>Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
2. Kesetaraan Sebagai Warga Bangsa Indonesia
Pengakuan akan prinsip kesetaraan dan kesedarajatan itu secara yuridis diakui dan dijamin oleh negara melalui UUD’45. Warga negara tanpa dilihat perbedaan ras, suku, agama, dan budayanya diperlakukan sama dan memiliki kedudukan yang sama dalam hukum dan pemerintahan negara Indonesia mengakui adanya prinsip persamaan kedudukan warga negara. Hal ini dinyatakan secara tegas dalam Pasal 27 ayat (1) UUD’45 bahwa “segala warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”.
Dinegara demokrasi, kedudukan dan perlakuan yang sama dari warga Negara merupakan ciri utama sebab demokrasi menganut prinsip persamaan dan kebebasan. Persamaan kedudukan di antara warga Negara, misalnya dalam bidang kehidupan seperti persamaan dalam bidang politik, hukum, kesempatan, ekonomi, dan sosial.
Demikian juga dengan perubahan sosial kerena munculnya perbedaan dan keragaman tidak selalu dimaknai secara negatif. Contohnya saja di dunia sepak bola sekarang ini banyak sekali klub bola yang memasukan pemain asing untuk memperkuat klubnya. Di Eropa khususnya liga Inggris dan Spanyol keragaman menjadi ciri khasnya. Bahkan klub sepak bola yang beragam menjadi juara di di liga masing-masing negara misalnya Barcelona di Spanyol, Manchester United (MU), dan Inter Milan di Italia. Bahkan di Indonesia sendiri juga cukup banyak pemain asing seperti di Persipura ada Bio dari Negro, di Sriwijaya FC ada Kayamba dan di Persib Bandung ada Gonzales. Klub MU yang merupakan klub paling beragam ada dari berbagai kebagsaan dan warna kulit mengisi klub ini seperti dari Afrika, Asia, Eropa, Amerika dan Australia. Keragaman itu yang membuat MU selalu tampil segar ketika bertanding.
Terlepas dari semua MU merupakan paduan yang luar biasa dari berbagai orang dengan segala talenta dari belahan bumi untuk menghadirka sebuah sepak bola yang mampu menyerang dan bertahan dan maju terus untuk menjadi juara. Banyak keuntungan yang mereka peroleh tetapi juga menjadi salah satu contoh mengenai bagaimana memadukan berbagai perbedaan menjadi sebuah kekayaan yang saling menguntungkan bagu semua pihak yaitu: pemilik klub, pengelola, pemain, sponsor, negara asal pemain bahkan penonton atau fans.
Bercermin pada klub sepakbola MU, jika sebuah masyarakat memiliki kemampuan mengelola segala perbedaan yang ada dalam konteks dan mekanisme yang demokratis niscaya masyarakat tersebut akan menjadi masyarakat yang kuat. Indonesia merupakan negara yang memilki banyak keragaman budaya yang sangat tinggi berdasarka keberadaan kesukuan beserta agama yang dipeluk. Indonesia juga memilki sumberdaya yang bertalenta dalam berbagai bidang sebagai modal intelektual (human intectual capital) utama bagi pembangunan kekuatan bangsa dan negara. Indonesia membutuhkan meneger atau pelatih betangan dingin untuk meracik segala perbedaan menjadi sebagai sebuah modal utama pembangunan ssebuah neraga-bangsa yang kuat dan maju di segala bidang. Dengan mempertimbangankan segala persoalan yang dihadapi, kepemimpinan yang mampu mensinergikan segala perbedaan merupakan kebutuhan mutlak dan kunci kemajuan.
>MENGANALISIS PROBLEMATIKA KERAGAMAN DAN SOLUSINYA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT DAN NEGARA
Dalam menganalisis problematika dan solusi ada 2 hal yang menjadi 2 pertanyaan dasar yaitu :
1. Apa contoh problematika dalam fakta keragaman kehidupan masyarakat sekarang ini? 2. Apa persoalaan yang muncul ketika keragaman mesti mendasari perkembangan masa depan Indonesia kearah perwujudannya menjadi sebuah bangsa yang kuat dan kokoh?
Dalam bermasyarakat kasus yang paling banyak terjadi adalah tentang kehidupan sex. Setiap orang pasti memiliki aneka ragam pemikiran baik negative maupun positif tentang sex di
kawula muda. Dari sini kita akan mencoba menelaah lebih jauh tentang pandangan orang tentang sex tersebut.
Menurut Sigmund Freud, dalam kajian psikologis maupun trajektoris(riwayat hidup) seseorang, seks merupakan aspek dasar dimana seseorang bisa menemukan identitas diri, sekaligus keinginan berkuasa. Banyak hal – hal negative yang terjadi akibat dari seks ini antara lain pemerkosaan, aborsi yang bersifat negatif, prostitusi, dan mungkin masih banyak lagi. Dan sebagian orang mengkambinghitamkan media komunikasi yang
cepat(televisi,internet,dll), kurangnya kehidupan beragama yang menjalani kehidupan seks secara negative tersebut. Kasus yang sangat ironis adalah tentang bagaimana tokoh
masyarakat dan tokoh agama justru terlibat dalam penyimpangan tersebut. Kita ambil saja kasus syekh puji yang menikahi anak dibawah umur karena dia mempunyai harta berlebih dengan aneka macam dalih yang dia kemukakan. Dan dari banyak kasus yang terjadi akan muncul norma yang berlaku dalam masyarakat antara lain cemoohan, sindiran, sampai pengucilan. Dari kasus – kasus seksual tersebut solusinya antara lain :
1. Menyelenggarakan pendidikan seks yang benar supaya tidak terjadi penyimpangan seks untuk kaum muda.
2. Membuat peraturan dan pembatasan terhadap program – program yang berdampak pada pemahaman mengenai kekerasan dan kebebasan seksual.
3. Membongkar masyarakat mengenai seks dan seksualitas.
Dari contoh problematika tersebut terlihat solusi tersebut dihasilkan dengan keputusan bersama yang menguntungkan berbagai pihak. Dan solusi tersebut bisa menjadi wadah aneka ragam pemikiran tentang seksualitas
Dalam kehidupan bernegara, Indonesia di hadapkan permasalahan keragaman yaitu tentang perbedaan suku dan budaya. Hal tersebut sudah terjadi sejak Indonesia berdiri dan sudah menjadi cirri khas bangsa Indonesia. Perbedaan tentang suku dan budaya akan menjadi persoalan besar jika tidak ada nilai yang mengikatnya. Dan di Indonesia nilai yang ada adalah demokrasi.
Tujuan di terapkannya demokrasi di Indonesia adalah untuk keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Jika dalam kehidupan bernegara kedua hal tersebut tidak terwujud berarti demokrasi tidak diterapkan secara mendasar.
Bapak soekarno,presiden pertama Indonesia merumuskan demokrasi dalam bentuk konsep Nasakom(Nasionalisme, Agama , dan komnunisme). Gagasan tersebut merupakan upaya membangun konsep kebersamaan diantara 3 aliran politik yang berkembang saat itu. Dengan konsep Nasakom diharapkan para nasionalis , tokoh agama , dan komunis dapat saling mendukung dan memperkuat. Namun konsep tersebut tidak membuahkan hasil yang baik dikarenakan kesejahteraan rakyat belum terpenuhi.
Konsep demokrasi yang masih bertahan di Indonesia adalah tentang Pancasila. Sejak
pemikiran tersebut di kemukakan oleh soekarno, pancasila merupakan salah satu dasar yang menjadikan Indonesia bersatu sejak hari kemerdekaan hingga saat ini.
Dalam bidang ekonomi, Muhammad hatta mengemukakan konsep Koperasi sebagai salah satu pilar penting dalam memajukan dan menyejaterakan masyarakat Indonesia. Koperasi adalah bentuk demokrasi ekonomi di karenakan usaha tersebut di kelola secara terbuka dan adil.
Imbas negatif yang muncul ketika demokrasi tidak di jalankan secara mendasar yaitu pemberontakan. Indonesia banyak mencatatkan rekor pemberotakan antara lain
pemberontakan PKI, pemberontakan DI-TII, pemberontakan di Timor leste, dan yang saat ini paling disoroti adalah tentang pemberontakan RMS.
Adanya demokrasi bukan untuk menghilangkan konflik akan tetapi untuk mengelola perbedaan yang ada supaya potensi konflik teredam dan intensitas konflik terkendali sehingga bisa diperkecil.
Proses globalisasi juga memberi dampak yang negatif terhadap keragaman
yang ada di Indonesia antara lain gaya hidup, cara hidup serta budaya. Jika masyarakat tidak siap dan menerima keragaman tersebut,maka akan berdampak pada perilaku menyimpang, kekerasaan, perkelahian politik massa, kecurangan dan kemunafikan. Demokrasi sebagai falsafah kehidupan yang bukan sekedar mekanisme legal formal dalam prosedur pengambilan keputusan sangat diperlukan saat ini. Demokrasi juga merupakan falsafah pemberi nafas dan roh kehidupan sosial-budaya yang menjiwai pandangan bahwa setiap orang adalah sama dan sederajat. Orang diberikan kebebasan yang sama sekaligus juga diberi tanggungjawab yang sama untuk memelihara kebebasan bersama. Demokrasi akan cidera ketika terjadi
pelanggaran kebebasan. Didalam kehidupan kebebasan ada batasnya yaitu ketika kebebasan seseorang merampas kebebasan orang lain atau kebebasan seseorang bertemu dan
bertumpang tindih dengan kebebasan orang lain. Dialog sebagai proses demokrasi adalah sebagai aturan main untuk menengahi tercideranya kebebasan seseorang. Kebebasan dalam keragaman masyarakat adalah kebebasan yang dirumuskan bersama.
Indonesia adalah suatu negara yang memiliki banyak keragaman. Indonesia punya banyak etnis, suku, ras, agama, dll. maka perlu ada satu nilai yang dapat mengikat semua aspek tersebut.Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, beliau membentuk satu konsep yang menurut beliau dapat mempersatukan bangsa Indonesia, konsep beliau adalah NASAKOM yaitu Nasionalisme Agama dan Komunis. Namun harapan tersebut lain dari kenyataan yang ada, akhirnya muncullah Pancasila sebagai dasar Negara yang dipandang lebih dapat
mempersatukan bangsa Indonesia dan oleh beberapa kalangan disebut sebagai upaya membumikan demokrasi secara local dan khas Indonesia.
Demokrasi adalah paham yang bebas, sederajad, dan tidak diskriminatif. Sehingga
keragaman yang ada di Indonesia yang mempunyai bahaya perpecahan dan konflik dapat berubah menjadi potensi yang luar biasa. Demokrasi hadir bukan untuk menghilangkan
konflik, tetapi untuk mengelola perbedaan yang ada supaya potensi konflik teredam dan intensitas konflik terkendali sehingga bisa diperkecil. Selain itu demokrasi memberi ruang yang bebas bagi semua orang untuk berpendapat dan memutuskan yang terbaik bagi dirinya dan kota (negara) tempat mereka tinggal sehingga konflik yang ada tidak dihilangkan tapi dikelola secara bersama supaya tidak menimbulkan bahya bagi semua orang.
Di Indonesia sekarang ini, keragaman tidak hanya datang dari factor internal tapi juga factor eksternal. Factor eksternal tersebut adalah globalisasi. Banyak masyarakat yang belum siap menerima dan hidup berdampingan secara damai dengan orang lain yang punya gaya hidup serta budaya yang berbeda. Ketidaksiapan tersebut membuat orang berperilaku menyimpang untuk menunjukkan bahwa dia kuat, namun dengan sikap yang demikian dapat pula
menunjukkan kelemahan dan kerapuhan jiwanya. Oleh karenanya, demokrasi sebagai falsafah kehidupan, yang bukan hanya sekedar prosedur dalam pengambilan keputusan. Demokrasi adalah falsafah yang membuat semua orang punya pandangan bahwa semua orang adalah sama dan sederajad. Demokrasi bisa terjadi kalau adanya dialog bukan monolog, dimana dialog memampukan seseorang mengutarakan pendapatnya.
Yang terpenting di sini adalah paham bahwa Indonesia terdiri dari banyak SARA, budaya, dll, sehingga rakyat sadar bahwa arti kebebasan bukan tanpa batas, tapi batasanya adalah ketika kebebasan seseorang merampas kebebasan oranglain. Kebebasan yang ada adalah kebebasan yang dirumuskan bersama, kebebasan konsensual hasil consensus.
KONFLIK SOSIAL DALAM KEMAJEMUKAN MASYARAKAT INDONESIA
>.Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau. Terletak pada posisi geografis yang strategis dari 6°08′ LU hingga 11°15′ LS, dan dari 94°45′ BT hingga 141°05′ BT , terbentang dari Sabang hingga Merauke. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki banyak keanekaragaman adat istiadat, bahasa, agama, baju daerah, tarian, alat musik, dan yang lainnya.
>.Jika memperhatikan bangsa Indonesia, bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke ini, terdiri dari bermacam suku bangsa, budaya, ras dan agama. Disebut juga masyarakat majemuk atau multikultur. Kondisi masyarakat seperti ini jika berjalan serasi dan harmonis akan menciptakan integrasi sosial. Jika tidak, terjadilah disintegrasi sosial atau konflik sosial. Pengaruh kemajemukan masyarakat yang perlu diperhatikan karena dapat menimbulkan konflik sosial adalah munculnya sikap primordial (primordialisme) yang berlebihan dan stereotip etnik.
>.Indonesia dikenal dengan kemajemukan masyarakat, baik dari sisi etnisitas maupun budaya serta agama dan kepercayaannya. Kemajemukan juga menjangkau pada tingkat kesejahteraan ekonomi, pandangan politik serta kewilayahan, yang semua itu sesungguhnya memiliki arti dan peran strategis bagi masyarakat Indonesia. Meski demikian, secara bersamaan kemajemukan masyarakat itu juga bersifat dilematis dalam kerangka penggalian, pengelolaan, serta pengembangan potensi bagi bangsa Indonesia untuk menapaki jenjang masa depannya. Kemajemukan masyarakat Indonesia dapat berpotensi membantu bangsa Indonesia untuk maju dan berkembang bersama. Sebaliknya, jika kemajemukan masyarakat tersebut tidak dikelola dengan baik, maka akan menyuburkan berbagai prasangka negatif (negative stereotyping) antar individu dan kelompok masyarakat yang akhirnya dapat merenggangkan ikatan solidaritas sosial.
>Istilah Masyarakat Indonesia Majemuk pertama kali diperkenalkan oleh Furnivall dalam bukunya Netherlands India: A Study of Plural Economy (1967), untuk menggambarkan kenyataan masyarakat Indonesia yang terdiri dari keanekaragaman ras dan etnis sehingga sulit bersatu dalam satu kesatuan sosial politik. Kemajemukan masyarakat Indonesia ditunjukkan oleh struktur masyarakatnya yang unik, karena beranekaragam dalam berbagai hal.
> Faktor yang menyebabkan kemajemukan masyarakat Indonesia adalah sebagai berikut:
a. Keadaan geografi Indonesia yang merupakan wilayah kepulauan yang terdiri dari lima pulau besar dan lebih dari 13.000 pulau kecil sehingga hal tersebut menyebabkan penduduk yang menempati satu pulau atau sebagian dari satu pulau tumbuh menjadi kesatuan suku bangsa, dimana setiap suku bangsa memandang dirinya sebagai suku jenis tersendiri.
b. Letak Indonesia diantara Samudra Indonesia dan Samudra Pasifik serta diantara Benua Asia dan Australia, maka Indonesia berada di tengah-tengah lalu lintas perdagangan. Hal ini mempengaruhi terciptanya pluralitas/kemajemujkan agama.
c. Iklim yang berbeda serta struktur tanah di berbagai daerah kepulauan Nusantara ini merupakan faktor yang menciptakan kemajemukan regional.
>Seperti yang telah dijelaskan bahwa kemajemukan Indonesia tampak pada perbedaan warga maryarakat secara horizontal yang terdiri atas berbagai ras, suku bangsa, agama, adat dan perbedaan-berbedaan kedaerahan. Menurut Robertson (1977), ras merupakan pengelompokan manusia berdasarkan ciri-ciri warna kulit dan fisik tubuh tertentu yang diturunkan secara turun temurun.Untuk itu ras yang hidup di Indonesia antara lain Ras Melayu Mongoloid, Weddoid dan sebagainya. Sedangkan untuk suku bangsa / etnis yang tersebar di Indonesia sangatlah beraneragam dan menurut Hildred Geertz di Indonesia terdapat lebih dari 300 suku bangsa, dimana masing-masing memiliki bahasa dan identitas kebudayaan yang berbeda. Dalam kemajemukan agama di Indonesia secara umum agama yang berkembang di Indonesia adalah Islam, Kristen Protestan, Katholik, Hindu, Budha. Selain itu terdapat agama-agama lain seperti Kong Hu Chu, Kaharingan di Kalimantan, Sunda Kawitan (suku Baduy) serta aliran kepercayaan. Dengan demikian keanekaragaman tersebut merupakan suatu warna dalam kehidupan, dan warna-warna tersebut akan menjadi serasi, indah apabila ada kesadaran untuk senantiasa menciptakan dan menyukai keselarasan dalam hidup melalui persatuan yang indah yang diwujudkan melalui integrasi.
Pengaruh kemajemukan masyarakat Indonesia berdasarkan suku bangsa,ras dan agama dapat dibagi atas pengaruh positif dan negatif. Pengaruh positifnya adalah terdapat keanekaragaman budaya yang terjalin serasi dan harmonis sehingga terwujud integrasi bangsa. Pengaruh negatifnya antara lain :
a. Primordial
> Karena adanya sikap primordial kebudayaan daerah, agama dan kebiasaan di masa lalu tetap bertahan sampai kini. Sikap primordial yang berlebihan disebut etnosentris. Jika sikap ini mewarnai interaksi di masyarakat maka akan timbul konflik, karena setiap anggota masyarakat akan mengukur keadaan atau situasi berdasarkan nilai dan norma kelompoknya. Sikap ini menghambat tejadinya integrasi sosial atau integrasi bangsa. Primordialisme harus diimbangi tenggang rasa dan toleransi.
b. Stereotip Etnik
> Interaksi sosial dalam masyarakat majemuk sering diwarnai dengan stereotip etnik yaitu pandangan (image) umum suatu kelompok etnis terhadap kelompok etnis lain (Horton & Hunt). Cara pandang stereotip diterapkan tanpa pandang bulu terhadap semua anggota kelompok etnis yang distereotipkan, tanpa memperhatikan adanya perbedaan yang bersifat individual. Stereotip etnis disalah tafsirkan dengan menguniversalkan beberapa ciri khusus dari beberapa anggota kelompok etnis kepada ciri khusus seluruh anggota etnis. Dengan adanya beberapa orang dari sukubangsa A yang tidak berpendidikan formal atau berpendidikan formal rendah, orang dari suku lain (B) menganggap semua orang dari sukubangsa A berpendidikan rendah. Orang dari luar suku A menganggap suku bangsanya yang paling baik dengan berpendidikan tinggi. Padahal anggapan itu bisa saja keliru karena tidak semua orang dari sukubangsa di luar sukubangsa A berpendidikan tinggi, banyak orang dari luar sukubangsa A yang berpendidikan rendah. Jika interaksi sosial diwarnai stereotip negatip, akan terjadi disintegrasi sosial. Orang akan memberlakukan anggota kelompok etnis lain berdasarkan gambaran stereotip tersebut. Agar integrasi sosial tidak rusak, setiap anggota masyarakat harus menyadari bahwa selain sukubangsa ada faktor lain yang mempengaruhi sikap seseorang, yaitu pendidikan, pengalaman, pergaulan dengan kelompok lain, wilayah tempat tinggal, usia dan kedewasaan jiwa.
c. Potensi Konflik
> Ciri utama masyarakat majemuk (plural society) menurut Furnifall (1940) adalah kehidupan masyarakatnya berkelompok-kelompok yang berdampingan secara fisik, tetapi mereka (secara essensi) terpisahkan oleh perbedaan-perbedaan identitas sosial yang melekat pada diri mereka masing-masing serta tidak tergabungnya mereka dalam satu unit politik tertentu.
Mungkin pendekatan yang relevan untuk melihat persoalan masyarakat majemuk ini adalah bahwa perbedaan kebudayaan atau agama memang potensial untuk mendestabilkan negara-bangsa. Karena memang terdapat perbedaan dalam orientasi dan cara memandang kehidupan ini, sistem nilai yang tidak sama, dan agama yang dianut masing-masing juga berlainan. Perbedaan di dalam dirinya melekat (inherent) potensi pertentangan, suatu konflik yang tersembunyi (covert conflict). Namun demikian, potensi itu tidak akan manifes untuk menjadi konflik terbuka bila faktor-faktor lain tidak ikut memicunya. Dan dalam konteks persoalan itu nampaknya faktor ekonomi dan politik sangat signifikan dalam mendorong termanifestasinya konflik yang tadinya tersembunyi menjadi terbuka.
Penyebab konflik social
>.Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Secara umum faktor penyebab konflik meliputi :
1. Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. 2. Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
3. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
4. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.
>Dari penjelasan diatas, konflik pada masyarakat majemuk Indonesia ditemukan sifat yang sangat tajam, karena di samping berbeda secara horisontal, kelompok-kelompok itu juga berbeda secara vertikal, menunjukkan adanya polarisasi. Artinya bahwa disamping terdiferensiasi secara kelompok etnik agama dan ras juga ada ketimpangan dalam penguasaan dan pemilikan sarana produksi dan kekayaan. Ada ras, etnik, atau penganut agama tertentu yang akses dan kontrolnya pada sumber-sumber daya ekonomi lebih besar, sementara kelompok yang lainnya sangat kurang. Kemudian juga, akses dan kontrol pada sektor politik yang bisa dijadikan instrumen untuk pemilikan dan penguasaan sumber-sumber daya ekonomi, juga tidak menunjukkan adanya kesamaan bagi semua kelompok.
*Pencegahan konflik
Pencegahan sebagaimana dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah dan masyarakat, yaitu dengan upaya sebagai berikut :
a. memelihara kondisi damai di masyarakat; dengan cara mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing; menghormati perbedaan suku, bahasa, dan adat istiadat orang lain; mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya; mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, dan warna kulit;
mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar bhinneka tunggal ika; dan/atau tidak