• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesetaraan Gender dan Perlindungan Anak

Dalam dokumen LP3M UMY | PENELITIAN (Halaman 107-111)

Kesetaraan Gender

Meskipun gagasan persamaan atau kesetaraan laki-laki dan perempuan telah dinyatakan oleh Islam sedemikian jelas dan dipercayai semua orang muslim. Akan tetapi ketika memasuki pertanyaan dalam hal-hal apa saja persamaan dan kesetaraan itu diberlakukan?. Muncullah perdebatan sengit antara dua kutub pandangan yang saling berhadapan. Para pemikir modern yang progresif-liberal di satu pihak melancarkan kritik-kritik keras dan gugatan-gugatan mendasar terhadap pikiran-pikiran tradisional yang cenderung konservatif, khususnya menyangkut peran-peran publik kaum perempuan. Perbedaan metode ijtihad yang digunakan oleh kaum fundamentalis-konservatif dengan kaum progresif-liberal, telah mempengaruhi pandangan mereka tentang posisi, peran dan nasib perempuan di bidang politik, ekonomi, pendidikan, hukum, dan sosial budaya dalam masyarakat.

Peran gender yang menjadi masalah dan digugat adalah peran gender yang diskriminatif dan menimbulkan ketidakadilan struktural maupun fungsional yang terjadi baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Perbedaan gender tersebut dibentuk, disosialisasikan, diperkuat bahkan dikonstruksikan secara sosio kultural melalui ajaran keagamaan maupun masyarakat. Menurut Mansour Faqih (1997) setidaknya ada lima manifestasi ketidakadilan gender yang saling kait mengkait dan saling berpengaruh yang ditimbulkan oleh adanya diskriminasi gender, yakni marginalisasi ekonomi (pemiskinan), subordinasi (merendahkan), violence (kekerasan), stereotype (pelabelan negative), burden (terlalu besar beban kerja). Semua manifestasi ketidakadilan ini bisa terjadi pada berbagai tingkatan.

Pertama, tingkat negara atau organisasi antar negara. Pada tingkat ini banyak kebijakan dan hukum negara, perundang-undangan, serta program kegiatan yang mencerminkan ketidakadilan gender. Kedua, ketidakadilan gender termanifestasikan pada dunia kerja, dunia pendidikan, maupun organisasi. Aturan kerja, manajemen, dan kebijakan organisasi, serta kurikulum justru melanggengkan ketidakadilan gender. Ketiga, termanifestasikan dalam adat istiadat masyarakat, kultur suku-suku, bahkan dalam penafsiran keagamaan yang tercermin dalam mekanisme interaksi dan pengambilan keputusan dalam masyarakat. Keempat, ketidakadilan gender termanifestasikan dalam lingkungan keluarga. Proses pengambilan

108

keputusan, pembagian kerja, interaksi antar anggota keluarga dalam keseharian dilaksanakan dengan menunjukkan adanya bias gender. Dalam hal ini keluarga menjadi tempat sentral dalam mensosialisasikan ketidakadilan gender.

Pemahaman ketidakadilan ini lama-kelamaan mengakar kuat dalam keyakinan dan menjadi idiologi kaum laki-laki maupun perempuan dalam pribadi, keluarga, sampai pada tingkat Negara maupun organisasi antar Negara. Ketidakadilan ini semakin Nampak sebagai akibat dari proses pembangunan yang tidak memperhatikan gender, sehingga melahirkan banyak kerugian di pihak perempuan. Oleh karena itu, Mosse (1996) menawarkan tiga macam pendekatan untuk menegakkan pembangunan yang berwawasan gender, yakni pendekatan anti kemiskinan (anti-proverty approach), pendekatan efisiensi (efficiency approach), dan pendekatan pemberdayaan (empowerment approach).

Adapun berbagai kajian penelitian gender yang dapat dilakukan diantaranya meliputi perdagangan perempuan dan anak, peraturan perundangan yang menghapus diskriminasi terhadap perempuan, akses pekerja perempuan untuk mendapatkan kredit dan layanan usaha, tindakan aborsi, perlindungan perempuan di bidang keimigrasian, penentuan hak kewarganegaraan anak, evaluasi program pemberdayaan perempuan di segala bidang, pengkajian drop out pendidikan pada tingkat SMA ke bawah, pola pengambilan keputusan dalam hak-hak kesehatan dan reproduksi, KDRT, pengembangan ekonomi produktif perempuan pedesaan, pengarusutamaan gender di sector agama, pendidikan, ekonomi, tenaga kerja, pertanian, hukum, HAM, kesehatan, dan teknologi serta kepedulian dan peran serta perempuan dalam pelestarian dan pengelolaan lingkungan, dan sebagainya.

Perlindungan Anak

Konvensi atau kesepakatan tentang perlindungan terhadap kesejahteraan anak, telah menetapkan standart minimal yang harus dipenuhi pemerintah untuk memberikan pelayanan kesehatan, pendidikan, hukum, dan sosial kepada semua anak. Indonesia telah merativikasi Konvensi Hak Anak (KHA) yang terdapat dalam bentuk Keputusan Presiden No.36 tahun 1990. Dengan demikian sebenarnya anak Indonesia dilindungi hak-haknya dari perlakuan semena-mena dari siapapun. Menurut KHA anak adalah mereka yang berumur dibawah 18 tahun. Hak dasar setiap anak yang terdapat dalam KHA meliputi: (1) hak atas kelangsungan hidup; (2) hak tumbuh dan berkembang; (3) hak untuk dapat perlindungan dari pengaruh yang merugikan anak, dan (4) hak untuk berpartisipasi.

109

Berbagai topik kajian masalah penelitian yang terkait dengan perlindungan terhadap hak-hak anak adalah sebagai berikut: (1) hak memperoleh perlindungan dari diskriminasi dan hukuman; (2) hak memperoleh pelindungan dan perawatan seperti untuk kesejahteraa, keselamatan, dan kesehatan.; (3) tugas negara untuk menghormati tangung jawab hak dan kewajiban orang tua; (4) negara mengakui hak anak, serta kewajiban negara menjamin perkembangan dan kelangsungan hidup anak; (5) hak memperoleh kebangsaan, nama serta hak untuk mengetahui dan diasuh orangtuanya; (6) hak memelihara jati diri termasuk kebangsaan, nama dan hubungan keluarga; (7) hak untuk tinggal bersama orang tua dan memperoleh informasi yang diperlukan; (8) kebebasan untuk berkumpul dan menyatakan pendapat, berfikir dan beragama; (9) orang tua bertanggung jawab untuk membesarkan dan membina anak, negara mengambil langkah membantu orang tua yang bekerja agar anak mendapat perawatan dan fasilitas; (10) memperoleh perlindungan akibat kekerasan fisik, mental, penelantaran atau perlakuan salah (eksploitasi) serta penyalahgunaan seksual; (11) memperoleh perlindungan hukum terhadap gangguan; (12) perlindungan anak yang tidak mempunyai orang tua menjadi kewajiban Negara; (13) perlindungan kepada anak yang berstatus pengungsi; (14) hak perawatan khusus bagi anak cacat; (15) memperoleh perawatan kesehatan; (16) hak memperoleh jaminan social; (17) hak atas taraf hidup yang layak bagi pengembangan fisik, mental dan social; (18) hak atas pendidikan dan beristirahat serta bersenang-senang untuk terlibat dalam kegiatan bermain, berkreasi, dan seni budaya; (19) hak atas perlindungan dari eksploitasi ekonomi; (20) perlindungan dari penggunaan obat terlarang; (21) perlindungan dari segala bentuk eksploitasi seksual; (22) perlindungan terhadap penculikan dan penjualan atau perdagangan anak; (23) perlindungan terhadap semua bentuk eksploitasi terhadap segala aspek kesejahteraan anak; (24) larangan penyiksaan hukuman yang tidak manusiawi; (25) hukum acara pidana anak dan hak memperoleh bantuan hukum baik di dalam atau di luar pengadilan.

Berbagai jenis tindak kekerasan pada anak yang terjadi saat ini, masih menunjukkan adanya anggapan bahwa anak sebagai objek dari kekerasan, baik fisik, psikis, maupun seksual, yang sebagian besar dilakukan oleh orang- orang dekat yang sudah dikenal sejak lama oleh anak. Kekerasan pada anak tidak mengenal strata social. Di kalangan keluarga menengah ke bawah kekerasan pada anak dikarenakan faktor kemiskinan. Di kalangan masyarakat menengah ke atas, kekerasan pada anak lebih banyak dikarenakan ambisi orang tua yang terlalu tinggi untuk menjadikan anaknya yang terbaik di sekolah, di masyarakat, termasuk selebritis cilik agar bisa tampil di televisi.

Kekerasan pada anak juga banyak dijumpai di lingkungan sekolah. Misalnya, kurikulum yang terlalu padat dan tidak berpihak pada anak, sikap beberapa oknum guru yang kadang kasar dan memberikan hukuman fisik

110

anak dengan dalih menanamkan disiplin, dan serangkaian bentuk kekerasan terhadap anak tidak dapat dibenarkan. Semua ini akibat dari paradigma yang salah tentang anak di kalangan banyak orang tua. Seolah olah anak adalah hak milik orang tua yang boleh diperlakukan semaunya, asal dengan alasan yang menurut orang tua masuk akal.

Sudah saatnya orang tua menyadari, bahwa anak-anak juga memiliki hak asasi seperti manusia dewasa lainnya yang harus dihargai. Maka, hak- hak anak perlu ditegakkan, antara lain hak untuk hidup layak, tumbuh dan berkembang optimal; memperoleh perlindungan dan ikut berpartisipasi dalam hal-hal yang menyangkut nasibnya sendiri sebagai anak. Pelaku tindak kekerasan pada anak seharusnya mendapatkan sanksi pidana maksimal, agar memiliki efek jera.

Kata kunci : kesetaraan gender, perlindungan anak, ketidakadilan gender, konvensi hak anak, pekerja perempuan, kekerasan terhadap anak.

111

5

Revitalisasi Adat Untuk Penguatan Kehidupan Keagamaan

Dalam dokumen LP3M UMY | PENELITIAN (Halaman 107-111)