• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesejahteraan Masyarakat Desa Tenajar Lor

BAB III KESENJANGAN ANTARA RELIGIUSITAS DENGAN

E. Kesejahteraan Masyarakat Desa Tenajar Lor

Tingkat ekonomi masyarakat Desa Tenajar Lor cukup beragam, mulai dari tingkat paling bawah hingga tingkat paling atas. Hal ini dapat dilihat dari data pemerintahan desa dan observasi di lapangan yang tercatat bahwa terdapat keluarga prasejahtera yang ada di Desa Tenajar Lor, yakni sejumlah 371 keluarga. Sedangkan jumlah keluarga sejahtera tingkat 1 sekitar 654 keluarga. Ekonomi keluarga pada tingkat ini merupakan tingkat ekonomi yang hanya mampu mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari saja meskipun tidak semuanya dapat tertutupi. Kemudian jumlah keluarga sejahtera tingkat 2 sekitar 667 keluarga, yakni mereka yang telah mampu mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari dan kebutuhan sekunder. Sedangkan pada jumlah keluarga sejahtera tingkat 3 yakni sekitar 183 keluarga adalah mereka yang telah mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari dan bahkan dapat memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier. Bahkan ada pula keluarga sejahtera tingkat 3 plus, yakni sekitar 95 keluarga, dimana mereka merupakan orang-orang yang telah mampu memenuhi kebutuhan yang serba mewah.29

28

M. Solihin dan M. Rosyid Anwar, Akhlak Tasawuf : Manusia, Etika, dan Makna Hidup, h. 99

29

Dari beberapa tingkat ekonomi di atas, mata pencaharian pokok masyarakat Desa Tenajar Lor juga cukup beragam. Mata pencaharian yang paling dominan di desa ini adalah petani dan buruh tani. Sedangkan sebagian mata pencaharian mereka yang lain di antaranya adalah bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta yang mayoritas diisi oleh para pemuda desa tamatan SMA/sederajat yang merantau ke luar kabupaten bahkan sampai ke luar negeri, yang juga dilakukan oleh para ibu rumah tangga karena minimnya lapangan kerja di Kabupaten Indramayu. Pekerjaan pokok lainnya adalah sebagai pedagang, baik yang berupa agen, toko, warung, maupun pedagang keliling. Di samping itu, masyarakat desa ini juga ada yang berprofesi sebagai peternak, baik peternak ayam, kambing, sapi, maupun ikan. Kemudian sebagian kecil lainnya adalah sebagai guru swasta, pegawai negeri sipil, karyawan perusahaan pemerintah dan pekerjaan wiraswasta lainnya.30

Tabel 1.3

Tingkat Ekonomi Masyarakat Desa Tenajar Lor31

No. Tingkat Ekonomi Jumlah Keluarga

1 Pra Sejahtera 371 keluarga

2 Sejahtera Tingkat 1 654 keluarga

3 Sejahtera Tingkat 2 667 keluarga

4 Sejahtera Tingkat 3 183 keluarga

5 Sejahtera Tingkat 3 Plus 95 keluarga

Oleh karena itu, sebagian besar ekonomi masyarakat Desa Tenajar Lor berasal dari pertanian dan perdagangan. Hal tersebut dapat dilihat dari deskripsi

30

Data Profil Desa Tenajar Lor, 2010, h. 47. 31

yang telah saya jelaskan di atas. Sedangkan dari tingkat kesejahteraannya, masyarakat desa ini tergolong ke dalam masyarakat yang sejahtera.

Dari beberapa penjelasan di atas, telah jelas dipaparkan bahwa terjadi kesenjangan antara religiusitas dengan realitas sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Desa Tenajar Lor. Oleh karena itu, maka untuk mengetahui bagaimana implementasi mereka terhadap hadis ḥaq al-jār di tengah-tengah masyarakat, maka saya melakukan observasi dan wawancara kepada beberapa penduduk desa dan ulama-ulama sekitar. Adapun penjelasan mengenai hasil wawancara tersebut akan saya jelaskan secara eksplisit pada bab selanjutnya.

49

MASYARAKAT DESA TENAJAR LOR

A. Krisis Kesadaran dalam Memenuhi Kewajiban Membayar Hutang kepada Tetangga

Dari beberapa wawancara yang saya lakukan terhadap masyarakat desa, seperti di RT 04/03 yang mampu dari segi ekonomi, mereka sering kali memberikan pinjaman uang kepada tetangganya. Namun hal tersebut malah membuat hubungan mereka kurang harmonis, hal ini dikarenakan tetangganya tidak mampu memenuhi janji untuk melunasi hutangnya ketika jatuh tempo pelunasan telah tiba dengan berbagai macam alasan. Sehingga orang yang meminjamkan uang tersebut kecewa terhadap tetangganya, bahkan karena kecewanya terkadang ia sampai mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar kepada tetangganya tersebut.1

Sedangkan di antara alasan yang dilontarkan oleh orang yang meminjam uang tersebut bahwa ia sama sekali tidak memiliki uang untuk membayar hutangnya karena kebutuhan ekonomi yang mendesak dan pendapatan keluarga yang minim. Hal ini dikarenakan keluarganya hanya mengais rizki sebagai tukang pejet panggilan yang mana setiap pelanggannya dikenai biaya Rp.20.000/orang, dan dalam satu harinya ia pernah mendapat sekitar Rp.20.000 – Rp.100.000. Namun pendapatan tersebut tidak ia dapatkan setiap hari, karena profesi sebagai tukang pejet bersifat tidak tetap. Sedangkan kebutuhan yang mendesak dalam

1

keluarganya adalah untuk biaya pendidikan kedua anaknya yang masih bersekolah di SMK dan SD serta kebutuhan dapur yang harus ia tunjang setiap harinya.2

Senada dengan kasus di atas, sebagian warga di RT 01/03 juga sering meminjamkan uang kepada tetangganya. Berdasarkan wawancara dari salah satu warga di RT tersebut menyatakan bahwa tetangga yang berhutang kepadanya sebagian ada yang jujur dan ada juga yang tidak jujur. Ketika sedang membutuhkan uang, warga RT 01/03 tersebut menagih tetangga yang dihutanginya, namun tetangganya tersebut selalu mengatakan bahwa ia tidak mempunyai uang, dan bahkan ia berkata yang kurang pantas didengar kepada orang yang menghutanginya. Maka, dengan sikap tetangganya tersebut ia menganggap bahwa tetangganya tersebut berbohong dan memang tidak ada niat untuk membayar hutang, karena ia melihat keadaan tetangganya yang memiliki barang-barang sekunder di rumahnya, seperti motor, dan barang-barang elektronik lainnya. Jadi menurutnya tidak ada alasan untuk tidak membayar hutang.3

Sedangkan dalam hal ini, Rasulullah Saw telah memberikan pengarahan kepada kaum Muslim untuk membayar hutang dengan cara yang baik melalui hadisnya, yakni sebagai berikut:

ََأَ نَعَ ٍل يَهُكَِن بََةَمَلَسَ نَعٍَحِلاَصَُن بَ يِلَعَ َِِث دَحَ َلاَقٍَعيِكَوَ نَعََميِاَر بِإَُن بَُقَح سِإَاَنَرَ ب خَأ

َ ِِ

ًَءاَضَقَ مُكَُس حَأَ مُكُراَيِخََلاَقََم لَسَوَِه يَلَعَُه للاَى لَصَِه للاَِلوُسَرَ نَعََةَر يَرَُ َِِأَ نَعََةَمَلَس

4

.

“Telah mengabarkan kepada kami Is aq bin Ibrāhīm dari Wakīʻ telah menceritakan kepadaku „Alī bin ālih dari Salamah bin Kuhaīl dari Abū Salamah dari Abū Huraīrah dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: “

2

Hasil wawancara dengan Warga Desa Tenajar Lor (Ibu Ulfah/44 thn) di kediamannya, RT 04/03, pada Minggu, 16 Maret 2014, pukul 15.30 WIB.

3

Hasil wawancara dengan Warga Desa Tenajar Lor (Bapak H.Jamhari/46 thn) di kediamannya, RT 01/03, pada Senin, 17 Maret 2014, pukul 15.00 WIB.

4Abū ʻAbd al-Ra mān A mad Ibn Syuʻaib ibn ʻAlī ibn Sinān ibn Bahr al-Khurasāni al -Qāḍī, Sunan al-Nasā’ī, Kitab: Jual-beli, No. Hadis: 4614

baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar (hutang)." (HR.

Al-Nasā‟ī)

Kemudian dalam hal implementasi hadis hak dan kewajibantentang hutang piutang terhadap tetangga ini lebih ironis ketika dilakukan seperti halnya rentenir. Praktik seperti ini biasa dilakukan oleh orang-orang yang mampu kepada para petani. Contohnya yakni seorang petani meminjam uang Rp.400.000 kepada orang-orang yang mampu, namun dalam akadnya terdapat syarat yang harus dipenuhi, yakni harus dikembalikan dalam bentuk padi 1 Kwintal, yang mana harga padi 1 kwintal tersebut melebihi uang yang dipinjamkannya. Meskipun berat untuk disetujui, namun sebagian masyarakat desa ini terpaksa menyetujuinya karena kebutuhan yang mendesak. Adapun salah satu warga yang enggan untuk berhutang dengan proses seperti itu ialah Bapak Akil, seorang warga RT 04/03 yang bekerja sebagai buruh tani yang penghasilannya pas-pasan. Ia berusaha untuk tidak ikut dalam hal tersebut sebelum keluarganya tidak makan selama tiga hari. Karena walau bagaimanapun praktik tersebut tidak dibolehkan dan jelas merugikan dirinya.

“Saya tidak ingin berhutang dengan cara yang seperti itu, sebelum

keluarga saya tidak makan selama tiga hari!, meskipun saya tahu bahwa yang menjadi oknum praktik tersebut adalah bibi saya sendiri!.” Tegas

Bapak Akil, seorang warga RT 04/03.5

Menurut sebagian ulama fiqh, pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan, baik sedikit maupun banyak, dikategorikan sebagai riba,6 begitu pula yang dipraktikkan oleh masyarakat desa Tenajar Lor. Namun sebagian besar dari mereka, menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang lumrah, dan telah dipraktikkan oleh banyak orang di desanya.

5

Hasil wawancara dengan Warga Desa Tenajar Lor (Bapak Akil/42 thn) di kediamannya, RT 04/03, pada Selasa, 18 Maret 2014, pukul 22.00 WIB.

6

Ketidakbolehan tersebut dijelaskan dalam Q.S. li ʻImrān [3]: 130 berikut:  َ   َ   َ   َ   َ   َ  َ   َ  َ   َ   َ   َ   َََ َ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu

mendapat keberuntungan”.(Q.S. li ʻImrān [3]: 130)

Namun dari berbagai permasalahan tersebut, adapula masyarakat yang senantiasa memenuhi hak tetangga dalam hal hutang piutang berdasarkan anjuran Rasulullah Saw dalam hadisnya, yakni dengan jujur dan baik. Dalam hal ini bertujuan agar kepentingan individu terlindungi dan kepentingan masyarakat terpelihara.7 Sebagaimana yang dilakukan oleh warga RT 04/03, RT 04/02, RT 06/02, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa masyarakat Desa Tenajar Lor saling meminjamkan uang kepada tetangga sebagai manifestasi hak dan kewajiban bertetangga. Namun sebagian masyarakat yang dihutangi pun banyak yang lalai akan kewajiban mereka untuk membayar hutang kepada tetangganya yang juga membutuhkan. Padahal Rasulullah Saw telah menganjurkan untuk membayar hutang dengan cara yang paling baik. Sedangkan dalam hal hutang uang yang dibayar dengan padi, berdasarkan wawancara dengan warga desa, mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah, karena hal tersebut pada umumnya dipraktikkan di seluruh kalangan masyarakat desa tersebut. Oleh karena itu, sebagian besar dari masyarakat Desa Tenajar Lor saling memenuhi hak tetangga dalam hal hutang piutang secara murni berdasarkan anjuran Rasulullah Saw dalam hadisnya.

7

Said Agil Husin al-Munawar, al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki

Dokumen terkait