POTRET KESEHATAN MASYARAKAT MUMUGU
3.1. Status Kesehatan
3.1.1. Kesehatan Ibu dan Anak 1. Pra Hamil
a. Remaja
Berdasarkan hasil pengamatan selama satu bulan lebih dan wawancara dengan beberapa informan, remaja (usia 10 tahun sampai 20 tahun) di Kampung Mumugu sama sekali belum mengenal apa itu kesehatan reproduksi. Ketidaktahuan mereka disebabkan selama ini tidak pernah ada yang memberitahukan mereka tentang kesehatan reproduksi, baik orang tua maupun petugas kesehatan. Sehingga kesehatan reproduksi bagi remaja sama sekali mereka tidak mengerti. Bukan hanya remaja yang tidak paham tentang kesehatan reproduksi, wanita dewasa dan sebagian besar masyarakat Mumugu juga sampai saat ini tidak mengerti akan hal tersebut.
Menstruasi oleh masyarakat setempat biasa disebut dengan istilah kain kotor. Namun demikian, istilah kain kotor yang menandakan bahwa seorang wanita sudah bisa bereproduksi tidak juga mereka ketahui. Istilah kain kotor itu sendiri dari mana didapat juga belum ada yang tahu. Menurut mereka itu sudah nama dari orang-orang terdahulu seperti yang diungkapkan salah satu remaja berikut :
“...kita tidak tahu kain kotor itu dari mana. Pokoknya kalo kita lagi....apa itu....ee...namanya sudah dapat kain kotor”
Di Kampung Mumugu sendiri, hampir sebagian besar remaja sudah memiliki pasangan hidup dan memiliki anak. Remaja perempuan 10 tahun berarti dia siap untuk kawin. Orang tua yang tidak mengerti tentang kesehatan reproduksi, kebanyakan menikahkan anaknya pada usia 10 tahun ke atas. Dengan menikahkan anaknya berarti orang tua akan mendapatkan mas kawin dari calon menantunya, hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh informan B sebagai berikut :
“Kalo di sini bayar ada, tapi klo tunangan tidak. Biasanya di sini, orang tua sama orang tua kasih cocok-cocok begitu. Ahh…saya punya anak nanti mau kasih sama yang ini punya anak begitu. Jadi nanti kalo dia sudah besar, sudah, langsung dia bayar harta, kasih kawin.”
Informan tersebut menambahkan untuk saat ini harta yang digunakan sebagai mas kawin adalah uang. Ini berbeda dengan waktu dulu. Kalau dulu harta yang dapat digunakan sebagai mas kawin adalah kapak, pakaian,
“Kalo harta, khusus untuk orang di sini tu, uang itu baru, tapi kalo yang lama, yang sudah biasa itu kampak, ada bia besar sekaali macam tempat di laut warna putih terus besar, terus sama pakaian, kalau sekarang minta uang kalo siput sudah tidak ada sekarang, itu semua sebagai mas kawin. Itu sudah mereka dianggap sebagai suami istri. Cuma begitu, kapan nikahnya dari belakang yang penting bayar itu dulu.”
Perkawinan usia remaja, membuat kampung Mumugu hampir tidak memiliki remaja yang belum kawin.Bagi sebagian masyarakat Mumugu kain kotor adalah sebuah penyakit dan
sebagiannya lagi menganggap itu hal yang biasa. Para remaja dan juga wanita dewasa di kampung Mumugu akan menggunakan celana pendek berlapis-lapis agar darah tidak sampai tembus ke celana yang berikutnya. Cara membersihkannya juga, dengan mandi dikali dan mencuci celana yang penuh darah kemudian mereka pakai lagi hingga kering di badan.
Dari keterangan beberapa pemilik kios yang ada di Kampung Mumugu Atas, hampir tidak pernah ada masyarakat yang membeli pembalut. Hal tersebut dibenarkan oleh informan B, tenaga kesehatan yang juga memiliki usaha kios ini menyebutkan bahwa bahwa selama ini perempuan yang ada dikampung ini rata-rata kurang mengerti tentang cara membersihkan diri ketika menstruasi. Mereka lebih cenderung memakai celana berlapis hingga darah tidak tembus ke celana dan terlihat orang lain. Hal ini lebih disebabkan pada kebiasaan mereka lakukan selama ini. Mereka saat ini belum terbiasa menggunakan pembalut sebagaimana yang dijual di kios-kios. Disamping karena faktor ketiadaan uang. Informan B juga menambahkan bahwa ada hal unik yang terjadi pada wanita-wanita di Kampung Mumugu yaitu menstruasi yang hampir bersamaan.
“....Perempuan disini kalau dapat kain kotor, bisa kompakkan...Tetapi saya juga heran, disini kok perempuannya kalau dapat kain kotor darahnya tidak pernah banyak. Hanya sedikit saja dan juga tidak sampai seminggu,”.
Sementara itu keterangan dari AM, informan yang juga berprofesi seorang dokter didapatkan informasi bahwa penyuluhan tentang kesehatan reproduksi bagi remaja di Kampung Mumugu selama ini belum pernah dilakukan. Petugas kesehatan yang berasal dari Puskesmas induk, Puskesmas yang dulunya membawahi Kampung Mumugu, belum pernah
melakukan sosialisasi tentang kesehatan reproduksi meskipun mereka mempunyai POA (Plan Of Actions) untuk itu, sebagaimana yang diungkapkannya sebagai berikut :
“....Mereka (masyarakat Kampung Mumugu) tidak mengerti tentang kesehatan reproduksi karena tidak ada sosialisasi yang dilakukan selama ini. Tetapi kita sendiri akan mencoba pelan-pelan memberitahukan kepada masyarakat tentang kesehatan reproduksi. Karena kita baru aktif bulan April dan masih melakukan observasi dulu, makanya kita pelan-pelan.”
Penyuluhan tentang KB, penggunaan alat kontrasepsi, menstruasi, mimpi basah, sunat, inses dan lainnya sama sekali belum pernah dilakukan oleh Puskesmas yang membawahi Kampung Mumugu saat itu. Sehingga di kampung ini hampir semua tidak mengerti tenang kesehatan.
Masyarakat disini kurang mengerti tentang hubungan sex, mereka menyebut hubungan sex dengan istilah baku naik dan
enak. Mimpi basah bagi kaum laki-laki mereka artikan sebagai mimpi setan. Kalau KB sendiri, sekarang sudah ada yang datang
suntik meski jumlahnya masih terbatas. Itupun kalau petugas yang memberi pengertian baru mereka ikut saja.
Masalah lain yang juga dihadapi oleh remaja di Kampung Mumugu adalah masalah gizi dan kebiasaan merokok. Kedua masalah ini sebenarnya tidak hanya dialami oleh remaja saja tetapi juga anak-anak.Merokok tidak hanya dilakukan oleh para orang dewasa. Remaja dan anak-anak juga sudah mulai biasa merokok. Kebiasaan merokok pada anak-anak di Kampung Mumugu tersebut kemungkinan besar disebabkan karena pengaruh dari orang tua, baik laki-laki maupun perempuan, yang hampir sebagian besar adalah perokok. Karena menurut Laventhal dan Cleraly dalam Cahyani (1995) disebutkan bahwa salah satu tahapan dalam perilaku seseorang anak mulai tidak
merokok hingga menjadi perokok aktif adalah tahap preparatory. Dalam tahap awal ini, seorang anak mendapatkan gambaran yang menyenangkan mengenai orang yang merokok dengan cara melihat, mendengar, atau dari hasil bacaan. Sehingga hal-hal tersebut menimbulkan minat untuk merokok.
Gambar 3.1.
Kebiasaan merokok di Kampung Mumugu tidak hanya pada orang tua tetapi juga pada remaja dan anak-anak.
Sumber. Dokumen Peneliti
Dalam hal pergaulan remaja, masyarakat masih menjaga tradisi dan adat bagi remaja wanita di kampungnya. Remaja wanita yang belum kawin tidak boleh jalan dengan sembarang. Termasuk jika laki-laki tersebut adalah saudara sepupu sekalipun. Jika ketahuan mereka jalan bersama, maka akan ada sanksi yang diberikan berupa denda adat dengan membayar harta berupa kapak batu dan uang senilai yang diminta oleh pihak perempuan. Remaja wanita yang belum kawin hanya boleh jalan dengan ibu dan saudara perempuannya serta adik laki-lakinya yang masih kecil. Mereka akan ikut orang tuanya (ibu) ke hutan untuk mencari makan dan juga mencari kayu bakar serta menjaga
adiknya. Anak perempuan di kampung Mumugu sangatlah dijaga ketat oleh keluarganya. Mereka sejak lahir sudah dijodohkan oleh orang tua dengan laki-laki yang dianggap mampu memberikan kehidupan dan harta yang banyak. Sehingga tidak diperbolehkan untuk menyukai atau berpacaran dengan laki-laki lain. dari informan A diketahui bahwa :
“Anak perempuan disini itu harta, sehingga harus dijaga baik-baik. Kalau mereka melanggar adat yang ada dan memilih untuk menikah dengan laki-laki lain, maka mereka tidak akan dianggap sebagai keluarga lagi dan harus pergi dari kampung ini.”
Sementara dari hasil wawancara dengan seorang remaja diketahui bahwa mereka tidak boleh jalan dengan laki-laki yang bukan saudara kandung.
“Kami disini masih takut dengan adat. Karena kita pu paitua(suami) itu nanti orang tua yang pilih. Kalau kita langgar berarti kita harus pergi dari kampung. Itu sudah jadi hukuman bagi orang yang melanggar.”
b. Pasangan Suami Istri Yang Belum Pernah Hamil
Setiap pasangan yang menikah tentu menginginkan hadirnya seorang anak dalam keluarga mereka. Pun demikian halnya dengan masyarakat Mumugu. Bagi masyarakat Mumugu, kehadiran seorang anak tidak hanya menambah lengkapnya keluarga, tetapi lebih dari itu mempunyai anak sama saja memiliki harta. Terutama jika anak mereka perempuan. Karena jika memiliki anak perempuan mereka bisa memilih laki-laki yang akan menjadi menantunya yang dapat memberikan mas kawin yang banyak.
Sehingga ada sebagian pasangan suami istri yang belum dikarunia anak akan meminta bantuan kepada Suster yang sudah lama bertugas di Mumugu untuk memberikan mereka obat yang
dapat membuat istrinya hamil. Tidak ada obat alam yang mereka gunakan untuk memperoleh keturunan.
Masyarakat sendiri tidak mengerti artinya mandul. Dari keterangan beberapa orang masyarakat diketahui bahwa jika pasangan mereka tidak memiliki anak, mereka akan langsung mencari pasangan lainnya atau mengambil anak dari saudara yang sudah memiliki banyak anak dan tidak sanggup untuk merawat anak.
Di Kampung Mumugu sendiri belum ada data pasangan yang menikah usia muda. Karena sistem pernikahan mereka masih menggunakan kawin adat dan tidak ada kawin gereja maupun catatan sipil. Sehingga dimanapun mereka berada baik di hutan maupun di kampung pernikahan adat bisa saja terjadi. Tidak ada pesta yang menandakan bahwa mereka sudah resmi menjadi suami istri. Hanya sebagian keluarga saja yang mengetahui bahwa mereka adalah pasangan. Tetapi dari beberapa wawancara dengan informan diketahui banyak pasangan suami istri usia muda di kampung ini.
Mereka yang sudah menikah dan masih memiliki orang tua wajib memberikan makan dan menafkahi orang tua serta keluarga mereka. Di dalam rumah, siapapun yang sudah berkeluarga dan dianggap mampu mencari makan serta berburu binatang dihutan wajib memberikan kehidupan bagi keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Makanan yang mereka makan harus sama-sama dan tidurpun tanpa ada sekat. Sehingga tidak ada perbedaan dalam satu rumah.
3.1.1.2. Hamil
a. Masa Kehamilan
Kehamilan merupakan hal yang lumrah bagi setiap wanita termasuk bagi masyarakat Kampung Mumugu. Masa kehamilan
atau hamil oleh masyarakat Mumugu disebut dengan istilah jak. Perempuan yang sedang jak bukanlah sebuah alasan untuk tidak bekerja. Tidak ada yang istimewa ataupun perlakuan yang berlebih dari pasangan atau keluarga mereka bagi ibu yang sedang jak. Aktifitas mereka sama saja dengan ibu yang tidak hamil dan wanita yang sudah mempunyai anak. Mereka masih terus melakukan pekerjaan-pekerjaan sebagaimana biasanya. Mencari sagu dihutan, mencari kayu bakar, mencari ikan di sungai, mendayung perahu.
Gambar 3.2.
Ibu hamil yang selesai mencari kayu bakardi hutan Sumber. Dokumen Peneliti
Hampir sebagian besar suami yang memiliki istri sedang hamil membiarkan istrinya mencari makan di hutan dan melakukan aktivitas biasa. Tugas sebagai seorang perempuan tetap dijalankan seperti biasa. Hanya sebagian kecil, suami yang mengerti dan menggantikan pekerjaan istri, ketika istrinya sedang jak.
Selama seorang ibu sedang hamil, maka ada beberapa jenis makanan yang menjadi pantangan atau pamali untuk dimakan. Bila dilanggar diyakini akan membawa permasalahan selama proses kehamilan dan persalinannya nanti. Pantangan makanan tersebut diantaranya adalah seperti tidak boleh makan buah rotan, karena rotan dianggap sebagi simbol tali. Jika seorang ibu hamil makan buah rotan maka janin yang dikandungnya diyakini akan meninggal karena terlilit tali pusat. Yang ke dua adalah pantang untuk makan buah merah. Sesuai namanya, buah merah ini bagi kepercayaan mereka melambangkan darah. Ibu hamil yang nekat mengkonsumsi buah merah, maka diyakini kelak saat proses melahirkan akan terjadi banyak pendarahan yang dapat berakibat pada kematian. Selanjutnya adalah tidak boleh makan buah pisang, jenis apapun. Karena menurut kepercayaan mereka pohon pisang merupakan tempat tinggal dan menjadi sarang dari kuntilanak. Makanan lain yang menjadi pamali adalah jenis ikan-ikanan, seperti ikan Kakap dan ikan Sembilan. Hal ini dilarang karena sudah menjadi adat turun temurun dan pantang untuk dilanggar oleh masyarakat. Hal tersebut sebagaimana yang diungkapkan oleh beberapa informan, salah satunya oleh informan GM sebagai berikut :
“Ya... pamali itu....tidak usah makan buah rotan, buah rotan kasih dia makan, karena dia tali tho, nanti dia lingkar di dalam, jadi dia tidak boleh. Kedua buah merah, buah merah tidak boleh karena darah banyak (pendarahan). Terus ikan kakap, ikan sembilan juga tidak boleh. Karena itu kita punya rahasia, kan adat tho?! tidak boleh, sudah turun temurun....pamali”
Hal tersebut juga dibenarkan oleh informan DM. Pria paruh baya yang juga sebagai tetua adat ini juga menambahkan bahwa selain makanan, ibu hamil juga dilarang untuk memasuki rumah adat jew karena dikhawatirkan roh orang yang sudah
meninggal dapat bersarang dalam kandungannya yang dapat menyebakan kematian pada janinnya.
Terkait pantangan makan, sebenarnya hal ini patut disayangkan. Karena pada saat seorang perempuan sedang hamil, tentu membutuhkan makan-makanan yang bergizi dalam jumlah yang cukup. Makanan jenis buah-buahan dan ikan-ikanan, tidak dapat dipungkiri tentu merupakan sumber vitamin, mineral, dan protein yang sangat dibutuhkan bagi seorang ibu yang sedang hamil. Disamping makan-makanan bergizi yang lain. Sebagai contoh buah merah, buah yang dalam nama latin disebut
Pandanus conoideus Lamk ini merupakan salah satu jenis
tanaman tradisional Papua yang memiliki banyak khasiat. Tanaman ini merupakan sumber nutrisi yang baik karena didalamnya banyak mengandung energi, lemak, alfa-karoten, beta-karoten, beta-kriptosantin, dan juga vitamin E. Buah merah juga berkahasiat sebagai penghambat sel kanker, penyakit malaria, dan juga menurunkan glukosa darah (Limbongan dan Malik, 2009)
Sementara itu menurut informan B, tenaga kesehatan yang berprofesi sebagai bidan di Kampung Mumugu, didapatkan informasi bahwa ibu hamil di Kampung Mumugu jarang sekali memeriksakan kehamilannya.Hal ini lebih disebabkan karena rendahnya kesadaran mereka dalam hal menjaga kesehatan terutama selama kehamilannya. Informan B juga menambahkan bahwa ibu hamil hanya mau datang untuk memeriksakan kehamilannya bila ada pembagian susu, kelambu, ataupun biskuit gratis dari pemerintah, sebagaimana yang diungkapkannya berikut ini :
“Oo….Klo untuk ibu hamil, klo cuma kita ajak biasa, dia tidak terlalu ini untuk periksa. Dia rutin, klo kita ada susu, ada kelambu, ada biscuit untuk ibu hamil, itu baru dia rutin datang untuk periksa.”
Tentu hal ini perlu menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Karena salah satu cara untuk menurunkan angka kematian ibu adalah dengan melakukan perawatan kehamilan. Perawatan atau pemeriksaan kehamilan oleh tenaga kesehatan yang dianjurkan pemerintah sebagaimana yang tertuang dalam Pedoman Pelayanan Antenatal dari Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik, Departemen Kesehatan RI (2007) adalah minimal 4 kali selama kehamilannya, dengan pola 1-1-2. Satu kali pada trimester pertama, satu kali pada trimester kedua, dan dua kali pada trimester ketiga. Dengan pemeriksaan kehamilan tersebut diharapkan dapat diketahui kondisi kesehatan ibu maupun janin yang dikandungnya. Sehingga bila terjadi masalah kesehatan, baik pada ibu maupun janin yang dikandung, dapat segera ditangani.
Selain itu selama pemeriksaan kehamilan tersebut, ibu juga akan diberi tablet tambah darah untuk menghindarkan ibu dari anemia. Sebagaimana diketahui bahwa sebagian besar kematian ibu selama kehamilan dan persalinan serta masa nifasnya disebabkan karena terjadinya perdarahan akibat adanya anemia maupun kekurangan energi kronis (Khan et al., 2006).
Kebiasaan kurang baik yang masih ditemukan pada ibu hamil di Kampung Mumugu adalah kebiasaan merokok. Mereka tidak bisa menghentikan kebiasaan merokoknya meskipun sedang hamil besar. Tentu hal ini akan berdampak kurang baik bagi janin yang dikandungnya. Ibu yang merokok pada saat hamil akan berisiko melahirkan bayi sebelum waktunya (prematur) yang akan mempunyai ukuran paru lebih kecil, bayi yang dilahirkan juga berisiko menderita mengi pada usia neonatus.Di samping itu asap rokok juga akan mengurangi fungsi paru bayi. Ibu yang merokok saat hamil juga menyebabkan bayi sudah mengalami obstrukti saluran napas derajat ringan pada saat usianya masih dalam hitungan hari (Siregar, 2000)
Gambar 3.3.
Seorang ibu yang tetap saja merokok meski dalam kondisi hamil besar Sumber : Dokumentasi Peneliti
b. Persalinan dan Nifas
Sebagaimana halnya kehamilan, proses persalinan ibu hamil di Kampung Mumugu juga merupakan hal yang biasa. Persalinan oleh masyarakat biasa disebut dengan istilah bongkar. Ibu hamil yang menunggu waktu bongkar, tidak pernah tahu kalau mereka sudah masuk waktu bongkar. Mereka tetap saja masih bekerja seperti biasa seperti mengangkat kayu bakar, ke sungai mencari ikan, maupun memangkur sagu di hutan. Para suami yang istrinya hamil, membiarkan istrinya tetap bekerja dan tidak pernah ada larangan apapun.
Sehingga tidak jarang, terjadi bongkar ketika sedang mencari sagu di tengah-tengah hutan yang jauh dari perkampungannya. Jika hal itu terjadi maka bongkar akan dilakukan disitu dan yang akan menolong adalah suaminya sendiri ataupun orang lain yang ada saat itu. Jika tidak ada masalah pada saat bongkar, misal perdarahan atau lilitan tali pusat, maka ibu dan janin akan lahir dengan selamat. Namun jika
terjadi masalah kesehatan, tentu tak dapat dihindarkan dari ancaman kematian baik pada ibu atau janin yang dilahirkan. Sebagaimana yang dialami oleh salah satu ibu berikut ini. Menurutnya, sudah kurang lebih dari bulan terakhir dirinya bersama ke dua kakak iparnya (laki-laki dan perempuan) pergi ke hutan untuk mencari makan. Sementara suaminya tidak ikut, karena sedang berada di Mimika. Saat pergi ke hutan tersebut, dirinya dalam kondisi hamil. Karena kegiatan mencari makan tersebut tidak sehari dua hari, bahkan berminggu-minggu atau dalam hitungan bulan, maka merekapun membangun bivak di hutan sebagaimana kebiasaan masyarakat yang lain. Ketika dalam bivak di hutan tersebut, si ibu ini mengalami kontraksi yang berujung pada keinginan untuk bongkar. Berhubung lokasi
bivak jauh dari perkampungan dan tidak memungkinkan untuk
perjalanan pulang, maka bongkar-pun dilakukan di tengah hutan.
Bongkar hanya ditolong oleh kakak ipar perempuannya yang
dibantu oleh kakak ipar laki-lakinya.
Setelah beberapa saat kemudian waktu bongkar-pun selesai. Namun sayang, bayi yang dilahirkannya tidak dapat diselamatkan. Bayi tersebut meninggal saat proses bongkar. Bayipun dikubur dekat bivak di tengah hutan. Rupanya tidak hanya bayinya yang mengalami masalah kesehatan. Si ibu tersebut juga mengalami masalah kesehatan, dirinya mengalami perdarahan, sehingga diputuskan untuk dibawa pulang.
Setelah melalui perjalanan selama 2 hari 2 malam, si ibu dan kedua kakak iparnya itupun sampai di kampung. Mereka pun langsung menuju ke Puskesmas untuk dirawat. Karena pendarahan yang dialami sebelumnya, kurangnya konsumsi makanan, serta perjalanan yang melelahkan, si ibu tersebut tiba di Puskesmas dengan kondisi yang memprihatinkan. Matanya cowong sekali, salah satu tanda kalau dirinya mengalami
dehidrasi berat. Tenaga kesehatan di Puskesmaspun segera pertolongan yang diperlukan.
Itu merupakan salah satu contoh kasus yang sering terjadi di Kampung Mumugu maupun daerah pedalaman Asmat yang lain, terkait dengan kehamilan dan persalinan. Mereka sering menjalani proses persalinan di tengah hutan dengan bantuan dan kondisi yang seadanya.
Gambar 3.4.
Seorang ibu yang habis melahirkan di hutan. Sumber : Dokumentasi Peneliti
Namun secara umum, tata cara persalinan masyarakat Kampung Mumugu dapat dikemukakan sebagai berikut. Ketika seorang ibu akan melahirkan, maka yang mempunyai peran untuk membantu proses persalinannya adalah dukun. Dukun yang dimaksud bukan merujuk seorang perempuan yang memang berprofesi sebagi dukun bayi sebagaimana kita ketahuipada umumnya. Tapi dukun yang dimaksud adalah mamak-mamak tua yang sudah pernah menolong ibu melahirkan. Dengan demikian jumlah dukun bayi dalam satu
kampung tidak hanya tetapi banyak. Sebagaimana yang diungkapkanoleh informan B berikut :
“Mamak-mamak yang tua-tua itu, sudah dianggap jadi dukun. Pokoknya kalau dia sudah pernah tolong ibu yang melahirkan, nanti ada yang melahirkan, dia dipanggil lagi.”
“Pokoknya banyak. Mamak-mamak yang sudah tua itu disebut dukun.”
Bila tidak ada dukun yang dapat membantu persalinan maka keluarga sendirilah yang akan membantu. Keluarga tersebut seperti ibu, saudara perempuan dan juga ipar perempuan. Kalaupun masih tetap tidak memungkinkan, maka sang suami sendiri yang akan membantu melahirkan seperti misalnya melahirkan ketika sedang di hutan sebagaimana contoh kasus diatas.
Ketika anak telah lahir maka tali pusat akan dipotong dengan menggunakan potongan pelepah daun sagu yang ditipiskan ataupun pecahan kulit siput. Mereka akan memotong tali pusat bayi yang baru lahir dengan ukuran yang cukup panjang