DAN USAHATANI
KESETARAAN GENDER DALAM RUMAH TANGGA PETANI
Hubungan antara Ciri Usahatani dengan Tingkat Kesetaraan Gender
Hubungan antara ciri usahatani dan tingkat kesetaraan gender dapat terlihat pada Tabel 35. Tingkat akses, kontrol, manfaat dan partisipasi yang tinggi diperoleh responden yang memiliki luas lahan rendah (sempit) dan jumlah tenaga kerja yang rendah atau sedikit. Di Desa Sunten Jaya, lahan usahatani atau usaha ternak yang sempit akan lebih banyak mengandalkan tenaga laki-laki dan perempuan dari dalam rumah tangga, sehingga jumlah tenaga kerja dari luar rumah tangga pun akan semakin sedikit. Kondisi ini akan memperbesar kesempatan anggota rumah tangga, baik laki-laki maupun perempuan, untuk melakukan dan mengelola usahatani secara bersama-sama. Tingginya akses yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan tentunya akan mempengaruhi tingkat pengawasan, partisipasi anggota rumah tangga dalam usahatani dan manfaat usahatani yang diperoleh laki-laki dan perempuan.
Tabel 35 Persentase responden menurut ciri usahatani dan tingkat kesetaraan gender di Desa Sunten Jaya, Kecamatan Lembang, tahun 2013
Ciri Usahatani
Tingkat Kesetaraan Gender
Akses Kontrol Manfaat Partisipasi
R M T R M T R M T R M T Luas Lahan R 68,8 81,8 66,7 72 80 73,3 66,7 72,7 76,9 66,7 81.8 100 M 6,2 9,1 33,3 8 20 10 0 18,2 7,7 11,1 9,1 0 T 25 9,1 0 20 0 16,7 33,3 9,1 15,4 22,2 9,1 0 Total 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Jumlah Tenaga Kerja R 75 72,7 100 72 100 76,7 83,3 54,5 92,3 61,1 100 100 M 6,2 18,2 0 12 0 10 0 27,3 0 16,7 0 0 T 18,8 9,1 0 16 0 13,3 16,7 18,2 7,7 22,2 0 0 Total 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Jenis Komoditas H 62,5 36,4 33,3 56 20 0 83,3 54,5 30,8 72,2 18,2 0 P 37,5 63,6 66,7 44 80 0 16,7 45,5 69,2 27,8 81,8 100 Total 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Modal Usahatani R 18,8 9,1 0 16 0 13,3 50 9,1 0 22,2 0 0 M 25 18,2 33,3 24 20 23,3 16,7 27,3 23,1 27,8 18,2 0 T 56,2 72,7 66,7 60 80 63,3 22,2 63,6 76,9 50 81,8 100 Total 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Pendapatan Usahatani R 25 18,2 33,3 24 20 23,3 16,7 18,2 30,8 22,2 27,3 0 M 56,2 72,7 66,7 60 80 63,3 66,7 72,7 53,8 61,1 63,6 100 T 18,8 9,1 0 16 0 13,3 16,7 9,1 15,4 16,7 9,1 0 Total 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100
Keterangan: R= Rendah, M= Menengah, T= Tinggi
Akses yang tinggi juga dimiliki oleh rumah tangga peternak di Desa Sunten Jaya. Dibandingkan dengan rumah tangga hortikultura, rumah tangga peternak memberikan kesempatan yang sama kepada laki-laki dan perempuan untuk ikut serta dalam kegiatan usaha ternak. Istri peternak lebih memiliki akses yang lebih besar dibandingkan istri petani brokoli, karena pekerjaan di usaha ternak yang lebih banyak dan tidak membutuhkan teknik usahatani yang sulit. Tingginya
66
akses pada rumah tangga ternak juga mendorong tingginya tingkat manfaat dan tingkat partisipasi dalam rumah tangga ternak. Hanya saja, kedua usahatani, baik ternak maupun pertanian brokoli sama-sama tidak memiliki tingkat kontrol yang tinggi. Tingkat kontrol yang menengah dimiliki oleh rumah tangga peternak (80 persen). Tingkat pengawasan atau pengaturan akan sumber daya pertanian masih dominan dilakukan oleh laki-laki, meskipun masih ada kontrol yang dilakukan secara bersama-sama.
Akses, kontrol, manfaat dan partisipasi yang tinggi juga dimiliki oleh responden yang memiliki modal usahatani tinggi. Pada bab Gambaran Umum Rumah Tangga Petani dan Usahatani telah dijelaskan bahwa semua rumah tangga yang memiliki modal besar adalah rumah tangga peternak (50 persen dari total rumah tangga). Hal ini disebabkan oleh pemberian modal usaha ternak yang sama pada setiap rumah tangga ternak dari KPSBU, yakni sebesar Rp25 000 000. Akses, kontrol, manfaat dan partisipasi yang tinggi juga dimiliki oleh responden dengan pendapatan usahatani dalam kategori menengah. Pendapatan usahatani yang menengah memang dimiliki lebih dari sebagian rumahtangga responden.
Hubungan antara ciri usahatani dan tingkat kesetaraan gender diuji dengan menggunakan Korelasi Rank Spearman pada program SPSS. Ciri usahatani yang diuji adalah luas lahan usahatani, jumlah tenaga kerja, jenis komoditas, modal usahatani, dan pendapatan usahatani. Tingkat kesetaraan gender yang diuji adalah tingkat akses, kontrol, manfaat dan partisipasi. Tabel 35 menunjukkan hubungan antara ciri usahatani dan tingkat kesetaraan gender. Berdasarkan hasil pengujian dengan Rank Spearman, terdapat beberapa nilai probabilitas (sig) yang kurang dari 0,05 (p < 0,05) dan kurang dari 0,01 (p < 0,01). Oleh karena itu, dapat terlihat hubungan nyata antara beberapa sub variabel dalam ciri usahatani dengan sub variabel dalam tingkat kesetaraan gender.
Tabel 36 Hubungan antara ciri usahatani dan tingkat kesetaraan gender Ciri Usahatani Manfaat Partisipasi Kontrol Akses
Luas Lahan -,266*
-,680** -,318* -,133
Modal ,341**
,590** ,241 ,254* Pendapatan Usahatani -,204 -,200 -,085 -,098 Jumlah Tenaga Kerja ,917 ,040 ,252 ,275 Jenis Komoditas ,355**
,806** ,390** ,225
Keterangan: *Berhubungan nyata pada p kurang dari 0,05 (p < 0,05), **Berhubungan sangat nyata pada p kurang dari 0,01 (p < 0,01)
Luas lahan memiliki hubungan nyata dengan tingkat kontrol petani dan tingkat manfaat, serta berhubungan sangat nyata pada tingkat partisipasi petani. Keseluruhan nilai korelasi yang diperoleh bernilai negatif, sehingga hubungan antara luas lahan dengan manfaat, partisipasi dan kontrol merupakan hubungan yang tidak searah. Di Desa Sunten Jaya, rumah tangga dengan lahan yang luas akan cenderung memanfaatkan tenaga kerja dari luar rumah tangga sehingga partisipasi anggota rumah tangga dalam usahatani akan semakin kecil. Kondisi berbeda ditunjukkan oleh rumah tangga yang memiliki lahan sempit. Rumah
67 tangga ini akan lebih memanfaatkan tenaga kerja dari anggota rumah tangga, sehingga anggota rumah tangga berkesempatan untuk ikut serta dalam kegiatan usahatani dan usahaternak. Keterlibatan anggota rumah tangga ini akan meningkatkan kontrol dan manfaat yang diperoleh anggota rumah tangga secara bersama, baik laki-laki maupun perempuan.
Modal memiliki hubungan sangat nyata dengan manfaat dan partisipasi responden petani, dan memiliki hubungan nyata dengan akses petani. Besarnya modal yang dimiliki responden, baik petani maupun peternak akan mempengaruhi aksesnya terhadap sumber daya pertanian dan partisipasi atau keterlibatan terhadap usahatani. Hal ini akan mempengaruhi manfaat yang diterima responden dari usahatani. Nilai koefisien korelasi antara modal dan tingkat kesetaraan gender secara keseluruhan adalah positif. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara modal dengan tingkat kesetaraan gender adalah hubungan yang searah. Semakin besar modal yang dimiliki, tingkat akses, manfaat dan partisipasi akan semakin tinggi juga, demikian sebaliknya.
Pendapatan usahatani dan jumlah tenaga kerja tidak memiliki hubungan nyata dengan tingkat kesetaraan gender. Jenis komoditas dibedakan menjadi komoditas pertanian hortikultura dan komoditas peternakan. Jenis komoditas atau jenis usahatani yang digeluti oleh responden ternyata memiliki hubungan yang sangat nyata dengan tiga komponen kesetaraan gender, yakni partisipasi, kontrol dan manfaat antara responden suami dan istri. Hal ini telah banyak dikemukakan dalam bab sebelumnya, yakni terkait perbedaan bentuk partisipasi, kontrol dan manfaat antara usahatani hortikultura dan peternakan.
Faktor yang berhubungan nyata dengan manfaat adalah luas lahan, dan yang berhubungan sangat nyata adalah modal dan jenis komoditas. Luas lahan, modal dan jenis komoditas memiliki hubungan yang sangat nyata dengan partisipasi responden suami dan istri dalam usahatani. Faktor yang memiliki hubungan dengan kontrol secara nyata adalah luas lahan dan yang berhubungan sangat nyata adalah jenis komoditas. Modal memiliki hubungan nyata dengan tingkat akses petani.
Hubungan antara Profil Rumah Tangga dengan Tingkat Kesetaraan Gender
Profil rumah tangga diukur dengan menggunakan sub variabel usia, besar tanggungan, tingkat pengeluaran dan tingkat pendidikan. Tabel 37 mengemukakan hubungan antara profil rumah tangga dan tingkat kesetaraan gender dalam rumah tangga petani.
Akses, kontrol, dan manfaat yang tinggi dimiliki oleh responden dengan usia rendah atau dewasa awal. Usia ini memang dimiliki oleh sebagian besar responden, karena merupakan usia yang produktif untuk memiliki pekerjaan dan penghidupan yang layak. Usia dewasa awal pada responden menjadikan anggota rumah tangga, baik laki-laki atau perempuan aktif dalam usahatani, sehingga kesempatan, kontrol dan manfaat akan semakin tinggi. Tingkat partisipasi yang tinggi dimiliki oleh dua kategori usia, yakni pada kategori rendah atau dewasa awal dan kategori dewasa madya, dengan persentase yang sama, yakni sebesar 50 persen. Rumah tangga dengan anggota yang memiliki usia dewasa awal dan
68
madya akan mengandalkan tenaga kerja dari dalam rumah tangga, sehingga kesempatan laki-laki dan perempuan untuk ikut serta aktif dalam kegiatan usahatani akan semakin besar.
Tabel 37 Persentase responden menurut profil rumah tangga dan tingkat kesetaraan gender di Desa Sunten Jaya, Kecamatan Lembang, tahun 2013
Profil Rumah Tangga
Tingkat Kesetaraan Gender
Akses Kontrol Manfaat Partisipasi
R M T R M T R M T R M T Usia R 59,4 54,5 66,7 50 100 58,3 25 68,2 65,4 47,2 77,3 50 M 28,1 40,9 33,3 40 0 33,3 58,3 27,3 26,9 38,9 22,7 50 T 12,5 4,5 0 10 0 8,3 16,7 4,5 7,7 13,9 0 0 Total 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Besar Tanggungan R 43,8 18,2 66,7 40 20 36,7 50 45,5 23,1 33,3 45,5 0 M 50 81,8 33,3 56 80 60 50 54,5 69,2 61,1 54,5 100 T 6,2 0 0 4 0 3,3 0 0 7,7 5,6 0 0 Total 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Tingkat Pengeluaran R 43,8 27,3 0 36 20 33,3 83,3 36,4 7,7 38,9 27,3 0 M 25 36,4 33,3 24 60 30 16,7 27,3 38,5 22,2 36,4 100 T 31,2 36,4 66,7 40 20 36,7 0 36,4 53,8 38,9 36,4 0 Total 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Tingkat Pendidikan R 62,5 81,8 66,7 70 70 70 66,7 68,2 73,1 61,1 86,4 50 M 18,8 13,6 16,7 16 20 16,7 8,3 18,2 19,2 19,4 9,1 50 T 18,8 4,5 16,7 14 10 13,3 25 13,6 7,7 19,4 4,5 0 Total 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100
Keterangan: R= Rendah, M= Menengah, T= Tinggi
Tingkat kontrol, manfaat dan partisipasi yang tinggi dimiliki oleh responden dengan besar tanggungan yang menengah, yakni 4 hingga 5 anggota rumah tangga. Akses yang tinggi dimiliki oleh responden dengan besar tanggungan rendah, atau rumahtangga dengan jumlah anggota 2 hingga 3 orang. Kondisi ini sesuai dengan hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Koesoemaningtyas, Puspitawati dan Herawati (2009) yang menyebutkan bahwa jumlah anggota rumah tangga yang semakin sedikit, atau kurang dari 6 orang akan menyebabkan tingginya tingkat kerjasama dalam pembagian peran gender. Kerjasama ini akan semakin mendukung tingkat kesetaraan gender, sehingga dalam hal pengawasan, perolehan manfaat dan partisipasi dalam usahatani akan lebih dilakukan secara bersama-sama dan setara.
Tingkat akses, kontrol dan manfaat yang tinggi dimiliki oleh responden dengan tingkat pengeluaran tinggi. Tingkat pengeluaran yang tinggi pada rumah tangga yang sebagian besar berlahan sempit akan memberikan kesempatan yang besar bagi semua anggota rumahtangga produktif untuk ikut serta dalam kegiatan usahatani. Kesempatan yang tinggi antara laki-laki dan perempuan, tentunya akan mendukung tingkat pengawasan dan manfaat yang tinggi juga. Tingkat partisipasi yang tinggi dimiliki oleh responden dengan tingkat pengeluaran menengah.
Tingkat akses, kontrol dan manfaat yang tinggi juga dimiliki oleh responden dengan tingkat pendidikan rendah (tidak pernah bersekolah atau tamat SD dan sederajat). Sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan yang rendah.
69 Akibat tingkat pendidikan yang rendah, maka responden memilih pekerjaan sebagai petani atau peternak dan meneruskan pekerjaan yang telah dilakukan oleh generasi sebelumnya.Tingkat partisipasi yang tinggi dimiliki oleh responden dengan tingkat pendidikan rendah dan menengah dengan persentase yang sama, yakni 50 persen.
Hubungan antara profil rumah tangga dan tingkat kesetaran gender juga diuji dengan menggunakan korelasi Rank Spearman. Hubungan kedua variabel tersebut dapat dilihat pada Tabel 38. Hasil yang diperoleh adalah usia tidak memiliki hubungan sama sekali dengan tingkat kesetaraan gender. Besar tanggungan dalam rumah tangga memiliki hubungan sangat nyata dengan tingkat kontrol laki-laki dan perempuan dalam usahatani. Nilai koefisien yang diperoleh dari kedua hubungan ini adalah positif, sehingga hubungan antar variabel menjadi setara. Besar tanggungan rumah tangga yang tinggi akan menyebabkan tingkat kontrol semakin tinggi, demikian juga sebaliknya. Rumah tangga yang memiliki jumlah anggota keluarga yang besar akan menyebabkan kontrol atas aset dan sumber daya pertanian cenderung dilakukan secara bersama-sama. Beban tanggungan yang besar akan menyebabkan perempuan dan laki-laki terlibat secara bersama-sama dalam usahatani, sehingga pengawasan terhadap sumber daya pertanian juga dilakukan secara bersama.
Tabel 38 Hubungan antara profil rumah tangga dan tingkat kesetaraan gender Profil Rumah Tangga Manfaat Partisipasi Kontrol Akses
Usia -,232 -,160 -,181 ,190 Besar Tanggungan ,151 ,213 ,519** ,044 Tingkat Pengeluaran ,461** ,023 ,046 ,290* Tingkat Pendidikan -,098 -,347** ,020 -,158
Keterangan: *Berhubungan nyata pada p kurang dari 0,05 (p < 0,05), **Berhubungan sangat nyata pada p kurang dari 0,01 (p < 0,01)
Tingkat pengeluaran memiliki hubungan yang sangat nyata dengan tingkat manfaat usahatani. Nilai koefisien yang diperoleh bernilai positif, sehingga hubungan kedua variabel searah. Tingkat pengeluaran rumah tangga yang tinggi membutuhkan tingkat manfaat usahatani yang semakin tinggi juga, terutama dalam hal finansial. Selain itu, tingkat pengeluaran juga memiliki hubungan nyata dengan tingkat akses. Semakin tinggi tingkat pengeluaran maka tingkat akses dalam rumah tangga semakin tinggi, demikian juga sebaliknya. Tingkat pengeluaran yang tinggi akan memberikan peluang bagi semua anggota rumah tangga untuk ikut serta memenuhi pengeluaran tersebut. Hal ini mendorong terbukanya akses bagai anggota rumah tangga secara bersama-sama, baik laki-laki atau perempuan, untuk mengelola usahatani.
Tingkat pendidikan memiliki hubungan yang sangat nyata dengan tingkat partisipasi. Koefisien yang dihasilkan bernilai negatif, sehingga terjadi hubungan yang tidak searah antara kedua variabel. Tingkat pendidikan yang rendah akan menyebabkan partisipasi dalam usahatani semakin tinggi, demikian juga sebaliknya. Seseorang yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan cenderung beralih dari sektor pertanian menuju sektor lainnya dan kemungkinan tidak
70
memilih pekerjaan sebagai petani. Oleh karena itulah, data tahun 2011 menunjukkan bahwa mayoritas petani di Indonesia (75 persen) masih memiliki tingkat pendidikan yang tergolong rendah yakni tidak bersekolah atau tamat SD (Undri 2011)..
Hubungan antara Tingkat Kesadaran tentang Gender dengan Tingkat Kesetaraan Gender
Tingkat kesadaran gender diuji dengan dua variabel, yakni pembagian peran gender dan pengambilan keputusan. Kedua keputusan ini dibedakan berdasarkan ranah peranan gender, yakni reproduktif, produktif dan sosial. Hubungan antara dua variabel dapat dilihat pada Tabel 39.
Tabel 39 Persentase responden menurut tingkat kesadaran gender dan tingkat kesetaraan gender di Desa Sunten Jaya, Kecamatan Lembang, tahun 2013
Tingkat Kesadaran Gender
Tingkat Kesetaraan Gender
Akses Kontrol Manfaat Partisipasi
R M T R M T R M T R M T Pembagian Kerja Reproduktif R 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 M 81,2 81,8 66,7 84 60 80 83,3 72,7 84,6 83,3 72,7 100 T 18,8 18,2 33,3 16 40 20 16,7 27,3 15,4 16,7 27,3 0 Total 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Pembagian Kerja Produktif R 87,5 54,5 0 72 40 0 100 72,7 46,2 77,8 54,5 0 M 12,5 45,5 100 28 60 0 0 27,3 53,8 22,2 45,5 100 T 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Total 100 100 100 100 100 0 100 100 100 100 100 100 Pembagian Kerja Sosial R 25 36,4 0 28 20 0 16,7 18,2 38,5 11,1 45,5 100 M 68,8 63,6 100 68 80 0 83,3 72,7 61,5 83,3 54,5 0 T 6,2 0 0 4 0 0 0 9,1 0 5,6 0 0 Total 100 100 100 100 100 0 100 100 100 100 100 100 Pengambila n Keputusan Reproduktif R 6,2 0 0 4 0 0 16,7 0 0 5,6 0 0 M 25 27,3 0 28 0 0 50 18,2 15,4 33,3 9,1 0 T 68,8 72,7 100 68 100 0 33,3 81,8 84,6 61,1 90,9 100 Total 100 100 100 100 100 0 100 100 100 100 100 100 Pengambila n Keputusan Produktif R 93,8 54,5 33,3 80 40 0 83,3 81,8 61,5 83,3 63,6 0 M 6,2 45,5 66,7 20 60 0 16,7 18,2 38,5 16,7 36,4 100 T 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Total 100 100 100 100 100 0 100 100 100 100 100 100 Pengambila n Keputusan Sosial R 12,5 45,5 0 24 20 0 16,7 27,3 23,1 16,7 36,4 0 M 81,2 45,5 66,7 68 60 0 83,3 72,7 53,8 72,2 54,5 100 T 6,2 9,1 33,3 8 20 0 0 0 23,1 11,1 9,1 0 Total 100 100 100 100 100 0 100 100 100 100 100 100
Keterangan: R= Rendah, M= Menengah, T= Tinggi
Tingkat akses, kontrol, manfaat dan partisipasi dimiliki oleh rumah tangga dengan tingkat pembagian kerja reproduktif yang menengah.Tingkat akses, manfaat dan partisipasi yang tinggi juga dimiliki oleh rumah tangga dengan
71 tingkat pembagian kerja produktif yang menengah. Hal yang berbeda ditunjukkan pada tingkat kontrol. Tidak terdapat tingkat kontrol yang tergolong tinggi pada rumah tangga petani maupun peternak. Pekerjaan pada bidang reproduktif didominasi oleh perempuan, sementara kerja produktif didominasi oleh laki-laki. Tingkat akses dan manfaat yang tinggi dimiliki oleh responden dengan pembagian kerja sosial menengah. Tingkat partisipasi yang tinggi dimiliki oleh rumah tangga dengan pembagian kerja sosial rendah.
Tingkat akses, manfaat dan partisipasi yang tinggi juga dimiliki oleh rumah tangga dengan tingkat pengambilan keputusan reproduktif yang tinggi. Pengambilan keputusan akan dikatakan tinggi apabila dilakukan secara bersama-sama atau dimusyawarahkan dalam keluarga. Tingkat pengambilan keputusan yang tinggi dalam bidang reproduktif ternyata memberikan peluang, manfaat dan keterlibatan yang besar dalam usahatani kepada anggota rumah tangga, baik laki-laki maupun perempuan. Tingkat akses dan partisipasi yang tinggi dimiliki oleh rumah tangga dengan tingkat pengambilan keputusan produktif dan sosial yang menengah. Pada bagian pengambilan keputusan, baik pada ranah produktif, reproduktif dan sosial, tidak terdapat tingkat kontrol yang tinggi, karena pengambilan keputusan sebagian besar masih dilakukan secara sepihak.
Pada penelitian ini juga diuji hubungan antara tingkat kesadaran gender dan tingkat kesetaraan gender dengan menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Tabel 40 memberikan paparan mengenai hubungan dua variabel tersebut.
Tabel 40 Hubungan antara tingkat kesadaran tentang gender dengan tingkat kesetaraan gender
Tingkat Kesadaran Gender Manfaat Partisipasi Kontrol Akses Pembagian Kerja
Reproduktif -,074 ,092 ,198 ,192
Pembagian Kerja Produktif ,316* ,516** ,423** ,546** Pembagian Kerja Sosial -,333** -,499** -,226 -,138 Pengambilan Keputusan Reproduktif ,420 ** ,187 -,038 ,035 Pengambilan Keputusan Produktif ,233 ,411 ** ,727** ,630** Pengambilan Keputusan Sosial -,010 -,284 * -,093 ,050
Keterangan: *Berhubungan nyata pada p kurang dari 0,05 (p < 0,05), **Berhubungan sangat nyata pada p kurang dari 0,01 (p < 0,01)
Pembagian kerja dalam ranah reproduktif tidak memiliki hubungan nyata dengan variabel apapun dalam tingkat kesetaraan gender dalam usahatani. Reproduktif merupakan kegiatan yang berkaitan dengan urusan rumah tangga sehingga tidak ada hubungan yang nyata dengan usahatani. Pembagian kerja dalam ranah produktif memiliki hubungan yang sangat nyata dengan akses, kontrol dan partisipasi serta memiliki hubungan nyata dengan manfaat. Nilai koefisien yang diperoleh adalah positif, sehingga hubungan kedua variabel searah. Tingkat pembagian kerja produktif yang tinggi atau yang dilakukan secara
72
bersama antara laki-laki dan perempuan akan menyebabkan akses, kontrol, manfaat dan partisipasi semakin tinggi juga, demikian sebaliknya. Pembagian kerja usahatani yang dilakukan bersama tentunya akan memperbesar kesempatan laki-laki dan perempuan melakukan usahatani dan melakukan pengawasan atas usahataninya. Secara tidak langsung, manfaat usahatani yang diterima bersama juga pasti akan dipengaruhi.
Pembagian kerja sosial juga memiliki hubungan nyata dengan tingkat manfaat dan partisipasi responden. Nilai koefisien yang diperoleh bernilai negatif, sehingga hubungan antar variabel tidak searah. Pembagian kerja sosial yang tinggi akan menyebabkan tingkat partisipasi dan manfaat yang rendah, demikian juga sebaliknya. Apabila responden diberikan waktu yang besar dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, maka partisipasinya dalam usahatani akan semakin menurun, sehingga manfaat dari usahatani tersebut juga akan menurun. Oleh karena itulah, sebagian besar rumah tangga petani atau peternak jarang ikut serta dalam kegiatan keorganisasian secara maksimal karena curahan waktu mereka yang berlebih pada usahatani.
Pengambilan keputusan reproduktif juga memiliki hubungan sangat nyata dengan manfaat usahatani, dengan nilai koefisien yang positif. Tingkat pengambilan keputusan reproduktif yang tinggi akan menyebabkan manfaat usahatani menjadi tinggi, demikian sebaliknya. Hal ini mungkin berhubungan dengan kesehatan keluarga dan tabungan rumah tangga yang diperoleh dari hasil usahatani. Kepurusan terkait rumah tangga jika dilakukan secara bersama akan mendorong peningkatan kualitas hidup responden dalam hal pangan, papan dan sandang.
Pengambilan keputusan produktif memiliki hubungan sangat nyata dengan tingkat partisipasi, kontrol dan akses responden dalam usahatani, dengan nilai koefisien positif. Tingkat pengambilan keputusan produktif yang tinggi akan menyebabkan tingkat partisipasi, kontrol dan akses yang tinggi juga, demikian sebaliknya. Pengambilan keputusan produktif secara bersama-sama dan melibatkan laki-laki dan perempuan akan mendorong peningkatan partisipasi, kontrol dan akses laki-laki dan perempuan dalam usahatani. Oleh karena itulah, rumah tangga dengan pengambilan keputusan usahatani yang dilakukan secara bersama-sama akan semakin meningkatkan keberhasilan usahatani.
Pengambilan keputusan sosial memiliki hubungan nyata dengan partisipasi. Pengambilan keputusan sosial terkait keikutsertaan dalam kegiatan sosial, seperti siskamling, PKK, organisasi kemasyarakatan dan sebagainya akan membuat rendahnya tingkat partisipasi responden suami dan istri dalam menjalankan usahatani. Nilai yang diperoleh dari uji statistik kedua variabel adalah negatif, sehingga tingkat pengambilan keputusan sosial yang tinggi akan menyebabkan partisipasi dalam usahatani menjadi rendah. Keikutsertaan laki-laki dan perempuan yang terlalu besar dalam kegiatan sosial akan memperkecil partisipasinya dalam usahatani. Oleh karena itulah pembagian kerja antara suami dan istri yang seimbang dibutuhkan agar kegiatan-kegiatan pada tiap ranah gender tidak terabaikan.
73
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini sebagai berikut: a. Berdasarkan ciri usahataninya, luas lahan yang dimiliki responden petani
dan peternak tergolong sempit atau kurang dari 0,5 hektar. Modal usahatani yang dimiliki petani dan peternak sebagian besar tergolong modal besar. Jumlah tenaga kerja yang bekerja pada usahatani responden tergolong sedikit atau berjumlah 1 hingga 2 orang. Pendapatan usahatani per tahun yang diperoleh responden tergolong dalam kategori menengah.
b. Berdasarkan profil rumah tangga, usia responden laki-laki dan perempuan tergolong dalam kategori dewasa awal. Besar tanggungan rumah tangga petani hortikultura berada pada kategori sedikit dan menengah, sedangkan pada rumah tangga peternak berada pada kategori menengah. Tingkat pendidikan responden, baik laki-laki maupun perempuan, tergolong rendah. Tingkat pengeluaran rumah tangga responden tergolong tinggi.
c. Pembagian peranan gender dalam rumah tangga responden didominasi oleh perempuan pada ranah reproduktif dan didominasi oleh laki-laki pada ranah produktif.
d. Pengambilan keputusan yang berkaitan dengan reproduktif didominasi oleh perempuan dan bersama, sementara pengambilan keputusan yang berkaitan dengan produktif didominasi oleh laki-laki.
e. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ciri usahatani, profil rumah tangga dan tingkat kesadaran tentang gender memiliki hubungan nyata dengan tingkat kesetaraan gender pada rumah tangga petani dan peternak di Desa Sunten Jaya.
f. Variabel dalam ciri usahatani yang memiliki hubungan nyata dengan tingkat kesetaraan gender adalah luas lahan, modal dan jenis komoditas. Secara rinci, faktor yang memiliki hubungan nyata dengan tingkat akses adalah modal. Faktor yang memiliki hubungan nyata dengan tingkat kontrol adalah luas lahan dan jenis komoditas. Faktor yang memiliki hubungan nyata dengan partisipasi dan manfaat adalah luas lahan, modal dan jenis komoditas.
g. Variabel dalam profil rumah tangga yang memiliki hubungan nyata dengan tingkat kesetaraan gender adalah besar tanggungan, tingkat pendidikan dan tingkat pengeluaran rumah tangga. Secara rinci, faktor yang memiliki hubungan nyata dengan akses dan manfaat adalah tingkat pengeluaran. Faktor yang mempengaruhi tingkat kontrol adalah besar tanggungan. Faktor yang memiliki hubungan nyata dengan tingkat partisipasi adalah tingkat pendidikan.
h. Variabel dalam tingkat kesadaran tentang gender yang memiliki hubungan nyata dengan tingkat kesetaraan gender adalah pembagian kerja produktif dan sosial, serta pengambilan keputusan reproduktif, produktif dan sosial. Faktor yang memiliki hubungan nyata dengan tingkat akses dan kontrol adalah pembagian kerja produktif dan pengambilan keputusan produktif. Faktor yang memiliki hubungan nyata dengan tingkat partisipasi adalah
74
pembagian kerja produktif dan sosial serta pengambilan keputusan produktif dan sosial. Faktor yang memiliki hubungan nyata dengan tingkat manfaat adalah pembagian kerja produktif dan sosial serta pengambilan keputusan reproduktif.
Saran
Mengingat adanya kebutuhan akan pengembangan usahatani hortikultura dan usahaternak, disarankan untuk diadakannya pelatihan tentang usahatani dan usahaternak bagi petani laki-laki dan perempuan serta peternak laki-laki dan perempuan sesuai dengan minat dan kebutuhan gender masing-masing, demi menghindari diskriminasi. Pelatihan dapat dilakukan oleh lembaga pemerintah, swasta, LSM maupun kontak tani. Pelatihan ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan petani dan peternak terkait teknik pertanian brokoli