BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.3.3. Kerjasama Pengelolaan MiniMarket
Wakaf produktif adalah wakaf yang memiliki manfaat dan dapat dikembangkan terus menurus secara ekonomis. Harta wakaf (tanah) sebagai faktor produksi berdasarkan Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004 harus dikelola dengan baik. Harta wakaf sebagai benda dalam bentuk fisik dapat dikerjakan oleh manusia, dalam istilah ekonomi yaitu benda tersebut dapat dikelola manusia agar menjadi berguna (Mannan, 1993).
Ada beberapa prinsip dalam proses produksi yaitu prinsip kesejahteraan ekonomi dan kesejahteraan umum, baik menyangkut persoalan moral, pendidikan, dan agama. sehingga, wakaf akan produktif manakala bermanfaat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat umum. Sebagai contoh, tanah wakaf dikelola untuk keperluan pendidikan dan pembinaan sosial keagamaan.
Dalam konsep ekonomi syariah, kesejahteraan ekonomi tercapai apabila bertambahnya pendapatan yang diakibatkan oleh meningkatnya produksi (pemanfaatan) sumber-sumber daya secara maksimum, dan tidak hanya dalam bentuk bertambahnya materi, akan tetapi lebih luas memaksimalkan terpenuhinya kebutuhan dan memberi kontribusi bagi kesejahteraan bersama. Tanah sebagai faktor produksi dalam konsep ekonomi syariah adalah sumber daya alam yang dapat dikelola dengan keterampilan yang baik sehingga menghasilkan dan bermanfaat secara maksimal pada gilirannya akan mendapatkan kesejahteraan. Ajaran Islam menganjurkan dan memotivasi untuk membudidayakandan mengolah lahan kosong atau lahan tidur dengan baik sehingga bermanfaat dan menghasilkan, demikian juga halnya tanah wakaf dapat dikelola agar menghasilkan. Selain fungsi tersebut di atas, untuk pendidikan dan sosial keagamaan, tanah wakaf dapat pula dikelola untuk lahan pertanian dan perkebunan baik secara intensif maupun ekstensif. Dan kini wakaf berkembang menjadi sangat luas hingga ke perhotelan, bangunan (rumah) untuk
penduduk, toko, serta tempat ibadah. Adapun keuntungan yang didapat dari berbagai bisnis tersebut diperuntukkan bagi mereka yang tidak mampu dengan membangun berbagai fasilitas publik, menggaji para karyawannya, memberi besiswa, berobat gratis, dan sebagainya.
Kebijakan Masjid Sabilillah salah satunya adalah menerima wakaf, baik wakaf tunai mapun wakaf produktif. Hal ini membuka peluang penggalangan dana yang cukup besar karena lingkup sasaran pemberi wakaf menjadi sangat luas. Hal ini karena Muslim kelas menengah mendapat kesempatan beramal yang lebih, serta ikut menjadi bagian proses memberdayakan masyarakat melalui Institusi masjid. Masyarakat turut serta dalam penggerak ekonomi umat. Melalui kebijakan ini, diharapkan dapat memperluas pemberdayaan di bidang sosial ekonomi yang baru.
Berawal dari keinginan Yayasan Sabilillah untuk mendirikan minimarket pada tahun 2009, hingga pada akhirnya di tahun 2017 dilakukan percepatan. Kemudian berdirilah “Mini Market Al-Khaibar 6 Masjid Sabilillah” di tahun 2017 yang terletak di sisi kanan Masjid Sabilillah. Mini market ini dibangun atas kerjasama antara Yayasan Sabilillah dengan Badan Wakaf Jawa Timur dan Badan Wakaf Kota Malang. Adapun Badan Wakaf Jawa Timur sendiri telah memiliki lokasi-lokasi pengembangan wakaf dengan bentuk mini market. Di Masjid Sabilillah ini adalah merupakan mini market yang ke-6.
Bentuk kerjasama diantara Yayasan Sabilillah dan Badan Wakaf yaitu bahwa lahan dan bangunan mini market adalah milik Yayasan Sabilillah, sedangkan produk-produk mini market, pendanaannya berasal dari Badan Wakaf. Berdasarkan pengelolannya, terdapat aturan main yang berlaku setelah
Break Even Point (BEP). Diantaranya adalah sebagai maukuf alaih (yang
penyaluran hasil keuntungan yang didapat seperti insentif bisyarah (upah) kepada imam rawatib.
Hadirnya unit usaha mini market ini, diharapkan dapat menopang pemasukan masjid kedepannya. Harapan mini market yang dimiliki Masjid Sabilillah ini memiliki jaringan yang seperti halnya alfamart ataupun indomart dengan basic berangkatnya dari masjid ke masjid atau dari mushola ke mushola. Adapun contoh konkretnya diungkapkan oleh Pak Farhan :
“….baru-baru ini, kita coba mengajukan izin untuk menerima wakaf tunai dan wakaf produktif ini dengan mini market. Dengan harapan mini market yang dimiliki ini jaringan nya bisa seperti alfamart atau pun indomart dengan basic berangkatnya dari masjid ke masjid atau dari mushola ke mushola. Inikan hanya satu contoh model, nanti kalau sudah lunas ini nanti dibikinkan wakaf produktif ditempat lain. Lah hasil keuntungan dari minimarket tersebut di gunakan untuk kegiatan masjid atau mushola. Terserah dikembangkan untuk apa, itulah yang dikatakan pusat peradaban basicnya dari masjid untuk masjid. Kalau seandainya semua umat Islam itu tidak beli di indomart sama afamart. Kaya-kaya gak itu masjid?, kaya. Meskipun cuma 1 hari kita bisa konsumsi 1 rupiah/produk, 1 hari kita bisa konsumsi 10 produk sudah 1000. 1 bulan sudah berapa. Kalau itu 1 orang, lah kalau 10 orang, padahal kalau belanja tidak hanya 1 produk, dan keuntungan tidak hanya 1 rupiah. Itu konsepnya yang sederhana tapi lebih luas”.
Adapun terkait dengan sejarah dibalik nama Al-Khaibar, Pak Heru menceritakan bahwa ada misi mensejahterakan umat sebagaimana yang dikisahkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab :
“Pada masa Khalifah Umar, semua itu ikut perang, lhoo sing ngajar ngaji
ga onok, karena ikut berperang semuanya, akhirnya dapat harta
rampasan perang mereka akhirnya sejahtera. Kemudian oleh Unmar orang-orang yang ahli Qur’an disuruh untuk mengajarkan al-Qur’an. Lhoo dari mana gajinya? melalui tanah wakaf A-Khaibar yang ditanami kurma itu. Sehingga orang-orang yang mengajarkan Al-Qur’an disebar ke Mesir, kemana-mana, dananya dari Al-Khaibar.
Dengan demikian bahwa Masjid Sabilillah berperan dalam mengembangkan masyarakat melalui unit bisnis dengan mendayagunakan lahan
dan bangunan masjid, kemudian membentuk kerjasama di bidang wakaf produktif. Dari pernyataan informan diketahui bahwa dengan berdirinya mini market Al-Khaibar, diharapkan keuntungan yang terkumpul nantinya bergulir dan dapat berdiri Al-Khaibar-Al-Khaibar yang lain dengan system pengelolaan berbasis wakaf produktif.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Qardhawi (1997) bahwa memfungsikan dan mempergunakan aset ekonomi dan kekayaan materi dengan baik itu bisa dilakukan dengan tidak membiarkan sesuatu tanpa guna dan tetap memeliharanya dengan baik. Karena ia merupakan amanah yang harus dijaga dan nikmat yang harus disyukuri dengan mempergunakannya secara tepat dan maksimal. Umar bin Abdul ‘Aziz berkata, “Fungsikanlah tanah itu untuk ditanami dengan memperoleh separuh, sepertiga, seperempat hingga sepersepuluhnya, dan janganlah kamu biarkan tanah itu rusak” (Mulyono,2010).
Gambar 5.33
Mini Market Al-Khaibar 6 Masjid Sabilillah
.