• Tidak ada hasil yang ditemukan

Koordinasi dengan Pemerintah

Pelaksanaan Tugas Pokok dan Wewenang Bank Indonesia

3.1. Stabilitas Moneter

3.1.3. Koordinasi dengan Pemerintah

Dalam rangka memperkuat efektivitas pengendalian inflasi, Bank Indonesia senantiasa memperkuat koordinasi dengan pemerintah di tingkat pusat melalui Tim Pengendalian Inflasi (TPI) maupun di tingkat daerah yakni antara Kantor Perwakilan Bank Indonesia dengan Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Koordinasi dan pengambilan kebijakan yang dilakukan oleh TPI dan TPID tersebut terutama untuk mengatasi berbagai permasalahan struktural dalam rangka mendorong peningkatan kapasitas perekonomian, memitigasi potensi risiko gangguan pasokan, memperluas akses informasi harga, serta berupaya mengelola ekspektasi inflasi agar searah dengan pencapaian sasaran inflasi yang rendah dan stabil untuk kepentingan masyarakat luas. Selama triwulan II-2013, pembahasan di forum TPI dan TPID fokus pada potensi risiko dan langkah antisipasi seiring dengan meningkatnya tekanan inflasi pada volatile food dan dampak kenaikan administered

price, khususnya terhadap kebijakan pemerintah yang menaikan harga BBM bersubsidi sebesar Rp

2.000/liter untuk premium dan Rp 1.000/liter untuk solar.

Sebagai bagian dari koordinasi tersebut, pada 8 Mei 2013, Bank Indonesia mengadakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang keempat di Jakarta dengan tema “Memperkuat Kerjasama Daerah untuk Meningkatkan Perekonomian Domestik dan Menjaga Stabilitas Harga untuk Kesejahteraan Masyarakat”. Pelaksanaan Rakornas TPID keempat tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan sebagai berikut:

a. Meningkatkan komitmen kerjasama antar-daerah dalam mendukung ketahanan pangan dan stabilitas harga pangan.

b. Memperkuat sinergi perencanaan dan anggaran kebijakan ketahanan pangan antara Pemerintah Propinsi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota.

c. Meningkatkan ketersediaan dan kemudahan akses data dan informasi neraca pangan daerah secara berkesinambungan dan terintegrasi dengan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) di daerah.

d. Meningkatkan koordinasi dalam perumusan kebijakan pengupahan untuk mendukung terciptanya iklim usaha yang kondusif.

e. Melaksanakan langkah-langkah mitigasi dampak kebijakan perubahan harga BBM bersubsidi terhadap kesejahteraan masyarakat.

Untuk memperkuat peran Kantor Perwakilan Bank Indonesia di daerah dalam mendukung perekonomian dan mendorong terciptanya stabilitas harga di daerah melalui forum TPID, telah dilaksanakan beberapa kegiatan selama triwulan II-2013. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi: a. Implementasi pengembangan Sistem Informasi Regional (SIER), yang diawali dengan beberapa

b. Melakukan analisis pertumbuhan ekonomi daerah (pilot project Jakarta), yang ditindaklanjuti dengan penyampaian surat rekomendasi dan Focus Group Discussion dengan Pemerintah Daerah Jakarta terkait penyelarasan asumsi makro dan prospek ekonomi 2014. Upaya semacam ini akan dilaksanakan pula oleh9 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah pada semester II mendatang.

c. Menyusun Regional Economic Model (REMBI) untuk 9 wilayah Kantor Perwakilan Bank Indonesia Dalam Negeri yang digunakan sebagai dasar untuk membuat proyeksi makro.

d. Melaksanakan Rapat Koordinasi Nasional IV (Rakornas) TPID untuk memperkuat sinergi antara TPI dan TPID, maupun peran TPID untuk mendukung stabilitas harga di daerah.

e. Menyediakan laman TPI dan Pokjanas TPID dalam website Bank Indonesia sebagai bentuk komunikasi dan publikasi kebijakan pengendalian harga, antara Bank Indonesia dengan pemerintah.

f. Mengembangkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) dengan pilot project Jakarta. Dengan program ini, pada tahun-tahun mendatang berbagai pusat informasi harga yang saat ini telah dimiliki beberapa daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Utara, akan terintegrasi secara menyeluruh.

g. Penerbitan perdana publikasi Laporan Nusantara. Melalui laporan ini, seluruh stakeholders dapat mengetahui dinamika dan perkembangan ekonomi di masing-masing wilayah Indonesia sebagai dasar bagi pemangku kebijakan mengambil keputusan dalam pengembangan ekonomi sesuai dengan karakteristik dan keunikan masing-masing wilayah.

Di tingkat nasional, Bank Indonesia juga melakukan rapat koordinasi (Rakor) dengan pemerintah. Selain itu, bersama Kementerian Keuangan dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Bank Indonesia juga melakukan berbagai simulasi untuk mengantisipasi dampak berbagai skenario rencana kebijakan BBM bersubsidi terhadap proyeksi inflasi IHK, maupun pertumbuhan ekonomi. Hasil simulasi tersebut kemudian digunakan sebagai salah satu panduan untuk mengambil langkah-langkah strategis yang perlu dilakukan, baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah.

3.1.4. Pengelolaan Utang Luar Negeri (ULN)

Pengelolaan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia melalui pemantauan perkembangan ULN pemerintah dan swasta. Selain itu, sebagai pemegang kas pemerintah, Bank Indonesia menatausahakan ULN pemerintah termasuk melakukan pembayaran ULN pemerintah yang jatuh tempo. ULN pemerintah yang ditatausahakan Bank Indonesia berasal dari kreditor multilateral, bilateral, kredit ekspor dan komersial serta global bond. Penggunaan ULN dalam membiayai defisit Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) dilakukan melalui transfer langsung ke rekening kas umum negara. Sementara itu,untuk membiayai proyek-proyek pemerintah, penarikan pinjaman ULN dilakukan dengan cara pembayaran langsung, penempatan dana pada rekening khusus, penerbitan

letter of credit (L/C) dan pembiayaan pendahuluan. Untuk ULN swasta mencakup kebutuhan

Perkembangan terkini posisi ULN Indonesia per Juni 2013 tercatat sebesar USD258,0 miliar, yang terdiri dari ULN sektor publik sebesar USD124,0 miliar dan ULN sektor swasta sebesar USD134 miliar. Dengan perkembangan tersebut, posisi ULN Indonesia pada triwulan II-2013 mengalami peningkatan USD3,7 miliar (1,45%) dibandingkan dengan posisi triwulan I-2013.

Sejalan dengan meningkatnya ULN, menurunnya ekspor dan melambatnya pertumbuhan ekonomi, indikator beban hutang dan kerentanan Indonesia pada triwulan II-2013 memburuk dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebagaimana tercermin pada rasio Debt Service Ratio (DSR) dan rasio

Debt to GDP (Grafik 3.6). Indikator DSR pada triwulan II-2013 menunjukkan peningkatan menjadi

sebesar 41,4%, dibandingkan dengan triwulan I-2013 sebesar 34,8%. Sementara, rasio Debt to GDP tercatat sebesar 31,3%, meningkat dibandingkan dengan rasio triwulan I-2013 sebesar 28,7%. Rasio Debt to Export dan Short Term Debt to Reserve juga menunjukkan peningkatan. Rasio

Debt to Export pada triwulan II-2013 meningkat menjadi 118,7% dibandingkan dengan triwulan

sebelumnya yang sebesar 115,9%. Sementara rasio Short Term Debt to Reserve meningkat menjadi 55,7% dibandingkan dengan triwulan I-2013 sebesar 51,4%, yang disebabkan penurunan cadangan devisa.

Grafik 3.6

Debt Burden Indikator ULN Indonesia

����������������� ���������������� ��� ���� ����� ����� ����� ����� ����� �� �� �� �� �� �� �� �� �� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� �������������������� ��������� ��������������������������� ����������������� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ��������� ��� �����������

Untuk mendukung transparansi informasi mengenai perkembangan ULN pemerintah, Bank Indonesia dan swasta, Bank Indonesia bekerjasama dengan Kementerian Keuangan menerbitkan publikasi Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) setiap bulan. Penyusunan SULNI dilatarbelakangi oleh kebutuhan informasi utang luar negeri Indonesia yang komprehensif, dapat dan mudah dibandingkan (comparable) serta terpercaya (realiable). Publikasi ini diharapkan juga menjadi referensi utama bagi

stakeholder domestik dan internasional.Sampai dengan triwulan II-2013, telah diterbitkan publikasi

SULNI edisi Januari s.d Juni 2013, yang dapat diakses melalui website Bank Indonesia.

Selain menerbitkan SULNI, Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan juga menerbitkan publikasi Statistik Utang Sektor Publik Indonesia (SUSPI/Public Sector Debt Statistics), yang terdiri dari data

utang Pemerintah, Bank Indonesia dan BUMN, baik utang domestik maupun utang luar negeri. Publikasi SUSPI merupakan joint program antara World Bank dan IMF dalam rangka penyediaan data utang sektor publik di setiap negara dalam standar internasional yang comparable dalam rangka transparansi dan akuntabilitas pengelolaan utang sektor publik. Saat ini sudah terdapat 94 negara (termasuk Indonesia) yang menerbitkan SUSPI secara online setiap triwulan kedalam website World Bank dan IMF, dan 67 diantaranya sudah tersedia datanya. Sampai dengan triwulan II-2013, Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan telah mempublikasikan laporan periode triwulan I-2013 dalam

website World Bank.

Dokumen terkait