• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerusakan Protein

Protein lebih tahan terhadap radikal bebas daripada asam lemak tak jenuh, sehingga kecil kemungkinan untuk terjadi reaksi berantai. Salah satu kerusakkan

protein oleh radikal bebas terjadi jika telah terakumulasi pada lokasi tertentu dan berikatan dengan ion logam transisi.

Stres Oksidatif Dengan Infl amasi

Stres oksidatif adalah suatu keadaan dimana tidak seimbangnya antara produksi spesies oksigen reaktif (ROS) dengan kapasitas antioksidan untuk mencegah terjadinya komplikasi jejas oksidatif (Thannickal, 2000; Halliwel, 2007). Akibat dari hal ini adalah intensitas proses oksidasi sel-sel tubuh yang normal menjadi semakin tinggi dan menimbulkan kerusakan yang lebih banyak. Keadaan stres oksidatif membawa pada kerusakan oksidatif mulai dari tingkat sel, jaringan sampai ke organ tubuh. Kondisi sel-sel yang rusak inilah yang akhirnya bermanifestasi menjadi penyakit diabetes mellitus dan proses penuaan sel menjadi lebih cepat (premature aging) (Kariadi, 2001; Kuroki et al, 2003)

Stres oksidatif ini dapat terjadi karena dipicu oleh beberapa kondisi, namun pada dasarnya stres oksidatif ini terjadi akibat adanya ketidakseimbangan antara molekul radikal bebas dan penetralisirnya (antioksidan).

Penyebabnya bisa dikarenakan kurangnya antioksidan atau kelebihan produksi radikal bebas oleh tubuh. Ion superoksid

yang dihasilkan pada berbagai penyakit merupakan faktor kunci dari proses proliferasi dan disfungsi endotel, sehingga stres oksidatif merupakan penyebab penting terjadinya penyakit pada manusia seperti : atherosclerosis, penyakit neurodegeneratif, keganasan, fi brosis paru, proses penuaan dan lain sebagainya (Kuroki et al, 2003; Bjelakkovic et al, 2007)

Peningkatan stres oksidatif yang didapat dari ketidakseimbangan antara jenis oksigen reaktif (termasuk anion superoksid, dan radikal hidroksil) dan mekanisme pertahanan antioksidan dalam tubuh. Ketidakseimbangan dapat menyebabkan efek hilangnya fungsi endotel termasuk dalam patogenesis dan progesifi tas dalam gagal jantung. Stres oksidatif dapat merusak protein selular dan menyebabkan apoptosis miosit dan nekrosis. Juga dihubungkan dengan aritmia dan disfungsi endotelial, dengan disfungsi yang terjadi melalui reduksi aktivitas sintesis nitrit oksida termasuk inaktivasi dari nitrit oksida.

Aktivasi imun dan infl amasi, aktivasi dari sistem RAA dan sistem saraf simpatis dan peningkatan kadar sirkulasi katekolamin yang terbentuk dari interaksi anion superoksida dan nitrit oksida semuanya dapat meningkatkan stres oksidatif (Murray, 2003).

Stres oksidatif menginduksi peroksidasi membran lipid yang dapat menimbulkan kerusakan yang akan

menyebabkan perubahan terhadap struktur biologis dari

ikatan membran dengan reseptor atau enzim yang dapat mengganggu fungsi normal sel (Dalle et al, 2006). Lebih jauh peroksidasi lipid memberikan kontribusi serta memperbesar kerusakan sel yang berasal dari produk hasil peroksidasi.

Pada beberapa studi dilaporkan bahwa stres oksidatif memegang peranan penting pada patogenesis terjadinya komplikasi penyakit kardiovaskular, respiratorik, gangguan sistem imun, karsinogenesis, bahkan ditenggarai ikut berperan dalam proses penuaan pada penderita diabetes .

Mekanisme terjadinya hiperglikemia akibat stres oksidatif

Berbagai mekanisme telah diusulkan untuk kontribusi penyakithiperglikemia sebagai akibat dari stress oksidatif, salah satunya adalah kemungkinan terjadinya oksidasi glukosa sebagai sumber ROS (Nishikawa et al, 2010). Dalam bentuk enediol, glukosa teroksidasi dalam logam transisi tergantung anion radikal enediol yang dikonversi ke dalam ketoaldehid dan radikal anion superoksida. Radikal anion superoksida mengalami dismutase membentuk hidrogen peroksida, bila tidak akan terdegradasi oleh katalase atau glutation peroksidase. Enzim reduktase sitosol aldosa

mengkonversi glukosa menjadi sorbitol intraselular menggunakan nicotinamid adenin dinukleotida fosfat (NADPH) yang berasal dari jalur fosfat pentosa sebagai suatu kofaktor. Selama terjadi hiperglikemia, konsumsi NADPH akan terhambat dalam mempertahankan aktivitas

peroksidase glutation protein

kinase-C (PKC) dalam fraksi membran melalui peningkatan sintesis de novo diasilgliserol dalam sel pembuluh darah, dan hiperglikemia akan merangsang ROS melalui aktivasi PKC (Brownle, 2001; Srivastava et al, 2006). Nishikawa et al (2010), melaporkan bahwa hiperglikemia dapat meningkatkan ROS dari transport elektron mitokondria dan produksi ROS mitokondria merupakan peristiwa penting dalam komplikasi diabetes melitus.

Hiperglikemia dan hiperkolesterolemia akan memperburuk dan memperparah pembentukkan ROS melalui beberapa mekanisme. ROS akan meningkatkan pembentukan ekspresi Tumor necrosis factor- α (TNF- α) dan memperparah stres oksidatif. TNF- α dapat mengakibatkan resistensi insulin melalui penurunan autofosforilasi (auto-phosphorylation) dari reseptor insulin, perubahan reseptor insulin substrat 1 menjadi inhibitor insuline, receptor tyrosine kinase activity, penurunan insuline-sensitive glucose transporter (GLUT-4), meningkatkan sirkulasi asam lemak, merubah fungsi sel β, meningkatkan kadar trigliserida dan

menurunkan kadar HDL (Tiwari, 2002).

Gambar 6

Mekanisme Terjadinya Hiperglikemia dan AGEs yang Diinduksi Stres Oksidatif dalam Sel, Umur, dan Hasil Reaksi Glikasi

(Nishikawa, 2010)

Stres oksidatif pada penderita diabetes dan dislipidemia akan meningkatkan pembentukan ROS di dalam mitokondria yang akan mengakibatkan berbagai kerusakan oksidatif berupa komplikasi diabetes, PKV, dan akan memperparah kondisi penderita , untuk itu perlu menormalkan kadar ROS di mitokondria untuk mencegah kerusakan oksidatif (Tiwari, 2002)

Gambar 7

Mekanisme Stres Oksidatif pada Hiperglikemia (Tiwari, 2002)

Hiperglikemia merupakan gejala primer dari manifestasi klinik DM. Sedangkan peningkatan FFA sering terjadi pada penderita obesitas. Hiperglikemia maupun peningkatan kadar FFA yang tidak terkendali dalam waktu lama akan menimbulkan masalah kesehatan dikemudian hari, seperti pembentukkan radikal bebas. Hiperglikemia mempunyai hubungan dengan terbentuknya radikal bebas atau ROS (Tripathy et al, 2003). Secara biokimia keadaan hiperglikemia menimbulkan ROS melalui tiga cara yaitu : (1) glikosilasi non enzimatik; (2) melalui polyol pathway; dan (3) autooksidasi dari glukosa. Sedangkan DM dengan keadaan obesitas yang berlanjut ke arah gangguan metabolisme

karbohidrat dan lemak, melalui FFA akan menimbulkan ROS.

Penderita hiperglikemia melalui autooksidasi adalah reaksi glikosilasi secara langsung pada monosakarida dan fruktosa-lisin akan terjadi secara spontan pada kondisi fi siologis melalui pengurangan molekul oksigen.

Pengurangan molekul oksigen pada proses autooksidasi akan menghasilkan siperoksida, radikal hidroksil dan hidrogen peroksida (Brownlee, 2001).

Hiperglikemia akan mengkatalisis pembentukan radikal anion superoksida (.O2) dari sumber mitokondria dan sitoplasma yang akan menyebabkan terjadinya lipoksidasi dan menghasilkan glyoxal merupakan prekusor carboxymethyllise (CML). Penderita diabetes kadar methylglyoxal yang terbentuk dari intermediate glikolisis meningkat selanjutnya membentukcarboxyethylly-sine (CEL).

Baik CML maupun CEL akan berikatan dengan Cu atau Fe menghasilkan CML/CL-metal-protein complex (Pennathur, 2001).

Tubuh manusia dapat menetralisir radikal bebas, hanya saja bila jumlahnya terlalu berlebihan, maka tubuh lebih sulit dinetralisir misalnya makanan Aterogenik (makanan siap saji) banyak mengandung asam lemak jenuh (saturated faty acid) dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam tubuh. Asam-asam lemak ini dalam makanan akan

diuraikan menjadi kolesterol, trigliserida, fosfolipid, dan asam lemak bebas pada saat dicerna dalam usus. Keempat unsur lemak ini akan diserap dari usus dan masuk kedalam darah. Kolesterol dan unsur lemak tidak larut dalam darah.

Agar dapat diangkut dalam aliran darah kolesterol berikatan dengan protein yang disebut lipoprotein. (Murray.,2003).

Dislipidemia adalah metabolisme abnormal lipoprotein, biasanya berhubungan dengan over-produksi atau kekurangan lipoprotein. Dislipidemia juga sering dikatakan sebagai hiperlipidemia merupakan peristiwa peningkatan lipid serum sebagai faktor risiko penyakit kardiovaskular. Hal ini disebabkan pada dislipidemia juga ada prilaku kolesterol yang berperan pada aterosklerosis.

Jadi yang membedakan antara hiperkolesterolemia dengan dislipidemia adalah pada hiperkolesterolemia terjadi peningkatan kolesterol serum melebihi 200 mg/D1 setelah sembilan sampai duabelas jam puasa. Sebaliknya, pada dislipidemia di samping kriteria untuk hiperkolesterolemia juga terjadi peningkatan kolesterol LDL-serum > 160 mg/D1, trigliserida serum sebesar 150 mg/D1, atau kolesterol HDL-serum < 40 mg/D1 untuk laki-laki dan < 50 mg/D1 untuk perempuan. Simpton Tingginya kolesterol pada dislipidemia tidak dapat dirasakan oleh seorang penderita dislipidemia, tetapi hanya dapat diketahui dengan tes kolesterol darah secara rutin. Diit kolesterol tinggi dapat menginduksi

dislipidemia di samping juga dapat dipicu akibat faktor genetik (Goldberg, 2008; Anonim, 2009). Sebenarnya tidak ada batas yang pasti antara kadar lipid yang normal dengan yang tidak normal, karena itu diperlukan pengukuran kadar lipid yang kontinu. Demikian juga didapatkan bahwa terjadi hubungan yang linier antara kadar kolesterol dengan risiko penyakit jantung koroner. Sehingga dengan demikian secara numerik dislipidemia sebenarnya tidak bisa didefi nisikan, tetapi kontrol dan uji kadar kolesterol maupun trigliserida secara rutin akan memberikan manfaat agar diketahui apakah akan terjadi risiko aterosklerosis maupun penyakit jantung koroner (Goldberg, 2008).

Adanya peningkatan penanganan penyakit kardiovaskular pada dua dekade terakhir initelah berbuah pada penurunan mortalitasnya. Namun, belakangan ini terlihat adanya kecenderungan mortalitas akibat penyakit kardiovaskular yangkembali meningkat, bukan saja di negara-negara barat, namun juga di kawasan Eropa timur, negara-negara pecahan Uni Soviet, serta banyak negara sedang berkembang di kawasanAsia. Alasan yang paling rasional untuk menjelaskan perubahan fenomena epidemiologi dari penyakit kardiovaskular ini adalah adanya peningkatan keadaan yang dikenal sebagai sindroma metabolik (Gambar 7), yaitu suatu kumpulan gangguan metabolisme dan klinis yang ditandai oleh adanya

penurunan HDL-kolesterol, peningkatan trigliserida, gula darah yang tinggi, resistensi insulin, obesitas, dan hipertensi.

Penurunan HDL-kolesterol dianggap meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular (PKV),karena sedikitnya tiga alasan, yaitu HDL dinilai dapat mencegah terhadap atherogenesis, rendahnya kadar HDL menggambarkan adanya peningkatan lipoprotein yang mengandung apoB yang bersifat atherogenik, dan rendahnya HDL umumnya berkaitan dengan faktor risiko non-lipid dari sindroma metabolik. Kemampuan untuk mempertahankan derajat kompensasi hiperinsulinemia, yang penting untuk mencegah intoleransi glukosa pada individu dengan resistensi insulin merupakan proses homeostasis yang penting. Sindroma metabolik merupakan hasil interaksi antara gangguan genetik dengan perubahan gaya hidup, yang akan muncul saat seorang dengan kecenderungan genetik mendapatkan sindroma metabolik mengalami obesitas. Gangguan metabolik dan klinik yang ditemukan pada sindroma metabolik memberikan risiko yang lebih besar terhadap penyakit kardiovaskular ketimbang risiko penyakit jantung koroner lainnya bila berdiri sendiri. Sangatlah beralasan jika berbagai aspek sindroma metabolik ini berperan penting menyebabkan gangguan kardiovaskular pada penderita diabetes melitus, makaterjadi peningkatan berbagai faktor pro-infl amasi, seperti IL-6, TNFα, dan hsCRP, PAI-1, dan

Leptin, serta peningkatan sejumlah molekul adhesi, seperti ICAM, VCAM. Di pihak lain terjadi penurunan faktor protektif dan anti infl amasi seperti NO, PGI2 , status anti oksidan dan adiponektin, yang diketahui memiliki fungsi untuk meningkatkan efek vasodilatasi endotel, menekan ekspresi molekul adhesi, menghambat produksi TNF-α, mengurangi efek pertumbuhan dari sel otot polos, menghambat efek LDL teroksidasi, menekan proliferasi, menghambat proliferasi dan migrasi sel endotel, dan mengurangi penebalan tunika intima dan proliferasi (Gatot, 2005)(Gambar7)

Gambar 8

Sindrom Metabolik. Gatot, 2005

Lemak yang dikonsumsi dan diabsorbsi dari diit maupun yang disintesis oleh tubuh harus dapat dibawa ke berbagai jaringan dan organ untuk digunakan lebih lanjut atau disimpan sebagai cadangan. Karena lemak tidak larut dalam air maka untuk membawanya melalui plasma darah, lemak non polar (trigliserida dan kolesterol ester) harus bergabung dengan lemak amfi patik yang lebih polar (fosfolipid dan kolesterol bebas) serta protein (apolipoprotein) untuk membentuk lipoprotein yang dapat larut dalam air (Murray, 2006).

Lipoprotein umumnya merupakan suatu partikel berbentuk sferis, lapisan luarnya tersusun oleh fosfolipid dengan gugus asam menghadap ke arah pusat partikel molekul kolesterol dikenal sebagai apolipoprotein.

Apolipoprotein terbenam di dalam lapisan permukaan lipoprotein, sedangkan inti partikel lipoprotein terbenam dalam ester kolesterol dan molekul trigliserida (Murray, 2006).

Lipoprotein plasma diklasifi kasikan berdasarkan densitasnya, kecepatan gerakannya di dalam elektroforesis, kandungan protein, dan lemaknya. Diketahui ada empat jenis lipoprotein dalam plasma yaitu: kilomikron yang berasal dari usus, VLDL (Very Low Density Lipoprotein) atau preb-lipoprotein berasal dari hati dan usus, LDL (Low Density Lipoprotein) atau a-lipoprotein berasal dari hati dan usus.

Kolesterol bebas dan ester kolesterol di dalam sirkulasi darah tidak dapat beredar dalam keadaan bebas, melainkan berada dalam partikel liproprotein. Pada penentuan kolesterol-total yang berada dalam darah dihitung jumlah kolesterol yang terdapat dalam berbagai lipoprotein tersebut (Haug, 2004).

Sistem jalur pengangkutan lipoprotein dapat dibagi menjadi dua jalur pengangkutan dengan:

1. Sistem eksogen yang mengangkut hasil pencernaan dari lipid yang berasal dari diit. Lipid-lipid tersebut seperti: trigliserida, fosfolipid, kolesterol-bebas diangkut di dalam partikel lipoprotein khusus yang disebut kilomikron selanjutnya dikeluarkan oleh sel epitel mukosa ke ductus lacteal usus halus. Dalam sirkulasi darah kilomikron yang kaya akan trigliserida akan berinteraksi dengan enzim lipoprotein lipase yang menghidrolisis sebagian besar trigliserida pada inti kilomikron menjadi asam lemak dan gliserol.

Asam lemak ini akan diambil untuk digunakan oleh jaringan-jaringan tubuh. Partikel sisa kilomikron yang sudah kehilangan banyak trigliseridanya akan beredar kembali ke sirkulasi darah dan diambil oleh hati, sehingga dengan demikian lipid-lipid oksigen yang berasal dari pencernaan kecuali trigliserida akhirnya masuk ke dalam hati.

2. Sistem endogen yang mengangkut lipid yang berasal dari hepar ke jaringan tubuh melalui sirkulasi darah.

Lipid ini bersama dengan lipoprotein dirakit menjadi partikel VLDL (Very Low Density Lipoprotein) di dalam hati dan disekresi ke sirkulasi darah.

Sesampainya di pembuluh kapiler berbagai VLDL jaringan tubuh berinteraksi dengan enzim lipoprotein lipase yang menghidrolisis sebagian besar trigliserida dalam intinya dan dikonversi menjadi partikel IDL (Intermediet Density Lipoprotein). Sebagian besar partikel IDL yang terbentuk akan mengalami hidrolisis lebih lanjut membentuk LDL (Low Density Lipoprotein). LDL merupakan lipoprotein yang kaya akan kolesterol dan berperan dalam pengangkutan kolesterol ke jaringan perifer (Lemak jahat). Sebagian besar LDL di ambil oleh hepar sebagian lagi dilepas ke jaringan tubuh lainnya melalui mekanisme endositosis dengan perantara reseptor LDL (Brown, et al., 1981; Murray, 2002).

Bila membran sel telah menjadi jenuh terhadap kolesterol karena penerimaam LDL dan biosintesis internal yang berlebih, terjadilah pengambilan kolesterol ke cairan ekstraseluler untuk dibawa kembali ke hati, yang dikenal sebagai reverse cholesterol transport. Hal ini diduga dilakukan oleh HDL.Lipoprotein mengangkut lemak ke hati. Di dalam hati ikatan lemak tersebut diuraikan, sehingga terbentuk

kembali keempat unsur lemak tersebut, dan asam lemak yang dibentuk akan dipakai sebagai sumber anergi atau bila jumlahnya berlebih akan disimpan dijaringan lemak ( jaringan Adiposa). Jaringan adiposa tidak hanya sebagai tempat metabolisme dan penyimpanan lemak,Kira-kira 1 g kolesterol disintesis di dalam hati perhari, dan kolesterol dari makanan yang diperlukan untuk golongan orang barat kira-kira 0,6 g perhari(Stipanuk, 2006). Beberapa kolesterol diubah menjadi asam empedu (asam empedu primer), yang sementara disimpan dalam kandung empedu dan sebagai hormon steroidogenik. Untuk memudahkan pencernaan makanan yang kaya lipid, empedu disekresikan ke usus halus untuk membantu pencernaan lipid. Penyerapan kembali asam empedu yang disekresikan dalam ileum sangat efi sien, dan asam empedu kembali ke hati melalui system sirkulasi enterohepatik. Residu asam empedu memasuki usus besar kemudian dimetabolisme menjadi asam empedu sekunder yang karsinogenik(Stipanuk, 2006).

Jumlah kolesterol di dalam tubuh manusia dan hewan diatur oleh banyak faktor. Pada umumnya semua faktor tersebut dapat dibagi menjadi dua macam. Faktor pertama adalah luar sel, seperti jumlah kolesterol bebas atau yang terikat dalam lipoprotein di luar sel, persediaan asam lemak bebas, dan adanya hormon tertentu. Faktor kedua adalah dalam sel, seperti kegiatan sistem enzim yang berperan

dalam katabolisme kolesterol, jumlah persediaan terpenoida, lanosterol, dan skualen sebagai prekursor untuk sintesis kolesterol, jumlah hasil metabolisme kolesterol, adanya kegiatan pengangkutan kolesterol atau derivatnya keluar dari sel dengan mekanisme pengangkutan aktif melalui membran sel, dan pengaruh viskositas membran. Lebih lanjut dinyatakan pula bahwa dalam mengatur biosintesis kolesterol, kedua macam faktor tersebut bekerja saling berhubungan.

Perubahan yang terjadi pada faktor yang satu akan mempengaruhi faktor yang lainnya, atau sebaliknya, yang kemudian menghasilkan perubahan dalam laju biosintesis kolesterol di hati sebagian diatur oleh kolesterol dalam diet.

Kolesterol adalah molekul hidrofobik atau tidak larut dalam air. Untuk menstranportnya dalam aliran darah dan mengirimnya ke sel-sel di seluruh tubuh dimediasi oleh partikel-partikel lipoprotein yang berbeda-beda pada tiap stepnya. Lipoprotein adalah molekul terdiri dari protein dan lipid (triacylglycerol, cholesteryl ester, phospholipid dan cholesterol) yang digabungkan dengan interaksi hidrofob antara bagian (gugus) non polar dari lipid dengan molekul protein. Berdasarkan bobot molekul, kerapatan, dan ukuran partikelnya lipoprotein plasma darah manusia dibagi menjadi lima golongan utama, yaitu:kilomikron,

lipoprotein kerapatan sangat rendah (very low density lipoprotein, VLDL), lipoprotein kerapatan rendah (low density lipoprotein, LDL), lipoprotein kerapatan tinggi (high density lipoprotein, HDL), dan lipoprotein kerapatan sangat tinggi (very high density lipoprotein, VHDL). Berdasarkan kecepatan, HDL dapat dibagi lagi menjadi HDL1, HDL2 dan HDL3. (Murray,2003)

Kilomikron menangkap kolesterol dan lemak dari usus.

Kilomikron adalah butir-butir lemak yang mengandung sedikit protein. Lemak dikirim ke jaringan adiposa meninggalkan sisa kilomikron (Chylomicron remnants) yang mengandung sebagian besar kolesterol. Sisa kolesterol ini di bawa menuju hati. Di dalam hati kolesterol dari sisa kilomikron digabungkan dengan kolesterol yang disintesis oleh hati menjadi partikel VLDL. VLDL ini kemudian digunakan untuk transport lemak-lemak ke jaringan-jaringan.Very high density lipoprotein (VLDL) masuk aliran darah dan memulai penyaluran lemak-lemak ke jaringan sel tepi sepanjang dinding pembuluh darah. Dalam proses perjalanannya itu, VLDL mengalami proses penguraian (Murray 2003)

Penyakit Degenaratif lain adalah Kanker yang merupakan suatu penyakit yang dikarakterisasi oleh proliferasi yang tidak terkontrol yang tersebar dari daerah lokal dan menyerang ke seluruh tubuh. Sebagai pencegah

kanker, seperti soybeans dan tomatos. Soyasaponin dapat melawan kanker dengan meningkatkan immunokompetensi atau meningkatkan aktivitas hipokolesterolemianya(Murra y, 2003).

Hiperkolesterolemia dan Infl amasi pada umumnya merupakan respon terhadap jejas pada jaringan hidup yang memiliki vaskularisasi. Respon radang ini diikuti oleh proses yang sangat penting, yaitu proses endotel. Endotel adalah bagian terpenting pembuluh darah yang berperan dalam proses aterosklerosis. Endotel menjadi target utama dari injuri mekanis dan khemis akibat faktor dislipidemia.

Kolesterol LDL terutama yang teroksidasi sangat pontensial merusak endotel dan HDL sebagai komponen protektif sangat berperan dalam mekanisme aterosklerosis pada dislipidemia (Robbin dan Cataen, 2002).

Dislipedemia mempunyai peranan penting pada terjadinya kerusakan sel-sel endotel. Dinding arteri yang akan menginduksi terjadinya perubahan permeabilitas sel-sel endotel akan menyebabkan konstituen plasma.

Misalnya lipoprotein yang menjadi mudah masuk ke dalam dinding arteri, sehingga memungkinkan trombosit melekat pada darah yang mengalami kerusakan dan mengalami infl amasi. Mengakibatkan jaringan ikat di bawahnya kontak dengan trombosit dan elemen-elemen lainnya di dalam sirkulasi darah. Bila proses kerusakkan ini berlangsung

kronik selama beberapa tahun, maka proses aterosklerosis terus berlanjut. Serta akan mengakibatkan tunika intima menjadi tebal dan mengakibatkan aliran darah pada daerah itu menjadi terganggu (Szmitko, et al., 2003).

Kolesterol adalah suatu komponen yang sangat penting dalam tubuh mamalia, yang mempunyai formula C27H45OH , dapat dinyatakan sebagai 3-hidroksi-5,6 kolestan karena hanya mempunyai satu gugus hidroksil pada atom C3 dan ikatan rangkap pada C5 dan C6 serta percabangan pada C10, C13 dan C17 (Ros, 2000; Christie, 2012).

Untuk mengidentifi kasi adanya kolesterol dalam suatu sampel dapat dilakukan dengan reaksi warna yaitu:

(1) Reaksi Salkowaski: kolesterol dalam kloroform jika ditambahkan asam sulfat pekat maka timbul warna merah.

(2) Reaksi Liebermann-Burchard: warna kehijauan terjadi bila larutan kolesterol dalam kloroform ditambahkan asam sulfat pekat dan anhidrid asetat Kolesterol kebanyakan berasal dari kolesterol hewan, sedangkan kolesterol dari tumbuhan sukar diserap usus. Kolesterol dalam makanan (hewani) terutama berasal dari otak, kuning telur, hati, dan lemak hewan lainnya. Kolesterol makanan dalam wujud sebagai kolesterol ester.(Ahmed, 2007).

Kolesterol adalah juga molekul prekursor untuk sintesis hormon steroid, vitamin D dan garam empedu.

Kolesterol berasal dari diet dan disintesis dalam tubuh.

Diet mengandung 200-500 mg kolesterol. Koleserol juga memasuki usus bersama empedu (800-1200 mg/hari) dan sebagai desquamated sel epitel usus (300 mg/hari).

Kolesterol usus terserap kira-kira 30-60%. Bagian penting dari biosintesis kolesterol adalah hati dan usus. Kolesterol dalam tubuh dapat diekskresikan sebagai garam empedu dan kolesterol yang tidak terserap dalam usus akan dikeluarkan lewat feses. Kolesterol total yang hilang setiap hari baik yang berasal dari diet maupun endogenus sebesar 900 mg (David and Wang, 2003; Levy, et al., 2007).

Kolesterol dalam tubuh berasal dari dua sumber yaitu dari endogenus (dihasilkan oleh hati dan jaringan periferal) dan berasal dari sumber makanan yang terserap dari usus(Van, et al., 2000). Kolesterol yang berasal dari makanan menyediakan kira-kira 400 mg perhari, dan hati menskeresiksn kira-kira 1 g perhari(Wilson, and Rudel, 1994). Kolesterol dalam usus diserap kira-kira 50% dan sisanya diekskresikan dalam feses (Bay, 2002; Clearfi eld, 2003). Hanya kolesterol bebas yang bergabung dalam misel asam empedu dan diserap oleh enterosit. Sebagian besar kolesterol makanan ada dalam bentuk kolesterol ester. Kolesterol ester kemudian dihidrolisis oleh kolesterol esterase menghasilkan kolesterol bebas untuk penyerapan.

Kolesterol hanya sebagian kecil larut dalam lingkungan

air dan kemudian dipartisi ke dalam bentuk misel dengan garam empedu sebelum penyerapan. Misel yang terbentuk antara garam empedu dengan triasilgliserida, fosfolipid, asam lemak yang terionisasi dan asam lemak yang tidak terionisasi, monoasilgliserida, lisofosfolipid, dan kolesterol bebas adalah membentuk misel campuran (Yao, et al., 2002;

David and Wang, 2003). Misel ini ditranfer ke enterosit, untuk diserap. Penyerapannya tergantung pada asam empedu dalam lumen usus(Voshol, et al., 2001).

Kolesterol harus melewati diff usion barrier pada antarmuka lumen usus-membran enterosit sebelum berinteraksi dengan protein tranporter yang bertanggung

Kolesterol harus melewati diff usion barrier pada antarmuka lumen usus-membran enterosit sebelum berinteraksi dengan protein tranporter yang bertanggung

Dokumen terkait