• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makna Keseluruhan Karikatur ”Editorial Clekit Edisi Selasa, 17 Agustus 2010” Di Surat Kabar Jawa Pos Dalam Triangle of Meaning

METODE PENELITIAN

4.5. Makna Keseluruhan Karikatur ”Editorial Clekit Edisi Selasa, 17 Agustus 2010” Di Surat Kabar Jawa Pos Dalam Triangle of Meaning

telah diberikan oleh rakyat sebagaimana pengertian dasar dari demokrasi yang dianut oleh negara kita. Rakyat yang telah terdoktrin pengertian dari demokrasi ”dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” telah mempercayakan amanah mereka kepada wakil rakyat sebagaimana tertulis dalam butir-butir pancasila sila ke-4 butir ke-10 yang berbunyi ”memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan”.

Maka seharusnya wakil rakyat juga harus berpegang teguh pada butir-butir pancasila sila ke-4 butir ke-9 yang berbunyi “keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama”.

4.5. Makna Keseluruhan Karikatur ”Editorial Clekit Edisi Selasa, 17 Agustus 2010” Di Surat Kabar Jawa Pos Dalam Triangle of Meaning Pierce

Melalui segitiga makna Pierce (triangle of meaning) peneliti memaknai secara keseluruhan tampilan karikatur editorial clekit pada edisi Selasa, 17 Agustus 2010 yang dimuat surat kabar Jawa Pos. Segitiga tersebut terdiri dari tanda (sign) yaitu setiap bentuk pemaknaan yang bisa ditimbulkan oleh karikatur tersebut, baik konotatif dan denotatif, obyek (object) dalam karikatur ini adalah keseluruhan gambar karikatur dan bentuk penyajian karikatur tersebut dan interpretan (interpretant). Makna keseluruhan “Kariakatur Editorial Clekit Pada Edisi Selasa, 17 Agustus 2010 yang dimuat surat kabar Jawa Pos adalah sebagi berikut :

Wakil rakyat sebagai pelaku politik dalam sistem pemerintahan seaharusnya menjalankan amanah yang telah diberikan oleh rakyat sebagaimana pengertian dasar dari demokrasi yang dianut oleh negara kita. Rakyat yang telah terdoktrin pengertian dari demokrasi ”dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” telah mempercayakan amanah mereka kepada wakil rakyat. Dan yang terjadi pada negara kita sekarang ini adalah pemusatan kekuasaan berlebihan yang dilakukan para elite politik atau yang menyebut diri mereka wakil rakyat. Pemusatan kekuasaan yang dilakukan oleh wakil rakyat tersebut berdampak buruk terhadap rakyat, yaitu melumpuhnya daya hidup rakyat. Lembaga pemerintahan yang diduduki oleh para wakil rakyat ternyata menjadi ladang subur bagi wakil rakyat “nakal” yang seharusnya menjadi acuan bagi wakil rakyat dalam menjalankan amanah yang diberikan oleh rakyat untuk mengembangkan ideologi rakyat agar mereka dapat menjalankan kewajiban dan mendapatkan hak mereka sebagai warga negara.

Saat ini wakil rakyat tersebut menunjukkan sosok yang berkuasa dan dominan dalam segala wewenang yang ada dan berpengaruh banyak kepada semua orang serta mempunyai kehidupan yang makmur, namun dalam menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat, mereka lebih mementingkan dirinya sendiri tanpa mempedulikan apa yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat khususnya rakyat kecil yang sedang menunggu janji-janji politiknya. Bahkan sebagai sosok yang mempunyai super power, wakil

 

rakyat berusaha untuk menstabilkan anggapan-anggapan miring dalam menunjang kredibilitas seorang elit politik, hal tersebut dilakukan dengan cara menangkis isu-isu politik seperti tuntutan dinaikannya tunjangan komunikasi, rumah dinas mewah, dan kenaikan gaji yang sesuai dengan tuntutan mereka. Pada kenyataannya rakyat belum menerima kemerdekaannya, hanya para elit politik saja yang telah merasakannya. Hal ini dibuktikan dengan masih ada dan bahkan masih banyak kebodohan, kemiskinan, dan pengangguran. Demokrasi yang seharusnya berpijak pada kebebasan dan kesejahteraan masih belum tercapai hingga kini.

Wakil rakyat dengan segala fasilitas yang telah diberikan, telah terbuai oleh nikmatnya jabatan dan kekuasaan. Memanfaatkan kekuasaan yang mereka miliki, mereka seakan lupa dengan tugas dan amanah yang menjadi tanggung jawab utamanya. Disisi lain, rakyat merasa hanya diberi janji yang tak pasti, kesejahteraan dan kehidupan yang layak belum mereka dapatkan melainkan rasa sakit hati dan kekecewaan yang dituai karena melihat para wakil rakyat ”menari-nari” riang gembira diatas panggung jabatannya tanpa mempedulikan nasib rakyat. Fenomena ini menggambarkan kurangnya perhatian wakil rakyat akan kesejahteraan taraf hidup rakyat yang masih dibawah rata-rata garis kemakmuran dari sebuah negara.

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan interpretasi dari gambar karikatur editorial clekit pada edisi Selasa, 17 Agustus 2010 yang dimuat surat kabar Jawa Pos diperoleh kesimpulan, Wakil Rakyat dengan segala fasilitas yang telah diberikan kepada mereka, mereka telah terbuai oleh nikmatnya jabatan dan kekuasaan. Memanfaatkan kekuasaan yang mereka miliki, mereka seakan lupa dengan tugas dan amanah yang menjadi tanggung jawab utamanya. Disisi lain, rakyat merasa hanya diberi janji yang tak pasti, kesejahteraan dan kehidupan yang layak belum mereka dapatkan melainkan rasa sakit hati dan kekecewaan yang dituai karena melihat para wakil rakyat ”menari-nari” riang gembira diatas panggung jabatannya tanpa mempedulikan nasib rakyat. Fenomena ini mengisyaratkan bahwa betapa tidak pedulinya para wakil rakyat terhadap hak-hak rakyat yang seharusnya layak didapatkan oleh rakyat dan kurangnya perhatian dari wakil rakyat akan kesejahteraan taraf hidup rakyat yang masih dibawah rata-rata garis kemakmuran dari sebuah negara. Serta kurang seimbangnya kewajiban rakyat yang dituntut oleh wakil rakyat terhadap hak-hak yang seharusnya menjadi milik rakyat.

5.2. Saran

Munculnya gambar karikatur yang dibentuk dengan konsep-konsep yang dapat memercikkan suatu ultimasi pada sasaran yang dituju oleh tampilan gambar karikatur tersebut khususnya gambar Karikatur Editorial Clekit pada Edisi Selasa, 17 Agustus 2010 yang dimuat surat kabar Jawa Pos dapat menjadi penggerak hati pemerintah agar lebih dewasa dalam menghadapi isu-isu politik dan mendahulukan problem rakyat seperti kesejahteraan masyarakat yang seharusnya lebih penting daripada mementingkan isi perutnya sendiri. Kemerdekaan atau kebebasan yang ada harus dapat mewujudkan kesejahteraan rakyat dengan pemerataan pembangunan dibidang sosial dan ekonomi.

Diharapkan Wakil Rakyat atau para elit politik dikeseluruhan sistem struktur organisasinya dapat memberikan solusi terbaik baik untuk dirinya sendiri maupun untuk rakyat demi terciptanya negara yang bersih dari kejahatan korupsi, dan terciptanya masyarakat yang adil dan sejahtera.