• Tidak ada hasil yang ditemukan

Permasalahan pencemaran air di Waduk Cirata salah satunya adalah terkait masalah sedimentasi yang menyebabkan peristiwa upwelling. Setiap unit KJA menghasilkan sisa pakan dan feses ikan yang kemudian mengendap di dasar perairan waduk. Selain berbahaya bagi budidaya perikanan KJA, sedimentasi juga mengancam keberlangsungan PLTA. Oleh karena itu, perlu dihitung beban sedimen per petak KJA di Waduk Cirata untuk mengetahui gambaran besarnya potensi sedimentasi yang terjadi.

Berdasarkan penelitian Widiastuti (2013), rata-rata jumlah benih ikan mas yang yang ditebar untuk satu kali musim tanam sebanyak 5.562 kg/rumahtangga pembudidaya (RTP) atau 100-134 kg/petak dengan rata-rata panen selama 3 bulan. Pakan hanya diberikan pada ikan mas saja. Frekuensi pemberian pakan sebanyak 4 kali sehari dan rata-rata jumlah pakan yang diberikan sebanyak 334 kg/RTP/hari atau 47-50 kg/petak/hari. Menurut Fred and Dobson (2002) dalam Widiastuti (2013) menyatakan bahwa umumnya dari seluruh pakan yang diberikan pada ikan mas hanya 80,00% yang terserap, 20,00% sisanya terbuang ke perairan. Sedangkan dari 80,00% yang terserap, 10,00% disekresikan sebagai feses. Estimasi jumlah pakan yang diberikan untuk seluruh budidaya perikanan KJA di Waduk Cirata adalah 2.650.000 kg/hari dan jumlah KJA pada tahun 2013 diperkirakan oleh BPWC sebanyak 72.000 petak. Maka, penghitungan potensi beban sedimentasi di Waduk Cirata per petak KJA adalah sebagai berikut :

Potensi beban sedimentasi di Waduk Cirata per petak KJA

= (sedimen sisa pakan + sedimen feses ikan) : jumlah KJA di Waduk Cirata tahun 2013

= ((20% x jumlah total pakan untuk seluruh budidaya KJA di Waduk Cirata/hari) + (10% x 80% x jumlah total pakan untuk seluruh budidaya KJA di Waduk Cirata/hari)) : 72.000 petak

= ((0,20 x 2.650.000 kg/hari) + (0,10 x 0,80 x 2.650.000 kg/hari)) : 72.000 petak

= (530.100 kg/hari + 212.400 kg/hari) : 72.000 petak = 10,31 kg/petak/hari

55 Menurut hasil perhitungan tersebut, setiap hari setiap petak KJA menghasilkan sedimen ke dalam Waduk Cirata sebesar 10,31 kg dari pembesaran ikan mas saja. Sedimen ini memang dapat dikurangi dengan memelihara ikan nila yang dapat memakan sisa pakan ikan mas yang terbuang ke perairan. Namun, ikan nila pun juga menghasilkan feses yang juga kemudian menjadi sumber sedimentasi.

Budidaya perikanan KJA adalah budidaya ikan berbasis pelet (budidaya intensif) yang efisien secara mikro, tetapi tidak secara makro, khususnya jika ditinjau dari dampaknya terhadap lingkungan. Dengan adanya potensi beban sedimen dari sisa pakan dan feses ikan, maka dengan semakin meningkatnya jumlah KJA akan meningkatkan pula beban sedimentasi bagi Waduk Cirata secara keseluruhan. Peningkatan jumlah KJA berarti terjadi pula peningkatan jumlah total pakan yang masuk ke waduk. Selain itu, banyaknya jumlah ikan yang dipelihara akan mengurangi pasokan oksigen dan memperburuk kondisi perairan Waduk Cirata (DJPB KKP, 2011).

Pencemaran air di Waduk Cirata menyebabkan kerugian ekonomi bagi pembudidaya ikan KJA di Kabupaten Cianjur akibat adanya penurunan jumlah produksi ikan. Tingkat pencemaran air di Waduk Cirata berfluktuasi. Dalam Gambar 4 dapat dilihat bahwa kualitas air Waduk Cirata secara umum mulai memburuk pada tahun 2005, ditandai dengan tingkat BOD dan COD yang meningkat. Kualitas air mulai membaik pada tahun 2009 dan kembali memburuk pada tahun 2010. Selain adanya materi pencemar yang masuk ke dalam Waduk Cirata, volume air juga sangat memengaruhi kondisi air. Kondisi air yang buruk cenderung terjadi pada musim kemarau karena volume air waduk menyusut sehingga air menjadi lebih pekat. Air yang semakin pekat akan menghasilkan konsentrasi kandungan bahan pencemar menjadi lebih tinggi.

56

Baku Mutu menurut Kep.Gub. No. 39 Tahun 2000 : DO => 3 mg/l

BOD = 6 mg/l COD = 10 mg/l Sumber : BPWC (2011)

Gambar 4 Kandungan DO, BOD, dan COD Waduk Cirata Tahun 2005-2010 Parameter yang biasa digunakan untuk menganalisis kualitas air adalah DO, BOD, dan COD. Dissolved oxygen (DO) adalah parameter penting bagi ikan dan kehidupan akuatik lainnya. DO penting sebagai parameter air dengan kualitas yang baik. Semakin tinggi kadar DO dalam air, maka kondisi air tersebut semakin baik. DO digunakan untuk proses oksidasi materi organik di dalam air, seperti sisa pakan dan feses ikan. Jumlah DO sangat terbatas dan hanya mampu diproduksi sedikit saja dari proses fotosintesis tanaman akuatik. Ikan membutuhkan setidaknya 5-6 ppm DO untuk tumbuh dan berkembang. Ikan akan berhenti makan jika level DO turun hingga 3-4 ppm dan akan mati jika DO turun hingga 1 ppm. Banyak ikan yang mati bukan karena secara langsung terkontaminasi oleh racun, tetapi karena kekurangan oksigen akibat biodegradasi bahan yang mengontaminasi. Air memiliki kualitas yang baik jika DO berada pada level di atas 8 ppm (Weiner, 2000).

57 BOD merupakan bagian dari COD. Biological oxygen demand (BOD) adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bahan organik dalam sejumlah volume air tertentu untuk terurai, sedangkan chemical oxygen demand (COD) adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bahan organik dalam sejumlah volume air tertentu untuk dioksidasi secara kimia menjadi CO2 dan H2O oleh

oksidan yang kuat, seperti permanganat dan dikromat. Air dengan populasi mikroba dan kadar BOD yang tinggi dapat terkuras kandungan oksigennya dan tidak mampu untuk mendukung kehidupan akuatik sehingga membutuhkan pengisian kembali oksigen terlarut. COD kadang-kadang digunakan sebagai pengukur polusi secara umum. COD menganalisis bahan organik teroksidasi baik teroksidasi secara kimia maupun biologi (Weiner, 2000).

Kondisi air di Waduk Cirata yang tergolong sedang bagi peruntukan perikanan berdasarkan pemantauan BPWC tahun 2011 (BPWC, 2011), tetapi berubah menjadi buruk pada tahun 2013 (Lampiran 2). Kadar DO sudah hampir mencapai ambang batas minimum berdasarkan Keputusan Gubernur No.39 Tahun 2000, yakni 3,08 mg/liter dari batas 3 mg/liter, sedangkan BOD dan COD sudah melebihi batas maksimum yang direkomendasikan pada akhir tahun 2010 (Gambar 4). Hal tersebut menunjukkan bahwa memang terjadi pencemaran air di Waduk Cirata sehingga ikan yang dibudidayakan atau hidup liar di Waduk Cirata menjadi terganggu.

Kasus yang paling sering menyebabkan penurunan produksi ikan budidaya adalah upwelling atau umbalan dan serangan penyakit ikan koi herpesvirus (KHV). Keduanya menjadi ancaman bagi pembudidaya ikan KJA karena menyebabkan kematian massal pada ikan. Upwelling terjadi karena proses alami saat pergantian musim dari musim kemarau ke musim penghujan. Oleh karena itu, kejadiannya bisa diprediksi sehingga pembudidaya ikan KJA bisa menekan kerugian yang dialaminya. Upwelling biasanya bersifat lokal dan waktunya berbeda-beda, tidak terjadi pada keseluruhan bagian ekosistem waduk sekaligus. Hal ini dikarenakan berbedanya asal aliran air hujan penyebab arus balik massa air, kedalaman air saat itu, dan keberadaan angin (Kepala UPTD Perikanan Cianjur, 2013). Apabila suatu daerah menerima aliran air permukaan dari hujan, kondisi air waduk surut, dan KJA berjarak cukup dekat dengan tumpukan material organik di dasar, maka

58

lokasi dimana KJA tersebut berada akan berpotensi mengalami upwelling. Selain itu, proses upwelling akan terjadi semakin cepat jika ada angin.

Saat ini, penyebab kerugian yang lebih mengkhawatirkan bagi pembudidaya ikan KJA adalah serangan KHV yang frekuensinya semakin meningkat setiap tahun, bahkan bisa 3 hingga 5 kali dalam satu tahun. Kejadiannya tidak dapat diprediksi. Beberapa pembudidaya ikan hanya berusaha menekan kerugian dengan memberikan vitamin kepada ikan mas yang dibesarkan. Akan tetapi, hal tersebut juga belum menunjukkan hasil yang nyata karena belum ada petani yang benar-benar terhindar dari kerugian akibat serangan KHV. Tindakan lain untuk menekan kerugian akibat KHV adalah dengan mengurangi pemberian pakan pada ikan mas yang sudah terinfeksi agar kerugian dari sisi biaya pakan dapat ditekan.

Kerugian ekonomi pada budidaya perikanan KJA dihitung menggunakan persamaan (1). Kerugian ekonomi diperoleh dari adanya penurunan produksi akibat pencemaran air. Selain ada penurunan produksi, juga terdapat penurunan frekuensi panen per tahun karena dalam kondisi air yang tercemar pertumbuhan ikan menjadi lebih lambat. Asumsinya, kerugian karena adanya penurunan frekuensi panen sudah termasuk dalam penurunan produksi. Detil penurunan produksi ikan mas dan nila pada tahun 2013 disajikan di Lampiran 3.

Penghitungan kerugian dilakukan pada dua jenis ikan yang dominan dibudidayakan di Waduk Cirata, yaitu ikan mas dan nila. Jumlah rata-rata penurunan produksi ikan mas (PP) sebesar 528 kg/panen/petak dari tahun 2012 ke tahun 2013. Jumlah kolam ikan mas di Kabupaten Cianjur tahun 2013 sebanyak 21.500 petak. Akan tetapi, menurut Staf Ahli Tata Air dan Lingkungan BPWC (2013), jumlah KJA yang sudah tidak produktif di Waduk Cirata diperkirakan sekitar 30,00%. Asumsinya, proporsi yang sama juga berlaku di Waduk Cirata wilayah Kabupaten Cianjur sehingga jumlah kolam ikan mas yang aktif (L) adalah 15.050 petak. Harga ikan mas tahun 2013 (h) sebesar Rp 16.000,00/kg. Frekuensi panen ikan mas pada 2013 (Nt) sebanyak 3 panen/tahun. Maka, kerugian ikan

59 Kerugian ekonomi ikan mas (TKK)

= PP x L x h x Nt

= 528kg/panen/petak x 15.050 petak x Rp16.000,00/kg x 3 panen/tahun

= Rp 381.427.200.000,00/tahun ……….……….(7) Berdasarkan perhitungan di atas, diperoleh estimasi kerugian ekonomi ikan mas sebesar Rp 381.427.200.000,00. Kerugian ini sangat besar karena ikan mas adalah ikan yang paling banyak dihasilkan di Waduk Cirata. Jika dibandingkan dengan jumlah kolam ikan mas aktif yang ada di Kabupaten Cianjur, maka diperoleh estimasi kerugian per petak sebesar Rp 25.344.000,00/tahun.

Komoditas kedua yang dominan dibudidayakan di Waduk Cirata adalah ikan nila. Pada jenis ikan nila, jumlah rata-rata penurunan produksi ikan nila (PP) dari tahun 2012 ke tahun 2013 sebesar 266,67 kg/panen/petak. Jumlah kolam ikan nila (L) di Kabupaten Cianjur tahun 2013 adalah setengah dari jumlah kolam ikan

mas aktif, yaitu 7.525 petak. Harga ikan nila tahun 2013 (h) sebesar Rp 11.500,00/kg. Frekuensi panen ikan nila pada tahun 2013 (Nt) sebanyak 2

panen/tahun. Maka, kerugian ekonomi ikan nila adalah sebagai berikut : Kerugian ekonomi ikan nila (TKK)

= PP x L x h x Nt

= 266,67kg/panen/petak x 7.525 petak x Rp 11.500,00/kg x 2 panen/tahun

= Rp 46.153.910.250,00/tahun……….(8) Berdasarkan perhitungan di atas, diperoleh estimasi kerugian ekonomi ikan nila sebesar Rp 46.153.910.250,00. Kerugian pada ikan nila lebih sedikit dibandingkan dengan ikan mas karena terdapat perbedaan konstruksi petak tempat pembesarannya. Dengan konstruksi kolor, yaitu dua petak KJA ikan mas menjadi satu petak KJA untuk ikan nila, maka jumlah petak pembesaran ikan nila menjadi lebih sedikit dibandingkan dengan ikan mas sehingga kerugiannya pun lebih kecil. Jika dibagi dengan jumlah kolor yang ada, maka estimasi kerugian ikan nila per kolor adalah Rp 6.133.410,00/tahun.

60

Setelah memperoleh kerugian ekonomi dari masing-masing jenis ikan, maka untuk memperoleh kerugian ekonomi total pemanfaatan budidaya perikanan, kedua nilai tersebut dijumlahkan sebagai berikut :

Total estimasi kerugian budidaya perikanan di Waduk Cirata tahun 2013 (TKK) = Kerugian ekonomi ikan mas + Kerugian ekonomi ikan nila

= Rp 381.427.200.000,00/tahun + Rp 46.153.910.250,00/tahun

= Rp 427.581.110.250,00/tahun ………..………(9) Berdasarkan estimasi menggunakan pendekatan perubahan produktivitas, diperoleh kerugian ekonomi ikan mas sebesar Rp 381.427.200.000,00 dan kerugian ekonomi ikan nila sebesar Rp 46.153.910.250,00. Keduanya kemudian dijumlahkan sebagai estimasi kerugian budidaya perikanan KJA di Waduk Cirata tahun 2013 dan diperoleh nilai sebesar Rp 427.581.110.250,00.

Salah satu penyebab kerugian ini adalah upwelling. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi upwelling. Berdasarkan tulisan dalam website resmi Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (2011), yang dapat dilakukan untuk meminimalkan dampak upwelling adalah sebagai berikut : a. Sistem peringatan dini

Sistem ini dirancang oleh peneliti BPPT dan diuji coba melalui kerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup untuk mencegah kematian ikan massal di waduk. Cara kerjanya adalah dengan memantau arus balik dari dasar danau dan eutrofikasi yang menjadi penyebab kematian ikan massal. Dengan adanya alat ini, memungkinkan pemilik KJA untuk mengantisipasi kerugian akibat upwelling dengan memanen ikan lebih awal;

b. Keramba berlapis (KJA lapis ganda)

Teknik ini sudah diterapkan di Waduk Cirata. Konstruksi seperti ini adalah upaya untuk mengurangi racun di dasar danau yang disebabkan oleh endapan sisa pakan dan feses ikan dan merupakan teknik budidaya KJA yang efisien dengan produktivitas yang tinggi (Kartamihardja, 1997);

c. Penggunaan KJA terhadap daya dukung perairan waduk

i. Menurut Soemarwoto (1991), luas areal perairan waduk yang aman untuk dilakukan budidaya perikanan adalah seluas 1% dari luas total perairan yang ada;

61 ii. Menurut Rochdianto (2000), jarak ideal antar KJA adalah 10-30 m karena memungkinkan arus air leluasa membawa air yang segar ke dalam keramba-keramba. Schmittou (1991) menjelaskan bahwa tiap satu KJA memerlukan lahan perairan seluas 75 m2 (termasuk jarak antar unit KJA dan titian);

iii. Mengatur musim tanam dan panen serta mengurangi padat tebar ikan agar ikan cukup oksigen untuk tumbuh;

d. Pengendalian atau pengurangan jumlah KJA yang beroperasi. Namun, hal ini harus dilakukan secara bertahap dan bijaksana untuk meminimalkan dampak sosial ekonomi yang timbul pada penduduk sekitar waduk;

e. Pemindahan KJA ke lokasi perairan yang lebih dalam ketika terjadi upwelling; f. Mengganti jenis ikan yang dibudidayakan dengan ikan yang mampu bertahan pada konsentrasi DO (oksigen) yang rendah, seperti ikan patin, lele, dan betutu untuk menghindari kematian ikan.

Dokumen terkait