• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesesuaian Tanah dan Iklim Komoditas Tanaman Perkebunan

BAB II PENENTUAN KOMODITAS TANAMAN PERKEBUNAN

C. Kesesuaian Tanah dan Iklim Komoditas Tanaman Perkebunan

Pemilihan berbagai jenis usaha-usaha agribisnis yang hendak dijalankan sebaiknya didasarkan pada analisis yang tepat. Pilihan jenis usaha juga disesuaikan dengan apa yang disukai dan tidak disukai. Sebelum menentukan suatu komoditas untuk diusahakan, perlu mencari informasi mengenai komoditas yang bersangkutan. Informasi tersebut bisa bersumber dari media massa, misalnya radio, televisi, koran, dan majalah. Selain itu, informasi juga dapat bersumber dari buku, pedagang komoditas pertanian, sesama petani, peternak, atau pejabat pemerintah.

Informasi yang rasional merupakan informasi sesuai dengan kenyataaan yang ada dan berimbang, baik sisi positif maupun sisi negatifnya. Sikap kritis juga diperlukan dalam menyikapi informasi. Informasi yang layak dipercayai adalah informasi yang langsung berasal dari tangan pertani atau data primer, sebagai pekerja disektor pasar serta para pekerja di sektor budi daya dengan jumlah paling sedikit tiga orang.

Gambar 2.6 Lahan Sawit Baru Dibuka di Kab Kapuas Hulu, Kalimantan Barat https://www.republika.co.id/

Dalam kegiatan usaha perkebunan ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Penempatan Usaha

Kelayakan tempat usaha adalah menjadi faktor yang pertama harus dianalisis dan dikaji dengan baik dan menyeluruh, karena kegagalan menganalisis dan mengkaji tempat usaha di tempatkan akan berdampak pada efesiensi, kemudahan, dan produktifitas usaha yang dilakukan, dan dikembangkan.

Kemudahan tempat usaha untuk dijangkau dan dicari akan memberikan dampak positip kepada perkembangan dan peningkatan produktifitas serta layanan kepada konsumen. Keuntungan ketepatan pemilihan lokasi tempat usaha, antara lain adalah sebagai berikut.

a. Kepuasan para konsumen tercapai.

b. Pemilihan kualitas tenaga kerja mudah dan murah didapatkan. c. Sumber bahan baku melimpah sesuai kebutuhan.

d. Pengembangan dan perluasan tempat usaha mudah dilakukan.

e. Daya saing dan nilai jual selalu mengalami peningkatan sesuai perkembangan zaman

f. Pemerataan kesejahteraan dapat dilakukan secara merata dengan menghidari konflik dan gesekan sosial.

2. Kondisi Lokal a. Iklim

Indonesia secara astronomis adalah negara yang berada pada garis lintang equator bumi atau tepatnya 6° LU-11° LS, dan terletak pada garis

bujur timur bumi atau tepatnya 95° BT-141° BT. Kondisi wilayah inilah yang menunjukkan Indonesia memiliki iklim tropis dengan ciri-ciri sebagai berikut.

1) Curah hujan tinggi.

2) Terdapat hutan hujan tropis yang luas. 3) Sinar matahari sepanjang tahun. 4) Kelembaban udara yang tinggi.

Gambar 2.7 Pembagian Iklim Dunia Menurut Koppen Hagen Sumber: https://sumberbelajar.belajar.kemendikbud.go.id

Perubahan cuaca dan iklim memang secara langsung berdampak pada produk pertanian. Karena pada prinsipnya kehidupan tanaman itu tidak bisa terlepas dari kondisi cuaca, musim, maupun iklim di tempat tersebut atau kondisi lokal. Masalahnya, perubahan yang terjadi sekarang ini boleh dibilang sangat komplek. Di samping karena pengaruh aktivitas lokal tempat tersebut, juga karena ada sistem pergerakan udara secara global yang mempengaruhi semuanya. Perubahan cuaca dan iklim itu akan mempengaruhi beberapa aspek. Tentu saja yang paling terpengaruh adalah produksi atau kuantitas hasil produk komoditas pertanian yang diusahakan. Komoditas pertanian yang sangat tergantung pada kondisi cuaca dan iklim, hasilnya bisa dipastikan akan tidak maksimal.

Sebenarnya pengaruh terhadap aktivitas tanaman ini bisa positif dan bisa juga negatif. Pengaruh positifnya adalah, meskipun dalam kondisi kemarau basah, apabila tanaman di manage dengan baik, maka tanaman akan diuntungkan. Karena kebutuhan air tanaman bisa tercukupi dengan baik, sementara sinar matahari juga masih optimal. Artinya, dua komponen utama pertumbuhan dan perkembangan tanaman, yaitu air dan sinar matahari, sudah bisa tercukupi, sehingga produksi tanaman bisa meningkat. Tapi dengan tidak menentunya hujan yang datang, bisa mengganggu proses penyerbukan dan pembuahan tanaman.

b. Keadaan tanah

Tanah adalah lapisan teratas bumi yang dapat diolah sesuai dengan kepentingannya, karena tanah tersebut dianggap sebagai alat untuk menghasilkan tanaman dan mampu menghasilkan berbagai tanaman. Setiap tanaman membutuhkan persyaratan yang optimal. Untuk alasan ini tanah diperlukan sesuai dengan desain spesies tanaman, ini tidak dapat dianggap ringan, sehingga data nyata seperti makro dan kandungan nutrisi mikro diperlukan. Contoh tanaman kopi mensyaratkan, bahwa tanah yang ada di dalamnya, kendur dan mengandung banyak humus berarti mengandung banyak nutrisi yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhan dan produksi. Untuk tanaman tebu dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, asalkan persyaratan fisik dan kimia tanah yang mendukung pertumbuhan dan produksi tebu terpenuhi.

Pada tanaman kopi keadaan tanah yang cocok adalah gembur, subur dan mempunyai kandungan humus tinggi tidak permeable, derajat keasaman pH 5,5-6,5 netral dan basa.Sementara pada tamana karet memiliki sifat tanah lebih baik dari sifat kimia yang terkandung di dalamnya, bertekstur remah, poreus seta mampu menahan air atau 35% tanah liat dan 30% tanah pasir, dengan pH 4,5-pH 6,5

Khusus tanaman tebu lebih cocok pada tanah lempung liat dan berpasir antara 30%-40% fraksi liat, 50% pasir dan 10-20% debu, dengan pH 6-7,5 maksimal ketinggian 8 meter dan minimal 4 meter dengan kedalam 1 meter.

Sementara tanah jenis podzolik, hidromorfik kelabu, aluvial, regosol dan latosol adalah cocok untuk tanaman kelapa sawit, dengan pH optimum 5,0-5,5.

Gambar 2.8 Peta Sebaran Tanah di Indonesia Sumber: https://www.gurugeografi.id/

c. Ketersedian Sarana Prasarana Angkutan atau Transportasi

Ketersediaan sarana prasarana angkutan menjadi hal pokok yang harus tersedia agar keberhasilan dan produktifitas usaha dapat berjalan lancar dan berkembang, walapun produk yang dihasilkan baik tetapi biaya untuk mencapai tempat usaha memakan waktu dan biaya lebih banyak, maka bisa dipastikan usaha yang dilakukan tidak akan lancar dan berkembang dengan pesat dan tidak akan mampu bersaing.

Kondisi sarana prasarana transportasi yang harus terpenuhi dalam rangka memberikan kemudahan akses, baik pada pendistribusian dan pengangkutan barang maupun pada konsumen, antara lain adalah sebagai berikut.

1) Jika akses menggunakan jalan darat seperti perkebunan kelapa sawit, kakao, karet, kopi, dan lain sebagainya, maka kondisi jalan darat yang dapat dilalui roda dua maupun roda empat dengan mudah, nyaman, tidak berlumpur, atau berdebu, sudah dilakukan pengerasan tanah ataupun diaspal, lebar, dan mampu menahan beban berat.

2) Jika akses menggunakan rel kereta lori/api seperti, di perkebunan tebu, maka jaringan, kekuatan rel, dan bongkar muat serta pergudangan dapat diakses secara langsung.

3) Jika akses menggunakan angkutan air, maka jaringan jalur air harus lebar dan dalam, serta kapasitas dan kondisi dermaga baik.

4) Jika akses menggunakan udara, maka yang harus diperhatikan adalah kondisi kerasnya tanah dan panjang lapangan, serta kelayakan posisi lapangan untuk penerbangan.

Gambar 2.9 Akses Jalan Perkebunan Sawit Riau Sumber: http://www.bumn.go.id/

d. Pasokan Air

Pasokan air adalah hal yang sangat berguna bagi kelangsungan mahluk hidup, begitu pula dengan tanaman. Tanaman pada dasarnya secara alami dapat memenuhi kebutuhan air dari hujan, tetapi pada kenyataannya di beberapa tempat dan pada waktu tertentu kebutuhan air bagi tanaman tidak mencukupi semisal pada musim kemarau. Sebagai sumber daya terbaharui air mengikuti siklus hidrologi, air selalu mengalami perubahan bentuk dan sifat, keadaannya tidak selalu sesuai dengan kebutuhan yang dikehendaki, apabila air muncul secara berlebihan akan mengakibatkan banjir, dan hal ini akan menjadi ancaman bagi keberlangsungan mahluk hidup termasuk di dalamnya tanaman.

Perencanaan pasokan sumber air sebagai sarana irigasi adalah permasalahan mendasar dalam rangka pertumbuhan dan produktifitas tanaman agar dapat optimal sesuai dengan yang diharapkan. Irigasi sebagai sistem pengelolaan pasokan air pada tanaman secara umum terdapat dua katagori, yaitu sebagai berikut.

1) Pengairan dengan irigasi pompa atau disebut lift irigation adalah sistem pengairan yang memanfaatkan mesin mekanik/pompa air atau manual/ tradisional yang dialirkan menuju tempat yang rendah dari tempat yang tinggi.

2) Pengairan dengan irigasi aliran atau flow irigation adalah sistem pengairan yang mengandalkan gravitasi bumi, mengalirkan air menuju tempat yang rendah pada lahan tanaman perkebunan.

Keberadaan air yang terencana dengan sistem irigasi drainase pengelolaan yang baik sangat bermanfaat bagi tanaman, antara lain adalah sebagai berikut.

1) Mengatur intensitas kebutuhan air sesuai karakteristik tanah dan tanaman.

2) Membantu menyuburkan tanah perkebunan.

3) Membantu penyerapan unsur hara tanah perkebunan. 4) Mengisi cairan tubuh tanaman.

5) Membantu sistem metabolisme tanaman. 6) Membantu terpeliharanya suhu tanaman.

Pada fase pertumbuhan tajuk mahkota daun kebutuhan air sangat besar, termasuk pada masa musim kemarau, di mana tumbuhan pada saat itu sedang mengalami penguapan yang besar melalui permukaan daun. Kekurangan air pada masa ini akan menyebabkan tumbuhan menjadi layu bahkan mati.

Kondisi tanaman yang mengalami kekurangan air, akan menyebabkan tanaman menjadi layu. Air kapiler sebagai air yang tersedia dalam rongga pori-pori tanah yang diserap oleh akar tumbuhan harus seimbang atau air yang terletak antara titik layu tetap (batas bawah) dan kapasitas lapangan (batas atas). Sebaliknya air yang tidak tersedia bagi tanaman adalah air higroskopis (kurang dari titik layu tetap) dan air gravitasi (di atas kapasitas lapang).

Presentase kelembaban yang ditahan oleh tanah sesudah terjadinya drainase dan kecepatan gerakan air ke bawah menjadi sangat lambat, kondisi ini akan memberikan dampak baik pada imbangan antar pori mikro, hara tanaman sudah dalam bentuk terlarut dan proses difusi ion pada permukaan akar meluas dan terbesar.

Kondisi air dalam kapasitas lapangan ditentukan dan dipilih berdasarkan kelembaban setelah tanah jenuh dibiarkan bebas drainase selama 2-3 hari. Air pada kondisi layu masih menunjukkan bahwa air tersebut adalah air higroskopis. Batas bawah air tersedia. Air pada kondisi layu masih dapat ditentukan dengan mengukur kelembaban saat tanaman indikator layu, dan tidak dapat disegarkan setelah dibiarkan semalam di air basah.

Titik layu tetap bukanlah merupakan tetapan tanah, tetapi lebih merupakan tetapan tanaman. Titik layu tetap lebih tergantung pada tekanan turgor sel-sel tanaman. Tekanan turgor dipengaruhi oleh komponen osmotik daun, cuaca yang mempengaruhi transpirasi dan komponen yang mempengaruhi ketersediaan air tanah.

Irigasi sebagai sistem pengelolaan pemberian air pada tanaman dalam implementasinya terdiri dari 3 sistem, antara lain adalah sebagai berikut. 1) Sistem Irigasi pada Permukaan Tanah

Pada sistem ini pendistribusian air di lahan perkebunan sepenuhnya mengandalkan gravitasi bumi, yaitu mengalirkan air dari tempat tinggi ke tempat rendah, dengan pengaturan berupa pembuatan bedengan, penerapan sistem irigasi ini efektif pada tanah yang bertekstur halus sampai sedang, cara bedengan atau pembuatan alur ini paling banyak digunakan oleh para petani.

Gambar 2.10 Irigasi Permukaan pada Tanaman Tebu Sumber: http://www.cyber.pertanian.go.id

2) Sistem Irigasi dengan Curahan

Sistem irigasi ini dilakukan dengan teknis menyerupai air hujan, yaitu menyemprotkan air ke atas udara agar jatuh ke tanah seperti hujan, hal ini dilakukan dengan harapan air dapat merata diserap oleh tanah dan membasahi seluruh tanaman dengan sempurna. Penggunaan sistem curahan ini lebih efektif menggunakan pompa air dengan tenaga semprot yang kuat dan daerah yang memiliki kecepatan angin tidak terlalu besar.

Gambar 2.11 Irigasi Curah pada Tanaman Sumber: http://www.cyber.pertanian.go.id

3) Sistem Irigasi dengan Tetesan

Penggunaan sistem irigasi ini sangat cocok di daerah yang memiliki kondisi tanah tidak terlalu kering, hal ini dikarenakan sistem ini mengandalkan pipa yang disalurkan menuju tanaman, dan secara perlahan-lahan air diteteskan langsung ke dalam pori tanah dan menyebar melalui gaya kapilaritas dan gravitasi.

Gambar 2.12 Saluran Selang Sistem Irigasi Tetas pada Tanaman Sumber: http://www.cyber.pertanian.go.id

Sistem irigasi tetes ini menyerupai sistem irigasi pada permukaan tanah namun sistem irigasi tetes air secara langsung didistribusikan pada bagian akar tanaman dengan saluran pipa dan dengan mudah akar tanamanan akan menyerap sendiri. Penggunaan pipa air dengan diameter 10 cm dan tebal 1 cm.

Gambar 2.13 Saluran Pipa dan Selang Irigasi Tetes pada Tanaman Sumber: http://www.cyber.pertanian.go.id