• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESELAMATAN KERJA

Dalam dokumen HUBUNGAN STRES KERJA DENGAN stres (Halaman 55-71)

Pengukuran keselamatan kerja pada penjamah makanan dilakukan dengan cara pengisian kuesioner yang telah dibuat oleh peneliti sebanyak 4 kali pengukuran yang diberikan setiap minggunya kepada responden. Hasil keselamatan kerja penjamah makanan adalah sebagai gambaran keadaan kerja yang mereka lakukan dikaitkan dengan jumlah kecelakaan yang terjadi.

Berdasarkan rekapan kuesioner yang telah diisi, didapatkan hasil sebagai berikut.

Tabel 15. Hasil Penilaian Keselamatan Kerja Penjamah Makanan Jumlah Kategori Penilaian

N %

Keselamatan kerja rendah 0 0

Keselamatan kerja sedang 2 6.5

Keselamatan kerja tinggi 29 93.5

Total 31 100

Pada tabel 15 dapat diketahui bahwa kondisi keselamatan kerja penjamah makanan di instalasi gizi berada pada keselamatan kerja tinggi yaitu 93,5%, dan 6,5 % pada keselamatan kerja sedang dan tidak ada yang berada pada keselamatan kerja rendah. Hal ini dapat disebabkan karena responden merasa diamati sehingga bersikap diluar kebiasaan sebenarnya, keadaan ini juga dibenarkan oleh Notoatmojo (2002) yang menyatakan bahwa pada pengumpulan data dengan cara observasi biasanya ditemukan bias yang disebabkan karena responden merasa diamati sehingga tingkah laku mereka akan dibuat-buat, kepercayaan kepada pengamat akan hilang yang akhirnya reponden akan menutup diri dan selalu berprasangka, keadaan ini akan menimbulkan ancaman kepada responden terutama karena mengganggu situasi dan relasi pribadi, untuk mengantisipasi hal ini maka

diadakan observasi tidak terencana yang hasilnya akan dicocokkan dengan jawaban dari responden.

Dari hasil observasi kejadian kecelakaan yang paling sering terjadi adalah terciprat air panas atau minyak panas, tersenggol panas dari alat kerja, terkena uap panas pada saat memasak dan terpeleset pada saat bekerja. Kondisi lingkungan yang kurang bersih juga merupakan salah satu penyebab yang cukup berpotensi untuk terjadinya kecelakaan kerja di Instalasi Gizi. Hal ini juga diakui oleh salah seorang penjamah yang menyatakan bahwa ruang kerja dapur yang kurang bersih dan licin menyebabkan kerja menjadi lebih lambat dan sering terpeleset. Selain itu juga dari hasil wawancara terbuka didapatkan pernyataan salah satu penjamah makanan yang pernah mengalami kecelakaan kerja yaitu terjatuh karena terpeleset, tindakan yang dilakukan institusi pada saat kejadian tidak ada, 2 hari setelah kecelakaan tersebut penjamah merasakan pusing dan demam. Pada saat observasi juga ditemukan kejadian kecelakaan, yaitu tumpahnya bubur nasi pada seorang penjamah makanan yang menyebabkan luka bakar pada kaki dan paha, saat kejadian berlangsung pertolongan pertama yang dilakukan tidak ada, melainkan penjamah langsung dibawa ke UGD RSUP. Dr. Sardjito untuk mendapatkan perawatan, dari keadaan ini terlihat bahwa kerja gugus K3 Instalasi Gizi belum terorganisasi baik, berdasarkan prosedur pertolongan pertama pada luka bakar seharusnya diberikan kompres air atau pemberian putih telur terlebih dahulu sebelum dibawa ke UGD. Berdasarkan hasil wawancara kepada salah seorang penjamah makanan menyatakan bahwa prosedur pertolongan pertama pada luka bakar sudah diajarkan tetapi karena kurangnya koordinasi antar penjamah dan gugus K3 Instalasi menyebabkan belum pernah dilakukan simulasi pertolongan pertama di instalasi, hal ini menyebabkan mereka kurang sigap apabila ada kejadian kecelakaan di tempat kerja selain itu juga kelengkapan alat-alat di kotak P3K kurang, hal ini diakui juga oleh salah satu penjamah makanan yang mengatakan bahwa isi kotak P3K yang ada saat ini hanya berupa kapas, dan mereka tidak mengetahui siapa pemegang kunci kotak tersebut. Kondisi kerja yang terlihat pada saat observasi yang juga cukup menimbulkan resiko terjadinya kecelakaan adalah tidak adanya alat pengaman kerja yaitu cempal atau serbet, hal ini menyebabkan penjamah

makanan pada saat mengangkat wajan atau panci berisi makanan dari atas kompor menggunakan celemek atau sutil.

F. Hubungan Antara Stres Kerja dengan Keselamatan Kerja

Hasil hubungan silang antara stres kerja dengan keselamatan kerja dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 16. Hubungan Antara Stres Kerja Dengan Keselamatan Kerja Keselamatan Kerja

Rendah Sedang Tinggi

TOTAL Stres Kerja

n % n % % n % n

Stres Kerja Ringan 0 0 0 0 0 0 0 0 Stres Kerja Sedang 0 0 2 6.45 29 93.55 31 100 Stres Kerja Berat 0 0 0 0 0 0 0 0

Pada tabel 16 terlihat bahwa hubungan antara stres kerja dengan keselamatan kerja didapatkan hasil dari 31 responden, sebagian besar memiliki keselamatan kerja tinggi dengan stres kerja sedang yaitu sebesar 93,55% atau 29 responden, sedangkan yang memiliki keselamatan kerja sedang dengan stres kerja sedang sebesar 6,45% atau 2 responden

Dari hasil analisa data menggunakan spearman dengan alpha (α) 0,05 didapatkan hasil r = 0,135 dimana nilai r lebih kecil daripada nilai tabel rho = 0.364 atau nilai signifikan/probabilitas 0.468 lebih besar dari pada nilai alpha 0.05, artinya tidak ada hubungan antara stres kerja dengan keselamatan kerja.

Hal ini disebabkan karena dari hasil data yang didapatkan tidak terdistribusi secara normal dimana ada kategori penilaian yang tidak memiliki angka, menurut Danapriatna dan Setiawan (2005) jika dalam pengolahan data ada kategori yang tidak terdistribusi maka dalam penilaian secara statistik dapat menimbulkan tidak adanya hubungan antar variabel uji. Selain itu juga keadaan keselamatan kerja sedang dengan stres kerja sedang yang dialami oleh responden dapat berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengurangi dan menghindari beban akibat kerja, menurut Kasandrawati (2005) seseorang yang memiliki kemampuan kurang dalam menangani beban kerja yang ada baik beban yang ada di rumah maupun di kantor dapat mengalami stres. Kemampuan seseorang untuk menghindari stres kerja yang ada dapat dipengaruhi oleh pendidikan, pengalaman hidup

seseorang dan pelatihan yang pernah didapatkan. Hal ini juga didukung oleh Looker dan Gregson (2005), yang menyatakan bahwa stres kerja yang dialami seseorang kasitasnya berbeda-beda, perkembangan dan kepribadian sebagian besar menentukan sikap dan pengharapan kita terhadap pekerjaan tersebut. Selain itu juga beban kerja yang dialami seorang pekerja selain disebabkan karena pekerjaan tersebut juga disebabkan oleh lingkungan di luar pekerjaan seperti di rumah dengan keluarga maupun dengan lingkungan sosial disekitarnya. Beban dalam keluarga juga menjadi salah satu pemicu seseorang menjadi stres, karena beban yang ada dan tidak terselesaikan dibawa sampai ke tempat pekerjaan, sehingga nantinya akan mempengaruhi kondisi kerja seseorang yang berpengaruh pada produktifitas kerjanya. Hasil penelitian ini tidak senada dengan hasil penelitian Schuller (1980) dalam Rini (2002) yang menyatakan bahwa stres yang dialami oleh seorang pekerja berkorelasi dengan produktifitas kerja, peningkatan ketidakhadiran kerja serta tendensi mengalami kecelakaan.

Dari hasil pengamatan penjamah dengan stres kerja sedang dengan keselamatan kerja sedang berada pada satu unit kerja yang mana unit tersebut melakukan kegiatan persiapan bahan makanan hingga pengolahan bahan makanan, dengan jenis masakan yang berbeda-beda berdasarkan pesanan pasien, hal ini berpengaruh pada beban kerja yang diterima penjamah karena menurut Selye dalam towseri (1996) salah satu respon tubuh terhadap stres yang diakibatkan oleh beban kerja dan tututan kerja yang ada adalah kelelahan. Kondisi kelelahan ini dianggap dapat menurunkan produktifitas dan meningkatkan kejadian kecelakaan dengan menurunnya kondisi fisik dan mental penjamah makanan. Dari hasil perhitungan beban kerja berdasarkan jumlah tenaga kerja secara ekonomi didapatkan hasil bahwa jumlah tenaga pada unit kerja dapur tersebut belum memadai, dari hasil perhitungan didapatkan jumlah minimal tenaga kerja adalah 2, dari hasil observasi ditemukan bahwa unit tersebut khususnya untuk shift siang jumlah tenaga yang ada hanya 1 orang. Dari hasil wawancara pada salah seorang penjamah makanan di unit tersebut dikatakan keadaan ini menyebabkan mereka harus bekerja lebih banyak, hal ini disebabkan karena jumlah pesanan makanan harus mereka perhitungkan sendiri, mereka juga harus dapat menentukan pekerjaan mana yang harus didahulukan dengan waktu kerja yang singkat dan pesanan yang banyak dan

beragam jenisnya sehingga pekerjaannya dapat diselesaikan dengan baik, kondisi ini menurut penjamah menyebabkan mereka harus bekerja dengan cepat dan menimbulkan kelelahan yang sangat setelahnya hal ini diakuinya menyebabkan kelelahan dan stres.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Dari hasil dan pembahasan maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut.

1. Penjamah makanan di Instalasi Gizi RSUP. Dr. Sardjito keseluruhannya memiliki stres kerja sedang yaitu 100%.

2. Kondisi keselamatan kerja penjamah makanan di Instalasi Gizi RSUP. Dr. Sardjito yang dilihat dengan pendekatan jumlah kejadian kecelakaan didapatkan hasil 93,55% memiliki keselamatan kerja tinggi dan 6,45% memiliki keselamatan kerja sedang.

3. Hasil analisa hubungan antara stres kerja dengan keselamatan kerja dengan menggunakan analisa korelasi spearman didapatkan hasil tidak ada hubungan antara stres kerja dengan keselamatan kerja pada penjamah makanan di Instalasi Gizi RSUP. Dr. Sardjito (P = 0,468; r = 0,135).

B. SARAN

1. Dilihat dari hasil yang ada maka untuk mengatasi stres kerja maka diperlukan pemantauan keadaan psikologis penjamah makanan.

2. Perlu adanya pelatihan keselamatan kerja untuk meningkatkan kondisi aman di Instalasi Gizi dan memperhitungkan beban kerja dibandingkan dengan jenis kelamin dan umur penjamah makanan, serta penyediaan alat keselamatan kerja di Instalasi Gizi.

3. Jika diadakan penelitian lanjutan dapat digunakan psikiatri untuk mendapatkan data yang lebih akurat dan dapat dihubungkan dengan kondisi kesehatan penjamah makanan.

DAFTAR PUSTAKA

Adiputra, N., 1998, Keselamatan dan kesehatan Kerja, Majalah Kedokteran Udayana vol 29 no. 102 Oktober 1998 hal 168- 173

Aditama dan Hastuti, 2002, Kesehatan dan Keselamatan Kerja, UI-Press, Jakarta

Akhadi, M., 2004, Menggalakkan Audit Budaya Keselamatan dan kesehatan Kerja, Medika no. 6 tahun XXX, Juni 2004 hal 401-405

Anoraga, P., 2001, Psikologi Kerja, PT. Rineka Cipta, Jakarta

Azwar, S., 1995, Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya Edisi ke 2, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Bedong, M.A., 1999, Kesehatan dan Keselamatan Kerja Menyongsong Globalisasi dan Era Reformasi Ekonomi, Medika no 8 tahun XXV Agustus 1999 Hal 525-526

Danapriatna dan Setiawan, 2005, Pengantar Statistika, Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta.

Darmono, 1985, Stres : Tinjauan Dari Segi Fisik, Kejiwaan dan Sosio Budaya, Medica no.11 November 1985 hal 1096-1099.

Departemen Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, 2003, Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit (PGRS), Departemen Kesehatan, Jakarta

Desmita, 2005, Psikologi Perkembangan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung

Dinas Kesehatan Provinsi Bali, 2004, Gizi Tenaga Kerja Wanita (NAKERWAN), Pemerintah Provinsi Bali.

Gilmer, H.B, 1996, Industrial Psychology. Edisi Student International, Tosho Printing Co.Ltd. Tokyo

Goliszek, 2005, 60 SecondManajemen Stres, Bhuana Ilmu Populer, Jakarta.

Harrianto, R., 1998, Peranan Dokter kesehatan dan Keselamatan Kerja di Perusahaan, Majalah Ilmiah Fak. Kedokteran Usakti Vol 17 no 1 Januari 1998 hal 27-37

Heerdjan, S., 1990, Stress Sebagai Penghambat Produktivitas Kerja, Medika vol. 9 no.7 Agustus 1990 Hal 27-31

Him, T.S, 2004, Hubungan Penyuluhan Penyehatan Makanan Dengan Perilaku Penjamah Makanan Di Instalasi Gizi RS ST. Boromeus Bandung, Tesis yang tidak dipublikasikan, UGM

Kasandrawati, 2005, Manajemen Mengelola Stres, Http:// WWW.republika.co.id

Keliat, B., 1998, Penatalaksanaan Stres, EGC, Jakarta

Laksmiarti, T. dan Maryati, H., Bahaya Yang Ditimbulkan Akibat Pemanfaatan

Sarana dan Prasarana Rumah Sakit,

Http://WWW.Google.com/pus-1

Lechman, S.J, 1972, Psychosomatic Disorders; A Behavioristic Interpretation, John Wiley and sons Inc, New York

Looker dan Gregson, 2004, Managing Stress Mengatasi Stres Secara Mandiri, Penerbit BACA, Yogyakarta

Monica, E., 1994, Management In Health Care a Theoretical and Experimental Approach; Job Stress by Morgan, P.; The Macmillan Press LTD, London

National Safety Council, alih bahasa Widyastuti, 2003, Manajemen Stres,

EGC, Jakarta

Notoatmojo, 2002, Metodologi Penelitian Kesehatan, PT. Rineka Cipta, Jakarta

Riduwan, 2005, Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula, Alfabeta, Bandung

Rini, F., 2002, Stress Kerja, Http:// WWW.e.psikologi/stres

Selye, H., 1976, The Stress of Life, Mc. Graw Hill.New York

Setyawati, L., 1994, Kelelahan Kerja Kronis Kajian Terhadap Kelelahan Kerja, Penyusunan Alat Ukur, Serta Hubungannya Dengan Waktu Reaksi dan Produktifitas Kerja, Disertasi, tidak dipublikasikan. Program Pascasarjana, UGM, Yogyakarta

Soenardi, T., 2005, Meningkatkan Mutu Makanan Rumah Sakit (Kuliner),

Prosiding Kongres ASDI hal 309-351

Soewadi, 1987, Stres Di Lingkungan Kerja, Berita Kedokteran Masyarakat Jilid III no. 12 Desember, 1987 hal 383-390

Sugiono, 2004, Statistika untuk kesehatan, CV. Alfabeta, Bandung

Suma’mur, 1989, Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan, CV. Haji Masagung, Jakarta

Sunaryo, 2004, Psikologi Untuk Keperawatan, AGC, Jakarta

Supariasa, I, Bakri, B.,dan Fajar, I., 2001, Penilaian Status Gizi, EGC

Susetyorini, S., 2000, Pengaruh Pelatihan GMP Terhadap Performa Sistem Produksi Makanan Di Instalasi Gizi Dr. Sardjito Yogyakarta

Tarwotjo, S., 1998, Dasar-Dasar Gizi Kuliner, Pt. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta

Towseri, M., 1996, Psychiatric Mental Health Nursing, Company Philadelphia

Tyas, K., 2004, Hubungan Antara Tingkat Stres Kerja Dengan Tingkat Empati Pada Perawat di Instalasi Rawat Inap RSUD Kota Yogyakarta. Skripsi yang tidak dipublikasikan, UGM

Yahya, G., 2005, Perencanaan Kebutuhan Sumber Daya Manusia di Instalasi Gizi Rumah Sakit, Proseding Kongres ASDI hal 14-27

Yuristrianti, N., 2003, Pengaruh Pelatihan Penjamah Makanan Tentang Sistem Pengolahan Dan Penyajian Makanan Terhadap Mutu Makanan Pasien Di RSUD. Prof..Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.

Lampiran

PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN

Yang bertandatangan dibawah ini :

Nama Responden :………..

Alamat :……….

………..

………..

Menyatakan bersedia untuk mengikuti seluruh pelaksanaan penelitian tentang kondisi kerja seorang penjamah makanan terhadap keselamatan kerja di Instalasi Gizi RS. Dr. Sardjito Yogyakarta yang akan dilakukan oleh Agustina Arundina, dari program studi Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta. Atas ketersediaan dan partisipasi Bapak/Ibu/Saudara/I, saya ucapkan terima kasih. Yogyakarta, ……….2005

Mengetahui

Petugas Pewawancara Yang Membuat Pernyataan

Lampiran

KARAKTERISTIK PENJAMAH MAKANAN

Petunjuk pengisian:

Jawablah pertanyaan berikut dengan mengisi tempat kosong yang tersedia dengan mememberi tanda silang (X) pada pilihan yang mewakili jawaban anda dan isilah titik-titik di bawah ini. Kami mohon bantuannya untuk mengisi daftar pertanyaan di bawah ini dengan sejujur-jujurnya. Semua jawaban yang saudara berikan tidak akan mempengaruhi karir saudara di instalasi gizi.

Tanggal Pengisian : ……… Nomor responden : ………..

1. Nama :………

2. Umur anda sekarang :……….. tahun

3. Tingkat pendidikan terakhir

( ) Tidak sekolah ( ) D1 ( ) SD ( ) D3 ( ) SMP ( ) S1 ( ) SMA

4. Pernah mengikuti pelatihan keselamatan kerja ( ) Ya ( ) Tidak

Kalau jawaban anda “Ya”, berapa kali, kapan dan instansi yang menyelenggarakannya?

( …… ) Kali

Instansi : ………. …………. Tahun : (…………..)

……… Tahun : (…………..)

5. Jenis Kelamin

( ) Laki-laki ( ) Perempuan

6. Lama kerja anda

( ) kurang dari 4 tahun ( ) 4 - 8

Lampiran

DAFTAR PERTANYAAN KONDISI KERJA

Berikut ini adalah sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan kondisi kerja seseorang terhadap keselamatan kerja sebagai karyawan di instalasi gizi.

Petunjuk :

A. Pilihlah jawaban yang sesuai dengan kondisi atau perasaan anda B. Berikan tanda “X” (silang) pada kolom jawaban yang tersedia

C. Pilih jawaban yang sebenarnya anda rasakan, karena tidak ada jawaban benar atau salah

D. Apabila sudah selesai, periksalah kembali jawaban anda, jangan sampai ada yang terlewati. Kerahasiaan jawaban anda tetap kami jaga.

Keterangan :

STS : sangat tidak setuju TS : tidak setuju S : setuju SS : sangat setuju

No Pertanyaan STS TS S SS

1 Saya merasa tidak nyaman dengan keributan yang ditimbulkan oleh suara mesin di instalasi gizi

2 Menurut saya, rancangan ruang, ventilasi dan pencahayaan di instalasi gizi cukup baik dan membuat saya merasa nyaman dalam bekerja

3 Saya merasa pekerjaan dan tugas saya terlalu sedikit

4 Saya merasa tidak bosan dengan kegiatan rutin yang ada

5 Saya merasa pekerjaan saya bertambah terus dari hari ke hari.

6 Saya merasa komunikasi antar teman sekerja terasa tegang dalam menghadapi pekerjaan

7 Saya merasa mudah cemas karena keluarga dan teman sekerja tidak menghargai pekerjaan saya

8 Saya merasa kecelakaan kerja terjadi hanya karena kelalaian dalam bekerja

9 Saya merasa puas karena jam kerja saat ini memungkinkan saya untuk bekerja dengan baik 10 Saya selalu mengeluh karena bekerja lebih banyak

dari biasanya pada shift subuh/ siang dari pada shift pagi.

11 Saya merasa lingkungan kerja saya jarang dilakukan promosi untuk kenaikan jabatan

12 Saya tidak mengalami kesulitan dalam pengembangan diri (pendidikan , pelatihan)

13 Saya merasa ada diskriminasi pekerjaan antar teman sekerja

Lampiran

KUISIONER KESELAMATAN KERJA

Petunjuk pengisian :

Jawablah pertanyaan berikut dengan memberikan tanda silang (X) pada pilihan yang mewakili jawaban anda. Kami mohon bantuannya untuk mengisi daftar pertanyaan dibawah ini dengan sejujur-jujurnya. Semua jawaban yang saudara berikan tidak akan mempengaruhi karir saudara di Instalasi Gizi.

Tanggal pengisian : ………. No. Responden : ……….

1. Apakah anda dalam seminggu ini pernah teriris pisau/ benda tajam lainnya? a. Tidak pernah b. Ya, kurang dari 2 kali

c. Ya, 3 – 4 kali c. Ya, lebih dari 5 kali

2. Apakah anda dalam seminggu ini pernah terpeleset pada saat bekerja? a. Tidak pernah b. Ya, kurang dari 2 kali

c. Ya, 3 – 4 kali c. Ya, lebih dari 5 kali

3. Apakah anda dalam seminggu ini pernah terantuk/tersandung benda keras (meja, lemari)?

a. Tidak pernah b. Ya, kurang dari 2 kali c. Ya, 3 – 4 kali c. Ya, lebih dari 5 kali

4. Apakah anda dalam seminggu ini pernah tersiram minyak panas pada saat bekerja?

a. Tidak pernah b. Ya, kurang dari 2 kali c. Ya, 3 – 4 kali c. Ya, lebih dari 5 kali

5. Apakah anda dalam seminggu ini pernah terbakar (jawa : “keslomot”) karena alat bantu kerja yang panas (tersenggol dengan wajan/panci panas)?

a. Tidak pernah b. Ya, kurang dari 2 kali c. Ya, 3 – 4 kali c. Ya, lebih dari 5 kali

6. Apakah anda dalam seminggu ini pernah terjatuh pada saat bekerja? a. Tidak pernah b. Ya, kurang dari 2 kali

c. Ya, 3 – 4 kali c. Ya, lebih dari 5 kali

7. Apakah anda dalam seminggu ini pernah terbakar (jawa : “keselomot”) yang berasal dari kompor yang disebabakan karena menyalakan kompor dengan volume yang terlalu besar?

a. Tidak pernah b. Ya, kurang dari 2 kali c. Ya, 3 – 4 kali c. Ya, lebih dari 5 kali

8. Apakah anda dalam seminggu ini pernah terbakar (jawa: keselomot”) karena uap panas yang ditimbulkan masakan pada saat bekerja?

a. Tidak pernah b. Ya, kurang dari 2 kali c. Ya, 3 – 4 kali c. Ya, lebih dari 5 kali

9. Apakah anda dalam seminggu ini pernah terciprat minyak panas pada saat bekerja?

a. Tidak pernah b. Ya, kurang dari 2 kali c. Ya, 3 – 4 kali c. Ya, lebih dari 5 kali

10.Apakah anda dalam seminggu ini pernah terpotong pisau/ benda tajam lainnya pada saat bekerja?

a. Tidak pernah b. Ya, kurang dari 2 kali c. Ya, 3 – 4 kali c. Ya, lebih dari 5 kali

11.Apakah anda dalam seminggu ini pernah terciprat air panas pada saat bekerja? a. Tidak pernah b. Ya, kurang dari 2 kali

Dalam dokumen HUBUNGAN STRES KERJA DENGAN stres (Halaman 55-71)

Dokumen terkait