• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi hadis hak dan kewajiban bertetangga di Desa Tenajar Lor - Indramayu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Implementasi hadis hak dan kewajiban bertetangga di Desa Tenajar Lor - Indramayu"

Copied!
167
0
0

Teks penuh

(1)

INDRAMAYU

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I)

Oleh

Nurkholis Sofwan

NIM: 1110034000118

PROGRAM STUDI TAFSIR HADIS

FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

i

Implementasi Hadis Hak dan Kewajiban Bertetangga di Desa Tenajar Lor - Indramayu

Kata Kunci :Hadis,Hak dan Kewajiban Bertetangga,Desa Tenajar Lor

Salah satu hal yang menjadi perdebatan penting di kalangan umat Muslim adalah tentang religiusitas yang harus ditunjukkan dan dianut oleh seseorang agar ia menjadi seorang Muslim yang sejati. Ada yang menyatakan bahwa dengan beriman dan tunduk kepada Allah, maka manusia akan berkasih sayang kepada manusia lainnya, dan akan menjadi saudara antara sesamanya. Adapula yang menyatakan bahwa kesalehan agama yang terdapat dalam suatu individu tidak selalu sejalan dengan kesalehan sosial yang ada. Sehingga ia harus memiliki bukti kesalehan keagamaan pada tingkat prilaku, etika dan pengetahuannya.

Seiring dengan perkembangan zaman, kesalehan agama di kalangan masyarakat Muslim saat ini telah mengalami kemunduran. Hal tersebut membuat tata cara kehidupan sosial di tengah-tengah masyarakat terjadi kekrisisan. Sehingga banyaknya ulama dan aktifitas keagamaan seperti pengajian-pengajian ternyata belum menjamin kehidupan sosial yang harmonis, terlebih khusus terhadap tetangga. Kekrisisan ini tidak hanya terjadi di perkotaan, melainkan juga terjadi di pedesaan, seperti halnya di Desa Tenajar Lor. Dengan keadaan desa yang demikian, maka hal ini sangat penting untuk diteliti lebih dalam.

Metode dalam penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yang diproses dengan menelaah seluruh data yang didapat dari sumber pengumpulan data, melalui pendekatan kepustakaan (library research) dengan mengutip hadis dari kitab al-Tawbīkh wa al-Tanbīh, dan melakukan observasi dan wawancara di lapangan (field research) yang kemudian disajikan secara deskriptif analitis. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa masih banyak permasalahan sosial yang terjadi di Desa Tenajar Lor. Salah satunya adalah minimnya kesadaran masyarakat dalam memenuhi kewajiban membayar hutang, kesenjangan dalam tolong menolong antar tetangga, baik antara yang kaya dan miskin, maupun antara ulama dengan masyarakat.

(6)

ii

Segala puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah

memberikan hidayah, rahmat dan ilmu-Nya kepada kita, serta berkat-Nya lah

penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Salawat dan salam semoga

senantiasa terlimpahcurahkan kepada Nabi Muhammad Saw, yang telah membina

umat manusia menuju jalan yang diridhai oleh Allah Swt, dan semoga kita

menjadi salah satu umat yang mendapatkan syafaatnya di akhirat kelak. Amiin

Dalam menyelesaikan skripsi yang berjudul IMPLEMENTASI HADIS

HAK DAN KEWAJIBAN BERTETANGGA DI DESA TENAJAR LOR -

INDRAMAYU ini tentunya banyak melibatkan berbagai pihak, maka dari itu

saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Dr. Komarudin Hidayat, MA. selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta yang telah memberikan kesempatan beasiswa kepada saya selama

menempuh studi di kampus ini.

2. Prof. Dr. Masri Mansoer, M.A, selaku Dekan Fakultas Ushuluddin, beserta

Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok, M.Si, dan Dr. M.Suryadinata, M.Ag., selaku

Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA., selaku Ketua Program Studi Tafsir Hadis

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Jauhar Azizy, MA., selaku Sekretaris

Program Studi Tafsir Hadis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Rifqi Muhammad Fatkhi, MA., selaku dosen pembimbing skripsi yang telah

senantiasa membimbing dan mengarahkan saya dalam menyelesaikan tugas

(7)

iii

Hidayatullah Jakarta, khususnya program studi Tafsir Hadis yang tidak

dapat saya sebutkan satu persatu, atas ilmu dan motivasi yang telah

diberikan selama saya menempuh studi di kampus kebanggaan ini.

6. Segenap pimpinan dan Staff Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta dan Perpustakaan Fakultas Ushuluddin yang telah membantu dalam

memberikan referensi pada penyelesaian skripsi ini.

7. Kedua orang tua saya (Sofwan dan Umi Kulsum), atas didikan, bimbingan,

motivasi, dukungan, semangat dan do’a restunya kepada saya selama ini.

Semoga Allah Swt senantiasa memberikan rahmat, kesehatan dan

keselamatan kepada keduanya di dunia dan akhirat. Amiin. Tidak lupa pula

kepada saudara-saudara saya dan teman hati saya (Khaerunnisa) atas

bantuan, dukungan, do’a dan semangatnya, serta kepada paman saya

(Saefudin Zuhri), yang telah membantu memberikan pengarahan dan

bimbingan kepada saya saat penelitian, dan sekaligus menjadi jembatan

sehingga saya dapat kuliah di kampus ini.

8. Masyarakat Desa Tenajar Lor, baik pemerintah desa, tokoh ulama, maupun

masyarakat desa, khususnya para informan yang telah membatu

memberikan data dan informasinya kepada saya selama penelitian.

9. Sugawan-sugawati Keluarga Mahasiswa Sunan Gunung Djati (KMSGD)

JABODETABEK, baik alumni, pengurus maupun anggota yang tidak dapat

saya sebutkan satu persatu, atas segala bantuan, do’a dan dukungannya

(8)

iv

JAKARTA, baik senior, pengurus maupun anggota yang tidak dapat saya

sebutkan satu persatu, atas segala do’a dan dukungannya kepada saya.

11.Kawan-kawan Tafsir Hadis angkatan 2010, kawan-kawan KKN MENARA

kawan-kawan PERMADA JABODETABEK, dan sahabat-sahabati PMII

KOMFUSPERTUM atas perjuangan dan semangatnya selama di kampus

tercinta ini.

Saya memohon ampun serta mengaharapkan ridha Allah Swt. Semoga

pihak-pihak yang telah membatu dalam penyelesaian skripsi ini dinilai sebagai

amal ibadah yang terus mengalir sepanjang hayat. Akhir kata, semoga tulisan ini

bermanfaat bagi para pembaca sekalian, dan manjadi bahan evaluasi bagi saya

pada penelitian selanjutnya. Selamat membaca!

Ciputat, 17 Juni 2014

(9)

v

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

PEDOMAN TRANSLITERASI ... viii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8

D. Tinjauan Pustaka ... 8

E. Metodologi Penelitian ... 10

F. Sistematika Penulisan ... 14

BAB II HAK DAN KEWAJIBAN TETANGGA DALAM HADIS A. Hadis Hak dan Kewajiban Bertetangga ... 17

B. Definisi Hak dan Kewajiban Bertetangga ... 28

C. Ruang Lingkup Tetangga ... 30

D. Klasifikasi Tetangga ... 32

BAB III KESENJANGAN ANTARA RELIGIUSITAS DENGAN REALITAS SOSIAL MASYARAKAT DESA TENAJAR LOR A. Kesenjangan antara Ilmu Pengetahuan dengan Kesalehan Sosial ... 34

B. Keragaman Sarana Keagamaan di Desa Tenajar Lor ... 37

C. Makna Bertetangga menurut Masyarakat Desa Tenajar Lor .... 40

D. Perselisihan Antar Tetangga di Desa Tenajar Lor ... 44

(10)

vi

A. Krisis Kesadaran dalamMemenuhi Kewajiban Membayar

Hutang kepada Tetangga ... 49

B. Kesenjangan dalam Tolong Menolong terhadap Tetangga ... 53

C. Kebersamaan dalamMenjenguk Tetangga yang Sakit ... 58

D. Kepedulian terhadap Tetangga yang MeningalDunia ... 60

E. Bersyukur Atas Kegembiraan Tetangga ... 62

F. MomentumMembagikan Masakan dan Buah-buah kepada Tetangga ... 63

G. Izin Meninggikan Bangunan Rumah kepada Tetangga ... 65

H. Membagikan Buah-buahan kepada Anak Tetangga ... 65

I. Faktor Pendukung dan Penghambat Masyarakat DesaTenajar Lor dalam Mengimplementasikan Hadis Hak dan Kewajiban Bertetangga ... 67

1. Faktor Pendukung a. Adanya Rutinitas Pengajian yang Tersebar di Seluruh Penjuru Desa ... 68

b. Keragaman Sarana Keagamaan di Desa Tenajar Lor ... 68

c. Banyaknya Ulama di Desa Tenajar Lor... 68

2. Faktor penghambat a. Minimnya Kesadaran Masyarakat terhadap Hakdan Kewajiban ... 69

b. Pandangan yang Materialistis ... 69

c. Minimnya Silaturahmi ... 70

(11)

vii

B. Saran ... 72

DAFTAR PUSTAKA ... 76

LAMPIRAN-LAMPIRAN

1. Hasil Wawancara Penduduk dan Ulama

2. Hasil Observasi Pengajian di Desa Tenajar Lor

3. Dokumentasi Penelitian (Foto)

4. Data Profil Desa Tenajar Lor

5. Surat Bimbingan dan Laporan Bimbingan Skripsi

6. Surat Laporan Penelitian dari Pemerintah Desa Tenajar Lor

(12)

viii

bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor: 158

Tahun 1987 – Nomor: 0543b/u/1987.

A. Padanan Aksara

No. Huruf Arab Huruf Latin Keterangan

1

ا

tidak dilambangkan

2

ب

b be

3

ت

t te

4

ث

es dengan titik di atas

5

ج

j je

6

ح

ha dengan titik di bawah

7

خ

kh ka dengan ha

8

د

d de

9

ذ

ż zet dengan titik di atas

10

ر

r er

11

ز

z zet

12

س

s es

13

ش

sy es dengan ye

14

ص

ṣ es dengan titik di bawah

15

ض

ḍ de dengan titik di bawah

16

ط

ṭ te dengan titik di bawah

17

ظ

ẓ zet dengan titik di bawah

18

ع

„ koma terbalik di atas hadap

kanan

19

غ

g ge
(13)

ix

22

ك

k ka

23

ل

l el

24

م

m em

25

ن

n en

26

و

w we

27

ق

h ha

28

ء

‟ apostrof

29

y ye

B. Vokal

Vokal dalam bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri dari vokal

tunggal (monoftong) dan vokal rangkap (diftong). Adapun ketentuan vokal

panjang (madd), yang dalam bahasa Arab dilambangkan dengan harakat dan

huruf.

1. Vokal Tunggal (Monoftong)

No. Vokal Arab Vokal Latin Keterangan

1

_

_

_َ_

_

_

a fatḥah

2

___ِ___

i kasrah

3

___ُ___

u ḍammah

2. Vokal Rangkap (Diftong)

No. Vokal Arab Vokal Latin Keterangan

1

َ_

َ_

ai a dengan i

2

و

َ_

َ_

au a dengan u

3. Vokal Panjang (Madd)

No. Vokal Arab Vokal Latin Keterangan

1

ََ اَ

ā a dengan garis di atas
(14)

x

C. Kata Sandang

Kata sandang yang dalam aksara Arab dilambangkan dengan

لا

ditransliterasikan menjadi -al- baik diikuti oleh huruf syamsiyyah, maupun huruf

qamariyyah. Misalnya

ليفلا

(al-fīl) dan

سمشلا

(al-syams bukan asy-syams),

al-rijāl bukan ar-rijāl, al-ḍiwān bukan aḍ-ḍiwān.

D. Syaddah (Tasydīd)

Syaddah atau tasydīd yang dalam sistem tulisan Arab yang dilambangkan

dengan sebuah tanda ( _ّ__ ), dalam transliterasi ini dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi tanda syaddah itu. Akan tetapi, hal

ini tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kata

sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyyah. Misalnya, kata

ةَر وُر ضلا

tidak

ditulis aḍ-ḍarūrah, melainkan al-ḍarūrah, demikian seterusnya.

E. Ta Marbūṭah

Berkaitan dengan transliterasi ini, jika huruf ta marbūṭah terdapat pada kata

yang berdiri sendiri, maka huruf tersebut ditransliterasikan menjadi huruf - h -

(lihat contoh no.1 di bawah). Hal yang sama juga berlaku jika ta marbūṭah

tersebut diikuti oleh kata sifat (naʻt) (lihat contoh no.2). Namun, jika huruf ta marbūṭah tersebut diikuti kata benda (ism), maka huruf tersebut ditransliterasikan menjadi huruf - t – (lihat contoh no.3).

Contoh:

No. Kata Arab Transliterasi

1

َ

ةقيرط

ṭarīqah

2

ةّيملسْاَةعمالا

al-jāmiʻah al-Islāmiyyah
(15)

xi

Meskipun dalam sistem tulisan Arab huruf kapital dikenal, dalam

transliterasi ini huruf kapital ini juga digunakan, dengan mengikuti ketentuan yang

berlaku dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) bahasa Indonesia, antara lain

untuk menuliskan permulaan kalimat, huruf awal nama tempat, nama bulan, nama

diri dan lain-lain. Penting diperhatikan, jika nama diri didahului oleh kata

sandang, maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri

tersebut, bukan huruf awal atau kata sandangnya. Contoh: Abū amid al-Gazālī,

bukan Abū amid Al-Gazālī, al-Kindi bukan Al-Kindi).

Namun berdasarkan buku panduan Akademik UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta Tahun 2010/2011 bahwa untuk nama-nama tokoh yang berasal dari dunia

Nusantara sendiri tidak ditransliterasikan, meskipun akar katanya berasal dari

bahasa Arab. Contoh: Abdussamad al-Palimabani, tidak ʻAbd al- amad al

(16)

1 A. Latar Belakang Masalah

Sokrates menyatakan bahwa orang yang berpengetahuan akan dengan

sendirinya berbudi baik. Menurutnya, barang siapa yang mengetahui hukum,

mestilah bertindak sesuai dengan pengetahuannya itu. Tidak mungkin ada

pertentangan antara keyakinan dan perbuatan.1 Senada dengan pendapat tersebut,

Zuardin Azzaino juga menyatakan bahwa dengan beriman dan tunduk kepada

Allah, maka manusia akan berkasih sayang kepada manusia lainnya, dan akan

menjadi saudara antara sesamanya,2 atau dengan kata lain, manusia-manusia yang

hidup berdasarkan agama Islam akan menempatkan orang-orang Mukmin sebagai

saudara antara sesamanya. Karena menurut Azzaino, manusia sebagai anggota

masyarakat Muslim tersebut tidak tunduk kepada apapun kecuali kepada Allah

dan hukum-hukum-Nya.3 Hal ini sejalan dengan salah satu contoh dalam

al-Qur‟an yang dinyatakan bahwa salat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Sebagaimana dalam Q.S. Al-„Ankabūt [29]: 45 berikut:

  َ   َ   َ   َ   َ   َ  َ   َ   َ   َ  َ   َ   َ  َ   َ  َََ

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji

dan mungkar. dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain), dan Allah mengetahui apa

yang kamu kerjakan”.

1

Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani (Jakarta: UI Press, 1986), h.83. 2

HS. Zuardin Azzaino, Asas-Asas Sosiologi Ilahiah (Jakarta: Pustaka al-Hidayah, 1990), h. 115.

3

(17)

Dalam konteks ayat di atas, salat merupakan sarana ibadah yang dapat

mencegah dari perbuatan-perbuatan yang dapat mengotori kesucian dan

kehormatan diri, seperti perbuatan yang melanggar hak orang lain dengan cara

menindas, merampas hak orang lain, korupsi, dan lain sebagainya.4 Sehingga

dalam hal ini terdapat pemahaman bahwa kesalehan individu dengan selalu

beribadah seperti dalam hal salat dapat berbanding lurus dengan kesalehan sosial.

Berbeda dengan pendapat tersebut di atas, Azyumardi Azra menyatakan

bahwa tidak ada garis linear yang langsung menghubungkan antara doktrin Islam

dengan seluruh perilaku Muslim, dan tidak juga tepat mereduksi praktik sosial

Muslim semata-mata dalam kotak-kotak politik, ekonomi, pendidikan maupun

budaya. Hal ini karena masing-masing variabel tersebut memiliki dinamika

tersendiri, yang jika bersentuhan dengan variabel lain akan memproduksi

pola-pola tertentu.5 Sehingga dapat dikatakan bahwa kesalehan agama yang terdapat

dalam suatu individu tidak selalu sejalan dengan kesalehan sosial yang ada.

Hal tersebut menjadi perdebatan yang sangat penting di kalangan orang

Islam mengenai sifat dan isi komitmen keagamaan (religiusitas) yang harus

ditunjukkan dan dianut oleh seorang Muslim agar ia menjadi seorang Muslim

yang sejati. Salah satu klaim penting dalam perdebatan tersebut adalah, agar

menjadi Muslim yang sejati, seseorang harus memiliki bukti kesalehan

keagamaan pada tingkat prilaku, etika dan pengetahuan. Riaz Hassan juga

berpendapat bahwa, menjadi seorang yang „beragama‟ tidak hanya berhubungan

4

Haidar Bagir, Buat Apa Shalat?! Kecuali Anda Hendak Mendapatkan Kebahagiaan dan Ketenangan Hidup (Bandung: PT.Mizan Pustaka, 2008), h. 46.

5

(18)

dengan masalah-masalah „ubudiyah saja, melainkan juga masalah etika dan

prilaku yang meliputi seluruh bidang kehidupan.6

Sedangkan realitas masyarakat Muslim saat ini telah berubah dan terkesan

cenderung kepada pendapat yang kedua tadi, bahwa kesalehan agama yang

terdapat dalam suatu individu tidak selalu sejalan dengan kesalehan sosial yang

ada. Realitas seperti ini dilatarbelakangi oleh banyak hal, salah satu di antaranya

adalah adanya perbedaan pada tingkat pendidikan atau ekonomi yang dimiliki

masyarakat Muslim, atau karena tingkat kesibukan mereka yang berbeda-beda,

sehingga kehidupan sosial masyarakat Muslim khususnya dengan para tetangga

menjadi kurang harmonis dan bahkan banyak yang melalaikan hak dan kewajiban

para tetangganya. Terlebih lagi di daerah perkotaan yang penduduknya terkenal

individualistis, dan bahkan antar tetangga pun sampai tidak saling mengenal

tetangganya satu sama lain.7

Melihat hal tersebut, Mahathir Muhammad,8 menyatakan bahwa dunia

Islam saat ini berada dalam kondisi sosial yang gawat, malapetaka politik dan

ekonomi, dan banyak kaum Muslim yang mengadopsi perasaan aman yang palsu

dengan berlindung dengan jubah kesalehan tradisional. Ia menganggap bahwa

kemunduran umat Islam tersebut telah dipercepat oleh ketidakmampuan kaum

Muslim dan pemimpin-pemimpin mereka untuk memahami Islam dalam konteks

dunia kontemporer, dengan kondisi hidup yang telah berubah.9

6

Riaz Hassan, Keragaman Iman: Studi Komparatif Masyarakat Muslim, h. 43-45.

7

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur‟an (Jakarta: Lentera Hati, 2002), Jilid 2, h. 440.

8

Mahathir Muhammad adalah mantan Perdana Menteri Malaysia yang juga merupakan pengkritik vokal terhadap kondisi sosial dan ekonomi umat Islam.

9

(19)

Dalam hal ini, Fazlur Rahman juga telah membuat analisis yang paling

sistematis tentang tradisi intelektual Islam dan krisis yang kini menimpa dunia

Islam. Ia berpendapat bahwa salah satu tema al-Qur‟an, baik masa lalu maupun

masa sekarang, adalah untuk membangun tatanan masyarakat di muka bumi ini

dengan adil dan berdasar pada etika. Sehingga ia menilai kesarjanaan Islam yang

dibentuk para ulama hanya menekankan „Islam Minimalis‟, dengan fokus „Lima

Tiang Agama‟ dan Islam yang negatif serta penuh hukuman. Sehingga dalam hal

ini ia melihat kondisi dunia Islam sekarang merupakan sebuah bukti dari

kemunduran kesalehan agama yang berdasar pada tradisi di kalangan masyarakat

Muslim.10

Kemunduran kesalehan agama ini telah meluas di kalangan masyarakat

Muslim. Tidak hanya terjadi pada masyarakat Muslim perkotaan, melainkan juga

terjadi pada masyarakat Muslim pedesaan. Karena boleh jadi terdapat

faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perselisihan-perselisihan di tengah-tengah

masyarakat Muslim akibat dari pengaruh globalisasi dan perilaku normatif

sebagaimana pendapat Fazlur Rahman di atas. Maka dari itu, dalam skripsi ini

saya akan mencoba untuk meneliti kehidupan sosial masyarakat Muslim

pedesaan, khususnya dalam hal menunaikan hak dan kewajiban para tetangga

berdasarkan hadis yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Adapun desa yang akan

diteliti tersebut adalah Desa Tenajar Lor.

Desa Tenajar Lor, Kecamatan Kertasemaya, Kabupaten Indramayu, Provinsi

Jawa Barat merupakan desa yang dapat dikatakan religius. Hal ini dikarenakan

masyarakat Desa Tenajar Lor pada umumnya sering melakukan aktifitas

10

(20)

keagamaan seperti pengajian-pengajian rutin harian dan mingguan yang tersebar

di seluruh penjuru Desa Tenajar Lor. Pengajian-pengajian yang tersebar tersebut

sangat beragam, ada pengajian yang khusus orang tua laki-laki, ada juga yang

khusus orang tua perempuan, ada pula yang khusus remaja dan anak-anak dan

bahkan ada juga pengajian campuran antara orang tua laki-laki dan perempuan

yang sering mereka sebut dengan istilah “ngaji kuping”. Pengajian-pengajian

tersebut mereka lakukan di masjid, musala, pondok pesantren dan di rumah kyai

yang memimpin acara pengajian tersebut.11

Sedangkan pokok bahasan yang mereka kaji dalam pengajian tersebut di

antaranya adalah tafsir, seperti Tafsir al-Ibrīz, Tafsir al-Jalālain, dan tafsir-tafsir

lainnya. Kemudian ada juga pembahasan mengenai akhlak, yang meliputi

hadis-hadis Rasulullah Saw, seperti dalam kitab Na ā‟iḥ al-„Ibād, Irsyād al-„Ibād,

Makārim al-Akhlāq, dan kitab-kitab akhlak lainnya. Namun berdasarkan temuan

sementara pada observasi yang saya lakukan di lapangan, permasalahan antar

tetangga di lingkungan Desa Tenajar Lor masih seringkali terjadi. Di antaranya

permasalahan mengenai hutang piutang, hingga praktik rentenir yang dapat

merugikan orang lain, sehingga hubungan sosial di antara mereka menjadi kurang

harmonis. Pada hal dari pengajian-pengajian yang mereka lakukan di setiap

minggunya tidak lepas dari pembahasan mengenai akhlak Rasulullah Saw dalam

hubungan sosial, sehingga kecil kemungkinan dari mereka yang tidak mengerti

akan ajaran-ajaran Rasulullah Saw tersebut.12

Maka fenomena tersebut menjadi ironis ketika latar belakang masyarakat

desa tersebut adalah orang-orang yang mengerti agama, dan bahkan jumlah ulama

11

Hasil observasi dan wawancara dengan warga Desa Tenajar Lor pada Januari 2014.

12

(21)

di desa tersebut relatif banyak. Namun dari temuan sementara yang saya dapatkan

di lapangan, hubungan sosial di antara mereka kurang harmonis, khususnya antar

tetangga. Sehingga penelitian ini sangat penting untuk diteliti lebih dalam terkait

tentang hubungan mereka dalam bertetangga. Oleh karena itu, maka penelitian

dalam skripsi ini saya beri judul “IMPLEMENTASI HADIS HAK DAN

KEWAJIBAN BERTETANGGA DI DESA TENAJAR LOR - INDRAMAYU”.

B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah

1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasikan

masalahnya sebagai berikut:

1. Masyarakat Desa Tenajar Lor yang selalu mengikuti pengajian di setiap

minggunya masih sering ribut dengan para tetangganya.13

2. Masyarakat Desa Tenajar Lor yang mengerti akan hak dan kewajiban

tetangga, sebagian dari mereka tidak melaksanakan ajaran Nabi Saw

tersebut.14

3. Ulama Desa Tenajar Lor dapat dikatakan banyak, namun sebagian dari

mereka apatis terhadap lingkungannya.15

2. Pembatasan Masalah

a) Pembatasan Wilayah

Pada pembatasan masalah dalam penelitian ini, saya membatasinya dengan

hanya melakukan penelitian di Desa Tenajar Lor, Kecamatan Kertasemaya,

Kabupaten Indaramayu, Provinsi Jawa Barat. Hal ini karena tingkat kesejahteraan

13

Hasil observasi di Desa Tenajar Lor, RT 01/03 pada Januari 2014.

14

Hasil observasi di Desa Tenajar Lor, RT 03/01 pada Januari 2014.

15

(22)

masyarakat di desa tersebut hampir seimbang antara masyarakat tingkat sejahtera

dan masyarakat tingkat prasejahtera, desa tersebut juga memiliki banyak ulama,

dan masyarakatnya pun selalu melakukan pengajian-pengajian agama di setiap

minggunya, namun hal tersebut menjadi sangat ironis ketika antar tetangga di

antara mereka masih sering terjadi keributan. Hasil sementara penelitian tersebut

ditemukan di RT 01/03, antara kyai dengan seorang imam masjid ribut karena

masalah jalan dan air limbah hingga mereka saling membenci satu sama lain.

Kemudian di RT 04/03 ditemukan terjadinya kesenjangan antara orang kaya dan

orang miskin, dan RT 03/01 yang ditemukan adanya kelalaian antara hak dan

kewajiban sebagai seorang tetangga dalam hal pinjam meminjam. Oleh karena itu,

masyarakat Muslim di Desa Tenajar Lor merupakan objek yang sangat penting

dan cocok untuk diteliti lebih jauh terkait hubungan mereka dalam bertetangga.

b) Pembatasan Kajian

Adapun pembatasan masalah pada teori penelitian ini, saya hanya meneliti

satu hadis. Karena hadis ini merupakan hadis yang menjelaskan hak dan

kewajiban para tetangga secara keseluruhan, berbeda dengan hadis-hadis lainnya

yang hanya menjelaskan sebagian dari hak tetangga saja. Sehingga meskipun satu

hadis, namun dapat mewakili hadis-hadis lain yang menjelaskan tentang hak dan

kewajiban para tetangga.

c) Pembatasan Waktu Penelitian

Agar penelitian ini tepat, akurat, dan relevan, serta tidak terjadi ketimpangan

antara hasil penelitian dengan fakta di lapangan, maka penelitian ini perlu dibatasi

waktu penelitiannya. Yakni penelitian ini dimulai pada Januari 2014 dan berakhir

(23)

3. Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah di atas, maka perumusan

masalahnya adalah apakah kesalehan yang dimiliki oleh individu dapat

berbanding lurus dengan kesalehan sosial?, dan bagaimana implementasi

masyarakat Desa Tenajar Lor terhadap hadis hak dan kewajiban bertetangga

dalam kehidupan sehari-hari?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui pemahaman masyarakat terhadap hak dan kewajiban dalam

bertetangga.

2. Mengetahui praktik-praktik hadis hak bertetangga yang diimplementasikan

oleh masyarakat Desa Tenajar Lor.

Sedangkan manfaat dari penelitian ini antara lain ialah sebagai berikut:

1. Membuktikan keselarasan antara pemahaman dengan pelaksanaan hak dan

kewajiban bertetangga yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

2. Membuktikan teori bahwa kesalehan individu selalu sejalan dengan

kesalehan sosial, khususnya terhadap tetangga.

3. Dalam rangka untuk memenuhi syarat memperoleh gelar Sarjana Theologi

Islam (S.Th.I) Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta.

D. Tinjauan Pustaka

Penelitian tentang hadis-hadis etika bertetangga dan implementasinya di

(24)

judul skripsinya “Penerapan Hadis Nabi Saw tentang Etika Bertetangga: Studi

Kasus di Desa Ngadipurwo, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Jawa Tengah”

pada tahun 2011. Dalam skripsinya tersebut, ia menggunakan metode deskriptif

kuantitatif. Kemudian dalam penelitiannya ia berlandaskan dengan banyak hadis

yang berkaitan dengan etika bertetangga. Kemudian hasil yang ia capai hanya

berupa gambaran umum masyarakat yang mempraktikkan hadis Nabi Saw

tersebut.

Kemudian penelitian tentang fenomoena implementasi hadis Nabi Saw

semacam ini pernah dilakukan oleh M. Alfatih Suryadilaga,16 yang menulis artikel

dengan judul “Model-model Living Hadis PP. Krapyak Yogyakarta”. Ia meneliti

tradisi-tradisi masyarakat Muslim yang diklaim sebagai hadis Nabi Saw, dimana

dalam penelitian tersebut ia menyebutnya dengan istilah living hadis. Dalam

penelitiannya tersebut, ia menggunakan metode fenomenologi. Dengan beberapa

konsep living hadis yang ditawarkannya, ia mendapatkan hasil penelitian yang

cukup signifikan dengan hadis-hadis Nabi Saw dalam praktiknya di masyarakat

PP. Krapyak Yogyakarta.

Penelitian tentang hadis-hadis etika bertetangga ini juga pernah dilakukan

pada tahun 2003 oleh Ade Hayati Nufus, dengan judul skripsinya “Konsepsi Etika

Bertetangga menurut Islam: Kajian Hadis-hadis Rasulullah dalam Kutub

al-Sittah”. Dalam skripsinya tersebut, ia lebih fokus pada teori pembahasan

berdasarkan hadis-hadis yang ada dalam kutub al-sittah saja tanpa melakukan

penelitian lapangan. Sehingga hasil yang dicapai hanya berupa sekumpulan

16

(25)

gagasan, teori atau konsep dalam bertetangga menurut perspektif hadis yang

diteliti.

Adapun perbedaan antara penelitian-penelitian tersebut dengan penelitian

sekarang, selain objeknya yang berbeda, metode yang digunakan dalam penelitian

ini pun berbeda. Penelitian ini dilakukan di Desa Tenajar Lor, Kabupaten

Indramayu, dan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif.

Penelitian ini juga hanya berfokus pada satu hadis tentang hak dan kewajiban

tetangga, yang didukung oleh hadis-hadis lainnya. Sehingga hasil yang akan

dicapai nanti berupa deskripsi analisis implementasi hadis secara detail dan

komprehensif. Itulah yang membedakan antara penelitian yang sebelumnya

dengan penelitian yang sekarang.

E. Metodologi Penelitian

1. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data pada skripsi ini dibagi menjadi dua jenis

penelitian, yakni jenis penelitian kepustakaan (library research) dan penelitian

lapangan (field research). Penelitian kepustakaan dilakukan untuk mencari

landasan doktrin sikap terhadap tetangga dari kitab-kitab hadis sebagai data

primer, yakni kitab al-Tawbīkh wa al-Tanbīh karya Abū al-Syaīkh al-Aṣbahānī

(274-369 H/ 887-979 M) dan dari buku-buku hadis lain seperti aḥīḥ al-Bukhārī,

aḥīḥ Muslim, Riyāḍ al- āliḥīn, serta buku-buku umum lainnya yang berkaitan

dengan tema penelitian sebagai data sekunder.17 Sedangkan penelitian lapangan

dilakukan dengan observasi dan wawancara di Desa Tenajar Lor, yang kemudian

dikaji secara deskriptif analitis.

17

(26)

2. Penentuan Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel

Adapun populasi jumlah penduduk yang telah berrumah tangga atau

berkeluarga di Desa Tenajar Lor adalah sebanyak 1970 keluarga.18 Karena dari

jumlah populasi yang ada, saya hanya mengambil sampel penduduk yang sudah

berkeluarga. Adapun kriteria yang diambil sebagai sampel penelitian adalah

keluarga sejahtera dan keluarga prasejahtera, sehingga hal ini disebut juga

stratified random sampling. Berdasarkan data yang ada, diketahui bahwa keluarga

sejahtera berjumlah 278 keluarga dan keluarga prasejahtera berjumlah 371

keluarga.19 Hal ini karena yang seringkali terjadi permasalahan adalah di antara

kedua tingkat kesejahteraan tersebut.

Untuk mengambil sampel yang representatif, maka saya membagi kedua

tingkat kesejahteraan penduduk di atas dengan menentukan alokasi sampel yang

berimbang. Hal ini berdasarkan teorinya Teken (1965) dalam pengambilan

besarnya sampel penelitian.20 Adapun skema rumus pengambilan sampel

berimbang ialah sebagai berikut:21

18

Dikutip dari Data Profil Desa Tenajar Lor, Kecamatan Keretasemaya, Kabupaten Indramayu, 2010, h. 18

19

Data Profil Desa Tenajar Lor, tentang perkembangan penduduk, 2010, h. 2

20

Moh. Nazir, Metode Penelitian (Darussalam: Ghalia Indonesia, 1983), h. 293-294

21

Moh. Nazir, Metode Penelitian, h. 300

N1 =278PKS N2 = 371 PKPS

N1 278

f1 = =

N 649

N2 371

f2 = =

N 649

(27)

Maka :

Keterangan:

N = Jumlah total populasi terpilih, yakni 649.

N1 = Jumlah populasi keluarga sejahtera (PKS), yakni dari 278.

N2 = Jumlah populasi keluarga prasejahtera (PKPS), yakni dari 371.

f1 danf2 = Pembagian sampel (sampel fraction).

n = Jumlah total populasi keluarga dibagi PKS dan PKPS kemudian dijumlah.

ni = Hasil jumlah sampel yang harus diambil, yakni 11.

Dari penentuan jumlah sampel di atas, maka sampel yang harus diambil

adalah sebanyak 11 orang yang meliputi masyarakat Desa Tenajar Lor beserta

para ulama desa setempat. Hal ini sebagaimana penelitian kualitatif yang hanya

memerlukan sampel yang kecil dalam memilih objek penelitiannya.22

3. Teknik Observasi dan Wawancara

a. Observasi

Proses yang pertama pada penelitian ini adalah observasi atau pengamatan.23

Observasi pada penelitian ini dilakukan selama 60 hari atau 2 bulan (terhitung dari

25 Januari - 25 Maret 2014) di Desa Tenajar Lor. Dalam observasi ini, saya

mengamati pola kehidupan bertetangga di desa tersebut khususnya masyarakat di

22

Andi Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian, h. 44

23

Observasi merupakan sebuah metode ilmiah berupa pengamatan dan pencatatan secara sistematik mengenai fenomena-fenomena yang diselidiki. Lihat: Jalaludin Rahmat, Metode Penelitian Komunikasi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), h. 83

ni = N1 + N2 = 5 + 6 = 11

N1 =f1 . n

= 278 x 12 = 5 649

N2 =f2 . n

= 371 x 12 = 6 649

(28)

RW 01, RW 02 dan RW 03. Saya berusaha untuk memilih letak wilayah yang

serepresentatif mungkin dalam melakukan observasi agar sesuai dengan luas

wilayah yang ada.

b. Wawancara

Sedangkan proses wawancara pada penelitian ini dilakukan di bulan Maret

2014. Adapun sasaran informan yang diwawancarai ialah warga Desa Tenajar Lor

di RT 01/03, RT 04/03, RT 05/03, RT 04/02, RT 06/02, RT 09/01 dan RT 03/01.

Metode yang digunakan untuk memperoleh data dari wawancara ini adalah

dengan kuesioner yang mengacu pada buku Metode-Metode Penelitian

Masyarakat. Dimana dalam hal ini susunan pertanyaan meliputi pertanyaan fakta

kongkret mengenai diri pribadi informan, kemudian mengenai sikap, pendapat,

dan perasaan si informan terhadap suatu peristiwa dan keadaan masyarakat,

kemudian pertanyaan informasi mengenai gejala dan keadaan sosial yang nyata,

dan pertanyaan yang mencoba mengukur persepsi dari si informan terhadap

dirinya dalam hubungan dengan orang lain.24 Sedangkan alat yang digunakan

dalam proses wawancara ini yakni berupa alat tulis atau pencatatan langsung dan

alat perekam suara (voice recorder).

4. Metode Analisa Data

Pada proses analisa data penelitian ini dimulai dengan menelaah seluruh

data yang didapat dari sumber pengumpulan data, yakni dari hasil observasi,

wawancara dan dokumentasi. Untuk kemudian dibaca, dipelajari, dan ditelaah

secara cermat hingga pada proses penyatuan data yang kemudian akan

24

(29)

menghasilkan interpretasi data. Proses seperti ini juga termasuk dalam hal

transliterasi bahasa, dari bahasa asli informan (bahasa Indramayu) ke dalam

bahasa Indonesia. Metode seperti ini sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam

buku Metode Etnografi karya James P. Spradley, karena buku tersebut merupakan

panduan yang khas agar penelitian kualitatif di lapangan dapat berjalan secara

sistematis, terarah dan efektif.25

5. Teknik Penulisan

Sedangkan teknik penulisan skripsi ini mengacu pada buku pedoman

penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi yang diterbitkan oleh UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta tahun 2010/2011. Sedangkan transliterasi pada Skripsi ini

menggunakan Pedoman Transliterasi Arab-Latin keputusan bersama Menteri

Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor: 158 Tahun 1987 –

Nomor: 0543b/u/1987.

F. Sistematika Penulisan

Agar penulisan skripsi ini terarah dan efisien dalam pembahasannya, maka

saya akan menguraikannya ke dalam lima bab yang memuat beberapa sub-bab di

dalamnya. Hal ini karena penelitian ini terdiri dari penelitian kepustakaan dan

penelitian lapangan, sehingga untuk memadukannya dibutuhkan analisis dari

keduanya. Adapun uraian dalam lima bab tersebut ialah sebagai berikut:

Bab pertama, dalam bab ini akan diisi dengan pendahuluan yang meliputi

latar belakang masalah, yang menjelaskan tentang pendahuluan dan kronologi

permasalahan sampai ke titik inti permasalahan, Selanjutnya diutarakan mengenai

25

(30)

identifikasi, pembatasan dan perumusan masalah, agar pembahasan yang dikaji

lebih fokus dan terarah. Selanjutnya adalah terkait tujuan dan manfaat penelitian,

dalam hal ini adalah tujuan saya untuk mencapai target yang diinginkan dalam

penelitiannya. Kemudian saya juga mencantumkan tinjauan pustaka, dimana

dalam hal ini merupakan perbandingan antara penelitian yang pernah dilakukan

sebelumnya dengan penelitian yang sekarang. Kemudian disusul dengan

metodologi penelitian, dimana dalam hal ini menjelaskan tentang metode yang

digunakan oleh saya dalam penelitian, baik penelitian kepustakaan maupun

penelitian lapangan. Terakhir adalah sistematika penulisan, dalam sistematika ini

akan saya jelaskan rangkaian bab yang berisi tentang tema-tema pokok penelitian

agar target pembahasan yang dikaji lebih efektif dan efisien.

Bab kedua, dalam bab ini akan dibahas mengenai hak dan kewajiban

tetangga dalam hadis sebagai teori penelitian kepustakaan sebelum berlangsung ke

penelitian lapangan. Dalam bab ini akan dibahas mengenai hadis hak dan

kewajiban tetangga, sub-bab ini merupakan tema utama penelitian ini, yang juga

akan disertai dengan keterangan-keterangan hadisnya. Kemudian pengertian hak

dan kewajiban tetangga, kemudian ruang lingkup tetangga, yang menjelaskan

tentang batasan-batasan tetangga dan hak beserta kewajibannya, kemudian disusul

dengan klasisfikasi tetangga, yang menjelaskan tentang pembagian tetangga

menurut al-Qur‟an dan hadis.

Bab ketiga akan dibahas tentang kesenjangan antara religiusitas dengan

realitas sosial masyarakat Desa Tenajar Lor, dimana dalam bab ini akan dijelaskan

mengenai kesenjangan antara ilmu pengetahuan dan kesalehan sosial. Hal ini

(31)

pokok penelitian ini. Adapun selanjutnya adalah pembahasan mengenai

keragaman sarana keagamaan, yang berisi penjelasan tentang sarana-sarana yang

berpotensi untuk mendalami ilmu agama oleh masyarakat desa secara umum.

Kemudian tentang pemahaman masyarakat Desa Tenajar Lor terhadap makna

bertetangga, perselisihan antar tetangga di desa tersebut, dan juga dibahas

mengenai kesejahteraan masyarakat Desa Tenajar Lor, yang berisi tentang tingkat

kesejahteraan ekonomi masyarakat dan mata pencaharian pokok yang dimilikinya.

Bab keempat merupakan penjelasan mengenai krisis hak bertetangga pada

masyarakat Desa Tenajar Lor berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang

telah saya lakukan di lapangan. Dalam hal ini berupa praktik-praktik yang

dilakukan masyarakat dalam mengimplementasikan hadis hak dan kewajiban

bertetangga dalam kehidupan sehari-hari. Setelah itu akan dibahas pula tentang

faktor pendukung dan penghambat implementasi hadis hak dan kewajiban

bertetangga pada masyarakat Desa Tenajar Lor, dan juga akan memuat

pendapat-pendapat para ulama desa setempat terhadap praktik hak dan kewajiban

bertetangga yang terjadi di masyarakat sekitarnya.

Terakhir adalah bab lima, pada bab ini merupakan penutup dari sebuah

penelitian. Dimana pembahasan dari bab penutup ini berupa kesimpulan yang

berisi jawaban atas pertanyaan yang telah disebutkan dalam perumusan masalah.

Kemudian diikuti dengan saran-saran dari saya terkait tentang penelitian tentang

(32)

17 A. Hadis Hak dan Kewajiban Bertetangga

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, bahwa skripsi ini

akan berfokus pada satu hadis yang berisi tentang hak-hak tetangga secara

keseluruhan. Meskipun hadis ini banyak ditemui dalam kitab-kitab hadis, namun

dalam hal ini saya mengambil hadis yang diriwayatkan oleh „Abd Allāh bin

Mu ammad bin Jaʻfar bin ibbān al-Aṣbahānī (274-369 H/ 887-979 M) dalam

kitabnya al-Tawbīkh wa al-Tanbīh.1 Adapun hadis tentang hak dan kewajiban

tetangga tersebut adalah sebagai berikut:

ََح

َ دََ ث

ََ

ََُمَا

َ م

ٌَدَ

َ بَِن

َََعَِل

َُ لاَي

َ ف

َِرا

ََ لا

ََ بَ غ

ََد

َِدا

ََ ثَي

ََ

ََأَا

َُب

َ َهَو

َِما

ََ ب

َِن

َ

َُش

ََج

ٍَعا

َََ ثََ

َُعَا

َ ثََم

َِنا

ََ با

َِن

َََم

ََط

ٍَرَ

ََعَ ن

َََيَِزَ ي

ٍَدَ

َ بَِن

َََبَِزَ ي

ٍَعَ

ََعَ ن

َََع

ََط

ٍَءا

َ

َُ لا

ََرََسا

َِنا

ََعَ

َ نَ

َُمََع

ٍَذا

ََ ب

َِن

َ

ََجََب

ٍَل

َََق

ََلا

ََُ قَ ل

ََ

ََيَا

ََرَا

َُسٍَو

ََلَ

ََمَها

ََحَا

َ قَ

َِ لا

ََوَِرا

َََق

ََلا

ََِإ

َِنَ

َِنإوَُهَت ضَر قَأََكَضَر قَ ت سا

َ

ََت َعَأََكَناَعَ ت سا

َِنإوَُه

َا

َ حََت

ََجا

َََأ

َ عَ

َطَ ي

ََتَُهَ

َ نإو

َ

َ نإوَُهَت دُعََضِرَم

َ

َِاَ َتاَم

ََت عَ ب ت

ََج

ََسٌَر يَخَُهَباَصَأَنإوَُهَتَزاَ

َ رََك

َ

ََوََ

َ أََتَُه

َ

ََسٌَةَبيِصُمَُه تَ باَصَأَنإو

َ لَ يََت

َُهَ

ََلَُهَت ي زَعو

ََُ تَ

ؤَِذ

َِهَ

َِقِب

َ لِإَ َكِر دِقَِراَت

َِلَِءاَِب لاِبَِه يَلَعَُليِطَت سَتَ َلَوَاَه ِمَمَََُ َفِر غَ تَ نَأ

ََتَ ش

ََر

ََف

َََعََل

َ يَِهَ

ََوََت

َُس

َ دَ

َِنِإَوَ،َِهِن ذِإِبَ لِإََحيِرلاَهيلع

َِمَُهَلَِد اَفًَةَهِكاَفََت يَرَ ت شا

َ ََه

َ لإوَا

ََفَََأ

َ د

َِخ

َ لَُهَ

َِسَ

ر

ََلَا

َ َََ

َُرَُج

َََوََل

َُد

ََكَ

َِب

ََش

َ يٍَء

ََِم

َ َُهَ

ََيَِغَ ي

َُظَ و

ََنَ

َِبَِه

َََوََل

ََدَُه

َََ

َ لَ

ََ تََف

َ قَُه

ََنو

َََم

ََأَا

َُ قَ و

َُلَ

ََلَُك

َ مَََل

َ نَ

َُ يََؤَ د

ََحَى

َ قَ

ََ لا

َِرا

ََِإ

َ ل

َََقَِل

َ يًَل

ََ ِم

َ نَ

ََرَِح

ََمَ

ها

2

.

“Telah menceritakan kepada kami Mu ammad bin „Alī al- uffār al

-Bagdādī, telah menceritakan kepada kami Abū Hammām al-Syajāʻ, telah

menceritakan kepada kami „U mān bin Maṭar, dari Yazīd bin Bazīʻ, dari

„Aṭā‟ al-Khurāsānī, dari Mu‟āż bin Jabal, ia berkata: “Kami bertanya,

“Wahai Rasulullah!, apa hak para tetangga?, beliau menjawab,‟apabila ia

meminta pinjam uang maka engkau meminjamkannya, jika ia meminta tolong kepadamu maka engkau menolongnya, jika ia membutuhkan sesuatu maka engkau memberikannya, jika ia sakit maka engkau menjenguknya, jika ia meninggal maka engkau mengiring jenazahnya, jika ia mendapatkan

1

Kualitas hadis ini berdasarkan penelitian yang saya lakukan adalah ḥasan, karena sanad

pada hadis ini terdapat Abū al-Faḍal „Umān bin Maṭar al-Syaibanī yang dinilai ḍaʻīf (lemah).

Lihat: Ibn ajar al-ʻAsqalānī, Tahżīb al-Tahżīb(Beirūt: Dār al-Fikr, 1984), Juz 5, h. 112

2 „Abd Allāh bin Mu ammad bin Jaʻfar bin

ibbān al-Aṣbahānī, al-Tawbīkh wa al

(33)

kebaikan, maka engkau mengucapkan selamat kepadanya, jika ia ditimpa musibah yang maka engkau menghibur dan berbelasungkawa kepadanya, dan janganlah engkau menyakitinya dengan bau sedap atau asap masakan yang berada dalam periukmu kecuali engkau mengambil sebagiannya dan memberikan kepadanya, jangan engkau meninggikan bangunan rumahmu agar engkau terlihat mewah dalam pandangannya dan menghalangi udara yang masuk ke dalam rumahnya kecuali dengan izinnya. Jika engkau membeli buah-buahan maka hadiahkan sebagian kepada mereka, jika tidak maka bawalah buah itu ke dalam rumahmu secara diam-diam dan jangan biarkan anakmu membawa buah yang kau beli keluar rumah, sebab hal itu akan membuat anak mereka marah, apa kamu mengerti apa yang aku katakan kepadamu? Sungguh tidak akan ditunaikan hak tetangga kecuali sedikit orang yang dirahmati Allah Swt”.3

Selain dari kitab al-Tawbīkh wa al-Tanbīh, hadis ini juga dapat ditemui

dalam kitab Makārim al-Akhlāq karya Abū Bakr bin Ja‟far bin Sahal bin Syākir

al-Sāmirī al-Kharā‟iṭī, yakni sebagai berikut:

ََح

َ دََ ث

ََ

ََأَا

َُ بَ و

ََُمَ

و

ََس

َِعَى

َ مََر

ََنا

ََ ب

َُنَ

َُمَ و

ََس

َ لاَى

َُمََؤ

َِد

َُب

َََ ثََ

ََدَا

َُواٌَد

ََ ب

َُنَ

ََرَِش

َ يٍَد

َََ ثََ

َُسَا

ََوَ يَُد

ََ ب

َُنَ

ََعَ ب

َِدَ

َ لاََعَ

ِزَ يَِز

َََع

َ نَ

َُعَ ث

ََم

َِنا

ََ ب

َِن

َََع

ََط

ٍَءا

َََع

َ نَ

ََأَِبَ ي

َِهَ

ََعَ ن

َََع

َ مٍَر

َ بَو

َِن

َ

َُشََع

َ ي

ٍَب

َََع

َ نَ

ََأَِبَ ي

َِهَ

ََعَ ن

َ

ََج

َِدَِه

َََأ

َ ن

َََر

َُسَ و

ََل

َ

َها

ََصَ ل

َُهاَى

َ

ََعََلَ ي

َِهَ

ََوَ

ََسَ ل

ََمَ

ََق

ََلا

َ

ََأَ"َ:

ََتَ د

َُرَ و

ََنَ

ََم

ََحَا

َ قَ

ََ لا

َِرا

َ

َِإَ؟

َِن

َ

َ سا

ََ تََع

ََنا

ََِب

ََك

َََأ

ََعَ ََت

َُهَ

ََوَِإ

َِن

َ

َ سا

ََ تَ قََر

ََض

ََك

َََأَ ق

ََرَ ض

ََتَُهَ

ََوَِإ

َِن

ََ فا

ََ تََق

َ رَ

َُعَ د

ََت

َََعََل

َ يَِهَ

ََوَِإ

َ نَ

ََمَِر

ََض

ََُع

َ دََت

َُهَ

ََوَِإ

َ نَ

ََم

ََتا

ََِاَ ت

ََ بَ ع

ََت

َ

ََجََ

ََزاََت

َُهَََ

وَِإ

َ نَ

ََأ

ََص

ََباَُه

َ

ََخَ ي

ٌَرَ

َََََ أ

ََتَُهَ

ََوَِإ

َ نَ

ََأ

ََص

ََ باَ ت

َُهَ

َُم

َِص

َ يََبٌَة

َََعَ

زَ يََت

َُهَ

ََوََل

ََتَ

َ سََت

َِطَ ي

َُلَ

ََعََلَ ي

َِهَ

َِبَ لا

َِبََ

َِءا

َََ فََت

َ ح

َُج

ََب

َََعَ

َُهَ

َِرلاَ ي

َُحَ

َِإ

َ ل

َِبََِإ

َ ذَِن

َِهَ

ََوَِإََذ

َ شاَا

ََ تََرَ ي

ََت

َ

ََف

َِكا

ََهًَة

َََف

َ ا

َِدَ

ََلَُهَ

ََفَِإ

َ نَ

َ َلَ

ََ تَ ف

ََعَ ل

َََفََأ

َ د

َِخ

َ لََه

َِسَا

َ ر

ََوَا

ََل

َ َََ

َُرَُج

ََ

َِب

ََوَا

ََلَُد

ََك

ََِلََي

َِغَ ي

ََظ

ََ

َِب

ََوَا

ََلَُد

َُهَََ

وََل

َُ تََ

ؤَِذ

َِهَ

َِبَِق

ََتَِرا

َ

َِقَ د

َِر

ََك

ََِإ

َ ل

ََأَ

َ نَ

ََ تَ غَ

ِر

ََف

َََلَُه

ََِم

َ ََه

ََأَ:َا

ََتَ د

َُرَ و

ََنَ

ََم

ََحَا

َ قَ

ََ لا

َِرا

َ

ََوَ؟

َ لا

َِذ

َ يَ

ََ نَ ف

َِس

َ يَ

َِبََيَِد

َِهَ

ََل

ََ يََ ب

َُلَُغ

َ

ََح

َ قَ

ََ لا

َِرا

َ

َِإ

َ ل

ََمَ

َ نَ

ََرَََِ

َُهَ

َُها

َََف

ََمََ

زا

ََلا

ََُ يَ و

َِص

َ يَِه

َ مََِب

ََ لا

َِرا

َ

ََح

َ ّ

ََََ

َ َ و

ََأَا

َ نَُهَ

ََسَُ ي

َ وَِرَُث

َُهَ

َ ُثَ

ََق

ََلا

َ

ََاَ:

َِ ل

َ يََر

َُنا

َََث

ََلَ

َثٌَةَ

ََفَ:

َِمَ

َُهَ م

َ

ََمَ ن

َََلَُه

َََث

ََلَ

َثَُةَ

َُحَُق

َ وٍَق

َََوَِم

َ َُه

َ مَ

ََمَ ن

َََلَُه

َ

ََحَ ق

َِنا

َََوَِم

َ َُه

َ مَ

ََمَ ن

َََلَُه

َ

ََح

َ قَ

ََو

َِحا

ٌَدَ

ََفََأَ م

َ لاَا

َِذ

َ يَ

ََلَُهَ

ََث

ََلَ

َثَُةَ

َُحَُق

َ وٍَق

َ

ََف

ََ لا

َُراَ

َ لاَُم

َ سَِل

َُمَ

َ لاََق

َِرَ ي

َُب

َََلَُه

َ

ََح

َ قَ

َِ ْا

َ س

ََل

َِمَ

ََوََح

َ قَ

َِ لا

ََوَِرا

َََو

ََح

َ قَ

َ لاََق

ََرََباَِة

َ

ََوَ.

ََأَ م

َ لاَا

َِذ

ََلَي

َُهَ

ََحَ ق

َِنا

َََف

ََ لا

َُراَ

َ لاَُم

َ سَِل

َُمَََل

َُهَ

ََح

َ قَ

َِ ْا

َ س

ََل

َِمَ

ََوََح

َ قَ

َِ لا

ََوَِرا

َ

ََوَ.

ََأَ م

َ لاَا

َِذ

َ يَ

ََلَُهَ

ََح

َ قَ

ََو

َِحا

ٌَدَ

ََف

ََ لا

َُراَ

َ لا

ََك

َِفا

َُرَ

ََلَ:

َُهَ

ََح

َ قَ

َِ لا

ََوَِرا

َ

ََقَُلا

َ و

ََيَ:َا

ََرا

َُسَ و

ََل

َ

َِها

َََأَُن

َ ط

َِعَُم

َُهَ م

ََِم

َ نَ

َُُلَ و

ٍَم

َ

َ لا

َُس

َِك

َ

ََقَ ؟

ََلا

َ

ََل:

َُيَ

َ ط

ََعَُم

ََ لا

َُم

َ شَ

ِرَُكَ و

ََن

ََِم

َ نَ

َُنَُس

َِك

َ

َ لاَُم

َ سَِل

َِم

ََ ي

َ"

.

4

َ

3 Abū ʻAbd Allāh Mu

ammad bin A mad al-Anṣārī al-Malikī al-Qurṭubi, Tafsir al-Qurṭubi, Penerjemah: Ahmad Rijali Kadir (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), h. 438-439

4

Abū Bakr bin Ja‟far bin Sahal bin Syākir al-Sāmirī al-Kharā‟iṭī, Makārim al-Akhlāq

(34)

“Telah menceritakan kepada kami Abū Mūsā ʻImrān bin Mūsā al

-Muaddib, telah menceritakan kepada kami Dāwud bin Rasyīd, telah

menceritakan kepada kami Suwaīd bin ʻAbd al-ʻAzīz, dari ʻU mān bin

ʻAṭā‟, dari ayahnya, dari Syuʻaīb, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwasanya

Rasulullah Saw bersabda: “Apakah engkau mengetahui apa hak bertetangga? ‟apabila ia meminta tolong kepadamu maka engkau menolongnya, jika ia meminta pinjam uang maka engkau meminjamkannya, jika ia membutuhkan sesuatu maka engkau memberikannya, jika ia sakit maka engkau menjenguknya, jika ia meninggal maka engkau mengiringi jenazahnya, jika ia mendapatkan kebaikan, maka engkau mengucapkan selamat kepadanya, jika ia ditimpa musibah maka engkau menghiburnya, jangan engkau meninggikan bangunan rumahmu sehingga menghalangi udara yang masuk ke dalam rumahnya kecuali dengan izinnya. Jika engkau membeli buah-buahan maka hendaklah engkau berikan sebagian kepada mereka, jika tidak maka bawalah buah itu ke dalam rumahmu secara diam-diam dan jangan biarkan anakmu keluar rumah dengan membawa buah tersebut, sebab hal itu akan membuat anak mereka marah, dan janganlah engkau menyakitinya dengan bau sedap atau asap masakan yang berada dalam periukmu kecuali engkau mengambil sebagiannya dan memberikan kepadanya: Apakah engkau mengerti apa hak seorang tetangga? Demi jiwaku yang ada dalam genggaman-Nya, tidak akan disampaikan hak-hak tetangga kecuali orang-orang yang dirahmati Allah Swt, maka akan terus menerus mewasiatkan kepada mereka tentang hak tetangga sehingga mereka mengira bahwasanya ia akan mewarisinya. Kemudian beliau bersabda: Hak tetangga ada tiga, sebagian mereka memiliki tiga hak, sebagian mereka juga memiliki dua hak, dan sebagian mereka lagi memiliki satu hak. Adapun tetangga yang memiliki tiga hak yaitu tetangga Muslim yang dekat, ia memiliki hak Islam, hak bertetangga, dan hak kekerabatan. Kemudian tetangga yang memiliki dua hak yaitu tetangga yang Muslim, ia memiliki hak bertetangga dan hak Islam. Tetangga yang memiliki satu hak yaitu tetangga yang non-Muslim, ia hanya memiliki hak bertetangga saja. Kemudian mereka bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kami boleh memberi mereka (tetangga non-Muslim) makanan dari daging qurban? Beliau bersabda: “Tidak boleh memberi orang-orang Musyrik daripada daging qurban orang-orang Muslim”.

Kemudian dalam kitab al-Targīb wa al-Tarhīb min al- adī al-Syarīf karya

„Abd al-„Aẓīm al-Qawīy al-Mundżirī, yakni sebagai berikut:

(35)

ََتَ س

ََتَِط

َ يَُل

َََعََل

َ يَِهَ

َِبَ لا

َُ بَ ََي

َِنا

َََ فََت

َ ح

َُج

ََب

َََعَ

َُهَ

َِرلاَ ي

َُحَ

َِإ

َ ل

َِبََِإ

َ ذَِن

َِهَ

ََوََل

َُ تََ

ؤَِذ

َِهَ

َِبَِق

ََتَِرا

ََِرَ ي

َِح

ََِق

َ دَِر

ََك

ََِإ

َ ل

ََأَ

َ نَ

ََ تَ غَ

ِر

ََف

َ

ََلَُهَ

َِمَ

ََه

ََوَا

َِإَِن

َ

َ شا

ََ تََرَ ي

ََت

َََف

َِكا

ََهًَة

َََفا

َ َِد

َََلَُه

َََفَِإ

َ نَ

َ َلَ

ََ تَ ف

ََعَ ل

َََفََأ

َ د

َِخ

َ لََه

َِسَا

َ ر

ََوَا

ََل

َ َََ

َُرَُج

ََ

َِب

ََوَا

ََلَُد

ََك

ََِلََي

َِغَ ي

ََظ

ََ

َِب

َا

ََوََلَُد

َُه.

5

“Diriwayatkan dari ʻAmr bin Syuʻaīb dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi Saw, beliau bersabda: “Barang siapa yang menutup pintu untuk

tetangganya karena khawatir atas keluarganya dan hartanya maka ia bukan termasuk orang yang beriman, dan bukan termasuk orang yang beriman orang yang tidak memberikan rasa aman kepada tetangganya dengan kehadirannya. Apakah engkau mengetahui apa hak seorang tetangga?

‟apabila ia meminta tolong kepadamu maka engkau menolongnya, jika ia

meminta pinjam uang maka engkau meminjamkannya, jika ia membutuhkan sesuatu maka engkau memberikannya, jika ia sakit maka engkau menjenguknya, jika ia mendapatkan kebaikan, maka engkau mengucapkan selamat kepadanya, jika ia ditimpa musibah maka engkau menghiburnya, jika ia meninggal maka engkau mengiringi jenazahnya, jangan engkau meninggikan bangunan rumahmu sehingga menghalangi udara yang masuk ke dalam rumahnya kecuali dengan izinnya, janganlah engkau menyakitinya dengan bau sedap atau asap masakan yang berada dalam periukmu kecuali engkau mengambil dan memberikan sebagian kepadanya, jika engkau membeli buah-buahan maka hendaklah engkau memberikan sebagian kepada mereka, jika tidak maka bawalah buah itu ke dalam rumahmu secara diam-diam dan jangan biarkan anakmu keluar rumah dengan membawa buah tersebut, sebab hal itu akan membuat anaknya marah”.

Terakhir terdapat dalam kitab Musnad al-Syāmiyyīn al- abarānī karya

al-abrānī, yakni sebagai berikut:

ََح

َ دََ ث

ََ

ََُمَا

َ م

ٌَدَ

َ بَِن

َ

َِسلا

َِر

َ بَي

َِنَ

ََسََه

ٍَلَ

ََقلاَ

ََطَِ

ر

ََ بلاَي

َ غََد

َِدا

ََ ثَ،َي

ََ

ََدَا

َُوا

َ بَد

َِنَ

ََرَِش

َ يٍَد

َ

ََ ثَ،

ََ

َُسَا

ََوَ يٌَد

ََ ب

َِنَ

ََعَ ب

َِدَ

َ لاََعَ

ِزَ يَِز

َ

ََ ثَ،

ََ

َُعَا

َ ثََم

ٌَنا

ََ ب

َِن

َََع

ََط

ٍَءا

َ

ََعَ،

َ نَ

ََأَِبَ ي

َِهَ

ََعَ،

َ نَ

ََعَ م

ٍَر

َ بَو

َِن

َ

َُشََع

َ ي

ٍَب

َ

ََعَ،

َ نَ

ََأَِبَ ي

َِهَ

ََعَ،

َ نَ

ََج

َِدَِه

َ

ََأَ،

َ نَ

ََرَُس

َ وََل

َ

َها

ََصَ ل

َُهاَى

َََعََل

َ يَِهَ

ََوَ

ََسَ ل

ََمَ

ََق

ََلا

َ

َ«َ:

ََمَ ن

َََأ

َ غََل

ََقَ

ََبََبا

َُهَ

َُدَ و

ََنَ

ََج

َِراَِه

َ

َََم

ََفاًَة

َََعََل

ََأَى

َ َِلَِه

َََوََم

َِلاَِه

َ

ََ فََلَ ي

ََس

َََذَ

ِل

ََك

ََُِب

َ ؤَِم

ٍَن

َ

ََوَ،

ََلَ ي

ََس

ََُِب

َ ؤَِم

ٍَن

َََم

َ نَ

َ َلَ

ََيَ أََم

َ نَ

ََج

ََراَُه

ََِبََو

َِئاَِق

َِهَ

ََأَ،

ََتَ د

َُرَ و

ََنَ

ََم

ََحَا

َ ق

َ

ََ لا

َِرا

َ

َ؟

َِنإ

َ

ََت َعَأََكَناَعَ ت سا

َُه

َ،

ََوَِإ

َِنَ

َُهَت ضَر قَأََكَضَر قَ ت سا

َ فاَنإوَ،

ََ تََق

َ رَ

َُعَ د

ََت

َََعََل

َ يَِهَ

ََوَ،

َِإَ ن

َََمَِر

ََض

ََُع

َ دََت

َُهَ

َنإوَ،

ََم

ََتا

َ

ََش

َِه

َ د

ََت

َ

ََجََ

ََزاََت

َُهَ

ََأَنإوَ،

ََص

ََباَُه

َ

ٌَيخ

َََََ

َ أََتَُه

َ

ََأَنإوَ،

ََص

ََ باَ ت

َُهََُم

َِص

َ يََبٌَة

َََعَ

زَ يََت

َُهَ

ََلوَ،

َََت

َ سََت

َِطَ ي

َُلَ

ََعََلَ ي

َِهَ

َِبَ لا

َِبََ

َِءا

َ

ََ فَ،

ََتَ ح

َُج

ََب

َََعَ

َُهَ

َِرلاَ ي

َُحَ

َ لإ

ََِبَِإ

َ ذَِن

َِهَ

ََوَ،

ََذإ

ََشَا

ََرَ ي

ََت

َََف

َِكا

ََهًَة

َََف

َ ا

َِدَ

ََلَُهَ

ََفَ،

َِإَ ن

ََ

َل

َََ تَ ف

ََعَ ل

َََفََأ

َ د

َِخ

َ لََه

َا

َِسَ

ر

ََوَ،َا

ََل

َ َََ

َُرَُج

ََ

َِب

ََوَا

ََلَُد

ََكَ

َِلََيَِغ

َ يََظ

ََ

َِب

ََوَا

ََلَُد

َُهَ

ََوَ،

ََل

َُ تََ

ؤَِذ

َِهَ

َِقِب

اَه ِمَُهَلََفِر غَ تَ نَأَ لِإََكِر دِقَِراَت

َ

َ»

ََفََم

َا

ََز

ََلا

ََُ يَ و

َِص

َ يَِه

َ مَ

َِب

ََ لا

َِرا

َ

ََح

َ ّ

ََََ

ََ َ

ََأَا

َ نَُهَ

ََسَُ ي

َ وَِرَُث

َُهَ

َ ُثَ،

َََق

ََلا

َََر

َُسَ و

َُل

َ

َها

ََصَ ل

َُهاَى

َََعََل

َ يَِهَ

ََوَ

ََسَ ل

ََمَ

َ«َ:

5

„Abd al-„Aẓīm al-Qawīy al-Mundżirī, al-Targīb wa al-Tarhīb min al- adī al-Syarīf

(36)

ََاَِ ل

َ يََر

َُنا

َََث

ََلَ

َثٌَةَ

ََفَ،

َِمَ

َُهَ م

َََم

َ نَ

ََلَُهَ

ََث

ََلَ

َثَُةَ

َُحَُق

َ وٍَق

َ

ََوَ،

َِمَ

َُهَ م

َََم

َ نَ

ََلَُهَ

ََحَ ق

َِنا

َ

ََوَ،

َِمَ

َُهَ م

َََم

َ نَ

ََلَُهَ

ََح

َ قَ

ََو

َِحا

ٌَدَ

ََفَ،

ََأَ م

َ لاَا

َِذ

َ ي

َََلَُه

َََث

ََلَ

َثَُة

َ

َُحَُق

َ وٍَق

َََف

ََ لا

َُرا

ََ لا

َُم

َ سَِل

َُمَ

َ لاََق

َِرَ ي

َُب

َ

ََلَ،

َُهَ

ََح

َ ق

َ

َِ ْا

َ س

ََل

َِمَ

ََوََح

َ ق

َ

َِ لا

ََوَِرا

َََو

ََح

َ قَ

َ لاََق

ََرََباَِة

َ

ََوَ،

ََأَ م

َ لاَا

َِذ

ََلَي

َُهَ

ََحَ ق

َِنا

َََف

ََ لا

َُراَ

َ لاَُم

َ سَِل

َُمَ

ََلَ،

َُهَ

ََح

َ قَ

َِ لا

ََوَِرا

َََو

ََح

َ قَ

َِ ْا

َ س

ََل

َِمَ

ََوَ،

ََأَ م

َ لاَا

َِذ

ََلَي

َُهَ

ََح

َ قَ

ََو

َِحا

ٌَدَ

ََف

ََ لا

َُراَ

َ لا

ََك

َِفا

َُرَ

ََلَ،

َُهَ

ََح

َ قَ

َِ لا

ََوَِرا

َ

َ»

ََقَُلا

َ و

ََيَ:َا

ََرَا

َُسَ و

ََلَ

ََأَها

َُ نَ ع

َِطَ ي

َِه

َ مَ

َِم

َ نَ

َُُلَ و

ٍَمَ

َ لا

َُس

َِك

َ

َ؟

ََ فََق

ََلا

َ

َ«َ:

ََل

َُ تََ ع

َِط

ََ لا

َُم

َ شَ

ِرَِك

ََ ي

ََِم

َ نَ

َُنَُس

َِك

ََ لا

َُم

َ سَِل

َِم

ََ ي

َ»

.

6

“Telah menceritakan kepada kami Mu ammad bin al-Sirrī bin Sahal

al-Qanṭirī al-Bagdadī, telah menceritakan kepada kami Dāwud bin Rasyīd,

telah menceritakan kepada kami Suwaīd bin ʻAbd al-ʻAzīz, dari ʻU mān bin

ʻAṭā‟, dari ayahnya, dari Syuʻaīb, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwasanya

Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang menutup pintu untuk tetangganya karena khawatir atas keluarganya dan hartanya maka ia bukanlah seseorang yang beriman, dan bukan orang yang beriman barang siapa yang tidak memberikan rasa aman kepada tetangganya dengan kehadirannya. Apakah engkau mengetahui apa hak seorang tetangga?

‟apabila ia meminta tolong kepadamu maka tolonglah, jika ia meminta

pinjam uang maka hendaknya engkau pinjamkan, jika ia membutuhkan sesuatu maka berikanlah, jika ia sakit maka jenguklah, jika ia meninggal maka antarkanlah jenazahnya, jika ia mendapatkan kebaikan yang membuatmu gembira, maka ucapkan selamat kepadanya, jika ia ditimpa musibah yang membuatmu bersedih maka beri semangat kepadanya, jangan engkau meninggikan bangunan rumahmu sehingga menghalangi udara yang masuk ke dalam rumahnya kecuali dengan izinnya. Jika engkau membeli buah-buahan maka hadiahkan sebagian kepada mereka, jika tidak maka bawalah buah itu ke dalam rumahmu secara diam-diam dan jangan biarkan anakmu membawa buah yang kau beli keluar rumah, sebab hal itu akan membuat anak mereka marah, dan janganlah engkau menyakitinya dengan bau sedap atau asap masakan yan

Gambar

Daftar Pengajian di Desa Tenajar LorTabel 1.2 13
Tabel 2.1 Pemahaman Makna Bertetangga menurut Masyarakat
Tingkat Ekonomi Masyarakat Desa Tenajar LorTabel 1.3 31
Implementasi Hadis Hak dan KewajibanTabel 2.2  Bertetangga

Referensi

Dokumen terkait

Jika ada pasien yang harus dirujuk maka ke- luarga sendiri yang mengurus mulai dari kendaraan sampai biaya transport, belum ada keterlibatan apa- rat desa dalam membantu