HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3. Koordinasi Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara sebagai State Auxiliary Organ dalam Pengawasan Pelayanan Pendidikan di
4.3.4. Kesepakatan, Komitmen dan Insentif Koordinasi
Koordinasi biasanya dilakukan dalam bentuk perjanjian kerja sama. Dalam hal ini, perjanjian kerja sama yang digunakan oleh Ombudsman Sumatera Utara dalam pengawasan pendidikan bukan menggunakan MoU, namun hanya sebatas komitmen. Seringkali yang menjadi hambatan dalam merealisasikan kesepakatan tertentu adalah kurangnya komitmen dari para aktor yang terlibat dalam koordinasi yang dilaksanakan. Lemahnya tanggung jawab kemungkinan besar akan menyebabkan tujuan yang telah disepakati tidak tercapai. Oleh karena itu, letak pengambilan keputusan atas langkah yang harus dikerjakan ke depan demi terciptanya pelayanan pendidikan yang berkualitas perlu dilakukan oleh setiap stakeholder (pemangku kepentingan). Dalam hal ini, keputusan berdasarkan kesepakatan sebagai hasil dari koordinasi menjadi hal yang sangat penting.
Karena dengan begitu, tanggung jawab ataupun komitmen dari dalam diri individu akan muncul secara otomatis dan bukan dipaksa.
“Karena sifat koordinasi kita bukan tertulis atau dalam bentuk MoU tapi hanya dalam bentuk komitmen, jadi kalau selama ini kita lihat ya memang ada yang kesepakatannya berjalan, tapi ada juga yang tidak berjalan. Intinya tidak semuanya bisa berjalan dengan baik. Bisa saja di lapangan terjadi kecurangan-kecurangan, karena memang kita tidak bisa mengukur komitmen seseorang sebab tidak ada yang tertulis.
Berbeda halnya dengan kepolisian dan pertanahan. Kalau kepolisian dan pertanahan sudah ada MoU. Jadi khusus pendidikan kita koordinasinya sekedar berjumpa dengan mengundang mereka kesini, lalu kita semacam meminta komitmen mereka. Kalau penandatanganan semacam perjanjian tidak ada.”
(Edward Silaban, wawancara 11 Februari 2019)
Sejalan dengan keterangan yang diberikan oleh informan di atas, menunjukkan bahwa koordinasi terbaik hanya dapat dilakukan dengan
menggunakan MoU / perjanjian tertulis, karena begitu mengikat. Akan tetapi koordinasi pengawasan pelayanan pendidikan di Sumatera Utara oleh Ombudsman belum menggunakan MoU namun hanya mengharapkan komitmen dari setiap aktor yang berperan sehingga di lapangan masih terjadi kecurangan-kecurangan karena komitmen tidak pada dasarnya tidak dapat diukur.
Hal yang utama dalam hal ini adalah bahwa sekalipun tidak memiliki MoU, koordinasi Ombudsman Sumatera Utara dalam bidang pendidikan tetap menghasilkan kesepakatan. Kesepakatan-kesepakatan inilah yang pada akhirnya menjadi titik tolak bagi setiap aktor yang bersangkutan dalam membenahi pendidikan di Sumatera Utara berjalan sesuai standar nasional yang ada.
Suatu kesepakatan atau langkah lanjutan dari pertemuan koordinasi akan dapat terealisasi ketika ada komitmen dari para pelaksana (stakeholder) untuk tetap menjalankan apa yang menjadi keputusan bersama sampai semuanya tercapai. Komitmen disini adalah bentuk kesetiaan dan usaha besar demi terciptanya pelayanan publik yang baik dalam bidang pendidikan. Dalam hal ini, setiap stakeholder harus mengerjakan bagian/tugasnya masing-masing yang sudah diembankan padanya demi tercapainya tujuan bersama yang ingin dicapai apapun yang menjadi tantangannya. Dalam mengerjakan komitmennya, lembaga negara dan Ombudsman harus memegang beberapa prinsip dalam menindaklanjuti laporan/pengaduan dari masyarakat, diantaranya: keterbukaan, tidak berpihak, profesional, bertanggung jawab, dan adil.
Dalam pengawasan ujian misalnya, Ombudsman biasanya akan turun langsung ke sekolah, berhubungan langsung dengan kepala sekolah-kepala sekolah di beberapa daerah dengan tujuan tidak ada kecurangan. Namun
yang menjadi kelemahannya, karena koordinasi Ombudsman itu insidentil maka ada kemungkinan pelanggaran itu terjadi lagi. Sama halnya seperti menurut seorang asisten Ombudsman Sumatera Utara, bahwatidak semua kesepakatan yang telah diputuskan berlangsung dengan baik. Meskipun sudah ada komitmen, ketika di lapangan ternyata masih ada juga pelanggaran yang terjadi.
Kepala perwakilan Ombudsman Sumatera Utara mengatakan bahwa:
“Kan tidak semua mereka mau perubahan perbaikan pelayanan publik.
Ada saja oknum yang ingin mempertahankan keburukan itu, karena ada keuntungan yang didapatnya dari situ.” (Abyadi Siregar wawancara 11 Februari 2019)
Berdasarkan hal itu, kita tahu bahwa komitmen hanya menuntut kesadaran dan inisiatif dari setiap orang yang mengambil bagian dalam koordinasi tersebut bukan sesuatu yang dapat dipaksakan. Hal tersebut dikarenakan fakta bahwa ada keuntungan yang dapat diperoleh dari mempertahankan keburukan dalam pelayanan publik khususnya pendidikan, ternyata menyisakan oknum – oknum / aktor yang tidak dapat berpegang pada komitmen seorang pelayan publik yang mengabdi kepada bangsa dan negaranya. Hal ini apabila diteliti lebih jauh dapat dilihat bahwasanya koordinasi tanpa menggunakan MoU tidak terlalu efektif diterapkan bagi pelayanan pendidikan yang merupakan pelayanan serius di tengah bangsa Indonesia.
Tidak hanya bagi penyelenggara layanan pendidikan, Kedan Ombudsman juga memiliki tanggung jawab dalam menjalankan komitmen yang dimiliki.
Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan dengan beberapa Kedan Ombudsman, komitmen mereka diantaranya berkolaborasi dengan tanpa imbalan jasa demi terlaksananya perbaikan pelayanan publik. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh seorang informan, bahwasanya:
“Yang harus dipahami bahwa Kedan Ombusdman adalah individu-individu atau organisasi/lembaga sebagai mitra, mitra yang sejajar, bukan atasan dan bawahan, sehingga bukan bentukan atau “anak main” ombudsman, sehingga kemandirian dan integritas Kedan ombudsman atas peran dari kolaborasi hanya berfokus pada satu tujuan yakni perbaikan pelayanan public, bukan proyek atau perpanjangan tangan (anak buah). Memiliki komitmen untuk saling berkolaborasi tanpa beban pembiayaan atau imbalan jasa, ini yang paling penting dalam komunikasi relasi gerakan sosial.” (Rurita Ningrum, wawancara 28 April 2019)
Salah seorang Kedan Ombudsman dari elemen mahasiswa juga menanggapi hal yang sama. Menurutnya komitmen yang harus dimiliki oleh Kedan Ombudsman adalah nemiliki keinginan besar untuk penyadaran masyarakat/orang-orang yang ada di sekitar. Beliau mengatakan bahwasanya:
“Setidaknya berkomitmen untuk perbaikan pelayanan publik dimulai dari penyadaran orang-orang yang ada di sekitar. Pelayanan publik kan merupakan hal yang urgent. Karena mulai kita lahir, pelayanan publik itu dibutuhkan, gitu kan.
Seperti membuat akta kelahiran. Sejak lahir akta itu kan sudah harus ada, dan pelayanan itu tidak semua orang tahu. Di kampung saya misalnya, banyak sekali sebenarnya maladministrasi. Dan masyarakat, termasuk saya sebelum mengenal Ombudsman sama sekali tidak tahu harus kemana. Yang kita tahu selama ini solusinya cuma ada 1, ya bayar saja biar cepat.” (Adinda Zahra, wawancara 15 Maret 2019)
Keterangan beberapa informan diatas menunjukkan bahwasanya komitmen menjadi jawaban yang bisa diandalkan dalam mengatasi permasalahan pelayanan pendidikan di Sumatera Utara untuk sementara waktu. Pengalaman dan harapan untuk menjadikan pendidikan di Sumatera Utara dapat semakin mencerdaskan kehidupan bangsa serta memberikan keadilan kepada masyarakat memiliki kekuatan untuk mematahkan kekuasaan yang otoriter dan tidak memihak kepada rakyat. Penyadaran masyarakat adalah hal besar yang harus dicapai terlebih dahulu demi terciptanya pengawasan yang efektif.
Dalam menjalankan fungsi pengawasannya, Ombudsman perwakilan Sumatera Utara Sebagai lembaga yang memiliki karakteristik memberi pengaruh (magistrature of influence) dan bukan pemberi sanksi (magistrature of sanction)
tidak dapat memberikan hukuman bagi aktor/pihak yang tidak menjalankan kesepakatan yang telah dibuat.
“Karena kita koordinasi, kita tidak sampai memberi sanksi. Koordinasi dalam bidang ini kan sifatnya sukarela karena tidak diikat dengan MoU. Jadi hanya berupa komitmen saja. Ketika komitmen itu tidak mereka jalankan ya tidak ada sanksi. Hanya kami menganggap bahwa mereka tidak perduli dengan pendidikan, dan komitmen yang disampaikan tidak sesuai dengan di lapangan. Itu saja. Kalau sanksi secara administratif atau hukum kami belum pernah sampai kesitu. (Edward Silaban, wawancara 11 Februari 2019)
Selain sanksi yang tidak diberikan kepada yang tidak melakukan komitmennya, insentif berupa hadiah atau sejenisnya juga bukan merupakan hal yang diberikan oleh Ombudsman kepada orang yang menjalankan komitmen itu dengan baik. Pasalnya, lembaga Ombudsman ini hanya akan mengapresiasi sebagai bentuk penghargaan kepada mitra kerjanya atas kepeduliannya terhadap pendidikan. Hal tersebut juga disampaikan oleh Asisten Ombudsman bidang pencegahan:
“Memberikan insentif semacam penghargaan juga belum. Paling kita hanya mengapresiasi. Seperti kemarin kasus siswa illegal, kami hanya mengapresiasi Dinas Pendidikan yang cepat dan tanggap terhadap laporan pendidikan. Namun untuk memberikan hadiah atau apa tidak pernah.” Edward Silaban, wawancara 11 Februari 2019)
Hal iu sejalan dengan yang dikatakan oleh salah seorang Kedan Ombudsman:
“Tidak ada insentif karena yang terpenting dari relasi kolaborasi FITRA Sumut bersama Ombusdman selama ini adalah saling menjaga integritas, focus pada perbaikan pelayanan public, dan rencana bersama untuk perbaikan infrastruktur yang ramah disabilitas.” (Rurita Ningrum, wawancara 28 April 2019) Secara keseluruhan, kita dapat melihat bahwasanya koordinasi Ombudsman perwakilan Sumatera Utara yang tidak memiliki MoU tidak terlalu efektif karena pada dasarnya komitmen tidak mengikat dan tidak dapat dipaksakan. Untuk merevolusi pendidikan yang terkadang tidak memihak kepada rakyat dan belum bisa merealisasikan cita-cita Indonesia, perlu strategi yang lebih baik dari sekedar
mengharapkan komitmen dari aktor yang berperan dalam koordinasi untu mengawasi pendidikan di Sumatera Utara,