Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Lukman Hilfi
Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung
A.
A. Kesehatan dan Keselamatan Kerja sektor Industri formal dan Informal (K3)Kesehatan dan Keselamatan Kerja sektor Industri formal dan Informal (K3) 1.
1. PendahuluanPendahuluan
Tenaga Kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.Kesehatan Kerja Menurut WHO/ILO (1995), Kesehatan Kerja bertujuan untuk peningkatan dan pemeliharaan derajat kesehatan fisik, mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jenis pekerjaan, pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan; perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari risiko akibat faktor yang merugikan kesehatan; dan penempatan serta pemeliharaan
pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya. Secara ringkas merupakan penyesuaian pekerjaan kepada manusia dan setiap manusia kepada pekerjaan atau jabatannya.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) juga merupakan salah satu bagian dari
kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan semua pekerjaan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan pekerja.Bahaya pekerjaan yang diakibatkan oleh kerja dapat bersifat akut atau kronis serta mempunyai efek yang membutuhkan waktu cepat atau lama, langsung maupun tidak langsung.
Menurut ILO, setiap tahun ada lebih dari 250 juta kecelakaan di tempat kerja dan lebih dari 160 juta pekerja menjadi sakit karena bahaya di tempat kerja. Data lain menunjukkan 1,2 juta pekerja meninggal akibat kecelakaan dan sakit di tempat kerja. Diperkirakan kerugian tahunan akibat kecelakaan kerja dan penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan di beberapa negara dapat mencapai 4 persen dari produk nasional bruto (PNB).
Kesehatan masyarakat kerja harus menjadi perhatian karena dapat menurunkan tingkat produktifitas.Sasaran kesehatan kerja yaitu mencakup para pekerja dan peralatan kerja di lingkungan
kerja.Penyakit akibat dampak pencemaran lingkungan maupun akibat aktivitas dan produk yang dihasilkan dari suatu industri terhadap masyarakat konsumen atau masyarakat luas dapat dicegah melalui upaya kesehatan pencegahan di lingkungan kerja masing-masing. Salah satu bentuk upaya kesehatan kerja yaitu
dengan adanya Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3), yaitu bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.
2.
2. Tujuan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)Tujuan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Tujuan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yaitu:
1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pekerja di semua lapangan pekerjaan ketingkat yang setinggi-tingginya, baik fisik, mental maupun kesehatan sosial.
2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan masyarakat pekerja yang diakibatkan oleh tindakan/kondisi lingkungan kerjanya.
3. Memberikan perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaanya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan olek faktor-faktor yang membahayakan kesehatan.
Tujuan Penerapan SMK3 yaitu:
1. Meningkatkan Efektifitas Perlindungan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Yang Terencana, Terukur, Terstruktur, Dan Terintegrasi;
2. Mencegah Dan Mengurangi Kecelakaan Kerja Dan Penyakit Akibat Kerja Dengan Melibatkan Unsur Manajemen, Pekerja/Buruh, Dan/Atau Serikat Pekerja/Serikat Buruh;
3. Menciptakan Tempat Kerja Yang Aman, Nyaman, Dan Efisien Untuk Mendorong Produktivitas. 4. Menempatkan Dan Memelihara Pekerja Di Suatu Lingkungan Pekerjaan Yang Sesuai Dengan
Kemampuan Fisik Dan Psikis Pekerjanya.
Kesehatan kerja mempengaruhi manusia dalam hubunganya dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya, baik secara fisik maupun psikis yang meliputi metode bekerja, kondisi kerja dan lingkungan kerja yang berpotensi menyebabkan kecelakaan, penyakit ataupun perubahan dari status kesehatan pekerja. Secara umum, ilmu kesehatan kerja mempelajari dinamika, akibat dan permasalahan yang diakibatkan oleh hubungan interaktif antara tiga komponen utama berikut:
1. Kapasitas kerja: Status kesehatan kerja, gizi kerja, dan lain-lain. 2. Beban kerja: fisik maupun mental.
3. Beban tambahan yang berasal dari lingkungan kerja antara lain:bising, panas, debu, parasit, dan lain-lain.
Bila ketiga komponen tersebut sesuai dengan standar maka status kesehatan kerja yang optimal dapat tercapai sehingga mengurangi dan atau menghilangkan terjadinya kecelakaan kerja di dalam area kerja.
3.
3. Hirarki pengendalian Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)Hirarki pengendalian Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Hirarki pengendalian merupakan dasar-dasar yang wajib diketahui oleh seorang petugas keselamatan ataupun orang-orang yang bertanggung jawab terhadap keselamatan pekerja di lingkungan kerja. Adapun hierarki pengendalian kesehatan dan keselamatan kerja (K3) yaitu sebagai berikut
1. Eliminasi (menghilangkan) adalah langkah pengendalian kecelakaan dengan cara menghilangkan sumber bahaya.
2. Subtitusi (mengganti) adalah langkah kedua yang dapat di ambil apabila langkah pertama menemui jalan buntu atau tidak dapat dilakukan. Subtitusi yaitu mengganti cara, peralatan, material, bahan dan
lain-lain dari suatu sumber bahaya dengan yang lebih aman.
3. Engineering (rekayasa) adalah melakukan suatu modifikasi atau rekayasa untuk menghilangkan atau menurunkan tingkat bahaya dan resiko dari satu sumber bahaya.
4. Administratif dalah langkah lanjutan yang merupakan pendukung langkah-langkah lainnya dalam hirarki pengawasan ini. Adapun contohnya yaitu sebagai berikut:
1. Standar Operasional Prosedur 2. Pemeliharaan Peralatan 3. Pengawasan Tempat kerja 4. Pelatihan
5. rambu, tanda bahaya 6. izin kerja
5. Alat Pelindung diri (APD) adalah langkah terakhir yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau mencegah sumber bahaya mencederai pekerja.
4.
4. Pelayanan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)Pelayanan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Pelayanan kesehatan yang dapat meningkatkan status kesehatan dan bagian dari kesehatan dan keselamatan kerja yaitu meliputi sebagai berikut:
1. Pelayanan preventif
Pelayanan ini diberikan guna mencegah terjadinya penyakit akibat kerja, penyakit menular dilingkungan kerja, meningkatkan kondisi pekerja dan mesin atau tempat kerja yang ergonomis, menjaga kondisi fisik maupun lingkungan kerja yang memadai dan tidak menyebabkan sakit atau mebahayakan pekerja. Kegiatan yang dapat dilakukan sebagai pelayanan preventif antara lain meliputi:
a. Pemeriksaan kesehatan yang terdiri atas:
• Pemeriksaan awal/sebelum kerja (Screening). • Pemeriksaan berkala.
• Pemeriksaan khusus. b. Pemberian vaksin untuk pekerja.
c. Pemeliharaan Kesehatan lingkungan kerja.
d. Menggunakan pelindung diri terhadap bahaya dari pekerjaan. e. Penyerasian manusia dengan mesin dan alat kerja.
f. Pengendalian bahaya lingkungan kerja agar ada dalam kondisi aman (pengenalan, pengukuran dan evaluasi).
2. Pelayanan promotif
Pelayanan promotif pada pekerja bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan keadaan fisik dan mental pekerja sehingga dapat meningkatkan etos kerja, efisiensi dan daya produktifitas pekerja. Kegiatan pelayanan promotif antara lain sebagai berikut:
a. Penyuluhan tentang kesehatan kerja dan lingkungan kerja. b. Perbaikan status gizi pekerja.
c. Konsultasi kesehatan dan psikologi. d. Olah raga, outbond atau gathering. 3. Pelayanan kuratif
Pelayanan kuratif merupakan pelayanan pengobatan terhadap tenaga kerja yang menderita sakit akibat kerja dan pengobatan untuk mencegah penularan penyakit di lingkungan kerja.Pelayanan ini diberikan kepada tenaga kerja yang sudah menunjukkan adanya gangguan kesehatan sehingga dapat mencegah komplikasi atau penularan.Kegiatan pelayanan kuratif diantaranya yaitu pengobatan terhadap penyakit umum dan pengobatan terhadap penyakit dan kecelakaan akibat
kerja.
4. Pelayanan rehabilitatif.
Pelayanan ini diberikan kepada pekerja karena penyakit parah atau kecelakaan parah yang telah mengakibatkan cacat, sehingga menyebabkan ketidakmampuan bekerja secara permanen, baik sebagian atau seluruh kemampuan bekerja yang baisanya mampu dilakukan sehari-hari. Kegiatannya antara lain meliputi:
a. Peningkatan program inklusi pada kecacatan akibat kerja.
b. Penempatan kembali tenaga kerja yang cacat sesuai keadaan dan kemampuan tenaga kerja. c. Rehabilitasi berbasis masyarakat.
5.
5. Bahaya di Lingkungan KerjaBahaya di Lingkungan Kerja
Beberapa bahaya di lingkungan kerja yaitu sebagai berikut: 1. Physical agent
Seperti : radiasi, debu, getaran, suara bising, suhu, pencahayaan, kelembaban 2. Biological agent
Mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, dan lain-lain) 3. Chemical agent
a. Ceramic: Feldspar (K 2OAl2O3.6SiO2), Silica (SiO2), Alumina (Al2O3). b. Acrylic(polimer dan monomer): Methyl metacrylate.
c. Gypsum: Kalsium sulfat hemihidrat (CaSO4)2H2O.
d. Logam: NiCr, CoCr, Orden (CuAl), Silver alloy, Paladium (Pd), Titanium (TiAlV), Berilium (Be), Platinum (Pt), Cuprum (Cu), Argentum (Ag), dan lain-lain.
e. Bahan abrasive: Al2O3 (alumina Oksida), Kapur/calcium carbonat (CaCO2), Silica dari alumina, Besi, cobalt, magnesim, dan lain-lain.
f. Cairan electrolit (H2SO4). g. Asap dari burn out manual. 4. Ergonomy
Ergonomi merupakan perpaduan ilmu-ilmu biologis, ilmu-ilmu teknik dan teknologi untuk mencapai penyesuaian satu sama lain secara optimal dari menusia terhadap pekerjaannya, yang manfaat dari padanya diukur dengan efisiensi dan kesejahteraan kerja. Ergonomi juga memperhatikan tentang perencanaan cara bekerja yang lebih baik meliputi tata kerja dan peralatannya.ergonomi di tempat kerja diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, produksitifitas
dan mengurangi beban kerja. 5. Psycological agent.
Tugas dan tanggung jawab pekerjaan, jabatan, beban kerja, keterampilan, dan lain-lainnya yang dapat meningkatkan stress psikologis.
Tabel 1. Kategori
Tabel 1. Kategori Potensi BahayaPotensi Bahaya KATEGORI
KATEGORI A A KATEGORI KATEGORI B B KATEGORI KATEGORI C C KATEGORI KATEGORI DD
Potensi bahaya yang menimbulkan risiko dampak jangka panjang pada kesehatan
Potensi bahaya yang menimbulkan risiko langsung pada keselamatan Risiko terhadap kesejahteraan atau kesehatan sehari-hari
Potensi bahaya yang menimbulkan risiko pribadi dan psikologis 1. Bahaya factor kimia
(debu, uap logam, uap)
2. Bahaya faktor biologi (penyakit dan gangguan oleh virus, bakteri, binatang dsb.) 3. Bahaya faktor fisik(bising, penerangan,
getaran, iklim kerja, jatuh) 1. Kebakaran 2. Listrik 3. Potensi bahaya Mekanikal (tidak 1. Air Minum 2. Toilet dan fasilitas
mencuci 3. Ruang makan atau
Kantin 1. Pelecehan, termasuk intimidasi dan pelecehan seksual 2. Terinfeksi HIV/AIDS 3. Kekerasan di tempat kerja
4. Cara bekerja dan bahaya factor
ergonomis (posisi bangku kerja, pekerjaan
berulang-ulang, jam kerja yang lama) 5. Potensi bahaya lingkungan yang disebabkan oleh polusi pada perusahaan di masyarakat adanya pelindung mesin) 4. Housekeeping (perawatan buruk pada peralatan) 4. P3K di tempat kerja 5. Transportasi 4. Stress 5. Narkoba di tempat kerja 6.
6. Alat Pelindung Diri (APD)Alat Pelindung Diri (APD)
Menurut hirarki upaya pengendalian diri (kontroling), alat pelindung diri sesungguhnya merupakan hirarki terakhir dalam melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja dari potensi bahaya yang kemungkinan terjadi pada saat melakukan pekerjaan, setelah pengendalian teknik dan administratif tidak mungkin lagi diterapkan. Ada beberapa jenis alat pelindung diri yang mutlak digunakan oleh tenaga kerja pada waktu melakukan pekerjaan dan saat menghadapi potensi bahaya karena pekerjaanya, antara lain seperti topi keselamatan, safety shoes, sarung tangan, pelindung pernafasan, pakaian pelindung, dan sabuk keselamatan. Jenis alat pelindung diri yang digunakan harus sesuai
dengan potensi bahaya yang dihadapi serta sesuai dengan bagian tubuh yang perlu dilindungi.
Sebagaimana tercantum dalam undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja, pasal 12 mengatur mengenai hak dan kewajiban tenaga kerja untuk mamakai alat pelindung diri. Pada pasal 14 menyebutkan bahwa pengusaha wajib menyediakan secara cuma-cuma sesuai alat pelindung diri yang diwajibkan bagi tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang lain yang memasuki tempat kerja tersebut, disertai dengan petunjuk yag diperlukan. Potensi bahaya yang kemugkinan terjadi di tempat kerja, dan yang bisa dikendalikan dengan alat pelindung diri adalah:
a. Terjatuh, terpeleset, kejatuhan benda, terantuk. b. Terpapar sinar dan gelombang elektromaknetik.
c. Kontak dengan bahan kimia baik padat maupun cair. d. Terpapar kebisingan dan getaran.
e. Terhirup gas, uap, debu, mist, fume, partikel cair.
f. Kemasukan benda asing, kaki tertusuk, terinjak benda tajam.
B.
Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K3RS) Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K3RS)
Seiring dengan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan maka tuntutan pengelolaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit (K3RS) semakin tinggi.Sejak akhir abad 18, program K3 telah lama diterapkan di berbagai sektor industri di seluruh dunia, kecuali di sektor kesehatan.Perkembangan K3RS tertinggal dikarenakan fokus pada kegiatan kuratif, bukan preventif. Selain itu, Rumah Sakit terlalu fokus pada kualitas pelayanan bagi pasien, keterbatasab tenaga profesi di bidang K3 serta anggapan organisasi kesehatan bahwa petugas Rumah Sakit pasti telah melindungi diri dalam bekerja.
Menurut WHO, dari 35 juta pekerja kesehatan terdapat 3 juta terpajan patogen darah yang terdiri dari 2 juta terpajan virus HBV, 0,9 juta terpajan virus HBC dan 170,000 terpajan virus HIV/AIDS. Data menurut ILO (2000) menunjukkan kematian akibat penyakit menular yang berhubungan dengan pekerjaan untuk Laki-laki 108, 256 dan perempuan 517, 404. United State of America (USA) setiap tahun mencatat 5000 petugas kesehatan terinfeksi Hepatitis B 47 positif HIV dan 600.000 – 1.000.000 luka tusuk jarum dilaporkan
(diperkirakan lebih dari 60% tidak dilaporkan). SC-Amerika (1998) mencatat frekuensi angka Kecelakaan Akibat Kerja (KAK) di Rumah Sakit lebih tinggi 41% dibanding pekerja lain dengan angka KAK terbesar adalah cedera jarum suntik (NSI-Needle Stick injuries). Staf wanita Rumah Sakit yang terpajan gas anestesi, secara signifikan meningkatkan abortus spontan, anak yang dilahirkan mengalami kelainan kongenital (studi restrospektif di Rumah Sakit Ontario terhadap 8.032 orang, tahun 1981-1985). 41% perawat Rumah Sakit mengalami cedera tulang belakang akibat kerja (occupational low back pain), (Harber P et al,1985).
Kondisi yang hampir sama terjadi di Indonesia, gaya berat yang ditanggung pekerja rata-rata lebih dari 20 kg, keluhan subyektiflow back pain didapat pada 83.3% pekerja. Penderita terbanyak usia 30-49: 63.3 % (instalasi bedah sentral di RSUD di Jakarta 2006). Tercatat bahwa sebanyak 65.4% petugas kebersihan suatu Rumah Sakit di Jakarta menderita Dermatitis Kontak Iritan Kronik Tangan (2004). Data lain yang bersumber dari penelitian Joseph tahun 2005-2007 mencatat bahwa angka KAK NSI mencapai 38-73 % dari total petugas kesehatan.
Kerugian yang diakibatkan oleh kesakitan dan kecelakaan kerja yaitu dapat berupa kerugian finansial dikarenakan produktifitas dan efisiensi yang menurun. Hal tersebut dapat mempengaruhi biaya langsung dan tidak langsung dari dampak yang ditimbulkannya meliputi:
a. Biaya medis; b. Kehilangan hari kerja;
c. Produksi menurun;
d. Hilangnya kompensasi bagi pekerja;
e. Biaya waktu / uang dari pelatihan dan pelatihan ulang pekerja; f. kerusakan dan perbaikan peralatan;
g. Rendahnya moral dan perilaku pegawai; h. Publisitas buruk;
1.
1. Perlunya pelaksanaan K3RS:Perlunya pelaksanaan K3RS:
a. Kebijakan pemerintah tentang Rumah Sakit di Indonesia; meningkatkan akses, keterjangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan yang aman di Rumah Sakit.
b. Perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi K3 Rumah Sakit serta tindak lanjut, yang merujuk pada SK Menkes No.432/Menkes/SK/IV/2007 tentang Pedoman Manajemen K3 di Rumah Sakit dan OHSAS 18001 tentang Standar Sistem Manajemen K3.
c. Sistem manajemen K3 Rumah Sakit adalah bagian dari sistem manajemen Rumah Sakit. d. Rumah Sakit kompetitif di era global; tuntutan pengelolaan program K3 di Rumah Sakit (K3RS)
semakin tinggi karena pekerja, pengunjung, pasien dan masyarakat sekitar Rumah Sakit ingin mendapatkan perlindungan dari gangguan kesehatan dan kecelakaan kerja, baik sebagai dampak proses kegiatan pemberian pelayanan maupun karena kondisi sarana dan prasarana yang ada di
Rumah Sakit yang tidak memenuhi standar.
2.
2. Prinsip K3RSPrinsip K3RS
Agar K3RS dapat dipahami secara utuh, perlu diketahui pengertian 3 (tiga) komponen yang saling berinteraksi, yaitu :
1. Kapasitas kerjaKapasitas kerja adalah status kesehatan kerja dan gizi kerja yang baik serta kemampuan fisik yang prima setiap pekerja agar dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Contoh; bila seorang pekerja
kekurangan zat besi yang menyebabkan anemia, maka kapasitas kerja akan menurun karena pengaruh kondisi lemah dan lesu.
2. Beban kerjaBeban kerja adalah beban fisik dan mental yang harus di tanggung oleh pekerja dalam melaksanakan tugasnya. Contoh; pekerja yang bekerja melebihi waktu kerja maksimum dll.
3. Lingkungan kerjaLingkungan kerja adalah lingkungan terdekat dari seorang pekerja. Contoh; seorang yang bekerja di instalasi radiologi, maka lingkungan kerjanya adalah ruangan-ruangan yang berkaitan dengan proses pekerjaannya di instalasi radiologi (kamar X Ray, kamar gelap, kedokteran nuklir dan lain-lain).
3.
3. Potensi Bahaya dan Risiko Terhadap Keselamatan dan Kesehatan KerjaPotensi Bahaya dan Risiko Terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Motivasi utama dalam melaksanakan keselamatan dan kesehatan kerja adalah untuk mencegah kecelakaan kerja dan penyakit yang ditimbulkan akibat pekerjaan. Oleh karena itu perlu melihat penyebab dan dampak yang ditimbulkannya. Potensi bahaya adalah sesuatu yang berpotensi untuk terjadinya insiden
yang berakibat pada kerugian. Risiko adalah kombinasi dan konsekuensi suatu kejadian yang berbahaya dan peluang terjadinya kejadian tersebut. Mustahil untuk mengetahui semua bahaya yang ada.
Beberapa hal yang tampak jelas berbahaya, seperti bekerja dengan menggunakan tangga yang tidak stabil atau penanganan bahan kimia bersifat asam. Namun demikian, banyak kecelakaan terjadi akibat dari situasi sehari-hari misalnya tersandung tikar di lantai kantor. Ini tidak berarti bahwa tikar pada umumnya berbahaya. Namun demikian, hal ini bisa terjadi, tikar tersebut dalam posisi terlipat atau tidak seharusnya dan menjadi potensi bahaya dalam kasus ini.
Seperti diketahui, potensi bahaya keselamatan dan kesehatan kerja dapat berupa berbagai bentuk. Terlebih lagi, masing-masing risiko bisa menjadi tinggi atau rendah, tergantung pada tingkat peluang bahaya yang ada. Dalam Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, 2009 tentang Kesehatan,
khususnya pasal 165 ”Pengelola tempat kerja wajib melakukan segala bentuk upaya kesehatan melalui upaya pencegahan, peningkatan, pengobatan dan pemulihan bagi tenaga kerja”. Berdasarkan pasal tersebut, maka pengelola tempat kerja di Rumah Sakit mempunyai kewajiban untuk menyehatkan para tenaga kerjanya.Salah satunya adalah melalui upaya kesehatan kerja disamping keselamatan kerja.
Rumah Sakit harus menjamin kesehatan dan keselamatan baik terhadap pasien, penyedia layanan atau pekerja maupun masyarakat sekitar dari berbagai potensi bahaya di Rumah Sakit. Oleh karena itu, Rumah
Sakit dituntut untuk melaksanakan Upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang dilaksanakan secara terintegrasi dan menyeluruh sehingga risiko terjadinya Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Akibat Kerja (KAK) di Rumah Sakit dapat dihindari.
Selain itu seperti yang tercantum dalam pasal 7 ayat 1 Undang-undang No.44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, bahwa “Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan, prasarana, sumber daya manusia, kefarmasian, dan peralatan”, yang mana persyaratan-persyaratan tersebut salah satunya harus memenuhi unsur K3 di dalamnya. Bagi rumah sakit yang tidak memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut tidak diberikan izin mendirikan, dicabut atau tidak diperpanjang izin operasional Rumah Sakit (pasal 17).
4.
4. Potensi Bahaya di Rumah SakitPotensi Bahaya di Rumah Sakit
Bahaya-bahaya potensial di Rumah Sakit dapat dikelompokkan, seperti dalam tabel berikut : Tabel 2. Jenis Potensi Bahaya di Rumah Sakit
Tabel 2. Jenis Potensi Bahaya di Rumah Sakit No
No Jenis Jenis Bahaya Bahaya ContohContoh 1
1 Bahaya Fisik a. Radiasi pengion
b. Radiasi non-pengion c. Suhu panas, suhu dingin d. Bising
e. Getaran f. Pencahayaan 2
2 Bahaya Kimia a. Ethylene Oxide
c. Glutaraldehyde d. Ether e. Halothane f. Etrane g. Mercury h. Lutaraldehyde i. Chlorine 3
3 Bahaya Biologi a. Virus
b. Bakteri c. jamur 4
4 Bahaya Ergonomi Cara kerja yang salah contohnya posisi kerja statis, angkat angkut pasien, membungkuk, menarik dan mendorong.
5
5 Bahaya Psikososial Diantaranya kerja shift, tress beban kerja, hubungan kerja, post traumatic
6
6 Bahaya Mekanik Diantaranya terjepit, Terpotong, terpukul, Tergulung, tersayat, tertusuk benda tajam 7
7 Bahaya Listrik Diantaranya sengatan listrik, hubungan arus pendek, kebakaran, petir
8
8 Kecelakaan kecelakaan benda tajam
9
9 Limbah Rumah Sakit limbah medis (jarum suntik,vial obat, nanah, darah) limbah non medis, limbah cairan tubuh manusia (misal : droplet, liur, sputum)
5.
5. Upaya pengendalian risiko bahan berbahayaUpaya pengendalian risiko bahan berbahaya
Untuk mengurangi resiko karena penanganan bahan berbahaya antara lain : a. Upaya substitusi
Mengganti penggunaan bahan berbahaya dengan yang kurang berbahaya. b. Upaya kontinyu
Menggunakan atau menyimpan bahan berbahaya sedikit mungkin dengan cara memilih proses kontinyu yang menggunakan bahan setiap saat lebih sedikit. Dalam hal ini bahan dapat dipesan sesuai kebutuhan sehingga risiko dalam penyimpanan kecil.
c. Peningkatan informasi
Upaya mendapatkan informasi terlebih dahulu tentang bahan berbahaya yang menyangkut sifat berbahaya, cara penanganan, cara penyimpanan, cara pembuangan dan penanganan sisa atau bocoran/ tumpahan, cara pengobatan bila terjadi kecelakaan dan sebagainya.Informasi tersebut
dapat diminta kepada penyalur atau produsen bahan berbahaya yang bersangkutan. d. Upaya proses tertutup
Upaya melakukan proses secara tertutup atau mengendalikan kontaminan bahan berbahaya dengan sistem ventilasi dan dipantau secara berkala agar kontaminan tidak melampaui nilai ambang batas yang ditetapkan.
e. Pembuatan Standar Operasional Prosedur
Mengatur penjadwalan dan alur pekerjaan agar pekerja tidak mengalami paparan yang terlalu lama dengan mengurangi waktu kerja atau sistem shift kerja serta mengikuti prosedur kerja yang aman. f. Alat Pelindung Diri (APD)
Penggunaan alat pelindung diri agar pekerja memakai alat pelindung diri yang sesuai atau tepat melalui pengujian, pelatihan dan pengawasan.
6.
6. Pelaksanaan K3RS meliputi:Pelaksanaan K3RS meliputi:
1. Penyuluhan K3 ke semua pegawai Rumah Sakit.
2. Pelatihan K3 yang disesuaikan dengan kebutuhan individu dengan perilaku tertentu agar berperilaku sesuai dengan yang telah ditentukan sebelumnya sebagai produk akhir dari pelatihan. 3. Melaksanakan program K3 sesuai peraturan yang berlaku, diantaranya:
a. Pemeriksaan kesehatan pegawai.
b. Penyediaan alat pelindung diri dan keselamatan kerja.
c. Penyiapan pedoman pencegahan dan penanggulangan keadaan darurat. d. Penempatan pekerja pada pekerjaan yang sesuai kondisi kesehatan.
e. Pengobatan pekerja yang menderita sakit.
f. Menciptakan lingkungan kerja yang higienis secara teratur melalui monitoring lingkungan kerja dari hazard yang ada.
g. Melakukan biological monitoring. h. Melakukan surveilans kesahatan kerja.
7.
7. Penanganan Bahan Berbahaya dan BeracunPenanganan Bahan Berbahaya dan Beracun
a.
a. Penanganan untuk personilPenanganan untuk personil
• Kenali dengan seksama jenis bahan yang akan digunakan atau disimpan. • Baca petunjuk yang tertera pada kemasan.
• Letakkan bahan sesuai ketentuan.
• Tempatkan bahan pada ruang penyimpanan yang sesuai dengan petunjuk. • Perhatikan batas waktu pemakaian bahan yang disimpan.
• Jangan menyimpan bahan yang mudah bereaksi di lokasi yang sama. • Jangan menyimpan bahan melebihi pandangan mata.
• Pastikan kerja aman sesuai prosedur dalam pengambilan dan penempatan bahan, hindari terjadinya