User
[Type the abstract of the document here. The abstract is typically a short summary of the contents of the document.]
Badan Kerjasama Ilmu Kesehatan
Masyarakat
Kedokteran Pencegahan
Ilmu Kedokteran Komunitas Regio 3
Pedoman Penyelenggaraan
Modul Kepaniteraan Klinis
Kedokteran Okupasi
Pedoman Penyelenggaraan
Modul Kepaniteraan
Klinis Kedokteran Okupasi
Badan Kerjasama Ilmu Kesehatan Masyarakat,
Badan Kerjasama Ilmu Kesehatan Masyarakat,
Kedokteran Pencegahan, Ilmu Kedokteran
Kedokteran Pencegahan, Ilmu Kedokteran
Komunitas Regio III
Buku Pedoman Penyelenggaraan Modul Kepaniteraan Klinik Kedokteran Okupasi Buku Pedoman Penyelenggaraan Modul Kepaniteraan Klinik Kedokteran Okupasi Penyusun :
Penyusun :
dr. Novendy, M.K.K – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, Jakarta
dr. Cut Warnaini, M.P.H – Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Islam Negeri, Jakarta dr. Lukman Hilfi, M.M – Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung
Dr. dr. Rina K Kusumaratna, M.Kes – Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta Tim Pemulas :
Tim Pemulas :
dr. Sutedja, SKM – Fakultas Kedokteran Universitas Jendral Ahmad Yani, Bandung dr. Nita Arisanti, MSc.CMFM – Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung Dr. dr. Shirley I Moningkey,M.Kes – Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan, Banten dr. Trevino A. Pakasi, M.S, Ph.D – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta dr. Insi Farida Desy Arya,M.Si – Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung dr. Catur S Sulistiyana, M.Med.Ed – Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon
dr. Eka Nurhayati, M.K.M – Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung dr. Marita Fadhilah, Ph.D – Fakultas Kedokteran Universitas Islam Negeri, Jakarta
dr. Yanti Harjono M.K.M – Fakulas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Jakarta
dr. Pitut Apriliana,M.K.K – Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah, Jakarta Dr. dr. Maskito A Soerjoasmoro, M.S – Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta Dr. dr. Rina K Kusumaratna, M.Kes – Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta dr. Erni Hermijanti, M.Kes – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, Jakarta dr. Novendy, M.K.K – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, Jakarta
dr. Ernawati Tamba M.K.M – Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta dr. Adolfina R Amahorseja, M.S – Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Jakarta dr. Lusia Gani, M.S – Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta
dr. Dian Kusuma Dewi, M.Gizi – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta dr. Sugma Agung P, MARS, DiplDK – Universitas Yarsi, Jakarta
dr. Dani, M.Kes – Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Bandung
Editor
dr. Trevino A. Pakasi, M.S, PhD
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam entuk dan dengan cara apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit.
Desain sampul dan tata letak: dr. Trevino A. Pakasi, MS, PhD
Diterbitkan oleh Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Redaksi:
Jl. Pegangsaan Timur no.16 Jakarta Pusat 10320 Tel. +62 21 3141066 Fax +62 21 3141066 E-mail: [email protected]
Cetakan pertama: Juli 2016
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam entuk dan dengan cara apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit.
Kata Pengantar
Kata Pengantar
Sejak dimulainya Kurikulum Inti Pendidikan Dokter III tahun 2006, fakultas-fakultas kedokteran mempunyai interpretasi yang beragam disesuaikan dengan keberadaan sumber-sumber dalam masing-masing institusi. Secara operasional KIPDI III belum menekankan secara detail dibandingkan dengan KIPDI II dan KIPDI I. Lebih jauh lagi, kemudian perbedaan latar belakang staf-staf pengajar ketika duduk di bangku kuliah maupun dalam pendidikan lanjut sangat beragam dan mewarnai pelaksanaan KIPDI III. Hal ini juga yang mungkin mempengaruhi keragaman interpretasi KIPDI III dalam operasionalnya di setiap Fakultas Kedokteran.
Di samping perkembangan pendidikan di dalam negeri, dinamika masyarakat dan negara, perubahan iklim, hubungan internasional sangat mempengaruhi Indonesia – yang tentu saja mempengaruhi masalah-masalah kesehatan dari tingkat nasional sampai ke tingkat masyarakat di suatu wilayah kecamatan, bahkan desa. Dinamika perubahan yang relatif sangat cepat perlu diantisipasi oleh dokter-dokter sehingga penekanan pada KIPDI III pun lebih banyak pada kemampuan-kemampuan generik seorang lulusan dokter agar bisa beradaptasi dimanapun mereka ditempatkan.
Hal ini pun juga terjadi pada materi ajar yang diampu dalam keilmuan Ilmu Kesehatan Masyarakat
– Kedokteran Pencegahan atau yang kemudian berkembang dengan nama Ilmu Kedokteran Komunitas. Di dalam pertemuan-pertemuan Badan Kerjasama IKM-KP IKK nasional maupun di regional 3 (Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten), staf-staf pengajar menemukan berbagai keragaman materi, waktu pemberian, dan metode pemberian yang pada akhirnya menyebabkan perbedaan standar penguasana lulusan dokter pada materi ajar ini.
Setelah terbitnya Standar Kompetensi Dokter Indonesia tahun 2012 yang merupakan edisi revisi, maka lebih jelas apa yang menjadi target pendidikan: keterampilan generik yang harus dikuasai, penguasaan masalah kesehatan yang dihadapi, dan juga tingkat keterampilan medik serta keterampilan dalam bidang Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Komunitas .
BKS IKM IKP IKK regio 3 menuangkan SKDI 2012 dan KIPDI III dalam strategi pembelajaran yang diharapkan dapat membuat standar untuk fakultas-fakultas kedokteran, sehingga lulusan FK-FK mempunyai standar yang sama dalam bidang kesehatan masyrakat, kedokteran pencegahan dan kedokteran komunitas. Buku ini merupakan seri dari lima modul pendidikan klinik/kepaniteraan klink bidang IKM IKP IKK. Seri tersebut adalah:
1. Modul Kepaniteraan Klinik Kedokteran Keluarga 2. Modul Kepaniteraan Klinik Kedokteran Okupasi
3. Modul Kepaniteraan Klinik Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat
Akhir kata kami berharap agar modul-modul ini dapat terlaksana, serta mendapatkan feedback dalam pelaksanannya, sehingga kami dapat melakukan perbaikan-perbaikan modul serta pelaksanaan pendidikan. Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan seluruh fakultas kedokteran di regio 3 atas terselenggaranya rapat-rapat regional kami, sehingga tercapai penyelesaian modul-modul ini.
Medio Juli 2016
Sambutan Ketua BKS IKM IKP IKKRegio III
Sambutan Ketua BKS IKM IKP IKKRegio III
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Mahaesa karena atas perkenanNya, rapat-rapat pembuatan modul pendidikan kepaniteraan klinik bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat, Kedokteran
Pencegahan dan Kedokteran Komunitas telah diselesaikan dengan baik.
Perjuangan sejak tahun 2011 dimana kami memulai rapat-rapat untuk menentukan topik yang sebaiknya diberikan dalam rangka implementasi Kurikulum Inti Pendidikan Dokter yang ketiga, akhirnya telah membuahkan hasil. Setelah lahirnya standar kompetensi dokter Indonesia tahun 2012, kami berusaha menyesuaikan materi-materi yang ingin dicapai dalam pendidikan dokter, sehingga bisa memenuhi standar kompetensi lulusan tersebut.
Modul ini merupakan modul generik yang bisa dikembangkan oleh masing-masing fakultas kedokteran. Modul ini merupakan 80% muatan umum dari semua fakultas kedokteran dalam bidang IKM-KP maupun Kedokteran Komunitas.
Salah satu impian bersama, adalah para penyusun adalah agar kami bisa mempunyai standar assessment di setiap universitas sehingga, dapat dilakukan pertukaran penguji yang meningkatkan akreditasi universitas dan fakultas kedokteran tersebut.
Kami menyadari bahwa banyak hal yang perlu diperbaiki di dalam pembuatan modul kepaniteraan ini, diantaranya adalah kesepakatan waktu pemberian yang masih bervariasi tergantung dari kesiapan dan ketersediaan sumber daya di masing-masing fakultas kedokteran.
Kami berharap bahwa buku modul ini menjawab kebutuhan berbagai universitas dan pada tahap selanjutnya kita semua bisa bersepakat membuat lahan-lahan pendidikan bersama.
Apabila ada kritik dan saran, kami dengan senang hati menerima untuk perbaikan modul ini di masa yang akan datang.
Jakarta Juli 2016 Ketua Regio III BKS IKM IKP IKK
Daftar Isi
Daftar Isi
Kata
Kata Pengantar Pengantar ... ... 55
Sambutan Ketua BKS
Sambutan Ketua BKS IKM IKP IKM IKP IKKRegio III ...IKKRegio III ... 6... 6 Pendahuluan ... Pendahuluan ... ... 88 Kompetensi Kompetensi ... 9... 9 Tujuan Tujuan ... ... 1111 Tujuan umum Tujuan umum ... ... ... .... 1111 Tujuan Khusus Tujuan Khusus ... 11 ... 11 Karakterisik mahasiswa Karakterisik mahasiswa ... ... ... ... 1111 Lingkup bahasan Lingkup bahasan ... ... ... ... 1717 Metode pembelajaran Metode pembelajaran ... .. 1717 Kuliah Kuliah ... ... ... ... 1717 Pembelajaran sendiri (Mandiri)
Pembelajaran sendiri (Mandiri) ... ... .... .... 1717 Studi kasus (
Studi kasus (Case based studiesCase based studies)) ... ... ... ... 1717 Survey Jalan-Sepintas (
Survey Jalan-Sepintas (Walk-through SurveyWalk-through Survey)) ... ... ... ... 1717 Seminar ( plenary) ... 18 Lahan Pendidikan Lahan Pendidikan ... ... ... ... 1818 Evaluasi Peserta Evaluasi Peserta ... ... ... 1818 Waktu pemberian Waktu pemberian ... ... 1919 Evaluasi Modul Evaluasi Modul ... ... 2020 Daftar Pustaka Daftar Pustaka ... ... ... 2020 Lampiran-lampiran ... ... ... ... 2121 Lampiran 1 Lampiran 1 ... 22... 22
Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Pendahuluan
Pendahuluan
Kedokteran Okupasi adalah spesialisasi dalam ilmu kedokteran komunitas, yang bertujuan agar kelompok pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik fisik, mental, maupun sosial,di dalam
lingkup pekerjaannya.Kegiatan utamanya, adalahuntuk mengatasi penyakit-penyakit/gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja, serta terhadap penyakit-penyakit umum yang dipengaruhi oleh pekerjaan dan memberikan masukan untuk pengendalian lingkungan kerja agar tercapai suasana kerja yang kondusif untuk kesehatan.
Sasaran kedokteran okupasi adalah individu dalam lingkup pekerjaannya dengan pengendalian faktor-faktor risko yang mempengaruhi status kesehatan tenaga kerja. Intervensi yang dilakukan adalah intervensi medis yang meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Berbeda dengan kesehatan kerja dari percabangan ilmu Kesehatan Masyarakat yang melakukan pengendalian risiko kesehatan dari aspek lingkungan. Meskipun berbeda, kegiatan dokter dalam lingkup tenaga kerja ini sangat berkaitan erat dengan pengendalian lingkungan, aspek manajemen dan juga kebijakan-kebijakan, baik yang sifatnya lokal sampai
ke tingkat nasional.
Untuk menjalani hal itu maka pemerintah telah menerbitkan undang-undang no 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja, yang antara lain mempunyai fungsi: 1) mencegah dan mengurangi kecelakaan; 2) mencegah, mengurangi risiko, dan memadamkan kebakaran; 3) mencegah dan mengurangi bahaya peledakan; 4) memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau
kejadian-kejadian lain yang berbahaya; 5) memberikan pertolongan pada kecelakaan; 6) memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja; 7) mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebarluaskan suhu,
kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara dan getaran; 8) mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja, baik fisik maupun psikis, peracunan, infeksi dan penularan; 9) Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai; 10) menyelenggarakan suhu dan kelembaban udara yang baik; 11) menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup; 12) memelihara kebersihan, kesehatan, dan ketertiban; 13) memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses kerjanya; 14) mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman atau barang; 15) mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan; 16) mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan dan penyimpanan barang; 17) mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya; 18) menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang berbahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.
Tugas-tugas kesehatan dan keselamatan kerja di atas sebagian dapat dijalankan oleh dokter. Namun lebih luas daripada itu, dokter dapat membantu mempertahankan kesehatan pekerja di dalam lingkungan yang tidak fisiologis tersebut agar tercapai tugas-tugas dalam K3 seperti yang diamanatkan oleh Undang-undang.
Lingkup tugas seorang dokter lebih kepada pengendalian penyakit akibat kerja yang telah ditetapkan dalam
Keppres RI no.22/1993. Secara khusus, seorang lulusan baru dari Fakultas Kedokteran mempunyai kemampuan untuk: 1) mampu menjalankan langkah-langkah diagnosis penyakit akibat kerja; 2) mengindentifiaksi faktor-faktor risiko dan 3) menyusun suatu rekomendasi atau rancangan bagaimana program pengendalian penyakit yang cocok untuk tempat kerja tertentu.
Penyakit-penyakit akibat kerja sangat banyak dan pembuktiannya membutuhkan pemeriksaan yang khusus., baik aspek individual maupun pajanan di lingkungan. Ini menunjukkan bahwa pelaksanaan kepaniteraanmembutuhan pendekatan multidisiplin dengan ahli-ahli kesehatan lingkungan, teknik lingkungan dan sebagainya. Di samping itu mengingat durasi yang sempit di dalam kepaniteraan IKM-IKP-IKK, maka seharusnya konsep-konsep pendekatan diagnosis penyakit akibat kerja dapat diterapkan di dalam kepaniteraan modul-modul lainnya, termasuk juga kasus-kasus kecelakaan kerja.
Kompetensi
Kompetensi
Berdasarkan Standar Kompetensi Dokter Indonesia tahun 2012, kompetensi khusus dalam bidang Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Komunitas yang harus dicapai oleh lulusan dokter adalah:
Area kompetensi Ketrampilan Kedokteran Komunitas/Kesehatan Masyarakat Area 1 Profesionalitas yang Luhur
Area 2 Mawas diri dan Pengembangan Diri
Edukasi, nasihat dan melatih individu serta kelompok mengenai kesehatan
Area 3 Komunikasi Efektif
1. Menyelenggarakan komunikasi lisan maupun tulisan
2. Edukasi, nasihat dan melatih individu serta kelompok mengenai kesehatan 3. Konsultasi terapi
4. Komunikasi lisan dan tulisan kepada teman sejawat atau petugas kesehatan lainnya (rujukan dan konsultasi)
5. Menulis rekam medik dan membuat pelaporan
6. Menyusun tulisan ilmiah dan mengirimkan untuk publikasi
Area 4 Pengelolaan informasi
1. Menulis/mempelajari format rekam medik dan pelaporan Puskesmas 2 Menjelaskan mekanisme pencatatan dan pelaporan
3. Menyusun tulisan ilmiah Area 5 Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran
1. Perencanaan dan pelaksanaan, monitoring dan evaluasi upaya pencegahan dalam berbagai tingkat pelayanan
2. Mengenali perilaku dan gaya hidup yang membahayakan
3. Memperlihatkan kemampuan perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi suatu intervensi pencegahan kesehatan primer, sekunder, dan tersier 4. Melaksanakan kegiatan pencegahan spesifik seperti vaksinasi, pemeriksaan
medis berkala dan dukungan sosial
5. Melakukan pencegahan dan penatalaksanaan kecelakaan kerja serta merancang program untuk individu, lingkungan, dan institusi kerja
6. Mengetahui penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan pengendaliannya
Area 6 Keterampilan Klinis
2. Konsultasi terapi
3. Memperlihatkan kemampuan perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi suatu intervensi pencegahan kesehatan primer, sekunder, dan tersier 4. Melaksanakan kegiatan pencegahan spesifik seperti vaksinasi, pemeriksaan
medis berkala dan dukungan social
5. Melakukan pencegahan dan penatalaksanaan kecelakaan kerja serta merancang program untuk individu, lingkungan, dan institusi kerja
6. Mengetahui penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan pengendaliannya
7. Memperlihatkan kemampuan pemeriksaan medis di komunitas 8. Penilaian terhadap risiko masalah kesehatan
9. Menerapkan tujuh langkah keselamatan pasien
10. Melakukan langkah-langkah diagnosis penyakit akibat kerja dan penanganan pertama di tempat kerja, serta melakukan pelaporan penyakit akibat kerja 11. Melakukan langkah-langkah diagnosis penyakit akibat kerja dan penanganan
pertama di tempat kerja, serta melakukan pelaporan penyakit akibat kerja 12. Melakukan penatalaksanaan komprehensif pasien, keluarga dan masyarakat Area 7 Pengelolaan masalah kesehatan
1. Edukasi, nasihat dan melatih individu dan kelompok mengenai kesehatan 2. Konsultasi terapi
3. Perencanaan dan pelaksanaan, monitoring dan evaluasi upaya pencegahan dalam berbagai tingkat pelayanan
4. Memperlihatkan kemampuan perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi suatu intervensi pencegahan kesehatan primer, sekunder, dan tersier 5. Melaksanakan kegiatan pencegahan spesifik seperti vaksinasi, pemeriksaan
medis berkala dan dukungan social
6. Melakukan pencegahan dan penatalaksanaan kecelakaan kerja serta merancang program untuk individu, lingkungan, dan institusi kerja
7. Mengetahui penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan pengendaliannya
10. Penilaian terhadap risiko masalah kesehatan
11. Menerapkan tujuh langkah keselamatan pasien
12. Melakukan langkah-langkah diagnosis penyakit akibat kerja dan penanganan pertama di tempat kerja, serta melakukan pelaporan penyakit akibat kerja 13. Melakukan langkah-langkah diagnosis penyakit akibat kerja dan penanganan
pertama di tempat kerja, serta melakukan pelaporan penyakit akibat kerja 14. Merencanakan program untuk meningkatkan kesehatan masyarakat termasuk
kesehatan lingkungan
15. Memperlihatkan kemampuan penelitian yang berkaitan dengan lingkungan 16. Melakukan rehabilitasi medik dasar
19. Merencanakan, mengelola, monitoring, dan evaluasi asuransi pelayanan kesehatan, misalnya JKN, jamkesmas, jampersal, askes, dll
20. Menyusun rencana manajemen kesehatan
Tujuan
Tujuan
Tujuan umum
Tujuan umum
Setelah menyelesaikan modul ini mahasiswa dapat melakukan menerapkan prinsip-prinsip kedokteran okupasi dalam layanan primer
Tujuan Khusus
Tujuan Khusus
Setelah menyelesaikan modul ini mahasiswa mampu:
1. Melakukan identifikasi faktor-faktor risiko yang dapat menimbulkan penyakit dan kecelakaan akibat kerja di institusi kerja
2. Mampu melakukan langkah-langkah diagnosis penyakitdan kecelakaan akibat kerja
3. Mampu memberikan pelayanan komprehensif kesehatan kerja mencakup upaya promotif, preventif 4. Mampu menjelaskan pelayanan kuratif, rehabilitatif - must seen
5. Mampu memberikan rekomendasi kepada institusi kerja atas temuan di tempat kerja
Karakterisik mahasiswa
Karakterisik mahasiswa
Mahasiwa yang mengikuti kepaniteraan ini telah menyelesaikan program pendidikan sarjana kedokteran, dan secara khusus telah mendapatkan materi mengenai kedokteran komunitas dan kedokteran keluarga di tingkat pendidikan sarjana, yang mencakup materi mengenai:
1. Kedokteran komunitas/kesehatan masyarakat 2. Kedokteran okupasi
3. Kedokteran keluarga
Di dalam tahap pendidikan sarjana kedokteran, para mahasiswa diharapkan sudah menyelesaikan dan menguasai topik-topik di dalam kesehatan masyarakat, kedokteran pencegahan dan kedokteran komunitas, yang telah dirumuskan di bawah ini:
RUANG BAHASAN KEDOKTERAN KOMUNITAS TERBAGI ATAS 3 BAGIAN 1 Dasar-dasar Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran komunitas
2 Penerapan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Komunitas pada Komunitas 3 Penerapan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Komunitas pada Klinik
AD1. DASAR-DASAR KESEHATAN MASYARAKAT DAN KEDOKTERAN KOMUNITAS I Konsep dasar, ruanglingkup dan percabangan ilmu kedokteran sesuai dengan AIPI
1.2 Five star doctor II Epidemiologi dan Biostatistik
2.1 Introduksiepidemiologi 2.2 Demografi
2.3 Vital Statistik
2.4 Biotatistik dan penerapannya
2.5 Epidemiologi pada penyakit spesifik (new emerging disease, prevalensi terbanyak 2.5.1 Penyakit Menular
2.5.2 Penyakit tidak menular (penyakit degeneratif) 2.6 Pola Penyakit
2.6.1 Usia, gender, ras, status social dan ekonomi 2.6.2 Variasi internasional, nasional dan regional 2.6.3 Pola sporadic, musiman, sekeluer dan kohort lahir 2.6.4 Surveilans penyakit
2.6.5 Polaendemik, epidemik dan pandemic 2.6.6 Kejadian luar biasa dan Pengendalian wabah 2.6.7 Penyakit dan Kecacatan terbanyak III Konsep Sehat dan Sakit
3.1 Definisi sehat dan definisi sakit serta persepsi tentang penyakit 3.2 Riwayat alamiah perjalanan penyakit
3.2.1 Metode transmisi penyakit 3.2.2 Masa inkubasi
3.2.3 Metoderasional deteksi dini 3.2.4 Manifestasi penyakit
3.2.5 Determinan perjalanan penyakit 3.3 Faktor risiko timbulnya penyakit
3.3.1 Keturunan/genetic 3.3.2 Biologik (usia, ras, gender) 3.3.3 Status Social dan ekonomi
3.3.4 Faktor perilaku, gaya hidup dan social budaya 3.3.5 Pola makanan dan asupan gizi
3.3.6 Pajanan lingkungan 3.3.7 pejanan kerjaan
3.3.8 Pajanan iattrogenic/penyakit nosokomial 3.3.9 Pajanan prenatal
3.3.10 Kelainan metabolic atau status fisiologik 3.4 Pencegahan Penyakit
3.4.1 Pencegahan Primer, sekunder, tersier (level of prevention) padalevel pelayanan primer breakdown yang dimaksud primer, sekunder, tersier
3.5 Penatalaksanaan penyakit
3.5.1Penatalaksanaan secara komprehensif holistic 3.5.2Evaluasi penatalaksanaan
IV Promosi dan Pendidikan Kesehatan
4.1 Pengertian dasar promosi dan pendidikan kesehatan bagi anak, remaja dan dewasa 4.2 Komunikasi interpersonal dan kelompok
4.3 Teori Perubahan Perilaku
4.4 Penerapan promosi dan Pendidikan Kesehatan pada individu, kelompok dan masyarakat 4.5 Promosi dan pendidikan kesehatan dengan berbagai teknologi informasi
4.6 Advokasi Kesehatan
V Kebijakan Kesehatan (Manajemen kesehatan-dari top level) 5.1 Organisasi Kesehatan International dan isu-isu internasional 5.2 Sistim Kesehatan Nasional
5.2.1 Sistim Pelayanan Kesehatan dalam SKN 5.2.2 Sistim Pembiayaan Kesehatan SKN
5.2.2.1 Sistim Pelayanan Kesehatan dalam SKN 5.2.2.2 Jenis pembiayaan pelayanan kesehatan 5.2.2.3 Insurance scheme (sector formal dan informal)
5.2.2.4 Berbagai sistim pelayanan dari pembayaran kesehatan mancanegara AD.2. PENERAPAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS DI KOMUNITAS I Pelayanan Kesehatan Primer
1.1 Penerapan program kesehatan dasar nasional pada pelayanan primer 1.1.1 Promosi Kesehatan
1.1.2 Kesehatan Lingkungan
1.1.3 Kesehatan Ibu dan Anak, Keluarga Berencana
1.1.4 Perbaikan gizi individu dan komunitas (keluarga, pekerja, dll) 1.1.5 Pencegahan dan pemberantasan penyakit
1.1.6 Pengobatan
1.1.7 Pencatatan dan pelaporan
1.2 Upaya pengembangan pelayanan di wilayah kerja 1.2.1 Kesehatan sekolah
1.2.2 Kesehatan Olah Raga
1,2,3 Perawatan kesehatan masyarakat 1.2.4 Kesehatan Kerja
1.2.5 Kesehatan gigi dan mulut 1.2.6 Kesehatan jiwa 1.2.7 Kesehatan mata 1.2.8 Kesehatan usia lanjut 1.2.9 Diagnosis kesehatan komunitas Alur penerapan kedokteran komunitas 1.2. diagnosis kesehatan komunitas 1.3 Evaluasi program kesehatan
1.4 Penerapan sistem rujukan
II Program penanggulangan dan penatalaksanaan masalah kesehatan yang tersering di masyarakat 2.1 Kematian ibu
2.2 Kematian bayi 2.3 Infeksi saluran nafas 2.4 Tuberklosis
2.5 Demam Berdarah Dengue 2.6 Malnutrisi
III Kesehatan Kerja
3.1 Ruang lingkup Kedokteran Okupasi 3.2 Langkah penegakan diagnosis okupasi
3.3 Identifikasi masalah kesehatan dan bahaya potensial dalam lingkungan 3.4 Penatalaksanaan masalah kesehatan dan bahaya potensial dalam lingkungan 3.5 Pelayanan asuransi penyakit akibat kerja, kecelakaan kerja, serta aspek medikolegalnya Modul - modul pilihan
1 Kesehatan Perkotaan (option) 1.1 Karakteristik perkotaan 1.2 Masalah kesehatan di perkotaan 1.3 Masalah kesehatan urban
1.4 Upaya kesehatan perkotaan dan urban 1.5 Aplikasi sistem pembiayaan kesehatan
2 Kesehatan Pedesaan, Daerah terpencil dan perbatasan (option) 2.1 Karakteristik pedesaan
2.2 Masalah kesehatan di pedesaan dan pemecahannya 2.3 Pendidikan kesehatan masyarakat desa
2.4 Lembaga kesehatan masyarakat desa 2.5 Aplikasi sistem pembiayaan kesehatan 3 Kesehatan Matra (option)
3.1 Pengertian kesehatan matra 3.2 Introduksi kedokteran penerbangan 3.3 Introduksi kedokteran kelautan 3.4 Kesehatan haji
3.5 Bahaya potensial akibat perubahan iklim
4 Penanggulangan dampak perubahan iklim global dan bencana alam 5 Kesehatan Wisata (option)
5.1 Pengertian, edukasi dan konseling kesehatan perjalanan 5.2 Peran kedokteran wisata dalam globalisasi
AD.3. PENERAPAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS DI KLINIK
I Mengelola penyakit, keadaan sakit dan masalah pasien sebagai individu yang utuh, bagian dari keluarga dan masyarakat
1. Identifikasi masalah atau fenomena
2. Faktor eksternal yang berhubungan dengan promosi dan pencegahan kesehatan di komunitas 2.1.2.1 Ekonomi 2.1.2.2 Sosial / pendidikan 2.1.2.3 Etnik / budaya 2.2.2.4 Hukum 2.2.2.5 Pelayanan Kesehatan 2.2.2.6 Lingkungan
3. Faktor internal yang berhubungan dengan promosi dan pencegahan kesehatan di komunitas di keluarga 2.1.3.1 Genetik 2.1.3.2 Sistem imun 2.1.3.3 Usia 2.2.3.4 Gender 2.2.3.5 Ras 2.2.3.6 Hormonial 2.2.3.7 Personal behavioral 4. Clinical reasoning
5. Analisis faktor biopsikososiokultural 6. Implementasi diagnosis banding 7. Prioritas masalah
8. Telaah evaluasi ilmiah untuk hasil yang diinginkan pada pasien 9. Telaah informasi keefektifan pembiayaan
10. Determinasi dan inisisasi penatalaksanaan 11. Evaluasi dan tindak lanjut
12. Aplikasi rujukan klinis
II Melakukan pencegahan penyakit (disease - doctor's aspect) dan keadaan Sakit (illness - patient's aspect) 1. Penegakan diagnosis holistic
2. Penatalaksanaan komprehensif (pembinaan keluarga: home visit, family conference), terpadu, bersinambung
3. Pencegahan dengan medikamentosa 4. Pencegahan dengan meningkatkan imunitas
5. Pencegahan dengan pendekatan lingkungan biopsikososioeknomikultural dan lingkungan fisik ( physical environment)
6. Perubahan perilaku kesehatan
7. Manajemen pelayanan pasien yang berkualitas (pengobatan rasional, patient safety, komunikasi) 8. Advokasi intervensi politis dan peraturan untuk meningkatkan kesehatan kelompok
III Penerapan biostatistik dan epidemiologi klinik
1. Penerapan konsep pengukuran pada praktik kedokteran 2.3.1.1 Tendensi angka tengah
2.3.1.2 Variabilitas, probabilitas dan distribusi 2.3.1.3 Skala pengukuran
2.3.1.4 Frekuensi penyakit
2.3.1.5 Angka kematian dan survival rate
2.3.1.6 Risiko relatif, odds rasio, angka kematian terstandar 2.3.1.7 Perbedaan risiko, attributable risk
2.3.1.8 Pensitifitas dan spesifisitas 2.3.1.9 Positif dan negatif value 2.3.1.10 Analisis keputusan
2. Interpretasi artikel kedokteran; rancangan penelitian
2.3.2.1 Percobaan klinik (clinical trial ), percobaan dengan intervensi komunitas (communitintervention trial)
2.3.2.2 Studi kohort, kasus-kontrol, potong-lintang, rangkaian kasus, survey komunitas 2.3.2.3 Kesesuaian subyek penelitian, pengambilan sampel
2.3.2.4 Kerugian berbagai rancangan penelitian 2.3.2.5 Jumlah sample (sample size)
2.3.2.6 Interpretasi artikel kedokteran; statistical inference 2.3.2.7 Penentuan hipotesa, pengujian hipotesa dan uji statistik 2.3.2.8 Kemaknaan statistik dan eror tipe I
2.3.2.9 Kekuatan statistik dan eror tipe II 2.3.2.10 Confidence Interval
3.3.3. Evidence based medicine in daily practice IV Berkomunikasi Pada Praktik Kedokteran
1. Anamnesis berpusatkan pada pasien 2. Menyampaikan kabar buruk 3. konseling individual 4. konseling keluarga
5. Berkomunikasi dengan sejawat dan petugas kesehatan lainnya 6. Rekam medic
7. Penggunaan teknologi informasi pada praktik 8. Edukasi pada pasien, keluarga dan masyarakat V
Mengelola sumber daya secara efektif dan efisien dalam pelayanan kesehatan primer dengan pendekatan kedokteran keluarga
1. Manajemen sumber daya manusia 2. Manajemen fasilitas, sarana dan prasarana
4. Manajemen sistem informasi 5. Manajemen pembiayaan/finance klinik
Lingkup bahasan
Lingkup bahasan
1. Dasar hukum kesehatan kerja
2. Penyakit akibat kerja/kecelakan kerja/penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan dan lingkungan kerja
3. Pelayanan kesehatan kerja (termasuk rehabilitasi,return to work ) 4. Keselamatan Kerja
5. Ergonomi 6. Gizi kerja
7. K3 di perusahaan formal, informal, danfasilitas kesehatan 8. Pembiayaan kesehatan dalam institusi kerja (BPJS ketenagakerjaan)
Metode
Metode pembelajar
pembelajaran
an
Kuliah
Kuliah
Kuliah diberikan untuk menjelaskan mengenai keseluruhan modul dan penyegaran/updatingmateri yang diperlukan dalam penyelesaian kepaniteraan ini.
Pembelajaran sendiri (Mandiri)
Pembelajaran sendiri (Mandiri)
Belajar mandiri diberikan kepada mahasiswa, terutama untuk mendalami kasus yang diterima dalam kepaniteraan, selain mempelajari materi kedokteran keluarga itu sendiri.
Studi kasus (
Studi kasus (
Case based studies
Case based studies
))
Belajar kasus penyakit akibat kerja (occupational disease)/kecelakaan kerja atau penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan (work related disease) di sektor formal maupun informal.
Survey Jalan-Sepintas (
Survey Jalan-Sepintas (
Walk-through Survey
Walk-through Survey
))
Metode ini adalah salah satu metode pengajaran dengan melihat/melakukan observasi pada suatu industri. Demi tercapainya tujuan pembelajaran, maka pelaksanaanwalk-through survey ini lebih cocok dilakukan pada sebuah industri formal. Tujuannya adalah mengajarkan bagaimana mengidentifikasi bahaya potensial pekerjaan. Hal ini dicapai dengan mengidentifikasi proses produksi serta material yang digunakan,
mengobservasi pabrik, dan membaca data-data sekunder terkait kunjungan ke klinik, diagnosis kasus, hasil pemeriksaan lingkungan dan lain-lain sesuai dengan pengamatan yang dilakukan.
Seminar (
Seminar (
plenary
plenary
))
Belajar mempresentasikan hasil kegiatan diagnosis penyakit akibat kerja/kecelakaan akibat kerja.
Lahan Pendidikan
Lahan Pendidikan
Sebagai tempat lahan pendidikan adalah Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Puskesmas sebagai
lahan kerja karena setelah lulus nantinya para dokter akan ditempatkan di Puskesmas atau di Rumah Sakit tipe C dan D.
Persyaratan Puskesmas sebagai tempat lahan pendidikan adalah:
1. Puskesmas Kecamatan menjalankan enam program dasar: KIA, KB, Kesehatan Lingkungan, Pengendalian Penyakit, Gizi, Pengobatan
2. Puskesmas yang mempunyai program tambahan Upaya Kesehatan Kerja
3. Ada dokter yang bekerja di dalamnya, baik struktural maupun fungsional.
4. Dokter yang bekerja di Puskesmas dan akan berfungsi sebagai perseptor mahasiswa sebaiknya sudah menjalani pelatihan perseptor dan sudah bekerja dua tahun di wilayah tersebut.
Evaluasi Peserta
Evaluasi Peserta
Untuk menilai hasil pembelajaran dilakukan dengan cara :
1. Pre test untuk menilai pengetahuan awal yang harus sudah diketahui/dipelajari 2. Menilai hasil diskusi kelompok skenario kasus yang diberikan sebelumnya 3. Post test perorangan dengan skenario kasus secara tertulis dan lisan
Komponen penilaian:
Komponen penilaian:
1. Pengetahuan (knowledge):
metode multiple choice question atau essay 2. Sikap profesional (attitude):
360 degree 3. Keterampilan (skill):
a. Laporan kasus b. Log book mahasiswa
d. Laporan walk – through survey
e. OSCE – kemampuan diagnosis penyakit akibat kerja/ kecelakaan kerja -f. Refleksi mahasiswa
Penilaian ini dapat dilakukan dengan cara :
1. Pre test dan post test untuk menilai pengetahuan awal yang harus sudah diketahui/dipelajari 2. Menilai hasil diskusi kelompok
3. Post test perorangan 4. Metode assessment portfolio:
a. Refleksi mahasiswa dari praktik lapangan: kesenjangan teori dan praktik, penyebab hal ini terjadi, materi yang belum diketahui dan apa yang akan dilakukan, feedback dari perseptor b. Mahasiswa diberi tugas untuk melakukan intervensi masalah kesehatan di komunitas
c. Bentuk komunikasi dengan petugas kesehatan dan masyarakat
d. Dinamika kelompok untuk menilai kerjasama, koordinasi dan partisipasi mahasiswa dalam kelompok maupun saat pembimbingan dengan preceptor
e. Laporan diagnosis plant survey f. Laporan studi kasus g. Laporan quality assurance h. Log book mahasiswa
Evaluator direncanakan dalam lingkup BKS IKM IKP IKK dengan membuat perencanaan bersama,
penyamaan persepsi evaluator, serta materi evaluasi.
Waktu pemberian
Waktu pemberian
Durasi modul serta penempatan modul dalam kurikulum adalah di bawah otoritas masing-masing fakultas kedokteran. Dalam beberapa pertemuan BKS IKM IKP IKK telah diidentifikasi variasi durasi kepaniteraan mulai dari lima minggu sampai 10 minggu. Pertemuan fakultas-fakultas kedokteran swasta se-Indonesia menyepakati waktu 10 minggu untuk kepaniteraan di dalam IKM IKP IKK, yang terbagi-bagi atas materi kedokteran keluarga, kedokteran okupasi, dan kedokteran komunitas.
Penempatan modul pun bervariasi, sebagian besar fakultas kedokteran menempatkan modul ini dalam rotasi tahun terakhir tanpa memperhatikan apakah mahasiswa sudah menyelesaikan rotasi di Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Kesehatan Anak, Obstetri dan Ginekologi, dan Ilmu Bedah.
Evaluasi Modul
Evaluasi Modul
Keberhasilan modul ini dinilai dari:
1. Ketepatan mahasiswa menyelesaikan modul serta perolehan nilai akhir, serta nilai per komponen. 2. Kesesuaian antara perencanaan dengan penyelenggaraan modul.
3. Komentar perseptor lapangan dan komentar dari penyelenggaraan Puskesmas/Klinik.
4. Komentar mahasiswa dalam penyelenggaraan kepaniteraan.
Daftar Pustaka
Daftar Pustaka
1. Soeripto, M.2008. Higiene Industri. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
2. Subaris, Heru.2008. Hygiene Lingkungan Kerja. Yogyakarta: Mitra Cendika Press. 3. Suma’mur.1994. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: CV Haji Masagung. 4. Suma’mur.1996. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: Toko gunung agung. 5. Wahyu, Atjo.2003. Higiene Perusahaan. Universitas Hasanuddin.
Lampiran 1 Kesehatan Kerja
Lampiran 1 Kesehatan Kerja
Kesehatan Kerja
Kesehatan Kerja
Novendy
Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakulatas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Pendahuluan
Pendahuluan
Kesehatan kerja merupakan satu tindakan yang mutlak harus dilakukan di dunia kerja oleh semua orang yang terlibat dalam tempat kerja baik pekerja, pemberi kerja, jajaran pelaksana, penyelia maupun manajemen, serta pekerja yang bekerja untuk diri sendiri. Hal ini dikarenakan bekerja adalah bagian dari kehidupan, dan setiap orang memerlukan pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, namun dalam melaksanakan pekerjaannya, berbagai risiko dan potensi bahaya di tempat kerja dapat menjadi ancaman bagi pekerja sendiri sehingga dapat menimbulkan cedera atau gangguan kesehatan. Potensi bahaya ditempat
kerja antara lain akibat proses kerja; penggunaaan bahan, alat dan mesin; perilaku kerja yang tidak sehat dan tidak aman; kondisi kerja yang tidak ergonomis; kebijakan perusahaan yang kurang kondusif bagi keselamatan dan kesehatan kerja. Pekerja yang terganggu kesehatannya baik karena kecelakaan kerja atau terserang penyakit dapat mengganggu kelancaran pekerjaan, sehingga dapat menyebabkan menurunnya produktivitas, jika berkelanjutan akan melemahkan daya saing perusahaan.
Kesehatan kerja menurut World Health Organization (WHO) dan International Labour Organization (ILO) adalah upaya mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan fisik, mental dan kesejahteraan sosial semua pekerja yang setinggi-tingginya . Fokus utama upaya kesehatan kerja adalah untuk mencapai tiga tujuan :
1. Pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan pekerja dan kapasitas kerjanya.
2. Perbaikan kondisi lingkungan kerja dan pekerjaan yang kondusif bagi keselamatan dan kesehatan kerja.
3. Pengembangan pengorganisasian pekerjaan dan budaya kerja ke arah yang mendukung keselamatan dan kesehatan kerja.
Selain itu, kesehatan kerja (occupational health) bertujuan agar pekerja selamat, sehat, produktif, sejahtera dan berdaya saing kuat, dengan demikian produksi dapat berjalan dan berkembang lancar berkesinambungan tidak terganggu oleh kejadian kecelakaan ataupun penyakit yang diderita pekerja yang
menjadikannya tidak produktif. Kecelakaan kerja dapat diminimalisasi kejadiannya dengan upaya
keselamatan kerja, sedangkan kesehatan pekerja dapat dijaga, dipelihara dan ditingkatkan melalui upaya kesehatan kerja.
Kesehatan kerja menurut Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, pasal 64 disebutkan bahwa kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan. Oleh sebab itu agar terciptanya lingkungan kerja yang kondusif dan pekerja yang sehat, diperlukan keberadaan pelayanan kesehatan kerja di tempat kerja.
Pelayanan Kesehatan Kerja
Pelayanan Kesehatan Kerja
Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No 1 tahun 1998, Pelayanan Kesehatan Kerja adalah usaha kesehatan yang bertujuan untuk :
a. Memberikan bantuan kepada tenaga kerja dalam penyesuaian diri baik fisik maupun mental, terutama dalam penyesuaianan pekerjaan atau lingkungan kerja.
b. Melindungi tenaga kerja terhadap setiap gangguan kesehatan yang timbul dari pekerja atau lingkungan kerja.
c. Meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental (rohani) dan kemampuan fisik tenaga kerja. d. Memberikan pengobatan dan perwatan serta rehabilitasi bagi tenaga kerja yang menderita sakit.
Pelayanan kesehatan kerja (Permenaker No.1 tahun 1998) meliputi :
a. Pemeriksaan kesehatan, kepada tenaga kerja yang meliputi pemeriksaan sebelum kerja, pemeriksaan berkala dan pemeriksaan khusus.
b. Pembinaan dan pengawasan atau penyesuaian pekerjaan terhadap tenaga kerja c. Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja.
d. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan kesehatan saniatair. e. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan kesehatan kerja.
f. Pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit umum dan penyakit akibat kerja g. Pertolongan pertama pada kecelakaan.
h. Pendididkan kesehatan kepada tenaga kerja dan latihan untuk petugas pertolongan pertama pada kecelakaan.
i. Memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja, pemeliharaan alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan makan di tempat kerja. j. Membantu usaha rehabilitasi akibat kecelakaan atau penyakit akibat kerja.
k. Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap tenaga kerja yang mempunyai kelainan tertentu dalam kesehatannya.
l. Memberikan laporan berkala tentang pelayanan kesehatan kerja kepada pengurus atau pimpianan perusahaan.
Fungsi dokter kesehatan kerja Fungsi dokter kesehatan kerja
Tugas seorang dokter kesehatan kerja adalah sebagai berikut :
1. Melakukan identifikasi aspek dan dampak di lingkungan kerja, sebagai dasar untuk menentukan faktor bahaya kesehatan dari lingkungan kerja.
2. Pelayanan kesehatan kerja, terhadap penyakit yang timbul pada pekerja, menentukan tingkat kesehatan pekerja, termasuk menentukan jenis pemeriksaan kesehatan yang perlu dilakukan bagi pekerja sesuai dengan lingkungan kerjanya.
3. Memberikan rekomendasi dalam penatalaksanaan penanganan penyakit yang berhubungan dengan jenis pekerjaannya.
4. Memberikan rekomendasi tentang pencegahan terhadap kondisi kesehatan pekerja berhubungan dengan kemungkinan timbulnya penyakit dan kecelakaan kerja.
5. Memberikan pendapat dalam menentukan jenis pemeriksaan lingkungan kerja dalam rangka pemantauan dampak kesehatan yang dibutuhkan untuk mengetahui tingkat bahaya di lingkungan
kerja.
6. Memberikan rekomendasi kepada pihak manajemen dalam penentuan disain di tempat kerja, investigasi dampak yang mungkin terjadi dari bentuk disain yang ada, dan evaluasi pencegahan terhadap dampak yang ditimbulkan dari disain kerja.
7. Memberikan panduan kepada pihak manajemen, pekerja dan bagian-bagian yang terkait dalam menerapkan lingkungan kerja yang aman dan sehat.
8. Melaksanakan program kesehatan yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. 9. Menginterpretasikan peraturan dan perundang-undangan kesehatan kerja yang dapat diterapkan
sesuai dengan kondisi dan jenis perusahaan.
10.Memberikan rekomendasi perbaikan atau pencegahan terhadap faktor-faktor bahaya di lingkungan kerja yang bersifat fisik, kimia, biologi, ergonomi dan psikologi.
11.Mengembangkan ilmu kedokteran dan kesehatan kerja sesuai dengan perkembangan kemajuan teknologi, perubahan-perubahan proses kerja di dalam perusahaan yang bertujuan untuk mencegah timbulnya penyakit dan kecelakaan akibat kerja.
Definisi Definisi
Kecelakaan kerja (Kepmenakertrans No. 609 tahun 2012) adalah kecelakaan yang terjadi berhubung dengan hubungan kerja, termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja, demikian pula kecelakaan yang
terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui.Penyakit akibat kerja menurut International Labour Organization (ILO) tahun 1998
yaitu penyakit yang memiliki penyebab yang spesifik atau berasosiasi kuat dengan pekerjaan, yang umumnya terdiri dari satu agen penyebab yang sudah diakui.
Penyakit akibat hubungan kejaadalah “penyakit yang mempunyai beberapa agen penyebab, dimana faktor pada pekerjaan memegang peranan bersama dengan faktor risiko lainnya dalam berkembangnya penyakit
yang mem punyai etiologi yang kompleks”.
Penyakit yang timbul karena hubungan kerja adalah penyakit yang timbul disebabkan karena pekerjaannya sendiri atau lingkungan tempat kerjanya.
Faktor yang mempengaruhi penyakit akibat kerja Faktor yang mempengaruhi penyakit akibat kerja
Secara garis besar, penyebab penyakit akibat kerja dapat dibagi menjadi 5 golongan, yaitu : 1. Faktor fisik
Pengaruh faktor fisik antara lain adalah: bising, suhu, vibrasi, radiasi pengion maupun non pengion, pencahayaan dan tekanan udara.
2. Faktor kimia
Bahan-bahan kimia yang dapat menyebabkan kelainan hingga timbulnya penyakit. Contohnya
antara lain adalah: debu, fume, uap, serta zat kimia lainnya. 3. Faktor biologi
Pajanan dari faktor biologi pada umumnya berupa makhluk hidup antara lain: bakteri, virus, jamur, parasit dan lainnya.
4. Faktor ergonomi (fisiologi)
Faktor ergonomi berkaitan dengan erat dengan ketidaksesuaian antara fungsi fisiologi, anatomi pekerja dengan desain alat maupun cara kerja.
5. Faktor psikososial
Hal-hal yang berkaitan dengan masalah psikososial diantaranya adalah akibat beban kerja yang terlalu berat, hubungan antar pekerja maupun pimpinan yang kurang baik, keadaan monoton dari pekerjaan tersebut dan lainnya.
Diagnosis okupasi Diagnosis okupasi
Dalam menganalisis atau menetapkan apakah penyakit akibat kerja atau penyakit akibat hubungan kerja diperlukan data pendukungan antara lain :
1. Data hasil pemeriksaan kesehatan awal (sebelum tenaga kerja dipekerjakan di perusahaan yang bersangkutan).
2. Data hasil pemeriksaan kesehatan berkala. 3. Data hasil pemeriksaan khusus.
4. Data hasil pengujian lingkungan kerja oleh Pusat Keselamatan dan Kesehatan Kerja. 5. Data hasil pemeriksaan kesehatan tenaga kerja secara umum di bagian tersebut 6. Riwayat pekerjaan tenaga kerja.
7. Riwayat kesehatan tenaga kerja. 8. Data medis/rekam medis tenaga kerja.
9. Analisis hasil pemeriksaan lapangan oleh Pengawas Ketenagakerjaan 10.Pertimbangan medis dokter pensehat.
Setelah data-data yang diperlukan didapatkan, maka untuk menentukan apakah hasil analisis merupakan suatu penyakit akibat kerja atau bukan dapat dilakukan dengan 7 langkah diagnosis penyakit akibat kerja, yaitu :
1. Tentukan diagnosis klinis 2. Apa pajanan yang ditemukan
3. Evidence based (secara teoritis)antara pajanan dengan penyakit yang ditimbulkan (diagnosis
klinis)
4. Apakah pajanan cukup menimbulkan penyakit (diagnosis klinis) ?
5. Faktor-faktor individu apa saja yang dapat mempengaruhi timbulnya penyakit (diagnosis klinis) ? 6. Apakah terpajan bahaya potensial yang sama di luar tempat kerja ?
7. Apa diagnosis klinis ini termasuk penyakit akibat kerja ? Bukan penyakit akibat kerja (diperberat oleh pekerjaan atau bukan sama sekali PAK atau butuh pemeriksaan lebih lanjut).
Gambar 1. Hubungan kesehatan kerja dengan produktivitas (Kamal,2011)
Daftar Daftar Pustaka Pustaka ::
1. Kamal K. Penerapan Kesehatan Kerja Praktis Bagi Dokter & Manajemen Perusahaan, Program Studi Kedokteran Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta : 2011.
Masalah kepemimpinan Masalah kepemimpinan :: Pelatihan Motivasi Efisiensi Spirit of group Tidak ada rekreasi
Faktor Psikologi : Faktor Psikologi :Konflik/Depresi
Masalah keluarga Masalah perorangan Hubungan yang tidak harmonis
Faktor Ergonomi : Faktor Ergonomi :
Perkerjaan yang tidak
sesuai kondisi fisik pekerja
Cara kerja Kurang istirahat Pekerjaan yang
berulang dan terus menerus
Gangguan Gangguan kesehtan dan kesehtan dankecelakaankecelakaan Kelelahan dan Kelelahan dan berkurangnya berkurangnya efisiensi kerja efisiensi kerja Faktor fisik : Faktor fisik : Suhu Bising Getaran mekanis / vibrasi Radiasi Tekanan Faktor biologi Faktor biologi : Bakteri Virus Jamur Parasit Faktor kimia : Faktor kimia : Debu Uap Fume Material B3 lainnya
Faktor lain yang Faktor lain yang berkaitan : berkaitan : Gizi Pekerja PRODUKTIFIA PRODUKTIFIA S S
2. Soemarko D.S, Sulistomo S.B. Tujuh Langkah Diagnosis Okupasi Sebagai Penentuan Penyakit Akibat Kerja. Edisi ke-2 Revisi. Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesi, Jakarta : 2014.
3. Suma’mur P.K. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (Hiperkes). Sagung Seto, Jakarta, : 2009.
4. Kurniawidjaja L.M. Teori dan Aplikasi Kesehatan Kerja. Ui-Press, Jakarta : 2011. 5. Permenaker No.1 tahun 1998
Lampiran 2 Keselamatan Kerja
Lampiran 2 Keselamatan Kerja
Keselamatan Kerja
Keselamatan Kerja
Cut Warnaini
Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Pendahuluan
Pendahuluan
Pada hakikatnya, semua orang yang berkerja berhak atas jaminan kesehatan dan keselamatan selama berada di tempat kerjanya. Adanya jaminan kesehatan dan keselamatan kerja akan meminimalisir risiko kerja dan meningkatkan produktivitas pekerja. Risiko kerja dapat timbul karena potensi bahaya alami
dari tempat kerja, bahan yang digunakan dalam proses kerja, ataupun karakteristik pekerjaan itu sendiri. Diantara sasaran upaya kesehatan dan keselamatan kerja adalah untuk menekan risiko cedera, kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat kecelakaan kerja baik dari angka kejadian maupun derajat keparahannya. Selanjutnya, upaya ini juga menyasar pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, kesejahteraan, dan kapasitas pekerja di lingkungan kerja dan peningkatan kualitas, efektivitas, dan efisiensi infrastruktur di tempat kerja.
Langkah-langkah upaya kesehatan dan keselamatan kerja antara laini mengidentifikasi potensi bahaya di tempat kerja, menilai derajat risikonya, memastikan terdapatnya standar keselamatan kerja yang
sesuai, melakukan monitoring dan penilaian berkala serta melakukan perbaikan berkesinambungan dan menyeluruh terhadap standar keselamatan kerja tersebut.
Secara umum, upaya kesehatan dan keselamatan kerja meliputi tiga hal pokok yaitu: identifikasi potensi bahaya di tempat kerja (hazard identification), penilaian risiko (risk assessment ), dan penanggulangan risiko (risk kontrol).
(Chambers, 2016)
Hazard identific
Hazard identification
ation
Hazard adalah suatu hal yang berpotensi menimbulkan bahaya bagi kesehatan dan keselamatan manusia. Dalam kaitan dengan kesehatan dan keselamatan kerja,hazard yang umum ditemukan di tempat kerja antara lain:
- Hazard fisik (suara bising, suhu ekstrim, radiasi, dll) - Hazard kimia (debu asbes, pestisida, dll)
- Hazard biologis (jamur, hama, penyakit menular, dll)
- Hazard ergonomis (repetisi, beban berat, posisi badan yang tidak baik dan monoton, dll) - Hazard psikologis (stress)
- Hazard keselamatan (terpeleset, tersandung, jatuh, tertimpa, kerusakan pada alat yang digunakan dalam bekerja, dll)
Dalam penilaian risiko suatu hazard di tempat kerja, pertama-tama yang dilakukan adalah mengidentifikasi aktivitas atau karakteristik pekerjaan, misalnya apakah pekerjaan melibatkan gerakan berulang yang monoton, apakah pekerjaan mengharuskan pekerja memposisikan tubuhnya dengan posisi
yang tidak umum, apakah pekerjaan melibatkan aktivitas fisik berat, dll. Dengan mengamati lingkungan tempat kerja juga dapat dinilai apakah terdapat pencahayaan yang cukup, apakahlayouttempat kerja cukup baik, apakah pekerja terpapar dengan suhu ekstrim saat bekerja, apakah pekerja memiliki rekan kerja atau bekerja sendiri dan dalam ruangan terbuka atau tertutup, apakah terdapat waktu istirahat yang cukup bagi pekerja, dll. Dapat dinilai juga apakah pekerjaan melibatkan bahan-bahan kimia atau mikroorganisme yang berbahaya, apakah terdapat radiasi yang timbul akibat pekerjaan tersebut, apakah pekerjaan melibatkan
mesin, apakah mesin tersebut mengeluarkan suara bising dan keras, menghasilkan gas buangan berbahaya, mengoperasikan lempeng pemotong tajam semi otomatis (masih memerlukan operator), mengeluarkan panas tinggi, dan lain-lain. Diamati juga apakah mesin tersebut dioperasikan dengan menggunakan bahan bakar alam atau listrik, apakah terdapat kabel-kabel listrik yang diletakkan tidak teratur di lantai ruang
kerja, apakah pekerjaan melibatkan pekerja berurusan dengan klien yang cenderung melakukan kekerasan fisik, dll. Perlu diamati juga apakah risikohazard tersebut terhadap pekerja dipengaruhi waktu atau kondisi tertentu. Setelah mengidentifikasi hazard dan risikonya tersebut, langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi siapa saja yang berpotensi terkena imbas akibat pekerjaan tersebut, termasuk di dalamnya rekan kerja, pengunjung, kontraktor, manajer, atau bahkan masyarakat umum. Setelah memprediksi berbagai hal yang telah disebutkan sebelumnya, langkah selanjutnya adalah memprediksi kemungkinan
buruk yang bisa terjadi serta apakah mekanisme kontrol terhadap hazard tersebut ada serta berjalan baik. Berikut contoh check list yang digunakan pada langkah identifikasi hazard berupa risiko pekerja terpeleset, tersandung, dan jatuh di tempat kerja:
(Worksafe ACT, 2016)
Risk assessment
Risk assessment
Secara definisi, risiko adalah konsekuensi logis yang sudah diprediksi sebelumnya baik dari segi angka kejadian maupun derajat keparahan dari suatuhazard dan apa yang diakibatkan olehnya. Maka setelah hazard dapat diidentifikasi, maka langkah selanjutnya adalahrisk aassessment atau penilaian risiko. Hal ini diperlukan untuk menilai dan mengelompokkanhazard berdasarkan derajat risikonya menjadi hazard signifikan atau risiko tinggi,hazard risiko sedang, danhazard risiko rendah. Hazard signifikan atau risiko tinggi adalah segala hal yang memiliki potensi membunuh atau menimbulkan kecacatan permanen bagi orang-orang yang berada di lingkungan kerja. Sementara hazard risiko sedang bermakna berpotensi
menimbulkan penyakit atau cidera serius yang menyebabkan kecacatan sementara danhazard risiko rendah berpotensi menimbulkan penyakit atau cidera ringan tanpa disertai kecacatan. Severity dari suatu hazard berdasarkan pengelompokkan tersebut akan menjadi panduan bagi assessor untuk mengusulkan langkah
kontrol yang tepat untuk meminimalisir risiko paparan, misalkan apakah dengan menggunakan atribut
proteksi diri saja maka pekerja sudah cukup terlindung atau tidak.
Risk Matrix Risk Matrix . .
(University of Sydney, 2016)
Risk control
Risk control
Penanggulangan risiko meliputi upaya-upaya berikut ini:
1. Administrative control bertujuan membatasi paparanhazard kepada pekerja tapi tidak meniadakan hazard tersebut dengan cara menetapkan prosedur kerja tertentu dan pengadaan pelatihan kepada pekerja yang tujuannya adalah untuk membatasi durasi, frekuensi, dan intensitas paparan suatu
hazard di tempat kerja. Kontrol ini dapat diimplementasikan dalam bentuk kebijakan, peraturan tertulis, standar prosedur kerja (SOP), protokol evakuasi, pengaturan jadwal kerja, pengatuan durasi kerja dan waktu istirahat, dll.
2. Engineering control adalah kontrol terhadap hazard pada sumbernya melalui intervensi atau modifikasi yang dilakukan terhadap lingkungan tempat kerja maupun pada pekerjaannya itu sendiri. Kontrol jenis ini memiliki potensi untuk mengeliminasi dan mengurangi paparan hazard di tempat kerja meskipun tanpa diiringi dengan perubahan perilaku orang-orang yang berada di tempat kerja tersebut, oleh karenanya kontrol ini merupakan kontrol lini pertama pada penanggulangan hazard di tempat kerja. Contoh dari kontrol ini diantaranya: penambahan ventilasi
kerja (assistive tools) misalnya saat bila menangani beban berat, metode basah untuk mengatasi debu industri, dll.
Salah satu contohnya adalah dengan cara eliminasi dan substitusi, yaitu kontrol dengan cara meniadakan sebagian atau seluruhnya benda atau metode kerja yang berpotensi menimbulkan kerugian bagi kesehatan dan keselamatan pekerja di tempat kerja atau menggantinya dengan alternatif yang memiliki risiko lebih rendah. Seperti mengganti atap asbes dengan atap tanah liat, mengganti bahan kimia yang udah terbakar menjadi yang lebih stabil terhadap suhu, dll. 3. Personal Protective Equipment (PPE) atau atribut proteksi diri. Ini adalah metode untuk mencegah
paparan hazard kepada pekerja dengan menggunakan atribut khusus yang dikenakan oleh pekerja, seperti penggunaan helm keselamatan, jaket atau rompi, sarung tangan, sepatu boot, apron atau celemek, masker hidung,earmuff , dan kaca mata.
Usaha pencegahan penyakit dan kecacatan akibat kerja
Usaha pencegahan penyakit dan kecacatan akibat kerja
Secara umum terdapat tiga langkah pencegahan untuk mengantisipasi suatu bahaya di tempat kerja: 1. Pencegahan primer, bertujuan untuk menghindari timbulnya penyakit atau cedera.
2. Pencegahan sekunder, bertujuan untuk mengidentifikasi dan menangani permasalahan kesehatan sedini mungkin, bahkan sebelum tanda-tanda penyakitnya muncul.
3. Pencegahan tersier, bertujuan untuk mencegah komplikasi dan kecacatan yang timbul akibat suatu penyakit atau cedera atau melalui suatu usaha rehabilitasi dan palliative.
Pencegahan primer pada level organisasi
Pencegahan primer pada level organisasi
1. Substitusi proses kerja yang bersifat membahayakan dengan proses kerja yang lebih aman. 2. Substitusi bahan/zat yang terlibat dalam proses kerja dengan bahan/zat yang lebih aman. 3. Pemasangan alat pengaman dan penerapanengineering kontrol.
Daftar Pustaka
Daftar Pustaka
Chambers. (2016). Hazard Analysis | Risk Assessment | Safety System | IT Risk Management . [online] Available at: http://www.chambers.com.au/glossary/hazard_analysis.php [Accessed 21 May 2016].
Chevron (2005). Hazard Identification Tool. [image] Available at: http://www.chevronpipeline.com/pdf/JobSafetyAnalysis.pdf [Accessed 21 May 2016].
European Strategic Safety Initiatives, (2009).Safety Management System and Safety Culture Working Group: Guidance on Hazard Identification. European Strategic Safety Initiatives (ESSI).
International Council on Mining & Metals (ICMM), (2009).Good Practice Guidance on Occupational Health Risk Assessment . London: ICMM.
Levy, B. (2011). Occupational and environmental health. New York: Oxford University Press.
Safe Work Australia, (2012). Australian Work Health and Safety Strategy 2012-2022. Canberra: Safe Work Australia.
University of Sydney, (2016). WHS CHECKLISTS & TEMPLATES - WHS - The University of Sydney. [online] Available at: http://sydney.edu.au/whs/activities/forms.shtml [Accessed 21 May 2016].
Work Safe ACT. (2016). Forms & Checklists: Slips, Trips, and Falls | WorkSafe ACT . [online] Available at: http://www.worksafe.act.gov.au/page/view/1432 [Accessed 21 May 2016].
Lampiran 3 K3
Lampiran 3 K3
Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Lukman Hilfi
Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung
A.
A. Kesehatan dan Keselamatan Kerja sektor Industri formal dan Informal (K3)Kesehatan dan Keselamatan Kerja sektor Industri formal dan Informal (K3) 1.
1. PendahuluanPendahuluan
Tenaga Kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.Kesehatan Kerja Menurut WHO/ILO (1995), Kesehatan Kerja bertujuan untuk peningkatan dan pemeliharaan derajat kesehatan fisik, mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jenis pekerjaan, pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan; perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari risiko akibat faktor yang merugikan kesehatan; dan penempatan serta pemeliharaan
pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya. Secara ringkas merupakan penyesuaian pekerjaan kepada manusia dan setiap manusia kepada pekerjaan atau jabatannya.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) juga merupakan salah satu bagian dari
kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan semua pekerjaan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan pekerja.Bahaya pekerjaan yang diakibatkan oleh kerja dapat bersifat akut atau kronis serta mempunyai efek yang membutuhkan waktu cepat atau lama, langsung maupun tidak langsung.
Menurut ILO, setiap tahun ada lebih dari 250 juta kecelakaan di tempat kerja dan lebih dari 160 juta pekerja menjadi sakit karena bahaya di tempat kerja. Data lain menunjukkan 1,2 juta pekerja meninggal akibat kecelakaan dan sakit di tempat kerja. Diperkirakan kerugian tahunan akibat kecelakaan kerja dan penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan di beberapa negara dapat mencapai 4 persen dari produk nasional bruto (PNB).
Kesehatan masyarakat kerja harus menjadi perhatian karena dapat menurunkan tingkat produktifitas.Sasaran kesehatan kerja yaitu mencakup para pekerja dan peralatan kerja di lingkungan
kerja.Penyakit akibat dampak pencemaran lingkungan maupun akibat aktivitas dan produk yang dihasilkan dari suatu industri terhadap masyarakat konsumen atau masyarakat luas dapat dicegah melalui upaya kesehatan pencegahan di lingkungan kerja masing-masing. Salah satu bentuk upaya kesehatan kerja yaitu
dengan adanya Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3), yaitu bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.
2.
2. Tujuan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)Tujuan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Tujuan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yaitu:
1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pekerja di semua lapangan pekerjaan ketingkat yang setinggi-tingginya, baik fisik, mental maupun kesehatan sosial.
2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan masyarakat pekerja yang diakibatkan oleh tindakan/kondisi lingkungan kerjanya.
3. Memberikan perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaanya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan olek faktor-faktor yang membahayakan kesehatan.
Tujuan Penerapan SMK3 yaitu:
1. Meningkatkan Efektifitas Perlindungan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Yang Terencana, Terukur, Terstruktur, Dan Terintegrasi;
2. Mencegah Dan Mengurangi Kecelakaan Kerja Dan Penyakit Akibat Kerja Dengan Melibatkan Unsur Manajemen, Pekerja/Buruh, Dan/Atau Serikat Pekerja/Serikat Buruh;
3. Menciptakan Tempat Kerja Yang Aman, Nyaman, Dan Efisien Untuk Mendorong Produktivitas. 4. Menempatkan Dan Memelihara Pekerja Di Suatu Lingkungan Pekerjaan Yang Sesuai Dengan
Kemampuan Fisik Dan Psikis Pekerjanya.
Kesehatan kerja mempengaruhi manusia dalam hubunganya dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya, baik secara fisik maupun psikis yang meliputi metode bekerja, kondisi kerja dan lingkungan kerja yang berpotensi menyebabkan kecelakaan, penyakit ataupun perubahan dari status kesehatan pekerja. Secara umum, ilmu kesehatan kerja mempelajari dinamika, akibat dan permasalahan yang diakibatkan oleh hubungan interaktif antara tiga komponen utama berikut:
1. Kapasitas kerja: Status kesehatan kerja, gizi kerja, dan lain-lain. 2. Beban kerja: fisik maupun mental.
3. Beban tambahan yang berasal dari lingkungan kerja antara lain:bising, panas, debu, parasit, dan lain-lain.
Bila ketiga komponen tersebut sesuai dengan standar maka status kesehatan kerja yang optimal dapat tercapai sehingga mengurangi dan atau menghilangkan terjadinya kecelakaan kerja di dalam area kerja.
3.
3. Hirarki pengendalian Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)Hirarki pengendalian Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Hirarki pengendalian merupakan dasar-dasar yang wajib diketahui oleh seorang petugas keselamatan ataupun orang-orang yang bertanggung jawab terhadap keselamatan pekerja di lingkungan kerja. Adapun hierarki pengendalian kesehatan dan keselamatan kerja (K3) yaitu sebagai berikut
1. Eliminasi (menghilangkan) adalah langkah pengendalian kecelakaan dengan cara menghilangkan sumber bahaya.
2. Subtitusi (mengganti) adalah langkah kedua yang dapat di ambil apabila langkah pertama menemui jalan buntu atau tidak dapat dilakukan. Subtitusi yaitu mengganti cara, peralatan, material, bahan dan
lain-lain dari suatu sumber bahaya dengan yang lebih aman.
3. Engineering (rekayasa) adalah melakukan suatu modifikasi atau rekayasa untuk menghilangkan atau menurunkan tingkat bahaya dan resiko dari satu sumber bahaya.
4. Administratif dalah langkah lanjutan yang merupakan pendukung langkah-langkah lainnya dalam hirarki pengawasan ini. Adapun contohnya yaitu sebagai berikut:
1. Standar Operasional Prosedur 2. Pemeliharaan Peralatan 3. Pengawasan Tempat kerja 4. Pelatihan
5. rambu, tanda bahaya 6. izin kerja
5. Alat Pelindung diri (APD) adalah langkah terakhir yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau mencegah sumber bahaya mencederai pekerja.
4.
4. Pelayanan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)Pelayanan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Pelayanan kesehatan yang dapat meningkatkan status kesehatan dan bagian dari kesehatan dan keselamatan kerja yaitu meliputi sebagai berikut:
1. Pelayanan preventif
Pelayanan ini diberikan guna mencegah terjadinya penyakit akibat kerja, penyakit menular dilingkungan kerja, meningkatkan kondisi pekerja dan mesin atau tempat kerja yang ergonomis, menjaga kondisi fisik maupun lingkungan kerja yang memadai dan tidak menyebabkan sakit atau mebahayakan pekerja. Kegiatan yang dapat dilakukan sebagai pelayanan preventif antara lain meliputi:
a. Pemeriksaan kesehatan yang terdiri atas:
• Pemeriksaan awal/sebelum kerja (Screening). • Pemeriksaan berkala.
• Pemeriksaan khusus. b. Pemberian vaksin untuk pekerja.
c. Pemeliharaan Kesehatan lingkungan kerja.
d. Menggunakan pelindung diri terhadap bahaya dari pekerjaan. e. Penyerasian manusia dengan mesin dan alat kerja.
f. Pengendalian bahaya lingkungan kerja agar ada dalam kondisi aman (pengenalan, pengukuran dan evaluasi).
2. Pelayanan promotif
Pelayanan promotif pada pekerja bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan keadaan fisik dan mental pekerja sehingga dapat meningkatkan etos kerja, efisiensi dan daya produktifitas pekerja. Kegiatan pelayanan promotif antara lain sebagai berikut:
a. Penyuluhan tentang kesehatan kerja dan lingkungan kerja. b. Perbaikan status gizi pekerja.
c. Konsultasi kesehatan dan psikologi. d. Olah raga, outbond atau gathering. 3. Pelayanan kuratif
Pelayanan kuratif merupakan pelayanan pengobatan terhadap tenaga kerja yang menderita sakit akibat kerja dan pengobatan untuk mencegah penularan penyakit di lingkungan kerja.Pelayanan ini diberikan kepada tenaga kerja yang sudah menunjukkan adanya gangguan kesehatan sehingga dapat mencegah komplikasi atau penularan.Kegiatan pelayanan kuratif diantaranya yaitu pengobatan terhadap penyakit umum dan pengobatan terhadap penyakit dan kecelakaan akibat
kerja.
4. Pelayanan rehabilitatif.
Pelayanan ini diberikan kepada pekerja karena penyakit parah atau kecelakaan parah yang telah mengakibatkan cacat, sehingga menyebabkan ketidakmampuan bekerja secara permanen, baik sebagian atau seluruh kemampuan bekerja yang baisanya mampu dilakukan sehari-hari. Kegiatannya antara lain meliputi:
a. Peningkatan program inklusi pada kecacatan akibat kerja.
b. Penempatan kembali tenaga kerja yang cacat sesuai keadaan dan kemampuan tenaga kerja. c. Rehabilitasi berbasis masyarakat.
5.
5. Bahaya di Lingkungan KerjaBahaya di Lingkungan Kerja
Beberapa bahaya di lingkungan kerja yaitu sebagai berikut: 1. Physical agent
Seperti : radiasi, debu, getaran, suara bising, suhu, pencahayaan, kelembaban 2. Biological agent
Mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, dan lain-lain) 3. Chemical agent
a. Ceramic: Feldspar (K 2OAl2O3.6SiO2), Silica (SiO2), Alumina (Al2O3). b. Acrylic(polimer dan monomer): Methyl metacrylate.
c. Gypsum: Kalsium sulfat hemihidrat (CaSO4)2H2O.
d. Logam: NiCr, CoCr, Orden (CuAl), Silver alloy, Paladium (Pd), Titanium (TiAlV), Berilium (Be), Platinum (Pt), Cuprum (Cu), Argentum (Ag), dan lain-lain.
e. Bahan abrasive: Al2O3 (alumina Oksida), Kapur/calcium carbonat (CaCO2), Silica dari alumina, Besi, cobalt, magnesim, dan lain-lain.
f. Cairan electrolit (H2SO4). g. Asap dari burn out manual. 4. Ergonomy
Ergonomi merupakan perpaduan ilmu-ilmu biologis, ilmu-ilmu teknik dan teknologi untuk mencapai penyesuaian satu sama lain secara optimal dari menusia terhadap pekerjaannya, yang manfaat dari padanya diukur dengan efisiensi dan kesejahteraan kerja. Ergonomi juga memperhatikan tentang perencanaan cara bekerja yang lebih baik meliputi tata kerja dan peralatannya.ergonomi di tempat kerja diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, produksitifitas
dan mengurangi beban kerja. 5. Psycological agent.
Tugas dan tanggung jawab pekerjaan, jabatan, beban kerja, keterampilan, dan lain-lainnya yang dapat meningkatkan stress psikologis.
Tabel 1. Kategori
Tabel 1. Kategori Potensi BahayaPotensi Bahaya KATEGORI
KATEGORI A A KATEGORI KATEGORI B B KATEGORI KATEGORI C C KATEGORI KATEGORI DD
Potensi bahaya yang menimbulkan risiko dampak jangka panjang pada kesehatan
Potensi bahaya yang menimbulkan risiko langsung pada keselamatan Risiko terhadap kesejahteraan atau kesehatan sehari-hari
Potensi bahaya yang menimbulkan risiko pribadi dan psikologis 1. Bahaya factor kimia
(debu, uap logam, uap)
2. Bahaya faktor biologi (penyakit dan gangguan oleh virus, bakteri, binatang dsb.) 3. Bahaya faktor fisik(bising, penerangan,
getaran, iklim kerja, jatuh) 1. Kebakaran 2. Listrik 3. Potensi bahaya Mekanikal (tidak 1. Air Minum 2. Toilet dan fasilitas
mencuci 3. Ruang makan atau
Kantin 1. Pelecehan, termasuk intimidasi dan pelecehan seksual 2. Terinfeksi HIV/AIDS 3. Kekerasan di tempat kerja
4. Cara bekerja dan bahaya factor
ergonomis (posisi bangku kerja, pekerjaan
berulang-ulang, jam kerja yang lama) 5. Potensi bahaya lingkungan yang disebabkan oleh polusi pada perusahaan di masyarakat adanya pelindung mesin) 4. Housekeeping (perawatan buruk pada peralatan) 4. P3K di tempat kerja 5. Transportasi 4. Stress 5. Narkoba di tempat kerja 6.
6. Alat Pelindung Diri (APD)Alat Pelindung Diri (APD)
Menurut hirarki upaya pengendalian diri (kontroling), alat pelindung diri sesungguhnya merupakan hirarki terakhir dalam melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja dari potensi bahaya yang kemungkinan terjadi pada saat melakukan pekerjaan, setelah pengendalian teknik dan administratif tidak mungkin lagi diterapkan. Ada beberapa jenis alat pelindung diri yang mutlak digunakan oleh tenaga kerja pada waktu melakukan pekerjaan dan saat menghadapi potensi bahaya karena pekerjaanya, antara lain seperti topi keselamatan, safety shoes, sarung tangan, pelindung pernafasan, pakaian pelindung, dan sabuk keselamatan. Jenis alat pelindung diri yang digunakan harus sesuai
dengan potensi bahaya yang dihadapi serta sesuai dengan bagian tubuh yang perlu dilindungi.
Sebagaimana tercantum dalam undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja, pasal 12 mengatur mengenai hak dan kewajiban tenaga kerja untuk mamakai alat pelindung diri. Pada pasal 14 menyebutkan bahwa pengusaha wajib menyediakan secara cuma-cuma sesuai alat pelindung diri yang diwajibkan bagi tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang lain yang memasuki tempat kerja tersebut, disertai dengan petunjuk yag diperlukan. Potensi bahaya yang kemugkinan terjadi di tempat kerja, dan yang bisa dikendalikan dengan alat pelindung diri adalah:
a. Terjatuh, terpeleset, kejatuhan benda, terantuk. b. Terpapar sinar dan gelombang elektromaknetik.
c. Kontak dengan bahan kimia baik padat maupun cair. d. Terpapar kebisingan dan getaran.
e. Terhirup gas, uap, debu, mist, fume, partikel cair.
f. Kemasukan benda asing, kaki tertusuk, terinjak benda tajam.
B.