BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3. Kesiapan Pasien Menghadapi Pemulangan
3.1 Defenisi dan Komponen Kesiapan
Menurut Martinsusilo (2007), ada dua komponen utama dari
kesiapan yaitu kemampuan dan keinginan. Kemampuan adalah
Marthalena Siahaan : Pengaruh Discharge Planning yang Dilakukan oleh Perawat Terhadap Kesiapan Pasien Pasca Bedah Akut Abdomen Menghadapi Pemulangan Di RSUP H. Adam Malik Medan, 2009.
USU Repository © 2009
kelompok untuk melakukan kegiatan atau tugas tertentu. Sedangkan
keinginan berkaitan dengan keyakinan, komitmen, dan motivasi untuk
menyelesaikan tugas atau kegiatan tertentu. Kesiapan merupakan
kombinasi dari kemampuan dan keinginan yang berbeda yang ditunjukkan
seseorang pada tiap-tiap tugas yang diberikan.
Berdasarkan hal di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kesiapan
pasien menghadapi pemulangan adalah kemampuan yang mencakup
pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan serta keinginan yang
mencakup keyakinan, komitmen, dan motivasi pasien pasca bedah akut
abdomen untuk melakukan aktifitas atau kegiatan yang diajarkan serta
dianjurkan oleh perawat dan klinisi lain.
Pasien dinyatakan siap menghadapi pemulangan apabila pasien
mengetahui pengobatan, tanda-tanda bahaya, aktivitas yang dilakukan, serta
perawatan lanjutan di rumah (The Royal Marsden Hospital, 2004).
3.2 Kriteria Pemulangan
Capernito (1999) mengatakan bahwa sebelum pulang pasien pasca
bedah dan keluarga akan mampu menggambarkan pembatasan aktivitas di
rumah, menggambarkan penatalaksanaan luka dan nyeri di rumah,
mendiskusikan kebutuhan cairan dan nutrisi untuk pemulihan luka,
menyebutkan tanda dan gejala yang harus dilaporkan pada tenaga
kesehatan, serta menggambarkan perawatan lanjutan yang diperlukan.
Sedangkan Perry dan Potter (2005) mengatakan bahwa pada saat pulang,
pasien harus mempunyai pengetahuan, keterampilan, dan sumber yang
Marthalena Siahaan : Pengaruh Discharge Planning yang Dilakukan oleh Perawat Terhadap Kesiapan Pasien Pasca Bedah Akut Abdomen Menghadapi Pemulangan Di RSUP H. Adam Malik Medan, 2009.
USU Repository © 2009
Kesuksesan tindakan discharge planning menjamin pasien mampu
melakukan tindakan perawatan lanjutan yang aman dan realistis setelah
meninggalkan rumah sakit (Hou, 2001 dalam Perry & Potter, 2006). Oleh
karena itu pasien dinyatakan siap menghadapi pemulangan apabila pasien
mengetahui pengobatan, tanda-tanda bahaya, aktivitas yang dilakukan, serta
perawatan lanjutan di rumah (The Royal Marsden Hospital, 2004). Pasien
dan keluarga memahami diagnosa, antisipasi tingkat fungsi, obat-obatan
dan tindakan pengobatan untuk kepulangan, antisipasi perawatan tindak
lanjut, dan respons yang diambil pada kondisi kedaruratan (Perry & Potter,
2005).
3.3 Tingkat Kesiapan
Martinsusilo (2007) membagi tingkat kesiapan berdasarkan
kuantitas keinginan dan kemampuan bervariasi dari sangat tinggi hingga
sangat rendah, antara lain :
3.3.1 Tingkat kesiapan 1 (R1)
1). Tidak mampu dan tidak ingin, yaitu tingkatan tidak mampu dan
hanya memiliki sedikit komitmen dan motivasi.
2). Tidak mampu dan ragu, yaitu tingkatan tidak mampu dan hanya
memiliki sedikit keyakinan.
3.3.2 Tingkat kesiapan 2 (R2)
1). Tidak mampu tetapi berkeinginan, yaitu tingkatan yang memiliki
sedikit kemampuan tetapi termotivasi dan berusaha.
2). Tidak mampu tetapi percaya diri, yaitu tingkatan yang hanya
Marthalena Siahaan : Pengaruh Discharge Planning yang Dilakukan oleh Perawat Terhadap Kesiapan Pasien Pasca Bedah Akut Abdomen Menghadapi Pemulangan Di RSUP H. Adam Malik Medan, 2009.
USU Repository © 2009
3.3.3 Tingkat kesiapan 3 (R3)
1). Mampu tetapi ragu, yaitu tingkatan yang memiliki kemampuan
untuk melaksanakan suatu tugas tetapi tidak yakin dan khawatir
untuk melakukannya sendiri.
2). Mampu tetapi tidak ingin, tingkatan yang memiliki kemampuan
untuk melakukan suatu tugas tetapi tidak ingin menggunakan
kemampuan tersebut.
3.3.4 Tingkat kesiapan 4 (R4)
1). Mampu dan ingin, yaitu tingkatan yang memiliki kemampuan
untuk melakukan tugas seringkali menyukai tugas tersebut.
2). Mampu dan yakin, yaitu tingkatan yang memiliki kemampuan
untuk melaksanakan tugas dan yakin dapat melakukannya seorang
diri.
4. Model Keperawatan Dorothea Orem
Model konseptual Dorothea Orem (2001, dalam Alligood & Tomey, 2006)
terdiri dari tiga teori yang saling berhubungan, yaitu teori perawatan diri yang
menggambarkan mengapa dan bagaimana manusia merawat dirinya sendiri,
teori defisit perawatan diri yang menggambarkan dan menjelaskan mengapa
manusia dapat dibantu melalui keperawatan, dan teori sistem keperawatan yang
menggambarkan dan menjelaskan hubungan yang harus dibawa dan
dipertahankan agar keperawatan dapat dihasilkan.
Marthalena Siahaan : Pengaruh Discharge Planning yang Dilakukan oleh Perawat Terhadap Kesiapan Pasien Pasca Bedah Akut Abdomen Menghadapi Pemulangan Di RSUP H. Adam Malik Medan, 2009.
USU Repository © 2009
Perawatan diri sendiri adalah perilaku yang diperlukan secara
pribadi dan berorientasi pada tujuan yang berfokus pada kapasitas individu
yang bersangkutan untuk mengatur dirinya dan lingkungan dengan cara
sedemikian rupa sehingga ia tetap bisa hidup, menikmati kesehatan dan
kesejahteraan, dan berkontribusi dalam perkembangannya sendiri (Orem,
1985 dalam Basford, 2006). Perawatan diri sendiri dibutuhkan oleh setiap
manusia, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak. Ketika perawatan
diri tidak dapat dipertahankan, akan terjadi kesakitan atau kematian.
4.2 Teori Defisit Perawatan Diri
Orem (2001, dalam Alligood & Tomey, 2006) mengatakan bahwa
defisiensi perawatan diri adalah kesenjangan antara kebutuhan perawatan
diri terapeutik individu dan kekuatan mereka sebagai agen perawat diri
yang mana unsur pokok perkembangan kemampuan perawatan diri tidak
berjalan atau tidak adekuat untuk mengetahui atau mempertemukan
sebagian atau semua komponen yang ada atau membangun kebutuhan
perawatan diri terapeutik. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa jika
seseorang tidak cukup mampu untuk merawat dirinya sendiri berkaitan
dengan kesehatannya maka ia dikatakan menderita defisit perawatan diri
(Orem, 1985 dalam Basford, 2006).
Oleh karena itu diperlukan perawat yang bertindak sebagai agen
keperawatan yang berhak membangun hubungan interpersonal untuk
melakukan, mencari tahu, dan membantu pasien untuk mempertemukan
Marthalena Siahaan : Pengaruh Discharge Planning yang Dilakukan oleh Perawat Terhadap Kesiapan Pasien Pasca Bedah Akut Abdomen Menghadapi Pemulangan Di RSUP H. Adam Malik Medan, 2009.
USU Repository © 2009
perkembangan atau melatih kemampuan mereka sebagai agen perawatan
diri sendiri (Orem, 2001 dalam Alligood & Tomey, 2006).
4.3 Teori Sistem Keperawatan
Orem (1985, dalam Basford, 2006) menjelaskan sistem
keperawatan sebagai “Serangkaian tindakan kontinu yang dihasilkan ketika
perawat menghubungkan satu atau sejumlah cara membantu pasien dengan
tindakannya sendiri atau tindakan seseorang di bawah perawatan yang
diarahkan untuk memenuhi tuntutan perawatan diri terapeutik orang
tersebut atau untuk mengatur perawatan diri mereka”.
Sebagai agen keperawatan, perawat menerapkan sistem
keperawatan yang merupakan tindakan praktek keperawatan yang
dilakukan secara berkesinambungan dan bertahap dengan berkoordinasi
dengan pasien untuk mengetahui dan memenuhi komponen kebutuhan
perawatan diri terapeutik pasien mereka dan melindungi dan meregulasi
latihan atau perkembangan kemampuan pasien sebagai agen perawat diri
sendiri (Orem, 2001 dalam Alligood & Tomey, 2006).
Untuk mengetahui apakah pasien dapat berkontribusi dan
kontribusi apa yang harus diberikan perawat, Orem (1985, dalam Basford,
2006) membedakan tiga system keprawatan, yaitu :
4.3.1 Suportif-edukatif, yaitu jika pasien mampu melakukan atau belajar
tentang perawatan diri, maka intervensi keperawatan harus dibatasi
misalnya hanya pada pemberian dukungan dan pendidikan.
4.3.2 Kompensasi parsial, yaitu pasien memiliki beberapa kemampuan
Marthalena Siahaan : Pengaruh Discharge Planning yang Dilakukan oleh Perawat Terhadap Kesiapan Pasien Pasca Bedah Akut Abdomen Menghadapi Pemulangan Di RSUP H. Adam Malik Medan, 2009.
USU Repository © 2009
perawatan diri total jika tidak dibantu, dan perawat harus membantu
pasien dalam melakukan tugas-tugas tersebut.
4.3.3 Kompensasi total, yaitu jika pasien secara totoal tidak dapat
melakukan perawatan diri sendiri, dan perawat harus melakukan
semua tugas-tugas tersebut untuk pasien, bahkan dalam hal
kebutuhan perawatan diri umum seperti memandikan dan memberi
Marthalena Siahaan : Pengaruh Discharge Planning yang Dilakukan oleh Perawat Terhadap Kesiapan Pasien Pasca Bedah Akut Abdomen Menghadapi Pemulangan Di RSUP H. Adam Malik Medan, 2009.
USU Repository © 2009