Nomphoboas yang Mengganas
di Mumugu
T u m a j i
Nurcahyo Tri Arianto
Amelia Rizky
dan Pemberdayaan Masyarakat Penulis
T u m a j i Nurcahyo Tri Arianto
Amelia Rizky Rachmalina Soerachman
Editor
Rachmalina Soerachman Desain Cover
Agung Dwi Laksono
Cetakan 1, November 2014 Buku ini diterbitkan atas kerjasama PUSAT HUMANIORA, KEBIJAKAN KESEHATAN
DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Badan Penelitan dan Pengembangan Kesehatan
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Jl. Indrapura 17 Surabaya
Telp. 031-3528748, Fax. 031-3528749 dan
LEMBAGA PENERBITAN BALITBANGKES (Anggota IKAPI)
Jl. Percetakan Negara 20 Jakarta Telepon: 021-4261088; Fax: 021-4243933
e mail: [email protected]
ISBN 978-602-1099-08-7
Hak cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apa pun, termasuk fotokopi, tanpa izin tertulis
Pelaksanaan riset dilakukan oleh tim sesuai Surat Keputusan Kepala Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Nomor HK.02.04/1/45/2014, tanggal 3 Januari 2014, dengan susunan tim sebagai berikut:
Pembina : Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
Penanggung Jawab : Kepala Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
Wakil Penanggung Jawab : Dr. dr. Lestari H., MMed (PH) Ketua Pelaksana : dr. Tri Juni Angkasawati, MSc Ketua Tim Teknis : dra. Suharmiati, M.Si
Anggota Tim Teknis : drs. Setia Pranata, M.Si
Agung Dwi Laksono, SKM., M.Kes drg. Made Asri Budisuari, M.Kes Sugeng Rahanto, MPH., MPHM dra.Rachmalina S.,MSc. PH drs. Kasno Dihardjo
Aan Kurniawan, S.Ant Yunita Fitrianti, S.Ant
Syarifah Nuraini, S.Sos Sri Handayani, S.Sos
dan Kab. Asmat
2. dr. Tri Juni Angkasawati, MSc : Kab. Kaimana dan Kab. Teluk Wondama
3. Sugeng Rahanto, MPH., MPHM : Kab. Aceh Barat, Kab. Kep. Mentawai
4. drs. Kasno Dihardjo : Kab. Lebak, Kab. Musi Banyuasin 5. Gurendro Putro : Kab. Kapuas, Kab. Landak
6. Dr. dr. Lestari Handayani, MMed (PH) : Kab. Kolaka Utara, Kab. Boalemo
7. Dr. drg. Niniek Lely Pratiwi, M.Kes : Kab. Jeneponto, Kab. Mamuju Utara
8. drg. Made Asri Budisuari, M.Kes : Kab. Sarolangun, Kab. Indragiri Hilir
9. dr. Betty Roosihermiatie, MSPH., Ph.D : Kab. Sumba Timur. Kab. Rote Ndao
Mengapa Riset Etnografi Kesehatan 2014 perlu dilakukan ?
Penyelesaian masalah dan situasi status kesehatan masyarakat di Indonesia saat ini masih dilandasi dengan pendekatan logika dan rasional, sehingga masalah kesehatan menjadi semakin komplek. Disaat pendekatan rasional yang sudah
mentok dalam menangani masalah kesehatan, maka dirasa perlu
dan penting untuk mengangkat kearifan lokal menjadi salah satu cara untuk menyelesaikan masalah kesehatan masyarakat. Untuk itulah maka dilakukan Riset Etnografi sebagai salah satu alternatif mengungkap berbagai fakta kehidupan sosial masyarakat terkait kesehatan.
Dengan mempertemukan pandangan rasional dan
indigenous knowledge (kaum humanis) diharapkan akan
menimbulkan kreatifitas dan inovasi untuk mengembangkan cara-cara pemecahan masalah kesehatan masyarakat. Simbiose ini juga dapat menimbulkan rasa memiliki (sense of belonging) dan rasa kebersamaan (sense of togetherness) dalam menyelesaikan masalah untuk meningkatkan status kesehatan di Indonesia.
Tulisan dalam buku seri ini merupakan bagian dari 20 buku seri hasil Riset Etnografi Kesehatan 2014 yang dilaksanakan di berbagai provinsi di Indonesia. Buku seri ini sangat penting guna menyingkap kembali dan menggali nilai-nilai yang sudah tertimbun agar dapat diuji dan dimanfaatkan bagi peningkatan upaya pelayanan kesehatan dengan memperhatikan kearifan lokal.
Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh informan, partisipan dan penulis yang berkontribusi dalam penyelesaian buku seri ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan-Kementerian Kesehatan
dapat tersusun beberapa buku seri dari hasil riset ini.
Surabaya, Nopember 2014
Kepala Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Badan Litbang Kementerian Kesehatan RI.
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1.2. Gambaran Umum Kabupaten Asmat 1.3. Gambaran Umum Distrik Sawa Erma 1.4. Tujuan Penelitian
1.5. Waktu Penelitian
1.6. Instrumen dan Cara Pengumpulan Data 1.7. Analisis Data
BAB 2 BUDAYA SUKU ASMAT DI KAMPUNG MUMUGU 2.1. Sejarah
2.2. Geografi dan Kependudukan 2.3. Pola Tempat Tinggal
2.4. Religi
2.4. Organisasi Sosial dan Kemasyarakatan 2.5. Pengetahuan
2.6. Bahasa 2.7. Kesenian
2.8. Mata Pencaharian 2.9. Teknologi dan Peralatan
BAB 3 POTRET KESEHATAN MASYARAKAT MUMUGU 3.1. Status Kesehatan v vii ix x 1 1 4 10 12 12 13 16 19 19 31 33 45 48 47 49 52 54 60 65 65
BAB 4 NOMPHOBOAS DI KAMPUNG MUMUGU 4.1. Sejarah Nomphoboas Di Kampung Mumugu 4.2. Nomphoboas Di Kehidupan Masyarakat Mumugu 4.3. Perilaku Masyarakat Untuk Pengobatan Nomphoboas 4.4 Pantangan dan Anjuran Bagi Penderita Nomphoboas 4.5 Pencegahan yang Dilakukan
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN INDEKS
GLOSARIUM DAFTAR PUSTAKA UCAPAN TERIMA KASIH
129 129 136 146 153 154 157 161 164 169 173
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1. Model Daftar Susunan Pegawai (DSP) Puskesmas di Daerah Terpencil
Tabel 4.1. Jenis obat kusta berdasarkan tipe kusta dan usia penderita
121
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1. Jumlah penderita kusta di Kab. Asmat tahun 2010-2012
Gambar 1.2. Peta Wilayah Kabupaten Asmat
Gambar 1.3. Ruas jalan yang berupa papan (kiri) dan beton (kanan).
Gambar 1.4. Pesawat AMA yang melayani penerbangan Timika–Asmat
Gambar 1.5. Rumah dan jalan yang dibangun di atas papan Gambar 1.6. Peta Wilayah Distrik Sawa Erma
Gambar 1.7. Kantor Distrik Sawa Erma
Gambar 2.1. Dermaga fery, jaringan listrik, hotel, dan motor elektrik di Agats.
Gambar 2.2. Kelangkaan batu di Mumugu Bawah (kiri) dan Batu yang dengan mudah ditemukan di Mumugu Atas (kanan).
Gambar 2.3. Pelabuhan sungai di Batas Batu
Gambar 2.4. Salah satu alat transportasi untuk ke Mumugu Gambar 2.5. Truk yang kesulitan melewati tanjakan
Gambar 2.6. Rumah tradisional orang Mumugu yang telah ditinggalkan
Gambar 2.7. Perumahan Kampung Mumugu Bawah. Gambar 2.8. Denah pemukiman kampung Mumugu Atas. Gambar 2.9. Perumahan Kampung Mumugu Atas.
Gambar 2.10. Rumah Jew Kampung Mumugu Bawah (kiri) dan Kampung Mumugu Atas (kanan)
3 6 7 9 10 11 12 25 29 30 32 32 34 35 36 37 38
Gambar 2.13. Bivak sebagai tempat tinggal sementara di hutan
Gambar 2.14. Inkulturasi gereja (kiri) dan Tungku beserta Patung Bis dalam gereja (kanan)
Gambar 2.15. Got depan rumah yang digunakan untuk mandi lumpur (kiri) dan seorang kakek yang mengantar
cucunya ke pemakanan setelah menjalani ritual mandi lumpur (kanan).
Gambar 2.16. Seorang bujang memanen Etnikn (kiri) dan Bujang sedang membuat perahu kayu (kanan) Gambar 2.17. Gedung Sosial milik kampung yang
dimanfaatkan sebagai tempat sekolah
Gambar 2.18. Salah satu masyarakat yang terkena cascado Gambar 2.19. Wilayah Kepulauan Melanesia
Gambar 2.20. Variasi Bahasa Asmat
Gambar 2.21. Hasil seni ukir dan pahat Etnik Asmat yang di pajang di Museum Asmat
Gambar 2.22. Aktivitas masyarakat Kampung Sawa yang sedang membuat patung
Gambar 2.23. Kayu yang ditumbangkan sebagai jalan setapak.
Gambar 2.24. Aktivitas masyarakat yang sedang memangkur sagu.
Gambar 2.25. Ulat sagu yang biasa dikonsumsi masyarakat Gambar 2.26. Salah satu pekerjaan masyarakat menjadi kuli
angkut
Gambar 2.27. Kegiatan pembagian dana respek
Gambar 2.28. Perahu kecil (cole) yang biasa dipergunakan Gambar 2.29. Salah satu kios yang ada di Mumugu Atas Gambar 3.1. Kebiasaan merokok di Kampung Mumugu tidak
42 43 45 46 48 49 51 51 53 54 55 56 58 59 60 61 63 69
Gambar 3.2. Ibu hamil yang selesai mencari kayu bakardi hutan
Gambar 3.3. Seorang ibu yang tetap saja merokok meski dalam kondisi hamil besar
Gambar 3.4. Seorang ibu yang habis melahirkan di hutan. Gambar 3.5. Tali pusat yang baru saja dipotong relatif
panjang lalu hanya digulungkan saja
Gambar 3.6. Seorang ibu yang sedang menyusui di dalam kamar yang juga diberi tungku sebagai penghangat ruangan
Gambar 3.7. Anak-anak dengan perut yang buncit Gambar 3.8. Anak-anak Mumugu yang sedang bermain
lempar karet.
Gambar 3.9. Seorang ibu yang tidur dekat tungku api menunggu saat-saat melahirkan.
Gambar 3.10. Penimbangan badan (kiri) dan pemberian vaksin (kanan) pada kegiatan Posyandu perdana di Puskesmas Mumugu
Gambar 3.11. Seorang ibu yang merokok di depan bayi yang baru dilahirkannya
Gambar 3.12. WC umum yang dibangun oleh pemerintah Gambar 3.13. Seorang anak sedang buang air besar di sekitar
rumah.
Gambar 3.14. Kondisi rumah salah seorang warga yang hampir tidak pernah dibersihkan.
Gambar 3.15. Buah Rotan yang biasa dikonsumsi masyarakat. Gambar 3.16. Seorang Ibu yang sedang mencari kangkung
yang tumbuh liar
Gambar 3.17. Seorang ibu yang merokok sambil menggendong bayi 72 76 78 80 82 85 86 88 91 94 97 98 100 101 102 104
Gambar 3.18. Seorang Ibu yang sedang mengambil air kolam untuk mencuci dan mandi
Gambar 3.19. Kondisi air sumur yang ada di masyarakat Gambar 3.20. Penampungan air hujan milik salah seorang
masyarakat
Gambar 3.21. Posisi tempat tidur yang berdekatan dengan tungku api
Gambar 3.22. Puskesmas Mumugu
Gambar 3.23. Pasien luka bakar pada kedua kakinya akibat tersiram minyak panas sehingga perlu rawat inap. Gambar 3.24. Luka bekas jesmak pada orang dewasa (kiri)
dan bayi (kanan)
Gambar 4.1. Mycobacterium leprae
Gambar 4.2. Penderita kusta yang memiliki gejala (mulai dari kiri atas, searah jarum jam) bercak kemerahan, bercak keputihan, Ulkus, dan mutilasi jari
Gambar 4.3. Salah satu penderita kusta di Mumugu yang masih berusia 10 tahun
Gambar 4.4. Penderita kusta yang telah mengalami mutilasi jari tangan dan kaki.
Gambar 4.5. Penderita kusta yang tinggal serumah dengan keluarga yang lain.
Gambar 4.6. Kemasan (blister) obat kusta Tipe PB Dewasa Gambar 4.7. Satu blister obat kusta tipeMB (anak-anak) yang
dibuang meski belum habis diminum.
107 108 110 112 119 122 126 133 138 139 142 145 148 150
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Penyakit Kusta merupakan penyakit kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Bakteri yang berbentuk batang panjang, sisi pararel dengang ujung bulat, ukuran 0,3–0,5 mikron (µ) x 1–8 mikron (µ) ini ditemukan pertama kali pada tahun 1873. Penularan kuman kusta terjadi melalui saluran pernapasan bagian atas dan melalui kontak kulit. Untuk membelah diri, mycobacterium leprae memerlukan waktu 12-21 hari dan masa tunasnya rata-rata 2-5 tahun. Mycobacterium
leprae menyerang system syaraf perifer, kulit, dan jaringan
tertentu lainnya. Sebagai penyebab penyakit kusta,
mycobacterium leprae dapat mengakibatkan deformitas yang
luas dan permanen pada kulit dan syaraf perifer sehingga dapat timbul kecacatan yang berat dan bersifat irreversible. Penyakit kusta dapat menyerang semua orang. Namun laki-laki lebih banyak terkena dibandingkan dengan wanita, kecuali di Afrika yang kondisinya justru sebaliknya. Dari segi umur, penyakit kusta dapat menyerang semua umur, namun frekuensi terbanyak adalah pada usia muda dan produktif (Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, 2012).
Menurut data terlapor di World Health Organization (WHO) seperti yang dikutip dalam Buku Pedoman Nasional Program Pengendalian Penyakit Kusta yang diterbitkan oleh
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan (2012) menyebutkan bahwa penyakit kusta tersebar di seluruh dunia dengan komposisi terbanyak di regional Asia Tenggara, kedua regional Amerika, dan ketiga regional Afrika. Tiga negara yang memiliki penderita kusta terbanyak di dunia adalah India, Brazil, dan Indonesia. Pada tahun 2011, penemuan kasus baru penderita penyakit kusta di India mencapai 127.295 kasus, di Brazil 33.955 kasus, dan di Indonesia 20.023 kasus.
Selain data jumlah penemuan kasus baru, juga terdapat data jumlah kasus kusta terdaftar (prevalensi). Menurut data dari Diretorat Jenderal Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan (2012) menyebutkan bahwa penderita kusta di Indonesia pada tahun 2011 tercatat sebanyak 23.169 orang. Jumlah ini jauh meningkat bila dibanding jumlah penderita pada tahun 2005 (21.537 orang) maupun tahun 2000 (17.539 orang). Disamping itu, kecacatan (cacat tingkat 2) yang ditimbulkan akibat penyakit kusta semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2011, terdapat 2.025 penderita penyakit kusta yang mengalami cacat tingkat 2. Lebih tinggi dibanding tahun 2005 (1.722 orang) dan 2000 (1.231 orang).
Hal ini tentu akan menjadi masalah yang serius. Tidak hanya dari segi medis karena merupakan penyakit yang menular, tetapi lebih dari itu penyakit kusta akan menimbulkan masalah baik dari segi sosial, ekonomi, budaya, maupun keamanan dan ketahanan nasional. Hingga saat ini masih ada stigma negatif di masyarakat tentang penyakit kusta. Masyarakat menganggap bahwa penyakit kusta merupakan penyakit kutukan, dosa, guna-guna, makanan, atau keturunan. Sehingga penderita penyakit kusta menderita tidak hanya karena penyakitnya saja tetapi juga menderita secara sosial karena dijauhi dan dikucilkan oleh masyarakat atau bahkan oleh keluarganya sendiri.
Penyakit kusta tersebar di hampir seluruh propinsi yang ada di Indonesia. Lima propinsi dengan penemuan kasus penderita kusta terbanyak pada tahun 2011 adalah Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Papua, dan Sulawesi Selatan. Di Propinsi Papua, jumlah penemuan kasus baru penderita penyakit kusta pada tahun 2011 mencapai 1.515 kasus dengan insiden rate (IR) mencapai 50,8/100.000 penduduk. Jumlah IR tersebut jauh diatas IR penemuan kasus baru penyakit kusta nasional yang ‘hanya’ 8,3/100.000 penduduk (Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, 2012).
0 100 200 300 400 500 600 700 2010 2011 2012 29 399 640 Ju m la h Tahun Gambar 1.1.
Jumlah penderita kusta di Kab. Asmat tahun 2010-2012 Sumber : Bappeda dan BPS, 2013
Di Propinsi Papua, penderita penyakit kusta tersebar di seluruh kabupaten/kota. Salah satu kabupaten dengan jumlah penyakit penyakit kusta yang masih cukup tinggi adalah Kabupaten Asmat. Pada tahun 2012, jumlah penderita penyakit kusta di Kabupaten Asmat mencapai 640 orang. Jumlah ini dua kali lipat lebih banyak dibanding tahun 2011 (lihat gambar 1.1).
Dari 640 penderita penyakit kusta tersebut, 619 diantaranya berada di wilayah Distrik Sawa Erma (Bappeda dan BPS, 2013). Salah satu kampung di Distrik Sawa Erma yang memiliki penderita penyakit kusta cukup banyak adalah Kampung Mumugu. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Papua, saat ini terdapat lebih dari 150 penderita penyakit kusta ditemukan di kampung tersebut (www.Republika.co.id/berita/nasional/ 14/04/18/n478z8-ratusan-penderita-kusta-ditemukan-di-asmat). Hal ini tentu sangat mengejutkan, karena jumlah penduduk di kampung tersebut hanya berkisar 300 orang saja. Ini artinya setengah dari penduduknya (atau bahkan lebih) mengidap penyakit kusta. Mengetahui kondisi tersebut, menteri kesehatan lantas menyempatkan diri untuk mengunjungi kampung Mumugu lebih tepatnya di Kampung Mumugu Atas. Bahkan hingga 2 kali kunjungan, tepatnya pada bulan Januari 2013 dan April 2014.
Berdasarkan uraian masalah tersebut diatas maka diperlukan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi penyebab tingginya penderita penyakit kusta di Kampung Mumugu, khususnya faktor yang terkait dengan budaya masyarakat setempat.
1.2. Gambaran Umum Kabupaten Asmat
Kabupaten Asmat merupakan salah satu kabupaten dari 29 kabupaten/kota yang ada di Propinsi Papua. Sebelumnya daerah ini merupakan bagian dari Kabupaten Merauke. Namun sejak tahun 2002, memisahkan diri menjadi sebuah kabupaten baru, yaitu Kabupaten Asmat dengan ibukota di Agats. Dari Buku Asmat Dalam Angka 2013 yang dikeluarkan oleh Bappeda dan BPS Kabupaten Asmat diketahui bahwa Kabupaten Asmat memiliki luas wilayah 23.746 km2. Terletakdi bagian Selatan Provinsi Papua tepatnya antara 137030’– 139090’ Bujur Timur
(BT) dan 4 40’–6 50’ Lintang Selatan (LS). Kabupaten Asmat berbatasan di sebelah Utara dengan Kabupaten Nduga dan Yahukimo, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Mappi dan Laut Arafura, sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Mimika dan Laut Arafura, serta sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Mappi dan Boven Digoel.
Topografi Kabupaten Asmat umumnya adalah dataran dengan kemiringan 0–8 persen serta memiliki ketinggian antara 0–100 meter diatas permukaan laut (mdpl). Daerah bergelombang dan berbukit berada di wilayah bagian Utara mulai Barat sampai Timur tepatnya dari Distrik Sawa Erma di bagian Barat sampai Distrik Suator di bagian Timur. Pada daerah dataran rendah dan berawa dialiri oleh sungai-sungai besar seperti Sungai Siretz (panjang 517,5 km), Jats (200 km), Pomats (152 km), Unir (127,5 km) dan Asswet (122 km), serta sungai-sungai besar lainnya yang memiliki panjang sampai puluhan kilometer. Kabupaten Asmat beriklim tropis dengan curah hujan dalam setahun rata-rata 3000–4000 mm dengan temperatur udara antara 17–260C.
Saat ini Kabupaten Asmat terbagi menjadi 19 distrik (kecamatan) yang mencakup 221 kampung (desa) dan masing-masing kampung dikepalai oleh seorang kepala kampung. Selain itu, hampir disetiap kampung juga terdapat “tua adat” yaitu orang yang mengerti tentang adat setempat. Penduduk Asmat terbagi menjadi 12 rumpun Etnik. Kedua belas rumpun Etnik tersebut adalah Joirat, Emari, Ducur, Bismam, Becembub, Simai, Kenekap, Unir Siraw, Unir Epmak, Safan, Armatak, Brasm, dan Yupmakcain. Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, pada tahun 2013 Kabupaten Asmat dihuni oleh 104.299 jiwa. Jumlah yang masih relatif sedikit bila dibandingkan dengan luas wilayah kabupaten.
Gambar 1.2.
Peta Wilayah Kabupaten Asmat Sumber: Bapeda Kabupaten Asmat, 2014.
Tingkat kepadatan penduduk hanya sekitar 4,4 jiwa/km2. Persebaran pendudukpun belum merata. Penduduk hanya terkonsentrasi di pusat pemerintahan baik di kota maupun di distrik.
Dari segi infrastruktur kesehatan dan pendidikan, Kabupaten Asmat saat ini memiliki 1 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), 13 Puskesmas yang terdiri dari 11 Puskesmas perawatan dan 2 Puskesmas non perawatan. Terdapat 141 Sekolah Dasar (SD), 12 Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan 5 Sekolah Menengah Umum (SMU) baik swasta maupun negeri.
Gambar 1.3.
Ruas jalan yang berupa papan (kiri) dan beton (kanan). Sumber: Dokumentasi Peneliti.
Mengingat sebagian besar wilayah Asmat dialiri sungai-sungai besar maka tak heran bila sebagian besar orang Asmat menggunakan sungai sebagai jalur transportasi. Sehingga wajar bila jalan darat yang ada di Kabupaten Asmat relatif masih belum mencukupi bila dibanding dengan luas wilayahnya. Saat ini, jalan darat yang sudah dibangun sepanjang 167.418,34 km. Sebagian besar jalan tersebut merupakan jembatan kayu yang ditata sedemikian rupa dengan lebar antara 1–2meter (94.323,34 km); sedangkan sebagian kecil berupa tanah (71.091 km), baja komposit (1.112 km), dan jembatan beton (892 km).
Wilayah Asmat dapat dijangkau dari Timika atau Merauke dengan dua sarana transportasi berbeda, yaitu kapal laut mupun pesawat udara. Tidak ada jalan darat dari suatu tempat yang bisa ditempuh supaya dapat sampai di Kabupaten Asmat. Ada dua kapal laut yang secara regular singgah di dermaga feri Agats yaitu KM. Kelimutu dan Tatamalau. Rute pelayaran kedua kapal tersebut adalah Manado, Sorong, Kaimana, Tual, Timika, Agats, Merauke, dan sebaliknya. Perjalanan kapal laut dari Timika menuju Agats menempuh sekitar 12 jam pelayaran dengan harga tiket kelas ekonomi sekitar Rp. 115.000,00. Sedangkan bila
ditempuh dari Merauke memerlukan waktu sekitar 36 jam pelayaran dengan harga tiket kelas ekonomi sekitar Rp. 200,000,00. Kapal-kapal perintis atau speed boat adalah alternatif lain dalam mencapai wilayah Asmat dalam keadaan mendesak. Namun hal itu menimbulkan risiko yang sangat berat, gelombang pasang dan kerusakan mesin dapat berakibat fatal.
Sarana lain yang dapat digunakan untuk menjangkau wilayah Asmat ialah dengan menggunakan pesawat udara. Bandara Ewer sebagai pintu gerbang utama merupakan landasan pacu yang berperan sangat penting dalam rangka mobilitas penduduk. Pesawat udara yang secara regular melayani penerbangan tujuan ke Bandara Ewer adalah Trigana Air, AMA air, dan Susi Air. Pesawat Trigana dan AMA berangkat dari Bandara Mozes Kilangin Timika, sedangkan Susi Air berangkat dari Bandara Mopah Merauke. Trigana Air melayani penerbangan setiap hari Rabu dan Kamis, AMA Air melayani penerbangan setiap hari Selasa dan Jumat, dan Susi Air melayani penerbangan setiap hari sabtu. Namun cuaca buruk, kerusakan pesawat, tenggelamnya permukaan landasan pacu bandara akibat air pasang ataupun perubahan rute penerbangan tujuan lain adalah persoalan yang dapat membatalkan jadwal penerbangan ke Ewer.
Jarak dari Timika ke Ewer dapat ditempuh kurang lebih dalam waktu 45 menit penerbangan. Adapun harga tiket selalu mengalami fluktuasi, sangat tergantung kepada jumlah penduduk yang berkepentingan melakukan mobilitas. Setiap minggu jumlah mobilitas selalu lebih tinggi dari kapasitas daya tampung pesawat. Sehingga harga tiket meningkat mengikuti kebutuhan pasar. Harga tiket Timika–Ewer atau sebaliknya dengan Trigana berkisar antara Rp.300.000–Rp.800.000, Sedangkan dengan AMA sekitar Rp. 1.300.000. Sementara bila menggunakan Susi Air yang
terbang dari Merauke harga tiketnya sekitar Rp.350.000– Rp.1.000.000 dengan lama perjalanan sekitar 1 jam 45 menit.
Gambar 1.4.
Pesawat AMA yang melayani penerbangan Timika–Asmat Sumber : Dokumentasi Peneliti
Dari Bandara Ewer ke Agats mobilitas penduduk dilakukan dengan menggunakan speed boat, dengan harga Rp. 100,000,00 per orang. Waktu tempuh dari Ewer ke dermaga feri di Agats kurang lebih 30 menit.
“Kota Di Atas Papan”, begitulah orang menjuluki Kota Agats, ibukota Kabupaten Asmat. Julukan sebagai Kota Di Atas Papan merujuk kondisi riil di Agats. Hal ini terjadi karena daerah Agats dan sebagian besar wilayah Asmat merupakan daerah rawa yang berlumpur. Kondisi ini tidak memungkinkan orang yang tinggal di Kota Agats maupun Asmat secara umum, melakukan aktifitas sehari-hari atau mendirikan bangunan langsung diatas tanah berlumpur. Karena ketika kita menginjakkan kaki, ditanah berlumpur tersebut, maka sebagian tubuh kita akan terjerembab ke dalam kubangan lumpur. Sehingga untuk menyiasati keadaan
tersebut, semua bangunan rumah ataupun jalan dibangun diatas papan. Tidak terkecuali gedung perkantoran, pasar, sekolahan, termasuk lapangan sepak bola juga dibangun di atas papan.
Gambar 1.5.
Rumah dan jalan yang dibangun di atas papan Sumber : Dokumentasi Peneliti
1.3. Gambaran Umum Distrik Sawa Erma
Distrik Sawa Erma merupakan salah satu distrik dari 19 distrik yang ada di Kabupaten Asmat. Distrik ini berada dibagian Utara dari Kabupaten Asmat. Distrik Sawa Erma berbatasan langsung di sebelah Utara dengan Kabupaten Nduga, sebelah Selatan berbatasan dengan Distrik Joerat dan Distrik Unir Siraw, sebelah Barat dengan Distrik Pulau Tiga, serta sebelah Timur berbatasan dengan Distrik Suru-suru dan Distrik Unir Siraw.
Jumlah kampung yang ada di Distrik Sawa Erma saat ini sebanyak 10 kampung, diantaranya adalah Kampung Sawa, Erma,
Er, Sauti, Sona, Bu, Agani, Pupis, Mumugu (=Mumugu Bawah), dan Mumugu II (=Mumugu Atas). Ibukota Distrik Sawa Erma berada di Kampung Erma. Sama saperti daerah lain di Kabupaten Asmat, Kampung Sauti juga dibangun di pinggir tepian sungai, tepatnya Sungai Pomats. Untuk menuju ke Distrik Sawa Erma dapat ditempuh dengan menggunakan speed boat, perahu fiber,
long boat, maupun belang. Waktu yang diperlukan untuk sampai
ke ibukota Distrik Sawa Erma dari Agats berkisar antara 3–4 jam, tergantung jenis transport yang digunakan, kapasitas mesin dan jumlah muatan yang dibawa.
Gambar 1.6.
Peta Wilayah Distrik Sawa Erma Sumber: Bappeda Kab. Asmat
Saat ini Distrik Sawa Erma memiliki 2 buah Puskesmas yaitu 1 Puskesmas rawat inap dan 1 buah Puskesmas rawat jalan, serta Puskesmas pembantu (pustu), yaitu suatu bangunan fisik gedung sederhana yang ditempati oleh 1 atau 2 orang tenaga kesehatan baik perawat ataupun bidan yang bertanggung jawab dalam hal pelayanan kesehatan masyarakat setempat. Namun
saat ini belum semua kampung memiliki pustu. Dari 10 kampung yang ada, baru terdapat 5 pustu yang mencakup 8 kampung, diantaranya : Kampung Sawa (1 perawat merangkap Kampung Zona), Erma (1 perawat merangkap Kampung Er), Bu (1 perawat, 1 bidan merangkap Kampung Agani), Pupis (Tidak terdapat tenaga kesehatan), Mumugu Bawah (1 perawat). Sedangkan Puskesmas rawat inap berada di Kampung Sauti sementara Puskesmas rawat jalan berada di Kampung Mumugu Atas.
Gambar 1.7. Kantor Distrik Sawa Erma Sumber : Dokumentasi Peneliti
1.4. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendapat gambaran secara menyeluruh aspek secara sejarah, geografi dan sosial budaya terkait penyakit kusta pada Etnik Asmat yang men-diami Kampung Mumugu, Distrik Sawaerma, Kab. Asmat.
1.5. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kampung Mumugu I (Bawah) dan Mumugu II (Atas atau Batas Batu) selama 2 bulan, tepatnya
mulai tanggal 5 bulan Mei sampai dengan tanggal 3 bulan Juli 2014. Kampung Mumugu I adalah tempat asal kampung Mumugu II, sehingga secara historis keduanya saling berhubungan. Dipilihnya kedua kampung itu karena sebagian besar (sekitar 85%) warganya menderita kusta. Penyakit dan penderita kusta memang menjadi topik penelitian ini.
1.6. Instrumen dan Cara Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan metode etnografi, yang pengumpulan datanya dilakukan dengan cara observasi partisipasi, wawancara, foto, video, dan penggunaan data sekunder (dokumen). Hal ini dilakukan supaya data yang terkumpul benar-benar akurat dan terpercaya. Beberapa cara pengumpulan data tersebut adalah sebagai berikut ini.
1.6.1. Observasi Partisipasif
Observasi partisipasif merupakan salah satu cara yang digunakan dalam penelitian ini guna mendapatkan gambaran umum subyek penelitian. Observasi dan partisipasi dilakukan dengan terlibat langsung dengan segala kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh masyarakat. Pada penelitian ini yang kami observasi adalah masyarakat di Kampung Mumugu, khususnya perilaku yang berkaitan dengan penyakit kusta diantaranya pola perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Observasi partisipasif dilakukan dengan mengikuti semua aktifitas sehari-hari di rumah, aktifitas pekerjaan yang berkaitan dengan kesehatan, hingga ritual-ritual dan upacara-upacara yang sedang dilakukan di kampung itu. Pengamatan dilakukan atas dasar pengalaman langsung, yakni peneliti melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku maupun kejadian yang terjadi sebagai keadaan yang sebenarnya di
lapangan. Alat yang digunakan dalam observasi partisipasif ini adalah handycam dan kamera digital.
1.6.2. Wawancara
Cara pengumpulan data berikutnya adalah dengan melakukan wawancara. Cara ini dilakukan guna mendapatkan data yang lebih mendalam dari hasil kegiatan observasi dan partisipasi yang telah dilakukan sebelumnya. Dalam penelitian ini, model wawancara yang dilakukan adalah wawancara tak berstruktur (unstructured interview) dan berfokus (focused
interview). Dengan cara ini wawancara yang dilakukan tersebut
berlangsung seperti percakapan biasa/sambil lalu tanpa ada pembatas (atau merasa dibatasi) antara peneliti dan informan, tetapi tetap fokus pada suatu pokok permasalahan (intercept
interview).
Untuk menggali informasi lebih dalam dari informan, dalam penelitian ini peneliti melakukan wawancara mendalam (indepth interview),yaitu wawancara yang terfokus untuk pendalaman data sesuai dengan topik penelitian. Wawancara mendalam dilakukan dengan informan yang dianggap bisa memberikan gambaran yang jelas dan mendalam atas kejadian atau peristiwa tertentu.Hal ini dilakukan agar data yang didapatkan lebih valid. Untuk itu, dalam wawancara mendalam ini diperlukan informan yang benar-benar memahami topik yang akan didiskusikan. Wawancara mendalam dalam penelitian ini dilakukan antara lain dengan kepala kampung, tetua adat, tokoh agama, penderita kusta, termasuk dengan tenaga kesehatan. Pemilihan informan disesuaikan dengan jenis atau pokok pertanyaan peneliti.
Sebelum mengajukan pertanyaan sesuai dengan pokok permasalahan, peneliti terlebih dahulu melakukan pembicara-an
yang terjadi di lingkungan sekitar lokasi wawancara saat itu. Dalam wawancara, pertanyaan yang diajukan peneliti tidak hanya sebatas pada topik yang diinginkan. Tetapi peneliti juga menyelinginya dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak terkait dengan topik, sehingga tidak terkesan kaku. Terkadang, dalam sela-sela wawancara peneliti juga bercanda dengan informan layaknya perbincangan biasa. Dengan begitu diharapkan, informan dapat memberikan jawaban-jawaban yang sebenarnya tanpa ada yang disembunyikan. Namun ada kalanya peneliti juga melakukan wawancara secara formal.
Data yang telah diperoleh dari hasil wawancara, kemudian dilakukan cross check dengan informan yang lain maupun hasil dari observasi partisipasif (triangulasi data, triangulasi informan). Hal ini dilakukan agar data yang diperoleh benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. Data yang telah diperoleh segera diproses untuk menghindari kesalahan persepsi dari data yang telah diperoleh.
1.6.3. Data Sekunder
Pengumpulan data berikutnya yang dilakukan peneliti adalah dengan mencari data-data sekunder. Data-data tersebut berupa data statistik, data-data kesehatan secara umum, buku, maupun penelusuran informasi melalui internet terkait dengan kondisi di Kabupaten Asmat.
1.6.4. Data Visual
Data lain yang tak kalah penting untuk dikumpulkan adalah data visual berupa foto dan video. Data ini berfungsi sebagai data penguat, yang menjadi penunjang bagi data-data yang telah dikumpulkan sebelumnya. Data visual ini diharapkan
dapat memperjelas gambaran fenomena atau peristiwa yang terjadi, yang tidak cukup hanya digambarkan dalam bentuk tulisan.
1.6.5. Studi Kepustakaan
Teknik pengambilan data terakhir adalah dengan melakukan studi kepustakaan. Studi pustaka yang dimaksud adalah cara memperoleh informasi atau data mengenai topik permasalahan yang dibahas dari buku-buku maupun dari internet.
1.7. Analisis Data
Analisis data dilakukan sebagai upaya untuk mencari dan menata secara sistematis catatan-catatan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk meningkatkan pemahanan peneliti tentang persoalan yang diteliti, kemudian menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain. Dalam penelitian ini teknik analisis data yang digunakan adalah analisa tema.
Data hasil wawancara dengan informan bersifat etnografis. Selama penelitian berlangsung peneliti selalu melakukan triangulasi data bahkan sampai penelitian ini selesai. Peneliti juga melakukan pengecekan ulang dengan semua informan, bila menurut peneliti data yang didapat mempunyai kekurangan atau kesalahan. Hal ini akan mendukung keaslian data yang berhubungan dengan topik penelitian.
Tahapan analisis tematik dalam penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertama, peneliti membaca data yang diperoleh peneliti, baik melalui kegiatan observasi, wawancara, data hasil catatan lapangan, fieldnote, dan hasil transkip wawancara. Kedua, setelah semua dipahami oleh
peneliti, kemudian peneliti memilah-milah data yang diperoleh dan mengambil hal yang pokok terkait dengan topik penelitian, yaitu mengenai penyakit kusta yang terjadi di kampung Mumugu. Ketiga, peneliti menyusun data yang telah diperoleh dan mengklasifikasikan data tersebut.
BAB 2
BUDAYA ETNIK ASMAT DI KAMPUNG MUMUGU
2.1. Sejarah
Kabupaten Asmat tidak hanya merupakan suatu daerah administrasi yang mencakup wilayah secara fisik. Namun Kabupaten Asmat juga merupakan sebuah kabupaten yang masyarakatnya merupakan Etnik Asmat itu sendiri. Sehingga tak heran jika mereka memiliki budaya dan pola hidup yang yang relatif sama, meski terdiri dari beberapa sub rumpun. Dalam penulisan sejarah ini diuraikan sejarah awal mula Etnik Asmat berdasarkan versi yang berkembang di masyarakat, baru kemudian diuraikan sejarah kampung Mumugu Bawah dan Mumugu Atas tempat penelitian etnografi kesehatan ini dilakukan.
2.1.1. Asal mula Etnik Asmat
Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang pemuda yang gagah perkasa yang bernama Fumiripits. Fumiripits hidup di tengah hutan belantara seorang diri. Pada suatu ketika, Fumiripits melakukan perjalanan menyusuri sungai menuju daerah hilir. Dalam perjalanan tersebut, perahu yang digunakan Fumiripits terkena ombak yang semakin lama semakin kencang. Hal ini mengakibatkan Fumiripits terjatuh ke sungai, dan akhirnya terdampar di tepi sungai dalam keadaan sekarat. Dalam kondisi demikian, datanglah sekawanan burung yang menolong
Fumiripits. Hingga akhirnya Fumiripits dapat kembali pulih seperti semula.
Namun kini Fumiripits hidup di daerah yang baru dengan kesendiriannya. Untuk tempat tinggal, Fumiripits membangun rumah panjang. Sedangkan untuk menghilangkan rasa sepinya, Fumiripits membuat dan mengisi rumah panjangnya dengan patung-patung yang ia buat sendiri. Patung-patung tersebut ia buat sangat halus dan menyerupai bentuk manusia.Mulai dari bentuk kepala, tangan, badan, dan kaki. Akan tetapi patung tetaplah benda mati yang tidak bisa bergerak atau bicara. Sehingga dirinya masih merasa kesepian.
Fumiripits akhirnya membuat tifa yaitu sebuah gendang kecil.Gendang tersebut dibuat dengan cara melubangi kayu hingga membentuk seperti tabung. Lalu salah satu lubang tabung tersebut ditutup dengan kulit binatang seperti kulit kadal yang diikat melingkar dengan rotan. Setelah tifa itu jadi, ia pun menabuhnya setiap hari. Tifa yang ditabuh oleh Fumiripits menghasilkan suara yang sangat merdu sehingga membuat patung tersentak.Patung-patung itu mulai bergerak dan menyentak-nyentak mengikuti irama pukulan tifa. Semakin cepat
tifa dipukul, patung-patung itupun bergerak semakin lincah.
Sungguh ajaib, patung-patung itupun akhirnya hidup selayaknya manusia.
Semenjak itu, Fumiripits melanglang ke berbagai tempat dan disetiap tempat yang disinggahi tersebut, ia membangun rumah panjang dan menciptakan manusia-manusia baru yang kemudian menjadi orang-orang Asmat seperti sekarang ini. (www.kemendagri.go.id/pages/profil-daerah/kabupaten/ id/91/ name/papua/detail/9118/asmat).
2.1.2. Sejarah Kontak Pertama Etnik Asmat dengan Dunia Luar
Menurut catatan, pada akhirtahun 1770-an sebuah kapal yang dinahkodai oleh Kapten James Cook berlabuh di sebuah teluk di daerah Asmat yang kemudian menyebut daerah tersebut dengan sebutan Teluk Cook. Pada saat itu James Cook dan awak kapalnya menyatakan bertemu dengan orang Asmat yaitu dengan munculnya puluhan perahu lesung panjang didayungi ratusan laki-laki berkulit gelap dengan wajah dan tubuh yang diolesi warna-warna merah, hitam, dan putih. Mereka menyerang dan berhasil melukai serta membunuh beberapa anak buah James Cook.
Satu setengah abad dari peristiwa tersebut, tepatnya pada tahun 1904, Kapal SS Flamingo mendarat di sebuah teluk di pesisir Barat daya Papua. Apa yang dialami oleh James Cook dan anak buahnya, juga terjadi pada awak kapal SS Flamingo. Ratusan pendayung perahu lesung panjang yang berkulit gelap mendatangi kapal SS Flamingo. Namun kali ini tidak terjadi kontak berdarah seperti yang dialami oleh James Cook.
Kronologis kontak orang Asmat dengan dunia luar yang dimulai pada tahun 1904. Kontak itu terjadi, karena ekspedisi-ekpspedisi yang dilakukan orang Eropa di wilayah Pasifik. Ekspedisi berikutnya terjadi pada tahun 1907, 1909–1910 dan tahun 1912–1913. Ekspedisi pertama dan kedua dipimpin Lorentz dan terakhir Franssen Herderschee. Dua ekspedisi berikutnya terjadi pada tahun 1922 dan 1923, keseluruhan ekspedisi tersebut adalah dalam rangka ekspedisi ilmiah. Kunjungan lain berasal dari pihak Pemerintah Belanda yang terjadi pada tahun 1904 disusul kunjungan-kunjungan berikut.
Tahun 1936 Pemerintah Belanda membangun Pos untuk kepentingan keamanan. Felix Maturbongs diangkat menjadi Bestir Assistant di Agats untuk masa tugas 1938–1943 kemudian mendatangkan tukang-tukang dari Kei untuk membangun
Kompleks Pos Pemerintahan di Agats. Orang Asmat Pos Pemerintahan itu disebut Akat yang berarti “baik” atau “bagus”. Lidah orang Belanda ternyata sulit untuk mengatakan “Akat”, yang terucap ialah “Agats”, maka daerah sekitar Pos Pemerintahan hingga kini disebut dengan Agats. Selanjutnya Agats menjadi nama ibu kota wilayah Asmat.
Pada tahun yang sama dengan tahun pembangunan Pos Pemerintahan (1936), P. Tillemans mengunjungi daerah Asmat bagian Utara dengan perahu dayung dari Pusat Misi MSC di Mimika dalam rangka pewartaan Injil. Tahun 1938 P. Cornelisse, MSC mengunjungi Asmat dari Langgur, Kei. Dari kunjungan itu dua gereja dibangun di Syuru dan Ayam. Tahun 1943 tentara Jepang memasuki daerah Mimika. Bestir Felix Maturbongs mendapat telegram dari Resident Merauke supaya penduduk Agats segera diungsikan ke Merauke dan Pos Pemerintahan Agats dimusnahkan. Pada tanggal 26 Januari 1943 Bestir dan semua pendatang di Agats berangkat ke Merauke dengan menumpang KM. Herman, sementara semua bangunan Pos Pemerintahan Agats telah hangus dibakar. Sampai pada tahun ini segala upaya pewartaan dan pembangunan di wilayah Asmat terhenti, Perang Dunia ke II yang terus berkecamuk tak memungkinkan adanya upaya termaksud.
Tahun 1950 ketika situasi kembali damai, pastor Gerald Zegwaard mengunjungi Asmat dan berusaha memulangkan kembali penduduk Asmat yang semula mengungsi ke Kamoro. Pastor Zegwaard menempatkan lima orang Katekis di Kampung Ao, Kapi, As-Atat, dan Nakai, yang sekarang berkembang menjadi Paroki Yamas. Tahun 1951, dr. Fisher, seorang tenaga medis dari WHO bertandang ke Asmat dan diterima masyarakat dengan baik. Wabah frambusia menyebar, sehingga pengobatan yang dilakukan dr. Fisher menyebabkan kehadiran dokter termaksud memberikan sumbangan positif bagi kesehatan masyarakat. Pada
Januari 1953 Pastor Zegwaard mulai menetap di Agats (Linggasari, 2001).
Satu dekade berselang, tepatnya sejak tanggal 1 Mei 1963 Irian Jaya diserahkan kepada Pemerintah Indonesia. Sejak saat itu maka wilayah Asmat dipimpin oleh seorang KPS (Kepala Pejabat Setempat) setara dengan kedudukan kepala distrik saat ini. Kehadiran missionaries serta jajaran pemerintah, meski berusia sangat muda perlahan-lahan mulai mengubah kehidupan masyarakat dari system berperang menjadi kehidupan yang lebih damai, praktis adat mengayau perlahan memudar kemudian hilang sama sekali. Akan tetapi sistem kepercayaan yang mendasar akan relasi dengan roh leluhur tetap bertahan dan menjadi dasar dari perilaku masyarakat, terutama dalam hal seni ukir.
2.1.3. Lahirnya Kabupaten Asmat
Kabupaten Asmat berdiri sejak tahun 2002. Hal ini didasarkan pada UU Nomor 26 Tahun 2002. Selain Kabupaten Asmat, dalam undang-undang tersebut juga mengatur tentang pembentukan kabupaten baru yang terpisah dari kabupaten induknya. Kabupaten-kabupaten baru tersebut adalah Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Teluk Wondama, dan Kabupaten Teluk Bintuni (di Propinsi Papua Barat); serta Kabupaten Sarmi, Kabupaten Keerom, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Yahokimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Waropen, Kabupaten Boven Digul, Kabupaten Mapi, dan Kabupaten Asmat (di Propinsi Papua).
Kabupaten Asmat sendiri sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Merauke, bersama-sama dengan Kabupaten Mappi dan Kabupaten Boven Digoel. Dengan undang-undang
tersebut, secara resmi Asmat, Mappi dan Boven Digoel masing-masing membentuk pemerintahan sendiri yang terpisah dari Kabupaten Merauke. Kabupaten Asmat beribukotakan di Agats, Kabupaten Mappi beribukota-kan di Kepi, sementara Kabupaten Boven Digoel beribukota-kan di Tanah Merah.
Pelantikan Pejabat Pejabat Bupati Kabupaten Pemekaran di seluruh Propinsi Papua sendiri dilaksanakan pada Bulan April 2003 di Jayapura. Berselang 1 bulan berikutnya, Bupati Merauke beserta jajaran serta masyarakat Merauke menyelenggarakan upacara adat penyerahan pejabat bupati kepada masyarakat yang akan dipimpinnya, secara simbolis.
Sejak saat itu Kabupaten Asmat, maupun kabupaten lain hasil pemekaran, memasuki babak sejarah baru dalam rangka pembangunan wilayah dalam tatanan pemerintah kabupaten. Dalam perkembangannya, pembentukan wilayah Kabupaten Asmat, secara perlahan namun pasti memberikan arah perubahan dalam kehidupan masyarakat dalam satu dekade terakhir. Distrik dimekarkan dari yang semula 7 distrik menjadi 10 distrik, dan akhirnya menjadi 19 distrik seperti sekarang ini. Ke-sembilan belas distrik tersebut adalah Distrik Agats, Akat, Atsy, Ayip, Betc Bamu, Der Koumur, Fayit, Jetsy, Joerat, Kolf Brasa, Kopay, Pantai Kasuari, Pulau Tiga, Safan, Sawa Erma, Sirets, Suator, Suru-suru, dan Unir Siraw.
Infrastruktur di Agats sebagai ibukotapun mulai dibangun. Jaringan telekomunikasi milik pemerintah mulai didirikan, jalan-jalan penghubung mulai dibangun yang semula hanya dari papan diganti menjadi jalan beton. Dermaga fery sebagai salah satu pintu keluar-masuk ke Agats dari jalur laut juga tidak luput dari pembangunan. Listrik yang semulamenyala hanya 6 jam di malam hari, kini menyala pula di siang hari selama 6-8 jam. Fasilitas sosialpun mulai banyak bermunculan, seperti hotel, bank, sekolahan, warnet, dan rumah ibadah. Bahkan rumah makan
maupun toko-toko yang menjual kebutuhan sehari-hari hampir berderet disepanjang jalan-jalan utama di Kota Agats. Alat transportasi masyarakat di Agats pun juga mulai berkembang. Semula orang hanya jalan kaki dari satu tempat ke tempat lain.Kondisi itu digantikan dengan keberadaan sepeda mini, sepeda federal, dan akhirnya motor listrik sebagai sarana mobilitas utama di dalam kota Agats. Sehingga tidak heran bila di Kota Agats ini tidak ada polusi suara maupun polusi udara yang ditimbulkan oleh kendaraan bermotor roda dua ataupun roda empat sebagaimana yang terjadi di kota-kota yang lain.
Gambar 2.1.
Dermaga fery, jaringan listrik, hotel, dan motor elektrik di Agats. (Searah jarum jam dari kiri atas)
2.1.4. Kepercayaan Etnik Asmat
Terkait kepercayaan, Etnik Asmat percaya bahwa alam semesta dihuni oleh roh, jin, makhluk halus, yang semuanya disebut dengan setan. Bagi Etnik Asmat, setan digolongkan menjadi dua kategori yaitu setan yang membahayakan hidup (osbopan) dan setan yang tidak membahayakan hidup. Osbopan yaitu setan yang dapat mengancam nyawa dan jiwa seseorang seperti setan perempuan hamil yang telah meninggal atau setan yang hidup di pohon beringin, roh yang membawa penyakit dan bencana.Sedangkan setan yang tidak membahayakan hidup, nyawa dan jiwa seseorang, hanya menakut-nakuti dan mengganggu.
Selain itu orang Asmat juga mengenal roh yang sifatnya baik terutama bagi keturunannya, yang berasal dari roh nenek moyang dan disebut yi-ow.Roh leluhur dipresentasikan dalam ukiran kayu spektakuler di perahu, tameng atau tiang kayu yang berukir figur manusia.Suatu keyakinan masih mengakar, bahwa roh-roh orang yang telah meninggal masih tetap berada di dalam kampung, terutama kalau kerabat tersebut diwujudkan dalam bentuk patung mbis, yaitu patung kayu dengan ketinggian 5-8 meter. Sistem kepercayaan yang mendasar akan relasi dengan roh leluhur tetap bertahan dan menjadi dasar dari perilaku masyarakat, terutama dalam hal seni ukir (Linggasari, 2001).
Etnik Asmat memandang kehidupan menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah alam kehidupan sekarang yang disebut dengan Amat ow capinmi.Bagian kedua adalah tempat persinggahan orang-orang yang sudah meninggal dan belum memasuki tempat istirahat kekal di safar (surga) yang disebut
Dampu ow capinmi. Roh-roh yang tinggal di Dampu ow capinmi
adalah penyebab penyakit, penderitaan, gempa bumi, dan peperangan. Orang-orang yang masih hidup harus menebus
roh-memberinya nama agar mereka dapat masuk ke alam Safar yang merupakan tujuan akhir, bagian ketiga dari kehidupan orang Asmat.
2.1.5. Sejarah Kampung Mumugu
Telah dikemukakan pada Bab 1 bahwa Kabupaten Asmat saat ini memiliki 221 kampung, dan yang menjadi lokasi penelitian ini adalah Kampung Mumugu baik Mumugu Bawah maupun Mumugu Atas.
Kampung Mumugu tepanya Mumugu Bawah didirikan sekitar tahun 1974. Sebagaimana kampunglainnya di Kabupaten Asmat, Kampung Mumugu pun dibangun di tepi sungai, tepatnya Sungai Pomats. Kampung Mumugu merupakan bagian dari rumpun Unir Siraw sebagaimana diungkapkan oleh informan A sebagai berikut :
“....Rumpun Unir Siraw ini mereka berada dijajaran Sungai Unir dan sebagian Sungai Pomats. Salah satu kampung dari Distrik Sawa Erma yang sekarang ini adalah Kampung Mumugu. Kampung Mumugu ini sejalur dengan Sungai Pomats dan Kampung Mumugu sendiri merupakan bagian dari Rumpun Unir Siraw....,”
Awalnya, kampung ini dihuni oleh 4 fam (masyarakat setempat biasa menyebut dengan klen atau marga), yaitu: Mumugu (RT 1), Jumunje (RT 2), Tumu (RT 3), dan Sakapu (RT4). Masing-masing fam menghuni dalam kelompok pemukiman sendiri. Dalam setiap fam tersebut terdapat satu rumah panjang atau biasa disebut dengan rumah bujang atau jew. Pengertian tentang jew akan diulas dalam subbab pola tempat tinggal. Jew terletak di depan kelompok pemukiman mereka. Karena letaknya di tepi Sungai Pomats, kampung ini mudah dijangkau dan sering dikunjungi orang dari kampung lain, termasuk para pedagang.
Pada bulan September-Oktober, ketika musim kemarau tiba, banyak pedagang yang datang ke kampung ini untuk membeli penyu (penyu moncong babi) dari penduduk. Tiap kepala keluarga biasanya mempunyai wilayah tempat bertelurnya penyu, yaitu di kelokan (tanjung) sungai. Ketika kemarau, sungai menjadi berkurang airnya, sehingga muncullah dataran pasir di kelokan-kelokan sungai.
Sementara itu, Kampung Mumugu Atas merupakan pecahan dari Kampung Mumugu Bawah. Mereka yang pindah ke Mumugu Atas berasal dari fam Tumu dan Sakapu. Menurut beberapa cerita dari informan yang mempunyai andil dalam pembentukkan kampung Mumugu Atas, diketahui bahwa terbentuknya kampung ini berawal ketika pada tahun 2009, pemerintah daerah Kabupaten Nduga meminta izin kepada pemerintah daerah Kabupaten Asmat untuk membuka jalan dari Nduga sampai di daerah yang disebut dengan Batas Batu.
Batas Batu merupakan daerah perbatasan wilayah Selatan Kabupaten Nduga dengan wilayah Utara Kabupaten Asmat. Wilayah Batas Batu ini masuh ke dalam wilayah Kabupaten Asmat. Disebut Batas Batu karena hanya sampai di daerah inilah, batu-batu gunung yang berasal dari wilayah Kabupaten Nduga sampai ke bawah. Dan ini benar adanya, bila dicermati dengan seksama, maka tidak akan diketemukan batu gunung atau batu kali di Kampung Mumugu Bawah. Sehingga tak heran bila batu menjadi barang berharga bagi sebagian masyarakat di Kabupaten Asmat.
Maksud pembukaan jalan dari Kabupaten Nduga ke Batas Batu tersebut adalah sebagai jalur alternatif untuk arus barang masuk menuju Kabupaten Nduga. Karena selama ini barang kebutuhan sehari-hari masyarakat Kabupaten Nduga hanya disuplai dengan menggunakan pesawat udara. Hal ini dikarenakan wilayah Kabupaten Nduga merupakan daerah
pegunungan yang tidak mempunyai akses transportasi lain selain melalui udara. Sehingga tidak heran bila harga barang kebutuhan sehari-hari sangat mahal.
Gambar 2.2.
Kelangkaan batu di Mumugu Bawah (kiri) dan Batu yang dengan mudah ditemukan di Mumugu Atas (kanan).
Sumber : Dokumentasi Peneliti
Maksud pembukaan jalan dari Kabupaten Nduga ke Batas Batu tersebut adalah sebagai jalur alternatif untuk arus barang masuk menuju Kabupaten Nduga. Karena selama ini barang kebutuhan sehari-hari masyarakat Kabupaten Nduga hanya disuplai dengan menggunakan pesawat udara. Hal ini dikarenakan wilayah Kabupaten Nduga merupakan daerah pegunungan yang tidak mempunyai akses transportasi lain selain melalui udara. Sehingga tidak heran bila harga barang kebutuhan sehari-hari sangat mahal.
Dengan dibukanya jalan tersebut, maka barang kebutuhan sehari-hari yang didatangkan dari Merauke maupun Timika menggunakan kapal, diharapkan tidak hanya berlabuh di Agats saja, namun dapat dilanjutkan ke pelabuhan sungai yang telah dibangun di Batas Batu. Dari situ distribusi barang diangkut ke Kabupaten Nduga dengan menggunakan truk melalui jalan darat. Hal ini dilakukan, karena kapal pengangkut barang tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan ke Kabupaten
Nduga yang merupakan daerah pegunungan. Karena semakin ke hulu sungai, kedalamannya tentu semakin berkurang sehingga tidak memungkinkan untuk dilalui kapal.
Namun hal ini menimbulkan masalah baru. Ada isu yang berkembang di masyarakat yang menyebutkan bahwa masyarakat Kabupaten Nduga mengklaim wilayah Batas Batu sebagai wilayahnya. Mereka menyebut wilayah ini dengan nama Kripkuri (Krip=batas; kuri=batu).Hal ini membuat masyarakat Kampung Mumugu Bawah merasa terusik. Untuk menjaga wilayah yang telah diwariskan secara turun temurun oleh leluhurnya, maka mereka membangun perkampungan di Batas Batu. Ada lebih dari separuh penduduk Mumugu Bawah yang pindah ke Batas Batu. Berhubung mereka merupakan pindahan dari Kampung Mumugu Bawah, maka daerah Batas Batu juga biasa disebut dengan Kampung Mumugu II atau Mumugu Atas.
Gambar 2.3.
Pelabuhan sungai di Batas Batu Sumber : Dokumentasi Peneliti
Sampai saat ini, belum diketahui arti nama Kampung Mumugu. Baik masyarakat ataupun tua adat, ketika ditanya mengaku tidak mengetahui apa arti dari “Mumugu”. Pemberikan nama Mumugu sendiri sudah ada ketika wilayah Asmat masih bergabung dengan Kabupaten Merauke. Menurut cerita, dahulu Mumugu sendiri bernama Wiptieu namun diganti menjadi nama Mumugu oleh Pemerintah Kabupaten Merauke.
2.2. Geografi dan Kependudukan
Kampung Mumugu baik Mumugu Bawah maupun Mumugu Atas berada di satu aliran sungai yang sama. Bila ingin ke Kampung Mumugu Atas dari Kota Agats maka kita akan melewati Kampung Mumugu Bawah. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Kampung Mumugu Atas dari kota Agats adalah sekitar 6–9 jam perjalanan. Tergantung jenis transportasi yang digunakan (Speedboat, longboat, atau perahu beelang), kapasitas mesin dan jumlah muatan yang dibawa. Waktu naik menuju Kampung Mumugu Atas relatif lebih lama dibanding arah sebaliknya (turun). Hal ini dikarenakan perjalanan naik harus melawan arus air yang berasal dari hulu sungai.
Kampung Mumugu Atas, selain dapat ditempuh melalui jalur sungai, saat ini juga sudah dapat ditempuh melalui jalur darat yaitu melalui Kenyam (Ibukota Kabupaten Nduga). Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di Kampung Mumugu Atas dari Kenyam sekitar 1,5–2 jam dengan menggunakan truk atau mobil jenis ranger malalui kondisi jalan batu dan medan yang berbukit.
Bila menggunakan truk ukuran yang kecil, maka bak truk harus diisi pemberat seperti pasir atau batu-batu. Hal ini dilakukan agar truk mampu melewati tanjakan yang cukup tinggi. Truk yang tanpa pemberat atau dalam kondisi ringan dipastikan tidak akan mampu melewati beberapa tanjakan yang reltif tinggi
tersebut, seperti terlihat pada gambar. Tampak truk kesulitan melewati tanjakan di jalanan berbatu dan berbukit di ruas jalan yang menghubungkan Kenyam (Kab. Nduga) dengan Kampung Mumugu Atas.
Gambar 2.4.
Salah satu alat transportasi untuk ke Mumugu Sumber : Dokumentasi Peneliti
Gambar 2.5.
Kampung Mumugu baik Mumugu Bawah maupun Mumugu Atas, saat ini dihuni oleh 136 KK (kepala keluarga) yang terdiri dari 473 orang. Jumlah ini didasarkan pada hasil pendataan yang dilakukan oleh tim Puskesmas Mumugu secara
door to door pada bulan Mei–Juni 2014. Dari data tersebut juga
diketahui bahwa perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan relatif berimbang, yaitu penduduk laki-laki berjumlah 233 orang dan perempuan berjumlah 240 orang.
Saat ini di Kampung Mumugu Atas telah berdiri sebuah Puskesmas, yaitu Puskesmas Mumugu. Selain Puskesmas, fasilitas umum yang ada di Kampung Mumugu Atas adalah 1 Gedung Sosial, 1 rumah panjang (jew), 1 tempat ibadah, 1 dapur umum, 4 buah penampungan air hujan, 2 buah sumur gali, 2 tempat toilet umum masing-masing 4 ruang, dan 1 balai kampung yang dimanfaatkan untuk sekolah. Namun saat dilakukan penelitian ini, kegiatan belajar-mengajar tidak berjalan karena ketiadaan guru. Demikian juga dapur umum, sampai saat ini belum difungsikan.
Sementara fasilitas umum yang ada di Kampung Mumugu Bawah selain pustu adalah 2 jew, 1 tempat ibadah, 1 panggung tempat pertunjukan, 1 tempat toilet umum yang terdiri dari 4 ruang, 1 dapur umum, dan 1 gedung sekolah. Sama dengan di Mumugu Atas, gedung sekolah tersebut saat ini tidak digunakan karena ketiadaan guru, demikian pula dengan dapur umumnya.
2.3. Pola Tempat Tinggal
Sebagaimana telah diuraikan pada gambaran wilayah Kabupaten Asmat secara umum adalah tanah lumpur berawa. Pun demikian dengan wilayah yang ada di Kampung Mumugu. Tanah rawa berlumpur yang menggenangi hampir seluruh
wilayah kampung.Hujan yang turun hampir sepanjang tahun menyebabkan kondisi tanah tidak pernah kering dari genangan air. Kondisi ini mengharuskan masyarakat membuat rumah dalam bentuk rumah panggung, sebagaimana orang Asmat pada umumnya.
Perkampungan Mumugu Bawah yang berada di tepi Sungai Pomats berpola konsentris, yaitu memusat atau berkumpul menurut klen masing-masing. Tiap klen terdiri atas 10-15 kepala keluarga. Secara tradisional, rumah masyarakat Mumugu sangatlah sederhana. Tiang dan lantai dibuat dari kayu, sedangkan dinding dan atap dibuat dari daun pohon sagu.
Gambar 2.6.
Rumah tradisional orang Mumugu yang telah ditinggalkan Sumber: Dokumen peneliti
Pada tahun 2010, pemerintah telah membangun 20 rumah sederhana, yang terdiri dari: 10 rumah untuk fam Mumugu dan 10 rumah untuk fam Jumunje. Rumah sederhana tersebut
dibangun dari papan untuk lantai dan dindingnya, sedangkan atapnya dari seng. Ke dua-puluh rumah sederhana itu dibangun berjajar memanjang, sekitar 25 meter dari tepi sungai Pomats.
Gambar 2.7.
Perumahan Kampung Mumugu Bawah. Sumber: Dokumen peneliti
Setiap rumah terdapat bagian untuk tempat tidur, ruang tamu, dan tempat untuk memasak meski setiap bagian tersebut tidak terlalu luas. Ada 2 pintu dan 3 jendela disetiap rumah. Untuk pintu posisinya masing-masing 1 buah di bagian depan dan belakang. Sedangkan untuk jendela, 1 buah di sisi bagian depan rumah dan 2 buah di sisi samping rumah. Jendela terbuat dari kaca yang bisa dibuka tutup. Masing-masing rumah dihuni oleh 1 kepala keluarga yang terdiri dari 3-5 orang. Namun ada juga yang dalam 1 rumah ditempati lebih dari 12 orang, terutama bagi mereka yang kepala keluarganya memiliki 2 istri.
Pola tempat tinggal yang relatif sama juga ada di Kampung Mumugu Atas. Masyarakat Mumugu Atas saat ini juga
menempati rumah panggung sederhana yang dibangun oleh pemerintah.Total ada 50 rumah sederhana di Kampung Mumugu Atas. Bahan material yang digunakan untuk membangun rumah di Kampung Mumugu Atas juga tidak berbeda dengan di Kampung Mumugu Bawah yaitu lantai dan dinding dari papan, sedangkan atap dari seng. Yang membedakan perumahan antara ke dua kampung hanya pada model dan tata letak bangunan rumah.
Gambar 2.8.
Denah pemukiman kampung Mumugu Atas. Sumber: Puskesmas Mumugu
Untuk model rumah di Kampung Mumugu Atas adalah persegi panjang, dimana sisi panjangnya menyamping. Sedangkan di Mumugu Bawah, sama persegi panjang, tetapi sisi panjangnya kebelakang. Jika di Kampung Mumugu Bawah bangunannya berjajar memanjang di pinggir sungai, maka di Kampung Mumugu Atas berjajar ke belakang dengan
masing-masing deret berjajar 5 rumah. Setiap 2 deret (10 rumah) posisinya saling berhadapan.
Gambar 2.9.
Perumahan Kampung Mumugu Atas. Sumber: Dokumen peneliti
Sama dengan perumahan di Kampung Mumugu Bawah, rumah di Kampung Mumugu Atas juga terdapat 2 pintu, yaitu masing-masing 1 pintu di bagian depan dan belakang. Sedangkan jendela hanya ada 2 dimana keduanya berada di dinding sisi depan rumah. Satu jendela tepat di samping pintu, sedangkan 1 lagi agak ke samping tepat dibagian kamar tidur. Setiap rumah dihuni oleh 1 kepala keluarga yang terdiri dari 3-5 orang. Namun demikian ada beberapa rumah yang dalam 1 rumah itu diisi 2 bahkan ada yang 3 kepala keluarga sekaligus. Sehingga dalam satu rumah tersebut ditempati lebih dari 5 orang bahkan ada yang sampai 12 orang dalam satu rumah.
Selain tipe rumah keluarga sebagaimana yang telah diuraikan diatas, masyarakat Mumugu maupun masyarakat Asmat pada umumnya, memiliki tipe rumah yang lain yaitu Rumah Bujang atau disebut juga Rumah Jew. Rumah jew adalah rumah panggung dengan bentuk persegi panjang yang dibuat dari kayu dengan dinding dan atap dari daun pohon sagu atau daun nipah yang telah dianyam. Mereka tidak menggunakan bahan lain untuk membuat rumah jew, termasuk paku sekalipun. Untuk mengikat satu kayu dengan kayu yang lain, atau satu anyaman daun sagu dengan anyaman yang lain, mereka cukup menggunakan rotan sebagai talinya. Rumah jew dianggap tempat yang sakral bagi masyarakat Kampung Mumugu maupun Etnik Asmat pada umumnya. Di rumah ini, dibicarakan segala urusan yang menyangkut kehidupan warga, seperti merencanakan suatu pesta, perang, perdamaian, termasuk menyelesaikan segala permasalahan yang mungkin terjadi antar sesama warga.
Gambar 2.10.
Rumah Jew Kampung Mumugu Bawah (kiri) dan Kampung Mumugu Atas (kanan)
Sumber : Dokumentasi Peneliti
Rumah jew berukuran panjang 30-60 meter dengan lebar 10 meter, namun juga ada yang besar. Di beberapa kampung yang lain, ada yang panjangnya sampai puluhan meter dengan lebar belasan meter. Untuk akses keluar masuk, terdapat pintu dikedua sisi dinding, yaitu sisi depan dan sisi belakang. Jumlah
pintu rumah jew sama dengan jumlah tungku api yang ada di dalam jew. Jumlah pintu ini juga dianggap mencerminkan jumlah rumpun Etnik Asmat yang berdiam di sekitar rumah adat Etnik asmat.
Rumah jew ini selalu dibangun di pinggir sungai terutama di daerah kelokan sungai. Menurut mereka, hal ini dilakukan karena pada waktu dulu sering terjadi peperangan antar Etnik. Dengan membangun rumah jew di pinggir sungai terutama di daerah kelokan maka akan akan mengetahui lebih awal jika ada serangan musuh. Dengan begitu diharapkan mereka dapat dengan cepat mempersiapkan diri dalam menghadapi serangan musuh. Meskipun saat ini sudah jarang terjadi peperangan antar Etnik, namun adat kebiasaan membangun rumah di pinggir sungai ini masih dipertahankan sampai sekarang. Karena bagi mereka dengan membangun Rumah Jew maupun rumah tinggal dekat sungai akan membuat merekalebih dekat dalam mencari ikan. Mereka tidak perlu berjalan kaki terlalu jauh untuk menambatkan dan mendayung perahu untuk mencari ikan.
Gambar 2.11.
Rumah jew yang selalu dipinggir sungai Sumber : Dokumentasi Peneliti
Tempat memasak yang mereka gunakan sehari-hari adalah tungku api yang letaknya didalam rumah dan berada ditengah-tengah. Hal ini dilakukan karena menurut mereka, bagian tengah rumah merupakan bagian yang paling tinggi jarak antara lantai dengan atap. Bila tungku diletakkan dibagian pinggir, dekat dengan dinding, maka dikhawatirkan akan mudah membakar atap yang posisinya relatif lebih rendah (dibanding bagian tengah) ataupun dinding yang hanya terbuat dari daun pohon sagu atau daun nipah yang kondisinya sudah kering. Asap api yang berasal dari kayu bakar yang mengepul dalam rumah menyebabkan polusi udara dan dihirup oleh penghuni rumah. Akibatnya, banyak anak-anak yang mengidap penyakit ISPA (Inspeksi Saluran Pernapasan Akut) dan wajah yang tampak lebih tua dari pada usia sebenarnya. Kondisi tersebut diperparah dengan kebiasaan masyarakat yangtidur tanpa menggunakan alas seperti kasur dan bantal. Mereka hanya menggunakan tikar pandan yang dibuat sendiri. Baik orang tua, anak-anak bahkan bayi sekalipun, tidur dengan keadaan yang sama tanpa alas.
Gambar 2.12. Tunggu tempat memasak. Sumber : Dokumentasi Peneliti
Sehari-hari mereka mengkonsumsi sagu, yang dibakar dengan bentuk bola ataupun menyerupai dadar gulung. Pun demikian dengan ikan hasil dari sungai, diolah hanya dengan dibakar tanpa menggunakan bumbu. Mereka jarang mengkonsumsi nasi. Hal ini dikarenakan mereka tidak memiliki penghasilan sehingga tidak mampu untuk membeli beras. Lain halnya dengan sagu, mereka tinggal ke hutan dan menebang sagu dengan mudah. Hutan menyediakan banyak pohon sagu yang siap dipanen kapanpun karena sagu merupakan pohon yang tumbuh dengan sendirinya. Meski untuk mencarinya mereka harus berjalan selama 1-2 jam masuk kedalam hutan. Pun demikian dengan ikan, mereka tinggal mendayung ke sungai untuk menjaring atau memancing ikan tanpa harus mengeluarkan uang.
Selain Rumah Keluarga dan Rumah Jew, di Mumugu maupaun di daerah pedalaman Asmat juga di kenal yang namanya “bivak”. Bivak merupakan sebuah tempat tinggal sementara bagi masyarakat Asmat disaat mereka mencari bahan makanan. Saat ini untuk mencari bahan makan baik sagu maupun ikan tidak semudah waktu dulu. Untuk mendapatkan bahan makanan itu, mereka harus berjalan atau mendayung perahu ataupun cole-cole yang cukup jauh jaraknya dari rumah. Kondisi ini tidak memungkinkan bagi mereka untuk pulang ke rumah pada hari yang sama. Sehinggauntuk menyiasati hal itu, merekamembangun bivak di tepi sungai pedalaman hutan.
Bivak dibangun juga dengan model rumah panggung yang
terbuat dari anyaman daun pohon sagu baik pada dinding maupun atapnya. Bivak mempunyai ukuran lebih kecil bila dibanding dengan rumah keluarga, apalagi bila dibanding rumah
jew. Hal ini mengingat bivak hanyalah tempat tinggal sementara
selama mencari bahan makanan. Ketika mereka sudah mendapatkan bahan makanan yang dicari atau di daerah
tersebut sudah tidak diketemukan bahan makanan lagi maka mereka akan kembali ke rumah dan meninggalkan bivak begitu saja.
Gambar 2.13.
Bivak sebagai tempat tinggal sementara di hutan
Sumber : Dokumentasi Peneliti
2.4. Religi
Mayoritas masyarakat Kampung Mumugu memeluk agama Katolik, namun mereka jarang beribadah di gereja. Seorang pastor paroki yang membawahi distrik Sawa Erma, telah lama mencoba memadukan antara ajaran agama Katolik dengan budaya orang Mumugu. Usaha semacam itu dikenal dengan istilah inkulturasi budaya, dan dalam pandangan pastor disebut “iman menerangi budaya”. Nilai-nilai budaya yang ada, mendasar, dan mengakar di dalam diri orang Asmat dan Mumugu khususnya, memiliki tempatnya untuk mengungkapkan kepercayaan dan keyakinannya kepada Tuhan.
Gambar 2.14.
Inkulturasi gereja(kiri) dan Tungku beserta Patung Bis dalam gereja (kanan) Sumber : Dokumentasi Peneliti
Iman memberi arti pada tanggapan manusia atas sapaan Allah, atau penyerahan diri manusia secara total kepada Allah, Sang Pencipta. Kepercayaan yang dianut orang Asmat ternyata tidak mudah diterangi oleh iman kepercayaan yang dianutnya. Sebagaimana diungkapkan oleh informan A berikut :
“....karena berbenturan dengan banyak perilaku-perilaku berhubungan dengan dasar-dasar membagi didalam budaya dan sistem perkawinan yang cenderung selingkuh, cenderung poligami, yang cenderung lebih memanfaatkan kepuasan egonya, dirinya dari pada membagi kasih untuk menguatkan kehidupan diri, pasangan, maupun anak-anaknya.”
Sehingga, masih menurutnya, saat ini diperlukan cara-cara yang lebih cocok, cara yang lebih berguna dalam mengembangkan kehidupan yang telah mengakar budaya tersebut untuk dapat diterangi oleh iman.
“Mengawinkan iman dengan budaya saja belum tentu melahirkan pribadi-pribadi yang sungguh-sungguh
menjadi manusia yang bermutu. Juga sebaliknya, mengawinkan budaya dengan iman belum sungguh-sungguh menjiwai hasrat hidup sebagai manuisa yang utuh. Manusia-manusia yang sungguh ingin memenuhi aspek kehidupannya, lahir dan batin, atau material dan spiritual.”
Ritual merupakan bentuk ekspresi religi manusia atas kepercayaannya pada Tuhan atau nenek moyang manusia dan ekspresi sosial. Orang Mumugu sangat percaya adanya roh nenek moyang, yang disebut dengan “tuan tanah”, yang menghuni pada lingkungan hidup mereka. Namun, selama penelitian tidak dijumpai aktivitas ritual untuk menghormati roh leluhur mereka.
Ritual yang dijumpai adalah ritual kematian, yaitu dengan mandi lumpur. Ritual mandi lumpur merupakan ekspresi duka atas kematian anggota keluarganya. Sebagai-mana diungkapkan oleh informan B berikut :
“Yaa… jadi pas meninggal itu, keluarganya tho yang meninggal ini yang mandi lumpur di got-got kah, di depan rumah, pokoknya yang becek-becek itu dia mandi lumpur di situ...”
Hal senada diungkapkan oleh informan LD. Pria yang juga berprofesi sebagai sekretaris kampung ini menyebutkan bahwa mandi lumpur merupakan bentuk kesedihan keluarga atas meninggalnya salah satu dari anggota keluarga mereka.
“Kita orang Asmat, bila ada keluarga meninggal, kita menangis, habis itu mandi lumpur...”
Dirinya menambahkan, untuk mandi lumpur tersebut tempatnya bebas, tidak ditentukan, bisa dimana saja.
“Bebas...Kita banting-banting (ke lumpur). Karena sudah hidup dengan kita, temani kita, teman bermain, dia