BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1.2. Menumbuhkan Kesadaran Masyarakat akan Pentingnya
Pemberdayaan masyarakat adalah suatu upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengatasi, memelihara, melindungi dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri. Pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan adalah upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran kemauan dan kemampuan dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan. Memampukan masyarakat, “dari, oleh, dan untuk” masyarakat itu sendiri (Nurbeti, M. 2009).
Dalam rangka pencapaian kemandirian dan kesadaran tentang kesehatan di Masjid Sabillah terdapat sebua klinik yang bernama Sabilillah Medical Service. Beberapa tujuan berdirinya klinik ini adalah salah satunya untuk pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. Kesehatan merupakan unsur penting yang tidak bisa diabaikan. ini dilakukan untukmenumbuhkan kesadaran kritis masyarakat terhadap akar penyebab masalahkesehatan.Pemberdayaan di bidang kesehatan sangat penting untuk dilakukan agar masyarakat sebagai
primary target memiliki kemauan dan kemampuan untuk memelihara dan
Sabilillah Medical Service (SMS) merupakan klinik kesehatan milik Yayasan Sabilillah Malang. Alamat klinik ini di Jalan Candi Kidal No.6, Komplek Masjid Sabilillah Kecamatan Blimbing Kota Malang,. Klinik ini mendapatkan legaliitas berupa izin operasional dari Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) Kota Malang dan izin Dinas Kesehatan Kota Malang Drs. Peni Suparto, M. AP pada tanggal 24 Juni 2010.
Memasuki tahun berikutnya, adanya perubahan Undang-Undang Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yaitu Undang-Undang no 24 tahun 2011. Sedangkan kesehatan bagi ketenagakerjaan berubah menjadi Undang-Undang no 40 tahun 2014 per tanggal 1 Januari 2014. Maka Sabilillah Medical Service (SMS) perlu juga melakukan penyesuaian dengan Undang-Undang tersebut. Sehingga pada tahun 2014, Sabilillah Medical Service sudah mendapat izin tetap pada tanggal 30 Mei 2014. dari Dinas Kesehatan Kota Malang dengan no. 445.KL/66/35.73.306/2014.
Sabilillah Medical Service (SMS) merupakan sebuah klinik kesehatan yang dikelola Yayasan Sabilillah. Dalam pelayanan dan sarana prasananya, klinik ini meningkatkan standar fasilitas kesehatan (Faskes 1) BPJS. Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) juga dipersiapkan untuk memfasilitasi penanganan kesehatan, salah satunya dengan menggandeng Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang (UNISMA) serta RSI UNISMA.
Klinik Sabilillah Medical Service berdiri berdasarkan fatwa dari Kyai Tolchah, yang merupakan salah satu pendiri Masjid Sabiillah. Bahwa, seyogyanya masjid tidak hanya dipergunakan untuk ibadah sholat semata, namun juga dipergunakan untuk tujuan pemberdayaan dan untuk kesejahteraan masyarakat, salah satunya yaitu berkaitan dengan masalah kesehatan. Sehingga berdirilah sebuah klinik yang ditujukan sebagai wadah untuk menaungi
masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan di lingkungan Masjid Sabilillah Malang.
Klinik Sabilillah Medical Service ini telah berjalan mulai tahun 2010. Pada mulanya sistem yang digunakan pada saat itu sifatnya kerjasama, sharing profit yang dikelola oleh dokter-dokter. Dalam perjalanannya, terjadi miss manajemen, sehingga Yayasan Sabilillah memutuskan untuk mengelola sendiri klinik tersebut pada tahun 2014. Hingga kini, Klinik Sabilillah Medical Service terus bebenah untuk menjadi klinik yang dapat menjangkau semua masyarakat. Terlebih karena begitu besar dan banyaknya jumlah karyawan Sabilillah yang meliputi Yayasan, Lembaga Pendidikan, LAZIS, takmir, dan sebagainya, dan besarnya jumlah anggota masyarakat yang terhimpun dalam koperasi, maka Klinik Sabilillah Medical Service melaksanakan proses untuk menjadi faskes pertama BPJS. Tujuannya adalah untuk mewadahi dan memfasilitasi karyawan serta masyarakat umum dibidang kesehatan. Lebih jauh lagi bahwa sasaran Klinik Sabilillah Medical Service adalah karyawan dan masyarakat tidak mampu, sehingga diharapka melalui pelayanan kesehatan di Sabilillah Medical Service (SMS), memudahkan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang dengan baik.
Pada tahun 2012 dan tahun 2013, klinik masih menggunakan sistem kerjasama profit sharing antara Yayasan Sabilillah dengan beberapa dokter. Kemudian pada tahun 2014 ketika klinik memutuskan untuk mengelola sendiri, maka terjadi perombakan baik sistem kerjasama dan perbaikan hingga pembaharun fasilitas kesehatan. Sehingga pada tahun 2016 barulah mulai beroperasi kembali. Seperti halnya ditunjukkan pada tabel di bawah ini :
Tabel 5.4
Jumlah Pengunjung Klinik Sabilillah Medical Service (SMS)
Tabel Jumlah Pengunjung Klinik (SMS) Tahun Jumlah Pengunjung
2012 547 orang
2013 595 orang
2014 -
2015 -
2016 384 orang
Sumber : Data Klinik Sabilillah Medical Service, 2017
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa pada tahun 2012 hingga tahun 2013 pengunjungKlinik Sabilillah Medical Service terbilang cukup banyak dan ramai dikunjungi, karena pada saat itu Sabilillah sistemnya masih bekerjasama dengan para dokter. Kemudian pada tahun 2014 terjadi perombakan sistem dan manajemen. Yayasan Sabilillah mengambil alih sepenuhnya atas klinik tersebut dan mulai dikelola dan ditata ulang. Hingga pada tahun 2016 mulai beroperasi kembali dan kini pada tahun 2017 sedang dilakukan proses menuju faskes BPJS yang memudahkan masyarakat untuk mendapatkan fasilitas kesehatan.
Beberapa fasilitas yang telah dimiliki Klinik Sabilillah guna menunjang pelayanan kesehatan bagi masyarakat dan juga pemberdayaan sosial kesehatan. Pemberdayaan masyarakat terhadap kesehatan sesuai dengan Undang – undang RI, Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, bahwa pembangunan kesehatan harus ditujukan untuk meningkatkan kesadaran,
kemauan, dan kemampuan hidup masyarakat yang setinggi- tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya masyarakat. Setiap orang berkewajiban ikut mewujudkan, mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi–tingginya. Maka Sabilillah dalam hal ini berbagai pihak baik yayasan, LAZIS, Koperasi dan komponen didalamnya bertugas memberikan informasi kepada karyawan dan juga masyarakat umum serta anggota binaan Sabilillah.
Dalam berbagai kesempatan untuk memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat (empowering) tidak hanya dibidang ekonomi, namun juga kesehatan. Dalam rangka ini diperlukan langkah-langkah lebih positif, selain dari hanya menciptakan iklim dan suasana. Penguatan ini meliputi langkah-langkah nyata, dan menyangkut penyediaan berbagai masukan (input), serta pembukaan akses ke dalam berbagai peluang (opportunities) yang akan membuat masyarakat menjadi berdaya. Dalam rangka pemberdayaan ini, upaya yang sangat pokok adalah peningkatan derajat kesehatan.
Promosi kesehatan sebagai proses pemberdayaan individu dan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan mereka mengendalikan determinan-determinan kesehatan, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan mereka. Promosi kesehatan merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui proses pembelajaran dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat agar mereka dapat menolong dirinya sendiri (Depkes RI 2008). Menolong diri sendiri artinya masyarakat mampu menghadapi masalah-masalah potensial (yang mengancam) dengan cara mencegahnya dan mengatasi masalah-masalah kesehatan yang sudah terjadi dengan menanganinya secara efektif dan efisien (Hartono, 2010).
Gambar 5.8
Klinik Sabilillah Medical Service (SMS)
Sumber : Dokumentasi Penulis, 2017
Masjid Sabilillah memiliki sebuah ambulance yang diharapkan dapat menjadi sarana transportasi pasien secara cuma-cuma. Namun ambulance yang tersedia sekarang ini masih sekedar sarana transportasi, belum sesuai standart ambulance. Dalam hal ini Pak Farhan menyatakan :
“Harapannya nanti ada beberapa unit ambulance, tentunya yang sesuai dengan standarsisasinya. Karena sekarang masih sekedar untuk transportasi pasien”
Klinik kesehatan Sabilillah Medical Service berikut pula sebuah unit ambulance, dimaksudkan sebagai sarana penunjang masyarakat dalam bidang kesehatan khususnya disediakan untuk membantu fakir miskin, dhuafa dan yatim piatu. Karena persoalan paling pelik untuk masyarakat miskin (dhuafa) salah satunya adalah akses terhadap fasilitas pelayanan kesehatan yang relatif murah dan terjangkau. Heru Pratikno menjelaskan:
“Nantinya selain digunakan untuk menjemput dan mengantar pasien yang pulang dari klinik, mobil ambulance juga dapat dimanfaatkan sepenuhnya bagi jamaah masjid baik yang membutuhkan untuk fasilitas transportasi ke klinik atau ke rumah sakit”.
Gambar 5.9
Ambulance Masjid Sabilillah
Sumber : Dokumentasi Penulis, 2017
AdapunSabilillah Medical Service dalam aktivitasnya bekerjasama dengan beberapa lembaga internal masjid, seperti koperasi masjid Sabilillah. Tugas daripada pengurus koperasi masjid dibidang kesehatan yakni mempresentasikan, mengedukasi dan menawarkan bantuan pengurusan BPJS kepada anggota koperasi. Hal ini mengindikasikan bahwa ada upaya dari
pengurus untukmemperkuat daya yang dimiliki masyarakat (empowering). Seperti yang diungkapkan Pak Heru :
“Anggota yang datang untuk menabung kita tawarkan ikut menjadi anggota BPJS, kita beritahu pentingnya menjaga kesehatan. Pengaruh kalau kita menjaga kesehatan, kalau badan kita sehat kan ibadahnya lancar, pekerjaannya lancar. Mereka yang tidak mengerti tentang BPJS kita edukasi, kita bantu pengurusan. Kalau ikut disini kelebihannya bisa dianggap menjadi karyawan, sehingga iuran BPJS yang dibayarkan murah”
Berkaitan dengan pemberdayaan yang mendorong masyarakat mandiri, Clark (2002) menyebutkan bahwa suatu masyarakat dapat disebut mandiri secara kesehatan jika memiliki beberapa kemampuan, yaitu; 1) mengenali masalah kesehatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan, 2) mengatasi masalah kesehatan secara mandiri dengan menggali potensi yang ada, 3) memelihara dan melindungi diri mereka dari berbagai ancaman kesehatan dengan melakukan tindakan pencegahan, dan 4) meningkatkan kesehatan secara dinamis dan terus-menerus melalui berbagai macam kegiatan seperti kelompok kebugaran, olahraga, konsultasi dan sebagainya.
Oleh karena itu, jumlah angggota Koperasi Masjid Sabilillah yang telah terdaftar sebagai peserta BPJS kesehatan terus meningkat. Hingga Juni 2017 tercatat sebanyak 223 orang, bila dengan anggota keluarga yang lain maka totalnya sebanyak 986 orang. Berdasarkan pernyataan pak Heru sebagai pengurus, bahwasannya anggota BPJS di Masjid Sabilillah dianggap sebagai karyawan Sabilillah. Masjid Sabilillah menaungi masyarakat yang tidak terakomodir oleh perusahaan. Sehingga mendapatkan fasilitas kelas II, yang seharusnya apabila mereka mendaftar BPJS diluar secara mandiri mendapatkan fasilitas kelas III. Maka anggota dapat menjadi lebih sejahtera karena fasilitasnya naik dari kelas III ke kelas II. Adapun layanan kesehatan yang diberikan oleh
Masjid Sabilillah telah dirasakan manfaatnya oleh salah satu takmir masjid, binaan Lazis Sabilillah yang bernama Pak Slamet :
“Anak saya ini dua-duanya saya ikutan BPJS di Sabilillah. Lah bedanya kalau BPJS Sabilillah sama BPJS yang lain, kalau BPJS Sabilillah ini setiap bapak ibunya sama anaknya 4 seumpama, bayarnya cuma Rp.125.000 untuk kelas dua. Dan itu untuk satu keluarga, tidak perkepala. Kalau diluar kan perkepala, sekarang saja yang kelas dua Rp.40.000. Seumpama bapak ibu sama anaknya 3 ini aja 5 x Rp. 40.000 sudah Rp.200.000, kalau disini tidak, cuma Rp.125.000. itu semua sudah satu keluarga, sama anaknya 4 biasanya. Yang sudah saya laksanakan cucu saya itu sakit pada saat itu, langsung dibawa ke Lavalatte. Setelah itu ditanya punya BPJS? Saya jawab punya, dari Sabilillah. Setelah itu cucu saya itu ditaroh di kelas satu, sampai satu minggu. Terus saya tanya ini berapa tambahannya dari kelas dua kok dikasih kelas satu, terus dijawab ga ada tambahannya pak, gratis semua. Terus anaknya melahirkan ini dua-duanya juga gratis, yang satu di BKIA yang satu di BKIA Muhammadiyah Sumpil. Saya bergabung BPJS Sabilillah ini sudah 3 tahun yang lalu”.
Gambar 5.10
Kartu Indonesia Sehat Peserta BPJS di KOPMAS Sabilillah
Sumber : Dokumentasi Penulis, 2017
Dari beberapa penjelasan diatas, pemberdayaan masyarakat untuk peningkatan kesehatan ialah kemampuan masyarakat dapat lebih produktif dalam memelihara dirinya sendiri dan lingkungannya peningkatan kesehatan merupakan relisasi dari tujuan peningkatan kesehatan. Dimana Masjid Sabilillah
selain memfasilitasi tempat dan sarana prasarana di bidang kesehatan, juga mengedukasi mereka untuk memiliki kesadaran akan pentingnya kesehatan. Hal ini didukung oleh Hubley (2002) yang mengatakan bahwa pemberdayaan kesehatan (health empowerment), sadar kesehatan (health literacy), dan promosi kesehatan (health promotion) diletakkan dalam kerangka pendekatan yang komprehensif. Visi promosi kesehatan juga tidak lepas dari UU Kesehatan No.23/1992, maupun WHO (1994), yakni meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan baik fisik, mental, maupun sosialnya sehingga produktif secara ekonomi maupun sosial.
5.1.3 Pemberdayaan dan Penguatan Jaringan dengan Mushollah Binaan