• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESEHATAN KHILAFAH YANG AGUNG

ami telah menurunkan kepadamu al-Kitab (Al Quran) untuk menje- laskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi

orang-orang yang berserah diri”. TQ An Nahl

(16): 89. Konsep jaminan kesehatan khilafah adalah konsep yang berasal dari Allah SWT, rabbul’aalamiin. Terpancar dari mata air pemi- kiran yang bersumber dari-Nya, yaitu Al Quran dan As Sunnah. Dipersiapkan Allah SWT ha- nyalah agar menjadi rahmat, kesejahteraan bagi seluruh umat manusia,bahkan alam se-

”K

mesta. Adapun diantara yang prinsip dari konsep agung tersebut adalah:

Pertama: Kesehatan/Pelayanan Kesehatan adalah Pelayanan Dasar Publik.

Kesehatan/pelayanan kesehatan telah di- tetapkan Allah SWT sebagai kebutuhan pokok publik. Yaitu sebagaimana ditegaskan Ra-

sulullah SAW, yang artinya, “Siapa saja yang

ketika memasuki pagi hari mendapati keadaan aman kelompoknya, sehat badannya, memiliki bahan makanan untuk hari itu, maka seolah-

olah dunia telah menjadi miliknya”. (HR

Bukhari).

Hal tersebut aspek pertama, aspek kedua, pemerintah telah diperintahkan Allah SWT sebagai pihak yang bertanggungjawab lang- sung dalam pemenuhan pelayanan kese- hatan. Ini ditunjukkan oleh perbuatan Ra- sulullah SAW. Yaitu ketika beliau dihadiahi seorang dokter, dokter tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan kaum muslimin.

Dari kedua aspek di tersebut terlihat jelas bahwa kesehatan/pelayanan kesehatan telah ditetapkan Allah SWT sebagai jasa sosial se- cara totalitas. Yaitu mulai jasa dokter, obat- obatan, penggunaan peralatan medis, peme- riksaan penunjang, hingga sarana dan pra sarana yang dibutuhkan untuk pelayanan ke- sehatan yang berkualitas sesuai prinsip etik yang islami. Tidak boleh dikomersialkan, wa- laupun hanya secuil kapas, apapun alasannya. Termasuk tidak diterima alasan, kesehatan harus dikomersialkan agar masyarakat termo- tivasi untuk hidup sehat. Karena, ini persoalan lain, lebih dari pada itu ini adalah pandangan yang dikendalikan ideologi kapitalis, bukan Islam.

Disamping itu faktanya, sebagaimana yang kita saksikan saat ini, komersialisasi kese- hatan telah berakibat pada kemudharatan, bahaya, kesengsaran pada masyarakat, yang itu semua tidak dibenarkan Allah SWT terjadi. Demikian ditegaskan Rasulullah SAW dalam

membuat mudharat (bahaya) pada diri sendiri, dan tidak boleh pula membuat mudharat pada

orang lain”.(HR Ahmad dan Ibnu Majah). Dan

juga, kita saksikan komersialisasi telah ber- akibat pada penistaan kemanusiaan manusia, yang Allah perintahkan untuk dijaga kemulia- annya, sebagaimana firman-Nya dalam QS Al

Isra:70, artinya, ”Sesungguhnya Kami memulia-

kan anak cucu Adam (manusia)..”.

Kedua: Negara Bertanggungjawab Penuh. Pemerintah/Negara telah diamanahkan Allah SWT sebagai pihak yang bertanggung- jawab penuh menjamin pemenuhan kebu- tuhan pelayanan kesehatan setiap individu masyarakat. Diberikan secara cuma-cuma de- ngan kualitas terbaik bagi setiap individu masyarakat, tidak saja bagi yang miskin tapi juga yang kaya, apapun warna kulit dan agamanya. Tentang tugas penting dan mulia ini telah ditegaskan Rasulullah dalam tutur-

nya, yang artinya,”Imam (Khalifah) yang men-

penggembala. Dan hanya dialah yang bertang-

gungjawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR

Al- Bukhari).

Sehubungan dengan itu, dipundak peme- rintah pulalah terletak tanggung jawab segala sesuatu yang diperlukan bagi terwujudnya keterjaminan setiap orang terhadap pembia- yaan kesehatan; penyediaan dan penyeleng- garaan pelayanan kesehatan; penyediaan dan penyelenggaraan pendidikan SDM kesehatan; penyediaan peralatan kedokteran, obat- obatan dan teknologi terkini; sarana pra sa- rana lainnya yang penting bagi terseleng- garanya pelayanan kesehatan terbaik, seperti listrik, transportasi dan air bersih; dan tata kelola keseluruhannya.

Artinya, apapun alasannya merupakan per- buatan batil yang dibenci Allah SWT manakala fungsi pemerintah dikebiri sebatas regulator dan fasilitator, sementara fungsi dan tang- gung jawab lainnya, seperti penyelenggara- an/pelaksanaan diserahkan kepada korporasi. Yang demikian karena pembatasan fungsi ter-

sebut pasti berujung pada kelalain peme- rintah dalam menjalankan tanggung jawab- nya, yang hal tersebut merupakan perbuatan tercela, sebagaimana ditegaskan Rasulullah

SAW, artinya ”Tidak beriman orang yang tidak

bisa menjaga amanah yang dibebankan pada- nya. Dan tidak beragama orang yang tidak me-

nepati janjinya” (HR Ahmad bin Hambal).

Selain itu, pembatasan peran Negara hanya sebagai regulator telah melapangkan jalan bagi penjajahan Barat dan hilangnya kemandirian dan kedaulatan Negara. Semen- tara itu, penjajahan apapun bentuknya diha- ramkan Allah SWT, demikian firman-NYa,QS

An Nisa(4): 141, artinya, “Allah sekali-kali tidak

akan memberikan jalan bagi orang kafir untuk

menguasai orang mukmin”.

Adapun tentang peran masyarakat, swasta, bila dipandang penting peran tersebut, se- perti ketika Negara tidak memiliki teknologi kedokteran tertentu, pada hal sangat dibutuh- kan masyarakat, maka dibatasi pada transaksi jual beli atau yang semisal, tidak boleh lebih

dari pada itu. Disamping diberikan arahan dan motivasi agar beramal sholeh, seperti wakaf, dan shadaqah. Penting diketahui, ini tidak berarti jaminan kesehatan khilafah sama de- ngan jaminan model semasko di Rusia dan Polandia. Karena keduanya berbeda sama se- kali, dari sisi manapun.

Ketiga: Pembiayaan Berkelanjutan yang Se- sungguhnya.

Pembiayaan jaminan kesehatan Khilafah adalah model pembiayaan berkelanjutan yang sesungguhnya, setidaknya dikarenakan

dua hal, Pertama, pengeluaran untuk pembia-

yaan kesehatan telah ditetapkan Allah SWT sebagai salah satu pos pengeluaran pada baitul maal, dengan pengeluaran yang bersi- fat mutlak. Artinya, sekalipun tidak mencu- kupi dan atau tidak ada harta tersedia di pos yang diperuntukkan untuk pelayanan kese- hatan, sementara ada kebutuhan pengeluaran untuk pembiayaan pelayanan kesehatan, se- perti pembiayaan pembangunan rumah sakit,

maka ketika itu dibenarkan adanya penarikan pajak yang bersifat sementara, sebesar yang dibutuhkan saja. Jika upaya ini berakibat pada terjadinya kemudaratan pada masyarakat, Allah SWT telah mengizinkan Negara ber- hutang.

Hanya saja penting dicatat, pajak tersebut jauh berbeda dengan pajak dalam pengertian kapitalisme karena selain bersifat temporal juga hanya diambil dari harta orang kaya yang didefinisikan secara islami, yaitu kelebihan harta individu masyarakat yang sudah terpe- nuhi semua kebutuhan pokoknya, dan kebu- tuhan sekundernya secara ma’ruf. Hutang yang dimaksud adalah hutang yang sesuai ketentuan syara’.

Kedua, sumber-sumber pemasukan untuk

pembiayaan kesehatan, sesungguhnya telah didesain Allah SWT sedemikian sehingga me- madai untuk pembiayaan yang berkelanjutan, itu adalah hal yang pasti bagi Allah. Yang salah satunya berasal dari barang tambang yang jumlahnya berlimpah. Yaitu mulai dari

tambang batu bara, gas bumi, minyak bumi, hingga tambang emas dan berbagai logam

mulia lainnya, yang jumlahnya berlimpah 50.

Anggaran Pendapatan Belanjan Negara Khila- fah, dimana tidak sepeserpun harta yang ma- suk maupun yang keluar kecuali sesuai de- ngan ketentuan syariat Islam. Model APBN ini meniscayakan Negara memiliki kemampuan finansial yang memadai untuk menjalankan berbagai fungsinya.

Pembiayaan dan pengeluaran tersebut di- peruntukan bagi terwujudnya pelayanan ke- sehatan gratis berkualitas terbaik bagi semua individu masyarakat. Yaitu mulai dari pembia- yaan pembangunan semua komponen sistem kesehatan, seperti penyelenggaran pendidik- an SDM kesehatan berkualitas secara gratis dalam rangka menghasilkan SDM kesehatan berkualitas dalam jumlah yang memadai; penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dengan segala kelengkapannya; industri per- alatan kedokteran dan obat-obatan; penye- lenggaraan riset biomedik, kedokteran; hing-

ga seluruh sarana pra sarana yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan kesehat- an, seperti listrik, air bersih dan transportasi.

Dengan demikian Islam tidak mengenal pembiayaan berbasis pajak, asuransi wajib, pembiayaan berbasis kinerja, karena semua itu konsep batil yang diharamkan Allah SWT. Keempat: Kendali Mutu yang Sesungguhnya.

Konsep kendali mutu jaminan kesehatan khilafah berpedoman pada tiga strategi

utama, administrasi yang simple, segera dalam

pelaksanaan, dan dilaksanakan oleh personal yang kapabel. Yang demikian karena Ra-

sulullah SAW telah bersabda, artinya, “Sesung-

guhnya Allah SWT telah mewajibkan berbuat

ihsan atas segala sesuatu….”. (HR Muslim).

Berdasarkan tiga strategi utama tersebut, haruslah pelayanan kesehatan khilafah me- menuhi kriteria sebagai berikut: a. Berkualitas, yaitu memiliki standar pelayanan yang teruji, lagi selaras dengan prinsip etik kedokteran Islam; b. Individu pelaksana, seperti SDM ke-

sehatan selain kompeten dibidangnya juga

seorang yang amanah; c. Available, semua

jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat mudah diperoleh dan selalu

tersedia (continuous); e. Lokasi pelayanan ke-

sehatan mudah dicapai (accessible), tidak ada

lagi hambatan geografis.

Sesuai sejumlah kriteria tersebut, maka

clinical pathways hanya digunakan sebagai

panduan yang bersifat umum dalam proses tindakan kedokteran dan pelayanan kesehat- an. Sementara Case Based Groups akan di- manfaatkan sebagai salah satu unsur untuk memperkirakan anggaran yang harus disedia- kan Negara. Dan jelas tidak akan mengguna- kan konsep pelayanan sistem rujukan.

Seiring dengan sejumlah kriteria di atas, maka Negara benar-benar akan memberikan gaji yang pantas bagi para SDM kesehatan, disamping memberikan tugas yang memper- hatikan aspek insaniyahnya. Termasuk dalam

hal ini memperhatikan fungsi ummu wa rab-

itu, pemerintahan khilafah yang bersifat sen- tralisasi, dan administrasi yang bersifat de- sentralisasi meniscayakan Khalifah memiliki kewenangan yang memadai untuk mengam- bil keputusan secara cepat dan tepat, serta cepat dalam implementasi kebijakan.

Kelima: Upaya Promotif Preventif Berbasis Sistem

Sistem kehidupan Islam secara keselu- ruhan, mulai dari sistem ekonomi Islam, sis- tem pendidikan Khilafah, sistem pergaulan Islam, hingga sistem pemerintah Islam bersi- fat konstruktif terhadap upaya promotif pre- ventif. Sehinga akan terwujud masyarakat dengan pola emosi yang sehat, pola makan yang sehat, pola aktivitas yang sehat, keber- sihan, lingkungan yang sehat, perilaku seks yang sehat, epidemi yang terkarantina dan tercegah dengan baik. Hal ini tidak saja menjadi upaya preventif di tingkat keluarga berjalan efektif, namun juga meniscayakan keberhasilan upaya preventif tersebut.

Demikianlah konsep-konsep prinsip jamin- an kesehatan khilafah yang cemerlang, yang bersumber dari mata air ilmu dan kebenaran, yaitu Al Quran dan As Sunnah, dan apa yang ditunjuki oleh keduanya, berupa ijma’ sahabat dan qiyas. Inilah konsep yang berasal dari Allah SWT, satu-satunya konsep yang benar, yang lurus, sebagaimana Allah SWT tegaskan dalam berfirman-Nya, QS Al-Baqarah (2): 147,

yang artinya, “Kebenaran itu dari Rabmu, maka

janganlah sekali-kali Engkau (Muhammad) ter-

masuk orang yang ragu”. Dimana konsep-

konsep tersebut adalah bagian integral dari keseluruhan konsep sistem kehdupan Islam. Karenanya dibutuhkan sistem politik Islam, Khilafah Islam untuk menerapkannya.[]

Dokumen terkait