TRANSKIP WAWANCARA
4. Kesepakatan, Komitmen dan Insentif
Apakah selama Ombudsman berkoordinasi dengan lembaga berkaitan selalu
ada kesepakatan yang dihasilkan dari pertemuan yang dilaksanakan? Dan berdasarkan kesepakatan tersebut adakah yang tidak bisa dicapai?
Kepala Keasistenan Pemeriksaan Laporan (PLH/ Pelaksana Harian) :
“Kesepakatan pasti ada. Tapi ada beberapa hal yang dalam penyelesaiannya harus menunggu waktu agar dapat terselesaikan. Contohnya masalah guru honor tahun lalu. Dalam pertemuan itu pihak Gubernur menyampaikan bahwa merekalah yang mencari payung hukum untuk mengeluarkan anggaran bagi guru honor, maka diberikan termin waktu. Jadi memang dipertemuan itu nggak harus terjadi
pemecahan masalah langsung. Sedangkan apabila ada yang disepakati dalam perte muan, maka Ombudsman tinggal memonitoring apakah kesepakatan dilaksanakan atau tidak. Seperti masalah pungutan sekolah. Itu sampai sekarang kan masih belum selesai, makanya tetap dimonitoring.
Asisten Bidang pencegahan dan mengangani laporan terkait pendidikan : “Karena sifat koordinasi kita bukan tertulis atau dalam bentuk MoU tapi hanya dalam bentuk komitmen, jadi kalau selama ini kita lihat ya memang ada yang kesepakatannya berjalan, tapi ada juga yang tidak berjalan. Intinya tidak semuanya bisa berjalan dengan baik. Bisa saja di lapangan terjadi kecurangan-kecurangan, karena memang kita tidak bisa mengukur komitmen seseorang sebab tidak ada yang tertulis.
Berbeda halnya dengan kepolisian dan pertanahan. Kalau kepolisian dan pertanahan sudah ada MoU. Jadi khusus pendidikan kita koordinasinya sekedar berjumpa dengan mengundang mereka kesini, lalu kita semacam meminta komitmen mereka. Kalau penandatanganan semacam perjanjian tidak ada.
Apakah selama berkoordinasi ada sanksi bagi yang tidak menjalankan
kesepakatan, dan adakah insentif bagi yang menjalankan kesepakatan yang dibuat?
Kepala Keasistenan Pemeriksaan Laporan (PLH/ Pelaksana Harian) :
“Ombudsman kan sebenarnya pemberi saran. Sedangkan kalau masalah tambahan atau insentif, kita belum ada memberikan insentif seperti itu.
Asisten Bidang pencegahan dan mengangani laporan terkait pendidikan : “Karena kita koordinasi, kita tidak sampai memberi sanksi.
Koordinasi dalam bidang ini kan sifatnya sukarela karena tidak diikat dengan MoU. Jadi hanya berupa komitmen saja. Ketika komitmen itu tidak mereka jalankan ya tidak ada sanksi. Hanya kami menganggap bahwa mereka tidak perduli dengan pendidikan, dan komitmen yang disampaikan tidak sesuai dengan di lapangan. Itu saja. Kalau sanksi secara administratif atau hukum kami belum pernah sampai kesitu.
Memberikan insentif semacam penghargaan juga belum. Paling kita hanya mengapresiasi. Seperti kemarin kasus siswa illegal, kami hanya mengapresiasi Dinas Pendidikan yang cepat dan tanggap terhadap laporan pendidikan. Namun untuk memberikan hadiah atau apa tidak pernah.
5. Kontinuitas Perencanaan
Bagaimana umpan balik masyarakat selama ini menanggapi kinerja
Ombudsman?
Kepala Perwakilan Ombudsman : “Masyarakat tentu senang. Orangtua Arnita yang masuk IPB kemarin misalnya, karena senang beasiswa anaknya bisa keluar lagi, mereka datang ke kantor mau memberikan duku. Kami tidak terima itu. Karena itu tidak boleh. Padahal dia ikhlas. Itu feedback nya kan. Masyarakat senang. Ada lagi contoh lain, karena puas dia anaknya masuk di SMA 1 setelah kita bantu, karena sempat ditolak dan dipersulit waktu itu padahal seharusnya anak tersebut masuk ke sekolah itu sesuai prosedur yang ada. Karena senangnya orangtuanya datang kesini, menangis. Mau ngasi uang nggak boleh. Disuruh makan ke warungnya pun tidak boleh. Nah, itu dia”. Intinya masyarakat senang
dengan adanya Ombudsman. Karena apabila pergi ke lembaga-lembaga lain, akan habis uangnya. Di sini mana ada uangnya, karena tidak boleh menerima uang.”
Kepala Keasistenan Pemeriksaan Laporan (PLH/ Pelaksana Harian) :
“Dua tahun yang lalu, ada yang tidak bisa mendaftar di suatu sekolah karena masalah uang baju. Ketika kita limpahkan melalui media, pada akhirnya ada yang membantu dengan memberikan baju dan memenuhi persyaratan itu.
Asisten Bidang pencegahan dan mengangani laporan terkait pendidikan : “Selama ini yang kita lihat dari komentar masyarakat di media sosial ataupun surat kabar, mereka sebenarnya turut mendukung karena mereka tidak tau mau mengadu kemana. Intinya dengan adanya Ombudsman mereka sangat senang, walaupun kami harus terus membenahi diri, karena selama ini masyarakat tidak mengetahui Ombudsman itu sejauh mana. Dan melalui kedan Ombudsman tadi pun masyarakat sangat mengapresiasi kinerja Ombudsman karena Kedan Ombudsman turut memberitahu kepada masyarakat mengenai pelayanan publik.
Adakah kesepakatan yang diubah ditengah jalan?
Kepala Keasistenan Pemeriksaan Laporan (PLH/ Pelaksana Harian) : Suatu kesepakatan yang diubah itu kan sebenarnya kalau ada MoU. Sedangkan kita belum pernah membuat MoU antara Ombudsman dengan Lembaga Pendidikan. Jadi ya sekedar kesepakatan sesuai berita acara pertemuan itu saja.
Apa saja kendala yang dihadapi oleh Ombudsman dalam melaksanakan koordinasi selama ini?
Kepala Perwakilan Ombudsman: “Kalau untuk kendala tentu ada ya.
Sebenarnya kan tidak semua pihak menginginkan perubahan. Ada saja oknum yang ingin mempertahankan kedudukannya, karena pasti ada keuntungan yang didapatnya dari situ. Sebab kalau dirubah, akan ada yang hilang. Uang samping hilang. Tapi ya ketertutupan mereka, itulah tantangan kita. Hal itu tidak mudah.
Tapi kita akan terus intensif, dan mengajak semua pihak. Jadi kita tidak hanya berkoordinasi dengan lembaga pendidikan, tetapi juga dengan lembaga-lembaga masyarakat untuk sama-sama mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik pendidikan itu. LSM misalnya, mahasiswa, media, komunitas-komunitas. Kita bangun jaringan kita untuk turut mereka terlibat dalam pengawasan pelayanan publik. Menurut saya pengawasan pelayanan publik tidak cukup hanya dilakukan ole Ombudsman, makanya koordinasi itu penting. Tidak hanya dengan lembaga-lembaga yang kita awasi, tapi juga dengan masyarakat sipil lain. Intinya, harus ikut mereka terlibat dalam proses pengawasan itu.
Asisten Bidang pencegahan dan mengangani laporan terkait pendidikan : “Kendala yang kita hadapi hanya pada kemauan saja sebenarnya.
Kemauan untuk mengambil sikap atau komitmen untuk memperbaiki pelayanan publik.”
Asisten Ombudsman bidang : “Yang pertama itu sebenarnya masalah anggaran. Anggaran Ombudsman itu kecil; sementara kita dituntut untuk mengawasi provinsi. Kita kan yang namanya koordinasi pasti butuh anggaran.
Misalnya kita mau kunjungan ke suatu daerah kan perlu yang namanya transportasi dan segala macam lah. Jadi karena masalah anggaran, kita harus bergilir; dalam artian mana yang terpenting dulu diutamakan. Jadi kurang
menyeluruh. Di sumut kan kita ada 33 kabupaten/kota. Ada memang yang masyarakatnya itu sama sekali belum dijamah Ombudsman. Ada juga yang sangat minim sekali laporan yang berasal dari daerah tersebut. Ya mau gimana.
Contohnya saya ada menangani kasus di padang Lawas. Itu kan jauh tu daerahnya. Kalau buat surat-buat surat aja kan kurang menjawab. Maksudnya kita kan lebih enak tatap muka. Kadang kalau kita undang terlapornya ada kemungkinan tidak datang. Jadi kan kita bisa pilih opsi supaya kita yang melakukan kunjungan. Nah disaat ita mau melakukan kunjungan, itu tadi keterbatasan kita yang menjadi kendala.
Nah selain itu juga masalah SDM. Itu pasti. Kamu juga bisa lihat di kantor asisten hanya berapa orang. Kendala lainnya, ada beberapa daerah yang kepala daerah dan penyelenggara pelayanan publiknya yang tidak kooperatif. Bisa dibilang ogah-ogahan dan tidak mementingkan koordinasi dengan Ombudsman.
Karena belum kenal atau karena hal lain belum tau juga. Saya pernah kunjungan ke daerah Asahan, waktu kami masuk ke ruangannya mereka tidak perduli karena mereka fikir Ombudsman itu seperti rakyat biasa. Tapi setelah kami menjelaskan tentang kewenangan Ombudsman, baru mereka respon dengan baik.
Tapi kadang kayak di Kota medan, ada juga beberapa dinas yang tidak kooperatif. Tidak mungkin tidak tahu mengenai Ombudsman kalau di Kota Medan kan. Contohnya seperti BPN Medan, mereka kurang respek. Padahal apabila kita ke BPN provinsi, bagus sekali koordinasinya. Kembali ke oknumnya sih memang. Tidak semua bisa kooperatif dalam koordinasi. Tujuan kita koordinasi kan untuk membangun sinergi, supaya lebih baik. Gitulah kira-kira.”
TRANSKIP WAWANCARA
A. Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana koordinasi Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara sebagai State Auxiliary Organ dalam Pengawasan Pelayanan Bidang Pendidikan di Sumatera Utara.
B. Kategori : Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara C. Pertanyaan Panduan
a. Identitas Diri:
Informan 5
Nama : Ilhamudin
Jabatan : Staff Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara Waktu Wawancara : 10 Juli 2019
Informan 6
Nama : Elisabeth Simanjuntak
Jabatan : Kasubbag Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara
Waktu Wawancara : 21 Februari 2019
b. Pertanyaan Penenlitian
1. Bagaimana koordinasi antara Dinas Pendidikan dengan Ombudsman Sumatera Utara dalam mengawasi pelayanan bidang pendidikan selama ini?
Kasubbag Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara: “Ombudsman biasanya muncul ketika ada permasalahan. Selama saya menjabat mulai tahun 2017, koordinasi kami masih dalam menindak lanjuti masalah PPDB online kemarin. Kita jadi partner lah gitu. Menjawab masyarakat dan bertemu dengan
orang tua siswa pun, kita bersama Ombudsman. Sampai dimaki-maki pun kami sama.”
Staff Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara: “Sebelum mengadakan PPDB online misalnya, kita semua instansi yang berkaitan itu berkumpul, bekerjasama, membentuk semacam panitia untuk mengadakan PPDB online. Kita semua tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Baik itu kepolisian, Ombudsman, kejaksaan, dan instansi yang berkaitan dengan itu”.
2. Seberapa pentingkah Ombudsman Sumatera Utara bagi Dinas Pendidikan secara khusus?
Kasubbag Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara: “Kalau menurut saya kinerja Ombudsman itu bagus. Kita bersyukur ada Ombudsman. Tanpa mereka kemarin kita tidak akan tahu ada kesalahan di masyarakat (mengenai kasus PPDB). Selain itu, kita akui memang Ombudsman melakukan tugasnya dengan data. Tidak semua laporan mereka tanggapi. Intinya kalau saya menilai Ombudsman ini bagus sih”.
Staff Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara: “Koordinasi dengan Ombudsman itu sangat penting. Karena tanpa Ombudsman, Dinas ini tidak bisa bekerja dengan baik, sebab tidak ada yang memantau bagaimana kinerja yang lain. Siapa yang kita harapkan.
3. Apakah dalam berkoordinasi dengan Ombudsman ada jadwal dan waktu tertentu yang ditetapkan?
Staff Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara: “Tidak ada jadwal tertentu, karena kita memang sudah terikat kerjasama. Kalau kerjasama itu kan tidak harus ada janji. Namun karena kita sudah ada kerja sama yang baik, jadi kapan ada perlu ya datang saja. Misalnya ingin mencari informasi tertentu ketika ada pengaduan dari masyarakat. Kapan mereka datang, kita terima. Kapan kita datang, ya oke. Jadi tidak ada suatu penentuan jadwal”
TRANSKIP WAWANCARA
A. Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana koordinasi Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara sebagai State Auxiliary Organ dalam Pengawasan Pelayanan Bidang Pendidikan di Sumatera Utara.
B. Kategori : Jejaring / Kedan Ombudsman C. Pertanyaan Panduan :
a. Indentitas diri:
Informan 7
Nama : Rurita Ningrum
Jabatan : Direktur FITRA Sumatera Utara Waktu wawancara : 28 April 2019
Informan 8
Nama : Adinda Zahra
Umur : 21 Tahun
Keterangan : Kedan Ombudsman / Mahasiswa USU Waktu wawancara : 15 Maret 2019
b. Pertanyaan penelitian :
1. Apa yang menjadi tugas kedan Ombudsman selama berkoordinasi dengan Ombudsman dalam pengawasan pelayanan publik?
Kedan Ombudsman/Mahasiswa: “Saya kan mewakili elemen mahasiswa.
Jadi yang saya tahu, sebagai jejaring Ombudsman kami menjadi wadah bagi orang-orang yang ada di sekitar kami untuk menginformasikan soal maladministrasi yang dapat dilaporkan ke Ombudsman. Kami juga bisa menjadi penyambung lidah ke masyarakat untuk menjelaskan pelayanan publik di
Indonesia itu seharusnya seperti apa. Intinya penyambung lidah sih. Selain itu kami juga menjadi mitra Ombudsman dalam pencegahan pelanggaran pelayanan publik dengan memberikan pemahaman kepada orang-orang yang dekat dengan kami mengenai maladministrasi pelayanan publik.”
Direktur FITRA Sumut : FITRA (Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran) Sumatera Utara merupakan lembaga yang konsern pada terlaksananya transparansi dalam perencanaan, pelaksanaan dan kontrol anggaran daerah, non-profit (nirlaba) yang dalam melaksanakan gerakannya bersifat independen, bergerak dalam bidang kontrol sosial untuk transparansi proses-proses penganggaran Daerah. Sebelum Ombusdman dibentuk, FITRA Sumut dan simpul jaringan civil society organization (CSO) di Sumatera Utara khususnya Kota Medan telah terbiasa melakukan advokasi atas berbagai kebijakan yang dianggap membebani rakyat atau tidak berpihak kepada masyarakat miskin atau kelompok yang termarginalisasi.
Namun sejak dibentuknya kantor perwakilan Ombusdman RI di Sumatera Utara kami menganggap bahwa sebagai Badan Publik yang dibentuk khusus untuk mengawasi penyelenggaran pelayanan publik yang diselenggarakan oleh Pemerintah harus dikuatkan dan memiliki peran penting dalam penegakan pelayanan public yang terstandar, peran-peran CSO yang selama ini melakukan advokasi perbaikan layanan public kepada pemerintah kami kolaborasi dengan Ombusdman. CSO memiliki banyak data atas isu-isu yang selama ini menjadi focus gerakannya, dan data tersebut kita berikan pada Ombsudman disertai landasan hukum yang menjadi dasar perlunya perbaikan pelayanan pemerintah
dalam memberikan pelayanan public yang tidak diskriminasi atau adanya kutipan-kutipan liar yang mempengaruhi kualitas layanan.
Kolaborasi tersebut memberi dampak baik kepada pemerintah, beberapa OPD merespon cepat usulan-usulan yang diberikan, beberapa OPD lainnya membutuhkan tekanan dari Kepala Daerah untuk berbenah dan berubah, termasuk membantu menyusun SOP atau juga Struktur suatu Satuan kerja misalnya.
2. Kompetensi apa yang harus dimiliki oleh seorang jejaring/kedan Ombudsman?
Kedan Ombudsman/Mahasiswa: “Kalau kompetensi yang harus dimiliki itu yang pasti minimal tahu kerja-kerja Ombudsman itu apa, fungsinya apa. Dan kalau ada masalah-masalah maladministrasi di pelayanan publik, setidaknya seorang jejaring Ombudsman tau apa yang harus dilakukan oleh jejaring Ombudsman. Proses-prosesnya juga, misalnya apa yang harus dilakukan masyarakat kalau ada maladministrasi. Intinya setidaknya paham sih tentang pelayanan publik dan bagaimana proses pelaporannya.”
Direktur FITRA Sumut : “FITRA sesuai dengan namanya dalam melakukan kegiatan selalu berpedoman kepada data dan fakta-fakta dilapangan, sehingga FITRA Sumut memiliki kekuatan data dan kaya akan strategi advokasi, pengalaman ini secara perlahan kita coba duplikasikan kepada pola kerja Ombusdman (contoh : melobby OPD untuk menyusun SOP, percepatan implementasi program prioritas dengan contoh SK dari pemerintah daerah yang berbeda misalnya)”
3. Apakah ada sistem rekrutmen yang pernah dilakukan oleh Ombudsman dalam memilih jejaringnya?
Kedan Ombudsman/Mahasiswa: “Biasanya Ombudsman akan membuat kelas pelayanan publik. Seperti kelas pelayanan publik yang baru-baru ini mereka buat. Nah dari kelas pelayanan publik itu, peserta tersebut akan diajak untuk jadi jejaring Ombudsman, mau atau tidak. Biasanya tidak hanya diajak begitu saja.
Tapi akan dipilih juga siapa-siapa saja orang yang bisa diajak jadi jejaring.
Setidaknya yang tertarik dan yang paham juga dengan pelayanan publik.”
4. Komitmen seperti apa yang harus dimiliki oleh seorang jejaring/kedan Ombudsman?
Direktur FITRA Sumut : “Yang harus difahami bahwa Kedan Ombusdman adalah individu-individu atau oragnisasi/lembaga sebagai mitra, mitra yang sejajar, bukan atasan dan bawahan, sehingga bukan bentukan atau
“anak main” ombudsman, sehingga kemandirian dan integritas Kedan ombudsman atas peran dari kolaborasi hanya berfokus pada satu tujuan yakni perbaikan pelayanan public, bukan proyek atau perpanjangan tangan (anak buah).
Memiliki komitmen untuk saling berkolaborasi tanpa beban pembiayaan atau imbalan jasa, ini yang paling penting dalam komunikasi relasi gerakan social.
Saat ini FITRA Sumut juga berkolaborasi untuk mensosialisasikan aplikasi LAPOR! SP4N kepada masyarakat, termasuk juga menyiapkan perangkat admin pengelola LAPOR! SP4N, keberhasilan kami pada bulan maret adalah mengundang 33 kabupaten/kota se-sumatera Utara untuk menandatangani komitmen penerapan aplikasi LAPOR! SP4N di pemkab/Pemko masing-masing,
kegiatan tersebut dihadiri kepala daerah, Sekda, OPD terkait dari 33 Kab/Kota.
Intinya sebagai jejaring Ombudsman saat ini kami sedang mengawal komitmen tersebut dengan peran kami masing-masing.
Kedan Ombudsman/Mahasiswa: “Setidaknya berkomitmen untuk perbaikan pelayanan publik dimulai dari penyadaran orang-orang yang ada di sekitar. Pelayanan publik kan merupakan hal yang urgent. Karena mulai kita lahir, pelayanan publik itu dibutuhkan, gitu kan. Seperti membuat akta kelahiran. Sejak lahir akta itu kan sudah harus ada, dan pelayanan itu tidak semua orang tahu. Di kampung saya misalnya, banyak sekali sebenarnya maladministrasi. Dan masyarakat, termasuk saya sebelum mengenal Ombudsman sama sekali tidak tahu harus kemana. Yang kita tahu selama ini solusinya cuma ada 1, ya bayar saja biar cepat.”
5. Apa saja kendala yang dihadapi Ombudsman dalam menjalankan tugas koordinasinya?
Kedan Ombudsman/Mahasiswa: “Sebenarnya kendala Ombudsman banyak ya. Misalnya saja personilnya yang tidak banyak sedangkan wilayah Sumatera Utara yang harus diurusi soal pelayanan publik banyak. Jadi kalau untuk menyalahkan Ombudsman mengenai sosialisasinya kurang bagus juga tidak fair.
Tapi memang tidak bisa dipungkiri memang seharusnya sosialisasinya bisa lebih baik lewat pemanfaatan jejaring Ombudsman untuk memperluas penyebaran nama Ombudsman di masyarakat. Jejaring Ombudsman sudah pernah membuat sosialisasi di daerah-daerah dengan mengundang Ombudsman langsung, seperti
beberapa waktu lalu di Balige, di Pancur Batu, di Deli Serdang juga dan di beberapa daerah lain.
6. Ketika melakukan kegiatan tertentu seperti kelas masyarakat/ kelas pelayanan publik, apa saja biasanya bentuk kesepakatan yang dihasilkan melalui pertemuan tersebut?
Direktur FITRA Sumut : Adanya RTL (Rencana Tindak Lanjut) gerakan social untuk meluaskan pemahaman masyarakat tentang tugas pokok dan fungsi ombudsman
Komunikasi aktif terkait temuan-temuan dilapangan tentang maladministrasi dan bagaimana tindaklanjut atas temuan tersebut.
7. Adakah insentif yang diberikan oleh Ombudsman sebagai bentuk penghargaan kepada kedan Ombudsman yang mengerjakan bagiannya menjadi mitra kerja mereka?
Direktur FITRA Sumut : Tidak ada, yang terpenting dari relasi kolaborasi FITRA Sumut bersama Ombusdman selama ini adalah saling menjaga integritas, focus pada perbaikan pelayanan public, dan rencana bersama untuk perbaikan infrastruktur yang ramah disabilitas.
TRANSKIP WAWANCARA
A. Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana koordinasi Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara sebagai State Auxiliary Organ dalam Pengawasan Pelayanan Bidang Pendidikan di Sumatera Utara.
B. Kategori : Masyarakat / Penerima Layanan Pendidikan C. Pertanyaan Panduan
a. Identitas Diri
Informan 9
Nama : Lenny Sirait
Usia : 23 Tahun
Keterangan : Mahasiswa Ekonomi USU Waktu wawancara : 29 April 2019
Informan 10
Nama : Henni Manullang
Usia : 21 Tahun
Keterangan : Mahasiswa FISIP USU Waktu wawancara : 31 Maret 2019
Informan 11
Nama : Lasma Dolok Saribu
Usia : 22 Tahun
Keterangan : Mahasiswa Ekonomi UNPRI Waktu wawancara : 21 Mei 2019
Informan 12
Nama :
Usia :
Keterangan :
b. Pertanyaan penelitian
1. Tindakan maladministrasi seperti apa yang pernah anda dapatkan di kampus?
Lenni Sirait : “Sejauh ini belum ada. Tetapi, di kampus saya sudah diterapkan batas pengambilan KRS (Kartu Rencana Studi). Lewat dari tanggal yang ditetapkan KRS tidak diberikan lagi kepada mahasiswa. Dan menurut saya itu tidak masuk akal karena bisa saja mahasiswanya terkendala kerjaan makanya tidak sempat mengambil KRS. Selain itu, KRS itu kan salah satu syarat untuk mengikuti ujian. Kalau KRS hilang maka mahasiswanya tidak boleh ikut ujian.
Salah satu cara untuk mendapatkan KRS yang baru kita harus membuat laporan persetujuan/ rekomendasi dari kantor polisi. Kita harus ke kantor polisi terdekat untuk menyatakan bahwa KRS kita itu hilang. Setelah itu kita ke kampus lagi menjumpai bagian administrasi yang mengurusi berkas kemahasiswaan. Mereka akan ngeprint KRS kita setelah mendapat surat rekomendasi dari kantor polisi.
Menurut saya hal itu hanya mempersulit seorang mahasiswa. Karena kalau memang ujung-ujungnya kita akan mendapat KRS lagi dari kampus, kenapa kita harus melapor dulu ke kantor polisi. Itu kan menyusahkan mahasiswa. Padahal kalau saya tanya ke mahasiswa fakultas lain, mereka bilang tidak ada peraturan seperti itu. kalau KRS mereka hilang mereka tinggal datangi petugas administrasinya saja. Tidak serumit di fakultas saya.
Lasma Dolok Saribu : “Sejauh ini saya belum pernah mengalami maladministrasi di kampus, pelayanan yang saya dapati cukup terbilang baik.
2. Apakah kamu mengetahui Ombudsman itu apa?
Lenni Sirait: “Saya memang pernah mendengar kata Ombudsman.
Kebetulan saya juga kerja di salah satu NGO di medan. Tapi saya hanya tau Ombudsman itu sebagai lembaga pengawasan; istilahnya sebagai tempat pengaduan atas maladministrasi yang dialami siswa/mahasiswa kalau di bidang pendidikan”
Henni Manullang: “Saya mengetahui Ombudsman. Akan tetapi saya kurang mengerti bagaimana tahap-tahap melaporkan ke Ombudsman. Bisa dibilang Ombudsman kurang melakukan sosialisasi atau pemberitahuan kepada media mengenai cara-cara melaporkan kepada Ombudsman.”
Lasma Dolok Saribu: “Saya cukup tahu dan mengenal Ombudsman sebagai lembaga pengawas pelayanan publik yang terbilang sangat berpengaruh untuk meningkatkan pelayanan publik di ranah pemerintahan.”
3. Pernahkah anda melapor kasus maladministrasi ke Ombudsman?
Lenni Sirait: “Saya banyak tahu tentang kecacatan hukum ataupun peraturan dari kampus, dan banyak sekali hak-hak mahasiswa yang tidak diberikan oleh pihak kampus. Bahkan mungkin banyak mahasiswa yang sadar tentang hal itu, tapi tidak mau mengambil resiko sebenarnya. Karena ketika mempermasalahkan itu semua, atau mendalami masalah-masalah kampus nanti pasti ada dampaknya bagi mahasiswa itu sendiri. Salah satunya dipersulit selama kuliah lah. Karena resiko itu jadi mahasiswa berfikir untuk menjalani saja; dan
Lenni Sirait: “Saya banyak tahu tentang kecacatan hukum ataupun peraturan dari kampus, dan banyak sekali hak-hak mahasiswa yang tidak diberikan oleh pihak kampus. Bahkan mungkin banyak mahasiswa yang sadar tentang hal itu, tapi tidak mau mengambil resiko sebenarnya. Karena ketika mempermasalahkan itu semua, atau mendalami masalah-masalah kampus nanti pasti ada dampaknya bagi mahasiswa itu sendiri. Salah satunya dipersulit selama kuliah lah. Karena resiko itu jadi mahasiswa berfikir untuk menjalani saja; dan