SLAMET ABDUL SJUKUR DAN KEHIDUPANNYA
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI A. Kesimpulan
Setelah diadakannya penelitian secara sungguh-sungguh mengenai segala hal tentang Komponis Slamet Abdul Sjukur, dapat disimpulkan bahwa Slamet adalah salah satu tokoh terpenting musik kontemporer Indonesia. Dia memiliki semangat juang luar biasa, tegas dan penuh kritik. Slamet akan mengatakan segala sesuatu sesuai secara terus terang, kalau putih dia bilang putih dan kalau merah dia bilang merah.
1. Latar Belakang Kehidupan Slamet
Semangat dan filosofi Slamet tidak dapat dilepaskan dari latar belakang kehidupannya. Beberapa orang sangat mempengaruhi pandangan hidupnya, dimulai dari lingkungan keluarga, kawan, dan tokoh musik Indonesia. Lingkungan keluarga yang sangat berpengaruh pada Slamet adalah nenek dan kakeknya. Neneknya memberikan pengalaman awal mengenai sikap untuk mendengarkan dan memperhatikan musik secara sungguh-sungguh. Kemudian ayah dari ibunya yang bernama Arsyad memberi tauladan kepada Slamet mengenai konsep kemandirian dan perjuangan hidup. Kemudian, kawannya yaitu Ruba’i Kaca Sungkana, memberikan sikap dan menonjolkan suatu keunikan dalam penciptaan karya walaupun tidak memiliki kehebatan yang berarti dalam permainan instrument. Salah seorang tokoh musik Indonesia, Amir Pasaribu, memberikan pelajaran kepada Slamet tentang sikap kritik dan bagaimana menciptakan musik yang bagus. Semua ini adalah pengaruh yang maha besar terhadap perjalanan kehidupan Slamet sebagai seorang komponis musik kontemporer sampai saat ini.
2. Peran Slamet dalam Perkembangan Musik Kontemporer
Sebagai seorang komponis, Slamet telah memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan musik kontemporer di Indonesia. Proses Slamet dalam ‘mengarang’ musik telah menjadi inspirasi bagi komponis-komponis muda, metodenya yang lebih mengedepankan kreativitas daripada teknik-teknik semata, mengilhami semua musisi untuk menyikapi musik sebagai suatu kebutuhan pokok. Slamet juga merupakan seorang pengajar yang cerdas, dia memiliki metode khusus dalam mengajar, banyak murid-muridnya telah mengibarkan bendera sendiri dan menjadi terkemuka di dalam maupun luar negeri. Sebagai seorang organisator, Slamet telah menggoreskan catatan penting dalam perkembangan musik Indonesia, antara lain seperti terbentuknya Pertemuan Musik Surabaya, Asosiasi Komponis Indonesia, dan Masyarakat Bebas Bising.
Selain itu, Slamet adalah penulis esai yang sangat menarik, dia telah menulis di koran-koran dan majalah terkemuka Indonesia. Sangat sedikit penulis yang dapat menulis tentang segala aspek musik secara benar. Gaya tulisan Slamet memang unik, sedikit puitis, penuh kritik, dan terkandung simbol-simbol tersembunyi.
3. Karakteristik Karya Slamet
Slamet memiliki karakteristik karya musik sendiri, karangan musik yang diciptakan Slamet menjelajah ke dunia paling abstrak bagi orang yang tidak mengetahuinya. Di dalam karya ‘Gelandangan’ Slamet membuktikan bahwa sesungguhnya musik itu sifatnya integral. Slamet menggunakan deret angka ‘Fibonachi’ yaitu kelipatan 1,2,3,5,8,12 dan 24 sebagai ide garapannya. Deretan angka ini biasanya digunakan dalam seni rupa, namun Slamet membuktikan
bahwa dalam musik deret angka ini dapat digunakan. Sikap hidup ‘Minimax’ tercermin dalam karya ‘Tetabeuhan sungut’, dengan materi sederhana namun bukan berarti asal-asalan Slamet menawarkan suatu karya musik yang sangat edukatif. Karya ini dapat dimainkan oleh semua orang dan sangat cocok jika karya ini menjadi media pelajaran musik di sekolah, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Melalui karya ‘Ji-lala-Ji’ Slamet memperlihatkan suatu bentuk kreativitas di dalam me-rekonstruksi karya musik daerah yaitu Jali-jali. Konsep kekaryaan Rekomposisi gaya Slamet begitu jelas pada karya ini. Karya ‘Wangi’ merupakan suatu karya yang memperlihatkan unsur ‘transendental’, dimana unsur ini merupakan suatu unsur akar budaya bangsa Indonesia.
B. Implikasi
Tujuan pendidikan di Indonesia telah diatur di dalam undang-undang negara, seperti UU No2 Tahun 1985, TAP MPR NO II/MPR/1993 , TAP MPR No 4/MPR/1975, UUD 1945, Bab II (Pasal 2, 3, dan 4), (www.AnneAhira.com; diaksespukul 21. 00 wib, 25 maret 2010); tujuan utama adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya yaitu yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan kerampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan berbangsa. Setelah penelitian tentang biografi Slamet Abdul Sjukur tokoh musik kontemporer dan hasilnya telah dipaparkan seperti di atas, selanjutnya peneliti menyampaikan rekomendasi terhadap pendidikan seni musik di tingkat sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah umum (SMU) dan perguruan tinggi (PT). Karya yang diambil sebagai contoh dalam pembelajaran musik di sekolah adalah “Tetabuhan Sungut.” Alasannya adalah bahwa karya ini tidak memerlukan alat alat
musik, mudah didapat karena hanya menggunakan suara mulut, dan karya tersebut memiliki tangga nada slendro yang merupakan salah satu ciri khas musik tradisi Indonesia.
1. Tingkat Sekolah Dasar (SD).
Tujuan pembelajaran seni musik di SD adalah untuk meningkatkan sensitivitas, kemampuan mengekspresikan, dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. Kemampuan mengapresiasi dan mengekspresikan keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi, baik dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup maupun dalam kehidupan masyarakat sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis. Karya Slamet Abdul Sjukur yang berjudul “Tetabuhan Sungut”dapat menjadi suatu pilihan yang sangat tepat untuk dijadikan bahan ajar di SD. Langkah pembelajarannya adalah:
1) Dalam “Tetabuhan Sungut” terdapat unsur-unsur musik yaitu tinggi rendah bunyi, durasi, warna bunyi, dan keras lembut bunyi. Untuk mengenal unsur musik tersebut, siswa dapat memanfaatkan bagian tubuh mereka, diantaranya adalah mulut. Dengan mengucapkan dan mengolah hurup vokal, siswa dapat mengatur tinggi rendah bunyi, durasi bunyi, warna bunyi dan keras-lembutnya bunyi. Dengan cara ini, secara individu siswa dapat berekspresi seni musik.
2) Secara kelompok, siswa belajar bekerjasama dengan cara membuat struktur musik vokal. Siswa dibagi beberapa kelompok sesuai dengan tugas dalam membunyikan bagian-bagian suara tertentu dalam “Tetabeuhan sungut.” Dengan cara ini pula, siswa telah belajar membuat komposisi. Melalui kerja kelompok ini siswa belajar mengembangkan sensitivitas musikalnya dan hubungan sosial dengan teman sebaya. Siswa mendengarkan
dan mengamati olahan bunyi vokal kawan mainnya, kemudian memberikan tanggapan dalam saran atau kritik yang didiskusikan. Dengan demikian siswa telah belajar bagaimana suatu sikap dalam mengapresiasi musik dan sekaligus merasakan harmoni kebersamaan dengan situasi yang menyenangkan.
2. Tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Proses pembelajaran musik di tingkat SMP sesuai dengan kurikulum pendidikan kesenian/seni musik. Tahun 1994 yang ditujukan “agar siswa mampu berkreasi bermain musik ansambel” (Kelas II Cawu 2), dan dapat mengembangkan kreasi musik sederhana dan memainkannya secara kebmpok. Pembelajaran I ini berhubungan pula dengan tujuan pembelajaran musik di kelas III yang bertujuan agar “siswa mampu mempersiapkan pergelaran musik (Cawu 2), khususnya dalam memainkan karya pribadi. Ditambahkan dengan pengetahuan dan sensitivitas para siswa terhadap lingkungan sosial budaya di sekitar mereka. Hal ini bertujuan agar kecintaan siswa terhadap kesenian tradisional mereka agar dapat meningkat dan dapat melestarikannya sebagai identitas budaya bangsa di masa mendatang. Pembelajaran “Tetabeuhan Sungut” di tingkat SMP dapat dilakukan seperti langkah-langkah berikut ini.
1) Siswa dapat berkreasi dalam bentuk musik ensambel “Tetabeuhan Sungut” dapat dilaksanakan melalui bereksplorasi bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh mulut. Setelah bereksplorasi, setiap kelompok siswa berkreasi misalnya dengan menambahkan gerakan tangan atau badan atau pundak dalam memainkannya. Kegiatan musikal ini akan menambah keakraban di antara siswa, karena karya ini sifatnya berkelompok.
2) Siswa mengadakan pergelaran musik kreasi siswa yang bersumber dari unsur-unsur musik vokal “Tetabuhan Sungut”. Pergelaran merupakan suatu pekerjaan yang menuntut kerjasama dan sifatnya kolektif. Kebiasaan siswa bekerjasama dalam bermain musik menciptakan rasa kebersamaan dan gotong royong. Sehingga siswa dapat mengadakan suatu pergelaran musik secara baik.
3. Tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)
Untuk siswa SMA, tujuan pembelajaran seni budaya adalah: 1) mempresentasikan tanggapan tentang keragaman seni, tradisi, modern, kontemporer nusantara dan mancanegara dengan memperhatikan konteks kehidupan masyarakat; 2) Menunjukan empati keragaman musik tradisi, modern, kontemporer Nusantara dan mancanegara; 3) Berkreasi musik dengan mengembangkan gagasan kreatif dengan menggali keragaman proses, teknik, prosedur, media, materi dari seni tradisi Nusantara dan mancanegara; 4) Menampilkan kreasi sendiri dan orang lain secara individu dan kelompok.
Untuk mencapai tujuan tersebut, materi yang digunakan antara lain ‘Ji-Lala-ji’ dan Tetabuhan Sungut. Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam pembelajaran seni musik ini adalah:
1) Siswa mendengarkan salah satu karya musik kontemporer Slamet Abdul Sjukur contohnya karya ‘Ji-Lala-ji’, kemudian siswa mempresentasikan dengan memaparkan bagaimana pemahaman mereka tentang komposisi dikaitkan konsep ‘Ji-Lala-ji’ yaitu re-komposisi dan de-komposisi. Setelah itu mereka diminta untuk mengatakan bagaimana hubungan karya tersebut dengan musik tradisi Indonesia.
2) Dengan mendengarkan Karya “Tetabeuhan Sungut” yang merupakan suatu karya universal dan dalam memainkannya dapat dilakukan semua orang dari segala macam usia, ras, suku dan bangsa. Siswa secara individu atau kelompok mendapat tugas untuk mencari keragaman tersebut dikaitkan dengan musik tradisi, modern, kontemporer, nusantara dan mancanegara.
3) Siswa memainkan karya ‘Tatabeuhan sungut’ dan siswa dipersilahkan untuk berkreasi dengan cara mengimitasi suara alat tradisi nusantara dan mancanegara yang ada dalam karya “Tetabeuhan sungut”, lalu siswa mempertunjukan hasil interpretasi dari karya ‘Tatabeuhan sungut’ dengan kreasi sendiri. Baik dalam bentuk kelompok maupun perseorangan.
4. Tingkat Perguruan Tinggi (PT)
Pada pendidikan musik di perguruan tinggi tentu akan lebih spesifik dan lebih terencana dibanding pelajaran musik pada sekolah dasar, menengah dan atas. Perguruan tinggi seperti Universitas Pendidikan Indonesia, dalam hal ini Jurusan Seni musik senantiasa berupaya menyediakan sumberdaya manusia terdidik di bidang pendidikan musik yang memiliki kemampuan akademik dan professional, baik dalam jalur sekolah maupun luar sekolah.
Di dalam menggapai tujuan ini tentu harus didukung oleh segala sarana dan prasarana yang memadai. Salah satunya adalah menjadikan karya Slamet Abdul Sjukur sebagai salah satu media bahan ajar pada beberapa matakuliah penting, seperti mata kuliah komposisi, apresiasi, direksi, dan sejarah analisis. Berikut langkah-langkah yang penulis tawarkan, yaitu:
1) Pada mata kuliah komposisi, mahasiswa akan mencoba untuk mencari unsur-unsur penting di dalam karya Slamet, yaitu: tema, bentuk, tekstur, motif, warna,
durasi, imitasi dan segala teknik kompositorisnya secara dalam. Setelah mahasiswa memahami dan memaknainya, mahasiswa mencoba membuat komposisi dari pengetahuan salah satu karya Slamet Abdul Sjukur.
2) Mata kuliah apresiasi, mahasiswa ditugaskan untuk mengetahui gagasan kompositoris musik kontemporer Slamet Abdul SJukur.
3) Mata kuliah direksi, mahasiswa ditugaskan untuk menterjemahkan salah satu karya Slamet Abdul Sjukur secara praktek. Mahasiswa membuat kelompok musik untuk memainkan salah satu karya Slamet Abdul Sjukur, kemudian mahasiswa tersebut memimpin hasilnya sesuai interpretasi perorangan.
4) Mata kuliah Sejarah Analisis, mahasiswa dituntut untuk menganalisis musik kontemporer Slamet Abdul Sjukur berdasarkan terminologi sejarah.
Pada akhir tulisan ini, penulis menyarankan kepada peneliti selanjutnya untuk dapat mencoba menerapkan karya-karya dan gagasan Slamet Abdul Sjukur melalui penelitian terapan atau penelitian tindakan kelas khususnya bagi guru seni musik di sekolah. Selain itu, penulis menyarankan peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian tentang keberagaman karya-karya musik kontemporer Indonesia lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah, A. Chaedar (2007). Pokoknya kualitatif. Jakarta: P.T.Dunia Pustaka Jaya.
Alwasilah, A.Chaedar & Suzanna,S. (2007). Pokoknya Menulis-Cara Baru Menulis dengan Metode Kolaborasi. Bandung: P.T. Kiblat Buku Utama.
Ahira, Anne (2010), Memahami Tujuan Pendidikan.(Online). Tersedia:
http://www.anneahira.com/artikel-pendidikan/tujuan-pendidikan.htm (25 Maret 2010).
Erya Sugirtha, I Gede. (2009) “Estetika Musik Kontemporer Bali”. Makalah Seminar Akademik Dalam Rangka Dies Natalis ISI, Denpasar.
Beaumont, Antony (1985). Busoni the Composer. London: Faber and Faber. ISBN 0-571-13149-2
Becker, Howard S.(1984). Art Worlds. California: University Of California Press, U.S.A. Booth, C. Wayne. (1982). The Craft Of Research. Chicago: The University Of Chicago
Press, U.S.A
Bungin, M. Burhan.(2008). Penelitian Kualitatif; Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana.
Burhan, Firdaus.(1983). Ismail Marzuki. Jakarta :Depdikbud, Dir. Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.
Butler, David. (1992). The Musician’s Guide to Perception and Cognition. New York: Schirmer Books.
Creswell, John. (1994). Research Design: Qualitative and Quantitative Approach. Oslo: Sage Publications.
Danandjaja, James.(1991). Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Deongeng, dan lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Depdikbud.(1990). Petunjuk Teknis Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas (SMA). Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah: Jakarta
Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Bahasa.(2003). Dasar-dasar Kependidikan. Bandung: Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan.
Dewantara, Ki Hajar.(1967). Karya Ki Hajar Dewantara, Bagian I Pendidikan. Bagian II A Kebudajaan, veröffentlicht durch Madjelis-Luhur Persatuan Taman Siswa: Yogyakarta. Dirdjosiworo. (1985). Asas-Asas Sosiologi. Bandung: Penerbit Armico.
Dungga, J.A., & Manik, Liberty. (1952). Musik di Indonesia dan Beberapa Persoalannya jilid I. Jakarta: Balai Pustaka.
Echols, John M., & Shadily, H. (1975). Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: Penerbit P.T. Gramedia.
Esha, Teguh. et al. (2005). Ismail Marzuki Musik, Tanah Air dan Cinta. Jakarta: Pustaka LP3S Indonesia.
Fieldman, Edmund Burke. (1973). Art as Image and Idea. New Jersey: Prentice Hall INC, Englewood Cliffs.
Gunawan, Iwan. (2009). Musik Kontemporer di Daerah Sunda Sebagai Upaya Pengembangan Musik Lokal Berwawasan Global (online).Tersedia
http://www.onesgamelan.wordpress.com/2009/06/07.html (18 Maret 2010, pukul 23.45
WIB).
Gustina, Susi. Trianti Nugrahaeni, Sandie Gunara. (2006). Contextual Learning: Pendekatan Pembelajaran Teori Musik Bagi Mahasiswa Program Pendidikan Seni Tari Jurusan Pendidikan Sendratasik FPBS UPI. Laporan penelitian dana DIPA UPI.
Hall,C.S., dan Lindzey, G. (1993). Teori-Teori Sifat dan Behavioristik. Editor A. Supratiknya. Yogyakarta: Penerbit Kanasius.
Hamdju, Atan. dan Windawati, Armillah. (1990). Pengetahuan Seni Musik untuk SMA dan Sederajat, jilid 1 – 2. Jakarta: Mutiara Sumber Widya.
Harmoyo, A., at al. (1994). Seni Musik Sekolah Menengah Pertama Kelas I. Jakarta: PT Aries Lima.
Hardjana, Suka (ed.).(1983). Enam Tahun Pekan Komponis Muda. Jakarta
Hardjana, Suka. (1983). Estetika Musik. Jakarta: Depdikbud, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah.
Hardjana, Suka. (2003). Musik Kontemporer Dulu dan Kini. Jakarta: MSPI.
Hardjana, Suka. (2003). Corat-Coret Musik Kontemporer Dulu dan Kini. Jakarta: The Ford Foundation dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.
Hardjana, Suka. (2004). Musik Antara Kritik dan Apresiasi. Jakarta: Kompas.
Hauser, Arnold. (1979). The Sociology Of Art. Translated by Kenneth J. Northcoot. Chicago: The University Of Chicago Press, U.S.A.
Koentjaraningrat. (1980). Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).
Komarudin. (1974). Metode Penulisan Skripsi dan Tesis. Bandung: Penerbit Angkasa. Kuntowijoyo. (2003). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: P.T. Tiara Wacana Yogya.
Kusuma, Rachmad Hadiah. (1998). Musik Kontemporer Sebagai Repertoar Musik Sekolah Dengan Bahasan Utama Tetabeuhan Sungut Karya Slamet Abdul Sjukur. tugas akhir (skripsi) Program Studi Musik Sekolah, ISI Yogyakarta.
Langer K, Susanne (Terj. Fx. Widaryanto). (2006). Problematika Seni. Bandung: Sunan Ambu Press.
Lindsay, Jennifer. (1991). Klasik, Kitsch, Kontemporer. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Mack, Dieter. (1994). Mempertimbangakan “musik kontemporer” dari Kacamata Budaya Barat: Sejarah, Tradisi, dan Penilaian Musik. Dalam Jurnal Kebudayaan Kalam. Edisi-2. Mack, Dieter. (1995). Sejarah Musik jilid III & IV, Yogyakarta, Pusat Musik Liturgi.
Mack, Dieter. (1995). Apresiasi Musik – Musik Populer. Yogyakarta:Yayasan Nusatama. Mack, Dieter. (2001). Pendidikan Musik – Antara Harapan dan Realitas. Bandung,
Yogyakarta: MSPI / UPI Bandung.
Mack, Dieter. (2004). Musik Kontemporer dan Persoalan Interkultural. Bandung: ARTI. Masunah, Juju: Sawitri. (1996). Seniman Topeng Cirebon di Tengah Perubahan
Sosial-Budaya. tesis UGM :Yogyakarta.
Merriam, Alan P.( 1964). The Anthropology of Music. Evanston: University of Illinois. Milyartini, Rita. (1995). Analisis „Tetabeuhan Sungut .Karya S.A. Sjukur; Sebuah Studi
Tentang Komposisi, Jurusan Sendratasik, FPBS IKIP Bandung.
Nasution, S. (1983). Sejarah Pendidikan Indonesia. Bandung: Penerbit Jemmars.
Pasaribu, Amir.(1955). Musik dan Sekeliling Wilajahnja. Jakarta: Perpustakaan Perguruan Kementerian P.P. dan K., Balai Pustaka.
Pasaribu, Amir. (1986). Analisis Musik Indonesia. Jakarta.
Polak, Mayor. (1982). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Ikhtisar Baru Van Hoeve.
Raden, Franki. (1994). Dinamika Pertemuan Dua Tradisi, Musik Kontemporer Indonesia di Abad ke-20. Dalam Jurnal Kebudayaan Kalam: Edisi - 2.
Read, Herbert. (1959).The Meaning of Art. New York: Penguin Book.
Rustopo.(1991).Gamelan Kontemporer di Surakarta: Pembentukan danPerkembangannya (1970-1990). Laporan Penelitian yang dibiayai olehProyek Operasi dan Perawatan Fasilitas STSI Surakarta.
Sadra, Wayan: I Wayan Berata. (1991). Proses Perjalanannya Menjadi Empu Karawitan. STSI Surakarta. Laporan Penelitian STSI.
Setiadi, M.E.,Hakam, A.K dan Efendi, R. (2008). Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Sjukur, Slamet Abdul.(1991).: Musik-Minimax: Murah, Nyata dan Potensial, in: Ridjal, Fauzie & Rusli Karim M. Dinamika Budaya dan Politik dalam Pembangunan: Yogyakarta Sjukur, Slamet Abdul. (1994). Musik Kontemporer Itu Apa? : Mak Comblang dan Pionir
Asongan. Dalam Journal Kebudayaan Kalam (online), edisi 2, 5 Halaman.
Sjukur, Slamet Abdul. (Agustus 2003). Slamet Abdul Sjukur Terlanjur Belajar dari Abu Nawas dan Chuang Tzu. STACATTO (wawancara), 8-10. E-Mail:
Suanda, Endo. (1985). “Seni Tradisi Masa Kini”, dalam Enam Tahun Pekan Komponis Muda. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.
Soemanto,Bakti.,Murgiyanto,Sal.dan Mack, Dieter. (2004). Tiga Jejak Seni Pertunjukan Indonesia. Penyunting Tommy F Awuy. Jakarta: MSPI.
Sony Kartika, Dharsono. (2007). Kritik Seni. Bandung: Rekayasa Sains.
Sudjana, Nana. (1988). Tuntutan Penyusunan Karya Ilmiah. Bandung: Penerbit Sinar Baru. Sugiyono. (2005 ). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: ALFABETA.
Sumardjo, Jacob.(2000). Filsafat Seni. Bandung : ITB.
Sumardjo, Jacob.(2006). Estetika Paradoks. Bandung: Sunan Ambu Press-STSI.
Supanggah, Rahayu. (1986). GAMBUH : Enam Tahun Pekan Komponis Muda. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.
Supanggah, Rahayu. (1995). Ethnomusikologi. Yogyakarta: Yayasan Benteng Budaya. Supriadi, Dedi. (1994). Kreativitas, Kebudayaan dan Perkembangan IPTEK. Bandung:
Alfabet.
Supriatna, Nana. (2006). Sejarah untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas. Jakarta: Grafindo Media Pratama.
Tenzer, Michael. (2000). Gamelan Gong Kebyar: The Art of Twentieth-Century Balinese Music. Chicago: The University of Chicago Press.
Tjahjodiningrat, Harry. (2009). Abdul Adjib Tokoh Pengembang Seni Tarling dari Kota Cirebon. Bandung. Tesis: Program Pendidikan Seni, sekolah Pasca Sarjana UPI Bandung. Universitas Pendidikan Indonesia. (2007). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung:
Depdiknas.
Waridi (2001). Martopangrawit: Empu Karawitan Gaya Surakarta.Yogyakarta: Yayasan Mahavhira Periodika.