• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pergeseran Beban Pajak

Dalam dokumen Administrasi Keuangan Negara (Halaman 107-110)

Pergeseran beban pajak dilatarbelakangi oleh bertambahnya sumber dari pajak yang menghasilkan keuangan negara. Artinya, beban yang harus ditanggung oleh pajak akan berkurang, yang pokok menjadi penunjang, dan hal ini dapat menimbulkan kepentingan yang berbeda dalam orientasi perpajakan. Pergeseran beban pajak juga mengenai subjek Wajib Pajak. Artinya, yang menanggung beban pajak dapat bergeser dari subjek pertama kepada subjek kedua atau yang lainnya. Hal ini berhubungan dengan distribusi beban pajak (incidence of taxation).

Dalam pengertian ekonomis masalah dapat-tidaknya beban pajak itu digeserkan membawa konsekuensi pada sifat pajak. Pajak yang bebannya dapat digeserkan disebut pajak tidak langsung, sedangkan pajak yang bebannya tidak dapat digeserkan disebut pajak langsung. Pajak-pajak yang bebannya dapat digeserkan adalah pajak penjualan, misalnya pajak pakaian jadi yang dijual di pertokoan swalayan. Yang menderita beban pembayaran pajak adalah para pembeli pakaian. Untuk menggeser beban pajaknya, harga pakaian dinaikkan. Dengan demikian, penggeseran beban pajak (forward

shifting) akan menambah beban konsumen. Seandainya penjual pakaian tidak berhasil menaikkan harga pakaiannya setelah dikenakan pajak, ia akan berusaha untuk menggeser beban pajak itu

ke belakang, yaitu dengan menekan harga pembelian input-nya (dalam hal ini pakaian jadi) dari penjual pertama (misalnya, konveksi). Jadi, penggeseran ke belakang (backward shifting) merupakan lawan dari forward shifting.

Penggeseran beban pajak adalah perbuatan penghindaran diri dari pembayaran beban pajak yang bersifat lunak dan tidak ada sanksi hukumnya. Perbuatan penggeseran beban pajak tidak melanggar hukum.

Menurut Suparmoko (2003), proses penggeseran beban pajak melalui empat tahap, yaitu sebagai berikut.

Tahap pertama, beban pajak terletak pada orang (Wajib Pajak) yang mengadakan perhitungan pembayaran dengan pemerintah. Hal ini berhubungan langsung dengan pengenaan pajak bagi orang yang membayar pajak di kantor pajak, yang disebut impact of taxation.

Tahap kedua, penggeseran beban pajak merupakan proses antara pemindahan beban pajak dari pembayar pajak kepada pemikul beban pajak. Tahap ini disebut the shifting of taxation.

Tahap ketiga, timbulnya beban moneter yang terakhir setelah terjadi penggeseran sehingga beban pajak tidak akan digeserkan lagi. Tahap ini disebut incidence of taxation.

Tahap keempat, adanya konsekuensi ekonomis dengan adanya

incidence of taxation yang disebut dengan effect of taxation. Misalnya, ada kesenjangan ekonomi setelah dikenakan pajak.

Untuk mengetahui kuantitas penggeseran beban pajak, perlu dipelajari bahwa harga barang per satuan adalah jumlah barang yang diperjualbelikan. Misalnya, pemerintah mengenakan pajak penjualan per satuan barang yang diperjualbelikan dan dinyatakan bahwa penjual barang itu sebagai Wajib Pajaknya. Dengan adanya pajak penjualan per satuan barang, kurva penawaran di pasar akan bergeser atau penawaran terhadap barang berkurang karena pajak merupakan bagian dari biaya produksi/biaya penjualan dan produsen berusaha menggeserkan seluruh beban pajak itu kepada konsumen. Dengan demikian, jumlah penjualan yang sama menyebabkan harga per satuan meningkat. Artinya, kurva

penawaran yang baru merupakan tingkat harga barang yang baru, jumlah barang yang baru bergantung pada besarnya pajak per satuan barang yang dijualbelikan.

Dengan demikian, harga barang hanya naik jumlah, sedangkan penjualan berkurang. Artinya, ada penggeseran beban pajak ke depan (forward shifting) yang disimpulkan bahwa beban pajak itu akhirnya dibagi antara pembeli dan penjual. Dalam hal ini, pembeli akan menanggung beban pajak yang lebih besar.

Walaupun tetap menanggung beban pajak, penjual menaikkan harga per satuan barang yang dijual karena adanya kekuatan permintaan dan penawaran di pasar sehingga harga hanya naik dengan jumlah yang lebih kecil daripada pajak tersebut. Dengan melihat tinggi-rendahnya elastisitas permintaan dan penawaran, dapat ditentukan besarnya pembagian beban pajak tersebut.

Harga barang yang murah menjadi mahal karena penjual menaikkan harganya untuk memikulkan pajak kepada pembeli. Dengan demikian, pembeli menjadi korban permainan penjual yang ingin menggeserkan pajak.

Jumlah penerimaan pajak pemerintah sama dengan jumlah barang yang dihasilkan yang dikatakan dengan tarif pajaknya. Adapun jumlah uang yang tersedia merupakan hasil dari penggeseran beban pajak kepada konsumen, yaitu jumlah barang yang dibeli dikaitkan dengan penurunan harga barang per satuan. Keuntungan dari hasil penggeseran beban pajak dapat menutup jumlah pajak yang harus dibayar atau mengurangi jumlah pajak.

Untuk mencari besarnya perbandingan beban pajak yang digeserkan dan berapa yang tetap ditanggung oleh seorang penjual/ produsen digunakan perbandingan antara elastisitas permintaan dan elastisitas penawaran. Akan tetapi, cara tersebut tidak dapat mencari berapa sebenarnya penerimaan jumlah barang yang diperjualbelikan setelah adanya pajak tersebut. Untuk memudahkannya, perlu diketahui fungsi-fungsi permintaan dan penawaran bagi barang yang dikenai pajak tersebut.

Apabila perbandingan pembagian beban pajak antara produsen dan konsumen sebesar elastisitas permintaan dibandingkan dengan

elastisitas penawaran, jika dengan fungsi permintaan dan penawaran yang sama, tetapi pajak penjualan yang dipungut berupa

advalorem tax sebesar 25% dari harga penjualan barang tersebut, hal yang perlu dipertanyakan adalah sebagai berikut.

1. Berapa besar beban pajak per satuan yang dipikul oleh konsumen?

2. Berapa besar beban pajak per satuan yang dipikul oleh produsen? 3. Berapa penerimaan bersih produsen setelah pengenaan pajak

tersebut?

4. Berapa penerimaan pemerintah dari hasil pemungutan pajak tersebut?

Dengan demikian, harga keseimbangan tercapai pada saat permintaan sama dengan penawaran. Apabila tidak terdapat keseimbangan antara permintaan dan penawaran, pihak produsen akan melakukan pergeseran pajak semaksimal mungkin dengan cara menaikkan harga penjualan barang kepada konsumen, sementara konsumen tidak mengetahui secara pasti harga pokok barang yang diperjualbelikan. Karena pihak penjual dapat menaikkan dua kali harga barang, yaitu menaikkan harga pokok barang tanpa pajak dan menaikkan harga barang dengan pajak. Misalnya, harga pokok sepotong kemeja dinaikkan dari Rp1000,- menjadi Rp5000,-. Setelah itu, dinaikkan lagi oleh nilai pajak sebesar 20%, sehingga harga kemejanya menjadi Rp5000,- ditambah 20%. Politik dagang seperti itu membebani konsumen, padahal pemerintah tidak bermaksud menarik pajak kepada konsumen, tetapi kepada produsen. Walaupun demikian, tidak ada aturan yang melarang produsen menyertakan pajaknya pada harga barang yang diperjualbelikan. Ketika pasar

perfectly competitive (persaingan yang kuat), penanggung pajak akhir (economic incidence) tidak terpengaruh, walaupun pajak dibebankan pertama kali ke penjual dan pembeli dalam pajak unit ataupun pajak

ad­valorem.

Pengaruh elastisitas pada penanggung beban pajak akhir adalah sebagai berikut.

1. Beban pajak (secara ekonomi) selalu ditanggung sepenuhnya pada kelompok yang memiliki kurva tidak elastis.

2. Karena demand tidak elastis, beban pajak sepenuhnya ditanggung pembeli.

3. Karena supply tidak elastis, beban pajak sepenuhnya ditanggung penjual.

Adapun pajak pertambahan nilai meliputi aspek-aspek berikut. 1. Dasar perhitungannya adalah “nilai tambah”, yaitu output

dikurangi input antara. 2. PPN di Indonesia menganut:

a. single rate: hanya menggunakan satu jenis tingkat pajak, yaitu 10%;

b. destination principle: barang yang diekspor tidak dikenakan PPN;

c. credit method: PPN yang telah dibayarkan untuk pembelian

input dapat diperhitungkan dalam pengajuan restitusi pajak; d. exemption dan bukan zero­rated: barang tertentu tidak

dibebani PPN;

e. consumption approach: barang modal langsung dibebani PPN, bukan depresiasi modal yang dikenakan PPN.

3. Pemungutan PPN masih belum optimal, biaya pemungutan besar. 4. PPN belum mencerminkan keadilan, misalnya untuk petani dan

Dalam dokumen Administrasi Keuangan Negara (Halaman 107-110)