BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
2. Pembahasan
2.8. Kesehatan mental
Tidak n = (%) Menghabiskan seluruh waktu anda untuk melakukan pekerjaan
atau aktifitas lain.
Menyelesaikan pekerjaan tidak lama dari biasanya.
Dalam melakukan pekerjaan atau kegiatan lain tidak berhati-hati sebagaimana biasanya
5 (9.3) 16 (29.6) 20 (37.0) 49 (90.7) 38 (70.4) 34 (63.0) 1.2.8. Kesehatan Mental
Kesehatan mental terdiri dari 5 pertanyaan dan didapat mean sebesar 63.11 (dalam rentang 0 – 100). Nilai tertinggi didapat dari pertanyaan nomor 25, apakah lansia merasa sangat tertekan. Sebanyak 19 responden (35.2%) menjawab tidak pernah. Sedangkan nilai terendah didapat dari pertanyaan nomor 24, apakah lansia merasa sangat gugup. Sebanyak 12 responden (22.2%) menjawab cukup sering.
Tabel 10. Distribusi frekuensi dan persentase responden berdasarkan kesehatan mental (N = 54). Pernyataan S n = (%) HS n = (%) CS n = (%) KK n = (%) J n = (%) TP n = (%) Apakah anda orang yang
sangat gugup?
Apkah anda merasa sangat tertekan dan tak ada yang menggembirakan anda? 0 (0) 0 (0) 0 (0) 1 (1.9) 12 (22.2) 7 (13.0) 13 (24.1)) 7 (13.0) 28 (51.9) 20 (37.0) 1 (1.9) 19 (35.2)
Apakah anda merasa tenang dan damai?
Apakah anda merasa putus asa&aedih?
Apakah anda seorang yang periang? 0 (0) 0 (0) 0 (0) 1 (1.9) 3 (5.6) 4 (7.4) 19 (35.2) 5 (9.3) 28 (51.9) 25 (46.3) 9 (16.7) 13 (24.1) 9 (16.7) 19 (35.2) 9 (16.7) 0 (0) 18 (33.3) 0 (0) 2. Pembahasan 2.1. Fungsi Fisik
Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 54 responden didapatkan mean sebesar 47.21 (dalam rentang 0 – 100). Nilai tertinggi didapat dari pertanyaan nomor 12, apakah keadaan kesehatan membatasi lansia dalam melakukan aktivitas mandi atau memakai baju sendiri, sebanyak 44 responden (81.5%) menjawab tidak membatasi. Menurut Microsoft Encarta (2002) bahwa semua makhluk hidup secara alami dibekali kemampuan untuk menolong dirinya sendiri dengan cara menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan materi dan alam agar dapat bertahan hidup. Teori tersebut juga dikemukakan oleh Malcolm (1992) bahwa kesungguhan dan kematangan diri seseorang bergerak dan ketergantungan total menuju ke arah pengembangan diri sehingga mampu untuk mengarahkan dirinya sendiri secara mandiri.Sedangkan nilai terendah didapat dari pertanyaan nomor 3 dan nomor 9 apakah keadaan kesehatan membatasi lansia dalam melakukan aktifitas yang membutuhkan banyak energi seperti mengangkat benda berat dan berjalan lebih dari 1,5 Km sebanyak 81.5% lansia menjawab sangat membatasi. Hal ini sesuai dengan
pada lansia mengakibatkan dirinya tidak dapat mengerjakan berbagai aktifitas atau kegiatan sebaik pada masa muda dulu.
2.2. Keterbatasan Fisik
Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 54 responden didapatkan mean sebesar 36.11 (dalam rentang 0 – 100). Nilai tertinggi didapat dari pertanyaan nomor 13, apkah lansia menghabiskan seluruh waktunya untuk melakukan pekerjaan atau aktifitas lain. Sebanyak 48 responden (88.9%) menjawab tidak. Hal ini tidak sesuai dengan apa yang dikatakan Sukarni (1994) keadaan yang sempurna baik dari segi fisik, mental maupun kesejahteraan sosial dari seseorang dikatakan sehat tidak hanya terlepas dari penyakit dan kelemahan tetapi juga mampu menjalankan aktifitas kehidupan dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan. Sedangkan nilai terendah didapat dari pertanyaan nomor 16, apakah lansia mengalami kesulitan dalam melakukan pekerjaan atau aktifitas yang membutuhkan energi ekstra. Sebanyak 50 responden (92.6%) menjawab ya. Sesuai dengan yang dikatakan Papalia (2001) yang menyebutkan perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada lansia mengakibatkan dirinya tidak dapat mengerjakan berbagai aktifitas atau sebaik pada masa muda dulu.
2.3. Nyeri Tubuh
Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 54 responden didapatkan mean sebesar 50.69 (dalam rentang 0 – 100). Nilai tertinggi didapat dari pertanyaan nomor 21, seberapa besar lansia merasakan nyeri pada tubuhnya. Sebanyak 8 responden (14.8%) menjawab nyeri sangat ringan.Hal ini tidak sesuai dengan yang dikemukakan oleh Haylock (2006) bahwa rasa nyeri merampas
kemungkinan untuk menikmati hidup dari penderitanya dan rasa nyeri yang hebat sanggup menimbulkan perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan nilai terendah didapat dari pertanyaan nomor 22, seberapa besar rasa nyeri mengganggu aktivitas lansia sehari-hari, sebanyak 13 responden (24.1%) menjawab sangat mrngganggu. Hasil ini sesuai dengan penelitian Ilyas (1997) yang menemukan bahwa lansia menderita berbagai penyakit yang berhubungan dengan ketuaan antara lain diabetes mellitus, hipertensi, jantung koroner, rematik dan asma sehingga menyebabkan aktifitas bekerja terganggu. Demikian juga temuan studi yang dilakukan Lembaga Demografi Universitas Indonesia di Kabipaten Bogor tahun 1998, sekitar 74% lansia dinyatakan mengidap penyakit kronis. Tekanan darah tinggi adalah penyakit kronis yang banyak diderita lanjut usia, sehingga mereka tidak dapat melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari (Suhartini, 2004).
2.4. Kesehatan Secara Umum
Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 54 responden didapatkan mean sebesar 31.77 (dalam rentang 0 – 100). Nilai tertinggi didapat dari pertanyaan nomor 34 saya merasa sama sehatnya seperti orang lain. Sebanyak 4 responnden (7.4%) menjawab benar. Menurut Murtiwi (2005) kesehatan lansia diukur berdasarkan terpenuhinya semua tingkatan kehidupan fisik, fungsional, sosial, spiritual, psikologis, dan ekonomi. Jadi kemungkinan lansia merasakan bahwa semua tingkatan kehidupanya terpenuhi dengan baik. Sedangkan nilai terendah dari pertanyaan nomor 35, saya merasa kesehatan saya semakin memburuk, (35.2%) menjawab benar. Hasil ini sesuai dengan
berdoa dan mendekatkan diri pada tuhan karena hal ini dianggap sebagai sumber kekuatan agar mampu menerima keadaan yang dihadapi. Teori yang lain juga mengatakan pada saat mengalami stress individu akan mencari dukungan dari keyakinan agamanya. Dukungan ini sangat diperlukan untuk dapat menerima keadaan sakit yang dialami, khususnya jika penyakit tersebut memerlukan proses penyembuhan yang lama dan hasil yang belum pasti (Hamid, 1999)
2.5. Vitalitas
Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 54 responden didapatkan mean sebesar 46.39 (dalam rentang 0 – 100). Nilai tertinggi di dapat dari pertanyaan nomor 29, apakah lansia sering merasa bosan. Sebanyak 5 responden (9.3%) menjawab jarang. Hal ini sesuai dengan penelitian Suhartini (2004) bahwa lansia yang tidak tinggal dengan anak-anaknya berinisiatif untuk mengunjungi anak-anakya mereka tidak hanya menunggu dikunjungi atau di ajak berkomunikasi terlebih dahulu oleh anak-anaknya Sedangkan nilai terendah didapat dari pertanyaan nomor 27, apakah lansia memiliki banyak tenaga. 14 responden (25.9%) menjawab jarang. Hal ini Sesuai dengan yang dikatakan Papalia (2001) yang menyebutkan perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada lansia mengakibatkan dirinya tidak dapat mengerjakan berbagai aktifitas atau sebaik pada masa muda dulu.
2.6. Fungsi Sosial
Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 54 responden didapatkan mean sebesar 50.28 (dalam rentang 0 – 100). Nilai tertinggi didapat dari pertanyaan nomor 20, seberapa besar kesehatan fisik atau masalah emosional
mengganggu aktivitas sosial lansia seperti berkumpul dengan keluarga, teman, dan tetangga. Sebanyak 20 responden (37.0%) menjawab sedikit mengganggu. Hal ini tidak sesuai dengan apa yang dikatakan Kuntjoro (2002) yang menyebutkan bahwa pada umumnya lansia yang memiliki kelurga bagi orang-orang kita (budaya ketimuran) masih sangat beruntung karena anggota keluarga seperti anak, cucu, cicit, sanak saudara bahkan kerabat umumnya ikut menbantu dengan penuh kesabaran dan pengorbanan.Sedangkan nilai terendah di dapat dari pertanyaan nomor 32, seberapa sering kesehatan fisik dan masalah emosional mempengaruhi aktifitas sosial lansia seperti mengunjungi teman. 16 responden (29.6%) menjawab hamppir selalu. Menurut Kuntjoro (2002) menyatakan bahwa untuk menjaga kesehatan baik fisik maupun kejiwaannya lansia justru tetap harus melakukan aktivitas-aktivitas yang berguna bagi kehidupannya. Ini termasuk jenis dukungan sosial yakni integrasi sosial memungkinkan lansia untuk memperoleh perasaan memiliki suatu kelompok yang memungkinkannya untuk membagi minat, perhatian, serta melakukan kegiatan yang sifatnya kreatif secara bersama-sama. Teori lain yang mendukung menurut Rachmie (2008) menyatakan bahwa dengan berkumpul bersama orang seusia, diharapkan satu sama lain bisa menyemangati. Mereka bisa curhat mengenai kondisi fisik atau masalah lainnya dengan teman satu komunitas tersebut. Aktivitas itu mungkin bisa meringankan beban pikiran lansia tersebut
2.7. Keterbatasan Emosional
nomor 17, apkah lansia mengalami beberapa masalah emosi seperti merasa sedih/tertekan atau cemas sehingga menghabiskan seluruh waktunya untuk melakukan pekerjaan atau aktifitas lain. Sebanyak 49 responden (90.7%) menjawab tidak. Hal ini tidak sesuai dengan apa yang di katakan (Nurachman, 1999) lansia yang sedih dan tertekan yaitu merasa tidak berguna, tidak berdaya, cemas yang disebabkan oleh penyakit yang dideritanya. Teori lain mengatakan bahwa kecemasan dan kegagalan yang terjadi disebabkan oleh adanya ancaman terhadap perubahan pada status kesehatan, sosial, ekonomi, fungsi peran dan hubungan dengan orang lain. (Doengoes, Moorhouse 1999). Sedangkan nilai terendah didapat dari pertanyaan nomor 19 , dalam melakukan pekerjaaan lansia tidak berhati-hati sebagaimana biasanya. Sebanyak 20 responden (37.0%) menjawab ya. Sesuai dengan yang dikatakan Papalia (2001) yang menyebutkan perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada lansia mengakibatkan dirinya tidak dapat mengerjakan berbagai aktifitas atau sebaik pada masa muda dulu.
2.8. Kesehatan Mental
Hasil penelitian yang di lakukan terhadap 54 responden didapatkan mean sebesar 63.11 (dalam rentang 0 – 100). Nilai tertinggi didapat dari pertanyaan nomor 25, apakah lansia merasa tertekan. Sebanyak 19 responden (35.2%) menjawab tidak pernah. Hal ini berbeda dengan yang dikatakan kuntjoro (2002) bahwa akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia. Misalnya badanya menjadi bungkuk, pendengaran berkurang, penglihatan kabur dan sebagainya sehingga sering menimbulkan
keterasingan. Sedangkan nilai terendah didapat dari pertanyaan nomor 24, apakah lansia merasa gugup. Sebanyak 12 responden (16.7%) menjawab cukup sering. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Anderson (1997) bahwa dukungan usaha koping adaptif, ini juga didukung oleh Jong (2004) yang menyatakan pekerjaan yang berguna, menyenangkan, dan bantuan keuangan atau barang-barang merupakan dukungan penting. Teori lain mengatakan bahwa lansia akan berusaha menurunkan ketegangan dengan cara mencari ketenangan seperti relaksasi dan meditasi. (Niven,2000).