B. Permasalahan Pertanahan
IV. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KESIMPULAN :
A. Evaluasi Kinerja Penyelenggara Pemilu Jawa Barat dan Persiapan Pemilihan Umum serentak 2024
1. Terkait dengan permasalahan Sumber Daya Manusia (SDM) di KPU dan Bawaslu Provinsi Jawa Barat dimana terjadi penarikan Aparat Sipil Negara (ASN) yang ada di KPU dan Bawaslu Provinsi Jawa Barat akibat kebijakan dari Kementrian PAN&RB Sehingga menganggu Kinerja penyelenggra Pemilu KPU dan Bawaslu Provinsi Jawa Barat, Komisi II DPR RI akan membicarakannya pada Rapat Kerja dengan Menteri PAN
& RB pada Rapat Kerja Komisi II DPR RI.
2. Terkait dengan permasalahan keterbatasan dalam pemenuhan Anggaran persiapan Pilkada 2024 untuk KPU dan Bawaslu Provinsi Jawa Barat oleh Pemerintahan Provinsi dan Kabupaten/kota di Jawa Barat, Komisi II DPR
RI akan membicarakannya pada rapat dengan mitra kerja yakni Menteri Dalam Negeri pada Rapat Kerja Komisi II DPR RI.
3. Diperlukan solusi bagi Menteri Dalam Negeri terkait permasalahan Anggran Pilkada 2024 yang berkelanjutan dari 2022-2024 dimana masih banyak Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota yang belum membuat Peraturan Daerah (Perda), terrhadap permasalahan tersebut, apakah Mendagri dapat langsung menhimbau kepada Pemerintah daerah untuk segera membuat anggran Pilkada melalui Perda atau langsung mengatur hal tesebut malalui Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) terkait dengan perintah langsung persiapan anggaran Pilkada masuk dalam APBD di semua Provinsi/Kabupaten/Kota tanpa lagi membuat Perda.
4. Terhadap permaslaahan akhir masa jabatan (AMJ) KPU dan Bawaslu Provinsi/ Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat yang rata-rata akan berkahir pada tahun 2023, diperlukan pengambilan keputusan bersama secepatnya antara Komisi II DPR RI dengan Pemerintah dan KPU RI terhadap Regulasi dan aturan pergantian penyelenggara Pemilu terutama yang kena AMJ di tahun 2023 maupun 2024 yang kena sebelum pelaksanaan pemungutan suara Pemilu, sehingga tidak lagi ada kekhawatiran bagi penyelenggara pemilu sehingga berdampak pada kelancaran dan kualitas Pemilu.
5. Dalam persiapan menghadapi Pemilu dan Pilkada serentak 2024 yang lebih berat, padat dan rumit, diperlukaan terobosan perubahan aturan tentang syarat dan umur untuk penyelenggaraan Pemilu terutama di tingkat Kecamatan, Kelurahan dan di Tempat Pemungutan Suara (TPS) baik pada aturan didalam UU maupun PKPU.
6. Terkait dengan permsalahan persiapan penyusunan data kependudukan dan data pemilih yang masih terjadi miss koordinasi dan harmonisasi data antara KPU dan Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil, Komisi II DPR RI tidak henti-hentinya menyerukan perbikan sistem data pemilih dari hulu ke hilir kepada Dirjen Dukcapil Kemendagri dengan pembenahan berbasis IT tersistem, systematism akurat, valid dan trasparan dapat diakses semuanya ke public.
7. Perlu diambil keputusan bersama antara Komisi II DPR RI dengan Pemerintah, KPU RI dan Bawslu RI terkait dengan permaslahan status Lembaga Badan Ad Hoc, baik yang ada di KPU maupun yang ada di Bawaslu, apakah keberlangsungan Badan Ad Hoc saat di rekrut untuk Pemilu terus dilanjutkan untuk Pilkada, apakah diperlukan rekrutmen baru pada pengadaan Badan ad hoc saaat menjelang Pilkada.
8. Terkait dengan permasalahan Infrastruktur teknologi informasi, KPU RI dan Komisi II secepatnya akan mendorong Menkoinfokom membagun infrastrur IT nya terutama masalah akses sinyal Internet sampai kedaerah-daerah plosok yang ada di Indonesia.
B. Permasalahan Pertanahan
1. Permasalahan Mafia Tanah, Kanwil BPN Jawa Barat sepakat masalah mafia tanah harus diberantas. Ada beberapa titik di wilayah Jawa Barat yag rawan masalah mafia tanah diantaranya DI Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bogor, Depok dan beberapa Kabupaten di bagian selatan Jawa Barat konflik penguasaan. Beberapa Kota dan Kabupaten tersebut pernah terjadi praktek mafia tanah.
sebagai contoh ada kasus mafia tanah pemalsuan sertifikat tanah yang mengaku padahal tanah tersebut adalah Aset BLBI di Cikarang. Apabila ada terjadi keterlibatan dari okunum BPN pada permasalahan mafia tanah, BPN sudah bersepakat dan berkomitmen berusaha tidak akan masuk kedalamnya, apparat BPN hingga saat in tidak ada yang bermsaalah, Pimpinan BPN selalu mengingatkatkan kepada Aparat ASN BPN untuk mengedepankan Integritas.
2. Persoalan sering terjadinya pembatalan suatu sertifikat tanah yang masuk ke Kanwil BPN Jawa Barat, hal itu dikarenakan permasalahan tumpang tindih sertifikat, satu tanah dikuasai sertifikat dapat double/ganda atau sertifikat dengan bukti-bukti surat yang lain, hal ini akibat produk dan administrasi di masa yang lampau cukup kompleks masalah metodologi, teknologi, pengukuran per-bidang, transformasi digital dari peta maual menjadi peta digital, sehingga terjadi tumpeng tindih satu bidang tanah yang sudah bersertifikat ternayata beberapa
tahun kemudian muncul lagi kepemilikan sertifikat atas nama orang lain.
Ada sifatnya tidak sengaja karena sfiat prosesnyan yang manual.
3. Terkait degan Permasalahan Pertanahan masyarakat di Bojong Koneng Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dengan pihak Perusahaan Sentul City sudah diupayakan dan sudah dilaporkan ke Bapak Menteri ATR.BPN dan Pak Menteri sudah menugaskan kepada Kanwil BPN Jawa Barat, bahkan sudah dirapatkan untuk diselesaikan di darah bersama Forkopimda Kabuoaten Bogor dan kantah BPN Kab Bogor sudah menyusun dan membuat berita acara bagimana kondusifitas dan jaminan terhadap masyarakat yang mendiami tanah tidak di peta komplikan. Sehingga suasana kondusif yang utama dilakukan, hingga saat ini sudah beberapa surat dari masyarakat yang menempati tanah tersbut masuk ke BPN untuk penyelesaian masalah, BPN sudah komunikasi dengan manajemen Sentul agar smuanya diklarifikasi, BPN akan turun kelapangan untuk memastikan apakah pengaduan-engaduan terjadi dilapangan dam untuk komunikasi dengan Manajemen Sentul CIty untuk memastikan bahwa orang-orang itu memang warga disitu.
4. Permaslahan Tanah PTPN VIII seperti di sekitar tempat wisata Tangkupan Perahu. Sebagi contoh di Kabupetn Bogor, ada tanah PTPN tetapi dengan instruksi Presiden tanah tersbutb dipakai dan digunakan untuk masyarakat korban longsor tahun 2024. Saat ini masyarakat sudah tinggal disitu karena korban longsor dan Pemerintah daerah juga sudah memberikan bantuan keuangan berupa dibangunkan rumah, menyangkut tanah tersebut, Bupati Bogor meminta BPN dipastikan haknya tanah tersebut, BPN sudah rapat dengan Menteri dan Dirjen bersurat kepada Kementrian BUMN untuk memastikam bahwa tanah PTPN tersebut dilepas haknya tetapi jawabannya tanah agar diganti rugi sesuai dengan pengadaan tanah, ini lah kondisinya, peran Kementerian untuk PTPN yang sahamnya hanya tinggal 17% sehingga harus dikomunikasikan dengan para pemegang saham, solusi yang terakhir diterima BPN harus dilakukanganti rugi, bahakan uang yang telah di Pemerintah Pusat maupun di Pemerintah daerah, akhirnya tidak bisa dilaksanakan redistribusi tanah untuk wara Bogor korban longsor, hal
yang sama terjadi dengan tanah-tanah PTPN lain Yng tidak dimanfaatkan tetapi dimanfaatkan lain oleh masyarakat untuk berbagai kepentingan.
5. Permasalahan Tata Ruang, baru rencananya tahun 2022 Kanwil BPN Jawa Barat diberikan Anggran oleh Dirjen dengan peran memfasilitasi dan koordinasi pelaksanaan Tata Ruang di daerah.
6. Permalahan gugatan dari warga terhadap tanah pasar di Sukabumi yang sudah disertifikat yang sudah ada Keputusan pengadilannya, Cuma persoalannya bagaimana pemanfaat tanah tersebut karena banyak masyarakat yang menempatinya, BPN akan dalami dan akan rapat permasalahan ini dengan data-data yang disiapakan nantinya.
7. Permasalahan HGU sampai sekarang memang belum ada pengaturan tentang luasannya, jadi menjadi kelemahan ini akan disempurnakan.
8. Terkait dengan sosialisasi program-program Strategis Nasional, BPN menyadari Sosialsisasi menang kurang, sosialisasi yang dilakukan oleh Kepala Kantor BPN di daerah hanya berkaitan dengan lokasi-lokasi PTSL, jkia daerah tidak ditetapkan lokasi PTSL maka memang informasi tiudak akan samapai ke masyarakat lain. Kewajina kepada Kantah BPN saat ini sosialsisasi ke Radio terkait dengan program BPN, sedangkan untk Kecamatan dan Kelurahan hanya sosiaisasi lewat Pamlet saja.
BPN akan memformulasikan lagi soisalisasi dengan Anggran Sosialiasi yang cukup besar berupa penyuluhan dan sosialisasi masif malalui berbagai media.
9. Terkait dengan BMN, di Kab Purwakarta terkait dengan tanah Provinsi diklaim oleh Perorangan dan ganti tugi telah diterima oleh Perorangan, ini adalah bentuk-bentuk sengketa antara intansi Pemerintah dengan masyarakat, memang masih selalu didalami oleh BPN, memang Pengadilan memenangkan Perorangan tetapi kenyataannya itu adalah asset pemerintah masuk kedalam tanah Provinsi.
10. Keputusan Pengendalian terhadap permaslaahan sengketa pertanahan memang pada kenyataanya tidak semua dapat ditindak lanjuti oleh BPN.
Sebagai contoh terjadi kasus di Depok ada 25 sertifikat yang harus dibatalkan karena keputusan Pengadilan, ternyata cuma setengahnya bisa dilaksanakan karena tanah sudah di agunan ke pihak Bank, dan
pihak Bank tidak dijadikan pihak yang tidak terkait dalam Peradilan sengketa permasalahan tanah, seringkali ini menjadi Bumerang bagi BPN, jika kami harus batalkan maka bagaimana dengan posisi hak tanggungan karena Pihak Bank dengan sertifikat memberikan kredit untuk jaminan.
11. Permaslahan mafia tanah yang menimpa masyarakat Kabupaten Bandung Barat degan mengirim surat ke Presiden karena masyarakat tersebut masyarakat biasa yang menjadi korban mafia tanah, Deny Warow Sejak 2017 dasarnya dari putusandengan 5 klien tanah PPJB tanah adat, tanpa ada nomor. Dari Polda Jabar menglarifikasi ke BPN menanyakan kenapa belum terbit sertifikat milik Denny Warow, BPN mempelajari permasalaahnan tersebut dengan dokumen yang ada,timggal surat dari PT.Girilaya, menyatakan benar tanah tersebut milik Deny Warow. Pihak Denny Warrow sempat bersurat kee PT.
Girilaya, namun tidak ditanggapin, BPN melihat dokumen dan sepakat dengan Polda Jabar bahwa Kantah BPN yang bersurat ke PT.Girilaya dan mendapat jawaban bahwasanya itu merupakan asset dari PT.Girilaya bekas HGB Nomor 6, inilah yang menjadi permaslaahan.
Sementara Deny warow adalah pemenang putusan pengadilan dari tanah milik adat. Ketika BPN mempelajari Peta lama ketemu Salinan Peta Belanda, di lokasi tidak ada yang menyatakan milik adat.
PT.Girilaya melampirkan bukti kepemilihan HGB Nomor 6, waktu perpanjangan HGB, PT. Girilaya karena dikuasi oleh Denny Warrow dari 2,3 HA, cuma 1,7 HA diperpanjang sekitar 6500 meter tidak diperpanjang karena sisianya dikuasasi fisiknya oleh Deny Warow. Ini permasalahan yang sampai sekrang masih belum pengantar SK nya dikirim ke Kanwil BPN Jabar. Penyidik Polda Jabar silahkan fasilitasi lagi dalam mediasi degan pihak bersengketa, BPN Kantah Bandnung Barat menunggu hasilnya.
12. Permaslahan Mafia tanah, kondisi saat ini di wilayah Kabupaten Bogor banyak beroperasi. Banyak modus, awalnya BPN tahu ada modus pembobolan asset BLBI. Pada 2020 malakukan Redis terhadap eks HGU di 2 Desa, di Desa Pepmaya dan di Desa Neglasari. Dari luas total 500 HA BPN melakukan program Redis skitar 160 Ha. Dari
berkas-berkas yang ada lengkap namun ternyata surat yang ada tersebut yaitu dai DJKN bahwa kewajiaban atas objek-ojek tersebut sudah selsai terkait dengan beban-benadi BLBI. Setelah sertifikat selesai diatas objek tersebut dijadikan pencanagan oleh Satgas BLBI untuk penelitian, setelah dikoordinasikan surat-surat yg ada ternyata dipalsukan.
Berdasarkan pengalaman pengalaman itu kami lebih berhati-hati terhadap Asset-asset BLBI lainnya. Kemudian diobyek yang lain ada permohonan dari masyarakat terkait dengan akan melakunan peralihan hak, atas objek tanah dimana tercatat pakai Asset juga milik BLBI, namun yang bersangutan membawa surat-surat lengkap, namun dari pengalaman BPN selalu berkoordinasi dengan Kementrian Keuangan untuk mengecek dan memastikan surat-suat tersebut dan tenyata masih sebagi asset BLBI dan ternyata yang diajukan ternayata juga palsu.
BPK, KApolres dan Kementrian Keuangan bekerja sama dengan mengkondisikan mengundang pihak yang mengajukan untuk penyelesaian, disaat itu juga Polisi menangkat 4 orang dan 1 orang melarikan diri. Dan sampai saat ini informasi dari Kapolres agar dituntaskan semua, dari hasil pemeriksaan tidak hanya di Kab Bogor beroperasi tetapi juga di Kabupaten lain juga, dirumahnya ditemukan 3 troli besar dokumen-dokumen dan baju-baju Finas BPN Kepolisan dan masih ditangai Polres.
13. Terkait dnegan kasus pertanahan antara PT.Sentul City dengan masyarakat, bahwa permasalahan di Sentul City ini adalah objek milik PT. Sentul City yang berasal dari eks Perkebunan di blok Pasir Angin, yang salah satu objeknya itu adalah sempat viral milik Rocky Gerung.
Selain Rocky Gerung memang masyarakat banyak yang mengadu, BPN telah menangani dengan Pemkab Bogor dan hasil rapat Pemkab membuat surat menegur kepada pihak PT.Sentul City yang intinya untuk menjaga kondusifitas di daerah untuk menghentikan somasi-somasi yang dilakukan dan menghentikan pengusuran-pengusuran masyarakat di lapangan. Saat itu sudah sempat berhenti, namun akhir-akhir ini, permaslahan sempat berhenti, namun akhir-akhir ini di BPN juga ada surat-surat permasalahan ini dan awal tahun akan dibahas Bersama lagi dengan Pemkab Bogor.
14. Kasus-kasus tanah dan persoalan-persoalan tanah memang pelik juga jika dipelajari, seperti yang ditemukan kadang bukan wewenang BPN tetapi milki PTPN dan Perhutani dan tanah milik Negara lainnya. Hal ini menjadi pelajaran bagi BPN untuk lebih jelas lagi menyelesaiakan permasalahan tersebut.
15. Permaslaahan kasus pertanahan yang juga terjadi di Dago, Bandung dimana tanah asset milik Provinsi Jawa Barat kalah dalam pengadilan tetapi akhirnya menganggur juga tanahnya karena susah untuk dieksekusi juga hingga sampai saat ini.
16. Permasalahan pembebasan pertanahan terkadang pembebasan di masyarakat tidak rumit, tetapi yang paling rumit memang dari semua proyek strtegis Nasional, yang rumit pembebasan malah milik pemerintah seperti Perkebunan.
17. Dalam mengatasi ketimpangan penguasaan dan kepemilikan tanah serta penyelesaian sengketa pertanahan, hendaknya masalah pertanahan tidak hanya pada melihat dari sisi hukum secara pidana saja, tetapi juga aspek kemanfaatan terhadap masyarakat dan memberikan solusi yang tepat untuk masyarakat. Dalam pelaksanaan penanganan kasus pertanahan hendaknya Kanwil BPN dan Kantah juga berpedoman pada Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2018 tentang Reforma Agraria. Komisi II DPR berharap mudah-mudahan Kakanwil dan Kakan di Provinsi Jawa Barat ini bisa melaksanakan amanah Presiden tersebut.
REKOMENDASI :
Terkait dengan Evaluasi Kinerja Penyelenggara Pemilu Jawa Barat dan Persiapan Pemilihan Umum serentak 2024:
1. Usul pembatalan penarikan SDM ASN di KPU maupun di Bawaslu oleh Kementrian PAN/RB sampai selesainya Peemilihan Umum dan Pilkada serentak tahun 2024.
2. Dikarenakan Pilkada sudah dilaksanakan serentak di tahun 2024, Usul sumber dana pelaksanaan Pilkada serentak 2024 langsung bersumber dari APBN dengan pemotongan langsung dari DAU, DAK dan sumber Dana Bagi Hasil daerah bagi Provinsi/Kabupaten dan Kota.
3. Usul Perubahan terbatas UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.
Terkait dengan Permasalahan Pertanahan
1. Dalam perselisihan masalah agraria atau pertanahan, istilah hak guna usaha atau HGU seringkali terdengar. HGU adalah salah satu jenis hak kepemilikan atas tanah yang diatur oleh negara sebagaimana ketentuan dalam Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) Nomor 5 Tahun 1960, HGU artinya hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara, dalam jangka waktu tertentu, yang digunakan untuk usaha pertanian, perikanan atau peternakan. Selain diatur UUPA, regulasi terkait HGU juga diatur dalam berbagai aturan turunan seperti Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, dan Hak Pakai atas Tanah. Tidak semua orang atau perusahaan dapat memiliki HGU yang diberikan negara. Ada beberapa aturan yang menyertainya. Namun secara umum, pihak-pihak yang dapat memiliki HGU adalah Warga Negara Indonesia dan badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia.
Penyerahan tanah negara untuk diberikan dalam bentuk HGU didasarkan pada keputusan pemberian hak dalam hal ini Menteri Agraria dan Tata Ruang atau pejabat lain yang ditunjuk dalam urusan pertanahan.
Pemegang HGU memiliki masa pakai paling lama 35 tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu paling lama 25 tahun. Hak atas tanah HGU bisa diambil kembali oleh negara jika memenuhi salah satu kriteria antara lain berakhirnya masa pemberian dan perpanjangan HGU, tidak terpenuhinya kewajiban pemegang HGU, dilepaskan secara sukarela, tanahnya diletantarkan, atau dihapus secara hukum dalam keputusan pengadilan. Bagi pemegang tanah HGU memiliki beberapa kewajiban yakni membayar uang pemakaian HGU ke negara. Selain itu, pemegang HGU wajib melaksanakan salah satu usaha antara lain pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan. Permasalahannya UU maupun PP tidak secara tegas mengatur tentang sanksi dan hukuman apabila terjadi pelanggaran dan penyalahan kepemilikan melebihi batas yang tetalh ditentukan. Diperlukan Perubahan UU dan Perubahan PP tentang HGU
HGB dan HPL yang mengatu lebih rinci, tegas dan berdampak hukum pidana.
2. Fenomen-fenomena permasalahan pertanahan yang ada di daerah, Komisi II akan menarik dalam skala Nasional dan akan menjadi Kebijkaan Nasional antara BPN, Kementrian Kehutan, BUMN dan Kementrian Keuangan, lintas Kementrian dan litas Lembaga, jika tidak masing-masing Pihak akan terjadi Problem tersendiri dianggap sebagai Ego Sektoral.
3. Gagasan Single Land Admnistration (Administrasi Tunggal) dalam Perubahan UU Pertanahan merupakan yang harus, Komisi II DPR RI telah memasukan pengusulan perubahan UU PA dalam Prolegnas di DPR RI baik jangka pendek setiap tahun maupun jangka Panjang 5 tahun.
4. Terkait dengan sengketa pertanahan yang belum masuk ke ranah Pengadilan dan berdampak pada masyarakat luas dan terkait dengan negara, Komisi II DPR RI juga telah membentuk Panitia Kerja (Panja) Mafia Tanah, Panja Tata Ruang dan Panja HGU HGB HPL. Panja Komisi II DPR RI akan menerima adauan dan laporan dari masyarakat di daerah atas kasus-kasus mafia pertanahan, permasalahan Tata Ruang di daerah dan kasus-kasus HGU HB+GB HPL. Sehingga dengan adannya Panja tersebut akan membantu masyarakat dan daerah dalam penyelesaian permasalahan pertanahan di daerah secara cepat dan maksimal. Panja terbuka untuk dapat bersinergi degan Kanwil BPN Jawa Barat, Pemprov Jawa Barat dan Kapolda Jawa Barat dalam penanganan permasalahan Pertanahan.
V. PENUTUP
Demikian Laporan Kunjungan Kerja ini kami sampaikan. Seluruh masukan maupun permasalahan yang disampaikan kepada Komisi II DPR RI akan menjadi catatan yang akan disampaikan kepada mitra-mitra kerja pada saat Rapat-rapat kerja dan juga pada Rapat Dengar Pendapat yang akan diadakan oleh Komisi II DPR RI. Komisi II DPR RI juga telah meminta kepada pihak terkait agar segala permasalahan maupun usulan dapat pula disampaikan secara tertulis kepada Komisi II DPR RI, dan merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari laporan ini. Kepada segenap pihak yang telah membantu terselenggaranya Kunjungan Kerja ini, kami ucapkan terima kasih.
Jakarta, 21 Desember 2021 Ketua Tim
Kunjungan Kerja Komisi II DPR RI
Saan Mustopa, M.Si A-367
PHOTO-PHOTO KEGIATAN KUNGKER RESES KOMISI II DPR RI KE PROVINSI JAWA BARAT