dalam konteks integrasi di sektor sistem pembayaran dan setelmen yang dibahas dalam Working Committee on Payment and Settlement System (WC-PSS), telah dibentuk lima taskforce yang telah menyusun action plan jangka pendek, menengah, dan panjang. Tujuan dari dibentuknya action plans tersebut ialah sebagai upaya terciptanya ASEAN Payment Vision sehingga tercipta sistem pembayaran dan setelmen yang terintegrasi, aman, dan efisien di kawasan untuk mendukung dunia usaha dalam melakukan transaksi pembayaran lintas batas secara lebih mudah.
Dalam kegiatan capacity building yang berada di bawah Steering Committee on Capacity Building (SCCB), Bank Indonesia telah memberikan komitmen untuk memperkecil gap kemajuan sektor keuangan antara ASEAN dengan Brunei, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam (BCLMV). Di bawah koordinasi SCCB telah dirancang beberapa program yang disesuaikan dengan kebutuhan BCLMV. Khusus pada area sistem pembayaran, Bank Indonesia telah aktif memberikan capacity building kepada bank sentral Brunei, Kamboja, dan Laos.
3.4.2. Kerjasama ASEAN dengan Mitra Dialog (ASEAN+3)
Kerjasama ASEAN dengan mitra dialog plus three (Jepang, China, dan Korea) difokuskan pada upaya untuk mempererat kerjasama khususnya dalam mempertahankan resiliensi kawasan.
Fokus kerjasama ASEAN+3 yaitu Chiang Mai Initiative Multilateralisation (CMIM) yang merupakan inisiatif pembentukan regional self-help berupa skema pooling fund antarnegara kawasan ASEAN+3 telah memasuki babak baru dengan disepakatinya peningkatan kapasitas CMIM. Kapasitas CMIM yang sebelumnya sebesar USD120 miliar ditingkatkan menjadi USD240 miliar. Kontribusi Indonesia dalam pooling fund tersebut sebesar USD9,104 miliar dimana fasilitas buffer krisis yang diberikan CMIM kepada Indonesia maksimum sebesar USD22,76 miliar. Peningkatan porsi IMF de-link portion dari CMIM juga telah dicapai yaitu dari 20% menjadi 30% yang berarti Indonesia dapat memiliki
buffer bagi neraca pembayaran sebesar USD6,8 miliar tanpa harus terlibat dalam program IMF.
Kerjasama ASEAN dengan mitra dialog plus three juga menyepakati peluncuran fasilitas pencegahan krisis berupa CMIM Precautionary Line (CMIM-PL). Selain itu, dilakukan penguatan kapasitas ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) sebagai unit surveillance ASEAN+3.
3.4.3. Kerjasama Bank Sentral
Dalam rangka mendukung pencapaian tugas yang diembannya, Bank Indonesia melakukan berbagai kerjasama, koordinasi, dan sharing informasi dengan bank sentral lain baik di tataran bilateral, regional, maupun global. Pada triwulan laporan, Bank Indonesia berpartisipasi aktif dalam forum The
Executives Meeting of East Asia-Pacific Central Banks (EMEAP20)
Dalam rangka mendukung pencapaian pelaksanaan tugas, Bank Indonesia melakukan berbagai kerjasama, koordinasi, dan sharing informasi dengan bank sentral lain baik di tataran bilateral, regional, maupun global. Pada triwulan II-2013, Bank Indonesia berpartisipasi aktif dalam forum kerjasama bank sentral di kawasan EMEAP bersama sepuluh bank sentral dan otoritas moneter lainnya, baik dalam pertemuan level Gubernur maupun Deputi Gubernur.
Para Gubernur dan Deputi Gubernur EMEAP memberikan pandangan atas ketidakpastian yang tengah terjadi pada perekonomian global. Walaupun sentimen pasar keuangan dinilai membaik sejak awal tahun 2013, pasar keuangan global tetap dibayangi risiko karena problem fiskal dan fundamental negara maju yang belum terselesaikan. Namun para Gubernur dan Deputi menyampaikan optimismenya atas ketahanan perekonomian negara-negara EMEAP. Hal tersebut didukung oleh kebijakan makroekonomi yang kuat dan reformasi terhadap sistem keuangan yang beragam serta peningkatan integrasi regional.
Para Gubernur dan Deputi Gubernur EMEAP juga mendiskusikan kemajuan yang telah dicapai di berbagai spektrum aktivitas EMEAP. Kerjasama mencakup area pengawasan perbankan, pasar keuangan, sistem pembayaran dan setelmen, dan teknologi informasi, serta kemajuan aktivitas surveillance dan riset yang telah dilakukan oleh EMEAP selama satu tahun terakhir.
Disamping itu, pertemuan high-level EMEAP tersebut juga diwarnai dengan pembahasan mengenai kerangka kerja manajemen krisis (crisis management framework) untuk kawasan EMEAP. Para Gubernur menyetujui aspek-aspek substantif atas kerangka manajemen krisis regional dimaksud dan sepakat untuk terus menyempurnakan untuk selanjutnya difinalisasi.
3.4.4. Kerjasama Bank Sentral di Bank for International Settlement (BIS)
Dalam rangka mendukung pencapaian tugas yang diembannya, Bank Indonesia berpartisipasi aktif dalam forum BIS guna melakukan sharing informasi tentang perkembangan ekonomi, moneter, keuangan serta isu-isu kebanksentralan terkini dan kebijakan yang ditempuh oleh masing-masing bank sentral/otoritas moneter anggota BIS. Forum itu juga menjadi sarana koordinasi kerjasama pada bidang pengawasan bank (banking supervision), pasar keuangan (financial markets), dan sistem pembayaran (payment system). Pada triwulan II-2013, Bank Indonesia telah berperan aktif berpartisipasi dalam BIS Bimonthly Meeting pada Juni 2013. Rangkaian pertemuan yang diikuti Bank
20 The Executives Meeting of East Asia-Pacific Central Banks (EMEAP), adalah organisasi kerjasama antara bank sentral dan otoritas moneter di kawasan Asia Timur dan Pasifik. EMEAP terdiri dari 11 anggota yaitu Reserve Bank of Australia, People’s Bank of China, Hong Kong Monetary Authority, Bank Indonesia, Bank of Japan, The Bank of Korea, Bank Negara Malaysia, Reserve Bank of New Zealand, Bangko Sentral ng Pilipinas, Monetary Authority of Singapore, dan Bank of Thailand. Kerjasama dilakukan a.l melalui sharing informasi tentang perkembangan ekonomi, keuangan terkini dan kebijakan yang ditempuh oleh masing-masing bank sentral/otoritas moneter di kawasan EMEAP, serta koordinasi kerjasama pada area banking supervision, financial markets, payment system dan information
Indonesia meliputi Asian Consultative Council (ACC), Global Economy Meeting (GEM) dan Annual General Meeting (AGM).
ACC merupakan wadah bertukar pikiran (exchange views) antara Gubernur Bank Sentral di kawasan Asia-Pacific dengan Board dan Management BIS untuk membahas program kegiatan BIS pada satu tahun ke depan. Pada pertemuan kali ini, pembahasan difokuskan pada aktivitas perbankan di Asia sejak awal tahun 2013, update mengenai Asian Bond Funds, perkembangan riset kebijakan di bidang stabilitas moneter dan keuangan, serta rencana pertemuan ke depan.
3.4.5. Kerjasama International Monetary Fund (IMF)
Dalam rangka memajukan kerjasama internasional dalam menjaga stabilitas keuangan dan moneter, Bank Indonesia berpartisipasi aktif pada Pertemuan Spring IMF yang diselenggarakan pada tanggal April 2013. Kegiatan utama dalam pertemuan itu adalah membahas perkembangan terkini global ekonomi dan serta beberapa isu terkait governance IMF seperti Quota Formula Review.
Dalam pembahasan global ekonomi, ekonom IMF menggambarkan kondisi perekonomian global saat ini dimana langkah-langkah kebijakan negara memitigasi risiko-risiko jangka pendek. Meksipun pemulihan tetap berlangsung namun hal tersebut tidak merata di semua kawasan, dan pertumbuhan masih dan penciptaan lapangan kerja masih rendah. Risiko-risiko baru bermunculan di tengah tetap persistennya risiko-risiko yang ada. IMF sepakat perlunya aksi kebijakan yang desisif dari setiap pemangku kebijakan, guna mendukung pemulihan yang berkelanjutan serta meningkatkan resiliensi ekonomi. Perbaikan dan reformasi di sektor keuangan juga tetap menjadi prioritas.
Terkait reformasi tatakelola IMF, pada General Quota Review ke-14 telah dilakukan review formula kuota. Review kali ini dilakukan dalam rangka meningkatkan relevansi kuota formula IMF dalam menggambarkan dinamika yang terjadi di perekonomian global saat ini. Formula kuota pada dasarnya digunakan untuk menghitung pangsa kuota negara anggota, yang kemudian digunakan untuk menentukan hak suara negara anggota. Oleh karena itu, review formula kuota menjadi sangat penting agar dasar perhitungan kuota lebih mencerminkan posisi relatif suatu negara dalam perekonomian global.
Indonesia sebagai salah satu negara emerging dalam keanggotaan IMF juga berusaha untuk memperjuangkan dan mendukung perubahan formula agar lebih sejalan dengan perkembangan ekonomi global saat ini, yaitu memberikan kuota yang lebih besar ke negara berkembang, termasuk Indonesia, sejalan dengan perannya yang meningkat dalam perekonomian global. Untuk itu perlu diperjuangkan agar Product Domestic Bruto (PDB) harus menjadi variabel yang utama di dalam formula kuota mengingat variabel PDB adalah variabel yang paling representatif menggambarkan skala ekonomi relatif suatu negara terhadap negara lain.
3.4.6. Kerjasama Asia Pacific Economic Cooperation (APEC)
Bank Indonesia berperan aktif dalam salah satu forum APEC yaitu Finance Ministers’ Process (FMP) bersama-sama dengan Kementerian Keuangan c.q. Badan Kebijakan Fiskal (BKF). Di tahun 2013, di
mana Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah pertemuan APEC, pada triwulan II telah diselenggarakan APEC Senior Finance Officials’ Meeting (SFOM). Sidang tersebut dilaksanakan pada tanggal 22-23 Mei 2013 di Manado, Sulawesi Utara. Adapun tema-tema yang dibahas dalam sidang tersebut adalah tentang infrastructure investment, financial inclusion, trade finance, dan treasury and budget
reform.
Back to back dengan SFOM tersebut, Bank Indonesia bekerjasama dengan BKF menyelenggarakan
workshop on Financial Inclusion pada tanggal 23-24 Mei 2013 dengan tema ”Promoting Financial Eligibility of Poor Household and SMEs Through Innovative Approach to Enhance Financial Inclusion”. Dalam workshop itu Bank Indonesia bertindak sebagai koordinator dan chair kegiatan tersebut.
3.4.7. Kerjasama Negara-Negara G-20
G20 dengan Keketuaan Rusia tahun 2013 memiliki tiga prioritas, yaitu (1) growth through effective
regulation; (2) growth through quality jobs and investment; dan (3) growth through trust and transparency. Pada isu growth through effective regulation G-20 menekankan pentingnya penguatan
regulasi keuangan, peningkatan perdagangan multilateral dan menjaga kesinambungan ketersediaan sumber energi energi global. Pada isu growth through quality jobs and investment, G-20 menekankan pentingnya pembiayaan jangka panjang untuk investasi, penciptaan lapangan kerja dan pembangunan yang merata. Sementara itu, pada isu growth through trust and transparency, G20 terus melanjutkan upaya reformasi sistem moneter internasional dan meningkatkan good governance.
Sepanjang triwulan II-2013, telah dilaksanakan dua pertemuan yaitu pertemuan tingkat Deputi (G20 DM) serta Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (G20 MGM) di Washington dan pertemuan tingkat Deputi (G20 DM) di St. Petersburg. Kegiatan yang dilaksanakan dan diikuti oleh Bank Indonesia.
Terkait isu reformasi sektor keuangan, Indonesia sependapat bahwa perbaikan infrastruktur keuangan melalui reformasi di sektor keuangan domestik, khususnya oleh emerging economies akan mampu meminimalkan dampak yang tidak dikehendaki dari implementasi agenda reformasi sektor keuangan global. Sementara itu, terkait penerapan Basel III, pada prinsipnya Indonesia sudah mengagendakan implementasi Basel III, namun mempertimbangkan kompleksitas pelaku pasar dan industri perbankan di Indonesia, maka diperlukan waktu serta upaya yang memadai untuk memastikan bahwa nantinya penerapan Basel III tidak mengganggu stabilitas sektor keuangan serta pertumbuhan ekonomi domestik.
Terkait isu financial inclusion, Indonesia menyampaikan dukungannya terhadap implementasi
peer-learning program sebagaimana disampaikan oleh Global Partnership for Financial Inclusion sebagai
salah satu upaya untuk mendorong perkembangan inklusi keuangan di negara anggota G-20. Terkait isu pembiayaan investasi, Indonesia memberikan gambaran mengenai skema ABIF sebagai salah satu skema pembiayaan investasi di regional ASEAN bersama negara mitra utama (+3), yang bisa menjadi salah satu contoh skema pooling fund.
Terkait isu Systemically Important Financial Institutions (SIFIs), Indonesia sependapat dengan usulan perluasan cakupan regulasi/monitoring ke perusahaan asuransi guna menghindari dampak yang tidak diharapkan dari permasalahan timbul di perusahaan-perusahaan asuransi terhadap sektor keuangan domestik.