• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA

C. Komponen Sosial Ekonomi

1. Kesempatan Kerja

Tenaga kerja adalah penduduk yang telah memasuki usia kerja yang

mencakup orang yang sudah atau sedang bekerja, yang sedang mencari

pekerjaan dan yang melakukan kegiatan yang lain (seperti bersekolah atau

mengurus rumah tangga). Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang

paling istimewa, karena terkait dengan diri manusia yang melakukan

pekerjaan itu. Hasil pekerjaan berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh

manusia itu, namun adanya pekerjaan itu sendiri juga penting. Dimana

manusia membutuhkan pekerjaan untuk bisa hidup dan mengembangkan diri

dalam kehidupan dilingkungan dimana dia tinggal. Di Indonesia salah satu

masalah pokok yang dihadapi salah satunya adalah menciptakan lapangan

pekerjaan atau kesempatan kerja untuk menampung semua tenaga kerja yang

Menurut T. Gilarso (1992:73), kesempatan kerja adalah kesempatan

seseorang untuk mendapatkan suatu pekerjaan yang sesuai dengan bakat,

kecakapan dan pendidikannya. Selain itu Mubyarto (1988: 24), juga

mengungkapkan hal yang serupa bahwa kesempatan kerja adalah peluang atau

kesempatan bagi penduduk untuk mendapatkan pekerjaan yang dapat

memberikan penghasilan atau pendapatan. Menurut batasan yang diberikan

olehnya kesempatan kerja atau peluang kerja adalah jumlah tenaga kerja yang

dapat dipekerjakan dalam suatu usaha. Kesempatan kerja adalah jumlah

lapangan yang tersedia bagi masyarakat baik yang telah ditempati maupun

jumlah lapangan kerja yang masih kosong. Kesempatan kerja menggambarkan

lapangan kerja di masyarakat, oleh karena itu sering diartikan sebagai

permintaan akan tenaga kerja di pasar tenaga kerja.

1). Kesempatan Kerja Penuh ( Full Employment)

Full employment adalah keadaan yang terjadi di perekonomian yang

ditandai oleh semua orang yang mampu dan bersedia untuk bekerja, baik

yang dipekerjakan maupun mempunyai kesempatan untuk bekerja. Ini

ditandai oleh jumlah pekerjaan yang tersedia atau kesempatan kerja yang

sama besarnya dengan atau melebihi jumlah orang-arang yang mencari

pekerjaan. Jadi, setiap pekerja yang mencari pekerjaan baik itu lulusan

yang baru lulus atau pekerja yang mencari pekerjaaan baru dapat

2). Kesempatan Kerja yang Berkurang (Under Employment)

Hal ini terjadi apabila jumlah lapangan kerja tidak cukup menampung

banyaknya tenaga kerja. Under employment juga bisa terjadi di

negara-negara maju, seperti sering terjadi di negara-negara- negara-negara industri.

2. Kesempatan Berusaha

Peluang berusaha berbeda dengan peluang kerja, perbedaannya sejajar

dengan perbedaan antara berusaha dengan bekerja dan antara pengusaha

dengan pekerja. Mengenai pekerja biasanya meliputi bidang, jenis, tempat

serta waktu bekerja lebih tertentu, dan mengenai pekerja hubungan kerjanya

lebih berbentuk vertikal.

Mubyarto dkk (1985: 437), mengatakan kesempatan berusaha dapat

diartikan sebagai kesempatan atau peluang bagi masyarakat untuk

menciptakan lapangan usaha baru, dikelola sendiri ataupun dibantu orang lain,

sehingga peluang untuk membuka usaha baru di daerah pedesaan akan

menambah kesempatan kerja bagi masyarakat pedesaan. Menurut Mubyarto

(1985: 234), dalam berusaha seseorang diberi wewenang untuk memiliki

bidang usahanya sehingga pengusaha lebih bersifat mandiri serta hubungan

antara pengusaha lebih bersifat tradisional.

3. Pendapatan dan Konsumsi

Pendapatan dalam hidup ini erat sekali hubungannya dengan

penghasilan, bahkan terkadang sulit untuk membedakannya atau bisa dibilang

penghasilan adalah setiap hasil yang diperoleh dari kegiatan usaha tertentu,

misalnya gaji yang diperoleh dari bekerja. Sedangkan definisi pendapatan

adalah suatu penghasilan yang diperoleh dalam jangka waktu tertentu,

misalnya bunga dari hasil tabungan di bank. Menurut Biro Pusat Statistik,

pendapatan dapat dibedakan menjadi 3 bentuk, yaitu pendapatan berupa uang,

pendapatan berupa barang, dan pendapatan lain- lain dalam bentuk penerimaan

uang dan barang. Pendapatan berupa uang adalah segala penghasilan berupa

uang yang sifatnya regular/tetap dan diterima sebagai balas jasa. Pendapatan

berupa barang adalah semua penghasilan yang sifatnya regular/tetap, akan

tetapi selalu berbentuk balas jasa dan diterima dalam bentuk barang dan jasa.

Untuk lain- lain penerimaan uang dan barang yang dipakai sebagai pedoman

adalah segala penerimaan yang bersifat transfer atau redistribusi dan biasanya

membawa perubahan dalam keuangan rumah tangga. Penerimaan yang berupa

transfer ini meliputi penjualan barang-barang ya ng dipakai, pinjaman uang,

hasil undian, warisan, kiriman uang dan lain- lain.

Menurut Sumardi (1982: 13) ketiga bentuk pendapatan tersebut dapat

dirinci dalam kategori sebagai berikut:

a. Penghasilan berupa uang

1. Dari gaji dan upah yang diperoleh seperti kerja pokok, kerja sampingan,

dan kerja lembur.

3. Pendapatan dari investasi yaitu pendapatan yang diperoleh dari hak

milik tanah.

4. Dari keuntungan sosial yaitu pendapatan yang diperoleh dari kerja.

b. Pendapatan berupa barang

-Barang pembayaran upah/gaji yang berupa beras, transportasi,

perumahan, rekreasi.

-Bagian yang diproduksi dan dikonsumsi dirumah antara lain pemakaian

barang yang diproduksi di rumah, sewa yang seharusnya dikeluarkan

terhadap rumah sendiri.

Berbeda dengan pendapat Idrus (1989: 74) yang mengatakan bahwa

pendapatan keluarga adalah jumlah pendapatan berupa uang, barang, ataupun

jasa yang dinyatakan dengan nilai uang oleh anggota rumah tangga yang

bekerja.

Menurut T. Gilarso (1992: 63) pendapatan keluarga dapat bersumber pada :

1). Wiraswasta (usaha sendiri) seperti berdagang, menjalankan perusahaan

sendiri atau membuat kerajinan, maupun dalam menggarap sawah.

2). Bekerja pada orang lain, misalnya bekerja diperusahaan sebagai pegawai

atau karyawan (baik swasta maupun pemerintah).

3). Hasil dari milik, misal mempunyai rumah untuk disewakan atau

dimanfaatkan untuk kost, memiliki tanah atau sawah untuk disewakan,

Dalam masyarakat dewasa ini orang mendapat penghasilan dalam

bentuk uang. Sehubungan dengan itu maka penghasilan dapat dibedakan

menjadi dua, yaitu penghasilan nominal/money income dimana jumlah rupiah

yang diterima dan penghasilan nyata/real income yaitu jumlah barang yang

dapat dibeli dengan sejumlah uang tertentu (atau dapat dinilai dengan uang).

Arti konsumsi secara umum adalah pemakaian (barang-barang hasil

industri, bahan makanan dan sebagainya). Konsumsi dapat diartikan sebagai

bagian pendapatan rumah tangga yang digunakan untuk membiayai pembelian

aneka barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dalam praktek,

besarnya konsumsi tergantung dari naik turunnya pendapatan suatu keluarga.

Partadireja (1990), mengartikan bahwa konsumsi selalu berhubungan dengan

tingkat pendapatan, apabila pendapatan meningkat maka konsumsi akan

meningkat, sebaliknya jika pendapatan menurun maka konsumsi juga akan

menurun.

Pengeluaran untuk konsumsi setiap keluarga tidak selalu sama

besarnya, karena dari kur un waktu ke waktu akan selalu berkembang.

Besarnya jumlah pengeluaran konsumsi keluarga tergantung dari banyak

faktor seperti: besarnya jumlah penghasilan yang masuk, besarnya jumlah

anggota dan umur keluarga, tingkat harga kebutuhan-kebutuhan hidup, taraf

pendidikan keluarga dan status sosialnya, kebijaksanaan atau ketidak

Dari semua hal tersebut diatas besar kecilnya penghasilan adalah

faktor yang terpenting. Semakin besar penghasilan keluarga, semakin besar

pula jumlah pengeluarannya, sebaliknya semakin kecil penghasilan maka

pengeluarannya otomatis juga akan kecil.

4. Perubahan Lapangan Kerja

Dampak dari pembangunan suatu tempat wisata otomatis akan

memberikan lapangan pekerjaan baru secara langsung maupun tidak langsung.

Kehadiran pariwisata pada dasarnya dapat membuka peluang kerja bagi

masyarakat. Semakin banyak wisatawan berkunjung, semakin banyak pula

jenis usaha yang tumbuh sehingga semakin luas pula lapangan kerja tercipta,

dengan demikian pariwisata mempunyai potensi besar dalam menyediakan

lapangan pekerjaan.

Perubahan itu tidak selalu menguntungkan bagi masyarakat sekitar

secara umum, salah satu contoh kebanyakan penduduk baik tua maupun muda

menjadi enggan untuk bekerja lagi pada bidang pertanian, yang mana sudah

menjadi andalan mata pencaharian mereka dari dahulu. Mereka akan lebih

bangga bila mencoba pekerjaan diluar kebiasaan mereka, baik menjadi

pedagang atau sopir angkutan, pegawai dan lain- lain, walaupun

5. Curahan Kerja

a) Pengertian curahan waktu atau jam kerja.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( dalam Suyatmi, 1998,

hal.12), definisi jam kerja adalah waktu yang dijadwalkan bagi pegawai

dan sebagainya untuk bekerja. Sedangkan untuk Kamus Istilah Ekonomi (

dalam Suyatmi, 1998, hal. 12), definisi jam kerja adalah ukuran untuk

menghitung lamanya karyawan untuk dalam melaksanakan pekerjaannya.

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa jam kerja

adala h banyaknya waktu yang digunakan seseorang dalam bekerja untuk

melaksanakan kegiatan dalam rangka memperoleh penghasilan atau

pendapatan.

b) Faktor- faktor yang mempengaruhi curahan waktu/ jam kerja

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi curahan waktu atau jam

kerja. Menurut Suroto ( dalam Suyatmi, 1998) jam kerja dipengaruhi oleh:

1) Iklim atau musim

2) Jenis pekerjaan

3) Tingkat pendapatan yang telah diterima

Antara jam kerja dan pendapatan saling berhubungan, terutama bagi

mereka yang pekerjaannya tidak memerlukan pendidikan dan ketrampilan

khusus. Banyaknya jam kerja juga dijadikan indikator untuk mene ntukan

apakah seseorang dikatakan sebagai seorang yang menganggur atau

bekerja kurang dari 35 jam seminggu, maka orang tersebut dapat

dikatakan sebagai setengah pengangguran tidak kentara.

c) Pengaruh curahan waktu/ jam kerja terhadap pendapatan masyarakat.

Jam kerja besar pengaruhnya terhadap pendapatan, seperti yang telah

dikemukakan Simanjuntak (dalam Suyatmi, 1998), bahwa pendapatan

keluarga yang bersangkutan sebanding dengan jumlah waktu yang

disediakan untuk bekerja. Jika waktu luang yang dimiliki banyak maka

pendapatan seseorang itu akan berkurang, dengan demikian curahan jam

kerja bisa berpengaruh terhadap pendapatan yang diterima seseorang.

6. Hubungan Input Output antar Sektor

Ilmu ekonomi pertanian adalah termasuk dalam ilmu- ilmu kemasyarakatan

(social sciences), ilmu yang mempelajari perilaku dan upaya serta antar

manusia (Mubyarto, 1987). Perilaku yang dipelajari bukanlah hanya mengenai

perilaku manusia secara sempit, misalnya perilaku petani dalam kehidupan

pertaniannya, tetapi mencakup persoalan ekonomi lainnya yang langsung

maupun tidak langsung berhubungan dengan produksi, pemasaran, dan

konsumsi atau kelompok-kelompok petani. Pertanian dalam arti luas

mencakup antara lain pertama pertanian rakyat atau disebut pertanian dalam

arti sempit, kedua perkebunan (termasuk didalamnya perkebunan rakyat dan

perkebunan besar), ketiga kehutanan, keempat peternakan, kelima perikanan

(perikanan darat dan perikanan laut). Pertanian Indonesia adalah pertanian

langsung dipengaruhi garis katulistiwa. Ada dua hal penting ya ng memberi

corak pertanian Indonesia, pertama bentuknya yang sebagai kepulauan, dan

kedua topografinya yang bergunung- gunung. Negara Indonesia termasuk

negara agraris, artinya pertanian memegang peranan penting dari keseluruhan

perekonomian nasional. Hasil dari pertanian di Indonesia sebagiannya adalah

pertanian rakyat itu antara lain beras, palawija (jagung, kacang, ubi- ubian) dan

tanaman holtikultura seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Hasil pertanian

yang menjadi komoditi utama rakyat Indonesia adalah padi, karena padi

merupakan makanan pokok negara ini dan sangat dibutuhkan oleh semua

lapisan masyarakat Indonesia. Hasil pertanian dibutuhkan oleh berbagai segi

kehidupan, termasuk pada sektor pariwisata. Mereka menjual makanan dari

hasil pertanian seperti beras untuk lauk, maupun sayur-sayuran yang diolah

terlebih dahulu sebelum dijual kepada masyarakat.

D. Kerangka Berpikir

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa pembangunan berarti perubahan,

perubahan disini karena dikehendaki dan telah direncanakan. Uraian di atas

menunjukkan bahwa objek wisata rohani katolik berdampak terhadap

perekonomian masyarakat sekitar dan tidak dapat dipisahkan dari segi sosial

maupun lingkungan hidup yang ada disekitarnya. Pembangunan lingkungan

sekitarnya sebaiknya harus lebih efisien dilihat dari segi ekonomi, adil dan

daya dan lingkungan demi kesejahteraan masa kini dan generasi yang akan

datang.

Pembangunan di segala bidang harus memperhatikan dampak kemanusiaan

yang menjadi permasalahan hidup manusia, dimana menyangkut kemiskinan,

kelaparan ketidaksehatan, pendidikan yang akhirnya merambat ke pendapatan,

konsumsi, dan kesejahteraan manusia itu sendiri. Selo Soemardjan mengatakan

bahwa perubaha n sosial menyangkut segala perubahan-perubahan pada lembaga

kemasyarakatan didalam suatu masyarakat (Widada, 1984: 165).

Secara singkat pembangunan obyek wisata rohani Katolik tersebut berdampak

kepada kehidupan perekonomian masyarakat melalui :

1) Pengembangan perekonomian

Yang dimaksudkan di sini adalah dalam bentuk munculnya peluang

kesempatan kerja baik langsung maupun yang tidak langsung. Meningkatnya

kemajuan suatu usaha akan meningkatkan pendapatan masyarakat, yang

membawa masyarakat kepada kehidupan ya ng lebih baik.

2) Pengembangan sarana fisik

Maksudnya adalah perubahan dalam wujud fisik yang berupa perubaha n jalan

yang menjadi lebih baik, desa menjadi lebih ramai, munculnya

bangunan-bangunan baru, peneranga n listrik dan adanya pesawat telepon.

3) Pengembangan pendidikan

Semakin terbukanya kesemp atan bagi anak-anak di daerah sekitar untuk

tua untuk menyekolahkan anak-anaknya bahwa betapa pentingnya pendidikan

dalam usaha mendapatkan pekerjaan.

Usaha-usaha yang harus dipahami dan menjadi tanggung jawab bersama

berbagai pihak yang terkait, seperti para pengelola, pemerintah selaku pengambil

keputusan, serta warga masyarakat untuk menjaga dan melestarikan lingkungan

sekitar agar tetap terjaga dengan baik. Kondisi yang seimbang akan memberikan

dampak positif dan meningkatkan kesejahteraan manusia pada umumnya.

Perkembangan jaman telah membawa manusia dalam cara pandang, cara berpikir,

cara bekerja, dan cara menyelesaikan masalah serta cara pemenuhan kebutuhan

hidup yang ada dengan cara-cara sebelumnya, hal itu seperti yang dikemukakan

oleh Soedjais ( dalam Suharsih, 2004 ). Manusia berhak untuk mendapatkan

kehidupan yang lebih baik, oleh karena itu pembangunan yang terjadi pada masa

kini tidak boleh merugikan kebutuhan pembangunan itu sendiri serta kebutuhan

lingkungan generasi masa kini maupun masa yang akan datang. Untuk dapat

meminimalisasi dampak negatif sosial budaya dan ekonomi, kegiatan pariwisata

domestik harus diperkuat agar masyarakat lebih mengenal pariwisata dan

berperan aktif didalamnya. Inskeep (1986) berpendapat bahwa pariwisata harus

dikembangkan secara bertahap, jangan mengejutkan masyarakat lokal dengan

pembangunan pariwisata yang berskala besar, agar masyarakat punya cukup

waktu memahami dan beradaptasi dengan kegiatan pariwisata.

Aspek sosial menyangkut kesiapan masyarakat terhadap perubahan yang akan

pariwisata, sejauh mana peran para pengembang dalam mensosialisasikan setiap

kegiatan pariwisata kepada masyarakat setempat. Kehadiran pariwisata memberi

nilai tambah secara ekonomis disamping sebagai upaya pelestarian nilai-nilai

budaya dalam masyarakat yang hampir tidak pernah di ekspos ke dunia luar.

Pengembangan pariwisata akan berdampak positif bagi setiap anggota masyarakat

jika kehadirannya dipahami secara benar, desa yang dulunya sepi akan menjadi

ramai dengan adanya wisatawan.

E. Penelitian terdahulu

Dari beberapa penelitian sebelumnya, analisa tentang dampak perekonomian dari

suatu pembangunan mengarah pada perubahan yang positif pada masyarakat

sekitarnya.

1. Penelitian yang pertama

Judul : Dampak Sosial ekonomi Pembangunan waduk Batu Tegi Bagi

Masyarakat setempat.

Peneliti : Sudarmanto (2004)

Metode : peneliti menggunakan metode studi kasus yang sifat penelitiannya

expost facto.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pembangunan Waduk Batu Tegi

memberikan dampak positif bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat

• kesempatan kerja masyarakat setempat lebih banyak daripada sebelum adanya pembangunan Waduk Batu Tegi.

•Pendapatan dan konsumsi masyarakat setempat juga berubah menjadi lebih besar setelah adanya pembangunan Waduk Batu Tegi.

•Mobilitas masyarakat setempat juga menjadi lebih besar setelah adanya pembangunan Waduk Batu Tegi.

•Kesehatan masyarakat setempat juga berubah menj adi lebih baik setelah adanya pembangunan Waduk Batu Tegi.

•Kemiskinan masyarakat setempat berubah menjadi berkurang setelah adanya pembangunan Waduk Batu Tegi.

2. Penelitian yang kedua

Judul : Dampak Sosial Ekonomi Perkebunan Sosial Kelapa Sawit Bagi

Kesejahteraan Masyarakat Setempat.

Peneliti : Krismiyati (1998).

Peneliti menggunakan metode studi kasus, sifat penelitiannya expost facto.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa adanya proyek perkebunan

kelapa sawit memberikan dampak positif bagi kehidupan sosial ekonomi

masyarakat setempat, seperti :

•kesempatan usaha masyarakat setempat setelah ada proyek perkebunan kelapa sawit lebih banyak dari pada sebelum ada proyek perkebunan kelapa

•Kesempatan kerja masyarakat setempat setelah ada proyek perkebunan kelapa sawit lebih banyak dari pada sebelum ada proyek perkebunan kelapa

sawit.

•Pendapatan perkapita masyarakat setempat menjadi lebih besar dari pada sebelum ada proyek perkebunan kelapa sawit.

•Jumlah orang miskin setelah ada proyek perkebunan kelapa sawit lebih sedikit dari pada ketika sebelum ada proyek tersebut.

3. Penelitian yang ketiga

Judul : Pengaruh Berdirinya Kampus III Universitas Sanata Dharma Terhadap

Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Sekitarnya.

Peneliti : Hendarwan Sedyatmoko (2006)

Peneliti menggunakan metode studi kasus, sifat penelitiannya expost facto.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa adanya proyek pembangunan

Kampus III Universitas Sanata Dharma memberikan dampak positif bagi

kehidupan sosial ekonomi masyarakat sekitar, seperti :

•lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar lebih besar dari pada sebelum ada proyek pembangunan Kampus III Universitas Sanata Dharma.

•pendapatan perkapita masyarakat sekitar lebih besar dari pada sebelum ada proyek pembangunan Kampus III Universitas Sanata Dharma.

•jumlah orang miskin setelah ada proyek pembangunan Kampus III Universitas Sanata Dharma menjadi berkurang daripada sebelum ada proyek

•pendidikan masyarakat sekitar setelah ada proyek lebih baik dari pada sebelum ada proyek pembangunan Kampus III Universitas Sanata Dharma.

•hubungan interaksi sosial masyarakat sekitar lebih baik setelah ada proyek dari pada sebelum ada proyek pembangunan Kampus III Universitas Sanata

Dharma.

F. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan uraian dalam landasan teori, penulis mengajukan hipotesis yang

merupakan landasan sementara.

Hipotesis dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Pendapatan masyarakat sekitar meningkat setelah adanya obyek wisata rohani

Katolik.

2. Sektor pariwisata dapat menambah lapangan pekerjaan dan jumlah

pengangguran masyarakat sekitar menjadi berkurang daripada sebelum

adanya obyek wisata rohani Katolik.

3. Sektor pariwisata mampu memberikan kesempatan berusaha yang lebih baik

dibandingkan sektor yang lain.

4. Pada sektor pariwisata pedagang menggunakan input-input dari hasil

28

BAB III

METODE PENELITIAN

Dokumen terkait