• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesejahteraan yang Hilang karena Pajak

Dalam dokumen Administrasi Keuangan Negara (Halaman 104-107)

Menurut Endri Sanopaka, kondisi perpajakan di Indonesia menggambarkan hal-hal berikut:

1. pentingnya peran pajak sebagai sumber pembiayaan;

2. pajak memberikan sumbangan sekitar 74% terhadap total pene-rimaan negara (realisasi APBN 2003);

3. meningkatnya peran pajak dalam penerimaan dapat meng-urangi ketergantungan terhadap pinjaman luar negeri;

4. 50% penerimaan pajak berasal dari jenis pajak PPh, 30% dari PPN, sisanya dari pajak lain-lain;

5. tax ratio sudah meningkat, namun masih rendah jika dibanding-kan dengan negara-negara ASEAN;

6. tax ratio Indonesia (total penerimaan pajak: PDB) 13,7%; 7. rax ratio beberapa negara ASEAN berkisar antara 17-20%.

Kondisi perpajakan di Indonesia adalah sebagai berikut.

1. Jumlah Wajib Pajak masih sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia, yaitu jumlah penduduk sekitar 200 juta, wajib pajak perseorangan terdaftar sekitar 3 juta, sedangkan wajib pajak badan terdaftar sekitar 1 juta.

2. Tarif pajak masih relatif tinggi, kurang kompetitif bagi investor, yaitu usulan draf RUU perpajakan 30%, Malaysia 28%, sedangkan Singapura 22%.

3. Administrasi pajak masih rumit dan belum optimal:

a. proses pengurusan dokumen pajak masih dirasakan rumit karena banyaknya dokumen yang harus dipenuhi;

b. dari wajib pajak perseorangan yang terdaftar (sekitar 3 juta) hanya 70-80% yang aktif mengirimkan SPT.

4. Sistem pengawasan pajak belum optimal, masih banyak kasus penyelewengan pajak (tax evasion).

a. Beberapa kasus penyelewengan telah dibongkar, dengan modus yang semakin beragam:

1) tunggakan pajak senilai Rp962 miliar (2003) dilakukan oleh 96 wajib pajak. Dua orang telah dikenakan penyanderaan badan;

2) 235 aparat dikenakan sanksi, terlibat kasus penyelewengan pajak selama tahun 2003;

3) restitusi pajak Rp13,3 miliar dengan transaksi ekspor fiktif.

b. Diduga masih ada penyelewengan lain yang belum terbongkar.

5. Adanya otonomi daerah telah memunculkan pungutan baru bagi Wajib Pajak melalui perda pajak dan retribusi daerah. Sebagian perda bermasalah karena dilakukan pada objek-objek yang seharusnya dipungut pemerintah pusat:

a. pungutan pada pertambangan timah di Bangka;

b. pungutan atas kegiatan transportasi barang antardaerah; c. pungutan atas usaha komunikasi.

6. Sistem monitoring perda-perda tentang pungutan di pusat dan daerah belum terintegrasi dengan baik, masih terjadi pungutan yang tumpang tindih antara pusat dan daerah.

Adapun upaya peningkatan pajak dilakukan dengan cara berikut: 1. dalam jangka pendek dan menengah, upaya difokuskan pada

peningkatan jumlah Wajib Pajak;

2. melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya membayar pajak dengan memaparkan manfaat ekonomis yang diperoleh dari uang pajak;

3. menargetkan wajib pajak perseorangan sekitar 9-10 juta orang, dengan data dan asumsi sebagai berikut:

a. jumlah keluarga di Indonesia 51,3 juta, keluarga miskin 9,5 juta, keluarga petani gurem 13,7 juta, jumlah keluarga potensial menjadi Wajib Pajak 28,1 juta,

b. jika sepertiga dari keluarga potensial tersebut dapat didata dan didaftar sebagai Wajib Pajak, sedikitnya sekitar 9-10 juta keluarga terdaftar sebagai Wajib Pajak perseorangan.

4. meningkatkan modernisasi sistem administrasi perpajakan; 5. memperbanyak pusat pelayanan pajak terpadu (one stop service). 6. memperluas e­tax service (pelayanan pengisian SPT melalui

internet;

7. meningkatkan pelayanan melalui large taxpayer office, medium

taxpayer office, dan small taxpayer office;

8. menyederhanakan prosedur pemungutan dan pelaporan pajak; 9. membayar pajak melalui ATM;

10. melaporkan pajak melalui internet;

11. menyederhanakan dan mempercepat proses restitusi pajak; 12. meningkatkan pengawasan perpajakan, baik untuk Wajib Pajak

maupun petugas pajak, melalui: a. peningkatan sistem monitoring;

b. sistem reward and punishment bagi aparat pajak;

c. pengumuman tentang Wajib Pajak yang merugikan negara kepada publik.

Untuk mendukung perbaikan iklim investasi, perlu dipikirkan kebijakan perpajakan yang strategis, yaitu dengan:

1. memberikan insentif perpajakan bagi investor dan pengusaha potensial;

2. melakukan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah untuk menghilangkan tumpang tindih dalam pemungutan pajak;

3. meningkatkan asas keadilan dalam perpajakan, yaitu: a. pajak yang bersifat progresif sebaiknya dipertahankan, b. dalam menentukan tarif pajak perlu dipertimbangkan

dampaknya terhadap berbagai lapisan masyarakat yang terkena pajak.

Orientasi pemungutan pajak dilaksanakan karena bertujuan menyejahterakan masyarakat. Semua cara pembiayaan pengeluaran

pemerintah (termasuk pajak) akan menimbulkan beban. Dalam beberapa hal pajak akan menimbulkan beban yang lebih berat daripada nilai pajak yang dapat dipungut. Kelebihan beban yang ditimbulkan oleh pajak disebut kesejahteraan yang hilang disebabkan oleh pajak tersebut (welfare cost of taxation). Perbedaan antara biaya tidak langsung dari akibat pajak (the welfare cost of taxa­tion) dan biaya langsung dari akibat pajak (direct cost of taxation) dalam hubungannya dengan penarikan sumber-sumber produktif dari sektor swasta tampak dalam kenyataan sehari-hari. Misalnya, pajak produksi mobil sangat tinggi sehingga produksi mobilnya menurun menjadi nol. Karena produksinya nol, pemerintah tidak menerima hasil pajak karena pajak. Produsen tidak akan melangsungkan produksinya apabila pajaknya melebihi harga mobilnya. Dengan demikian, masyarakat tidak membeli mobil sehingga pemerintah tidak akan dapat menghimpun pajak.

Dengan mengetahui welfare cost, kita dapat membandingkan pajak yang satu dengan pajak yang lain dan menentukan yang memberikan beban lebih besar kepada masyarakat sehingga pemerintah dapat membuat alternatif lain di bidang perpajakan. Selain itu, welfare cost dapat memberi petunjuk kepada pemerintah untuk mengalokasikan sumber daya produktif seefisien mungkin. Pemerintah perlu memikirkan politik pajak yang meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat dan tidak membebani para pengusaha, tetapi menjalin sikap pengertian dan saling percaya bahwa pajak adalah simbol kemanusiaan dan keadilan, bukan simbol pemerasan dan penindasan.

Dalam mendistribusikan beban pemerintah atau karena kegiatan pemerintah sebagian besar dibiayai oleh penerimaan dari pajak, berarti ada masalah pengenaan pajak kepada Wajib Pajak.

Menurut Suparmoko (2003: 97), dalam pengenaan pajak, Adam Smith mengajukan beberapa prinsip yang disebut dengan “Smith’s Conons”, yaitu sebagai berikut.

1. Prinsip kesamaan/keadilan (equity). Artinya, beban pajak harus sesuai dengan kemampuan relatif dari setiap Wajib Pajak. Perbedaan dalam tingkat penghasilan harus digunakan sebagian dasar dalam distribusi beban pajak sehingga bukan beban pajak

dalam arti uang yang penting, melainkan beban riil dalam arti kepuasan yang hilang.

2. Prinsip kepastian (certainty). Pajak hendaknya tegas, jelas, dan pasti bagi setiap Wajib Pajak sehingga mudah dimengerti oleh mereka dan akan memudahkan administrasi pemerintah. 3. Prinsip kecocokan/kelayakan (convenience). Pajak jangan sampai

terlalu menekan seorang wajib pajak, sehingga wajib pajak akan dengan suka dan senang hati melakukan pembayaran pajak kepada pemerintah.

4. Prinsip ekonomi (economy). Pajak hendaknya menimbulkan kerugian yang minimal. Artinya, jangan sampai biaya pemungutannya lebih besar daripada jumlah penerimaan pajaknya.

Smith’s Canons ini masih dilengkapi oleh sarjana lain dengan satu prinsip lagi, yaitu prinsip ketepatan (adequate). Artinya, pajak hendaknya dipungut tepat pada waktunya dan jangan sampai mempersulit posisi anggaran belanja pemerintah. Selain prinsip-prinsip tersebut, ada prinsip lain yang disebut dengan ability to pay approach dan benefit approach, yang tampaknya lebih mudah dilaksanakan, yaitu sebagai berikut.

1. Benefit approach, yaitu prinsip pengenaan pajak berdasarkan manfaat yang diterima oleh seorang Wajib Pajak dari pembayaran pajak tersebut kepada pemerintah. Hal ini seolah-olah disamakan dengan pembelian suatu barang atau jasa oleh seorang pembeli, yaitu bahwa harga yang harus dibayar sesuai dengan barang/jasa atau manfaat yang dapat dinikmati oleh seorang pembeli barang/jasa tersebut. Jika manfaat yang diperoleh oleh seorang pembeli —dalam hal ini adalah seorang pembayar pajak— dapat diukur dengan pasti, tidak akan ada kesulitan untuk menggunakan prinsip ini. Akan tetapi, kita atau pemerintah tidak dapat mengukur secara objektif mengenai manfaat barang dan jasa yang diterima dari pemerintah dengan adanya pembayaran pajak itu karena kontra prestasinya tidak dapat diterima secara langsung oleh seorang wajib pajak.

2. Ability to pay approach, sebagai prinsip kemampuan untuk membayar atau berdasarkan daya pikul seorang Wajib Pajak. Seorang Wajib Pajak akan dikenai beban pajak sesuai dengan kemampuannya untuk membayar pajak. Wajib Pajak yang memiliki kemampuan membayar yang sama dikenai pajak yang sama bebannya (horizontal equity) dan Wajib Pajak yang memiliki kemampuan berbeda dikenai pajak yang berbeda pula bebannya (vertical equity). Kemampuan untuk membayar pajak ini dapat diketahui dari besarnya pendapatan yang berasal dari tenaga kerja ataupun yang berasal dari kekayaan dan besarnya pengeluaran seorang Wajib Pajak setelah pengeluaran konsumsi esensial (Suparmoko, 2003: 98-99).

Dalam dokumen Administrasi Keuangan Negara (Halaman 104-107)