Sepuluh tahun terakhir bangsa ini nyaris terpuruk dalam kesengsaraan yang absolut. Pasalnya jelas, moralitas-etika bangsa ini semakin rendah. Ketidakadilan semakin menggila. Hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas. Gap ekonomi semakin mencolok. Kekerasan berbau keagamaan meningkat. Kekerasan terhadap anak terus menjungkir balikan kepekaan kita. Bahkan dunia pendidikan semakin dikomersialkan sehingga nyaris hilang hakikatnya. Pendidikan kita minus nurani.
Persoalan bangsa yang semacam itu tentu membahayakan kita semua. Tak boleh lagi kita berpangku tangan. Apalagi kita telah sepakat dengan dibukanya misi perdagangan bebas, alias perekonomian liberal multinasional merupakan pilihan anak-anak bangsa ini. Di level ASEAN, maupun ASIA kita telah sepakat dengan dibukanya Masyarakat Ekonomi Asia (Asian Economics Community) yang bermakna persaingan level asia semakain nyata adanya dalam bidang ekonomi-perdagangan.
Tetapi bukan hanya persaingan ekonomi-perdagangan, sekaligus persaingan Sumber Daya Manusia dengan pelbagai persoalan profesionalisme dan produktivitas kerja, serta efisiensi. Selain tentu saja persoalan manajemen dan improvisasi, bisa dengan istilah inovasi untuk merebut persaingan. Siapa yang gagal dalam menciptalkan kondisi yang stabil, gagal menciptakan inovasi produksi dan gagal menciptakan Sumber Daya yang handal maka bisa dipastikan akan gagal total dalam persaingan.
Persoalan dalam negeri sendiri masih compang-camping. Kita bisa perhatikan korupsi diantara para pejabat penyelenggaran negara (birokrasi level Kabupaten, Provinsi sampai Pusat) menjadi santapan setiap hari. Persaingan yang menunjukkan adanya egoism sectoral antar lembaga pemerintahan juga tak kunjung usai. Antar kementrian tidak juga akur dalam mengambil kebijakan untuk warganya. Lihat misalnya Kementrian Energi dan Sumber Daya Alam (ESDA) bertabrakan dengan Kementrian Maritim. Konflik antara Kementrian Penataan Aparatur Pemerintahan (Sipil) dengan Kementrian Sumber Daya Manusia.
Sungguh semua bisa kita baca sebagai sebuah konflik peradaban dalam menata negara. Hal ini bukan saja konflik interest politik, yang sarat kepentingan politik, namun lebih mencerminkan adanya krisis etika politik, krisis peradaban serta krisis kemanusiaan. Berpolitik tetapi minus etika.
91
Berpolitik tetapi buta kamanusiaan. Berpolitik hanya mendasarkan pada kepentingan sesaat dan parsial. Dampak yang kita dapatkan karena itu semakin nyata yakni kurang pekanya para apparat penyelenggara negara, elit politik, elit birokrasi serta alat-alat kelengkapan negara yang rabun kemanusiaan.
Dunia ini terlalu penuh dengan tipu muslihat. Dunia ini juga terlalu penuh dengan aktivitas transaksional politik yang tidak jarang “memakan korban” kemanusiaan. Pelanggaran HAM menjadi fenomena akut yang tak kunjung usai. Kekerasan berbasis agama bahkan selalu hadir diantara mereka sesama penyembah Tuhan. Kekerasan terhadap perempuan sebagai bentuk ketidakadilan senantiasa mewarnai kehidupan kita bersama. Padahal jika kita telusur semua kita lahir dari Rahim seorang perempuan. Basis-basis kearifan lokal (local wisdom) yang menjadi kekayaan bangsa ini terkoyak oleh kepentingan pribadi yang tak jarang menggerus dimensi kemanusiaan kita. Bahkan, yang turut andil dalam memperkeruh persoalan bangsa adalah media yang bekerja hanya mengeruk keuntungan material semata. Media tidak hadir sebagai social con troll maupun menjadi pendukung perkembangan moral etik anak bangsa. Keterpurukan dengan demikian nyaris sempurna. Namun kita tetap harus menyadari bahwa bagaimana pun kita tidak mungkin lari dari bangsa ini. Kita tidak bisa lari sebagai pecundang. Hal yang mungkin kita lakukan adalah menanamkan rasa optimisme pada anak-anak bangsa ini kemudian mencari sebanyak mungkin alternatif penyelesaian persoalan bangsa ini.
Krisis Peradaban
Jejeran fakta yang tertera diatas dalam kalimat yang ringkas dapat kita katakana sebagai krisis peradaban. Bangsa ini krisis peradaban karena salah urus serta mis-management. Salah urus karena yang berada di dalamnya bukanlah orang-orang yang memang mengerti dengan sesungguhnya persoalan bangsa. Mereka berada di dalam karena transaksi politik alias politik dagang yang dipergunakan.
Kekerasan yang terus berulang di sekolah. Kerusuhan yang terus berulang di beberapa lokasi di Indonesia. Kerusuhan antar etnik dan agama yang memakan korban manusia dan fasilitas publik merupakan bukti nyata yang nyaris tak terbantahkan jika kita tengah berada dalam krisis multi- dimensional.
Akankah kita terus berada dalam lingkaran krisis peradaban, sehingga bangsa ini terus kalah dalam persaingan global? Tentu tidak boleh terjadi. Kekalahan persaingan hanya akan menciptakan luka batin dan luka lahir yang mendalam. Kekalahan hanya akan menciptakan kekecewaan yang tidak bermakna jika tidak berhasil mengambil I’tibar.
92
Oleh karena itu, krisis peradaban karena ulah manusia-manusia rakus, human error karena tidak ahli dalam bidangnya yang mengerjakan, serta kesalahan management harus segera ditinggalkan menuju profesionalime dan sikap yang adil akan kemampuan diri sendiri.
Krisis Kemanusiaan
Mengatasi semua itu tidak mungkin terjadi jika kita tengah mengalami krisis kemanusiaan. Salah satu penyebab krisis kemanusiaan adalah tidak dimilikinya rasa memiliki dan mencintai atas apa yang dimiliki dan di dapatkan. Kita tidak mencintai akan alam semesta yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita sehingga kita dengan semena-mena mengusaia seakan-akan milik kita sendiri dan kemudian merusanya.
Kita tidak mencintai apa yang kita telah dapatkan sehingga kita lupa seakan-akan apa yang kita peroleh adalah hal yang tidak mungkin hilang atau berpindah tangan. Kita paksakan apa yang kita dapatkan dengan berbagai cara sekalipun harus menindas, menelikung, mencelakai serta menghardik orang lain. Inilah bentuk ketidakmanusiawian yang sering hingga dalam diri kita sehingga menciptakan arogansi personal sekaligus arogansi sosial.
Terlalu banyak orang melakukan penelitian dalam berbagai bidang, termasuk dalam bidang social humaniora. Namun sayang, penelitian pun hanya berakhir dalam laporan penelitian. Penelitian sekedar memenuhi dan menggugurkan tugas sebagai akademisi dan peneliti. Penelitian dilakukan sekedar untuk menghabiskan dana dan alokasi anggaran tahunan. Penelitian akhirnya tidak berdampak sosial kemanusiaan. Bahkan tidak jarang penelitian sosial humaniora hanya bersifat daur ulang. Penelitian sosial humaniora tidak ubahnya penelitian “pemindahan lokasi” belaka.
Penelitian semacam itu sudah dapat dipastikan tidak berdampak pada pengembangan peradaban apalagi mengatasi krisis kemanusiaan. Penelitian benar-benar hanya bergerak sebagai bagian dari ritual dosen dan peneliti perguruan. Hal ini juga merupakan kesalahan dari national policy maker yang hanya mengharuskan para dosen menjadi peneliti dan publikasi hasil penelitiannya.
Krisis kemanusiaan akan terus berlanjut jika tradisi penelitian hanya berhenti pada ritual perguruan tinggi semata. Penelitian karena itu harus bergeser dari ritual penghabisan dana dari negara dan internal perguruan tinggi menjadi penelitian yang berdampak pada resposivitas persoalan- persoalan kemanusiaan yang semakin akut.
Strategi Ke Depan
Beberapa hal agaknya memang perlu diperhatikan untuk membangun kembali peradaban dan kemanusiaan yang tengah krisis tersebut. Kiranya
93
tidak mungkin bangsa ini melepaskan diri dari kontesk global sudahlah mafhum. Tetapi, memikirkan yang menjadi persoalan global kemudian mengambil aksi yang bersifat local atau nasional dalam kaitanya dengan think globally act locally) tidak bisa dilupakan.
Berpikir global sebagai basis merancang sebuah aktivitas dalam negeri (bahkan local sekalipun) harus dilakukan oleh para akademisi, agamawan, peneliti serta aktivis social lainnya. Para seniman, juru dakwah, filosof, guru, dosen, serta mahasiswa biarlah menyusun agendanya sesuai dengan keahliannya masing-masing. Namun jangan dilupakan bahwa mereka semua adalah manusia-manusia yang tidak bisa dilepaskan dari konteks global, regional, nasional maupun local. Mereka semua adalah individu yang juga tidak bisa dilepaskan dari konteks kemanusiaan universal.
Oleh sebab itu, persoalan global warming, HAM Internasional, global governance, global security, human security, multiculturalism, indigenous people, women and violence, local genius, global peace dan global terrorism ataupun global radicalism. Tentu saja kita membutuhkan media yang mampu menjadi “bridging” antara kepentingan kemanusiaan sekaligus kepentingan peradaban. Hal-hal seperti di atas semuanya harus diperhatikan secara seksama. Semuanya merupakan bagian dari etika sosial yang tidak akan lepas dari pergaulan antarsesama umat manusia, sesama umat Tuhan dalam satu wilayah bernama penduduk bumi. Jika kita di Indonesia, maka kita adalah penduduk bumi Indonesia.
Kata kunci : strategi kebudayaan, Asian Economics Community, krisis kemanusiaan, local wisdom, national policy maker, global warming, global governance, global securty, global peace, global terrorism, global radicalism.
94