INDRAMAYU
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I)
Oleh
Nurkholis Sofwan
NIM: 1110034000118
PROGRAM STUDI TAFSIR HADIS
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
i
Implementasi Hadis Hak dan Kewajiban Bertetangga di Desa Tenajar Lor - Indramayu
Kata Kunci :Hadis,Hak dan Kewajiban Bertetangga,Desa Tenajar Lor
Salah satu hal yang menjadi perdebatan penting di kalangan umat Muslim adalah tentang religiusitas yang harus ditunjukkan dan dianut oleh seseorang agar ia menjadi seorang Muslim yang sejati. Ada yang menyatakan bahwa dengan beriman dan tunduk kepada Allah, maka manusia akan berkasih sayang kepada manusia lainnya, dan akan menjadi saudara antara sesamanya. Adapula yang menyatakan bahwa kesalehan agama yang terdapat dalam suatu individu tidak selalu sejalan dengan kesalehan sosial yang ada. Sehingga ia harus memiliki bukti kesalehan keagamaan pada tingkat prilaku, etika dan pengetahuannya.
Seiring dengan perkembangan zaman, kesalehan agama di kalangan masyarakat Muslim saat ini telah mengalami kemunduran. Hal tersebut membuat tata cara kehidupan sosial di tengah-tengah masyarakat terjadi kekrisisan. Sehingga banyaknya ulama dan aktifitas keagamaan seperti pengajian-pengajian ternyata belum menjamin kehidupan sosial yang harmonis, terlebih khusus terhadap tetangga. Kekrisisan ini tidak hanya terjadi di perkotaan, melainkan juga terjadi di pedesaan, seperti halnya di Desa Tenajar Lor. Dengan keadaan desa yang demikian, maka hal ini sangat penting untuk diteliti lebih dalam.
Metode dalam penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yang diproses dengan menelaah seluruh data yang didapat dari sumber pengumpulan data, melalui pendekatan kepustakaan (library research) dengan mengutip hadis dari kitab al-Tawbīkh wa al-Tanbīh, dan melakukan observasi dan wawancara di lapangan (field research) yang kemudian disajikan secara deskriptif analitis. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa masih banyak permasalahan sosial yang terjadi di Desa Tenajar Lor. Salah satunya adalah minimnya kesadaran masyarakat dalam memenuhi kewajiban membayar hutang, kesenjangan dalam tolong menolong antar tetangga, baik antara yang kaya dan miskin, maupun antara ulama dengan masyarakat.
ii
Segala puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah
memberikan hidayah, rahmat dan ilmu-Nya kepada kita, serta berkat-Nya lah
penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Salawat dan salam semoga
senantiasa terlimpahcurahkan kepada Nabi Muhammad Saw, yang telah membina
umat manusia menuju jalan yang diridhai oleh Allah Swt, dan semoga kita
menjadi salah satu umat yang mendapatkan syafaatnya di akhirat kelak. Amiin
Dalam menyelesaikan skripsi yang berjudul “IMPLEMENTASI HADIS
HAK DAN KEWAJIBAN BERTETANGGA DI DESA TENAJAR LOR -
INDRAMAYU” ini tentunya banyak melibatkan berbagai pihak, maka dari itu
saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Dr. Komarudin Hidayat, MA. selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta yang telah memberikan kesempatan beasiswa kepada saya selama
menempuh studi di kampus ini.
2. Prof. Dr. Masri Mansoer, M.A, selaku Dekan Fakultas Ushuluddin, beserta
Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok, M.Si, dan Dr. M.Suryadinata, M.Ag., selaku
Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA., selaku Ketua Program Studi Tafsir Hadis
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Jauhar Azizy, MA., selaku Sekretaris
Program Studi Tafsir Hadis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Rifqi Muhammad Fatkhi, MA., selaku dosen pembimbing skripsi yang telah
senantiasa membimbing dan mengarahkan saya dalam menyelesaikan tugas
iii
Hidayatullah Jakarta, khususnya program studi Tafsir Hadis yang tidak
dapat saya sebutkan satu persatu, atas ilmu dan motivasi yang telah
diberikan selama saya menempuh studi di kampus kebanggaan ini.
6. Segenap pimpinan dan Staff Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta dan Perpustakaan Fakultas Ushuluddin yang telah membantu dalam
memberikan referensi pada penyelesaian skripsi ini.
7. Kedua orang tua saya (Sofwan dan Umi Kulsum), atas didikan, bimbingan,
motivasi, dukungan, semangat dan do’a restunya kepada saya selama ini.
Semoga Allah Swt senantiasa memberikan rahmat, kesehatan dan
keselamatan kepada keduanya di dunia dan akhirat. Amiin. Tidak lupa pula
kepada saudara-saudara saya dan teman hati saya (Khaerunnisa) atas
bantuan, dukungan, do’a dan semangatnya, serta kepada paman saya
(Saefudin Zuhri), yang telah membantu memberikan pengarahan dan
bimbingan kepada saya saat penelitian, dan sekaligus menjadi jembatan
sehingga saya dapat kuliah di kampus ini.
8. Masyarakat Desa Tenajar Lor, baik pemerintah desa, tokoh ulama, maupun
masyarakat desa, khususnya para informan yang telah membatu
memberikan data dan informasinya kepada saya selama penelitian.
9. Sugawan-sugawati Keluarga Mahasiswa Sunan Gunung Djati (KMSGD)
JABODETABEK, baik alumni, pengurus maupun anggota yang tidak dapat
saya sebutkan satu persatu, atas segala bantuan, do’a dan dukungannya
iv
JAKARTA, baik senior, pengurus maupun anggota yang tidak dapat saya
sebutkan satu persatu, atas segala do’a dan dukungannya kepada saya.
11.Kawan-kawan Tafsir Hadis angkatan 2010, kawan-kawan KKN MENARA
kawan-kawan PERMADA JABODETABEK, dan sahabat-sahabati PMII
KOMFUSPERTUM atas perjuangan dan semangatnya selama di kampus
tercinta ini.
Saya memohon ampun serta mengaharapkan ridha Allah Swt. Semoga
pihak-pihak yang telah membatu dalam penyelesaian skripsi ini dinilai sebagai
amal ibadah yang terus mengalir sepanjang hayat. Akhir kata, semoga tulisan ini
bermanfaat bagi para pembaca sekalian, dan manjadi bahan evaluasi bagi saya
pada penelitian selanjutnya. Selamat membaca!
Ciputat, 17 Juni 2014
v
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... v
PEDOMAN TRANSLITERASI ... viii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 6
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8
D. Tinjauan Pustaka ... 8
E. Metodologi Penelitian ... 10
F. Sistematika Penulisan ... 14
BAB II HAK DAN KEWAJIBAN TETANGGA DALAM HADIS A. Hadis Hak dan Kewajiban Bertetangga ... 17
B. Definisi Hak dan Kewajiban Bertetangga ... 28
C. Ruang Lingkup Tetangga ... 30
D. Klasifikasi Tetangga ... 32
BAB III KESENJANGAN ANTARA RELIGIUSITAS DENGAN REALITAS SOSIAL MASYARAKAT DESA TENAJAR LOR A. Kesenjangan antara Ilmu Pengetahuan dengan Kesalehan Sosial ... 34
B. Keragaman Sarana Keagamaan di Desa Tenajar Lor ... 37
C. Makna Bertetangga menurut Masyarakat Desa Tenajar Lor .... 40
D. Perselisihan Antar Tetangga di Desa Tenajar Lor ... 44
vi
A. Krisis Kesadaran dalamMemenuhi Kewajiban Membayar
Hutang kepada Tetangga ... 49
B. Kesenjangan dalam Tolong Menolong terhadap Tetangga ... 53
C. Kebersamaan dalamMenjenguk Tetangga yang Sakit ... 58
D. Kepedulian terhadap Tetangga yang MeningalDunia ... 60
E. Bersyukur Atas Kegembiraan Tetangga ... 62
F. MomentumMembagikan Masakan dan Buah-buah kepada Tetangga ... 63
G. Izin Meninggikan Bangunan Rumah kepada Tetangga ... 65
H. Membagikan Buah-buahan kepada Anak Tetangga ... 65
I. Faktor Pendukung dan Penghambat Masyarakat DesaTenajar Lor dalam Mengimplementasikan Hadis Hak dan Kewajiban Bertetangga ... 67
1. Faktor Pendukung a. Adanya Rutinitas Pengajian yang Tersebar di Seluruh Penjuru Desa ... 68
b. Keragaman Sarana Keagamaan di Desa Tenajar Lor ... 68
c. Banyaknya Ulama di Desa Tenajar Lor... 68
2. Faktor penghambat a. Minimnya Kesadaran Masyarakat terhadap Hakdan Kewajiban ... 69
b. Pandangan yang Materialistis ... 69
c. Minimnya Silaturahmi ... 70
vii
B. Saran ... 72
DAFTAR PUSTAKA ... 76
LAMPIRAN-LAMPIRAN
1. Hasil Wawancara Penduduk dan Ulama
2. Hasil Observasi Pengajian di Desa Tenajar Lor
3. Dokumentasi Penelitian (Foto)
4. Data Profil Desa Tenajar Lor
5. Surat Bimbingan dan Laporan Bimbingan Skripsi
6. Surat Laporan Penelitian dari Pemerintah Desa Tenajar Lor
viii
bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor: 158
Tahun 1987 – Nomor: 0543b/u/1987.
A. Padanan Aksara
No. Huruf Arab Huruf Latin Keterangan
1
ا
tidak dilambangkan2
ب
b be3
ت
t te4
ث
es dengan titik di atas5
ج
j je6
ح
ha dengan titik di bawah7
خ
kh ka dengan ha8
د
d de9
ذ
ż zet dengan titik di atas10
ر
r er11
ز
z zet12
س
s es13
ش
sy es dengan ye14
ص
ṣ es dengan titik di bawah15
ض
ḍ de dengan titik di bawah16
ط
ṭ te dengan titik di bawah17
ظ
ẓ zet dengan titik di bawah18
ع
„ koma terbalik di atas hadapkanan
19
غ
g geix
22
ك
k ka23
ل
l el24
م
m em25
ن
n en26
و
w we27
ق
h ha28
ء
‟ apostrof29
ﻱ
y yeB. Vokal
Vokal dalam bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri dari vokal
tunggal (monoftong) dan vokal rangkap (diftong). Adapun ketentuan vokal
panjang (madd), yang dalam bahasa Arab dilambangkan dengan harakat dan
huruf.
1. Vokal Tunggal (Monoftong)
No. Vokal Arab Vokal Latin Keterangan
1
_
_
_َ_
_
_
a fatḥah2
___ِ___
i kasrah3
___ُ___
u ḍammah2. Vokal Rangkap (Diftong)
No. Vokal Arab Vokal Latin Keterangan
1
ﻱ
َ_
َ_
ai a dengan i2
و
َ_
َ_
au a dengan u3. Vokal Panjang (Madd)
No. Vokal Arab Vokal Latin Keterangan
1
ََ اَ
ā a dengan garis di atasx
C. Kata Sandang
Kata sandang yang dalam aksara Arab dilambangkan dengan
لا
ditransliterasikan menjadi -al- baik diikuti oleh huruf syamsiyyah, maupun huruf
qamariyyah. Misalnya
ليفلا
(al-fīl) danسمشلا
(al-syams bukan asy-syams),al-rijāl bukan ar-rijāl, al-ḍiwān bukan aḍ-ḍiwān.
D. Syaddah (Tasydīd)
Syaddah atau tasydīd yang dalam sistem tulisan Arab yang dilambangkan
dengan sebuah tanda ( _ّ__ ), dalam transliterasi ini dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi tanda syaddah itu. Akan tetapi, hal
ini tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kata
sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyyah. Misalnya, kata
ةَر وُر ضلا
tidakditulis aḍ-ḍarūrah, melainkan al-ḍarūrah, demikian seterusnya.
E. Ta Marbūṭah
Berkaitan dengan transliterasi ini, jika huruf ta marbūṭah terdapat pada kata
yang berdiri sendiri, maka huruf tersebut ditransliterasikan menjadi huruf - h -
(lihat contoh no.1 di bawah). Hal yang sama juga berlaku jika ta marbūṭah
tersebut diikuti oleh kata sifat (naʻt) (lihat contoh no.2). Namun, jika huruf ta marbūṭah tersebut diikuti kata benda (ism), maka huruf tersebut ditransliterasikan menjadi huruf - t – (lihat contoh no.3).
Contoh:
No. Kata Arab Transliterasi
1
َ
ةقيرط
ṭarīqah2
ةّيملسْاَةعمالا
al-jāmiʻah al-Islāmiyyahxi
Meskipun dalam sistem tulisan Arab huruf kapital dikenal, dalam
transliterasi ini huruf kapital ini juga digunakan, dengan mengikuti ketentuan yang
berlaku dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) bahasa Indonesia, antara lain
untuk menuliskan permulaan kalimat, huruf awal nama tempat, nama bulan, nama
diri dan lain-lain. Penting diperhatikan, jika nama diri didahului oleh kata
sandang, maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri
tersebut, bukan huruf awal atau kata sandangnya. Contoh: Abū amid al-Gazālī,
bukan Abū amid Al-Gazālī, al-Kindi bukan Al-Kindi).
Namun berdasarkan buku panduan Akademik UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta Tahun 2010/2011 bahwa untuk nama-nama tokoh yang berasal dari dunia
Nusantara sendiri tidak ditransliterasikan, meskipun akar katanya berasal dari
bahasa Arab. Contoh: Abdussamad al-Palimabani, tidak ʻAbd al- amad al
1 A. Latar Belakang Masalah
Sokrates menyatakan bahwa orang yang berpengetahuan akan dengan
sendirinya berbudi baik. Menurutnya, barang siapa yang mengetahui hukum,
mestilah bertindak sesuai dengan pengetahuannya itu. Tidak mungkin ada
pertentangan antara keyakinan dan perbuatan.1 Senada dengan pendapat tersebut,
Zuardin Azzaino juga menyatakan bahwa dengan beriman dan tunduk kepada
Allah, maka manusia akan berkasih sayang kepada manusia lainnya, dan akan
menjadi saudara antara sesamanya,2 atau dengan kata lain, manusia-manusia yang
hidup berdasarkan agama Islam akan menempatkan orang-orang Mukmin sebagai
saudara antara sesamanya. Karena menurut Azzaino, manusia sebagai anggota
masyarakat Muslim tersebut tidak tunduk kepada apapun kecuali kepada Allah
dan hukum-hukum-Nya.3 Hal ini sejalan dengan salah satu contoh dalam
al-Qur‟an yang dinyatakan bahwa salat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.
Sebagaimana dalam Q.S. Al-„Ankabūt [29]: 45 berikut:
َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َََ
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji
dan mungkar. dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain), dan Allah mengetahui apa
yang kamu kerjakan”.
1
Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani (Jakarta: UI Press, 1986), h.83. 2
HS. Zuardin Azzaino, Asas-Asas Sosiologi Ilahiah (Jakarta: Pustaka al-Hidayah, 1990), h. 115.
3
Dalam konteks ayat di atas, salat merupakan sarana ibadah yang dapat
mencegah dari perbuatan-perbuatan yang dapat mengotori kesucian dan
kehormatan diri, seperti perbuatan yang melanggar hak orang lain dengan cara
menindas, merampas hak orang lain, korupsi, dan lain sebagainya.4 Sehingga
dalam hal ini terdapat pemahaman bahwa kesalehan individu dengan selalu
beribadah seperti dalam hal salat dapat berbanding lurus dengan kesalehan sosial.
Berbeda dengan pendapat tersebut di atas, Azyumardi Azra menyatakan
bahwa tidak ada garis linear yang langsung menghubungkan antara doktrin Islam
dengan seluruh perilaku Muslim, dan tidak juga tepat mereduksi praktik sosial
Muslim semata-mata dalam kotak-kotak politik, ekonomi, pendidikan maupun
budaya. Hal ini karena masing-masing variabel tersebut memiliki dinamika
tersendiri, yang jika bersentuhan dengan variabel lain akan memproduksi
pola-pola tertentu.5 Sehingga dapat dikatakan bahwa kesalehan agama yang terdapat
dalam suatu individu tidak selalu sejalan dengan kesalehan sosial yang ada.
Hal tersebut menjadi perdebatan yang sangat penting di kalangan orang
Islam mengenai sifat dan isi komitmen keagamaan (religiusitas) yang harus
ditunjukkan dan dianut oleh seorang Muslim agar ia menjadi seorang Muslim
yang sejati. Salah satu klaim penting dalam perdebatan tersebut adalah, agar
menjadi Muslim yang sejati, seseorang harus memiliki bukti kesalehan
keagamaan pada tingkat prilaku, etika dan pengetahuan. Riaz Hassan juga
berpendapat bahwa, menjadi seorang yang „beragama‟ tidak hanya berhubungan
4
Haidar Bagir, Buat Apa Shalat?! Kecuali Anda Hendak Mendapatkan Kebahagiaan dan Ketenangan Hidup (Bandung: PT.Mizan Pustaka, 2008), h. 46.
5
dengan masalah-masalah „ubudiyah saja, melainkan juga masalah etika dan
prilaku yang meliputi seluruh bidang kehidupan.6
Sedangkan realitas masyarakat Muslim saat ini telah berubah dan terkesan
cenderung kepada pendapat yang kedua tadi, bahwa kesalehan agama yang
terdapat dalam suatu individu tidak selalu sejalan dengan kesalehan sosial yang
ada. Realitas seperti ini dilatarbelakangi oleh banyak hal, salah satu di antaranya
adalah adanya perbedaan pada tingkat pendidikan atau ekonomi yang dimiliki
masyarakat Muslim, atau karena tingkat kesibukan mereka yang berbeda-beda,
sehingga kehidupan sosial masyarakat Muslim khususnya dengan para tetangga
menjadi kurang harmonis dan bahkan banyak yang melalaikan hak dan kewajiban
para tetangganya. Terlebih lagi di daerah perkotaan yang penduduknya terkenal
individualistis, dan bahkan antar tetangga pun sampai tidak saling mengenal
tetangganya satu sama lain.7
Melihat hal tersebut, Mahathir Muhammad,8 menyatakan bahwa dunia
Islam saat ini berada dalam kondisi sosial yang gawat, malapetaka politik dan
ekonomi, dan banyak kaum Muslim yang mengadopsi perasaan aman yang palsu
dengan berlindung dengan jubah kesalehan tradisional. Ia menganggap bahwa
kemunduran umat Islam tersebut telah dipercepat oleh ketidakmampuan kaum
Muslim dan pemimpin-pemimpin mereka untuk memahami Islam dalam konteks
dunia kontemporer, dengan kondisi hidup yang telah berubah.9
6
Riaz Hassan, Keragaman Iman: Studi Komparatif Masyarakat Muslim, h. 43-45.
7
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur‟an (Jakarta: Lentera Hati, 2002), Jilid 2, h. 440.
8
Mahathir Muhammad adalah mantan Perdana Menteri Malaysia yang juga merupakan pengkritik vokal terhadap kondisi sosial dan ekonomi umat Islam.
9
Dalam hal ini, Fazlur Rahman juga telah membuat analisis yang paling
sistematis tentang tradisi intelektual Islam dan krisis yang kini menimpa dunia
Islam. Ia berpendapat bahwa salah satu tema al-Qur‟an, baik masa lalu maupun
masa sekarang, adalah untuk membangun tatanan masyarakat di muka bumi ini
dengan adil dan berdasar pada etika. Sehingga ia menilai kesarjanaan Islam yang
dibentuk para ulama hanya menekankan „Islam Minimalis‟, dengan fokus „Lima
Tiang Agama‟ dan Islam yang negatif serta penuh hukuman. Sehingga dalam hal
ini ia melihat kondisi dunia Islam sekarang merupakan sebuah bukti dari
kemunduran kesalehan agama yang berdasar pada tradisi di kalangan masyarakat
Muslim.10
Kemunduran kesalehan agama ini telah meluas di kalangan masyarakat
Muslim. Tidak hanya terjadi pada masyarakat Muslim perkotaan, melainkan juga
terjadi pada masyarakat Muslim pedesaan. Karena boleh jadi terdapat
faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perselisihan-perselisihan di tengah-tengah
masyarakat Muslim akibat dari pengaruh globalisasi dan perilaku normatif
sebagaimana pendapat Fazlur Rahman di atas. Maka dari itu, dalam skripsi ini
saya akan mencoba untuk meneliti kehidupan sosial masyarakat Muslim
pedesaan, khususnya dalam hal menunaikan hak dan kewajiban para tetangga
berdasarkan hadis yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Adapun desa yang akan
diteliti tersebut adalah Desa Tenajar Lor.
Desa Tenajar Lor, Kecamatan Kertasemaya, Kabupaten Indramayu, Provinsi
Jawa Barat merupakan desa yang dapat dikatakan religius. Hal ini dikarenakan
masyarakat Desa Tenajar Lor pada umumnya sering melakukan aktifitas
10
keagamaan seperti pengajian-pengajian rutin harian dan mingguan yang tersebar
di seluruh penjuru Desa Tenajar Lor. Pengajian-pengajian yang tersebar tersebut
sangat beragam, ada pengajian yang khusus orang tua laki-laki, ada juga yang
khusus orang tua perempuan, ada pula yang khusus remaja dan anak-anak dan
bahkan ada juga pengajian campuran antara orang tua laki-laki dan perempuan
yang sering mereka sebut dengan istilah “ngaji kuping”. Pengajian-pengajian
tersebut mereka lakukan di masjid, musala, pondok pesantren dan di rumah kyai
yang memimpin acara pengajian tersebut.11
Sedangkan pokok bahasan yang mereka kaji dalam pengajian tersebut di
antaranya adalah tafsir, seperti Tafsir al-Ibrīz, Tafsir al-Jalālain, dan tafsir-tafsir
lainnya. Kemudian ada juga pembahasan mengenai akhlak, yang meliputi
hadis-hadis Rasulullah Saw, seperti dalam kitab Na ā‟iḥ al-„Ibād, Irsyād al-„Ibād,
Makārim al-Akhlāq, dan kitab-kitab akhlak lainnya. Namun berdasarkan temuan
sementara pada observasi yang saya lakukan di lapangan, permasalahan antar
tetangga di lingkungan Desa Tenajar Lor masih seringkali terjadi. Di antaranya
permasalahan mengenai hutang piutang, hingga praktik rentenir yang dapat
merugikan orang lain, sehingga hubungan sosial di antara mereka menjadi kurang
harmonis. Pada hal dari pengajian-pengajian yang mereka lakukan di setiap
minggunya tidak lepas dari pembahasan mengenai akhlak Rasulullah Saw dalam
hubungan sosial, sehingga kecil kemungkinan dari mereka yang tidak mengerti
akan ajaran-ajaran Rasulullah Saw tersebut.12
Maka fenomena tersebut menjadi ironis ketika latar belakang masyarakat
desa tersebut adalah orang-orang yang mengerti agama, dan bahkan jumlah ulama
11
Hasil observasi dan wawancara dengan warga Desa Tenajar Lor pada Januari 2014.
12
di desa tersebut relatif banyak. Namun dari temuan sementara yang saya dapatkan
di lapangan, hubungan sosial di antara mereka kurang harmonis, khususnya antar
tetangga. Sehingga penelitian ini sangat penting untuk diteliti lebih dalam terkait
tentang hubungan mereka dalam bertetangga. Oleh karena itu, maka penelitian
dalam skripsi ini saya beri judul “IMPLEMENTASI HADIS HAK DAN
KEWAJIBAN BERTETANGGA DI DESA TENAJAR LOR - INDRAMAYU”.
B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasikan
masalahnya sebagai berikut:
1. Masyarakat Desa Tenajar Lor yang selalu mengikuti pengajian di setiap
minggunya masih sering ribut dengan para tetangganya.13
2. Masyarakat Desa Tenajar Lor yang mengerti akan hak dan kewajiban
tetangga, sebagian dari mereka tidak melaksanakan ajaran Nabi Saw
tersebut.14
3. Ulama Desa Tenajar Lor dapat dikatakan banyak, namun sebagian dari
mereka apatis terhadap lingkungannya.15
2. Pembatasan Masalah
a) Pembatasan Wilayah
Pada pembatasan masalah dalam penelitian ini, saya membatasinya dengan
hanya melakukan penelitian di Desa Tenajar Lor, Kecamatan Kertasemaya,
Kabupaten Indaramayu, Provinsi Jawa Barat. Hal ini karena tingkat kesejahteraan
13
Hasil observasi di Desa Tenajar Lor, RT 01/03 pada Januari 2014.
14
Hasil observasi di Desa Tenajar Lor, RT 03/01 pada Januari 2014.
15
masyarakat di desa tersebut hampir seimbang antara masyarakat tingkat sejahtera
dan masyarakat tingkat prasejahtera, desa tersebut juga memiliki banyak ulama,
dan masyarakatnya pun selalu melakukan pengajian-pengajian agama di setiap
minggunya, namun hal tersebut menjadi sangat ironis ketika antar tetangga di
antara mereka masih sering terjadi keributan. Hasil sementara penelitian tersebut
ditemukan di RT 01/03, antara kyai dengan seorang imam masjid ribut karena
masalah jalan dan air limbah hingga mereka saling membenci satu sama lain.
Kemudian di RT 04/03 ditemukan terjadinya kesenjangan antara orang kaya dan
orang miskin, dan RT 03/01 yang ditemukan adanya kelalaian antara hak dan
kewajiban sebagai seorang tetangga dalam hal pinjam meminjam. Oleh karena itu,
masyarakat Muslim di Desa Tenajar Lor merupakan objek yang sangat penting
dan cocok untuk diteliti lebih jauh terkait hubungan mereka dalam bertetangga.
b) Pembatasan Kajian
Adapun pembatasan masalah pada teori penelitian ini, saya hanya meneliti
satu hadis. Karena hadis ini merupakan hadis yang menjelaskan hak dan
kewajiban para tetangga secara keseluruhan, berbeda dengan hadis-hadis lainnya
yang hanya menjelaskan sebagian dari hak tetangga saja. Sehingga meskipun satu
hadis, namun dapat mewakili hadis-hadis lain yang menjelaskan tentang hak dan
kewajiban para tetangga.
c) Pembatasan Waktu Penelitian
Agar penelitian ini tepat, akurat, dan relevan, serta tidak terjadi ketimpangan
antara hasil penelitian dengan fakta di lapangan, maka penelitian ini perlu dibatasi
waktu penelitiannya. Yakni penelitian ini dimulai pada Januari 2014 dan berakhir
3. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah di atas, maka perumusan
masalahnya adalah apakah kesalehan yang dimiliki oleh individu dapat
berbanding lurus dengan kesalehan sosial?, dan bagaimana implementasi
masyarakat Desa Tenajar Lor terhadap hadis hak dan kewajiban bertetangga
dalam kehidupan sehari-hari?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui pemahaman masyarakat terhadap hak dan kewajiban dalam
bertetangga.
2. Mengetahui praktik-praktik hadis hak bertetangga yang diimplementasikan
oleh masyarakat Desa Tenajar Lor.
Sedangkan manfaat dari penelitian ini antara lain ialah sebagai berikut:
1. Membuktikan keselarasan antara pemahaman dengan pelaksanaan hak dan
kewajiban bertetangga yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
2. Membuktikan teori bahwa kesalehan individu selalu sejalan dengan
kesalehan sosial, khususnya terhadap tetangga.
3. Dalam rangka untuk memenuhi syarat memperoleh gelar Sarjana Theologi
Islam (S.Th.I) Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
D. Tinjauan Pustaka
Penelitian tentang hadis-hadis etika bertetangga dan implementasinya di
judul skripsinya “Penerapan Hadis Nabi Saw tentang Etika Bertetangga: Studi
Kasus di Desa Ngadipurwo, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Jawa Tengah”
pada tahun 2011. Dalam skripsinya tersebut, ia menggunakan metode deskriptif
kuantitatif. Kemudian dalam penelitiannya ia berlandaskan dengan banyak hadis
yang berkaitan dengan etika bertetangga. Kemudian hasil yang ia capai hanya
berupa gambaran umum masyarakat yang mempraktikkan hadis Nabi Saw
tersebut.
Kemudian penelitian tentang fenomoena implementasi hadis Nabi Saw
semacam ini pernah dilakukan oleh M. Alfatih Suryadilaga,16 yang menulis artikel
dengan judul “Model-model Living Hadis PP. Krapyak Yogyakarta”. Ia meneliti
tradisi-tradisi masyarakat Muslim yang diklaim sebagai hadis Nabi Saw, dimana
dalam penelitian tersebut ia menyebutnya dengan istilah living hadis. Dalam
penelitiannya tersebut, ia menggunakan metode fenomenologi. Dengan beberapa
konsep living hadis yang ditawarkannya, ia mendapatkan hasil penelitian yang
cukup signifikan dengan hadis-hadis Nabi Saw dalam praktiknya di masyarakat
PP. Krapyak Yogyakarta.
Penelitian tentang hadis-hadis etika bertetangga ini juga pernah dilakukan
pada tahun 2003 oleh Ade Hayati Nufus, dengan judul skripsinya “Konsepsi Etika
Bertetangga menurut Islam: Kajian Hadis-hadis Rasulullah dalam Kutub
al-Sittah”. Dalam skripsinya tersebut, ia lebih fokus pada teori pembahasan
berdasarkan hadis-hadis yang ada dalam kutub al-sittah saja tanpa melakukan
penelitian lapangan. Sehingga hasil yang dicapai hanya berupa sekumpulan
16
gagasan, teori atau konsep dalam bertetangga menurut perspektif hadis yang
diteliti.
Adapun perbedaan antara penelitian-penelitian tersebut dengan penelitian
sekarang, selain objeknya yang berbeda, metode yang digunakan dalam penelitian
ini pun berbeda. Penelitian ini dilakukan di Desa Tenajar Lor, Kabupaten
Indramayu, dan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif.
Penelitian ini juga hanya berfokus pada satu hadis tentang hak dan kewajiban
tetangga, yang didukung oleh hadis-hadis lainnya. Sehingga hasil yang akan
dicapai nanti berupa deskripsi analisis implementasi hadis secara detail dan
komprehensif. Itulah yang membedakan antara penelitian yang sebelumnya
dengan penelitian yang sekarang.
E. Metodologi Penelitian
1. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data pada skripsi ini dibagi menjadi dua jenis
penelitian, yakni jenis penelitian kepustakaan (library research) dan penelitian
lapangan (field research). Penelitian kepustakaan dilakukan untuk mencari
landasan doktrin sikap terhadap tetangga dari kitab-kitab hadis sebagai data
primer, yakni kitab al-Tawbīkh wa al-Tanbīh karya Abū al-Syaīkh al-Aṣbahānī
(274-369 H/ 887-979 M) dan dari buku-buku hadis lain seperti aḥīḥ al-Bukhārī,
aḥīḥ Muslim, Riyāḍ al- āliḥīn, serta buku-buku umum lainnya yang berkaitan
dengan tema penelitian sebagai data sekunder.17 Sedangkan penelitian lapangan
dilakukan dengan observasi dan wawancara di Desa Tenajar Lor, yang kemudian
dikaji secara deskriptif analitis.
17
2. Penentuan Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel
Adapun populasi jumlah penduduk yang telah berrumah tangga atau
berkeluarga di Desa Tenajar Lor adalah sebanyak 1970 keluarga.18 Karena dari
jumlah populasi yang ada, saya hanya mengambil sampel penduduk yang sudah
berkeluarga. Adapun kriteria yang diambil sebagai sampel penelitian adalah
keluarga sejahtera dan keluarga prasejahtera, sehingga hal ini disebut juga
stratified random sampling. Berdasarkan data yang ada, diketahui bahwa keluarga
sejahtera berjumlah 278 keluarga dan keluarga prasejahtera berjumlah 371
keluarga.19 Hal ini karena yang seringkali terjadi permasalahan adalah di antara
kedua tingkat kesejahteraan tersebut.
Untuk mengambil sampel yang representatif, maka saya membagi kedua
tingkat kesejahteraan penduduk di atas dengan menentukan alokasi sampel yang
berimbang. Hal ini berdasarkan teorinya Teken (1965) dalam pengambilan
besarnya sampel penelitian.20 Adapun skema rumus pengambilan sampel
berimbang ialah sebagai berikut:21
18
Dikutip dari Data Profil Desa Tenajar Lor, Kecamatan Keretasemaya, Kabupaten Indramayu, 2010, h. 18
19
Data Profil Desa Tenajar Lor, tentang perkembangan penduduk, 2010, h. 2
20
Moh. Nazir, Metode Penelitian (Darussalam: Ghalia Indonesia, 1983), h. 293-294
21
Moh. Nazir, Metode Penelitian, h. 300
N1 =278PKS N2 = 371 PKPS
N1 278
f1 = =
N 649
N2 371
f2 = =
N 649
Maka :
Keterangan:
N = Jumlah total populasi terpilih, yakni 649.
N1 = Jumlah populasi keluarga sejahtera (PKS), yakni dari 278.
N2 = Jumlah populasi keluarga prasejahtera (PKPS), yakni dari 371.
f1 danf2 = Pembagian sampel (sampel fraction).
n = Jumlah total populasi keluarga dibagi PKS dan PKPS kemudian dijumlah.
ni = Hasil jumlah sampel yang harus diambil, yakni 11.
Dari penentuan jumlah sampel di atas, maka sampel yang harus diambil
adalah sebanyak 11 orang yang meliputi masyarakat Desa Tenajar Lor beserta
para ulama desa setempat. Hal ini sebagaimana penelitian kualitatif yang hanya
memerlukan sampel yang kecil dalam memilih objek penelitiannya.22
3. Teknik Observasi dan Wawancara
a. Observasi
Proses yang pertama pada penelitian ini adalah observasi atau pengamatan.23
Observasi pada penelitian ini dilakukan selama 60 hari atau 2 bulan (terhitung dari
25 Januari - 25 Maret 2014) di Desa Tenajar Lor. Dalam observasi ini, saya
mengamati pola kehidupan bertetangga di desa tersebut khususnya masyarakat di
22
Andi Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian, h. 44
23
Observasi merupakan sebuah metode ilmiah berupa pengamatan dan pencatatan secara sistematik mengenai fenomena-fenomena yang diselidiki. Lihat: Jalaludin Rahmat, Metode Penelitian Komunikasi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), h. 83
ni = N1 + N2 = 5 + 6 = 11
N1 =f1 . n
= 278 x 12 = 5 649
N2 =f2 . n
= 371 x 12 = 6 649
RW 01, RW 02 dan RW 03. Saya berusaha untuk memilih letak wilayah yang
serepresentatif mungkin dalam melakukan observasi agar sesuai dengan luas
wilayah yang ada.
b. Wawancara
Sedangkan proses wawancara pada penelitian ini dilakukan di bulan Maret
2014. Adapun sasaran informan yang diwawancarai ialah warga Desa Tenajar Lor
di RT 01/03, RT 04/03, RT 05/03, RT 04/02, RT 06/02, RT 09/01 dan RT 03/01.
Metode yang digunakan untuk memperoleh data dari wawancara ini adalah
dengan kuesioner yang mengacu pada buku Metode-Metode Penelitian
Masyarakat. Dimana dalam hal ini susunan pertanyaan meliputi pertanyaan fakta
kongkret mengenai diri pribadi informan, kemudian mengenai sikap, pendapat,
dan perasaan si informan terhadap suatu peristiwa dan keadaan masyarakat,
kemudian pertanyaan informasi mengenai gejala dan keadaan sosial yang nyata,
dan pertanyaan yang mencoba mengukur persepsi dari si informan terhadap
dirinya dalam hubungan dengan orang lain.24 Sedangkan alat yang digunakan
dalam proses wawancara ini yakni berupa alat tulis atau pencatatan langsung dan
alat perekam suara (voice recorder).
4. Metode Analisa Data
Pada proses analisa data penelitian ini dimulai dengan menelaah seluruh
data yang didapat dari sumber pengumpulan data, yakni dari hasil observasi,
wawancara dan dokumentasi. Untuk kemudian dibaca, dipelajari, dan ditelaah
secara cermat hingga pada proses penyatuan data yang kemudian akan
24
menghasilkan interpretasi data. Proses seperti ini juga termasuk dalam hal
transliterasi bahasa, dari bahasa asli informan (bahasa Indramayu) ke dalam
bahasa Indonesia. Metode seperti ini sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam
buku Metode Etnografi karya James P. Spradley, karena buku tersebut merupakan
panduan yang khas agar penelitian kualitatif di lapangan dapat berjalan secara
sistematis, terarah dan efektif.25
5. Teknik Penulisan
Sedangkan teknik penulisan skripsi ini mengacu pada buku pedoman
penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi yang diterbitkan oleh UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta tahun 2010/2011. Sedangkan transliterasi pada Skripsi ini
menggunakan Pedoman Transliterasi Arab-Latin keputusan bersama Menteri
Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor: 158 Tahun 1987 –
Nomor: 0543b/u/1987.
F. Sistematika Penulisan
Agar penulisan skripsi ini terarah dan efisien dalam pembahasannya, maka
saya akan menguraikannya ke dalam lima bab yang memuat beberapa sub-bab di
dalamnya. Hal ini karena penelitian ini terdiri dari penelitian kepustakaan dan
penelitian lapangan, sehingga untuk memadukannya dibutuhkan analisis dari
keduanya. Adapun uraian dalam lima bab tersebut ialah sebagai berikut:
Bab pertama, dalam bab ini akan diisi dengan pendahuluan yang meliputi
latar belakang masalah, yang menjelaskan tentang pendahuluan dan kronologi
permasalahan sampai ke titik inti permasalahan, Selanjutnya diutarakan mengenai
25
identifikasi, pembatasan dan perumusan masalah, agar pembahasan yang dikaji
lebih fokus dan terarah. Selanjutnya adalah terkait tujuan dan manfaat penelitian,
dalam hal ini adalah tujuan saya untuk mencapai target yang diinginkan dalam
penelitiannya. Kemudian saya juga mencantumkan tinjauan pustaka, dimana
dalam hal ini merupakan perbandingan antara penelitian yang pernah dilakukan
sebelumnya dengan penelitian yang sekarang. Kemudian disusul dengan
metodologi penelitian, dimana dalam hal ini menjelaskan tentang metode yang
digunakan oleh saya dalam penelitian, baik penelitian kepustakaan maupun
penelitian lapangan. Terakhir adalah sistematika penulisan, dalam sistematika ini
akan saya jelaskan rangkaian bab yang berisi tentang tema-tema pokok penelitian
agar target pembahasan yang dikaji lebih efektif dan efisien.
Bab kedua, dalam bab ini akan dibahas mengenai hak dan kewajiban
tetangga dalam hadis sebagai teori penelitian kepustakaan sebelum berlangsung ke
penelitian lapangan. Dalam bab ini akan dibahas mengenai hadis hak dan
kewajiban tetangga, sub-bab ini merupakan tema utama penelitian ini, yang juga
akan disertai dengan keterangan-keterangan hadisnya. Kemudian pengertian hak
dan kewajiban tetangga, kemudian ruang lingkup tetangga, yang menjelaskan
tentang batasan-batasan tetangga dan hak beserta kewajibannya, kemudian disusul
dengan klasisfikasi tetangga, yang menjelaskan tentang pembagian tetangga
menurut al-Qur‟an dan hadis.
Bab ketiga akan dibahas tentang kesenjangan antara religiusitas dengan
realitas sosial masyarakat Desa Tenajar Lor, dimana dalam bab ini akan dijelaskan
mengenai kesenjangan antara ilmu pengetahuan dan kesalehan sosial. Hal ini
pokok penelitian ini. Adapun selanjutnya adalah pembahasan mengenai
keragaman sarana keagamaan, yang berisi penjelasan tentang sarana-sarana yang
berpotensi untuk mendalami ilmu agama oleh masyarakat desa secara umum.
Kemudian tentang pemahaman masyarakat Desa Tenajar Lor terhadap makna
bertetangga, perselisihan antar tetangga di desa tersebut, dan juga dibahas
mengenai kesejahteraan masyarakat Desa Tenajar Lor, yang berisi tentang tingkat
kesejahteraan ekonomi masyarakat dan mata pencaharian pokok yang dimilikinya.
Bab keempat merupakan penjelasan mengenai krisis hak bertetangga pada
masyarakat Desa Tenajar Lor berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang
telah saya lakukan di lapangan. Dalam hal ini berupa praktik-praktik yang
dilakukan masyarakat dalam mengimplementasikan hadis hak dan kewajiban
bertetangga dalam kehidupan sehari-hari. Setelah itu akan dibahas pula tentang
faktor pendukung dan penghambat implementasi hadis hak dan kewajiban
bertetangga pada masyarakat Desa Tenajar Lor, dan juga akan memuat
pendapat-pendapat para ulama desa setempat terhadap praktik hak dan kewajiban
bertetangga yang terjadi di masyarakat sekitarnya.
Terakhir adalah bab lima, pada bab ini merupakan penutup dari sebuah
penelitian. Dimana pembahasan dari bab penutup ini berupa kesimpulan yang
berisi jawaban atas pertanyaan yang telah disebutkan dalam perumusan masalah.
Kemudian diikuti dengan saran-saran dari saya terkait tentang penelitian tentang
17 A. Hadis Hak dan Kewajiban Bertetangga
Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, bahwa skripsi ini
akan berfokus pada satu hadis yang berisi tentang hak-hak tetangga secara
keseluruhan. Meskipun hadis ini banyak ditemui dalam kitab-kitab hadis, namun
dalam hal ini saya mengambil hadis yang diriwayatkan oleh „Abd Allāh bin
Mu ammad bin Jaʻfar bin ibbān al-Aṣbahānī (274-369 H/ 887-979 M) dalam
kitabnya al-Tawbīkh wa al-Tanbīh.1 Adapun hadis tentang hak dan kewajiban
tetangga tersebut adalah sebagai berikut:
ََح
َ دََ ث
ََ
ََُمَا
َ م
ٌَدَ
َ بَِن
َََعَِل
َُ لاَي
َ ف
َِرا
ََ لا
ََ بَ غ
ََد
َِدا
ََ ثَي
ََ
ََأَا
َُب
َ َهَو
َِما
ََ ب
َِن
َ
َُش
ََج
ٍَعا
َََ ثََ
َُعَا
َ ثََم
َِنا
ََ با
َِن
َََم
ََط
ٍَرَ
ََعَ ن
َََيَِزَ ي
ٍَدَ
َ بَِن
َََبَِزَ ي
ٍَعَ
ََعَ ن
َََع
ََط
ٍَءا
َ
َُ لا
ََرََسا
َِنا
ََعَ
َ نَ
َُمََع
ٍَذا
ََ ب
َِن
َ
ََجََب
ٍَل
َََق
ََلا
ََُ قَ ل
ََ
ََيَا
ََرَا
َُسٍَو
ََلَ
ََمَها
ََحَا
َ قَ
َِ لا
ََوَِرا
َََق
ََلا
ََِإ
َِنَ
َِنإوَُهَت ضَر قَأََكَضَر قَ ت سا
َ
ََت َعَأََكَناَعَ ت سا
َِنإوَُه
َا
َ حََت
ََجا
َََأ
َ عَ
َطَ ي
ََتَُهَ
َ نإو
َ
َ نإوَُهَت دُعََضِرَم
َ
َِاَ َتاَم
ََت عَ ب ت
ََج
ََسٌَر يَخَُهَباَصَأَنإوَُهَتَزاَ
َ رََك
َ
ََوََ
َ أََتَُه
َ
ََسٌَةَبيِصُمَُه تَ باَصَأَنإو
َ لَ يََت
َُهَ
ََلَُهَت ي زَعو
ََُ تَ
ؤَِذ
َِهَ
َِقِب
َ لِإَ َكِر دِقَِراَت
َِلَِءاَِب لاِبَِه يَلَعَُليِطَت سَتَ َلَوَاَه ِمَمَََُ َفِر غَ تَ نَأ
ََتَ ش
ََر
ََف
َََعََل
َ يَِهَ
ََوََت
َُس
َ دَ
َِنِإَوَ،َِهِن ذِإِبَ لِإََحيِرلاَهيلع
َِمَُهَلَِد اَفًَةَهِكاَفََت يَرَ ت شا
َ ََه
َ لإوَا
ََفَََأ
َ د
َِخ
َ لَُهَ
َِسَ
ر
ََلَا
َ َََ
َُرَُج
َََوََل
َُد
ََكَ
َِب
ََش
َ يٍَء
ََِم
َ َُهَ
ََيَِغَ ي
َُظَ و
ََنَ
َِبَِه
َََوََل
ََدَُه
َََ
َ لَ
ََ تََف
َ قَُه
ََنو
َََم
ََأَا
َُ قَ و
َُلَ
ََلَُك
َ مَََل
َ نَ
َُ يََؤَ د
ََحَى
َ قَ
ََ لا
َِرا
ََِإ
َ ل
َََقَِل
َ يًَل
ََ ِم
َ نَ
ََرَِح
ََمَ
ها
2.
“Telah menceritakan kepada kami Mu ammad bin „Alī al- uffār al
-Bagdādī, telah menceritakan kepada kami Abū Hammām al-Syajāʻ, telah
menceritakan kepada kami „U mān bin Maṭar, dari Yazīd bin Bazīʻ, dari
„Aṭā‟ al-Khurāsānī, dari Mu‟āż bin Jabal, ia berkata: “Kami bertanya,
“Wahai Rasulullah!, apa hak para tetangga?, beliau menjawab,‟apabila ia
meminta pinjam uang maka engkau meminjamkannya, jika ia meminta tolong kepadamu maka engkau menolongnya, jika ia membutuhkan sesuatu maka engkau memberikannya, jika ia sakit maka engkau menjenguknya, jika ia meninggal maka engkau mengiring jenazahnya, jika ia mendapatkan
1
Kualitas hadis ini berdasarkan penelitian yang saya lakukan adalah ḥasan, karena sanad
pada hadis ini terdapat Abū al-Faḍal „Umān bin Maṭar al-Syaibanī yang dinilai ḍaʻīf (lemah).
Lihat: Ibn ajar al-ʻAsqalānī, Tahżīb al-Tahżīb(Beirūt: Dār al-Fikr, 1984), Juz 5, h. 112
2 „Abd Allāh bin Mu ammad bin Jaʻfar bin
ibbān al-Aṣbahānī, al-Tawbīkh wa al
kebaikan, maka engkau mengucapkan selamat kepadanya, jika ia ditimpa musibah yang maka engkau menghibur dan berbelasungkawa kepadanya, dan janganlah engkau menyakitinya dengan bau sedap atau asap masakan yang berada dalam periukmu kecuali engkau mengambil sebagiannya dan memberikan kepadanya, jangan engkau meninggikan bangunan rumahmu agar engkau terlihat mewah dalam pandangannya dan menghalangi udara yang masuk ke dalam rumahnya kecuali dengan izinnya. Jika engkau membeli buah-buahan maka hadiahkan sebagian kepada mereka, jika tidak maka bawalah buah itu ke dalam rumahmu secara diam-diam dan jangan biarkan anakmu membawa buah yang kau beli keluar rumah, sebab hal itu akan membuat anak mereka marah, apa kamu mengerti apa yang aku katakan kepadamu? Sungguh tidak akan ditunaikan hak tetangga kecuali sedikit orang yang dirahmati Allah Swt”.3
Selain dari kitab al-Tawbīkh wa al-Tanbīh, hadis ini juga dapat ditemui
dalam kitab Makārim al-Akhlāq karya Abū Bakr bin Ja‟far bin Sahal bin Syākir
al-Sāmirī al-Kharā‟iṭī, yakni sebagai berikut:
ََح
َ دََ ث
ََ
ََأَا
َُ بَ و
ََُمَ
و
ََس
َِعَى
َ مََر
ََنا
ََ ب
َُنَ
َُمَ و
ََس
َ لاَى
َُمََؤ
َِد
َُب
َََ ثََ
ََدَا
َُواٌَد
ََ ب
َُنَ
ََرَِش
َ يٍَد
َََ ثََ
َُسَا
ََوَ يَُد
ََ ب
َُنَ
ََعَ ب
َِدَ
َ لاََعَ
ِزَ يَِز
َََع
َ نَ
َُعَ ث
ََم
َِنا
ََ ب
َِن
َََع
ََط
ٍَءا
َََع
َ نَ
ََأَِبَ ي
َِهَ
ََعَ ن
َََع
َ مٍَر
َ بَو
َِن
َ
َُشََع
َ ي
ٍَب
َََع
َ نَ
ََأَِبَ ي
َِهَ
ََعَ ن
َ
ََج
َِدَِه
َََأ
َ ن
َََر
َُسَ و
ََل
َ
َها
ََصَ ل
َُهاَى
َ
ََعََلَ ي
َِهَ
ََوَ
ََسَ ل
ََمَ
ََق
ََلا
َ
ََأَ"َ:
ََتَ د
َُرَ و
ََنَ
ََم
ََحَا
َ قَ
ََ لا
َِرا
َ
َِإَ؟
َِن
َ
َ سا
ََ تََع
ََنا
ََِب
ََك
َََأ
ََعَ ََت
َُهَ
ََوَِإ
َِن
َ
َ سا
ََ تَ قََر
ََض
ََك
َََأَ ق
ََرَ ض
ََتَُهَ
ََوَِإ
َِن
ََ فا
ََ تََق
َ رَ
َُعَ د
ََت
َََعََل
َ يَِهَ
ََوَِإ
َ نَ
ََمَِر
ََض
ََُع
َ دََت
َُهَ
ََوَِإ
َ نَ
ََم
ََتا
ََِاَ ت
ََ بَ ع
ََت
َ
ََجََ
ََزاََت
َُهَََ
وَِإ
َ نَ
ََأ
ََص
ََباَُه
َ
ََخَ ي
ٌَرَ
َََََ أ
ََتَُهَ
ََوَِإ
َ نَ
ََأ
ََص
ََ باَ ت
َُهَ
َُم
َِص
َ يََبٌَة
َََعَ
زَ يََت
َُهَ
ََوََل
ََتَ
َ سََت
َِطَ ي
َُلَ
ََعََلَ ي
َِهَ
َِبَ لا
َِبََ
َِءا
َََ فََت
َ ح
َُج
ََب
َََعَ
َُهَ
َِرلاَ ي
َُحَ
َِإ
َ ل
َِبََِإ
َ ذَِن
َِهَ
ََوَِإََذ
َ شاَا
ََ تََرَ ي
ََت
َ
ََف
َِكا
ََهًَة
َََف
َ ا
َِدَ
ََلَُهَ
ََفَِإ
َ نَ
َ َلَ
ََ تَ ف
ََعَ ل
َََفََأ
َ د
َِخ
َ لََه
َِسَا
َ ر
ََوَا
ََل
َ َََ
َُرَُج
ََ
َِب
ََوَا
ََلَُد
ََك
ََِلََي
َِغَ ي
ََظ
ََ
َِب
ََوَا
ََلَُد
َُهَََ
وََل
َُ تََ
ؤَِذ
َِهَ
َِبَِق
ََتَِرا
َ
َِقَ د
َِر
ََك
ََِإ
َ ل
ََأَ
َ نَ
ََ تَ غَ
ِر
ََف
َََلَُه
ََِم
َ ََه
ََأَ:َا
ََتَ د
َُرَ و
ََنَ
ََم
ََحَا
َ قَ
ََ لا
َِرا
َ
ََوَ؟
َ لا
َِذ
َ يَ
ََ نَ ف
َِس
َ يَ
َِبََيَِد
َِهَ
ََل
ََ يََ ب
َُلَُغ
َ
ََح
َ قَ
ََ لا
َِرا
َ
َِإ
َ ل
ََمَ
َ نَ
ََرَََِ
َُهَ
َُها
َََف
ََمََ
زا
ََلا
ََُ يَ و
َِص
َ يَِه
َ مََِب
ََ لا
َِرا
َ
ََح
َ ّ
ََََ
َ َ و
ََأَا
َ نَُهَ
ََسَُ ي
َ وَِرَُث
َُهَ
َ ُثَ
ََق
ََلا
َ
ََاَ:
َِ ل
َ يََر
َُنا
َََث
ََلَ
َثٌَةَ
ََفَ:
َِمَ
َُهَ م
َ
ََمَ ن
َََلَُه
َََث
ََلَ
َثَُةَ
َُحَُق
َ وٍَق
َََوَِم
َ َُه
َ مَ
ََمَ ن
َََلَُه
َ
ََحَ ق
َِنا
َََوَِم
َ َُه
َ مَ
ََمَ ن
َََلَُه
َ
ََح
َ قَ
ََو
َِحا
ٌَدَ
ََفََأَ م
َ لاَا
َِذ
َ يَ
ََلَُهَ
ََث
ََلَ
َثَُةَ
َُحَُق
َ وٍَق
َ
ََف
ََ لا
َُراَ
َ لاَُم
َ سَِل
َُمَ
َ لاََق
َِرَ ي
َُب
َََلَُه
َ
ََح
َ قَ
َِ ْا
َ س
ََل
َِمَ
ََوََح
َ قَ
َِ لا
ََوَِرا
َََو
ََح
َ قَ
َ لاََق
ََرََباَِة
َ
ََوَ.
ََأَ م
َ لاَا
َِذ
ََلَي
َُهَ
ََحَ ق
َِنا
َََف
ََ لا
َُراَ
َ لاَُم
َ سَِل
َُمَََل
َُهَ
ََح
َ قَ
َِ ْا
َ س
ََل
َِمَ
ََوََح
َ قَ
َِ لا
ََوَِرا
َ
ََوَ.
ََأَ م
َ لاَا
َِذ
َ يَ
ََلَُهَ
ََح
َ قَ
ََو
َِحا
ٌَدَ
ََف
ََ لا
َُراَ
َ لا
ََك
َِفا
َُرَ
ََلَ:
َُهَ
ََح
َ قَ
َِ لا
ََوَِرا
َ
ََقَُلا
َ و
ََيَ:َا
ََرا
َُسَ و
ََل
َ
َِها
َََأَُن
َ ط
َِعَُم
َُهَ م
ََِم
َ نَ
َُُلَ و
ٍَم
َ
َ لا
َُس
َِك
َ
ََقَ ؟
ََلا
َ
ََل:
َُيَ
َ ط
ََعَُم
ََ لا
َُم
َ شَ
ِرَُكَ و
ََن
ََِم
َ نَ
َُنَُس
َِك
َ
َ لاَُم
َ سَِل
َِم
ََ ي
َ"
.
4َ
3 Abū ʻAbd Allāh Mu
ammad bin A mad al-Anṣārī al-Malikī al-Qurṭubi, Tafsir al-Qurṭubi, Penerjemah: Ahmad Rijali Kadir (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), h. 438-439
4
Abū Bakr bin Ja‟far bin Sahal bin Syākir al-Sāmirī al-Kharā‟iṭī, Makārim al-Akhlāq
“Telah menceritakan kepada kami Abū Mūsā ʻImrān bin Mūsā al
-Muaddib, telah menceritakan kepada kami Dāwud bin Rasyīd, telah
menceritakan kepada kami Suwaīd bin ʻAbd al-ʻAzīz, dari ʻU mān bin
ʻAṭā‟, dari ayahnya, dari Syuʻaīb, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwasanya
Rasulullah Saw bersabda: “Apakah engkau mengetahui apa hak bertetangga? ‟apabila ia meminta tolong kepadamu maka engkau menolongnya, jika ia meminta pinjam uang maka engkau meminjamkannya, jika ia membutuhkan sesuatu maka engkau memberikannya, jika ia sakit maka engkau menjenguknya, jika ia meninggal maka engkau mengiringi jenazahnya, jika ia mendapatkan kebaikan, maka engkau mengucapkan selamat kepadanya, jika ia ditimpa musibah maka engkau menghiburnya, jangan engkau meninggikan bangunan rumahmu sehingga menghalangi udara yang masuk ke dalam rumahnya kecuali dengan izinnya. Jika engkau membeli buah-buahan maka hendaklah engkau berikan sebagian kepada mereka, jika tidak maka bawalah buah itu ke dalam rumahmu secara diam-diam dan jangan biarkan anakmu keluar rumah dengan membawa buah tersebut, sebab hal itu akan membuat anak mereka marah, dan janganlah engkau menyakitinya dengan bau sedap atau asap masakan yang berada dalam periukmu kecuali engkau mengambil sebagiannya dan memberikan kepadanya: Apakah engkau mengerti apa hak seorang tetangga? Demi jiwaku yang ada dalam genggaman-Nya, tidak akan disampaikan hak-hak tetangga kecuali orang-orang yang dirahmati Allah Swt, maka akan terus menerus mewasiatkan kepada mereka tentang hak tetangga sehingga mereka mengira bahwasanya ia akan mewarisinya. Kemudian beliau bersabda: Hak tetangga ada tiga, sebagian mereka memiliki tiga hak, sebagian mereka juga memiliki dua hak, dan sebagian mereka lagi memiliki satu hak. Adapun tetangga yang memiliki tiga hak yaitu tetangga Muslim yang dekat, ia memiliki hak Islam, hak bertetangga, dan hak kekerabatan. Kemudian tetangga yang memiliki dua hak yaitu tetangga yang Muslim, ia memiliki hak bertetangga dan hak Islam. Tetangga yang memiliki satu hak yaitu tetangga yang non-Muslim, ia hanya memiliki hak bertetangga saja. Kemudian mereka bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kami boleh memberi mereka (tetangga non-Muslim) makanan dari daging qurban? Beliau bersabda: “Tidak boleh memberi orang-orang Musyrik daripada daging qurban orang-orang Muslim”.
Kemudian dalam kitab al-Targīb wa al-Tarhīb min al- adī al-Syarīf karya
„Abd al-„Aẓīm al-Qawīy al-Mundżirī, yakni sebagai berikut:
ََتَ س
ََتَِط
َ يَُل
َََعََل
َ يَِهَ
َِبَ لا
َُ بَ ََي
َِنا
َََ فََت
َ ح
َُج
ََب
َََعَ
َُهَ
َِرلاَ ي
َُحَ
َِإ
َ ل
َِبََِإ
َ ذَِن
َِهَ
ََوََل
َُ تََ
ؤَِذ
َِهَ
َِبَِق
ََتَِرا
ََِرَ ي
َِح
ََِق
َ دَِر
ََك
ََِإ
َ ل
ََأَ
َ نَ
ََ تَ غَ
ِر
ََف
َ
ََلَُهَ
َِمَ
ََه
ََوَا
َِإَِن
َ
َ شا
ََ تََرَ ي
ََت
َََف
َِكا
ََهًَة
َََفا
َ َِد
َََلَُه
َََفَِإ
َ نَ
َ َلَ
ََ تَ ف
ََعَ ل
َََفََأ
َ د
َِخ
َ لََه
َِسَا
َ ر
ََوَا
ََل
َ َََ
َُرَُج
ََ
َِب
ََوَا
ََلَُد
ََك
ََِلََي
َِغَ ي
ََظ
ََ
َِب
َا
ََوََلَُد
َُه.
5“Diriwayatkan dari ʻAmr bin Syuʻaīb dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi Saw, beliau bersabda: “Barang siapa yang menutup pintu untuk
tetangganya karena khawatir atas keluarganya dan hartanya maka ia bukan termasuk orang yang beriman, dan bukan termasuk orang yang beriman orang yang tidak memberikan rasa aman kepada tetangganya dengan kehadirannya. Apakah engkau mengetahui apa hak seorang tetangga?
‟apabila ia meminta tolong kepadamu maka engkau menolongnya, jika ia
meminta pinjam uang maka engkau meminjamkannya, jika ia membutuhkan sesuatu maka engkau memberikannya, jika ia sakit maka engkau menjenguknya, jika ia mendapatkan kebaikan, maka engkau mengucapkan selamat kepadanya, jika ia ditimpa musibah maka engkau menghiburnya, jika ia meninggal maka engkau mengiringi jenazahnya, jangan engkau meninggikan bangunan rumahmu sehingga menghalangi udara yang masuk ke dalam rumahnya kecuali dengan izinnya, janganlah engkau menyakitinya dengan bau sedap atau asap masakan yang berada dalam periukmu kecuali engkau mengambil dan memberikan sebagian kepadanya, jika engkau membeli buah-buahan maka hendaklah engkau memberikan sebagian kepada mereka, jika tidak maka bawalah buah itu ke dalam rumahmu secara diam-diam dan jangan biarkan anakmu keluar rumah dengan membawa buah tersebut, sebab hal itu akan membuat anaknya marah”.
Terakhir terdapat dalam kitab Musnad al-Syāmiyyīn al- abarānī karya
al-abrānī, yakni sebagai berikut:
ََح
َ دََ ث
ََ
ََُمَا
َ م
ٌَدَ
َ بَِن
َ
َِسلا
َِر
َ بَي
َِنَ
ََسََه
ٍَلَ
ََقلاَ
ََطَِ
ر
ََ بلاَي
َ غََد
َِدا
ََ ثَ،َي
ََ
ََدَا
َُوا
َ بَد
َِنَ
ََرَِش
َ يٍَد
َ
ََ ثَ،
ََ
َُسَا
ََوَ يٌَد
ََ ب
َِنَ
ََعَ ب
َِدَ
َ لاََعَ
ِزَ يَِز
َ
ََ ثَ،
ََ
َُعَا
َ ثََم
ٌَنا
ََ ب
َِن
َََع
ََط
ٍَءا
َ
ََعَ،
َ نَ
ََأَِبَ ي
َِهَ
ََعَ،
َ نَ
ََعَ م
ٍَر
َ بَو
َِن
َ
َُشََع
َ ي
ٍَب
َ
ََعَ،
َ نَ
ََأَِبَ ي
َِهَ
ََعَ،
َ نَ
ََج
َِدَِه
َ
ََأَ،
َ نَ
ََرَُس
َ وََل
َ
َها
ََصَ ل
َُهاَى
َََعََل
َ يَِهَ
ََوَ
ََسَ ل
ََمَ
ََق
ََلا
َ
َ«َ:
ََمَ ن
َََأ
َ غََل
ََقَ
ََبََبا
َُهَ
َُدَ و
ََنَ
ََج
َِراَِه
َ
َََم
ََفاًَة
َََعََل
ََأَى
َ َِلَِه
َََوََم
َِلاَِه
َ
ََ فََلَ ي
ََس
َََذَ
ِل
ََك
ََُِب
َ ؤَِم
ٍَن
َ
ََوَ،
ََلَ ي
ََس
ََُِب
َ ؤَِم
ٍَن
َََم
َ نَ
َ َلَ
ََيَ أََم
َ نَ
ََج
ََراَُه
ََِبََو
َِئاَِق
َِهَ
ََأَ،
ََتَ د
َُرَ و
ََنَ
ََم
ََحَا
َ ق
َ
ََ لا
َِرا
َ
َ؟
َِنإ
َ
ََت َعَأََكَناَعَ ت سا
َُه
َ،
ََوَِإ
َِنَ
َُهَت ضَر قَأََكَضَر قَ ت سا
َ فاَنإوَ،
ََ تََق
َ رَ
َُعَ د
ََت
َََعََل
َ يَِهَ
ََوَ،
َِإَ ن
َََمَِر
ََض
ََُع
َ دََت
َُهَ
َنإوَ،
ََم
ََتا
َ
ََش
َِه
َ د
ََت
َ
ََجََ
ََزاََت
َُهَ
ََأَنإوَ،
ََص
ََباَُه
َ
ٌَيخ
َََََ
َ أََتَُه
َ
ََأَنإوَ،
ََص
ََ باَ ت
َُهََُم
َِص
َ يََبٌَة
َََعَ
زَ يََت
َُهَ
ََلوَ،
َََت
َ سََت
َِطَ ي
َُلَ
ََعََلَ ي
َِهَ
َِبَ لا
َِبََ
َِءا
َ
ََ فَ،
ََتَ ح
َُج
ََب
َََعَ
َُهَ
َِرلاَ ي
َُحَ
َ لإ
ََِبَِإ
َ ذَِن
َِهَ
ََوَ،
ََذإ
ََشَا
ََرَ ي
ََت
َََف
َِكا
ََهًَة
َََف
َ ا
َِدَ
ََلَُهَ
ََفَ،
َِإَ ن
ََ
َل
َََ تَ ف
ََعَ ل
َََفََأ
َ د
َِخ
َ لََه
َا
َِسَ
ر
ََوَ،َا
ََل
َ َََ
َُرَُج
ََ
َِب
ََوَا
ََلَُد
ََكَ
َِلََيَِغ
َ يََظ
ََ
َِب
ََوَا
ََلَُد
َُهَ
ََوَ،
ََل
َُ تََ
ؤَِذ
َِهَ
َِقِب
اَه ِمَُهَلََفِر غَ تَ نَأَ لِإََكِر دِقَِراَت
َ
َ»
ََفََم
َا
ََز
ََلا
ََُ يَ و
َِص
َ يَِه
َ مَ
َِب
ََ لا
َِرا
َ
ََح
َ ّ
ََََ
ََ َ
ََأَا
َ نَُهَ
ََسَُ ي
َ وَِرَُث
َُهَ
َ ُثَ،
َََق
ََلا
َََر
َُسَ و
َُل
َ
َها
ََصَ ل
َُهاَى
َََعََل
َ يَِهَ
ََوَ
ََسَ ل
ََمَ
َ«َ:
5„Abd al-„Aẓīm al-Qawīy al-Mundżirī, al-Targīb wa al-Tarhīb min al- adī al-Syarīf
ََاَِ ل
َ يََر
َُنا
َََث
ََلَ
َثٌَةَ
ََفَ،
َِمَ
َُهَ م
َََم
َ نَ
ََلَُهَ
ََث
ََلَ
َثَُةَ
َُحَُق
َ وٍَق
َ
ََوَ،
َِمَ
َُهَ م
َََم
َ نَ
ََلَُهَ
ََحَ ق
َِنا
َ
ََوَ،
َِمَ
َُهَ م
َََم
َ نَ
ََلَُهَ
ََح
َ قَ
ََو
َِحا
ٌَدَ
ََفَ،
ََأَ م
َ لاَا
َِذ
َ ي
َََلَُه
َََث
ََلَ
َثَُة
َ
َُحَُق
َ وٍَق
َََف
ََ لا
َُرا
ََ لا
َُم
َ سَِل
َُمَ
َ لاََق
َِرَ ي
َُب
َ
ََلَ،
َُهَ
ََح
َ ق
َ
َِ ْا
َ س
ََل
َِمَ
ََوََح
َ ق
َ
َِ لا
ََوَِرا
َََو
ََح
َ قَ
َ لاََق
ََرََباَِة
َ
ََوَ،
ََأَ م
َ لاَا
َِذ
ََلَي
َُهَ
ََحَ ق
َِنا
َََف
ََ لا
َُراَ
َ لاَُم
َ سَِل
َُمَ
ََلَ،
َُهَ
ََح
َ قَ
َِ لا
ََوَِرا
َََو
ََح
َ قَ
َِ ْا
َ س
ََل
َِمَ
ََوَ،
ََأَ م
َ لاَا
َِذ
ََلَي
َُهَ
ََح
َ قَ
ََو
َِحا
ٌَدَ
ََف
ََ لا
َُراَ
َ لا
ََك
َِفا
َُرَ
ََلَ،
َُهَ
ََح
َ قَ
َِ لا
ََوَِرا
َ
َ»
ََقَُلا
َ و
ََيَ:َا
ََرَا
َُسَ و
ََلَ
ََأَها
َُ نَ ع
َِطَ ي
َِه
َ مَ
َِم
َ نَ
َُُلَ و
ٍَمَ
َ لا
َُس
َِك
َ
َ؟
ََ فََق
ََلا
َ
َ«َ:
ََل
َُ تََ ع
َِط
ََ لا
َُم
َ شَ
ِرَِك
ََ ي
ََِم
َ نَ
َُنَُس
َِك
ََ لا
َُم
َ سَِل
َِم
ََ ي
َ»
.
6“Telah menceritakan kepada kami Mu ammad bin al-Sirrī bin Sahal
al-Qanṭirī al-Bagdadī, telah menceritakan kepada kami Dāwud bin Rasyīd,
telah menceritakan kepada kami Suwaīd bin ʻAbd al-ʻAzīz, dari ʻU mān bin
ʻAṭā‟, dari ayahnya, dari Syuʻaīb, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwasanya
Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang menutup pintu untuk tetangganya karena khawatir atas keluarganya dan hartanya maka ia bukanlah seseorang yang beriman, dan bukan orang yang beriman barang siapa yang tidak memberikan rasa aman kepada tetangganya dengan kehadirannya. Apakah engkau mengetahui apa hak seorang tetangga?
‟apabila ia meminta tolong kepadamu maka tolonglah, jika ia meminta
pinjam uang maka hendaknya engkau pinjamkan, jika ia membutuhkan sesuatu maka berikanlah, jika ia sakit maka jenguklah, jika ia meninggal maka antarkanlah jenazahnya, jika ia mendapatkan kebaikan yang membuatmu gembira, maka ucapkan selamat kepadanya, jika ia ditimpa musibah yang membuatmu bersedih maka beri semangat kepadanya, jangan engkau meninggikan bangunan rumahmu sehingga menghalangi udara yang masuk ke dalam rumahnya kecuali dengan izinnya. Jika engkau membeli buah-buahan maka hadiahkan sebagian kepada mereka, jika tidak maka bawalah buah itu ke dalam rumahmu secara diam-diam dan jangan biarkan anakmu membawa buah yang kau beli keluar rumah, sebab hal itu akan membuat anak mereka marah, dan janganlah engkau menyakitinya dengan bau sedap atau asap masakan yan