• Tidak ada hasil yang ditemukan

MONOGRAF MALONDIALDEHID PREKUSOR STRESS OKSIDATIF

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MONOGRAF MALONDIALDEHID PREKUSOR STRESS OKSIDATIF"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

MONOGRAF

MALONDIALDEHID

PREKUSOR STRESS OKSIDATIF

(3)

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta Lingkup Hak Cipta

Pasal 2

1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Ketentuan Pidana Pasal 72

1. Barang siapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 49 Ayat (1) dan Ayat (2) dipidana dengan penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah).

2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terbit sebagai dimaksud pada Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.

(4)

UDAYANA UNIVERSITY PRESS

DR. IR. SRI WAHJUNI, M.KES.

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA

MONOGRAF

MALONDIALDEHID

PREKUSOR STRESS OKSIDATIF

(5)

Hak Cipta pada Penulis.

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang :

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini

Penulis:

Dr. Ir. Sri Wahjuni, M.Kes.

Repro

978-602-7776-62-3 MONOGRAF

MALONDIALDEHID

PREKUSOR STRESS OKSIDATIF

(6)

P

uji syukur penulis panjatkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), berkat rahmat Nya lah dapat menulis monogram tentang Malodildehid pertanda stress oksidatif .

Dipandang secara luas pengetrian Lipd peroksidasi (MDA) merupakan prekusar terjadinya kerusakan membran lemak sel hidup. Sel adalah satuan struktural pada pelbagai sistem kehidupan Dengan berpegang pada konsep ini, kita akan mendapatkan suatu defi nisi fungsional biokimia, yaitu Bila makhluk hidup berlebihan dalam karbohidrat, protein., dan lemak akan terjadi stress tubuh dengan ditandai Malondialdehit meningkat (MDA), dan juga berhubungan dengan unsur-unsur kimiawi pada sel hidup dengan berbagai reaksi serial proses yang dialami tubuh.

Ruang lingkup lipid peroksidasi sama dengan awal terjadi stress oksidatif,di mana kehidupan itu ada, disitu berlangsung proses-proses kimiawi. Para pakar karbohidrat,protein,dan lemak mempelajari proses-proses kimiawi yang terjadi dalam mikroorganisme, tumbuhan, insekta, burung, mamalia rendah dan tinggi, terlebih dahulu harus mengetahui metabolismenya, molekulernya,

PRAKATA

(7)

tersebut. Sehingga metabolisme itu sendiri merupakan reaksi dalam sel yang dikatalisis oleh sejumlah enzim dan metabolisme bukanlah suatu proses acak melainkan sangat terintegrasi dan terkoordinasi untuk menseimbangkan stress oksidatif.

Penulisan monograveini masih jauh dari sempurna, ini sangat disadari oleh penulis Berpijak dari sinilah penulis dengan rendah hati memohon kritik dan saran kepada mereka yang lebih akhli dan para pakar untuk memberi masukkan yang positip kepada penulis untuk perbaikan tulisan monograf ini, sebelum dan sesudahnya penulis ucapkan terimakasih.

Denpasar, Medio Januari 2012 Penulis

(8)

PRAKATA ... v

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR SINGKATAN / LAMBANG ... ix

PEMBAHASAN ... 1

• Hubungan stress oksidatif (MDA) dengan infl amasi pada aterosklerosis ... 1

• Sumber Radikal bebasdalam tubuh manusia ... 10

• Radikal Bebas dalam Biologi ... 12

• Stres Oksidatif Dengan Infl amasi ... 17

• Mekanisme terjadinya hiperglikemia akibat stres oksidatif ... 19

• Antioksidan ... 40

• Makanan yang mengandung antioksidan ... 42

DAFTAR PUSTAKA ... 48

BIODATA PENULIS ... 53

DAFTAR ISI

(9)

Gambar 1. Mekanisme Reaksi Pembentukkan

Senyawa 8-OhdG ... 5 Gambar 2. Struktur suatu Membran Plasma ... 7 Gambar 3. Jalur pembentukan ROS, Proses

Peroksidase lipid, Peranan GSH ,

dan antioksidan ... 8 Gambar 4. Peroksidasi lipid yang terjadi di asam

arakhidonat ... 11 Gambar 5. Reaksi terjadinya lipid peroksidasi

oksidasi pada lemak tak jenuh banyak ... 13 Gambar 6. Mekanisme Terjadinya Hiperglikemia

dan AGEs yang Diinduksi Stres Oksidatif dalam Sel, Umur, dan Hasil

Reaksi Glikasi ... 21 Gambar 7. Mekanisme Stres Oksidatif pada

Hiperglikemia ... 22 Gambar 8. Sindrom Metabolik ... 27

DAFTAR GAMBAR

(10)

DAFTAR SINGKATAN / LAMBANG

ATP : Adenosine Triphosphat BHT : Butylated Hydroxytoluene BHA : Butylate Hydroxyanisole GSH : Glutathion

GSHPx : Gluthatione Peroxidase LPL : Lipoprotein Lipase MDA : Malondialdehid

PKV : Penyakit Kardiovasculer

PHGPx : Phospholipid Hydroperoxida Glutation Peroxidase SKRT : Survey Kesehatan Rumah Tangga

ROS : Reactive Oxygen Species SOD : Superoxida Dismutase

(11)
(12)

PEMBAHASAN

Hubungan stress oksidatif (MDA) dengan infl amasi pada aterosklerosis

A

sam Lemak Tak jenuh jamak-6 (Omega-6) di dalam tubuh menghasilkan Asam Arakhidonat (AA) yang akan menghasilkan ekosanoid pro-infl amasi, sedangkan Asam Lemak Tak Jenuh Jamak-3 ( Omega- 3) menghasilkan metabolit asam ekosapentanoat (EPA), Dokosapentanoat (DPA), dan asam dekosaheksanoat (DHA) umumnya menghasilkan mediator anti-infl amasi dan imunosupresif.(Leong dan Shui,2002)

Pemberian asupan diet Omega-3 dapat menekan sitokin Th1 (IL-2) maupun sitokin Th2 (IL-4) dan respons imunoglobulin subklas Th1(IgG1) dan Th2 (IgG2a), sehingga dengan asupan diet Omega-3 berpengaruh menurunkan konsentrasi Asam Arakhidonat pada sel imun manusia, Murin,dan tikus. Bukti-bukti mengindikasikan bahwa Omega -3 memodulasi respon imun melalui satu atau lebih tiga mekanisme molekuler utama(1) dengan merubah

(13)

komposis dan fungsi membran sel, (2) memodifi kasi produksi eikosanoid, dan (3) mengubah biosintesis sitokin.Pada manusia sitokin dihasilkan oleh berbagai sel, termasuk makrofag, monosit, sel-T,sel otot polos, sel-sel stroma vaskuler, fi broblas, dan adiposa.Jaringan adiposa tidak hanya sebagai tempat metabolisme dan penyimpanan lemak, tetapi juga sebagai organ sekresi peptida bioaktif yang disebut adipoktin; Adipoktin salah satunya adalah

(FFA).(Murray.,2003).

FFA ini yang menyebabkan terbentuknya fosfolipid yang diperlukan sebagai komponen membran. Semua membran terdiri dari atas protein 55%, fosfolipid 25 %, kolesterol 15 %, karbohidrat 3 %, dan lemak – lemak lain 4 % bila diamati lebih dekat satu persatu fraksi dari lemak di dalam membran.Membran terdiri atas lapisan rangkap molekul lemak yang tidak terputus dengan tebal kurang- lebih 5 nm. Didalam lapisan rangkap tersebut tertanam protein. Beberapamembran juga sebagai tambahan mengandung karbohidrat yang terikat pada lipid dan protein.Protein dasar dan asam organik yang mengandung fosfor, yang kini disebut sebagai asam nukleat. Asam nukleat terdiri dari DNA ( Deoxyribonucleic Acid). DNA sel dan DNA.(Murray.2003)

Mitokondria pada organisme aerobik secara konstan mengalami kerusakan progresif, walaupun tidak ada

(14)

eksposur terhadapkarsinogen genotoksik. Proses kerusakan dapat meliputi sumber endogen seperti instabilitas DNA (depurinasi), kesalahan spontan selama replikasi DNA, sejumlah spesies oksigen relatif (ROS), sebagai akibat metabolisme oksigen, dan produk peroksidasi lipid (MDA) (Gambar ).Bila Lipid peroksidasi terjadi terus menerus maka terjadi kerusakan sel ditandai marker 8-hidroksi-2- dioksiguanosin merupakan basa nukleosida yang telah dimodifi kasi, pada umumnya 8-hidroksi-2-dioksiguanosin diketahui sebagai hasil samping dari kerusakan DNA yang dieskresi dalam serum DNA repair. Saluran kemih 8-OHdG dan analognya 8-hidroksiguanin, dapat dikaitkan dengan penyakit degeneratif.. Asosiasi ROS dan penggunaan 8- OHdG sebagai biomarker stress oksidatif telah diselidiki dalam berbagai penyakit termasuk kandungan kemih dan kanker prostat (Chiou, et al, 2003).

Berdasarkan bukti eksperimental bahwa kerusakan oksidatif permanen terjadi pada lipid membran seluler, protein, dan DNA. Dalam DNA mitokondria, 8-hidroksi- 2-deoksiguanosin (8-OHdG) atau 8-oxo-7,8-dihidro-2- deoksiguanosin (8-oxodG) adalah salah satu bentuk dominan dari radikal bebas yang disebabkan lesi oksidatif, dan telah banyak digunakan sebagai biomarker untuk stres oksidatif dan karsinogenesis. Studi menunjukkan bahwa 8-OHdG adalah biomarker yang baik untuk penilaian risiko berbagai

(15)

kanker dan penyakit degeneratif. Biomarker 8-OHdG atau 8-oxodG telah menjadi penanda penting untuk mengukur dampak kerusakan oksidatif endogen pada DNA dan sebagai faktor inisiasi dan promosi karsinogenesis dan juga digunakan untuk memperkirakan kerusakan DNA pada manusia setelah terpapar agen penyebab kanker, seperti asap tembakau, serat asbes, logam berat, dan hidrokarbon aromatik polisiklik (Cheng, et al, 2006)

Spesies oksigen reaktif (ROS) yang dihasilkan baik endogen atau eksogen dapat menyerang lemak, protein dan asam nukleat secara bersamaan di sel-sel hidup. Dalam DNA mitokondria, 8-hydroxydeoxyguanosine (8-OHdG), sebuah nukleosida teroksidasi DNA, adalah lesi DNA paling sering terdeteksi dan dipelajari. Setelah perbaikan DNA, 8-OHdG diekskresikan dalam urin. Banyak bukti telah menunjukkan bahwa 8-OHdG tidak hanya merupakan biomarker stres oksidatif seluler secara umum, tetapi juga mungkin menjadi faktor risiko untuk kanker, aterosklerosis dan diabetes. Sebagai contoh, peningkatan tingkat urin 8-OHdG telah terdeteksi pada pasien dengan berbagai macam kanker. Dalam plak aterosklerotik manusia, ada peningkatan jumlah DNA oksidatif dimodifi kasi dan 8- OhdG (Gb.1). Peningkatan kemih 8-OHdG dan DNA leukosit juga terdeteksi pada pasien diabetes dengan hiperglikemia, dan tingkat urin 8-OHdG dalam diabetes

(16)

berkorelasi dengan keparahan nefropati diabetes dan retinopati. Mekanisme reaksi pembentukkan senyawa 8- OHdG oleh radikal oksigen (Atonia, et al, 2005)

Gambar 1

Mekanisme Reaksi Pembentukkan Senyawa 8-OHdG (Atonia, et al, 2005)

ROS terbentuk secara berkesinambung pada sel hidup dari organisme aerobik sebagai bagian dari proses fi siologi, metabolik, dan reaksi biokimia lainnya. ROS terpenting yang menyebabkan kerusakkan biomolekul dasar adalah radikal hidroksil (OH. ), dapat merusak DNA sel dan mitokondria.(V alko,etal.2007). Cara pembentukkan ROS dalam managemen stress Oksidatif yaitu:1.radikal anion superoksida terbentuk dari proses reduksi oxygen molekuler yang dimediasi oleh oxidase NAD(P)H and Xanthine oxidase atau secara non

(17)

enzimatik electron mitochondrial. 2.radikal superoxide dismutase (radikal SOD)oleh superoxide dismutase menjadi hidrogen peroxide. Reaksi 3: Hidrogenperoksida paling efi sien ditangkap oleh enzim glutatian peroxidase (GPx) yang memerlukan GSH sebagai donor elektron.Reaksi 4:The oxidesed gluthation (GSSG) direduksi kembali menjadi GSH oleh enzyme glutathione reductase (Gred) menggunakan NADPH sebagai donor elektron. Reaksi 5: beberapa logam transisi (seperti Fe2+,,Cu+ dan lainnya dapat merusak hydrogen peroksida menjadi radikal reactive hydroksil (reaksi Fenton). Reaksi 6: radical hydroxyl dapat radical lipid yang berpusat pada karbon(L .). Reaksi 7: The lipid radical(L.) selanjutnya dapat berinteraksi dengan oxygen moleculer menjadi radical lipid peroxyl (LOO.), jika lipid peroxyl radical ini tidak direduksi oleh antioksidan maka terjadi proses lipidperosidasi.Reaksi 8. Radikal lipid peroxyl (LOO.) direduksi dari vitamin E (T-OH) menghasilkan lipid hydroperoksida dan radical vitamin E(T-O.)menghasilkan pembentukan lipid hydroperoxide dan radical dari vitaminE (T-O) menghasilkan lipid hydroperoxide dan radical dari vitamin E (T-O.), terakhir Reaksi 9 :regenerasidaripada vitamin E oleh vitamin C (Gambar2)

(18)

Gambar 2

Struktur suatu Membran Plasma (Murray,2003)

(19)

Gambar 3

Jalur pembentukan ROS, Proses Peroksidase lipid, Peranan GSH , dan antioksidan

(Valko,etal.2007)

Salah satu faktor penting yang terlibat untuk menjaga tubuh tetap sehat adalah makanan yang dikonsumsi sehari- hari. Makanan yang kita makan sehari-hari mengandung

(20)

berbagai zat gizi atau nutrien yang sangat berguna bagi tubuh,karena banyak mengkonsumsi makanan siap saji (makanan aterogenik/ Asam lemak jenuh), akan penyebab kesehatan tubuh tidak sehat. Efek negatip mengkonsumsi makan aterogenik (makanan siap saja) terjadi dislipidemia penyebab utama penyakit jantung koroner. Dislipidemia adalah metabolisme abnormal lipoprotein, biasanya berhubungan dengan over-produksi atau kekurangan lipoprotein. Dislipidemia juga sering dikatakan sebagai hiperlipidemia merupakan peristiwa peningkatan lipid serum sebagai faktor risiko penyakit kardiovaskular. Hal ini disebabkan pada dislipidemia juga ada prilaku kolesterol yang berperan pada aterosklerosis.

Aterosklerosis merupakan Penumpukkan lipid menimbulkan ateroma akibat oksidasi kolesterol-LDL (Kolest-LDL), akhirnya trombosis timbul akibat plak terkoyak akhirnya pembuluh darah tersumbat, salah satunya ditandai oleh kadar MDA yang meningkat (Gambar 3). Malondialdehid (MDA) adalah produk akhir dari peroksidasi lipid, sebagai proses degradasi asam lamak tak jenuh jamak (Asam Arakhidonat) yang merupakan prekusor membran. MDA merupakan tolak ukur lipid peroksidasi lipid dan berkontribusi terhadap kerusakan oksidatif DNA.

Kerusakan DNA ini dinamakan stres oksidatif.

(21)

Sumber Radikal bebasdalam tubuh manusia

Radikal bebas dan ROS lainnya berasal dari proses metabolisme normal penting dalam tubuh manusia ( sumber eksogenus) seperti sinar X, ozon, merokok, polusi udara, dan industri kimia. Pembentukkan radikal bebas terjadi terus menerus di dalam sel sebagai konsekuensi dari kedua enzimatik dan nonenzimatik. Reaksi enzimztik, yang berfungsi sebagai sumberradikal bebas, termasuk yang terlibat dalam rantai pernapasan, dan fagositosis dalam sintesis prostaglandin, dan dalam sitokromP-450 ( Liu.,1999).

Radikal bebas juga terbentuk dalam reaksi nonenzimatik dari oksigen dengan senyawa-senyawa organik maupun yang diperkasai oleh reaksi ionisasi.(Taniyama.,etal.2003)

Adipoktin salah satunya adalah

(FFA) yang merupakan asam lemak dalam bentuk tidak teresterifi kasi sehingga mitokondria akan rusak dan terjadi stress oksidatif.

(22)

Gambar 4

Peroksidasi lipid yang terjadi di asam arakhidonat (Tokur,etal.,2004)

Tingkat kerusakan sel bisa dilihat dengan beberapa indikator seperti 8-Hidroksideoksiguanosin(8- OhdG)yang dapat menggambarkan kerusakkan DNA, dan malondialdehid (MDA) yang menggambarkan kerusakan fosfolipid membran sel,padahal kesehatan modal dasar yang paling penting dalam kehidupan manusia. Tanpa kesehatan yang optimal maka segala pekerjaan akan terhambat bahkan tertunda samasekali. Negara dengan mayoritas penduduk

(23)

berusia panjang diketahui, bahwa mereka mengkonsumsi banyak mengandung non aterogenikmisal ikan laut, sayur- sayuran, kacang-kacangan, dan buah-buahan. Ikan laut banyak mengandung omega -3, sayur-sayuran dan kacang- kacangan secara fi tokimia banyak mengandung karotenoid, fi tosterol, saponin, glucosinlates, polifenol, protease inhibitors, monoterpen, dan fi toestrogen. Semua makanan yang mengandung fi tokimia dapat bersifat antioksidan aktif .

Antioksidan aktif yaitu makanan yang mengandung karotenoid, polifenal, fi toestrogen, inhibitor protease yang banyak mengandung senyawa lycopene, canthaxanthin yang mempunyai kemampuan memproteksi oksidasi yang disebabkan oleh radikal bebas.

Radikal Bebas dalam Biologi

Radikal bebas adalah sekelompok bahan kimia baik berupa atom maupun molekul yang memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan. Merupakan juga sekelompok bahan kimia dengan reaksi jangka pendek yang memiliki satu atau lebih elektron bebas. Radikal bebas dapat dihasilkan dari metabolisme tubuh dan faktor eksternal seperti : asap rokok, sinar ultra violet, dan beberapa polutan di sekitar kita. Penyakit yang disebabkan radikal

(24)

bebas bersifat kronis untuk mencegahnya maka diperlukan antioksidan.

Gambar 5

Reaksi terjadinya lipid peroksidasi oksidasi pada lemak tak jenuh banyak. (Machlin,L.J.,1991)

Gambar 4merupakan kerusakan minyak dan lemak selain dibebabkan oleh proses oksidasi dapat juga disebabkan oleh proses hidrolisis. Pada proses hidrolisis dihasilkan gliserida dasi asam-asam berantai pendek sehingga akan terjadi perubahan rasa dan bau.

Sifat yang lebih reaktif dibandingkan dengan oksidan non radikal, akibatnya radikal bebas lebih berbahaya jika

(25)

kontak dengan senyawa lain yang berupa biomakromolekul, karena dapat membentuk radikal baru, lebih lanjut akan terjadi reaksi berantai secara simultan. Senyawa biomakromolekul seperti polisakarid,protein, lipida, dan asam nukleat merupakan sasaran dari radikal bebas akan terjadi proses kerusakan sel yang disebabakn oleh radikal bebas.Radikal bebas dapat dihasilkan dari metabolisme tubuh dan faktor eksternal seperti : asap rokok, sinar ultra violet, banyak konsumsi asam lemak tak jenuh jamak,dan beberapa polutan di sekitar kita. Penyakit yang disebabkan radikal bebas bersifat kronis untuk mencegahnya maka diperlukan senyawa antiradikal. Radikal bebas dalam tubuh adalah radikal derivat dari oksigen yang disebut kelompok oksigen reaktif, termasuk didalamnya adalah triplet (3O2), singlet (O2) (Gambar2), anion superoksida (O2), hidroksil (OH.), nitrit oksida (NO.), hidrogen peroksida (H2O2), alkoksil (LO.), dan radikal peroksil (LO-2).(Shigeoka.,etal.,2 002)

Tubuh manusia dapat menetralisir radikal bebas ini, hanya saja bila jumlahnya terlalu berlebih, maka akan lebih sulit untuk dinetralisir. Contohnya bila konsumsi asam lemakjenuh berlebih tubuh terpajan lipid peroksidasi, sehingga tubuh tidak mampu untuk mengeluarkannya. Pada umunya semua sel dalam jaringn tubuh dapat menangkal radikal bebas ini melalui bantuan beberapa enzim khusus,

(26)

tetapi manusia secara alami mengalami degradasi atau kemuduran seiring dengan bertambahnya usia akibatnya pemunahan radikal bebas ini tidak dapat dipenuhi dengan baik, maka stres oksidatif terjadi, sehingga terjadi mutasi sel yang merupakan awal timbulnya kanker, lapisan lipid pada dinding selakan teroksidasi, mempengaruhi pembuluh darah dan produksi prostaglandin. Radikal bebas secara terus-menurus terbentuk di dalam tubuh. Perusakan sel oleh radikal bebas reaktif didahului oleh kerusakan membran sel, dengan rangkaianproses sebagai berikut :

a) Terjadi ikatan kovalen antara radikal bebas dengan komponen membran, sehingga terjadi perubahan struktur dan fungsi reseptor.

b) Oksidasi gugus tiol pada komponen membran oleh radikal bebas menyebabkan proses transpor lintas membran terganggu.

c) Reaksi peroksidasi lipid dan kolesterol membran yang mengandung asam lemak tak jenuh jamak yang mempunyai efek langsung terhadap kerusakan sel serta dapat menyebabkan kematian sel.

Pengaruh radikal ionisasi terhadap materi biologi akan menghasilkan bermacam-macam radikal bebas yang kompleks, terutama radikal hidrogen, hidroksi dan elektron yang siap berinteraksi dengan biomolekul lain yang

(27)

berikatan. Energi panas juga dapat menghasilkan radikal bebas, sehingga akan bereaksi dengan lemak maupun protein sehingga terjadi kerusakan lokal dan disfungsi organ-organ tertentu yang secara terinci dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Peroksidasi Lemak

Membran sel kaya akan sumbar asam lemak tidak jenuh jamak yang mudah dirusak oleh bahan-bahan pengoksid, proses ini disebut peroksidasi lipid. Hal ini sangat merusak karena merupakan reaksi berkelanjutan melalui reaksi pemecahan hidroperoksida lemak yang sering melibatkan katalis ion logam transisi maka reaksinya sebagai berikut

2. Kerusakan Protein

Protein lebih tahan terhadap radikal bebas daripada asam lemak tak jenuh, sehingga kecil kemungkinan untuk terjadi reaksi berantai. Salah satu kerusakkan

(28)

protein oleh radikal bebas terjadi jika telah terakumulasi pada lokasi tertentu dan berikatan dengan ion logam transisi.

Stres Oksidatif Dengan Infl amasi

Stres oksidatif adalah suatu keadaan dimana tidak seimbangnya antara produksi spesies oksigen reaktif (ROS) dengan kapasitas antioksidan untuk mencegah terjadinya komplikasi jejas oksidatif (Thannickal, 2000; Halliwel, 2007). Akibat dari hal ini adalah intensitas proses oksidasi sel-sel tubuh yang normal menjadi semakin tinggi dan menimbulkan kerusakan yang lebih banyak. Keadaan stres oksidatif membawa pada kerusakan oksidatif mulai dari tingkat sel, jaringan sampai ke organ tubuh. Kondisi sel- sel yang rusak inilah yang akhirnya bermanifestasi menjadi penyakit diabetes mellitus dan proses penuaan sel menjadi lebih cepat (premature aging) (Kariadi, 2001; Kuroki et al, 2003)

Stres oksidatif ini dapat terjadi karena dipicu oleh beberapa kondisi, namun pada dasarnya stres oksidatif ini terjadi akibat adanya ketidakseimbangan antara molekul radikal bebas dan penetralisirnya (antioksidan).

Penyebabnya bisa dikarenakan kurangnya antioksidan atau kelebihan produksi radikal bebas oleh tubuh. Ion superoksid

(29)

yang dihasilkan pada berbagai penyakit merupakan faktor kunci dari proses proliferasi dan disfungsi endotel, sehingga stres oksidatif merupakan penyebab penting terjadinya penyakit pada manusia seperti : atherosclerosis, penyakit neurodegeneratif, keganasan, fi brosis paru, proses penuaan dan lain sebagainya (Kuroki et al, 2003; Bjelakkovic et al, 2007)

Peningkatan stres oksidatif yang didapat dari ketidakseimbangan antara jenis oksigen reaktif (termasuk anion superoksid, dan radikal hidroksil) dan mekanisme pertahanan antioksidan dalam tubuh. Ketidakseimbangan dapat menyebabkan efek hilangnya fungsi endotel termasuk dalam patogenesis dan progesifi tas dalam gagal jantung. Stres oksidatif dapat merusak protein selular dan menyebabkan apoptosis miosit dan nekrosis. Juga dihubungkan dengan aritmia dan disfungsi endotelial, dengan disfungsi yang terjadi melalui reduksi aktivitas sintesis nitrit oksida termasuk inaktivasi dari nitrit oksida.

Aktivasi imun dan infl amasi, aktivasi dari sistem RAA dan sistem saraf simpatis dan peningkatan kadar sirkulasi katekolamin yang terbentuk dari interaksi anion superoksida dan nitrit oksida semuanya dapat meningkatkan stres oksidatif (Murray, 2003).

Stres oksidatif menginduksi peroksidasi membran lipid yang dapat menimbulkan kerusakan yang akan

(30)

menyebabkan perubahan terhadap struktur biologis dari

ikatan membran dengan reseptor atau enzim yang dapat mengganggu fungsi normal sel (Dalle et al, 2006). Lebih jauh peroksidasi lipid memberikan kontribusi serta memperbesar kerusakan sel yang berasal dari produk hasil peroksidasi.

Pada beberapa studi dilaporkan bahwa stres oksidatif memegang peranan penting pada patogenesis terjadinya komplikasi penyakit kardiovaskular, respiratorik, gangguan sistem imun, karsinogenesis, bahkan ditenggarai ikut berperan dalam proses penuaan pada penderita diabetes .

Mekanisme terjadinya hiperglikemia akibat stres oksidatif

Berbagai mekanisme telah diusulkan untuk kontribusi penyakithiperglikemia sebagai akibat dari stress oksidatif, salah satunya adalah kemungkinan terjadinya oksidasi glukosa sebagai sumber ROS (Nishikawa et al, 2010). Dalam bentuk enediol, glukosa teroksidasi dalam logam transisi tergantung anion radikal enediol yang dikonversi ke dalam ketoaldehid dan radikal anion superoksida. Radikal anion superoksida mengalami dismutase membentuk hidrogen peroksida, bila tidak akan terdegradasi oleh katalase atau glutation peroksidase. Enzim reduktase sitosol aldosa

(31)

mengkonversi glukosa menjadi sorbitol intraselular menggunakan nicotinamid adenin dinukleotida fosfat (NADPH) yang berasal dari jalur fosfat pentosa sebagai suatu kofaktor. Selama terjadi hiperglikemia, konsumsi NADPH akan terhambat dalam mempertahankan aktivitas

peroksidase glutation protein

kinase-C (PKC) dalam fraksi membran melalui peningkatan sintesis de novo diasilgliserol dalam sel pembuluh darah, dan hiperglikemia akan merangsang ROS melalui aktivasi PKC (Brownle, 2001; Srivastava et al, 2006). Nishikawa et al (2010), melaporkan bahwa hiperglikemia dapat meningkatkan ROS dari transport elektron mitokondria dan produksi ROS mitokondria merupakan peristiwa penting dalam komplikasi diabetes melitus.

Hiperglikemia dan hiperkolesterolemia akan memperburuk dan memperparah pembentukkan ROS melalui beberapa mekanisme. ROS akan meningkatkan pembentukan ekspresi Tumor necrosis factor- α (TNF- α) dan memperparah stres oksidatif. TNF- α dapat mengakibatkan resistensi insulin melalui penurunan autofosforilasi (auto- phosphorylation) dari reseptor insulin, perubahan reseptor insulin substrat 1 menjadi inhibitor insuline, receptor tyrosine kinase activity, penurunan insuline-sensitive glucose transporter (GLUT-4), meningkatkan sirkulasi asam lemak, merubah fungsi sel β, meningkatkan kadar trigliserida dan

(32)

menurunkan kadar HDL (Tiwari, 2002).

Gambar 6

Mekanisme Terjadinya Hiperglikemia dan AGEs yang Diinduksi Stres Oksidatif dalam Sel, Umur, dan Hasil Reaksi Glikasi

(Nishikawa, 2010)

Stres oksidatif pada penderita diabetes dan dislipidemia akan meningkatkan pembentukan ROS di dalam mitokondria yang akan mengakibatkan berbagai kerusakan oksidatif berupa komplikasi diabetes, PKV, dan akan memperparah kondisi penderita , untuk itu perlu menormalkan kadar ROS di mitokondria untuk mencegah kerusakan oksidatif (Tiwari, 2002)

(33)

Gambar 7

Mekanisme Stres Oksidatif pada Hiperglikemia (Tiwari, 2002)

Hiperglikemia merupakan gejala primer dari manifestasi klinik DM. Sedangkan peningkatan FFA sering terjadi pada penderita obesitas. Hiperglikemia maupun peningkatan kadar FFA yang tidak terkendali dalam waktu lama akan menimbulkan masalah kesehatan dikemudian hari, seperti pembentukkan radikal bebas. Hiperglikemia mempunyai hubungan dengan terbentuknya radikal bebas atau ROS (Tripathy et al, 2003). Secara biokimia keadaan hiperglikemia menimbulkan ROS melalui tiga cara yaitu : (1) glikosilasi non enzimatik; (2) melalui polyol pathway; dan (3) autooksidasi dari glukosa. Sedangkan DM dengan keadaan obesitas yang berlanjut ke arah gangguan metabolisme

(34)

karbohidrat dan lemak, melalui FFA akan menimbulkan ROS.

Penderita hiperglikemia melalui autooksidasi adalah reaksi glikosilasi secara langsung pada monosakarida dan fruktosa-lisin akan terjadi secara spontan pada kondisi fi siologis melalui pengurangan molekul oksigen.

Pengurangan molekul oksigen pada proses autooksidasi akan menghasilkan siperoksida, radikal hidroksil dan hidrogen peroksida (Brownlee, 2001).

Hiperglikemia akan mengkatalisis pembentukan radikal anion superoksida (.O2) dari sumber mitokondria dan sitoplasma yang akan menyebabkan terjadinya lipoksidasi dan menghasilkan glyoxal merupakan prekusor carboxymethyllise (CML). Penderita diabetes kadar methylglyoxal yang terbentuk dari intermediate glikolisis meningkat selanjutnya membentukcarboxyethylly-sine (CEL).

Baik CML maupun CEL akan berikatan dengan Cu atau Fe menghasilkan CML/CL-metal-protein complex (Pennathur, 2001).

Tubuh manusia dapat menetralisir radikal bebas, hanya saja bila jumlahnya terlalu berlebihan, maka tubuh lebih sulit dinetralisir misalnya makanan Aterogenik (makanan siap saji) banyak mengandung asam lemak jenuh (saturated faty acid) dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam tubuh. Asam-asam lemak ini dalam makanan akan

(35)

diuraikan menjadi kolesterol, trigliserida, fosfolipid, dan asam lemak bebas pada saat dicerna dalam usus. Keempat unsur lemak ini akan diserap dari usus dan masuk kedalam darah. Kolesterol dan unsur lemak tidak larut dalam darah.

Agar dapat diangkut dalam aliran darah kolesterol berikatan dengan protein yang disebut lipoprotein. (Murray.,2003).

Dislipidemia adalah metabolisme abnormal lipoprotein, biasanya berhubungan dengan over-produksi atau kekurangan lipoprotein. Dislipidemia juga sering dikatakan sebagai hiperlipidemia merupakan peristiwa peningkatan lipid serum sebagai faktor risiko penyakit kardiovaskular. Hal ini disebabkan pada dislipidemia juga ada prilaku kolesterol yang berperan pada aterosklerosis.

Jadi yang membedakan antara hiperkolesterolemia dengan dislipidemia adalah pada hiperkolesterolemia terjadi peningkatan kolesterol serum melebihi 200 mg/D1 setelah sembilan sampai duabelas jam puasa. Sebaliknya, pada dislipidemia di samping kriteria untuk hiperkolesterolemia juga terjadi peningkatan kolesterol LDL-serum > 160 mg/D1, trigliserida serum sebesar 150 mg/D1, atau kolesterol HDL- serum < 40 mg/D1 untuk laki-laki dan < 50 mg/D1 untuk perempuan. Simpton Tingginya kolesterol pada dislipidemia tidak dapat dirasakan oleh seorang penderita dislipidemia, tetapi hanya dapat diketahui dengan tes kolesterol darah secara rutin. Diit kolesterol tinggi dapat menginduksi

(36)

dislipidemia di samping juga dapat dipicu akibat faktor genetik (Goldberg, 2008; Anonim, 2009). Sebenarnya tidak ada batas yang pasti antara kadar lipid yang normal dengan yang tidak normal, karena itu diperlukan pengukuran kadar lipid yang kontinu. Demikian juga didapatkan bahwa terjadi hubungan yang linier antara kadar kolesterol dengan risiko penyakit jantung koroner. Sehingga dengan demikian secara numerik dislipidemia sebenarnya tidak bisa didefi nisikan, tetapi kontrol dan uji kadar kolesterol maupun trigliserida secara rutin akan memberikan manfaat agar diketahui apakah akan terjadi risiko aterosklerosis maupun penyakit jantung koroner (Goldberg, 2008).

Adanya peningkatan penanganan penyakit kardiovaskular pada dua dekade terakhir initelah berbuah pada penurunan mortalitasnya. Namun, belakangan ini terlihat adanya kecenderungan mortalitas akibat penyakit kardiovaskular yangkembali meningkat, bukan saja di negara-negara barat, namun juga di kawasan Eropa timur, negara-negara pecahan Uni Soviet, serta banyak negara sedang berkembang di kawasanAsia. Alasan yang paling rasional untuk menjelaskan perubahan fenomena epidemiologi dari penyakit kardiovaskular ini adalah adanya peningkatan keadaan yang dikenal sebagai sindroma metabolik (Gambar 7), yaitu suatu kumpulan gangguan metabolisme dan klinis yang ditandai oleh adanya

(37)

penurunan HDL-kolesterol, peningkatan trigliserida, gula darah yang tinggi, resistensi insulin, obesitas, dan hipertensi.

Penurunan HDL-kolesterol dianggap meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular (PKV),karena sedikitnya tiga alasan, yaitu HDL dinilai dapat mencegah terhadap atherogenesis, rendahnya kadar HDL menggambarkan adanya peningkatan lipoprotein yang mengandung apoB yang bersifat atherogenik, dan rendahnya HDL umumnya berkaitan dengan faktor risiko non-lipid dari sindroma metabolik. Kemampuan untuk mempertahankan derajat kompensasi hiperinsulinemia, yang penting untuk mencegah intoleransi glukosa pada individu dengan resistensi insulin merupakan proses homeostasis yang penting. Sindroma metabolik merupakan hasil interaksi antara gangguan genetik dengan perubahan gaya hidup, yang akan muncul saat seorang dengan kecenderungan genetik mendapatkan sindroma metabolik mengalami obesitas. Gangguan metabolik dan klinik yang ditemukan pada sindroma metabolik memberikan risiko yang lebih besar terhadap penyakit kardiovaskular ketimbang risiko penyakit jantung koroner lainnya bila berdiri sendiri. Sangatlah beralasan jika berbagai aspek sindroma metabolik ini berperan penting menyebabkan gangguan kardiovaskular pada penderita diabetes melitus, makaterjadi peningkatan berbagai faktor pro-infl amasi, seperti IL-6, TNFα, dan hsCRP, PAI-1, dan

(38)

Leptin, serta peningkatan sejumlah molekul adhesi, seperti ICAM, VCAM. Di pihak lain terjadi penurunan faktor protektif dan anti infl amasi seperti NO, PGI2 , status anti oksidan dan adiponektin, yang diketahui memiliki fungsi untuk meningkatkan efek vasodilatasi endotel, menekan ekspresi molekul adhesi, menghambat produksi TNF- α, mengurangi efek pertumbuhan dari sel otot polos, menghambat efek LDL teroksidasi, menekan proliferasi, menghambat proliferasi dan migrasi sel endotel, dan mengurangi penebalan tunika intima dan proliferasi (Gatot, 2005)(Gambar7)

Gambar 8

Sindrom Metabolik. Gatot, 2005

(39)

Lemak yang dikonsumsi dan diabsorbsi dari diit maupun yang disintesis oleh tubuh harus dapat dibawa ke berbagai jaringan dan organ untuk digunakan lebih lanjut atau disimpan sebagai cadangan. Karena lemak tidak larut dalam air maka untuk membawanya melalui plasma darah, lemak non polar (trigliserida dan kolesterol ester) harus bergabung dengan lemak amfi patik yang lebih polar (fosfolipid dan kolesterol bebas) serta protein (apolipoprotein) untuk membentuk lipoprotein yang dapat larut dalam air (Murray, 2006).

Lipoprotein umumnya merupakan suatu partikel berbentuk sferis, lapisan luarnya tersusun oleh fosfolipid dengan gugus asam menghadap ke arah pusat partikel molekul kolesterol dikenal sebagai apolipoprotein.

Apolipoprotein terbenam di dalam lapisan permukaan lipoprotein, sedangkan inti partikel lipoprotein terbenam dalam ester kolesterol dan molekul trigliserida (Murray, 2006).

Lipoprotein plasma diklasifi kasikan berdasarkan densitasnya, kecepatan gerakannya di dalam elektroforesis, kandungan protein, dan lemaknya. Diketahui ada empat jenis lipoprotein dalam plasma yaitu: kilomikron yang berasal dari usus, VLDL (Very Low Density Lipoprotein) atau preb-lipoprotein berasal dari hati dan usus, LDL (Low Density Lipoprotein) atau a-lipoprotein berasal dari hati dan usus.

(40)

Kolesterol bebas dan ester kolesterol di dalam sirkulasi darah tidak dapat beredar dalam keadaan bebas, melainkan berada dalam partikel liproprotein. Pada penentuan kolesterol-total yang berada dalam darah dihitung jumlah kolesterol yang terdapat dalam berbagai lipoprotein tersebut (Haug, 2004).

Sistem jalur pengangkutan lipoprotein dapat dibagi menjadi dua jalur pengangkutan dengan:

1. Sistem eksogen yang mengangkut hasil pencernaan dari lipid yang berasal dari diit. Lipid-lipid tersebut seperti: trigliserida, fosfolipid, kolesterol-bebas diangkut di dalam partikel lipoprotein khusus yang disebut kilomikron selanjutnya dikeluarkan oleh sel epitel mukosa ke ductus lacteal usus halus. Dalam sirkulasi darah kilomikron yang kaya akan trigliserida akan berinteraksi dengan enzim lipoprotein lipase yang menghidrolisis sebagian besar trigliserida pada inti kilomikron menjadi asam lemak dan gliserol.

Asam lemak ini akan diambil untuk digunakan oleh jaringan-jaringan tubuh. Partikel sisa kilomikron yang sudah kehilangan banyak trigliseridanya akan beredar kembali ke sirkulasi darah dan diambil oleh hati, sehingga dengan demikian lipid-lipid oksigen yang berasal dari pencernaan kecuali trigliserida akhirnya masuk ke dalam hati.

(41)

2. Sistem endogen yang mengangkut lipid yang berasal dari hepar ke jaringan tubuh melalui sirkulasi darah.

Lipid ini bersama dengan lipoprotein dirakit menjadi partikel VLDL (Very Low Density Lipoprotein) di dalam hati dan disekresi ke sirkulasi darah.

Sesampainya di pembuluh kapiler berbagai VLDL jaringan tubuh berinteraksi dengan enzim lipoprotein lipase yang menghidrolisis sebagian besar trigliserida dalam intinya dan dikonversi menjadi partikel IDL (Intermediet Density Lipoprotein). Sebagian besar partikel IDL yang terbentuk akan mengalami hidrolisis lebih lanjut membentuk LDL (Low Density Lipoprotein). LDL merupakan lipoprotein yang kaya akan kolesterol dan berperan dalam pengangkutan kolesterol ke jaringan perifer (Lemak jahat). Sebagian besar LDL di ambil oleh hepar sebagian lagi dilepas ke jaringan tubuh lainnya melalui mekanisme endositosis dengan perantara reseptor LDL (Brown, et al., 1981; Murray, 2002).

Bila membran sel telah menjadi jenuh terhadap kolesterol karena penerimaam LDL dan biosintesis internal yang berlebih, terjadilah pengambilan kolesterol ke cairan ekstraseluler untuk dibawa kembali ke hati, yang dikenal sebagai reverse cholesterol transport. Hal ini diduga dilakukan oleh HDL.Lipoprotein mengangkut lemak ke hati. Di dalam hati ikatan lemak tersebut diuraikan, sehingga terbentuk

(42)

kembali keempat unsur lemak tersebut, dan asam lemak yang dibentuk akan dipakai sebagai sumber anergi atau bila jumlahnya berlebih akan disimpan dijaringan lemak ( jaringan Adiposa). Jaringan adiposa tidak hanya sebagai tempat metabolisme dan penyimpanan lemak,Kira-kira 1 g kolesterol disintesis di dalam hati perhari, dan kolesterol dari makanan yang diperlukan untuk golongan orang barat kira-kira 0,6 g perhari(Stipanuk, 2006). Beberapa kolesterol diubah menjadi asam empedu (asam empedu primer), yang sementara disimpan dalam kandung empedu dan sebagai hormon steroidogenik. Untuk memudahkan pencernaan makanan yang kaya lipid, empedu disekresikan ke usus halus untuk membantu pencernaan lipid. Penyerapan kembali asam empedu yang disekresikan dalam ileum sangat efi sien, dan asam empedu kembali ke hati melalui system sirkulasi enterohepatik. Residu asam empedu memasuki usus besar kemudian dimetabolisme menjadi asam empedu sekunder yang karsinogenik(Stipanuk, 2006).

Jumlah kolesterol di dalam tubuh manusia dan hewan diatur oleh banyak faktor. Pada umumnya semua faktor tersebut dapat dibagi menjadi dua macam. Faktor pertama adalah luar sel, seperti jumlah kolesterol bebas atau yang terikat dalam lipoprotein di luar sel, persediaan asam lemak bebas, dan adanya hormon tertentu. Faktor kedua adalah dalam sel, seperti kegiatan sistem enzim yang berperan

(43)

dalam katabolisme kolesterol, jumlah persediaan terpenoida, lanosterol, dan skualen sebagai prekursor untuk sintesis kolesterol, jumlah hasil metabolisme kolesterol, adanya kegiatan pengangkutan kolesterol atau derivatnya keluar dari sel dengan mekanisme pengangkutan aktif melalui membran sel, dan pengaruh viskositas membran. Lebih lanjut dinyatakan pula bahwa dalam mengatur biosintesis kolesterol, kedua macam faktor tersebut bekerja saling berhubungan.

Perubahan yang terjadi pada faktor yang satu akan mempengaruhi faktor yang lainnya, atau sebaliknya, yang kemudian menghasilkan perubahan dalam laju biosintesis kolesterol di hati sebagian diatur oleh kolesterol dalam diet.

Kolesterol adalah molekul hidrofobik atau tidak larut dalam air. Untuk menstranportnya dalam aliran darah dan mengirimnya ke sel-sel di seluruh tubuh dimediasi oleh partikel-partikel lipoprotein yang berbeda-beda pada tiap stepnya. Lipoprotein adalah molekul terdiri dari protein dan lipid (triacylglycerol, cholesteryl ester, phospholipid dan cholesterol) yang digabungkan dengan interaksi hidrofob antara bagian (gugus) non polar dari lipid dengan molekul protein. Berdasarkan bobot molekul, kerapatan, dan ukuran partikelnya lipoprotein plasma darah manusia dibagi menjadi lima golongan utama, yaitu:kilomikron,

(44)

lipoprotein kerapatan sangat rendah (very low density lipoprotein, VLDL), lipoprotein kerapatan rendah (low density lipoprotein, LDL), lipoprotein kerapatan tinggi (high density lipoprotein, HDL), dan lipoprotein kerapatan sangat tinggi (very high density lipoprotein, VHDL). Berdasarkan kecepatan, HDL dapat dibagi lagi menjadi HDL1, HDL2 dan HDL3. (Murray,2003)

Kilomikron menangkap kolesterol dan lemak dari usus.

Kilomikron adalah butir-butir lemak yang mengandung sedikit protein. Lemak dikirim ke jaringan adiposa meninggalkan sisa kilomikron (Chylomicron remnants) yang mengandung sebagian besar kolesterol. Sisa kolesterol ini di bawa menuju hati. Di dalam hati kolesterol dari sisa kilomikron digabungkan dengan kolesterol yang disintesis oleh hati menjadi partikel VLDL. VLDL ini kemudian digunakan untuk transport lemak-lemak ke jaringan- jaringan.Very high density lipoprotein (VLDL) masuk aliran darah dan memulai penyaluran lemak-lemak ke jaringan sel tepi sepanjang dinding pembuluh darah. Dalam proses perjalanannya itu, VLDL mengalami proses penguraian (Murray 2003)

Penyakit Degenaratif lain adalah Kanker yang merupakan suatu penyakit yang dikarakterisasi oleh proliferasi yang tidak terkontrol yang tersebar dari daerah lokal dan menyerang ke seluruh tubuh. Sebagai pencegah

(45)

kanker, seperti soybeans dan tomatos. Soyasaponin dapat melawan kanker dengan meningkatkan immunokompetensi atau meningkatkan aktivitas hipokolesterolemianya(Murra y, 2003).

Hiperkolesterolemia dan Infl amasi pada umumnya merupakan respon terhadap jejas pada jaringan hidup yang memiliki vaskularisasi. Respon radang ini diikuti oleh proses yang sangat penting, yaitu proses endotel. Endotel adalah bagian terpenting pembuluh darah yang berperan dalam proses aterosklerosis. Endotel menjadi target utama dari injuri mekanis dan khemis akibat faktor dislipidemia.

Kolesterol LDL terutama yang teroksidasi sangat pontensial merusak endotel dan HDL sebagai komponen protektif sangat berperan dalam mekanisme aterosklerosis pada dislipidemia (Robbin dan Cataen, 2002).

Dislipedemia mempunyai peranan penting pada terjadinya kerusakan sel-sel endotel. Dinding arteri yang akan menginduksi terjadinya perubahan permeabilitas sel-sel endotel akan menyebabkan konstituen plasma.

Misalnya lipoprotein yang menjadi mudah masuk ke dalam dinding arteri, sehingga memungkinkan trombosit melekat pada darah yang mengalami kerusakan dan mengalami infl amasi. Mengakibatkan jaringan ikat di bawahnya kontak dengan trombosit dan elemen-elemen lainnya di dalam sirkulasi darah. Bila proses kerusakkan ini berlangsung

(46)

kronik selama beberapa tahun, maka proses aterosklerosis terus berlanjut. Serta akan mengakibatkan tunika intima menjadi tebal dan mengakibatkan aliran darah pada daerah itu menjadi terganggu (Szmitko, et al., 2003).

Kolesterol adalah suatu komponen yang sangat penting dalam tubuh mamalia, yang mempunyai formula C27H45OH , dapat dinyatakan sebagai 3-hidroksi-5,6 kolestan karena hanya mempunyai satu gugus hidroksil pada atom C3 dan ikatan rangkap pada C5 dan C6 serta percabangan pada C10, C13 dan C17 (Ros, 2000; Christie, 2012).

Untuk mengidentifi kasi adanya kolesterol dalam suatu sampel dapat dilakukan dengan reaksi warna yaitu:

(1) Reaksi Salkowaski: kolesterol dalam kloroform jika ditambahkan asam sulfat pekat maka timbul warna merah.

(2) Reaksi Liebermann-Burchard: warna kehijauan terjadi bila larutan kolesterol dalam kloroform ditambahkan asam sulfat pekat dan anhidrid asetat Kolesterol kebanyakan berasal dari kolesterol hewan, sedangkan kolesterol dari tumbuhan sukar diserap usus. Kolesterol dalam makanan (hewani) terutama berasal dari otak, kuning telur, hati, dan lemak hewan lainnya. Kolesterol makanan dalam wujud sebagai kolesterol ester.(Ahmed, 2007).

Kolesterol adalah juga molekul prekursor untuk sintesis hormon steroid, vitamin D dan garam empedu.

(47)

Kolesterol berasal dari diet dan disintesis dalam tubuh.

Diet mengandung 200-500 mg kolesterol. Koleserol juga memasuki usus bersama empedu (800-1200 mg/hari) dan sebagai desquamated sel epitel usus (300 mg/hari).

Kolesterol usus terserap kira-kira 30-60%. Bagian penting dari biosintesis kolesterol adalah hati dan usus. Kolesterol dalam tubuh dapat diekskresikan sebagai garam empedu dan kolesterol yang tidak terserap dalam usus akan dikeluarkan lewat feses. Kolesterol total yang hilang setiap hari baik yang berasal dari diet maupun endogenus sebesar 900 mg (David and Wang, 2003; Levy, et al., 2007).

Kolesterol dalam tubuh berasal dari dua sumber yaitu dari endogenus (dihasilkan oleh hati dan jaringan periferal) dan berasal dari sumber makanan yang terserap dari usus(Van, et al., 2000). Kolesterol yang berasal dari makanan menyediakan kira-kira 400 mg perhari, dan hati menskeresiksn kira-kira 1 g perhari(Wilson, and Rudel, 1994). Kolesterol dalam usus diserap kira-kira 50% dan sisanya diekskresikan dalam feses (Bay, 2002; Clearfi eld, 2003). Hanya kolesterol bebas yang bergabung dalam misel asam empedu dan diserap oleh enterosit. Sebagian besar kolesterol makanan ada dalam bentuk kolesterol ester. Kolesterol ester kemudian dihidrolisis oleh kolesterol esterase menghasilkan kolesterol bebas untuk penyerapan.

Kolesterol hanya sebagian kecil larut dalam lingkungan

(48)

air dan kemudian dipartisi ke dalam bentuk misel dengan garam empedu sebelum penyerapan. Misel yang terbentuk antara garam empedu dengan triasilgliserida, fosfolipid, asam lemak yang terionisasi dan asam lemak yang tidak terionisasi, monoasilgliserida, lisofosfolipid, dan kolesterol bebas adalah membentuk misel campuran (Yao, et al., 2002;

David and Wang, 2003). Misel ini ditranfer ke enterosit, untuk diserap. Penyerapannya tergantung pada asam empedu dalam lumen usus(Voshol, et al., 2001).

Kolesterol harus melewati diff usion barrier pada antarmuka lumen usus-membran enterosit sebelum berinteraksi dengan protein tranporter yang bertanggung jawab untuk asupannya dan transporter melewati celluler brush border. Misel garam empedu memfasilitasi transfer kolesterol melewati unstirred water layer. Mekanisme kolesterol dalam misel diambil oleh sel dan melintasi membrane brush border dan masih dalam investigasi.

Penyerapan kolesterol dilakukan dengan proses difusi pasif oleh enterosit dengan efi siensi relatif tinggi dibandingkan fi tosterol yang mempunyai kemiripan struktur (Murray,2003).

Beberapa protein mempunyai peranan yang potensial sebagai pengangkut kolesterol usus, tetapi bukti untuk peranan secara langsung dalam asupan kolesterol tetap tidak dimengerti. Berdasarkan hasil penelitian dilaporkan

(49)

bahwa Niemann-Pick C1 Like-1 (NPC1L1) berperan sebagai transporter kolesterol (Altmann, et al., 2004) dan ATP-

sebagai transporter effl ux kolesterol (Berge, et al., 2000; Lee, et al., 2001; Lu,et al., 2001). Tiga molekul tersebut menjadi kunci yang berperan sebagai kontrol penyerapan dari lumen usus. Identifi kasi NPC1L1 sebagai transporter kolesterol putatif dalam enterosit yang difasilitasi oleh penemuan ezetimibe yang dapat menghambat penyerapan kolesterol ( Garcia-Calvo, et al., 2005), yang mengurangi hiperkolesterolimia yang diinduksi diet (Ziajka, et al., 2004; Tomkin and Daphne Owens, 2011). NPC1L1 adalah suatu protein terglikosilasi yang berlokasi pada membran enterosit. Penghambatan NPC1L1 pada tikus menghasilkan penurunan penyerapan kolesterol (Altmann, et al., 2004; Iyer, et al., 2005). Estimibe menunjukkan kemampuan mengikat NPC1L1 yang mengekpresikan sel-sel pada brush border intestinal. Penghambatan NPC1L1 juga menghasilkan eliminasi kapasitas ikatan dengan brush border intestinal, yang menunjukkan bahwa NPC1L1 adalah suatu target dari ezetimibe, sehingga mengurangi penyerapan kolesterol, karena NPC1L1 yang mengatur penyerapan kolesterol (Garcia-Calvo, et al., 2005; Iqbal and Hussain, 2009).

Kolesterol ester diubah menjadi kolesterol bebas dalam usus oleh kolesterol esterase dan bersama-sama

(50)

dengan kolesterol bebas dari diet dan empedu, bergabung dengan sterol dari diet dalam misel campuran, selanjutnya kolesterol, tersusun dari garam empedu, monogliserida, fosfolipid, lisofosfolipid dan asam lemak. Kolesterol dan sterol lainnya dari yang terkecil (diameter 40°A) memasuki enterosit melalui saluran Nieman-Pick C1-Like 1 (NPC1L1) (Huff , et al., 2006;. Wang, 2007; Levy, et al., 2007). Sterol selain kolesterol yang memasuki enterosit melalui NPC1L1 dicegah memasuki tubuh ke batas yang signifi kan karena diangkut kembali ke dalam lumen usus oleh ATP binding

2007). Mutasi ini mengarah ke akumulasi berlebihan dari sterol (pitosterol), gangguan yang disebut sitosterolaemia, di mana fi tosterol menumpuk di tendon dan arteri (Charlton- Me .etal, 2007).

Pengaturan metabolik tetapi juga sebagai organ sekresi peptida bioaktif yang disebut adipoktin.Adipoktin salah satunya adalah (FFA) yang merupakan asam lemak dalam bentuk tidak teresterifi kasi sehingga mitokondria akan rusak dan terjadi stress oksidatif.

Stres oksidatif dan modifi kasi oksidatif biomolekul terlibat dalam sejumlah proses fi siologi dan patofi siologi seperti penuaan,aterosklerosis, toksisitas karsinogenesis,.dan obat yang bukan antioksidan.(Murray.,2003)

(51)

Antioksidan

Antioksidan adalah molekul cukup stabil untuk menyumbangkan elektron bebas dan menetralisirnya, sehingga mengurangi kapasitas kerusakan. Penundaan antioksidan ini/ menghambat kerusakan sel terutama melalui properti scaveging radikal bebas(Halliwell,1995).

Antioksidan berat molekul rendah dapat dengan aman berinteraksi dengan radikal bebas dan menghentikan reaksi berantai sebelum molekul rusak. Beberapa antioksidan : Glutation, ubiquinon, dan Askorbat yang dihasilkan selama metabolisme normal dalam tubuh (Shi,etal.,1999).

Antioksidan ringan lain yang ditemukandalam makanan.(Hermani dan Raharjo.,2005).

Antioksidan memiliki fungsi untuk menghentikan /memutuskan reaksi berantai dari radikal bebas yang terdapat di dalam tubuh, sehingga dapat menyelamatkan sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas (Hermani dan Raharjo.,2005) .Berdasarkan paparan di atas, berarti tubuh kita sangat rentan terhadap serangan radikal bebas terutama dari radikal bebas alami dalam tubuh dan polusi lingkungan. Tetapi mengapa tidak semua dari kita mendapatkan penyakit yang membahayakan tubuh?Hal ini karena terdapat zat penetral radikal bebas dalam tubuh kita atau yang disebut antioksidan. Antioksidan ini akan menghentikan reaksi berantai radikal bebas dalam tubuh bergantung pada jenis antioksidannya.

Antioksidan primer akan bekerja mencegah

(52)

pembentukan radikal bebas baru dengan cara mengubah radikal bebas yang ada menjadi molekul yang kurang mempunyai dampak negatif. Contoh antioksidan primer adalah Superoksida Dismustase (SOD), Glutation Peroksidase (GPx), dan protein pengikat logam. Yang kedua adalah antioksidan skunder yang bekerja dengan cara mengkhelat logam yang bertindak sebagai pro-oksidan, menangkap radikal dan mencegah terjadinya reaksi berantai.

Contohnya: Vitamin E, Vitamin C, b karoten. Dan terakhir antioksidan tersier yang bekerja memperbaiki kerusakan biomolekul yang disebabkan radikal bebas. Contohnya enzim-enzim yang memperbaiki DNA dan metionin sulfosida reduktase.(Hermani danRaharjo 2005).

Itulah mengapa tubuh kita sampai sekarang masih sehat walaupun sangat rentan terhadap serangan radikal bebas di tiap detiknya. Dan yang harus terus diperhatikan adalah pasokan antioksidan dalam tubuh harus tersedia dalam jumlah cukup. Untuk itu suplemen antioksidan dari luar sangatlah diperlukan untuk mencegah pengaruh buruk dari radikal bebas.Tetapi anda tidak usah terlalu khawatir, suplemen antioksidan luar yang dimaksud disini tidak melulu berarti suplemen sintetis atau suplemen hasil produk manusia yang di jual di pasaran seperti butylated hydroxyanisole, suplemen vitamin, mineral, food suplemen ataupun polifenol yang banyak terdapat dalam produk minuman. karena pada dasarnya secara sadar atau tidak sadar, setiap hari anda telah mengkonsumsi antioksidan.

(Hermani dan Raharjo.,2005)

(53)

Makanan Yang Mengandung Antioksidan

Berbagai antioksidan telah terdapat secara alamiah terutama dalam sayuran, buah-buahan, rempah-rempah, dan sedikit dalam produk hewani.Antioksidan Alami: ada beberapa tanaman yang potensial mengandung antioksidan alami dan berada di sekitar kita:Sayur-sayuran B r o k o l i , Kubis, Lobak, Wortel, Tomat, Bayam, Cabe, Buncis, Pare, Leunca, Jagung, Kangkung, Takokak, Mentimun.Buah- buahan Anggur, Alpukat, Jeruk, Kiwi, Semangka, Markisa, Apel, Belimbing, Pepaya, Kelapa. Rempah:Jahe, Temulawak, Kunyit, Lengkuas, Temumangga, Temuputih, Kencur, Kapulaga, Bangle, Temugiring, Lada, Cengkeh, Pala, Asam Jawa, Asam Kandis.Tanaman lain :teh, Ubi Jalar, Kedelai, Kentang, Keluwak, Labu Kuning, Pete Cina(

Hermani dan Raharjo.,2005)

Demikian kita konsumsi tiap harinya mengandung antioksidan. Senyawa antioksidan tersebut tersebar pada berbagai bagian tumbuhan seperti akar, batang, kulit, ranting, daun, bunga, buah, dan biji. Antioksidan alami ini berfungsi sebagai reduktor, penekan oksigen singlet, pemerangkap radikal bebas, dan sebagai pengkhelat logam.

Secara kimiawi antioksidan alami yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan ini terutama berasal dari golongan senyawa turunan fenol seperti fl avonoid, turunan senyawa asam hidroksiamat, kumarin, tokoferol dan asam organik.

Aktivitas antioksidan dari berbagai tanaman di atas diperkirakan mempunyai kekuatan sedang sampai

(54)

tinggi. Beberapa ekstrak tanaman yang telah diketahui mempunyai aktivitas antioksidan tinggi antara lain dari golongan rempah-rempah seperti ekstrak cengkeh, jahe, kunyit, temulawak, kayu manis, dan pala. ( Hermani dan Raharjo.,2005).

Radikal bebas mau atau tidak mau akan terus menyerang pada kita tanpa pernah beristirahat. Serangan radikal bebas baik dari dalam maupun dari luar tubuh sama bahayanya jika telah bertemu dengan enzim atau asam lemak tak jenuh. Karena serangan itu merupakan awal dari kerusakan sel.Tetapi kita semua makhluk hidup tidak harus takut sepanjang hidup kita, karena kita telah mempunyai obat yang mujarab untuk mengatasinya yaitu dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi dan kaya akan antioksidan. Antioksidan sendiri mempunyai artiuntuk menghentikan /memutuskan reaksi berantai dari radikal bebas yang terdapat di dalam tubuh, sehingga dapat menyelamatkan sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.

Radikal bebas adalah sekelompok bahan kimia baik berupa atom maupun molekul yang memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan. Merupakan juga sekelompok bahan kimia dengan reaksi jangka pendek yang memiliki satu atau lebih elektron bebas. Senyawa antioksidan tersebut tersebar pada berbagai bagian tumbuhan seperti akar, batang, kulit, ranting, daun, bunga, buah, dan biji.

Antioksidan alami ini berfungsi sebagai reduktor, penekan oksigen singlet, pemerangkap radikal bebas, dan sebagai

(55)

pengkhelat logam. Secara kimiawi antioksidan alami yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan ini terutama berasal dari golongan senyawa turunan fenol seperti fl avonoid, turunan senyawa asam hidroksiamat, kumarin, tokoferol dan asam organik.

Aktivitas antioksidan dari berbagai tanaman misal bahwa sayur dan buah punya peran yang sangat banyak bagi kesehatan tubuh. Serat yang dimiliki oleh Sayur dan buah sangat bermanfaat untuk saluran pencernaan, menjaga kadar gula darah, menjaga kadar lemak darah dan juga membuat rasa kenyang.Sayur dan buah juga mengandung antioksidan yang sangat penting bagi kesehatan tubuh. Antioksidan sendiri sangat berperan dalam mencegah kerusakan sel akibat proses oksidasi yang merusak DNA, protein dan juga lemak.Proses oksidasi mampu menyebabkan penuaan dini, picu kanker dan juga penyakit jantung. Padahal proses oksidasi itu bisa disebabkan oleh asap rokok, polusi, bahkan juga metabolisme tubuh sendiri. ( dr,Fiastuti.,2012)

Sayur dan buah ternyata juga mencegah banyak penyakit seperti pencernaan, kencing manis, hiperkolesterol, obesitas dan juga penyakit degeneratif. Sayangnya di Indonesia, Masyarakat jarang mengkonsumsi Sayur dan buah, berdasarkan data dari Riskesdas 2007 penduduk di Indonesia yang berusia 10 tahun yang kurang makan sayur ada 93,6 persen yang berarti hanya 6,4 persen yang sudah cukupmakan sayur dan buah.

Sebenarya sudah banyak yang tahu manfaat dari sayur dan buah, kenyataannya banyak dari masyarakat Indonesia

(56)

yang tidak mengkonsumsinya. Mereka masih menganggap bahwa Sayur dan buah hanya sebagai pelengkap saja.

Padahal harusnya keduanya selalu ada di waktu makan.

Tahukah Anda bahwa ternyata mencari makanan kaya antioksidan tidaklah sulit, karena banyak makanan sumber antioksidan yang mudah ditemukan di sekitar kita?

Berikut ini ada 8 makanan yang ternyata merupakan sumber antioksidan yang baik bagi kesehatan Anda.

1. Pasta Gandum

Pada awalnya pasta gandum diyakini bisa mengurangi risiko kanker dan penyakit jantung koroner karena kandungan seratnya yang tinggi, namun setelah dilakukan penelitian lebih lanjut terbukti bahwa kandungan polifenol dalam pasta gandum tersebut yang paling berperan.

2. Popcorn

Penelitian mengungkap bahwa popcorn memiliki kandungan polifenol 4 kali lebih besar daripada pada buah-buahan. Ini menjadikan popcorn sebagai salah satu pilihan snack sehat Anda.

3. Telur

Telur kaya akan kandungan antioksidan yaitu lutein.

Lutein berfungsi melindungi mata dari katarak dan

(57)

mencegah kerusakan mata. Meski kandungan lutein pada telur jauh lebih kecil daripada pada bayam, tetapi lutein pada telur diserap tubuh 3 kali lebih efektif.

4. Kacang

Semua jenis kacang, memiliki kandungan polifenol antioksidan terutama senyawa asam p-coumaric. Zat ini secara langsung meningkatkan kadar antioksidan hingga 22%. Antioksidan di dalam kacang yang disangrai sama dengan antioksidan di dalam strawberry dan blueberry, bahkan melebihi apel, wortel, dan buah bit.

5. Yogurt

Satu cangkir yogurt memiliki kandungan ribofl avin tinggi dan mampu mencukupi kebutuhan ribofl avin harian Anda sebesar 25%. Meskipun bukan antioksidan, ribofl avin berperan dalam menunjang tugas antioksidan. Jika kekurangan ribofl avin maka, antioksidan tidak bisa menghancurkan radikal bebas secara utuh dalam tubuh kita.

6. Minyak canola

Minyak canola mengandung Alphatocopherol, yaitu antioksidan yang terdapat pada vitamin E. Di samping

(58)

itu minyak canola menjadi sumber lemak tak jenuh tunggal, alfa-linolenat, asam lemak Omega-3 yang bisa digunakan sebagai pengganti mentega untuk mengurangi kadar kolesterol LDL dan melindungi kesehatan jantung Anda.

7. Susu

Susu mengandung carotenoid, beta-karoten, dan lutein. Ada baiknya jika Anda memilih susu dengan kandungan lemak yang lebih rendah, untuk mengurangi asupan lemak jenuh dalam tubuh Anda.

8. Pemanis Alami

Selama ini mungkin Anda hanya menggunakan gula sebagai pemanis makanan. Gula memang bisa memberikan rasa manis, tapi juga memicu lonjakan gula darah dalam tubuh. Sebaliknya, pemanis alami seperti madu akan meningkatkan kadar antioksidan yang diproduksi dalam tubuh Anda.( Hermani dan Raharjo.,2005).

(59)

DAFTAR PUSTAKA

Ahmed, B. 2007. Chemistry of Natural Products. Steroids.

Department of Pharmaceutical Chemistry Faculty of Science Jamia Hamdard New Delhi-110062.P. 1-26.

Concepts of Dyslipidemia,Atherosclerosis, and Cardiovascular Disease. Journal of the American College of Cardiology . 46: 7: 1219–1224

Garcia-Calvo, M., Lisnock, J., Bull, H.G., Hawes, B.E.,

Dean, D.C., Detmers, P.A., Graziano, M.P., Hughes, M., Macintyre, D.E., Ogawa, A., O’neill, K.A., Iyer, S.P., Shevell, D.E., Smith, M.M., Tang, Y.S., Makarewicz, A.M., Ujjainwalla, F., Altmann, S.W., Chapman, K.T., Thornberry, N.A. 2005. The target of ezetimibe is Niemann-Pick C1-Like 1 (NPC1L1). Proc Natl Acad Sci USA, 102: 8132– 37.

Chilsom, G.M. and Steinberg,D.2001.The Oxidation Modifi cation Hypothesis of Atherosgenesis: an Overview,Free Radical. Biol Med.,28, 1815 -1826.

(60)

Chiou, C.C., Chang, P.Y., Chan, E.C., Wu.T.L., Tsao, K.C., and Wu, J.T. 2003., DNA Damage ELISA kit, for the detection and quantitation of 8-hydroxy-2-deoxyguanosine in urine, serum, and saliva samples, Clin. Chem. Acta.

334:87-94.

Depkes RI 2007. Survey Kesehatan Nasional; Survey Sosial Ekonomi Nasional 2004, Jakarta: Depkes RI

Atherosklerosis: the road a head. Cell, 104, 503- 516. Manual America.

Gatot,S.L.2005., Sindrom Metabolik Merupakan Manifestasi dari keadaan Infl amasi. Journal Medicin. 26(1). Universitas Hasanudin Mkasar

Goldberg, A.C.2008. Dyslipidemia ( Hyperlipidemia) The Merck.Manual America

Haug, H.M.2004.,Lipid in Rat Fed Fish Oil or Coconot Oil, Lipoprotein lipase, Lipoprotein, Lipopprotei Lipide tissue.,Journal Nutrition.

Halliwel.,2007.Biochemestry of Oxidative Stress, Journal Compillation Biochemical Society

Hermani dan Raharjo.2005.Tanaman Berkhasiat Antioksidan.

Jakarta: Penebar Swadaya

Kooter., 2004.Inventory of Biomarker for Oxidative Stress,RIVM report 630111001.

Khaleel, A.E., Gad, M.Z., El-Maraghy, S.A., Hifnawy, M.S. and

(61)

and Antiantherosclerotic Propertis of Menticago sativa L. Cultivated in Egypt. Journal of Food America Liu T.,Stren A.,Roberts L.J. 1999.The Isoprostanes:Novel

Prostaglangin-Like products of the free radical catalyzed peroxidation of Arachidonic acid.J Biomed Sci.,6 : 226 - 235.

Machlin,.L.J., 1991.Hand Book of Vitamin,2nd.The MC Graw Hill Companie; New York

Mc.Kenney.,J.M.2001.Pharmacotherapy of Dyslipidemia Cardiovase.Drugs Ther 15: 413-22

Murray Granner Mayes Roodwell.,2003.Harpers Biochemistr y.(Terjemahan) EGC., Jakarta.

Nishikawa,T.,Eiichi Araki,2010, Oxidative Stress:A cause and therapeutice target of diabetic complication,Journal of Diabetes Investigation Vol.1 Issue 3 June 2006,Depkes R.I.

Lee Sun-Ok, Simon A.L., Murphy P.A., and Hendrich S. 2005.

Soyasaponin Lowered Plasma cholesterol and increased Fecal bile Acids in Female Golden Syrian hamsters. Experimental Biology and Medicine, 230:472-478.

Leong LP dan Shui G.,2002. An Investigation of Antioxidant Capacity of Fruits in Singapore Markets. Food Chemistry,76: 69 -75.

Lipoeto NI.,2004. Kadar Asam Lemak Omega-3 dan konsumsi Produk Kelapa pada etnis Minangkabaudi Sumatera Barat.

(62)

Proceeding Konggres NasionalPDGMI, Bandung.

Quichi N., Khara S, Funahashi T., Nakamura T., Nishida M., Kumada M., etal 2003. Reciprocal Association of C- Reactive Protein with Adiponectin in Blood Stream and Adipose Tissue Circulation, 107 : 671-674

Rock Cl.,Jacob Ra.,Bowen,PE .,1996.Current Status of Antooxidant Therapy.Free Radical Biol Med; 15:77-96.

Shigeoka S.,ishikawa T.,Tamoi M, Miyagawa Y.,Takeda T, Yabuta Y.,2002,Regulation and Function of ascorbate Peroxidase isoenzymes. J. Exp Bot ; 53: 1305 -1319.

Winarsih.,2007. Antioksidan Alami dan Radikal Bebas, Cetakan ke1. Karnisius Jogjakarta

Syaifudin M, 2005. Indikator biokimia sel Terhadap Radiasi Pengion,Buletin Antara Volume6 No.3. Hal 34-44 Valavanidis, A, Vlachogianni, T, Flatokis, C.,2009.8-

hydroxy-2-deoxyguanosine (8-OhdG): Acritical Biomaker of Oxidative Stress and Carcinogenesis. Journal of Environmental Science and Health, Part C; 27(2): 120-39.

Telzer,J.(2007).Free Radical and Antioxidans in Nrmal Physiological function and Human disease. Int J. Biochem, Cell Bi.,39: 44-49

Ozenirler, S., Erkan, G., Gulbahar, O., Bortankolu, O., Ozbas- Demirel,O., Bilgihan, A, Akyol, G., 2011. Serum levels of advanced oxidation protein product, malonyldiadehyde,

(63)

and total radical trapping antioxidant parameter in patients with chronic hepatitis C.The Turkish Journal of Gastroenerology; 22(1): 47-53.

Shi Hl.,Noguchi N.mNiki.,1999. Comparative study on dynamics of antioxidative action of α- tocopheryl hydroquinone,ubiquinol againt lipid peroxidation.

Free Radical Biol Med 27: 334-346

Tokur,B.K, D.,2006. Comparison of two tiobarbituric Acid (TBA) Method for Mpnitoring lipid Peroxidation inFish. Fisheries and Aquatic Scie 23: 331 -334.

Taniyama,Y, and Griendling,k.K.2003.Reactive Oxygen Species in the Vasculature,Moleculer and CellularMechanisms.

Hypertensi,42: 1075 -1081.

(64)

BIODATA PENULIS

D

r. Ir. Sri Wahjuni, M. Kes dilahirkan di Surabaya pada Juni 1959, menempuh pendidikan sejak dari sekolah dasar (SD) sampai dengan Pascasarjana di Surabaya. Menyelesaikan pendidikan pada Fakultas Teknik Kimia UPN Surabaya (1985), dan Program Pascasarjana Universitas Airlangga (1999) Surabaya, dan Program Pascasarjana (Doktor) Universitas Udayana (2011). Sejak 1986, menjadi dosen pada jurusan Kimia FMIPA Univesritas Udayana sampai sekarang, sekretaris Laboratorium FMIPA Bersama Universitas Udayana (2012—

sekarang). Terlibat dan penelitian dan publikasi, antara lain 1) “Pengaruh Subsitusi Berbagai Kadar Minyak Ikan Lemuru dalam diet terhadap penurunan trigliserida tanpa maupun dengan Suplementasi vitamin-E pada Tikus”, dalam Review, Vol.1. No.1, Juni 1999; 2) “Kadar Laktosa pada beberapa Merek Susu yang beredar di Pasaran kota Badung” ( Denpasar). Review Kimia, Vol.1 No.2., Agustus.

(65)

2000; 3) Pemanfaatan arang aktif dari tempurung kelapa sebagai penghilang ketengikan pada Minyak Goreng Tradisional Review Kimia, Vol.3, No.2., Agustus 2001; 3)

“Kadar Protein Teri dengan Beberapa Kadar Penggaraman yang beredar di Kota Denpasar”. Review Kimia. Vol.2, No,2,.

Agustus 2002; 4) “ Kadar Glukosa pada Nasi yang dimasak di Magic Com. Selama periode penyimpanan 12 jam, 18 jam, 24 jam, dan 30 jam”. Review Kimia Vol.3 No. 1 April. 2003;

5) “Kadar Iod pada Minyak Goreng Bermerk dan Minyak Goreng Tradisional”, dalam Review Kimia; Vol.4, No.2 Agustus 2004; 6) “Kadar Lemak pada Mesis yang Bermerk dan Tak Bermerk”, dalam Review Kimia. Vol 5, No.1 April 2005; 7) “UridAcid Inhibition Activity of Annona Muricata L Leave Extract in Hyperuricemia induced Wistar Rat”., Advances inPure and Applied Chemistry Vol.2,No.1.ISSN 216-0854. 2012.

Juga menyajikan makalah di berbagai pertemuan ilmiah, antara lain “Pemanfaatan arang aktif dari tempurung kelapa sebagai Penghilang ketengikan pada Minyak Goreng Tradisional”; Dipresentasikan pada seminar Nasional Biokimia UI. 2008, dan “Ekstrak Bunga Wjaya Kusuma dapat menurunkan kadar Hiperkolesterolemia pada Tikus Wistar”, Seminar Nasional UNPAD, 4 Juli2012.

Gambar

Gambar 1.   Mekanisme Reaksi Pembentukkan

Referensi

Dokumen terkait

Radikal bebas dapat berasal dari luar tubuh (eksogen) maupun dari.. dalam tubuh manusia

Penyakit degeneratif disebabkan oleh antioksidan yang tersedia dalam tubuh tidak mampu untuk menetralisir peningkatan konsentrasi radikal bebas, sehingga diperlukan antioksidan

Asam askorbat merupakan sumber antioksidan yang sangat baik dalam tubuh yang secara alami melindungi tubuh dari serangan oksidatif akibat radikal bebas.. Selain

Antioksidan dapat diproduksi secara endogen atau eksogen untuk membantu menetralisir radikal bebas dalam tubuh (antioksidan eksogen yang berasal dari luar tubuh),

Curcuminoid juga mampu berkompetisi dengan ion-ion logam transisi bebas yang dapat bereaksi dengan radikal asam lemak agar tidak menyebabkan terputusnya rantai asam lemah

Pada kondisi hiperurisemia (tingginya kadar asam urat) akibat pemberian kalium oksonat, terjadi aktivasi enzim xantin oksidase sehingga menimbulkan peningkatan radikal bebas

Pada stress oksidatif radikal bebas oksigen yang terbentuk tentu berlebihan begitu juga dengan H2O2 yang terbentuk banyak, sehingga sistem proteksi tubuh seperti enzim

Dalam melindungi tubuh dari serangan radikal bebas, substansi antioksidan berfungsi untuk menstabilkan radikal bebas dengan melengkapi kekurangan elektron dari radikal bebas sehingga