• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESEHATAN ANAK

Dalam dokumen PROFIL KESEHATAN ACEH 2021 (Halaman 39-49)

KESEHATAN KELUARGA

B. KESEHATAN ANAK

1. Jumlah dan Angka Kematian Neonatal per-1.000 Kelahiran Hidup

Kematian neonatal adalah kematian yang terjadi pada bayi usia sampai dengan 28 hari

KESEHATAN KELUARGA

tetapi bukan disebabkan oleh kecelakaan, bencana, cedera atau bunuh diri. Angka Kematian Neonatal adalah kematian yang terjadi sebelum bayi berumur satu bulan atau 28 hari per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. Kematian neonatal umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir yang diperoleh dari masa konsepsi sampai dengan proses persalinan. Oleh karena itu program-program pelayanan antenatal perlu dioptimalkan, seperti program pemberian tablet Fe3 pada ibu hamil, pemberian imunisasi Td pada ibu hamil, dan eliminasi penularan HIV, Sifilis dan Hepatitis B dari ibu ke anak.

Jumlah kematian neonatal di provinsi Aceh tahun 2021 sebanyak 858 kasus atau 9 per 1000 kelahiran hidup, mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2020 dengan jumlah kasus sebanyak 792 kasus dengan angka kematian neonatal 8 per 1000 kelahiran hidup.

GAMBAR 6.12

JUMLAH KEMATIAN NEONATAL MENURUT KAB/KOTA TAHUN 2021

45 B. KESEHATAN ANAK

1. Jumlah dan Angka Kematian Neonatal per-1.000 Kelahiran Hidup Kematian neonatal adalah kematian yang terjadi pada bayi usia sampai dengan 28 hari tetapi bukan disebabkan oleh kecelakaan, bencana, cedera atau bunuh diri. Angka Kematian Neonatal adalah kematian yang terjadi sebelum bayi berumur satu bulan atau 28 hari per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. Kematian neonatal umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir yang diperoleh dari masa konsepsi sampai dengan proses persalinan.

Oleh karena itu program-program pelayanan antenatal perlu dioptimalkan, seperti program pemberian tablet Fe3 pada ibu hamil, pemberian imunisasi Td pada ibu hamil, dan eliminasi penularan HIV, Sifilis dan Hepatitis B dari ibu ke anak.

Jumlah kematian neonatal di provinsi Aceh pada tahun 2021 sebanyak 858 kasus atau 9 per 1.000 kelahiran hidup mengalami penurunan dari tahun 2020 dengan jumlah kasus 636 atau 12 per 1.000 kelahiran hidup.

Gambar 6.12 Jumlah Kematian Neonatal Menurut Kab/Kota Tahun 2021

27 13

61 33

84

44 47 51 95 89

53 20 14

41 38 17

47

18 13 6

28 16

3 0

10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

Kematian Neonatal

Gambar 6.12 terlihat bahwa jumlah kematian neonatal tertinggi ada diwilayah kerja kabupaten pidie sebanyak 95 kasus dan terendah kota subulussalam, perlu dilakukan upaya penceghan atau penurunan angka kematian neonatal melalui upaya promosi kesehatan kepada ibu hamil dan pasangan usia subur untuk lebih mempersiapkan kehamilannya sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan sejak awal.

2. Angka Kematian Bayi dan Balita per 1.000 Kelahiran Hidup

Kematian Bayi adalah kematian yang terjadi pada bayi usia 0-11 bulan (termasuk neonatal) tetapi bukan disebabkan oleh kecelakaan, bencana, cedera atau bunuh diri. Angka Kematian Bayi adalah angka yang menunjukkan banyaknya kematian bayi usia 0-11 bulan dari setiap 1000 kelahiran hidup pada tahun tertentu atau dapat dikatakan juga sebagai probabilitas bayi meninggal sebelum mencapai usia satu tahun (dinyatakan dengan per seribu kelahiran hidup).

Angka kematian bayi (AKB) merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan tingkat kesehatan masyarakat. AKB tidak hanya mencerminkan besarnya masalah kesehatan berkaitan dengan penyakit diare, ISPA, masalah gizi dan penyakit infeksi lainnya tetapi juga berhubungan dengan tingkat kesehatan ibu, gizi keluarga, tingkat pendidikan ibu, serta pendapatan dan sosial ekonomi keluarga.

GAMBAR 6.13

ANGKA KEMATIAN BAYI (AKB) PER 1000 KELAHIRAN HIDUP PROVINSI ACEH TAHUN 2017-2021

Gambar 6.12 terlihat bahwa jumlah kematian neonatal tertinggi ada diwilayah kerja kabupaten pidie sebanyak 95 kasus dan terendah kota subulussalam, perlu dilakukan upaya penceghan atau penurunan angka kematian neonatal melalui upaya promosi kesehatan kepada ibu hamil dan pasangan usia subur untuk lebih mempersiapkan kehamilannya sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan sejak awal.

2. Angka Kematian Bayi dan Balita per 1.000 Kelahiran Hidup

Kematian Bayi adalah kematian yang terjadi pada bayi usia 0-11 bulan (termasuk neonatal) tetapi bukan disebabkan oleh kecelakaan, bencana, cedera atau bunuh diri. Angka Kematian Bayi adalah angka yang menunjukkan banyaknya kematian bayi usia 0-11 bulan dari setiap 1000 kelahiran hidup pada tahun tertentu atau dapat dikatakan juga sebagai probabilitas bayi meninggal sebelum mencapai usia satu tahun (dinyatakan dengan per seribu kelahiran hidup).

Angka kematian bayi (AKB) merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan tingkat kesehatan masyarakat. AKB tidak hanya mencerminkan besarnya masalah kesehatan berkaitan dengan penyakit diare, ISPA, masalah gizi dan penyakit infeksi lainnya tetapi juga berhubungan dengan tingkat kesehatan ibu, gizi keluarga, tingkat pendidikan ibu, serta pendapatan dan sosial ekonomi keluarga.

Gambar 6.13 Angka Kematian Bayi (AKB) per 1000 Kelahiran Hidup Provinsi Aceh Tahun 2017-2021

9 9 9 9

11

0 2 4 6 8 10 12

2017 2018 2019 2020 2021

AKB

KESEHATAN KELUARGA

Profil kesehatan Aceh tahun 2021 31 Gambar 6.13 diatas terlihat bahwa angka kematian bayi tahun 2021 sebesar 11 per 1000 kelahiran hidup mengalami peningkatan dibandingkan empat tahun sebelumnya yaitu tahun 2017-2020 yang hanya sebesar 9 per 1000 kelahiran hidup. Kesehatan ibu waktu hamil sangat berperanan terhadap

besarnya angka kematian bayi. Gangguan perinatal adalah salah satu dari sekian faktor yang mempengaruhi kondisi kesehatan ibu selama hamil sedangkan gangguan pernafasan kemungkinan besar disebabkan reflek yang kurang baik dan berhubungan dengan perkembangan fungsi dan organ janin yang kurang sempurna, hal-hal tersebut juga berhubungan dengan kesehatan ibu selama hamil serta asfiksia pada penanganan proses persalinan.

Kematian Balita adalah kematian yang terjadi pada bayi/anak usia 0 - 59 bulan (bayi dan anak balita) tetapi bukan disebabkan oleh kecelakaan, bencana, cedera atau bunuh diri.

Angka kematian balita adalah angka yang menunjukkan banyaknya kematian balita (umur 0-5 tahun) dari setiap 1.000 kelahiran hidup. Angka kematian balita menggambarkan tingkat permasalahan anak balita pada pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) atau posyandu. Dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan anak balita seperti gizi, sanitasi, penyakit infeksi dan kecelakaan. Gambar 6.14 menunjukan perkembangan angka kematian balita di provinsi Aceh tahun 2021.

GAMBAR 6.14

ANGKA KEMATIAN BALITA (AKABA) PER 1000 KELAHIRAN HIDUP PROVINSI ACEH TAHUN 2017-2021

47

Gambar 6.13 diatas terlihat bahwa angka kematian bayi tahun 2021 sebesar 11 per 1000 kelahiran hidup mengalami peningkatan dibandingkan empat tahun sebelumnya yaitu tahun 2017-2020 yang hanya sebesar 9 per 1000 kelahiran hidup. Kesehatan ibu waktu hamil sangat berperanan terhadap besarnya angka kematian bayi. Gangguan perinatal adalah salah satu dari sekian faktor yang mempengaruhi kondisi kesehatan ibu selama hamil sedangkan gangguan pernafasan kemungkinan besar disebabkan reflek yang kurang baik dan berhubungan dengan perkembangan fungsi dan organ janin yang kurang sempurna, hal-hal tersebut juga berhubungan dengan kesehatan ibu selama hamil serta asfiksia pada penanganan proses persalinan.

Kematian Balita adalah kematian yang terjadi pada bayi/anak usia 0 - 59 bulan (bayi dan anak balita) tetapi bukan disebabkan oleh kecelakaan, bencana, cedera atau bunuh diri. Angka kematian balita adalah angka yang menunjukkan banyaknya kematian balita (umur 0-5 tahun) dari setiap 1.000 kelahiran hidup. Angka kematian balita menggambarkan tingkat permasalahan anak balita pada pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) atau posyandu. Dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan anak balita seperti gizi, sanitasi, penyakit infeksi dan kecelakaan. Gambar 6.14 menunjukan perkembangan angka kematian balita di provinsi Aceh tahun 2021.

Gambar 6.14 Angka Kematian Balita (AKABA) per 1000 Kelahiran Hidup Provinsi Aceh Tahun 2017-2021

10 10 10 11 12

0 2 4 6 8 10 12 14

2017 2018 2019 2020 2021

AKABA

Gambar 6.14 diatas terlihat bahwa perkembangan angka kematian anak balita periode tahun 2017-2021 cenderung mengalami kenaikan dimana 11 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2020 menjadi 12 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2021.

jumlah kematian neonatal tertinggi ada diwilayah kerja kabupaten pidie sebanyak 95 kasus dan terendah kota subulussalam, untuk itu perlu dilakukan penceghan atau penurunan angka kematian neonatal melalui promosi

kesehatan kepada ibu hamil dan pasangan usia subur

KESEHATAN KELUARGA

3. Penanganan Komplikasi Neonatal

Neonatus adalah bayi baru lahir sampai dengan usia 28 hari. Pada masa tersebut terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan di dalam rahim dan terjadi pematangan organ hampir pada semua sistem. Bayi hingga usia kurang satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi dan berbagai masalah kesehatan bisa muncul. Sehingga tanpa penanganan yang tepat, bisa berakibat fatal.

Beberapa upaya kesehatan dilakukan untuk mengendalikan risiko pada kelompok ini di antaranya dengan mengupayakan agar persalinan dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan serta menjamin tersedianya pelayanan kesehatan sesuai standar pada kunjungan bayi baru. Jenis - jenis komplikasi neonatal yaitu asfiksia, tetanus neonatorum, sepsis, trauma lahir, BBLR, sindrom gangguan pernafasan dan kelainan neonatal. Penanganan neonatus dengan komplikasi dapat dilakukan oleh perawat, bidan dan dokter baik yang berada di polides, puskemas pembantu, puskemas dan rumah sakit.

GAMBAR 6.15

TREN CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI KEBIDANAN PROVINSI ACEH TAHUN 2017-2021

48

Gambar 6.14 diatas terlihat bahwa perkembangan angka kematian anak balita periode tahun 2017-2021 cenderung mengalami kenaikan dimana 11 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2020 menjadi 12 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2021.

3. Penanganan Komplikasi Neonatal

Neonatus adalah bayi baru lahir sampai dengan usia 28 hari. Pada masa tersebut terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan di dalam rahim dan terjadi pematangan organ hampir pada semua sistem.

Bayi hingga usia kurang satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi dan berbagai masalah kesehatan bisa muncul. Sehingga tanpa penanganan yang tepat, bisa berakibat fatal.

Beberapa upaya kesehatan dilakukan untuk mengendalikan risiko pada kelompok ini di antaranya dengan mengupayakan agar persalinan dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan serta menjamin tersedianya pelayanan kesehatan sesuai standar pada kunjungan bayi baru. Jenis - jenis komplikasi neonatal yaitu asfiksia, tetanus neonatorum, sepsis, trauma lahir, BBLR, sindrom gangguan pernafasan dan kelainan neonatal. Penanganan neonatus dengan komplikasi dapat dilakukan oleh perawat, bidan dan dokter baik yang berada di polides, puskemas pembantu, puskemas dan rumah sakit.

Gambar 6.15 Tren Cakupan Penanganan Komplikasi Kebidanan Provinsi Aceh Tahun 2017-2021

73 71 73

80 82

65 70 75 80 85

2017 2018 2019 2020 2021

Cakupan

Gambar 6.15 diatas terlihat perkembangan cakupan penanganan komplikasi kebidanan periode lima tahun terakhir (2017-2021), dimana cakupan pada tahun 2021 sebesar 82%, mengalami peningkatan dibandingkan empat tahun sebelumnya namun masih dibawah target sebesar 100%, kemungkinan salah satu penyebabnya adalah penetapan data sasaran yang terlalu tinggi dibandingkan dengan data riil di lapangan.

4. Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR)

Menurut WHO, bayi berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram. Penyebab BBLR ini dipengaruhi oleh bebrapa faktor antara lain faktor ibu dan faktor janin. Faktor ibu meliputi berat badan sebelum hamil rendah, penambahan berat badan yang tidak adekuat selama kehamilan, malnutrisi, riwayat kehamilan dengan berat badan lahir rendah, tinggi badan yang kurang, paritas yang tinggi, anemia, infeksi pada ibu selama kehamilan, sosial ekonomi rendah dan stres maternal. Faktor janin dan plasenta yang dapat menyebabkan BBLR antara lain kehamilan ganda, hidroamnion

KESEHATAN KELUARGA

Profil kesehatan Aceh tahun 2021 33 dan cacat bawaan. Status pelayanan antenatal (frekuensi dan kualitas pelayanan antenatal, tenaga kesehatan tempat periksa hamil dan umur saat pertama kali pemeriksaan kehamilan) juga dapat berisiko melahirkan BBLR.

GAMBAR 6.17

PERSENTASE BERAT BADAN BAYI LAHIR RENDAH (BBLR) PROVINSI ACEH TAHUN 2021

49

Gambar 6.15 diatas terlihat perkembangan cakupan penanganan komplikasi kebidanan periode lima tahun terakhir (2017-2021), dimana cakupan pada tahun 2021 sebesar 82%, mengalami peningkatan dibandingkan empat tahun sebelumnya namun masih dibawah target sebesar 100%, kemungkinan salah satu penyebabnya adalah penetapan data sasaran yang terlalu tinggi dibandingkan dengan data riil di lapangan.

4. Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR)

Menurut WHO, bayi berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram. Penyebab BBLR ini dipengaruhi oleh bebrapa faktor antara lain faktor ibu dan faktor janin.

Faktor ibu meliputi berat badan sebelum hamil rendah, penambahan berat badan yang tidak adekuat selama kehamilan, malnutrisi, riwayat kehamilan dengan berat badan lahir rendah, tinggi badan yang kurang, paritas yang tinggi, anemia, infeksi pada ibu selama kehamilan, sosial ekonomi rendah dan stres maternal. Faktor janin dan plasenta yang dapat menyebabkan BBLR antara lain kehamilan ganda, hidroamnion dan cacat bawaan. Status pelayanan antenatal (frekuensi dan kualitas pelayanan antenatal, tenaga kesehatan tempat periksa hamil dan umur saat pertama kali pemeriksaan kehamilan) juga dapat berisiko melahirkan BBLR.

Gambar 6.17 Persentase Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR) Provinsi Aceh Tahun 2021

11

1 4

0 2 2 3 2 3 3 1 2

1 3 2

6

2 2 1 5

2 1 1 02

4 68 1012

% BBLR

` ambar 6.17 diatas terlihat kabupaten dengan berat badan lahir rendah tertinggi adalah kabupaten Simeulue sebesar 11% dan terendah Kabupaten Aceh Tenggara. Tingginya BBLR di beberapa Kabupaten/ Kota berbanding lurus dengan rendahnya cakupan K1 dan K4, dimana apabila ibu hamil memeriksakan kehamilannya secara teratur, kejadian BBLR dapat dicegah dengan pemeriksaan antenatal yang adekuat.

5. Cakupan Kunjungan Neonatal 1 (KN1) dan KN Lengkap

Bayi sampai umur 28 hari merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal tiga kali, yaitu pada 6 jam – 48 jam setelah lahir;

pada hari ke 3-7 hari, dan hari ke 8 – 28 hari.

Dalam melaksanakan pelayanan neonatal, petugas kesehatan di samping melaksanakan pemeriksaan kesehatan bayi juga melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu. Pelayanan tersebut meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar (tindakan resusitasi, pencegahan hipotermia, pemberian ASI dini dan eksklusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, kulit dan pemberian imunisasi); pemberian vitamin K; manajemen terpadu balita muda (MTBM); dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah menggunakan buku KIA.

GAMBAR 6.18

TREN CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL 3 KALI (KN LENGKAP) PROVINSI ACEH TAHUN 2017-2021

50

Gambar 6.17 diatas terlihat kabupaten dengan berat badan lahir rendah tertinggi adalah kabupaten Simeulue sebesar 11% dan terendah Kabupaten Aceh Tenggara. Tingginya BBLR di beberapa Kabupaten/ Kota berbanding lurus dengan rendahnya cakupan K1 dan K4, dimana apabila ibu hamil memeriksakan kehamilannya secara teratur, kejadian BBLR dapat dicegah dengan pemeriksaan antenatal yang adekuat.

5. Cakupan Kunjungan Neonatal 1 (KN1) dan KN Lengkap

Bayi sampai umur 28 hari merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal tiga kali, yaitu pada 6 jam – 48 jam setelah lahir; pada hari ke 3-7 hari, dan hari ke 8 – 28 hari.

Dalam melaksanakan pelayanan neonatal, petugas kesehatan di samping melaksanakan pemeriksaan kesehatan bayi juga melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu. Pelayanan tersebut meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar (tindakan resusitasi, pencegahan hipotermia, pemberian ASI dini dan eksklusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, kulit dan pemberian imunisasi); pemberian vitamin K; manajemen terpadu balita muda (MTBM); dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah menggunakan buku KIA.

Gambar 6.18 Tren Cakupan Kunjungan Neonatal 3 Kali (KN Lengkap) Provinsi Aceh Tahun 2017-2021

86 86

94

82

95

75 80 85 90 95 100

2017 2018 2019 2020 2021

KN Lengkap

KESEHATAN KELUARGA

Gambar 6.18 diatas terlihat selama periode 5 tahun (2017-2021) terlihat cakupan kunjungan neonatal lengkap di provinsi Aceh megalami fluktuasi dimana cakupan terendah 82% di tahun 2020 dan tertinggi pada tahun 2021 sebesar 95% mengalami peningkatan dibandingkan 4 tahun sebelumnya. Cakupan Kunjungan Neonatus dipengaruhi oleh persalinan nakes, semakin rendah persalinan nakes maka kemungkinan kunjungan neonatus juga rendah.

Selain itu cakupan yang rendah dikarenakan kunjungan neonatus yang tidak sesuai standar yaitu minimal tiga kali kunjungan.

6. Cakupan Bayi Diberi ASI Eksklusif

Bayi diberi makanan yang baik dan benar adalah menyusui secara eksklusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan dan meneruskan menyusui anak sampai umur 24 bulan. Mulai umur 6 bulan, bayi mendapatkan makanan pendamping ASI yang bergizi sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya. Menyusui secara eksklusif menurut WHO adalah tidak memberikan bayi makanan dan minuman lain, termasuk air putih, selain menyusui (kecuali obat-obatan, vitamin atau mineral tetes dan ASI perah). WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif sampai bayi berumur 6 bulan, dan pemberian ASI dilanjutkan sampai anak berumur 2 tahun.

GAMBAR 6.19

CAKUPAN ASI EKSLUSIF MENURUT KAB/KOTA TAHUN 2021

51

Gambar 6.18 diatas terlihat selama periode 5 tahun (2017-2021) terlihat cakupan kunjungan neonatal lengkap di provinsi Aceh megalami fluktuasi dimana cakupan terendah 82% di tahun 2020 dan tertinggi pada tahun 2021 sebesar 95% mengalami peningkatan dibandingkan 4 tahun sebelumnya. Cakupan Kunjungan Neonatus dipengaruhi oleh persalinan nakes, semakin rendah persalinan nakes maka kemungkinan kunjungan neonatus juga rendah. Selain itu cakupan yang rendah dikarenakan kunjungan neonatus yang tidak sesuai standar yaitu minimal tiga kali kunjungan.

6. Cakupan Bayi Diberi ASI Eksklusif

Bayi diberi makanan yang baik dan benar adalah menyusui secara eksklusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan dan meneruskan menyusui anak sampai umur 24 bulan. Mulai umur 6 bulan, bayi mendapatkan makanan pendamping ASI yang bergizi sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya. Menyusui secara eksklusif menurut WHO adalah tidak memberikan bayi makanan dan minuman lain, termasuk air putih, selain menyusui (kecuali obat-obatan, vitamin atau mineral tetes dan ASI perah). WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif sampai bayi berumur 6 bulan, dan pemberian ASI dilanjutkan sampai anak berumur 2 tahun.

Gambar 6.19 Cakupan ASI Ekslusif Menurut Kab/Kota Tahun 2021

39 65 65

45

71 74 68

49 46 43 33

68 67 60

72 79 63

34 63 62

84

51 72

0 10 2030 40 50 6070 80 90

Cakupan

Gambar 6.19 cakupan ASI ekslusif menurut kab/kota tahun 2021 terlihat bahwa kota langsa dengan cakupan tertinggi yaitu sebesar 84% dan terendah adalah kabupaten Aceh utara hanya sebesar 33%. Faktor yang menyebabkan rendahnya capaian ASI eksklusif diantaranya adalah masih rendahnya pengetahuan orang tua dan keluarga tentang pentingnya pemberian ASI ekslusif pada bayi sampai dengan usia 6 bulan, kurangnya dukungan dari keluarga, kesibukan para ibu menyusui di luar rumah dan rendahnya pengetahuan tentang ASI perah.

7. Pelayanan Kesehatan Bayi

Pelayanan kesehatan bayi adalah pelayanan kesehatan sesuai standar oleh tenaga kesehatan (dokter, bidan dan perawat) minimal 4 kali dalam setahun, yaitu satu kali pada umur 29 hari – 3 bulan, 1 kali pada umur 3-6 bulan, 1 kali pada umur 6-9 bulan dan 1 kali pada umur 9-11 bulan. Pelayanan kesehatan yang diberikan meliputi imunisasi dasar (BCG, DPT /

HB1-KESEHATAN KELUARGA

Profil kesehatan Aceh tahun 2021 35 3, Polio 1-4 dan campak), stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK) bayi dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi. Indikator ini merupakan penilaian terhadap upaya peningkatan akses bayi memperoleh pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin adanya kelainan atau penyakit, pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit serta peningkatan kualitas hidup bayi.

GAMBAR 6.20

TREN CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI PROVINSI ACEH TAHUN 2017-2021

52

Gambar 6.19 cakupan ASI ekslusif menurut kab/kota tahun 2021 terlihat bahwa kota langsa dengan cakupan tertinggi yaitu sebesar 84%

dan terendah adalah kabupaten Aceh utara hanya sebesar 33%. Faktor yang menyebabkan rendahnya capaian ASI eksklusif diantaranya adalah masih rendahnya pengetahuan orang tua dan keluarga tentang pentingnya pemberian ASI ekslusif pada bayi sampai dengan usia 6 bulan, kurangnya dukungan dari keluarga, kesibukan para ibu menyusui di luar rumah dan rendahnya pengetahuan tentang ASI perah.

7. Pelayanan Kesehatan Bayi

Pelayanan kesehatan bayi adalah pelayanan kesehatan sesuai standar oleh tenaga kesehatan (dokter, bidan dan perawat) minimal 4 kali dalam setahun, yaitu satu kali pada umur 29 hari – 3 bulan, 1 kali pada umur 3-6 bulan, 1 kali pada umur 6-9 bulan dan 1 kali pada umur 9-11 bulan. Pelayanan kesehatan yang diberikan meliputi imunisasi dasar (BCG, DPT / HB1-3, Polio 1-4 dan campak), stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK) bayi dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi. Indikator ini merupakan penilaian terhadap upaya peningkatan akses bayi memperoleh pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin adanya kelainan atau penyakit, pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit serta peningkatan kualitas hidup bayi.

Gambar 6.20 Tren Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi Provinsi Aceh Tahun 2017-2021

84 85 82

75

49

0 20 40 60 80 100

2017 2018 2019 2020 2021

Cakupan

Gambar 6.20 diatas terlihat bahwa perkembangan cakupan pelayanan kesehatan bayi dalam periode 3 tahun (2019-2021) di provinsi Aceh mengalami mengalami penurunan yang signifikan, salah satu factor penyebabnya adalah rendahnya kesadaran masyarakat dalam memeriksakan kesehatan bayinya minimal empat kali dalam setahun sehingga perlunya peningkatan pemberdayaan masyarakat.

8. Desa/ Kelurahan UCI

Desa/kelurahan UCI (Universal Child Immunization) adalah desa/kelurahan dimana  80%

dari jumlah bayi yang ada di desa tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap dalam waktu satu tahun.

GAMBAR 6.21

CAKUPAN DESA/KELUARAHAN UCI MENURUT KAB/KOTZ TAHUN 2021

53

Gambar 6.20 diatas terlihat bahwa perkembangan cakupan pelayanan kesehatan bayi dalam periode 3 tahun (2019-2021) di provinsi Aceh mengalami mengalami penurunan yang signifikan, salah satu factor penyebabnya adalah rendahnya kesadaran masyarakat dalam memeriksakan kesehatan bayinya minimal empat kali dalam setahun sehingga perlunya peningkatan pemberdayaan masyarakat.

8. Desa/ Kelurahan UCI

Desa/kelurahan UCI (Universal Child Immunization) adalah desa/kelurahan dimana  80% dari jumlah bayi yang ada di desa tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap dalam waktu satu tahun.

Gambar 6.21 Cakupan Desa/Keluarahan UCI Menurut Kab/Kota Tahun 2021

Gambar 6.21 diatas terlihat bahwa dari data yang dilaporkan kota sabang memiliki cakupan desa UCI yang paling rendah dan yang tertinggi ada di kabupaten Aceh Tengah mencapai 94%, namun sebagian besar kabupaten dengan cakupan desa UCI dibawah 80%.

54 59 46

66

8 94

21 27 5

22 46 42

68 71

41 17

56

12 24

0 83

18 45

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

Cakupan

Gambar 6.21 diatas terlihat bahwa dari data yang dilaporkan kota sabang memiliki cakupan desa UCI yang paling rendah dan yang tertinggi ada di kabupaten Aceh Tengah mencapai 94%, namun sebagian besar kabupaten dengan cakupan desa UCI dibawah 80%.

KESEHATAN KELUARGA

9. Imunisasi Campak/ MR pada Bayi

Campak adalah penyebab utama kematian pada balita. Oleh karena itu pencegahan campak merupakan faktor penting dalam mengurangi angka kematian balita. Indonesia berkomitmen untuk mencapai eliminasi penyakit campak (measles) dan pengendalian penyakit Rubella (Congenital Rubella Syndrome) pada tahun 2021. Dimana penyakit ini dapat dicegah dengan vaksin Measles Rubella (MR). Imunisasi dengan vaksin MR diberikan pada anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun selama masa kampanye. Imunisasi MR masuk ke dalam jadwal imunisasi rutin segera setelah masa kampanye berakhir, diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan dan anak kelas 1 SD/sederajat tanpa dipungut biaya.

Untuk dapat memutuskan mata rantai penularan penyakit campak dan rubella maka diperlukan cakupan imunisasi minimal 95%. Dengan cakupan imunisasi MR yang tinggi pada sasaran usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun ini juga dapat melindungi kelompok usia yang lebih besar termasuk ibu hamil agar tidak tertular virus Rubella, karena sekitar 80% sirkulasi virus campak dan rubella terjadi pada usia tersebut.

GAMBAR 6.22

CAKUPAN IMUNISASI CAMPAK/ MR PADA BAYI

54

9. Imunisasi Campak/ MR pada Bayi

Campak adalah penyebab utama kematian pada balita. Oleh karena itu pencegahan campak merupakan faktor penting dalam mengurangi angka kematian balita. Indonesia berkomitmen untuk mencapai eliminasi penyakit campak (measles) dan pengendalian penyakit Rubella (Congenital Rubella Syndrome) pada tahun 2021. Dimana penyakit ini dapat dicegah dengan vaksin Measles Rubella (MR). Imunisasi dengan vaksin MR diberikan pada anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun selama masa kampanye. Imunisasi MR masuk ke dalam jadwal imunisasi rutin segera setelah masa kampanye berakhir, diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan dan anak kelas 1 SD/sederajat tanpa dipungut biaya.

Untuk dapat memutuskan mata rantai penularan penyakit campak dan rubella maka diperlukan cakupan imunisasi minimal 95%. Dengan cakupan imunisasi MR yang tinggi pada sasaran usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun ini juga dapat melindungi kelompok usia yang lebih besar termasuk ibu hamil agar tidak tertular virus Rubella, karena sekitar 80% sirkulasi virus campak dan rubella terjadi pada usia tersebut.

Gambar 6.22 Cakupan Imunisasi Campak/ MR Pada Bayi

69

45 55

66

35 61

30 32

5 20

34 48

38 66

46

8 7 11 46

31

6 55 63

0 10 20 30 40 50 60 70 80

Cakupan

Gambar 6.22 diatas terlihat bahwa Kabupaten dengan cakupan imunisasi campak/ MR pada bayi tertinggi adalah kabupaten simeulue sebesar 69% dan terendah kabupaten pidie.

10. Pemberian Vitamin A Pada Bayi Dan Anak Balita

Sasaran pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi adalah bayi (umur 6-11 bulan) diberikan kapsul vitamin A 100.000 SI, anak balita (umur 1-4 tahun) diberikan kapsul vitamin A 200.000 SI, dan ibu nifas diberikan kapsul vitamin A 200.000 SI, sehingga bayinya akan memperoleh vitamin A yang cukup melalui ASI. Pada bayi (6- 11 bulan) diberikan setahun sekali pada bulan Februari atau Agustus; dan anak balita enam bulan sekali, yang diberikan secara serentak pada bulan Februari dan Agustus. Sedangkan pemberian kapsul vitamin A pada ibu nifas diharapkan dapat dilakukan terintegrasi dengan pelayanan kesehatan ibu nifas atau dapat pula diberikan di luar pelayanan tersebut selama ibu nifas belum mendapatkan kapsul vitamin A.

KESEHATAN KELUARGA

Dalam dokumen PROFIL KESEHATAN ACEH 2021 (Halaman 39-49)