II. TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Kesehatan kerja adalah usaha untuk menciptakan keadaan lingkungan kerja yang aman dan sehat bebas dari bahaya kecelakaan. Keselamatan kerja merupakan keselamatan yang berhubungan dengan mesin, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, tempat kerja dan kondisi lingkungannya (Sabdoadi, 1999).
Keselamatan kerja menunjukan kondisi yang aman atau selamat dari penderitaan, kerusakan kerja menunjukkan pada kondisi yang bebas dari gangguan fisik, mental, emosi atau rasa sakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja (Mangkunegara, 2001). Resiko keselamatan merupakan aspek-aspek dari lingkungan kerja yang dapat menyebabkan kebakaran, ketakutan, terpotong, luka memar, keseleo, patah tulang, kerugian alat tubuh, penglihatan dan pendengaran. Semua itu sering dihubungkan dengan perlengkapan perusahaan atau lingkungan fisik dan mencakup tugas-tugas kerja yang membutuhkan pemeliharaan dan latihan.
Kesehatan kerja menunjukan pada kondisi yang bebas dari gangguan fisik, mental, emosi, atau rasa sakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja. Resiko kesehatan merupakan faktor-faktor dalam lingkungan kerja yang
11
bekerja melebihi periode waktu yang ditentukan, lingkungan yang dapat membuat stress emosi atau gangguan fisik.
Keselamatan dan kesehatan kerja menunjukan kondisi-kondisi fisiologis-fisikal dan psikologis tenaga kerja yang diakibatkan oleh lingkungan kerja yang disediakan oleh perusahaan. Kondisi fisiologis-fisikal meliputi penyakit-penyakit dan kecelakaan kerja seperti cedera, kehilangan nyawa atau anggota badan. Kondisi-kondisi psikologis diakibatkan oleh stress pekerjaan dan kehidupan kerja yang berkualitas rendah. Hal ini meliputi ketidakpuasan, sikap menarik diri, kurang perhatian, mudah marah, selalu menunda pekerjaan dan kecenderungan untuk mudah putus asa terhadap hal-hal yang remeh (Rivai, 2006).
2. 3. 1. Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Menurut Mangkunegara (2001), tujuan keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebagai berikut :
a. Agar setiap pegawai mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja baik secara fisik, sosial dan psikologis.
b. Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik- baiknya dan seefektif mungkin.
c. Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya.
d. Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi pegawai.
e. Agar meningkatkan kegairahan, keserasian dan partisipasi kerja. f. Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh
lingkungan atau kondisi kerja.
g. Agar setiap pegawai merasa aman dan terlindungi dalam bekerja. Menurut Rivai (2006), tujuan dan pentingnya keselamatan kerja meliputi :
a. Meningkatnya produktivitasnya karena menurunnya jumlah hari kerja yang hilang.
b. Meningkatnya efisiensi dan kualitas pekerja yang berkomitmen. c. Menurunnya biaya-biaya kesehatan dan asuransi.
12
d. Tingkat kompensasi pekerja dan pembayaran langsung yang lebih rendah karena menurunnya pengajuan klaim.
e. Fleksibilitas dan adaptabilitas yang lebih besar sebagai akibat dari meningkatnya partisipasi dan rasa kepemilikan.
f. Rasio seleksi tenaga kerja yang lebih baik karena meningkatnya citra perusahaan.
Perusahaan yang dapat menurunkan tingkat dan beratnya kecelakaan kerja, penyakit dan hal-hal yang berkaitan dengan stres serta mampu meningkatkan kualitas kehidupan kerja para pekerjanya, maka perusahaan tersebut akan semakin efektif (Rivai, 2006).
2. 3. 2. Program K3
Menurut Miner dalam Ilham (2002), ada dua aspek yang digunakan untuk mengatasi K3, yakni Safety Psychology menitikberatkan pada usaha mencegah kecelakaan itu terjadi dan Industrial Clinical Psychology menitikberatkan pada kinerja karyawan yang menurun, sebab-sebab penurunan dan bagaimana mengatasinya. Faktor-faktor dari kedua aspek tersebut dijabarkan sebagai berikut :
a. Safety Psychology terdiri dari 6 faktor, yaitu : 1). Laporan dan Statistik Kecelakaan
Laporan dan statistik mengenai jumlah kecelakaan yang terjadi ditempat kerja. Dengan adanya laporan dan statistik kecelakaan kerja, perusahaan akan memiliki gambaran mengenai potensi terjadinya kecelakaan kerja dan cara mengantisipasinya.
2). Pendidikan dan Pelatihan K3
Pelatihan yang diadakan perusahaan untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja.
3). Publikasi dan Kontes K3
Publikasi keselamatan kerja bertujuan untuk mengingatkan memotivasi karyawan agar menyadari akan pentingnya keselamatn dan kesehatan kerja. Kontes keselamatan kerja bertujuan untuk memotivasi karyawan agar selalu menerapkan K3 sewaktu bekerja.
13
4). Kontrol terhadap Lingkungan Kerja
Kontrol lingkungan kerja bertujuan untuk melindungi karyawan dari bahaya kecelakaan kerja yang mungkin terjadi dan menciptakan kondisi atau lingkungan kerja yang aman dan nyaman.
5). Inspeksi dan Disiplin
Inspeksi dan disiplin adalah pengawasan terhadap lingkungan kerja dan perilaku karyawan.
6). Peningkatan Kesadaran K3
Peningkatan kesadaran K3 merupakan usaha perusahaan dalam mensukseskan program K3. Adanya komitmen yang kuat dan perhatian yang besar dari manajemen perusahaan dapat memotivasi karyawan untuk mengutamakan keselamatan dan kesehatannya sewaktu bekerja.
b. Industrial Clinical Psychology terdiri dari dua faktor, yaitu : 1). Konseling
Pembimbingan yang dilakukan perusahaan untuk meningkatkan kembali motivasi kerja karyawan setelah diketahui adanya penurunan produktivitas dari karyawan tersebut.
2). Employee Assistance Program
Pembimbingan secara insentif yang dilakukan untuk menangani berbagai macam masalah yang dihadapi karyawan terutama yang berhubungan dengan perilaku karyawan.
2. 3. 3. Sistem Manajemen K3
Sistem manajemen K3 (SMK3) merupakan bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, kegiatan perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan untuk pengembangan, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian resiko (Santoso, 2004). Hal tersebut untuk mencapai lingkungan kerja yang aman, efisien, dan produktif. Sistem model manajemen K3 dapat dilihat pada Gambar 1.
14
Gambar 1. Sistem model manajemen K3 (Santoso, 2004)
Menurut Mangkunegara (2004), pendekatan sistem pada manajemen K3 dimulai dengan mempertimbangkan tujuan keselamatan kerja, teknik, dan peralatan yang digunakan, proses produk, dan perencanaan tempat kerja. Tujuan keselamatan harus diintegrasikan dengan bagian dari setiap manajemen dan pengawasan kerja. Menurut George S. Odiorne dalam
Mangkunegara (2004) mengemukakan bahwa sistem pada manajemen K3 mencakup:
1. Penetapan Indikator Sistem
Tahap dasar dalam mengimplementasi sistem keselamatan kerja adalah menetapkan metode untuk mengukur pengaruh pelaksanaan keselamatan kerja, kesehatan, dan kesejahteraan pegawai. Statistik kecelakaan harus dijadikan pedoman dan dibandingkan dengan organisasi lainnya. Efektivitas dari sistem dapat diukur dan kecenderungan-kecenderungannya dapat diidentifikasikan. Indikator- indikator tersebut merupakan kriterian untuk tujuan keselamatan kerja. 2. Melibatkan Para Pengawas dalam Sistem Pelaporan
Bilamana terjadi kecelakaan harus dilaporkan kepada pengawas langsung dari bagian kerusakan dan laporan harus pula mengidentifikasi kemungkinan penyebab terjadinya kecelakaan. Hal ini agar pengawas tersebut dapat mudah mengadakan perbaikan dan mengadakan upaya preventif untuk masa selanjutnya.
Komitmen dan kebijaksanaan Perencanaan Pelaksanaan Pengukuran Peninjauan ulang dan peningkatan manajemen Peningkatan berkelanjutan
15
3. Mengembangkan Prosedur Manajemen Keselamatan Kerja
Pendekatan sistem yang esensi adalah menetapkan sistem komunikasi secara teratur dan tindak lanjut pada setiap kecelakaan pegawai. Kemudian mengadakan penelitian terhadap penyebab terjadinya kecelakaan dan mempertimbangkan kebijakan yang telah ditetapkan untuk diadakan perubahan seperlunya sesuai dengan keperluan pada saat itu.
4. Menjadikan Keselamatan Kerja sebagai Bagian Tujuan Kerja
Membuat kartu penilaian keselamatan kerja. Setiap kesalahan yang dilakukan pegawai dicatat oleh pengawas dan dipertanggungjawabkan sebagai bahan pertimbangan dalam memberikan penilaian prestasi kerja pegawai yang bersangkutan.
5. Melatih Pegawai-Pegawai dan Pengawasan dalam Manajemen Keselamatan Kerja
Melatih pegawai-pegawai untuk menggunakan peralatan kerja dengan baik. Begitu pula pegawai-pegawai dilatih untuk dapat menggunakan alat pengaman jika terjadi kecelakaan ditempat kerja.
2. 3. 4. Manfaat K3
Manfaat K3 (Arep dan Tanjung, 2004) adalah sebagai berikut : 1. Manfaat Ekonomis :
a. berkurangnya kecelakaan dan sakit karena kerja.
b. mencegah hilangnya investasi fisik dan investasi sumber daya manusia.
c. meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja yang nyaman dan aman, serta motivasi kerja yang meningkat.
2. Manfaat Psikologis
a. meningkatkan kepuasan kerja.
b. kepuasan kerja tersebut akan meningkatkan motivasi kerja dan selanjutnya akan meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja. c. perusahaan akan merasa bangga bahwa telah ikut serta dalam
melaksanakan program pemerintah dan ikut serta dalam pembangunan nasional dan citra baik perusahaan akan meningkat.
16
2. 3. 5. Pengendalian K3
Tahapan Kontrol Bahaya :
Pemaparan Tinggi Monitoring periodik tidak ya ya tidak ya tidak ya tidak ya
Gambar 2. Diagram tahapan kontrol bahaya (Santoso, 2004)
Upaya-upaya Pengendalian : 1. Prosesi isolasi
2. Pemasangan lokal exhauster
3. Ventilasi umum
4. Pemakaian alat pelindung diri (APD) 5. Ketatarumahtanggaan prusahaan 6. Pengadaan fasilitas saniter
Bahaya Dikontrol Bahaya Diantisipasi Bahaya Dievaluasi Bahaya Dieliminasi Bahaya Diisolasi Bahaya Dikontrol dengan Enginering Bahaya Dikontrol dengan Cara Administratif Program APD
17
7. Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja dan berkala 8. Pelatihan/penyuluhan kepada seluruh karyawan 9. Kontrol administrasi Hirarki Pengendalian : 1. Eliminasi 2. Substitusi 3. Pengendalian rekayasa 4. Pengendalian administratif 5. Alat pelindung diri (APD)
Usaha-usaha yang diperlukan dalam meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja menurut Mangkunegara (2001) adalah sebagai berikut :
1. Mencegah dan mengurangi kecelakaan kebakaran dan peledakan. 2 Memberikan peralatan perlindungan diri untuk pegawai yang bekerja
pada lingkungan yang menggunakan peralatan yang berbahaya.
3. Mengatur suhu, kelembaban, kebersihan udara, penggunaan warna ruangan kerja, penerangan yang cukup terang dan menyejukkan, serta mencegah kebisingan.
4. Mencegah dan memberikan perawatan terhadap timbulnya penyakit. 5 Memelihara kebersihan dan ketertiban, serta keserasian lingkungan
kerja.
6. Menciptakan suasana kerja yang menggairahkan semangat kerja pegawai.
2. 3. 6. Landasan Hukum K3
Dasar-dasar hukum Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Indonesia telah banyak diterbitkan baik dalam bentuk Undang-undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Keputusan Menteri dan Surat Edaran (Sugeng, 2005), sebagai berikut :
1. Undang-undang Ketenagakerjaan No. 13/2003 2. UUD 1945 pasal 27 ayat 1 dan 2
3. Undang-undang Keselamatan Kerja No. 1/1997
18
5. Peraturan Pemerintah tentang Penyelenggaraan Jaminan Sosial Tenaga Kerja No.14/1993
6. Keputusan Presiden Penyakit yang timbul Karena Hubungan Kerja No. 22/1993
7. Peraturan Menteri Perburuhan tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan serta Penerangan dalam Tempat Kerja No. 7/1964
8. Peraturan Menteri Tenaga Kerja tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja dalam penyelenggaraan Keselamatan Kerja No. 2/1980 9. Peraturan MenteriTenaga Kerja tentang Kewajiban melaporkan
Penyakit Akibat Kerja No. 1/1981
10. Peraturan Menteri Tenaga Kerja tentang Pelayanan Kesehatan Kerja No. 3/1982
11. Keputusan Menteri Tenaga Kerja tentang NAB faktor fisika di tempat kerja No. 51/1999
12. Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja Tentang NAB faktor kimia di udara lingkungan kerja No. 1/1997
2. 4. Kinerja Karyawan
Kinerja karyawan adalah tingkat terhadap mana para karyawan mencapai persyaratan-persyaratan pekerjaan (Simamora, 1995). Kinerja menurut Robbins (1996) adalah ukuran dari hasil yang menggambarkan sejauh mana aktivitas seseorang dalam melaksanakan tugas dan berusaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Menurut Wahyudi (1996) Kinerja adalah prestasi yang diketahui dari suatu jabatan tertentu dengan prestasi kerja yang sesungguhnya dapat dicapai untuk seseorang tenaga kerja.
Kinerja seorang karyawan dapat dipengaruhi oleh faktor komunikasi dalam hal-hal berikut (Donnelly et al., 1984).
a. Kuantitas kerja, yaitu volume kerja yang dapat diterima dalam kondisi normal.
b. Kualitas kerja, mencakup kecepatan, kerapihan, keakuratan kerja. c. Pengetahuan terhadap pekerjaan, metode dan prosedur.
19
d. Kualitas individu, mencakup kepribadian, penampilan, kepemimpinan, integritas, kemampuan bersosialisasi.
e. Kooperasi yaitu kemampuan dan kesanggupan untuk bekerja sama dengan rekan kerja, supervisor dan bawahan dalam mencapai tujuan tertentu.
f. Kepercayaan, mencakup ketelitian, seksama, disiplin terhadap kehadiran dan waktu istirahat dan lainnya.
Menetapkan kriteria merupakan bagian penting dalam mengembangkan system penilaian kinerja. Kriteria adalah ukuran dependen atau diperkirakan untuk menilai efektifitas karyawan. Suatu kriteria yang baik harus relevan, stabil, praktis dan dapat membedakan diantara pihak yang diniai (Gibson, dkk, 1996). System penilaian kinerja yang diterapkan oleh suatu perusahaan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kondisi manajemen perusahaan tersebut, tingkat kebutuhan perusahaaan tersebut. Stayer dalam Ginting (2004) memberikan aspek-aspek yang terdapat dalam kinerja karyawan, yaitu mutu kerja, hasil kerja, etika kerja, kreatifitas, pengetahuan kerja.
Manfaat yang diperoleh perusahaan atas penilaian kinerja karyawan sangat membantu pihak manajemen perusahaan dalam memberikan umpan balik bagi kontribusi karyawan terhadap perusahaan tersebut.
Manfaat penilaian kinerja yang dikemukakan oleh Mulyadi (1996) antara lain:
1. Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisiensi melalui pemotivasian karyawan secara maksimum.
2. Membantu pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan karyawan, seperti promosi, transfer dan pemberhentian.
3. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan dan untuk menyediakan criteria seleksi dan evaluasi program pelatihan karyawan.
4. Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai bagaimana atasan ,menilai kinerjanya.
20
2. 5. Penelitian Terdahulu
Ilham (2002) melakukan penelitian tentang Hubungan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dengan Motivasi Kerja Karyawan di PT. Goodyear Indonesia. Dalam penelitiannya Ilham menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa nilai korelasi yang didapat semuanya bernilai positif, nyata dan berkorelasi kuat. Hal ini menunjukan bahwa setiap faktor K3 yang diteliti mempunyai pengaruh yang nyata terhadap peningkatan motivasi kerja karyawan sehingga perubahan- perubahan yang nyata akan menyebabkan perubahan pada tingkat motivasi karyawan.
Mahardika (2005) melakukan penelitian tentang Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja terhadap Kinerja Karyawan di PT. PLN (Persero) Unit Bisnis Strategis Penyaluran dan Pusat pengatur Beban (UBSP3B) region Jawa Timur dan Bali. Analisis data dengan menggunakan analisis regresi berganda dan hasil penelitiannya menunjukkan bahwa program K3 mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja karyawan sehingga penerapan program K3 yang baik akan meningkatkan kinerja karyawan.
Dari kajian dan penelitian terdahulu, diperoleh pembelajaran untuk melakukan penelitian tentang analisis pengaruh penerapan program K3 terhadap kinerja karyawan di PT XYZ khususnya di bagian pressing.
Penelitian ini berbeda dari penelitian sebelumnya. Pada penelitian ini, dilakukan penganalisisan penerapan program K3 yang difokuskan kepada faktor-faktor, seperti publikasi keselamatan kerja, kontrol lingkungan kerja, pengawasan, pelatihan keselamatan, disiplin serta peningkatan kesadaran K3. Data yang diperoleh berasal dari sample yang diambil dari 1300 karyawan jumlah populasi bagian pressing dengan mengambil kelonggaran 10% , sehingga data yang diperoleh dapat teruji kebenarannya.
21