Judul Booklet: Mengapa JKN Wajib Ditolak, Jaminan Kesehatan Khilafah Wajib Diterapkan
(Tinjauan Konsep dan Realitas)
Diterbitkan Oleh: Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia
69 Halaman
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN ... 2
KONSEP BATIL YANG MENYESATKAN ... 5 Kesehatan/Pelayanan Kesehatan
Harus Dikomersialkan. ... 5 Pembatasan Peran Pemerintah
Sebatas Regulator dan Fasilitator. ... 6 Pembiayaan Dengan Pemalakan, Berdalih Gotong Royong dan Iming-Iming UHC ... 13 Kendali Mutu Dengan Pembayaran
Sistem Paket, Pelayanan Berjenjang,
dan Upaya Preventif Kapitalistik ... 25
FAKTA-FAKTA KEGAGALAN
KONSEP PRINSIP JAMINAN KESEHATAN
KHILAFAH YANG AGUNG ... 43 Pertama: Kesehatan/Pelayanan Kesehatan adalah Pelayanan Dasar Publik ... 44 Kedua: Negara Bertanggungjawab Penuh. ... 46 Ketiga: Pembiayaan Berkelanjutan yang Se-sungguhnya. ... 49 Keempat: Kendali Mutu yang Sesungguhnya. . 52 Kelima: Upaya Promotif Preventif
Berbasis Sistem ... 54
FAKTA JAMINAN KESEHATAN
KHILAFAH YANG MENYEJAHTERAKAN ... 56
PENDAHULUAN
elama beberapa dekade terakhir, impe-rialis kafir Barat tak henti-hentinya mempropagandakan ide jaminan kese-hatan kapitalistik ke seluruh penjuru dunia, utamanya di negeri-negeri Islam. Pelaksana-annya terus dikontrol, sekalipun ide batil ini hanyalah membuahkan ke sengsaraan di negara mereka sendiri. Usaha kafir Barat ini demi melanggengkan eksistensi dan eksploi-tasi mereka di bidang kesehatan.
Pemerintah Indonesia telah mengadopsi konsep layanan kesehatan ini dan akan melaksanakannya pada 1 Januari 2014,
ngan nama Jaminan Kesehatan Nasional. Ide ini membawa seperangkat konsep-konsep berfikir yang membius dan menyesatkan putra-putri umat yang mulia ini.
Sementara itu, sesungguhnya ummat me-miliki kekayaan pemikiran cemerlang tentang jaminan kesehatan, yaitu jaminan kesehatan khilafah, yang berasal Allah SWT, Pencipta manusia. Jaminan ini terpancar dari aqidah Islam, dengan seperangkat konsep-konsep berfikir yang berasal dari mata air yang sama. Pemikiran ini benar-benar telah menunjukkan kebenarannya di seluruh penjuru dunia sela-ma berabad-abad. Sehat untuk semua bukan sekedar mimpi, tapi realitas yang dapat dinikmati secara nyata, sebagai janji yang pasti dari Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam QS Ibrahim
(14): 24 dan 25, yang artinya,”Tidakkah kamu
buahnya pada setiap waktu dengan izin Rabnya. Dan Allah membuat perumpamaan itu
KONSEP BATIL YANG MENYESATKAN
aminan Kesehatan Nasional (JKN), se-bagaimana jaminan kesehatan kapitalistik umumnya, ditopang sejumlah konsep dan logika berfikir yang batil, yang prinsip (ter-penting) di antaranya adalah:
Kesehatan/Pelayanan Kesehatan Harus Dikomersialkan.
Konsep ini telah dipaksakan World Trade Organization (WTO) untuk diadopsi dunia, khususnya negara-negara anggota WTO. Yaitu berkenaan dengan dimasukkannya layanan kesehatan sebagai salah satu layanan dasar
yang termaktub dalam kesepakatan
perda-gangan General Agreements Trade in Services
(GATS), tahun 1994. 2
Sementara itu, bila dicermati konsep-konsep JKN, seperti pembatasan peran peme-rintah (lihat pembahasan konsep kedua); pembiayaan berbasis pajak dan asuransi wajib (lihat pembahasan konsep ke tiga; dan kendali mutu berdasarkan pembayaran sistem paket, pelayanan berjenjang, penggajian mo-del kapitasi, (lihat pembahasan konsep ke empat), semua itu menunjukkan bahwa jiwa dari JKN ada liberalisasi/komersialisasi kese-hatan itu sendiri, meski didengung-dengung-kan JKN hadir untuk mengatasi bahaya libe-ralisasi sektor kesehatan.
Pembatasan Peran Pemerintah Sebatas Regulator dan Fasilitator.
pelayan-an kesehatpelayan-an. Hal ini ditegaskpelayan-an dalam se-jumlah dokumen, diantaranya adalah tulisan
Asih dan Miroslaw, keduanya German
Tech-nical Cooperation (GTZ), LSM yang berperan
aktif membidani kelahiran JKN, bahwa: “Ide
dasar jaminan kesehatan sosial (penulis:
Indo-nesia, JKN) adalah pengalihan tanggung jawab
penyelenggaraan pelayanan kesehatan dari Pemerintah kepada institusi yang memiliki kemampuan tinggi untuk membiayai pelayan-an kesehatpelayan-an atas nama peserta jaminpelayan-an sosial”. 3
Dalam konteks JKN, tidak diragukan lagi institusi yang dimaksud adalah BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan. Yang dapat dipahami dari ayat 1 pasal 1, UU No 24 Tahun 2011, tentang BPJS bahwa
“Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang
selanjutnya disingkat BPJS adalah badan hu-kum yang dibentuk untuk menyelenggarakan
program jaminan sosial”.4 Sedangkan
pembayaran dari masyarakat, pengelolaan-nya, sampai dengan pengelolaan pelayanan kesehatan itu sendiri, ditegaskan dalam pasal 11 UU yang sama.
Disamping itu yang juga penting adalah BPJS Kesehatan meski merupakan badan hukum publik, namun prinsip-prinsip korpo-rasi tetap dijadikan dasar tata kelolanya. Hal ini ditunjukkan antara lain oleh butir b pasal
11, tentang wewenang BPJS, yaitu, “
menem-patkan Dana Jaminan Sosial untuk investasi jangka pendek dan jangka panjang dengan mempertimbangkan aspek likuiditas, solvabili-tas, kehati-hatian, keamanan dana, dan hasil
yang memadai”.(4) Artinya yang dikehendaki
dan yang terjadi adalah pemberian wewenang tata kelola finansial dan pelayanan publik (pelayanan Kesehatan) kepada korporasi atau quasi korporasi, yaitu BPJS Kesehatan.
Bila ditelaah lebih jauh, pemikiran ini
adalah konsep tata kelola yang baik (Good
Governance) menurut logika pasar bebas/
da-lam tulisan berjudul “Good Governance and
the World Bank”, sub bahasan “Good
gover-nance as pro-market govergover-nance”, 5. Konsep
penyerahan wewenang dan fungsi penting pemerintah tersebut kepada korporasi
sema-kin dipertegas dengan diadopsinya Public
Private Partnership (PPPs)/Kemitraan
Pemerin-tah dan Swasta (KPS) sebagai konsep pem-bangunan dan tata kelola sistem kesehatan di era JKN khususnya, dan pelayanan publik pa-da umumnya.
Sementara itu model tata kelola berbasis
KPS hanyalah diformulasi bagi konsep Good
Governance/Global Governance ala pasar
be-bas tersebut yang “mengharamkan” pemerin-tah berperan lebih dari sebatas regulator dan fasilitator, nsebagaimana terkandung dalam
prinsip-prinsip good governance, utamanya
butir efisien efektif 6, dimana tata kelola
efek-tif efiesien yang dimaksud adalah yang
ber-basis tatakelola korporasi 5.
dica-nangkan GATS, liberalisasi dan eksploitasi besar-besaran sektor kesehatan yang diidam-idamkan imperialisme Barat sulit terwujud. Karena itu tidak berlebihan bila KPS dipan-dang para pengamat politik sebagai
instru-ment kunci neo-liberalisme,7 dan kuda troya
neo-liberalisme.8
Adapun upaya propaganda dan penerapan konsep KPS dalam bidang kesehatan terus dilakukan pada sejumlah forum internasional,
dengan istilah “sustainable healthcare”,
seper-ti pada The Third APEC (Asia Pacific Economic
Cooperation) High Level Meetingon Health and
Economy, di Nusa Dua Bali, 1-8 September
2013, dan pada OECD Health Ministerial Mee-ting Paris, 7-8 October 2010, dengan tema
“Towards a Sustainable Health Care Model.
Disamping juga terus dilakukan persiapan sumber daya manusia (SDM) melalui sejumlah
intensive course, antara lain yang dirancang
Asia Network for Health System Strengthening
(ANHSS) dan World Bank Institute, pada tahun
layanan primer dan rumah sakit; dan tahun
2012 di Makati, Manila (http://www.kki.net).
Dan juga persiapan perangkat regulasi yang
pro pasar tersebut. Bahkan World Bank
mem-berikan pujian atas keseriusan pemerintah Indonesia mengadopsi penerapan PPPs (beritasatu.com, Mei 2012).
Adapun tentang fakta ketidakmampuan pemerintah menjalankan fungsi aslinya, ada-lah hal niscaya dalam sistem politik sekuler kapitalistik; sebagaimana halnya kegagalan
model “Semashko” di Rusia 9 adalah hal yang
pasti dari sistem sosialisme. Artinya, tidak da-pat realitas buruk tersebut dijadikan alasan pembenaran untuk merubah fungsi asli
pe-merintah, yaitu sebagai Raa’iin (yang
berwe-nang penuh dalam penyelenggaraan urusan rakyat, termasuk pelayanan kesehatan).
Selain itu, adalah tidak benar bahwa tata kelola korporasi selalui lebih efisien. Karena review terhadap sejumlah penelitian tidak mendukung asumsi tersebut, lihat di
Dengan demkian alasan tersebut lebih pada upaya untuk mengemban misi neo libe-ralisme, sebagaimana dikatakan, “’Negara ti-dak efisien mengelola sumber daya’, adalah pandangan yang dikendalikan ideologi
neo-Liberalisme”. 10
Dia atas semua itu, pembatasan fungsi pe-merintah sebatas regulator saja merupakan konsep yang bertentangan dengan Islam. Karena Allah SWT telah memberikan wewe-nang dan tanggung jawab mulia ini dipundak pemerintah (Khalifah), sebagaimana
ditutur-kan Rasulullah SAW , yang artinya,” ”Imam
(Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala. Dan hanya dia-lah yang bertanggungjawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR Al- Bukhari).
akan semakin menjauhkan umat dari gam-baran sistem pemeritahan yang ideal.
Pembiayaan Dengan Pemalakan, Berdalih Gotong Royong dan Iming-Iming UHC
Realitas tak terbantahkan, selama dua abad lebih di bawah naungan peradaban kapitalisme, bencana kemanusiaan akibat tata kelola sistem kesehatan liberalistik terus mengancam umat manusia. Karena sistem kesehatan berikut keseluruhan komponennya hanyalah pasar/industri yang digerakkan oleh uang, kosong dari jiwa pelayanan/sosial, lihat pustaka (13) dan (14).
Di Indonesia, industrialisasi pelayanan ke-sehatan semakin diperparah oleh perubahan institusi komponen utama sistem kesehatan milik pemerintah, menjadi korporasi dan quasi korporasi. Seperti pem-BLU-an Rumah Sakit-Rumah Sakit Pemerintah, sebagaimana ketentuan Undang Nomor 44 Tahun 2009
(Badan Layanan Umum, Public Service Agencie)
sendiri adalah quasi korporasi 16
Hasilnya, buah pahit harga pelayanan ke-sehatan yang terus melangit, di tengah- tengah arus pembangunan neolib yang me-miskinkan lagi meremukan daya tahan tubuh masyarakat. Bahkan setiap tahun selama dua tahun terakhir, terjadi kenaikan biaya kese-hatan melebihi nilai inflasi, dan di Indonesia kenaikan tersebut mencapai 10-13%,
demiki-an hasil survey 2011 Global Medical Trends
Survey Report dari Towers Watson. 17
Karena itu tidak heran bila tidak henti-hentinya diberitakan media massa pasien miskin yang terlambat diberikan bantuan medis bahkan sampai meregang nyawa na-mun pelayanan kesehatan yang dibutuhkan tak kunjung dapat. Tidak sedikit pula yang berhutang dan menjual barang-barang yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Seperti yang dialami
Lebih jauh lagi, ancaman bencana finansial akibat mahalnya biaya berobat pun meluas.
Dinyatakan dalam Executive Summary The
World Health Report (2010), bahwa “di seluruh
dunia, sekitar 150 juta orang menderita ben-cana finansial setiap tahun, sementara itu 100
juta orang jatuh dibawah garis kemiskinan 19.
Demikian pula terjadi kesenjangan akses pe-layanan kesehatan yang mengerikan, dimana “dua puluh persen perempuan terkaya di dunia memiliki akses 20 kali lebih besar dari
pada yang miskin”. 19
Di Indonesia, kondisi memprihatinkan ini terindikasi dari tingginya pengeluaran biaya
kesehatan out of pocket –OOP- (pembayaran
tunai). Yang mana tahun 2011, nilai OOP Indonesia lebih dari 50% dari pengeluaran kesehatan keseluruhan, sementara menurut WHO, OOP 15-20% saja sudah beresiko
mengakibatkan bencana finansial.20 Di
kebijakan liberalistik, lembaga multi lateral, WHO, terus mempropagandakan jaminan
ke-sehatan kapitalistik dengan sebutan Universal
Health Coverage. Seperti pada World Health
Assembly ke-65 di Jenewa, 21-26 Mei 2012,
dalam press release yang tertanggal 26 Mai
2012, dinyatakan, “Multiple Member States
supported the concept of universal health coverage. ‘Universal health coverage is the single most powerful concept that public health
has to offer, added Dr Chan”(21). Bahkan pada
WHA ke 58, tahun 2005, Negara-Negara anggota WHO sepakat mengadopsi konsep
UHC 22 sebagai model pembiayaan kesehatan
terbaik, yaitu pembiayaan model State funded
system (pembiayaan dari pajak) / beveridge,
seperti Inggris, dan Negara Anggota
perse-makmuran; dan Social Health Insurance, dari
premi asuransi/model bismarck, seperti Jer-man, Taiwan, dan Korea Selatan, lihat pustaka (23, 24).
pembiayaan kesehatan kapitalistik tersebut adalah pengambilan paksa (baca: pemalakan) uang rakyat, karena kepesertaan yang bersifat wajib, pada hal tidak ada sama sekali ke-wajiban rakyat memikul tanggung jawab pem-biayaan tersebut. Di Indonesia, mengadopsi
model social health insurance dengan nama
JKN, kepesertaan wajib tersebut ditetapkan oleh Undang Undang Nomor 20 Tahun 2004, tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, butir
ke 3, pasal ke 1, yang berbunyi, “Asuransi
sosial adalah suatu mekanisme pengumpulan dana yang bersifat wajib”25
Adapun kepesertaan wajib per Januari 2014, diberlakukan bagi 140 juta jiwa (pe-serta jamkesmas, jamkesda, askes, astek dan TNI/ POLRI). Sedangkan kepesertaan wajib bagi semua penduduk Indonesia diberlakukan
Januari tahun 201926 Konsekuensinya, BPJS
kecuali berupa pelayanan kesehatan sesuai standar BPJS Kesehatan, yaitu saat sakit. Tidak hanya itu, pemalakan itu semakin dipertegas dengan adanya sangsi berupa denda sejum-lah uang bagi peserta wajib yang terlambat membayar iuran, lihat pustaka (27).
Misalnya lagi, peserta pekerja bukan pene-rima upah, seperti tukang bakso, pewarung nasi, harus membayar iuran per orang per bulan Rp.25.500,- untuk pelayanan di ruang perawatan Kelas III; Rp.42.500,- untuk pela-yanan di ruang perawatan Kelas II; dan Rp.59.500,- untuk ruang perawatan Kelas I, lihat pustaka ke (29). Sementara itu jutaan “kel PNS” dan “tukang bakso” tersebut juga harus mengeluarkan biaya untuk listrik, air bersih, telepon, handpone, transportasi, pen-didikan anak-anak, rumah, pangan, pakaian, yang harganya terus melangit.
jumlah anak atau anggota keluarga lebih dari 5 orang. Disamping tidak dijaminnya pela-yanan kesehatan untuk penyakit yang
terka-tegori wabah27, sementara pada saat itu
masyarakat pasti sangat membutuhkan pela-yanan kesehatan. Bila seperti ini faktanya, bagaimana bisa dikatakan semua ini sebagai wujud gotong royong, yang kaya membantu yang miskin, yang sehat membantu yang lemah?
Iming-Iming UHC. Sementara itu,
mimpi-mimpi indah bila UHC (Universal Helath
Coverage) terwujud -100% kepesertaan JKN
jadi miskin). Tidak akan ada lagi pasien yang meninggal karena dipingpong dari satu rumah
sakit ke rumah sakit lain. (
majalahkese-hatan.com, 23 Agustus 2013. JKN: Agar Setiap
Orang Dapat Berobat Gratis).
Adapun yang mendasari pandangan terse-but adalah logika batil asuransi, yaitu apa yang dinamakan dengan mekanisme
pengum-pulan resiko (risk pooling), berdasarkan
for-mulasi 2p , p: jumlah peserta. Artinya, terkait
dengan tiga dimensi yang akan dicapai UHC, yaitu cakupan manfaat dan iuran, lihat pus-taka (19), maka makin luas cakupan, makin dalam manfaat, makin sedikit iuran (premi). Dan perusahaan asuransi (BPJS Kesehatan) akan untung bila peserta 50.000 jiwa per
Health Manage Organization,23 Karenanya
target pencapaian peserta semesta adalah
prioritas utama JKN 30. Adapun maksimalisasi
meng-efisienkan pengeluaran melalui konsep INA CBGs, sistem referral dan upaya preventif.
Hanya saja, bila dicermati secara men-dalam dan komprehensif, logika UHC sungguh tidak masuk akal. Karena sumber berbagai persoalan, termasuk persoalan tingginya unit cost, yang membelit dunia pelayanan kese-hatan saat ini adalah tata kelola sistem kesehatan yang liberalistik. Sementara itu konsep prinsip BPJS Kesehatan yang merupa-kan institusi penggerak utama UHC, justru memperluas ruang neoliberalisasi sistem kesehatan. Karenanya yang pasti terjadi se-iring peningkatan kepesertaan adalah kenaik-an unit cost. Disamping bebkenaik-an biaya asurkenaik-ansi yang makin berat akibat kegagalan menekan biaya upaya kuratif karena konsep upaya pre-ventif yang tidak rasional (lihat pembahasan I.C).
Hasilnya, sekalipun coverage (cakupan)
Kegagalan sistem jaminan kapitalistik). Arti-nya ini bukti bahwa persoalanArti-nya burukArti-nya pelaksanaan konsep, atau konsep tersebut baru diterapkan, akan tetapi konsep UHC itu sendiri yang salah batil.
Selain itu, potensi diskriminasi dan bu-ruknya kualitas pelayanan juga terlihat jelas dari pemisahan manfaat medis dan non medis, lihat pustaka (27). Karena dari aspek insaniyah, siapapun yang sakit, apapun status sosialnya, sejatinya tidak saja membutuhkan pelayanan medis terbaik tetapi juga pela-yanan non medis, seperti ruang perawatan yang nyaman, waktu tunggu yang singkat. Lebih jauh lagi dalam realitasnya seringkali perolehan manfaat medis dipengaruhi akses terhadap manfaat non medis. Misal, akses terhadap layanan transportasi yang buruk akan memperlambat perolehan manfaat medis.
Peneri-ma Bantuan Iuran (PBI), per kepala per bulan
hanya Rp 19.225 (kompas.com, Senin, 9
Sep-tember 2013. Pengelolaan Jamkesmas Dise-rahkan pada PT ASKES). Sementara menurut perhitungan Ikatan Dokter Indonesia, nilai iuran PBI yang sesuai dengan nilai keekono-mian adalah Rp 60.000 per kepala per bulan
(detiknews.com, 24 OKtober 2013.
Dokter-Dokter Demo Naik Metro Mini ke Istana). Se-mentara itu, kelompok PBI hanya boleh
meng-akses ambulans dan akomodasi kelas III 27
86,4 juta jiwa, dan peserta jamkesda 11 juta jiwa, lihat pustaka (26).
Dengan demikian jelaslah harapan-ha-rapan indah UHC, lihat pustaka (31), sesung-guhnya hanya iming-iming belaka.
Kendali Mutu Dengan Pembayaran Sistem Paket, Pelayanan Berjenjang, dan Upaya Preventif Kapitalistik
Sudah menjadi rahasia umum, tata kelola sistem kesehatan kapitalistik sarat dengan agenda imperialis, yang tak hanya membaha-yakan kesehatan tetapi juga jiwa pasien. Aki-batnya, selain sangat mahal, juga dilingkupi berbagai kejadian berbahaya. Seperti yang
ditunjukkan oleh hasil studi Jah et al.,
dipubli-kasi BMJ Qual Saf 2013;22:809–815. Dimana setiap tahun terdapat 42, 7 juta kejadian
bu-ruk di rumah sakit, yaitu Catheter-related
Urinary Tract Infection (infeksi saluran urin se-hubungan pemakaian kateter), infeksi noso-komial pnemonia (infeksi dapatan di rumah
thromboembolisms (penyumbatan aliran da-rah oleh dada-rah yang membeku), kejadian
ber-bahaya akibat pemberian obat, dan
Catheter-Related blood stream infections.32
Sistem Paket. Hanya saja, dalam pandang-an jaminpandang-anpandang-an kesehatpandang-an kapitalistik,
penggu-naan konsep pembayaran sistem paket (
case-mix funding) dianggap tidak saja penting
untuk meningkatkan efisiensi, namun juga dinilai berfungsi sebagai kendali mutu. Kare-nanya konsep liberal ini digunakan secara
luas sejak tahun 1994 hingga saat ini. 33
Di Indonesia yang digunakan saat ini
case-mix INA-CBGs (Indonesia Case Base Group's),
sebagaimana ketentuan Peraturan Menteri Kesehatan Indonesia Nomor 440 tahun 2012, tentang Tarif Rumah Sakit Berdasarkan INA
CBGs 34, selanjutnya kebijakan ini di era JKN
akan digunakan sebagai konsep pembayaran tagihan rawat inap dan rawat jalan pelayanan
kesehatan sekunder dan tersier. 35
Hanya saja bila dicermati secara
lebih mengedepankan pertimbangan bisnis dari pada kesehatan dan jiwa pasien. Ini terlihat dari penggunaan pengajuan klaim yang didasari biaya diagnosis atau kasus yang relatif sama, bukan yang real dihadapi ma-sing-masing pasien, pada hal satu tindakan medis saja yang tidak diberikan saat pasien membutuhkannya dapat berakibat fatal terhadap kesehatan bahkan jiwa pasien. Arti-nya konsep pembayaran sistem paket, telah menistakan sisi insaniyah manusia, dan me-mandang manusia tidak lebih dari benda mati yang bisa diperlakukan sesuka hati.
Lebih jauh lagi, sejumlah penelitian telah
membuktikan bahaya konsep casemix funding
bahwa sensitivititas sistem ini hanya sekitar
50%.36
Sementara itu, konsekuensi dari logika bisnis, perusahaan asuransi yang cenderung menetapkan tarif paket yang rendah. Seperti yang ditunjukkan penelitian Sari, Pramantara
S dan Rahmawati (2012), 37 Penelitian Devitra,
Estiena dan Basuddin (2011), bahwa ALS
(Avarage Long of Stay) , rata-rata waktu tinggal
di rumah sakit pasien penderita stroke yang di rawat di RS Strok Nasional Bukit Tinggi,
lebih lama dari standar INA CBGs.38
Persoalan berikutnya adalah sistem INA-CBGs sendiri yang cukup rentan terhadap fraud (kecurangan). Di AS, potensi
kecurang-an 3 – 10%). (www.kebijakankesehatanindone
sia.net). Disamping persoalan rentannya
Clinical Pathway , yang merupakan kunci
uta-ma untuk uta-masuk ke sistem INA CBGs, ditum-pangi kepentingan korporasi, seperti melalui
evidence based penelitian yang dibawah
kuali-tas pelayanan kesehatan terus mengancam jutaan jiwa masyarakat.
Pelayanan Berjenjang, adalah konsep beri-kutnya untuk kendali biaya dan mutu ala pa-sar bebas, yang telah diterapkan di Indonesia untuk pasien ASKES. Dan untuk pasien ja-minan kesehatan sosial, ditetapkan berdasar-kan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 40 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan
Program JamKesMas39, yang juga akan
digu-nakan pada JKN35. Dimana pelayanan
kese-hatan primer merupakan gerbang untuk masyarakat memanfaat pelayanan kesehatan yang lebih lanjut.
sebagaimana dicanangkan bahwa fungsi pela-yanan primer ditekankan pada upaya preven-tif. Dan apa jadinya bila ada kekurangan fasi-litas kesehatan primer dalam jumlah puluhan ribu?
Berdasarkan perhitungan Perhimpunan Klinik dan Fasilitas Kesehatan Primer Indo-nesia (PKFI) , untuk melayani 123 juta peserta, dibutuhkan minimal 41 ribu fasilitas kesehat-an primer agar rasio dokter melaykesehat-ani pasien bisa berjumlah 1 berbanding 3 ribu pasien. Jika saat ini baru ada 15.100 unit fasilitas kesehatan, artinya masih defisit 25.900 unit
primer lagi. (metronews.com. 15 September
2013. JKN Bakal Kekurangan Sarana Kesehat-an Primer).
kegawat-daruratan jantung misalnya. Akibatnya, biasa-nya karena waktu tunggu yang lama, ham-batan transportasi, terutama pasien kelas III, yang terjadi adalah keterlambatan pena-nganan. Tidak saja penyakit semakin parah, bahkan sering berujung pada kehilangan nya-wa pasien. Seperti kematian yang menimpa bayi malang Naila, ditenggarai akibat
terlam-bat penanganan 40. Tragisnya lagi, pasien JKN
yang tidak mengikuti sistem rujukan meski-pun karena alasan kebutuhan medis yang dirasakannya, namun tidak memiliki bukti itu adalah kegawatdaruratan medis, maka ia harus membayar sendiri, atau tidak akan
dila-yani jika tidak mampu membayar 27
mema-dai dengan sebaran merata, kegagalan men-jamin ketersediaan peralatan kedokteran de-ngan kualitas terbaik secara memadai bagi seluruh pasien, dan berbagai kegagalan lain-nya. Hasilnya, kualitas pelayanan tetap buruk dan masyarakat tetap harus membayar mahal. (Lihat pembahasan Kegagalan Jaminan Kese-hatan Kapitalistik).
Upaya Preventif Kapitalistik. Sebagaimana
halnya konsep pembayaran casemix dan
sis-tem rujukan, upaya preventif juga dinilai penting untuk menekan biaya upaya kuratif yang mahal, di tingkat pelayanan primer, yang ujungnya diharapkan meningkatkan
kua-litas upaya kuratif. Hanya saja dalam mind set
dalam hal upaya preventif. Yaitu Masalah kesehatan pasien sering disebabkan oleh masalah pada keluarga, lihat pustaka (41, 42). Seiring kepentingan pencapaian upaya pre-ventif tersebut, maka dokter keluarga dimoti-vasi dengan penggajian sistem kapitasi, upah maksimal akan diperoleh bila tidak ada pa-siennya yang sakit, lihat pustaka (35).
Tidak ada perdebatan bahwa mencegah jauh lebih dari pada mengobati, sehingga perlu ada upaya preventif yang serius. Hanya saja bila upaya preventif dicukupkan pada tataran individu dan keluarga, sementara ber-bagai kebijakan yang dekstruktif terhadap upaya preventif tersebut tetap dibiarkan, dapat dipastikan upaya ini tidak akan banyak memberi manfaat, disamping juga akan me-nimbulkan kejenuhan. Mengapa demikian?
Air, harga air bersih semakin mahal, disam-ping semakin meluasnya wilayah yang me-ngalami krisis air bersih, lihat pustaka (43). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pekerjaan Umum 2012, sampai akhir tahun lalu sebayak 58,05 persen masyarakat mendapatkan akses air minum
layak." (liputan6.com. 18 Oktober 2013.
Target Air Bersih di 2015 Perlu Kerja Keras 3 Kali Lipat).
Karena itu, dapat dipastikan angka kesa-kitan tetap tinggi, bahkan dapat lebih parah lagi. Disamping bahaya moral hazard akibat beban kerja dokter yang terlalu berat semen-tara gajinya sedikit. Dimana dengan nilai iuran PBI RP 19.225, per kepala dokter keluarga ha-nya digaji Rp 75.000 per orang/ pasien. Hasil-nya, pelayanan kesehatan berkualitas hanya-lah ilusi belaka.
ber-ulat, jelas tidak akan pernah menghasilkan buah yang baik.
Mari kita renungkan kembali, firman Allah SWT dalam QS Ibrahim (14): 24 dan 25, yang
artinya,”Tidakkah kamu memperhatikan
FAKTA-FAKTA KEGAGALAN JAMINAN
KESEHATAN KAPITALIS
angat jelas kebatilan konsep jaminan kesehatan kapitalistik, JKN. Karenanya penerapan konsep tersebut hanyalah berujung pada kesengsaraan dan bencana kemanusiaan walau bagaimanapun bagus implementasinya, seberapa lamapun lama dilaksanakannya. Adapun tentang fakta-fakta kegagalan sistem jaminan kapitalis sekalipun jarang dipaparkan secara gamblang pada ma-syarakat luas, namun cepat atau lambat pasti terbongkar. Ibarat menyimpan daging busuk,
cepat atau lambat pasti akan tercium aroma tak sedapnya.
United Kingdom, Australia, Jerman, Ne-therland, New Zeland, dan Canada adalah Negara-Negara yang telah menerapakan kebi-jakan skema jaminan kesehatan universal, selama puluhan tahun, bahkan ada yang lebih setengah abad, namun persoalan beban bia-ya, diskriminasi, dan berbagai persoalan se-rius lainnya tetap tidak mampu diatasi, seperti
ditunjukkan oleh penelitian Schoen et al.,
(2007).
Selanjutnya, 3. Adanya tambahan beban biaya, mengakibatkan 1-19% responden ti-dak menebus resep, sakit tapi titi-dak ke dokter, mangkir dari test, treatmen dan follow up pengobatan; 4. Sebanyak 4-19% responden
harus mengeluarkan biaya tambahan (fee of
pocket) lebih dari US $ 1.000 selama setahun
terakhir; 5. Terdapat 1-8% responden tidak mampu/kesulitan membayar tagihan pelayan-an kesehatpelayan-an selama setahun terakhir;
Berikutnya, 6. Sulitnya akses pada dokter saat sakit. Terdapat 4-30% responden yang harus menunggu 6 hari atau lebih; 7. Hanya 5-12% yang mempunyai akses elektronik catatan medis; 8. Harus menunggu dua jam atau lebih di ruang emergensi baru kemudian dapat pengobatan, dialami 9-46%
respon-den; 9. Waktu tunggu untuk elective atau
nonemergency surgery lebih dari 6 bulan,
bermanfaat selama dua tahun terakhir. Lihat pustaka (44).
Selain itu, betapa sulitnya akses masya-rakat miskin terhapat pelayanan kesehatan di Toronto, Canada, diungkapkan penelitian Olah,Gaisano, dan Hwang yang dipublis oleh The CMAJ, April 2, 2013, 185(6), dengan judul
The effect of socioeconomic status on access to
primary care: an audit study. Dimana para
peneliti yang menelpon dengan berpura-pura sebagai pegawai bank atau orang kaya mem-peroleh waktu bertemu dokter 22.6%; se-dangkan yang berpura-pura sebagai orang miskin (penganggur/penerima bantuan peme-rintah hanya 14.3%. Penelitian ini berawal perlakuan diskriminadarisi para pasien Dr.
Stephen Hwang (Reuters Health, 7 Maret
2013, Even in Canada, wealth influences
treat-ment: study). Lihat pustaka (45).
me-nunggu lama agar dapat pelayanan baik di rumah sakit maupun di pusat-pusat kesehatan lainnya; dan Kondisi sosial ekonomi masih mempengaruhi pemanfaatan layanan kese-hatan. Hal ini sebagai mana dibuktikan oleh hasil penelitian Vikum, Krokstad,dan Westin.
Penelitian ini dipublikasi International Journal
for Equity in Health 2012, 11:48, dengan
berjudul “Socioeconomic inequalities in health
care utilisation in Norway: the
population-based HUNT3 survey”.46
Sedang di Cuba, apa yang sesungguhnya dialami masyarakat Cuba bertolak belakang dengan yang ditayang Film Sicko. Betapa beratnya penderitaan masyarakat Cuba terse-but dipaparkan Ryan Balis, analis kebijakan
pada The National Center for Public Policy
Research, melalui tulisannya yang berjudul
“Sicko" Presents False View of Cuba's Health
System”, Ia menghimpun berbagai fakta buruk
yaitu: 1. Pelayanan kesehatan di Cuba sebe-narnya terbagai dua. Yaitu rumah sakit peme-rintah dengan teknologi terbaik hanya untuk elit partai komunis, dan orang asing (turis
kesehatan) yang membayar dengan “hard
currency”.
Selanjutnya, 2. Waktu tunggu yang sangat lama mengakibatkan masyarakat Cuba yang sakit harus membeli secara ilegal dan mahal layanan kesehatan, disamping pembatasan
akses terhadap rudimentary medicines, seperti
antibiotik, aspirin dibatasi. 3. Terdapat lapor-an bahwa penduduk Cuba terlarlapor-ang mengak-ses rumah sakit yang disediakan untuk orang asing. Seringkali mereka harus membawa tempat tidur lipat dan selimut ketika dirawat.
Berikutnya, 4. Akibat program “The oil for
doctors, layanan kesehatan primer tidak
dengan harga diskon. 5. Program The oil for
doctors juga mengakibatkan jumlah operasi
mata di suatu rumah sakit membubung dari sekitar 15 menjadi lebih dari 120 per hari. Akibatnya mutu pelayanan memburuk, ba-nyak pasien yang tidak mendapatkan tes preoperative yang penting, sehingga memba-hayakan kesehatan bahkan nyawa pasien. (lihat pustaka 47)
KONSEP PRINSIP JAMINAN
KESEHATAN KHILAFAH YANG AGUNG
ami telah menurunkan kepadamu al-Kitab (Al Quran) untuk menje-laskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi
orang-orang yang berserah diri”. TQ An Nahl
mesta. Adapun diantara yang prinsip dari konsep agung tersebut adalah:
Pertama: Kesehatan/Pelayanan Kesehatan adalah Pelayanan Dasar Publik.
Kesehatan/pelayanan kesehatan telah di-tetapkan Allah SWT sebagai kebutuhan pokok publik. Yaitu sebagaimana ditegaskan
Ra-sulullah SAW, yang artinya, “Siapa saja yang
ketika memasuki pagi hari mendapati keadaan aman kelompoknya, sehat badannya, memiliki bahan makanan untuk hari itu, maka
seolah-olah dunia telah menjadi miliknya”. (HR
Bukhari).
Dari kedua aspek di tersebut terlihat jelas bahwa kesehatan/pelayanan kesehatan telah ditetapkan Allah SWT sebagai jasa sosial se-cara totalitas. Yaitu mulai jasa dokter, obat-obatan, penggunaan peralatan medis, peme-riksaan penunjang, hingga sarana dan pra sarana yang dibutuhkan untuk pelayanan ke-sehatan yang berkualitas sesuai prinsip etik yang islami. Tidak boleh dikomersialkan, wa-laupun hanya secuil kapas, apapun alasannya. Termasuk tidak diterima alasan, kesehatan harus dikomersialkan agar masyarakat termo-tivasi untuk hidup sehat. Karena, ini persoalan lain, lebih dari pada itu ini adalah pandangan yang dikendalikan ideologi kapitalis, bukan Islam.
Disamping itu faktanya, sebagaimana yang kita saksikan saat ini, komersialisasi kese-hatan telah berakibat pada kemudharatan, bahaya, kesengsaran pada masyarakat, yang itu semua tidak dibenarkan Allah SWT terjadi. Demikian ditegaskan Rasulullah SAW dalam
membuat mudharat (bahaya) pada diri sendiri, dan tidak boleh pula membuat mudharat pada
orang lain”.(HR Ahmad dan Ibnu Majah). Dan
juga, kita saksikan komersialisasi telah ber-akibat pada penistaan kemanusiaan manusia, yang Allah perintahkan untuk dijaga kemulia-annya, sebagaimana firman-Nya dalam QS Al
Isra:70, artinya, ”Sesungguhnya Kami
memulia-kan anak cucu Adam (manusia)..”.
Kedua: Negara Bertanggungjawab Penuh. Pemerintah/Negara telah diamanahkan Allah SWT sebagai pihak yang bertanggung-jawab penuh menjamin pemenuhan kebu-tuhan pelayanan kesehatan setiap individu masyarakat. Diberikan secara cuma-cuma de-ngan kualitas terbaik bagi setiap individu masyarakat, tidak saja bagi yang miskin tapi juga yang kaya, apapun warna kulit dan agamanya. Tentang tugas penting dan mulia ini telah ditegaskan Rasulullah dalam
tutur-nya, yang artitutur-nya,”Imam (Khalifah) yang
penggembala. Dan hanya dialah yang
bertang-gungjawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR
Al- Bukhari).
Sehubungan dengan itu, dipundak peme-rintah pulalah terletak tanggung jawab segala sesuatu yang diperlukan bagi terwujudnya keterjaminan setiap orang terhadap pembia-yaan kesehatan; penyediaan dan penyeleng-garaan pelayanan kesehatan; penyediaan dan penyelenggaraan pendidikan SDM kesehatan; penyediaan peralatan kedokteran, obat-obatan dan teknologi terkini; sarana pra sa-rana lainnya yang penting bagi terseleng-garanya pelayanan kesehatan terbaik, seperti listrik, transportasi dan air bersih; dan tata kelola keseluruhannya.
ter-sebut pasti berujung pada kelalain peme-rintah dalam menjalankan tanggung jawab-nya, yang hal tersebut merupakan perbuatan tercela, sebagaimana ditegaskan Rasulullah
SAW, artinya ”Tidak beriman orang yang tidak
bisa menjaga amanah yang dibebankan pada-nya. Dan tidak beragama orang yang tidak
me-nepati janjinya” (HR Ahmad bin Hambal).
Selain itu, pembatasan peran Negara hanya sebagai regulator telah melapangkan jalan bagi penjajahan Barat dan hilangnya kemandirian dan kedaulatan Negara. Semen-tara itu, penjajahan apapun bentuknya diha-ramkan Allah SWT, demikian firman-NYa,QS
An Nisa(4): 141, artinya, “Allah sekali-kali tidak
akan memberikan jalan bagi orang kafir untuk
menguasai orang mukmin”.
dari pada itu. Disamping diberikan arahan dan motivasi agar beramal sholeh, seperti wakaf, dan shadaqah. Penting diketahui, ini tidak berarti jaminan kesehatan khilafah sama de-ngan jaminan model semasko di Rusia dan Polandia. Karena keduanya berbeda sama se-kali, dari sisi manapun.
Ketiga: Pembiayaan Berkelanjutan yang Se-sungguhnya.
Pembiayaan jaminan kesehatan Khilafah adalah model pembiayaan berkelanjutan yang sesungguhnya, setidaknya dikarenakan
dua hal, Pertama, pengeluaran untuk
maka ketika itu dibenarkan adanya penarikan pajak yang bersifat sementara, sebesar yang dibutuhkan saja. Jika upaya ini berakibat pada terjadinya kemudaratan pada masyarakat, Allah SWT telah mengizinkan Negara ber-hutang.
Hanya saja penting dicatat, pajak tersebut jauh berbeda dengan pajak dalam pengertian kapitalisme karena selain bersifat temporal juga hanya diambil dari harta orang kaya yang didefinisikan secara islami, yaitu kelebihan harta individu masyarakat yang sudah terpe-nuhi semua kebutuhan pokoknya, dan kebu-tuhan sekundernya secara ma’ruf. Hutang yang dimaksud adalah hutang yang sesuai ketentuan syara’.
Kedua, sumber-sumber pemasukan untuk
tambang batu bara, gas bumi, minyak bumi, hingga tambang emas dan berbagai logam
mulia lainnya, yang jumlahnya berlimpah 50.
Anggaran Pendapatan Belanjan Negara Khila-fah, dimana tidak sepeserpun harta yang ma-suk maupun yang keluar kecuali sesuai de-ngan ketentuan syariat Islam. Model APBN ini meniscayakan Negara memiliki kemampuan finansial yang memadai untuk menjalankan berbagai fungsinya.
hing-ga seluruh sarana pra sarana yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan kesehat-an, seperti listrik, air bersih dan transportasi.
Dengan demikian Islam tidak mengenal pembiayaan berbasis pajak, asuransi wajib, pembiayaan berbasis kinerja, karena semua itu konsep batil yang diharamkan Allah SWT.
Keempat: Kendali Mutu yang Sesungguhnya. Konsep kendali mutu jaminan kesehatan khilafah berpedoman pada tiga strategi
utama, administrasi yang simple, segera dalam
pelaksanaan, dan dilaksanakan oleh personal yang kapabel. Yang demikian karena
Ra-sulullah SAW telah bersabda, artinya,
“Sesung-guhnya Allah SWT telah mewajibkan berbuat
ihsan atas segala sesuatu….”. (HR Muslim).
ke-sehatan selain kompeten dibidangnya juga
seorang yang amanah; c. Available, semua
jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat mudah diperoleh dan selalu
tersedia (continuous); e. Lokasi pelayanan
ke-sehatan mudah dicapai (accessible), tidak ada
lagi hambatan geografis.
Sesuai sejumlah kriteria tersebut, maka
clinical pathways hanya digunakan sebagai
panduan yang bersifat umum dalam proses tindakan kedokteran dan pelayanan kesehat-an. Sementara Case Based Groups akan di-manfaatkan sebagai salah satu unsur untuk memperkirakan anggaran yang harus disedia-kan Negara. Dan jelas tidak adisedia-kan mengguna-kan konsep pelayanan sistem rujumengguna-kan.
Seiring dengan sejumlah kriteria di atas, maka Negara benar-benar akan memberikan gaji yang pantas bagi para SDM kesehatan, disamping memberikan tugas yang memper-hatikan aspek insaniyahnya. Termasuk dalam
hal ini memperhatikan fungsi ummu wa
itu, pemerintahan khilafah yang bersifat sen-tralisasi, dan administrasi yang bersifat de-sentralisasi meniscayakan Khalifah memiliki kewenangan yang memadai untuk mengam-bil keputusan secara cepat dan tepat, serta cepat dalam implementasi kebijakan.
Kelima: Upaya Promotif Preventif Berbasis Sistem
Demikianlah konsep-konsep prinsip jamin-an kesehatjamin-an khilafah yjamin-ang cemerljamin-ang, yjamin-ang bersumber dari mata air ilmu dan kebenaran, yaitu Al Quran dan As Sunnah, dan apa yang ditunjuki oleh keduanya, berupa ijma’ sahabat dan qiyas. Inilah konsep yang berasal dari Allah SWT, satu-satunya konsep yang benar, yang lurus, sebagaimana Allah SWT tegaskan dalam berfirman-Nya, QS Al-Baqarah (2): 147,
yang artinya, “Kebenaran itu dari Rabmu, maka
janganlah sekali-kali Engkau (Muhammad)
ter-masuk orang yang ragu”. Dimana
FAKTA JAMINAN KESEHATAN
KHILAFAH YANG MENYEJAHTERAKAN
ebagai janji yang pasti dari Allah SWT, konsep-konsep jaminan kesehatan khi-lafah yang diterapkan oleh sistem politik Islam, Khilafah Islam benar-benar telah menghasilkan kesejahteraan spetakular, yang diidamkan setiap anak manusia. Diantaranya adalah: pertama, jangankan orang yang sakit, yang berpura-pura sakitpun diberi pelayanan yang patut dan pantas bagi seorang anak adam.
Hal itu ditunjukkan dari apa yang terjadi pada masa kejayaan Islam. Yaitu seorang yang
berpura-pura sakit, memasuki rumah sakit yang ada di Negara itu, padahal ia tidak men-derita sakit apapun, sementara sang dokter mengetahui bahwa pasien tersebut berpura-pura sakit. Namun ia tetap tersenyum dan berpura-pura mengobatinya.
Selanjutnya, setelah tiga hari perawatan berlalu, sang dokter menulis sepucuk surat yang diberikan pada pasien tersebut –di dalamnya ada sejumlah uang– untuk menga-barkan habisnya masa kunjungan. Si pasien-pun mengambil uang tersebut yang cukup baginya sebagai bekal selama ia mencari pe-kerjaan. Kemudian ia keluar dari rumah sakit dengan perasaan mulia. Semua seorang tamu
yang berkunjung. 51
Di Kordoba saja, yang luasnya lebih sedikit dari Propinsi Banten (Kordoba:13.550 Km2, Propinsi Banten: 8.234,69 Km2), memiliki lebih dari 50 rumah sakit. (lihat pustaka 52). Bila Kordoba dibagi menjadi 7 Kabupaten, maka setiap kabupaten terdapat 7-8 rumah sakit. Indonesia (1.906.240 Km2) yang luas-nya 2000 kali luas Kordoba, haluas-nya memiliki 1.320 rumah sakit (DepKes, 2009), 1/76 jum-lah yang dimiliki Kordoba, idealnya 100.000 RS.
Lebih jauh lagi, di Kota-Kota besar, ter-dapat sejumlah rumah sakit yang didesain untuk pelayanan pasien dan pendidikan. Se-perti RS Al Dhudi, di Baghdad, didirikan Adh-du Daulah Ibnu Buwaih, 371 H. (lihat pustaka 53). Luar biasa, Rumah sakit ini mampu mem-berikan pelayanan kepada 4000 pasien per-hari, bandingkan dengan RSCM, Rumah Sakit Rujukan Nasional, hanya mampu memberikan pelayanan maksimal 2000 pasien per hari.
Selain itu, rumah sakit-rumah sakit Khila-fah benar-benar didesain untuk kesembuhan pasien. Ruangan pelayanan yang nyaman, sejuk, asri dan beraroma segar. Para pasien dilayani oleh para tenaga kesehatan yang kompeten, profesional, berpegang teguh pa-da etik kedokteran Islam yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.
setahun berpraktek di Madinah kesulitan me-nemukan orang yang sakit.
Ini baru sedikit fakta yang disajikan ten-tang betapa menyejahterakannya jaminan ke-sehatan khilafah. Masih banyak fakta-fakta mengagumkan lain diungkapkan tidak saja oleh sejarawan muslim, tetapi juga non mus-lim. Fakta yang akan kembali hadir dalam waktu dekat, sebagai janji yang pasti dari
Allah SWT. TQS 24:55, “Dan Allah Telah
ber-janji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi
aman sentausa...”. Allahu A’lam. Akhiru
DAFTAR PUSTAKA
1. Al Quran dan Terjemahannya. Departemen Agama RI. 2009.
2. Drager, N. Trade in Health Services and The General Agreement on Trade in Sevices. Implication for Health Policy. Hand out.
www.who.int/trade/en/Drager2.pdf
3. Asih Eka Putri dan MiroslowManicki. Pemba-ngunan Sistem Jaminan Kesehatan Sosial: Bagaimana Jaminan Kesehatan Sosial Dapat Membuat Perubahan?. German Technical Cooporation, Social Health Insurance Project Indonesia). Jakarta. (Makalah).
4. Anonim. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
www.hukum.online.com
5. Collingwood, V. (edited). Good Governance and the World Bank. www.ucl.a.uk
6. Graham, J., Amos, B., dan Plumptre, T. Principles for Good Governance in the 21st Century. Po-licy Brief No. 15. August 2003. www.isn.ethz.ch. 7. Hearne, R. Neo-liberalism, Public Services and
PPPs in Ireland. Progress in Irish Urban Studies, Vol. 2, 2006, pp 1-14.
http://www.publicprivatepartnership.net/docume nts/Rhearne_PIUS_Vol.2.pdf.
8. Miraftab, F. Public-Private Partnerships The Trojan Horse of Neoliberal Development?
Journal of Planning Education and Research 24:89-101, 2004.
www.urban.illinois.edu/faculty/miraftab/mirafta b/trojan%20horse.pdf
9. Russian Health Profiles in Transition (Hand out). www.bibalex.org/supercourse/lecture/lec20001/i ndex.htm.
Health, Vol: 39, No. 1, 2010, pp. 64-69.
journals.tums.ac.ir/pdf/15192.
11.Al Maliki. Politik Ekonomi Islam. Al Izzah. Bogor. 2008.
12.Hizbut Tahrir. Ajhizatu Daulatul Khilafah. Hizbut Tahrir. Beirut.
13.Hsiao, W. C. Abnormal economics in the health sector. Health Policy 32 (1995) 125-139. 2005.
https://www.hsph.harvard.edu/health.../hsiao_19 95_-_abnormal_econom.
14.WHO. Systems Thinking for Health Systems Strengthening. Alliance for Health Policy and Systems Research. Capria. France. 2009.
www.who.int/alliance
15.Anonim. Undang Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit.
www.dikti.go.id/files/.../UU-44-2009Rumah Sakit .pdf
16.Anonim. Peraturan Pemerintah RI Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum.
datahukum.pnri.go.id/index.php?..ppno23th2005
www.towerswatson.com/.../Survey-Research... /2011
18.Pasien Jamkesmas Terpaksa Jual Tanah dan Rumah. (Tribunnews.com. Selasa 1 OKtober 2013).
19.Anonim. Executive Summary The World Health Report. Health Systems Financing Path The Universal Coverage. WHO. 2010.
www.who.int/whr/2010/
20.Harimurti, P., Pambudi, E., Pigazzini.A., dan Tandon, A. The Nuts and Bolts of Jamkesmas. Indonesia’s Government Financed Health Co-verage Program. WHO. Washington, DC. 2013.
www-wds.worldbank.org
21.Anonim. 65th World Health Assembly closes with new global health measures. Release 26 MAY 2012. GENEVA.
http://www.who.int/mediacentre/news/releases/ 2012.
22.Anonim. World Health Assembly concludes: adopts key resolutions affecting global public health. 25 Mei 2005.
23.D., Henny. Modul Belajar Mengajar: Asuransi dan Manage Care. Program Pasca Sarjana Kese-hatan Masyarakat. UNPAD. 2007.
www.scribd.com
24.Riyarto,S. Tren Pembiayaan di Indonesia: Model Bismarckian atau Beveridge? Hand out.
25.Anonim. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. 26.Mulai Januari 2014, 140 juta Rakyat Bisa
Berobat Gratis. Sayangilah.com, Senin, 21 Oktober 2013. Anonim. Bahan Paparan JKN.
www.jkn.depkes.go.id
27.Anonim. Buku Saku FAQ BPJS Kesehatan. Kemenkes RI. Jakarta. 2013.
28.Nazara, S. Pembangunan Sosial Menuju Indo-nesia Maju. Universitas Airlangga, Surabaya 20 Juni 2013. (hand out). www.unair.ac.id.
29.Pokja Regulasi BPJS Kesehatan. Perundang-dangan Pelaksanaan BPJS Kesehatan. (hand out). www.djsn.go.id.
30.Anonim. Jaminan Kesehatan Untuk Semua.
www.depkes.go.id.
32.Jha, AK., Larizgoitia, I., Audera-Lopez, C., Pra-sopa-Plaizier, N., Waters, A., dan Bates, D. W. The Global burden of unsafe medical care: analytic modelling of observational studies. BMJ Qual Saf 2013;22:809–815.
www.qualitysavety.bmj.com.
33.Anonim. Casemix Funding History.
www.health.vic.gov.
34.Anonim. Peraturan Menteri Kesehatan Indone-sia Nomor 440 tahun 2012, tentang Tarif Ru-mah Sakit Berdasarkan INA CBGs.
35.Taher, A. Penyiapan Provider Jaminan Kese-hatan. Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan, KemenKes RI. RakerNas DJSN. Merllyn Park Hotel. Jakarta Pusat. 3 Juli 2013.
36.Halling, A., Fridh, G., Ovhed, I. Validating the Johns Hopkins ACG Case-Mix System of the elderly in Swedish primary health care. BMC Public Health 2006, 6:171.
Yogya-karta. Fakultas Farmasi. UGM. YogyaYogya-karta. 2012. Tesis.
38.Devitra, A. Analisis Implementasi Clinical
Pathway Kasus Stoke Berdasarkan INA-CBGs di
Rumah Sakit Sroke Nasional Bukit Tinggi. Tahun 2011. Universitas Andalas. Padang. 2012. Tesis.
39.Anonim. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 40 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Program JamKesMas.
40.Tribunnews.com. 1 November 2013. Bayi Naila Meninggal Karena Lambat Penanganan.
41.Anonim. Pelayanan Kedokteran Keluarga. Hand Out.
42.Lestari, A. Ilmu Kedokteran Keluarga. Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokter-an UNS. HKedokter-and Out.
43.Rini. Privatisasi Sumber Daya Air Akibatkan Kegagalan Distribusi, Dan Solusi Islam. Maka-lah.
Health Aff November 2007 vol. 26 no. 6 w717-w734.
45.Olah, M. E., Gaisano, G., dan Hwang, S. W. The effect of socioeconomic status on access to primary care: an audit study. The CMAJ, April 2, 2013, 185(6).
46.Access to a regular medical doctor, 2010.
Ottawa (ON): Statistics Canada; 2010. Available:
www.statcan.gc.ca/pub/82-625-x/2011001
/article/11456-eng.htm. (accessed 2011 Aug.
22). dalam Olah, M. E., Gaisano, G., dan Hwang, S. W. The effect of socioeconomic status on access to primary care: an audit study. The CMAJ, April 2, 2013, 185(6).
47.Balis, R. “Sicko" Presents False View of Cuba's Health System”. The National Center for Public Policy Research. www.flse nate.gov/data/session /2008/House/bills.
48.YiengprugSAWan, V., Carmichael, GA., LL- Y Lim, Seubsman, S., dan Sleigh, AC. Explanation of inequality in utilization of ambulatory care before and after universal health insurance in Thailand. http://www.healthpool.
50.Anonim. Makalah Konferensi Tokoh Umat 1433 H.
51.‘Athiyat, A. Jalan Baru Islam. PTI. Bogor. 1997. hal. 18.
52.Al Faruqi, I dan Al Faruqi, L. Atlas Budaya: Men-jelajah Khazanah Peradaban Gemilang. Mizan. Bandung. 1998.
53.Yamani, J. K. Kedokteran Islam dari Masa ke Masa. Dzikra. Bandung. 2002.
54.Al-Ghazali, Sharif Kaf. The Origin of bimaristans (hospitals) in Islamic medical history.
http://www.islamicmedicine.or/bimaristan.htm.
55.Ragheb, E. Hospital in Islamic civilization.